Langkahku langsung terhenti. Desah nafasku yang tinggal satu-satu, karena berlari menuruni anak tangga tiga lantai, semakin mengabur. Degup jantungku juga nyaris hilang.
Sepuluh menit lalu aku mendapat laporan dari Gita, karyawan di divisi HRD yang kukepalai, bahwa seorang pelamar bagian security yang mungkin akan bisa menjadi ledakan bom di kantor ini.
"Anda tidak akan percaya sebelum melihatnya, Pak Azam. Wajah pelamar itu benar-benar mirip." kata Gita menambahi.
Dan tanpa berpikir apapun lagi aku segera menuju tempat yang ditunjukkan Gita tentang keberadaan 'pelamar' yang dimaksudnya tadi. Tak sabar menunggu lift, aku pun memilih menuju tangga darurat. Dalam pikiranku hanya ada satu hal yang kucemaskan; Rhein.
Tapi ternyata segala usahaku sia-sia setelah melihat sosok yang berjarak sekitar lima meter di depanku itu adalah Rhein. Dia juga mematung ditempatnya. Dan tanpa kuteliti lagi aku sudah tau kenapa.
Di deretan bangku-bangku ruang tunggu sana, ada beberapa wajah-wajah asing yang masing-masing menenteng map coklat. Para pelamar lowongan kerja. Dan satu wajah langsung terkunci.
Benarkah itu Ken? dengungku bimbang.
Padahal tadi Gita jelas-jelas menegaskan dengan lembaran CV bertuliskan sebuah nama Duta Ardyanto.
Ya, Duta Ardyanto, bukan Ken Barata.
Tapi kenapa wajah itu sangat mirip? Tinggi tegapnya. Rahang kokohnya. Sinar matanya.
Saat perlahan Rhein melangkah, kakiku masih tak mampu bergerak meskipun hanya beringsut.
Harusnya aku melangkah secepat mungkin. Harusnya aku menarik tangan Rhein dan membawanya pergi dari sini. Harusnya aku menghalangi agar Rhein tak bertemu Duta Ardyanto itu. Harusnya, ya, harusnya. Bukan malah diam mematung disini.
"Pak, itu Bu Rhein... " Sebuah suara disampingku menyadarkanku akan ke-linglunganku.
Kutatap wajah sekretarisku, Diana. Semburat cemas itu seperti virus yang menyebar cepat dari pusatnya. Aku.
Rhein makin mendekat kumpulan para pelamar kerja itu. Dan duniaku seakan berhenti berotasi saat mata legam itu menatap Rhein.
Tuhan, egokah aku jika saat ini sangat memohon padaMU? Jangan turunkan keajaiban seperti dalam drama-drama itu. Tetap biarkan Duta Ardyanto itu menjadi Duta Ardyanto.
"Pak Azam... " gusar Diana tak sabar saat Rhein berhambur memeluk sosok tak tahu menahu apa yang sedang dihadapinya itu.
Semua mata di ruang lobby ini langsung mengamati adegan itu. Merekamnya dengan berbagai judul. Miris, jika tau kisah dibalik wajah korban pemelukan itu. Tapi juga memalukan, jika menganggap Rhein lain.
Aku pun akhirnya mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dan melangkah mendekati Rhein.
"Rhein, lepaskan dia!" Suaraku nyaris tertahan di tenggorokan. Kutarik lengan Rhein yang melingkar ke leher Duta.
"Zam, dia Ken, Zam..." rengek Rhein hendak kembali memeluk Duta yang sepertinya berangsur mendapatkan kesadarannya dari keterkejutan yang melandanya.
"Dia bukan Ken."
"Zam, lihat baik-baik! Dia Ken, dia Ken!" Rhein makin menggila dalam racauannya. Air matanya pun mulai meleleh. Membuatku kembali mematung.
Jangan menangis, Rhein. Itu membuatku kehilangan semua tenagaku.
Kutatap sosok yang tetap kebingungan dengan apa yang sedang menimpanya. Ya, hampir tak ada bedanya. Nyaris sama dengan Ken. Beda cara berpakaian saja. Tentu saja Ken jauh lebih parlente dan fasionable.
"Maaf, tapi nama saya Duta."
Satu kalimat itu sempat mengendurkan cengkeraman tangan Rhein pada lenganku.
Ya, sekarang terlihat satu perbedaan. Suara. Suara Duta sangat jauh berbeda dengan suara Ken yang selalu berwibawa.
"Iya, maaf, kami memang salah orang." Kutuntun Rhein untuk berbalik melangkah.
Tapi Rhein kembali berontak.
"Tidak, dia Ken. Suara, pasti pita suaranya rusak akibat kecelakaan itu, pasti... "
"Rhein, dengar, namanya Duta. Apa perlu aku tunjukkan CV-nya?" desisku mencoba meyakinkan
Rhein menggeleng, dan langkahnya merangsek mendekati Duta yang makin kebingungan.
"Tidak, Zam. Dia Ken, Zam. Dia kembali untukku, dia... "
Plaakk
Lalu sunyi.
Paling tidak untuk duniaku sendiri. Suara telapak tanganku yang menghantam pipi mulus Rhein tak kalah mengerikannya dengan gelombang tsunami di Aceh kala itu.
Cengkeraman tanganku pada lengan kirinya perlahan mengendur. Dan tanpa mampu kutahan, tubuh Rhein melemas. Jatuh terduduk. Lalu isaknya pecah.
Sebelah hatiku meretak mendengar isak itu.
Kuraih jemari Rhein dan menempatkan segelas teh hangat yang tadi kupesan pada Diana. Rhein tetap tak berkutik. Tetap seperti itu sejak insiden di lobby tadi. Hanya air matanya yang kadang masih meloloskan diri menetes dari sudut matanya. Meluncur turun membasahi pipinya.
"Benarkah dia bukan Ken?" Suara seraknya mengakhiri kebisuan di ruang kerjaku ini.
"Namanya Duta Ardyanto. Dia dari Malang. Dia juga punya keluarga."
Terdengar desahan panjang Rhein. Pandangan matanya tak berarah dan tak bermakna. Kosong. Hampa.
"Mungkin itu semacam doppelgangger." Langsung terdengar gelak tawa getir Rhein saat kalimatku itu meluncur.
Ya, itu hanya semacam doppelgangger. Mereka dua orang yang berbeda dan hanya kebetulan berwajah sama. Hanya itu. Bathinku menghibur diri.
"Apa ini hanya kebetulan?" tanyanya ragu.
Kuamati sebuah cincin yang melingkar manis di jari manis sebelah kiri Rhein.
Setelah berjuang selama hampir 50 bulan sejak kepergian dia. Setelah aku berhasil menyematkan cincin itu di jari manisnya dua bulan lalu, haruskah ada kebetulan yang menyesakkan ini?
"Kuantar kau pulang," kataku bangkit lebih dulu.
''Hmm, aku ke toilet dulu ya." Rhein bangkit dan melangkah ke arah toilet di sudut ruangan kerjaku.
Kupandangi punggung ramping itu sebelum benar-benar hilang ditelan pintu toilet. Lalu aku mendesah panjang. Kumasukkan kedua tanganku pada saku celana, kupejam mataku mencoba menguatkan apa yang tadi sempat kupercayai. Soal doppelgangger itu.
Mataku spontan terbuka saat pintu ruang kerjaku terdengar ketukan dari luar.
"Ya?"
Lalu pintu yang searah dengan tempatku berdiri itu terbuka. Refleks aku mundur selangkah saat menemukan wajah yang serupa seperti di ruang tunggu tadi. Mataku gelisah menatap pintu toilet. Dan makin bertambah saat pintu itu juga ikut terbuka.
Hening.
Sunyi.
Hanya enam pasang mata yang saling pandang dengan sinar yang kontras.
"Maaf, " ucap wajah mirip itu mengakhiri kebisuan, "saya hanya mau mengambil CV saya. Tak seharusnya saya ada disini." lanjutnya menghindari tatapanku dan tatapan Rhein yang berbeda.
Kaki Rhein beringsut pelan.
Jangan, Rhein. Dia bukan Ken. Sekalipun keajaiban mengatakan dia Ken, jangan! bathinku memelas.
Tapi langkah Rhein semakin mendekat.
"Kenapa kau mirip sekali dengan dia?'' tanya Rhein setelah jarak mereka sangat dekat.
Dan aku hanya mampu terpaku disini.
"Maaf."
Rhein tergelak getir. Amat getir hingga aku mampu merasakannya dalam versiku juga.
"Maaf, Pak, CV saya." lanjutnya mengingatkan permintaannya tadi.
Aku sedikit tergagap. Aku mengambil tumpukan CV yang ada di atas meja kerjaku.
"Maaf juga telah membuatmu bingung dengan semua ini." kataku sambil menyerahkan CV itu.
Dia mengangguk lemah dengan seulas senyum. Juga ada seringai anah pada bibir Rhein.
"Apa ini hanya kebetulan?" tanya Rhein sedikit sinis.
"Sayangnya saya tidak percaya kebetulan. Saya hanya percaya takdir." sanggahnya datar.
Rhein tergelak.
"Takdir?"
Takdir? Apakah juga takdir aku tak bisa memiliki Rhein sepenuhnya? Apa juga takdir bayang-bayang wajah itu akan selalu ada?
"Pemilihan kata yang unik. Aku menyukainya." tanggap Rhein, lalu tangannya terulur.
"Rhein, manager Public Relation disini." lanjutnya memperkenalkan diri.
Lalu darahku ikut berdesir saat ada sebuah senyum tercetak di bibir pria itu. Senyum yang mengingatkanku akan sosok yang kuyakini tak akan pernah kembali.
"Duta, Duta Ardyanto." Tangan kekar itu menyambut uluran tangan Rhein. Menghantam sisi tembok pertahananku yang selama ini kukira telah aman.
Masalahnya sekarang bukan doppelgangger lagi, tapi ini tentang takdir.
Rdb, 12.02.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar