Selasa, 09 Februari 2016

Berpisah

Berpisah
"Apa itu benar, Mbak?" tanya Lukas yang baru datang berkunjung ke rumah sederhanaku.
Bahkan helm di kepalanya pun belum sepenuhnya terlepas. Bahkan kakinya pun belum sepenuhnya melewati pintu rumahku yang sejak tadi terbuka setengah.
Kutatap wajah oriental yang sudah akrab denganku sejak 7 tahun lalu itu. Yang sudah menjelma seperti adik ipar bagiku. Lukas dulu pernah menjadi rekan kerja mas Baim sebelum akhirnya dia keluar saat lebih fokus mengurusi masalah keluarga besarnya.
Mau tak mau aku menghentikan pijakan pedal dinamo mesin jahitku. Senyumku mengembang samar.
"Kamu nih, Kas, berminggu-minggu gak ada khabar sekarang datang-datang malah kaya depkolektor nagih utang. Gak ada salam, gak ada... "
"Apa benar yang dikatakan mas Baim?" tanyanya lugas, dengan tatapan mata tajam.
Aku menahan nafasku sebentar saat mendengar nama mas Baim disebut Lukas.
"Ketemu mas Baim dimana?" tanyaku perlahan, menahan perih yang tiba-tiba menohok ulu hatiku. Sakit.
Lukas mendengus jengkel. Matanya yang tadi menatapku tajam kini berubah nyalang.
"Mbak Gin mau menghindar ya? Kenapa sejak tadi pertanyaanku tak dijawab? Benar, Mbak Gin gak mau diajak rukun lagi sama mas Baim?" Suara Lukas sudah setengah memekak.
Aku menunduk menghindari kilatan sinar mata yang biasanya menatapku lembut dan penuh kasih.
Dalam tunduk wajahku, aku tersenyum getir.
"Tadi aku bertemu mas Baim dijalan, katanya mau ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian kalian. Dan mas Baim bilang Mbak Gin gak mau diajak mencoba lagi, dan memilih jalan cerai, benar?!"
Aku hanya mampu menggigit bibir bawahku pelan sambil beristigfar dalam hati.
Rumah tanggaku sejak setahun lalu memang mulai diujung tanduk. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku tau cinta antar manusia itu ada ujungnya. Bahkan sebelum mencapai titik ujung itu pasti sudah terhinggap rasa bosan. Dan itulah yang terjadi.
"Aku sudah tak tahan bersamamu, Gin!" dengus mas Baim kala itu. Bahkan kala itu dia belum melepas sepatu kerjanya.
Muthia yang sedang kupangku kubisiki untuk membeli cup cake di warung sebelah. Muthia pun menurut pergi setelah kuberikan selembar uang dua ribuan.
"Kita cerai saja, sepertinya hanya itu jalan satu-satunya. Kalau kamu nurut maka Muthia akan kuatur bersamamu. Tapi jika kamu mempersulit, maka aku bisa mengambil Muthia."
Aku mendesah. Pertengkaran nyata itu masih tercetak jelas di otakku. Hanya sayangnya aku tak bisa membagi keaslian kejadian itu pada orang lain. Bahkan pada Lukas sekalipun.
"Mbak, kenapa?" Kali ini suara Lukas seperti memelas. "Kalian lupa perjuangan cinta kalian? Atau kalian sudah tak menganggap penting semuanya? Bahkan Muthia?"
Tidak, justru semua ini demi Muthia, Kas.
Aku mendesah berat.
"Maafin Mbak, Kas. Tapi kita memang sudah tak ada lagi cinta."
Lukas tergelak sinis. Entah menertawakan ucapanku tadi, atau entah karena menahan amarahnya yang meledak-ledak.
"Kalian ABG ya? Tidak, kan? Lalu kenapa menyebut nama cinta di acara mempertahankan sebuah komitmen?" geram Lukas menggeretakkan giginya.
Komitmen?
Kata itu terlalu ambigu untukku.
Di satu sisi itu adalah ikhrar sehidup semati yang fenomenal. Tapi di sisi lain itu hanyalah scene yang paling ditunggu Muthia. Saat penjual bubur ayam lewat.
Kuputuskan untuk kembali menginjak pedal dinamo mesin jahitku.
"Kalian ini sebenarnya ada masalah apa?"
Kuhentikan lagi pijakan pedal dinamo, tapi sedetik kemudian aku kembali menjahit.
Semakin sedikit orang tau akan semakin berkurang pula sakitnya luka ini.
Aku memilih diam.
Rdb, 28.01.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar