Selasa, 02 Februari 2016

Akhir Sang Kedua



Isak tangis Vera masih memenuhi kamarku yang lumayan berantakan. Maklum, mama lagi menerapkan asas mandiri untukku. Katanya biar aku gak kebanyakan keluyuran. Katanya biar aku bisa sedikit sadar diri kalo sudah bukan anak kecil lagi. Jadi apa-apa jangan melulu mengandalkan mama. Giliran bersih-bersih dibilangnya bukan anak kecil, tapi ntar kalo aku ketahuan deket sama temen cowok bilangnya masih kecil, Mama mah gitu orangnya, plin plan. Lagian kalo daerah teritorialku dimasukkan daftar pengecualian program brsih-bersih, yang ada aku malah malas berhenti keluyurannya.

Kembali aku mengamati Vera yang seperti belum puas menangis meski udah menghabiskan sekotak tissu milikku. Lantai kamarku pun sudah berubah jadi lautan tissu bekas melap ingus dan air mata. Alhasil makin tambah berat nih ntar acara bersih-bersihnya.
Hufftt, aku mendesah panjang. Untuk acara bersih-bersih yang sudah terbayang di depan mata. Dan untuk rasa belasungkawa nasib sahabatku ini.

"Aji... "
Kembali nama itu tersebut. Pokoknya melebihi penyebutan suara calon ketua OSIS baru kemarin deh. Sekalipun untuk kandidat yang menang. Nama Aji yang terdepan, mengalahkan nama Grenta, ketua OSIS yang baru itu.
Aku mendesah lagi.
"Udah deh, seribu kalipun kamu nyebut nama itu gak bakal ngerubah keadaan." cetusku membuat volume tangisnya kontan membesar.
Aku merasa bersalah, tapi juga jengkel.

Nih anak kaya udah mentok aja cintanya sama Aji 'ndut itu. Padahal dari awal aku juga tau kalo Vera hanya dijadikan Aji sebagai sephia.
Salahku juga. Aku juga ikut andil dalam kehancuran Vera hari ini saat mengetahui ternyata Aji punya pacar bernama Diandra. Aji dan Diandra sudah pacaran sejak setahunan lalu, sedang kalo sama Vera baru 3 bulanan lalu. Jadi tanpa analisa bin hipotesa apapun lagi sudah bisa ditentukan mana pacar mana selingkuhan.

"Aji jahat banget, Mon... " keluhnya disela isak, tentunya dengan suara serak-serak gak jelas.
"Ya udah, kalo jahat ya dilupain aja. Udah buang ke laut aja sana."
Lagi, volume isak tangis Vera meninggi.
Kupegangi kepalaku dengan kedua tangan. Pusing pala inyong!

"Dia anggep apa coba semua kenangan-kenangan indah itu?"
W-what? Kenangan indah? Kenangan indah yang mana yang kamu maksud Vera? Perasaan sejak dulu ketemuannya di kafe tempat tongkrongan kita? Masa iya duduk berdua gitu udah masuk kategori kenangan indah sih? Cckckck, parah.

Vera melap air matanya. Matanya sudah kaya habis disengat lebah. Bengep gak karuan.
"Apa aku datengin aja pacarnya itu ya?"
"W-what??" Spontan aku mendelik, "Gila kamu ya? Kamu mau dosa dua kali? Kemarin-kemarin udah affair sama cowoknya, sekarang malah mau buat mereka putus, gitu?" tukasku pedas.

Kalo gak dicegah, bisa-bisa perang dunia ke 3 bakal terjadi di Indonesia. Vera emang terkenal manis dan centil, tapi kalo sudah emosi bisa kaya macan kelaparan dia. Pernah dulu ada adik kelas yang cemburu gara-gara gebetannya ternyata dekat dengan Vera, dibuatlah isu kalo Vera masuk ke tim cheerleader sekolah karena koneksi sang ayah yang notabene juga guru di sekolah ini. Langsung saja tanpa babibu Vera mendatangi pelaku penyebar isu tersebut. Membuatnya jera selamanya. Itu cuma soal harga diri, udah kaya macan kelaparan. Lha kalo udah nyangkut hidup-mati perasaannya, pasti malah tambah buas dia.

"Udah deh, Ver, mau dilihat dari sisi manapun yang salah tuh tetep kamu. Kamu disini sebagai orang ketiga. Dan dimana-mana orang ketiga itu tetap tokoh antagonis. Gak ada orang ketiga jadi lakon." paparku sok bijak.
"Siapa bilang, ada kok."
Yah... malah ngeyel.
"Kata tanteku yang mania drakor, dia pernah cerita soal drakor Temptation. Katanya menceritakan soal pihak ketiga yang kemudian malah yang jadian sama cowoknya. Malah ceritanya mereka udah nikah. Yang main Choi Ji Woo sama Kwon San Woo yang macho itu."

Hadehhh... ni anak malah nyasar sampe ke korea. Mana aku gak paham apapun soal korea dan tetek bengeknya lagi.

"Itu cuma drama, Vera. Kamu kira kisahmu ini kisah drama korea apa? Udah ah, gak usah dipikirin lagi si Aji itu. Mending kamu tanggepin tuh si Tata, dia kan dari awal ada hati sama kamu." Aku berusaha mengalihkan perhatiannya pada sosok Tata, salah satu dari sekian banyak teman Aji di tempat nongkrong. Aku sudah lama sering mergoki cowok itu merhatiin Vera. Tapi mungkin karena solidaritas sama Aji, Tata cuma berani mandang dari jauh.
"Siapa? Tata? Aku? Ogah!"
Jiaahh... udah patah hati sampe nangis-nangis kaya artis bollywood gini masih berani nolak? Ckckc
"Kamu tuh ya, enaknya apa sih mencintai? Mending dicintai tauk!" geramku pengen mengacak-acak rambut iklan shampoo itu.
"Ini soal hati, Mona sayang, soal hati!!" Vera ikut menggeram meski tetap disela isak.
Kuacak-acak sendiri rrambut kepalaku yang seperti pada rontok satu-satu. Saking panasnya mikir nasib Vera yang udah kaya adonan martabak.
"Tauk ah, terserah kamu aja, makan tuh hati! Diabetes baru tau rasa!" sungutku melangkah menuju pintu kamar.
"Monaa... kok aku malah ditinggal??" rengek Vera menaikkan kembali suaranya.

Tak kugubris kali ini. Biarin lah. Lagian rumah juga pas sepi, gak bakal ada yang teriak protes atau adakan interogasi mendadak.
Aku melenggang ke arah dapur.



Rdb, 02.02.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar