Selasa, 09 Februari 2016

Chagiya... [chapter 1]

Chagiya... [chapter 1]
Aku melongok ke arah wajah Kyungsoo yang seperti kosong tanpa jiwa, sedang merebahkan kepalanya di atas bantal Hello Kitty hadiah darinya beberapa minggu lalu.
"Waeyo?" tanyaku, lalu duduk disebelah bantal dengan sepiring sambal tahu yang memang sejak kedatangannya tadi sibuk ku eksekusi dan mengacuhkannya di sini.
"Aku merasa aneh memainkan peran Han Kangwoo," jawabnya, pun tanpa mengubah posisinya.
Kuhentikan kunyahan sepotong tahu dalam baluran sambal kacang campur kecap, salah satu makanan khas Indonesia. Beginilah akhirnya kalo lagi homesick sama negaraku. Kulampiaskan dengan memasak makanan yang masih bisa kujangkau dengan bahan-bahan yang tersedia disini.
Setahun lalu seperti takdir tiba-tiba aku harus berada di negeri boy band ini. Awalnya aku mengira sebuah kemalangan. Nasib buruk. Aku tertinggal rombongan sebuah liburan gratis sebuah produk iklan kala itu. Naasnya tas kecilku hanya berisi dompet dengan beberapa lembar ribuan mata uang won dan Kartu penduduk. Indonesia tentunya.
Dalam kekalutanku yang bahkan ponsel terjatuh ke wastafel, aku bertemu dia. Ya, dia, Do Kyungsoo.
Kala itu awalnya dia seperti tak peduli dengan keadaanku tapi lama-lama mendekatiku yang duduk menekuk lutut di anak tangga pintu masuk sebuah kuil yang bahkan aku tak hafal namanya.
Dan akhirnya disinilah aku kemudian.
Kyungsoo oppa memberiku sebuah apartemen kecil untuk tempat berteduhku. Dari artikel yang sering kubaca, Kyungsoo oppa sering 'dicap' sebagai orang yang sangat perhatian meski tak banyak bicara. Dan itu memang benar.
Setiap berkunjung ke sini, bisa dibilang dia hanya numpang tidur. Atau sesekali memasakkanku beberapa makanan yang dikiranya cocok dengan lidah indonesiaku, meski sebenarnya tidak juga.
Pertanyaannya, apa kami pacaran?
Entahlah, aku kadang juga nyaris ingin bertanya dengan nyanyiannya Armada band "Mau Dibawa Kemana", tapi pasti dia malah minta diterjemaahkan ke bahasa korea. Dan itu malah akan merepotkanku dua kali.
"Gendhis," panggilnya, tetap dengan posisi tadi.
"Hmm." Aku juga tak berhenti menikmati sambal tahu-ku yang tau-tau tinggal separo.
"Kau pindah kewarganegaraan saja."
Glontaaannggg...
Sendok yang hampir masuk ke mulutku akhirnya terjatuh bersama sepotong tahu dan sambal setengahnya. Kyungsoo langsung bangkit.
"Kau ini, kenapa membuat kotor karpetnya? Bukannya kau bilang baru kau cuci kemarin?" cerocosnya karena meskipun pada akhirnya sendok yang jatuh tadi terlempar ke lantai, tapi tahu dan beberapa bercak sambal berwarna pekat itu mengotori karpet bulu warna putih.
Diambilnya tissu dan dilapnya.
Tadi dia bilang apa? Pindah kewarganegaraan? Maksudnya aku menjadi warga negara Korea, dan bukan lagi warga negara Indonesia seperti yang tercantum dalam KTP yag masih rapi kusimpan layaknya harta paling berharga?
Saat sadar, baru kusadari mata bulat kelereng itu menatapku.
"Wae?" Kali ini Kyungsoo oppa yang heran dengan mimik mukaku.
"Tentang pindah kewarganegaraan itu... "
"Shiro?"
"Bukan begitu, tapi... " Suaraku mengambang, tak mampu kuselesaikan.
Kyungsoo oppa membenarkan posisi tubuhnya, menghadap penuh ke arahku yang terpaku seperti patung yang sedang memegang sebuah piring.
Tapi kemudian dia mengambil piring sambal tahu-ku, dan menaruhnya sedikit menjauh. Lalu ke sepuluh jemarinya merengkuh ke sepuluh jariku. Aku menatapnya tak mengerti.
"Gendhis, aku tak menyuruhmu menjadi pengkhianat bangsa dengan pindah kewarganegaraan. Mmm... geureu, memang kesannya kaya mengkhianati negara sih, tapi... "
Jantungku berdegup kencang, aliran darahku berdesir 2 kali dari normalnya. Ke sepuluh jemari putih mulus yang cukup kontras dengan kulit gelapku itu mengeratkan genggamannya.
"Saat berperan menjadi Han Kangwoo yang ternyata hanya sosok halusinasi, aku selalu memikirkanmu."
"Na?" Kukerutkan dahiku.
"Selama ini kau lebih seperti halusinasi, kau selalu bersembunyi karena kau tak punya identitas diri yang bisa kau tunjukkan pada pihak berwajib."
"Aku punya KTP," sahutku lantang, bibir Kyungsoo oppa langsung mengerucut. "Oh ya, itu tak ada gunanya disini ya?" lanjutku linglung, tapi tak bisa mengekspresikannya dengan garuk-garuk kepala karena kedua tanganku masih dalam genggamannya.
"Aku ingin di waktu-waktu senggang begini mengajakmu keluar. Jalan-jalan, nonton bioskop, makan di restoran, atau malah berkumpul bersama teman-teman yang lain. Aku ingin menunjukkan pada dunia tentang keberadaanmu, Gendhis."
Aku tersenyum hambar.
"Bagiku kau nyata. Tapi bagi orang lain kau tak ada. Aku tak mau kau seperti Han Kangwoo yang kuperankan."
Kumiringkan kepalaku. Baby face itu seperti setengah merajuk. Aku tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan jelas.
"Oppa, gumawo." kataku masiih dengan seulas senyum untuknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar