Jumat, 05 Februari 2016

Cintaku Sebesar Cintamu Untuknya


"Ri On-ah!!'
Terdengar suara dari balik pintu kamarku. Ketukan tak beraturan membisingkan telingaku. Memecah langsung konsentrasiku pada layar laptop.

"Panggil aku oppa, Yeoja nakal!" geramku tetap tak bergeming membukakan pintu. Meski konsentrasiku sudah benar-benar buyar.

"Oppa... "
Panggilan itu menghentikan gerakan jemariku di atas keyboard laptop di depanku. Aku menoleh. Seraut wajah manis menyembul dari balik pintu kamarku. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Pertanda dia sangat bahagia.

"Hmm... " tanggapku seadanya, lalu mengembalikan posisi tubuhku seperti semula, juga posisi jemariku.


Namanya Ri Jin. Dia... dalam kartu keluarga kami dia punya tanggal lahir yang sama persis denganku. Tanggal, bulan, tahun. Bahkan kalo saja kartu keluarga juga mencantumkan jam kelahiran, pasti juga sama. Dia saudara kembarku. Itu yang ditegaskan omma dan appa padaku sejak aku berumur 7 tahun.


"Ri On-ah, ini Ri Jin. Mulai sekarang dia saudara kembarmu!" ucap omma kala itu, mirip sebuah ultimatum seorang jenderal besar pada prajurit perang berpangkat paling rendah.

Pikirku, kok tiba-tiba aku punya saudara kembar? Padahal yang kutau aku ini anak tunggal di keluarga Oh. Wahh... ada yang tak beres nih.

Sejak awal aku bukannya menolak kehadiran yeoja manis yang sangat penakut itu. Tapi mungkin karena memang sejak kecil aku sudah teralir darah investigator, aku pun makin skeptis. Apapun yang membuatku curiga akan kuselidiki sampai tuntas.

Makin lama kecurigaanku makin bertambah. Aku menyelidikinya tanpa henti. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan omma, appa, bahkan Ri Jin sendiri.

Dan setahun lalu, semua terungkap. Oh Ri Jin memang bukan saudara kandungku, apalagi saudara kembarku. Dia putri seorang presiden direktur Min Seo Yoon dari grup Seung Jin, yang meninggal akibat kecelakaan mobil bersama pemilik grup Seung Jin, Cha Gun Ho. Dan dari situlah terungkap juga tentang phobia Ri Jin pada basement. Sekaligus, itu juga yang mempertemukan Ri Jin pada cinta sejatinya, Cha Do Hyun.


"Ri On-ah... "
Lagi.
Yeoja satu ini benar-benar tak bisa diatur.

Kedua tangan Ri Jin melingkar ke leherku. Degup jantungku langsung berpacu 2 kali lipat. Tapi aku pura-pura fokus memperhatikan tulisanku.

"Aku dilamar." katanya tepat dibelakang telingaku, seraya menunjukkan sebuah cincin bermotif sederhana dijari manis kirinya.

Sedetik aku terpaku menatap kilauan cincin emas itu. Seperti kilauan mata Cha Do Hyun.
Aku tersenyum detik kedua.

"Mana namja itu... " geramku di detik ketiga.
Buru-buru Ri Jin menjauhkan tangannya dari leherku. Aku bangkit.

"Berani-beraninya melamar dongsaengku tanpa minta ijin dulu padaku!" lanjutku tetap geram, meski pura-pura.

Kusisingkan lengan baju hangatku, saat berbalik langsung saja kutemukan sosok Do Hyun bersender dengan santainya di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya ke dada. Senyum tipis khas Cha Do Hyun terukir disana.

"Yak, Cha Do Hyun-ssi!" seruku berkacak pinggang.

Bukkk

Cenuutt...
Kepalaku sedikit berdenyut akibat benturan dengan benda keras.

''Yak, Oh Ri On-ssi! Jangan bersikap tak sopan dengan tamu!" Kali ini Ri Jin memelototiku dengan sebuah buku besar ditangannya. Biang kerok pembuat kepalaku sedikit terhuyung.

"Yak, yeoja nakal! Panggil aku oppa, aku ini oppa-mu. Kau lupa appa selalu mengingatkanmu memanggilku oppa?" Gantian aku yang memelototi.
Lalu senyum lebar tercetak di bibir psikolog itu.

"Hyungnim... "
"Jangan panggil aku hyungnim, aku belum memberimu ijin melamar Ri Jin kami!" selaku cepat.

Ri jin melongok ke arah wajahku yang memang kupasang segarang mungkin. Untuk urusan wajah drama akulah ahlinya, Mungkin itulah yang membuatku menjadi penulis misterius bernama pena Omega.

"Apa kau juga ingin Do Hyun-ah memanggilmu oppa??"
Aku melengak ke arah Ri Jin yang tersenyum jahil.
Langsung saja ingatanku menuju kenangan tak terlupakan saat bersama Yoo Na. Salah satu kepribadian Cha Do Hyun selain Sin She Gi, Ferry Park, Ahn Yoo Sub, Nana, dan Mr. X. Masalahnya, Yoo Na itu yeoja yang selalu genit dengan semua namja.

"Oppa... "
Benar-benar mimpi buruk mendengar gaya bicara centil itu, apalagi saat Do Hyun malah menambahi dengan menempatkan kedua tangannya ke dagu. Benar-benar aegyo khas Yoo Na.

"Omma... " teriakku histeris.

"Ri Jin-ah, jangan ganggu Oppa-mu, cepat sini, bantu Omma!" teriakan omma dari bawah membalas.

"Ne!" sahut Ri Jin melangkah ke arah pintu."kalian aku tinggal dulu ya?!"
Ri Jin mendorong pelan tubuh Cha Do Hyun untuk masuk ke dalam. Senyum Cha Do Hyun masih intens. Bahkan ketika Ri Jin menutup pintu kamar dengan cepat.

"Yak, Ri Jin-ah... "
Ri Jin malah terbahak dan hilang dibalik pintu.
Aku mendesah setelah semua kembali sepi. Lamat-lamat di bawah sana terdengar suara Ri Jin yang ramai bercengkerama dengan Omma.

"Selamat," Singkat saja kuucapkan 1 kata itu. Pun begitu, dadaku sudah cukup sakit.

"Hyungnim benar-benar merestui kami?" tanyanya melebarkan matanya.

Aku tergelak "Mau bagaimana lagi, Ri Jin-ah sangat mencintaimu, matanya hanya melihat ke arahmu. Cinta kalian sudah menjadi ketetapan takdir."

Kali ini benar-benar sakit menjabarkan puluhan kata itu.
Tapi memang kenyataannya seperti itu. Tak bisa diubah sekalipun aku pernah mencobanya. Oh Ri Jin dan Cha Do Hyun memang sudah ditakdirkan bersama sejak mereka masih kecil. Ditakdirkan membagi kesedihan masa kecil. Ditakdirkan menanggung trauma masa kecil. Dan akhirnya ditakdirkan kembali bertemu untuk saling menyembuhkan luka dari masa kecil.

Dan aku hanya ditakdirkan sebagai oppa-nya. Orang yang menyayanginya. Dan ditakdirkan tak diketahui bahwa aku menyayanginya bukan sebagai saudara. Hanya Shin Se Gi yang tau itu.

Cha Do Hyun menatapku dengan senyum. Dahiku berkerut.

"Wae?" tanyaku takut.

"Hyungnim, terimakasih telah menyayangi Ri Jin-ah selama ini. Dia bisa seperti itu berkat kau dan kalian semua. "

Aku mengamati Cha Do Hyun seksama.

"Kau membuatku takut." Lalu aku melangkah keluar kamar. Sempat kudengar Cha Do Hyun tergelak.
Langkahku lebar menuju ke dapur tempat Omma dan Ri Jin sedang sibuk memotong sayur dan buah.

"Omma... " rajukku manja memeluk wanita kesayanganku itu dari belakang. Kusenderkan daguku ke bahunya.
Sempat kulihat Ri Jin menatapku dengan senyum, sebelum terhenti akan kedatangan Cha Do Hyun yang langsung duduk disebelahnya.

"Akhirnya kau mau keluar juga. Sudah membunuh berapa orang hari ini?" tanya Omma enteng sambil menyodorkan sepotong apel ke arah mulutku. Kulahap dengan tanpa mengubah posisiku.

"Hampir tiga orang, sayang keburu pengganggu datang."

Ri Jin langsung tergelak, merasa tersindir.

Terdengar omma mendesah berat.

"Omma dulu khawatir dengan kalian berdua. Yang satu takut celaka karena orang-orang gila, satunya lagi takut gila karena mencelakai orang-orang ciptaannya. "

Ri Jin tersenyum mendengar keluhan Omma.

"Tapi sekarang Omma sudah tak khawatir dengan Ri Jin-ah karena ada Do Hyun-ah. Omma sekarang mengkhawatirkanmu, Ri On-ah... "

Kueratkan pelukanku tanpa mempedulikan keluhan Omma.

"Tiap hari selalu membunuh orang, apa kau mau jadi penerus Agatha Christie?"

Kukecup pipi Omma, berharap itu bisa menghentikan keluhan Omma yang tak masuk akal. Tapi mungkin memang masuk akal,karena ujung-ujungnya Omma akan menanyakan 'kapan aku memperkenalkan seorang gadis padanya'.

Mianhamnida Omma, terlalu lama cinta ini hanya melihat gadis cerdas nan baik hati itu. Mungkin karena itulah aku terlalu sulit memindahkannya ke arah lain.

Mataku mengekor ke arah Ri Jin dan Do Hyun yang ternyata lebih banyak melahap potongan buah di depannya, daripada ditusukkan.

"Omo, Omma, lihat!" pekikku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Jari telunjukku tepat menghunus ke arah dua sejoli itu yang kebetulan sedang sama-sama melahap potongan buah.
Dalam hati aku tertawa keras, tapi kutahan. Action dimulai.

"Yak! Kalian bukannya membantu malah menghabiskannya sendiri?" Spontan suara Omma melengking.

Bagai para pencuri yang tertangkap basah ekspresi kedua wajah dua sejoli itu.
Aku tetap terpingkal dalam hati.

Lamat-lamat, dari luar terdengar suara kayu terbelah.

"Ah, aku lupa belum menyapa Appa... " Ri Jin buru-buru bangkit dan meninggalkan tempatnya.

Kini tatapan mataku dan Omma tertuju pada Cha Do Hyun yang salah tingkah.

"Aku akan membantu aboniem membelah kayu," pamitnya gugup. Menyusul langkah Ri Jin yang sudah keluar dari pintu.

Sepeninggal Cha Do Hyun aku ataupun Omma cekikikan. Lalu mata kami seperti sibuk memperhatikan Ri Jin yang memeluk Appa kemudian keduanya berjingkrak-jingkrak.

Mungkin Appa juga sedang dipameri cincin itu, pikirku.

Dan ketika Cha Do Hyun bergabung, kegembiraan Appa makin menjadi. Tak henti-hentinya memeluk dan menepuk pundak Cha Do Hyun.

"Ri Jin-ah, Omma bahagia dia sekarang benar-benar telah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan sejak kecil." gumam Omma.

Geurae, Omma, Ri Jin kita memang sudah sepantasnya bahagia. Terlalu banyak kepahitan yang telah dia telan. Terlalu banyak yang telah dirampas dari tangannya.  Dan jika sekarang semua yang seharusnya telah dimilikinya, maka aku akan membuatnya tetap seperti itu.

Mataku menemukan moment Ri Jin dan Cha Do Hyun saling berpelukan dan Appa berpose seperti memotret keduanya. Sempat ada kesakitan yang menusuk, tapi aku mencoba tersenyum.

Cha Do Hyun, mungkin cintaku pada Yeoja dalam pelukanmu itu sama besarnya dengan cintamu yang sudah tercipta sejak kecil. Aku hanya kalah dalam hal pembalasan. Cinta Ri Jin hanya untukmu. Takdir tak pernah menulisnya untukku.




* Tokoh, karakter, dan latar belakang cerita ini murni diambil dari drakor Kill Me Heal Me, saya hanya mengembangkan cerita yang tak tertulis di drama ini.
Kalo pengen tau lanjutan keaslian kisah Cha Do Hyun, Oh Ri Jin, dan 'aku' (Oh Ri On) intip aja di drama korea Kill Me Heal Me, oke?
Tto manayo.....


Rdb, 05.02.2016
Winarind@




Tidak ada komentar:

Posting Komentar