---[Benar-benar] Berpisah---
Kuhentikan kegiatanku sejak tadi yang terfokus membuangi benang sisa-sisa jahitan pada baju garapanku.
Sepi. Hanya irama air hujan yang turun dengan derasnya di luar sana. Kadang kala juga disertai hembusan angin yang mampu menusuk pori-pori kulit. Menghadirkan hawa dingin.
Sepi. Hanya irama air hujan yang turun dengan derasnya di luar sana. Kadang kala juga disertai hembusan angin yang mampu menusuk pori-pori kulit. Menghadirkan hawa dingin.
Di sofa sederhana tak jauh di belakangku terlihat Muthia sudah terlelap dalam dekapan tangan Lukas. Sejam lalu Lukas datang berkunjung lagi ke sini. Setelah lebih dari dua bulan kembali tanpa kabar sejak kemarahannya sore itu, pemuda itu kembali tiba-tiba muncul disini. Tapi kali ini bukan dengan kemarahan seperti waktu itu. Kali ini matanya begitu sayu, sarat dengan hal yang begitu riskan untuk kuterjemahkan.
Tapi belum sempat kucari tau semua itu, Muthia lebih dulu menguasai keadaan. Muthia memang dekat dengan Lukas, meski setahun belakangan ini sudah jarang berkunjung. Dan tadi, ketika dilihatnya Lukas yang mengucapkan salam, Muthia yang baru saja pulang dari mengaji langsung menyerbu Lukas dengan berbagai hal. Pada akhirnya Lukas memilih mengajaknya bermain game diponselnya.
Aku tersenyum melihat Lukas ternyata juga ikut ketiduran. Mungkin kecapekan karena perjalanan dari tempat tinggalnya ke sini ada sejam dengan mengendarai motor. Belum lagi sampai sini sudah mati-matian menanggapi segala bentuk ocehan Muthia.
Aku bangkit, kuambil selimut dan kuselimutkan pada tubuh Muthia sekaligus setengah badan Lukas. Senyumku kembali mengembang.
"Mbak," panggil Lukas sebelum aku genap membalikkan tubuh.
Mata Lukas perlahan terbuka. Sedikit memerah.
"Kalo capek tidur saja, gak apa-apa kok. Nanti kalo Muthia sudah benar-benar nyenyak tak pindahin ke dalam."
Lukas kembali menegakkan tubuhnya. Pelan-pelan ditariknya tangannya dari dekapan Muthia. Kini Muthia tidur di pangkuan Lukas.
"Ini pasti berat untuk kalian," gumamnya membelai kepala Muthia.
Aku mendesah panjang. Aku duduk di ujung sofa yang lain.
"Kalo aku bilang tidak, itu berarti bohong. Tapi mungkin ini yang disebut konsekuensi sebuah keputusan. Yang penting kami tetap bersama."
"Mbak," panggil Lukas sebelum aku genap membalikkan tubuh.
Mata Lukas perlahan terbuka. Sedikit memerah.
"Kalo capek tidur saja, gak apa-apa kok. Nanti kalo Muthia sudah benar-benar nyenyak tak pindahin ke dalam."
Lukas kembali menegakkan tubuhnya. Pelan-pelan ditariknya tangannya dari dekapan Muthia. Kini Muthia tidur di pangkuan Lukas.
"Ini pasti berat untuk kalian," gumamnya membelai kepala Muthia.
Aku mendesah panjang. Aku duduk di ujung sofa yang lain.
"Kalo aku bilang tidak, itu berarti bohong. Tapi mungkin ini yang disebut konsekuensi sebuah keputusan. Yang penting kami tetap bersama."
Berat. Sejak status baruku berlaku, secara langsung aku berusaha memeras keringat agar perjalanan hidup tak berhenti. Banyak hal yang harus dirombak. Terlebih pada diri Muthia. Untunglah gadisku yang baru menginjak 5 tahun itu cukup memahami keadaan. Mau mengerti jerih payah yang dilakukan ibunya biar bisa tetap bertahan hidup.
"Tapi makin lama semua akan semakin susah, Mbak. Kebutuhan Muthia akan semakin banyak dan mahal. Mbak Gin yakin peghasilan dari menjahit ini cukup?" tanya Lukas parau.
Aku tersenyum getir.
Entahlah. Aku bahkan sedikit malas memikirkan ini terlalu detail.
Aku tersenyum getir.
Entahlah. Aku bahkan sedikit malas memikirkan ini terlalu detail.
"Kalo gak pake duitku dulu Mbak, untuk mencukupi apa-apa yang sekarang ini belum tercukupi. Gak banyak sih, tapi... "
Ucapan Lukas terhenti saat mendengar tawa lirihku.
Ucapan Lukas terhenti saat mendengar tawa lirihku.
Aku bahagia sekali menemukan sosok penuh kasih itu kembali. Padahal di kunjungan yang sebelum ini dulu membuatku sempat yakin aku juga telah kehilangan sosok penuh kasih Lukas.
"Gak usah, Kas."
"Tapi Mbak, aku tau Mbak kekurangan."
"Cukup dan kurang itu relatif, Kas. Tergantung kita sendiri yang menentukan batasnya."
Lukas tetap mendesak dengan tatapan mata. Aku kembali mengulum senyum.
"Kebutuhanmu sendiri kan juga banyak, Kas. Bayar kontrakan, biaya check up mama kamu, belum kebutuhan lainnya. Kamu juga perlu nabung lho ya. Udah gede gitu, masa iya belum mikir nabung untuk nikah?" Kalimat terakhirku sengaja kuselingi senyum lebar.
Lukas tergelak lirih.
Lalu sepi beberapa menit. Rinai hujan yang masih deras mengungkung kebisuan ruang tengah rumah ini.
"Gak usah, Kas."
"Tapi Mbak, aku tau Mbak kekurangan."
"Cukup dan kurang itu relatif, Kas. Tergantung kita sendiri yang menentukan batasnya."
Lukas tetap mendesak dengan tatapan mata. Aku kembali mengulum senyum.
"Kebutuhanmu sendiri kan juga banyak, Kas. Bayar kontrakan, biaya check up mama kamu, belum kebutuhan lainnya. Kamu juga perlu nabung lho ya. Udah gede gitu, masa iya belum mikir nabung untuk nikah?" Kalimat terakhirku sengaja kuselingi senyum lebar.
Lukas tergelak lirih.
Lalu sepi beberapa menit. Rinai hujan yang masih deras mengungkung kebisuan ruang tengah rumah ini.
"Kemarin aku bertemu Baim lagi."
Aku terkesiap mendengar nama yang hampir terlupa beberapa minggu ini. Aromanya mampu menghadirkan dingin yang melebihi angin sore ini, lebih menusuk pori-pori kulitku.
Aku terkesiap mendengar nama yang hampir terlupa beberapa minggu ini. Aromanya mampu menghadirkan dingin yang melebihi angin sore ini, lebih menusuk pori-pori kulitku.
TIdak, dia bukan suamimu lagi, Gin!
"Oh,"
Hanya itu yang sempat kulontarkan sebagai tanggapan. Lalu mata Lukas menatapku aneh.
"Aku tak menyangka dia tega melakukan semua ini pada Mbak Gin dan Muthia." Kali ini kalimatnya terdengar sebagai deru penyesalan.
''Gak apa-apa, mungkin memang sudah takdirku dan Muthia harus terbang hanya dengan satu sayap." tanggapku mencoba mengurai kesedihan yang menyelimutinya.
"Mbak... "
Aku bangkit.
Aku tak mau memikirkan apapun yang masih jadi rahasia Illahi.
"Sini biar Muthia tak pindahin ke dalam." kataku
"Biar saja disini dulu, dia mungkin lebih nyaman tidur seperti ini." Lukas mencoba melarangku, matanya lekat menatap Muthia yang memang terlihat begitu damai dalam belaian tangannya.
Hanya itu yang sempat kulontarkan sebagai tanggapan. Lalu mata Lukas menatapku aneh.
"Aku tak menyangka dia tega melakukan semua ini pada Mbak Gin dan Muthia." Kali ini kalimatnya terdengar sebagai deru penyesalan.
''Gak apa-apa, mungkin memang sudah takdirku dan Muthia harus terbang hanya dengan satu sayap." tanggapku mencoba mengurai kesedihan yang menyelimutinya.
"Mbak... "
Aku bangkit.
Aku tak mau memikirkan apapun yang masih jadi rahasia Illahi.
"Sini biar Muthia tak pindahin ke dalam." kataku
"Biar saja disini dulu, dia mungkin lebih nyaman tidur seperti ini." Lukas mencoba melarangku, matanya lekat menatap Muthia yang memang terlihat begitu damai dalam belaian tangannya.
Aku terdiam. Salah tingkah harus bagaimana.
Lukas, terimakasih.
Sebelah sayap itu mungkin memang telah patah, tapi berkat semua kasihmu, meski hanya seperti ini cukup menguatkan aku.
Lukas, terimakasih.
Sebelah sayap itu mungkin memang telah patah, tapi berkat semua kasihmu, meski hanya seperti ini cukup menguatkan aku.
Lukas, andai kamu bukan Lukas dengan segala identitas yang ada. Andai aku bukan dengan identitas ini. Andai...
Yah, hanya andai.
Dan dalam dunia andai, keajaiban Illahi-lah yang berjalan.
Yah, hanya andai.
Dan dalam dunia andai, keajaiban Illahi-lah yang berjalan.
Rdb, 31.01.2016
Winarind@
Winarind@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar