Selasa, 09 Februari 2016

Saranghae

Saranghae
"Agashi mana lagi ini?"
Aku sempat kaget mendengar teguran yang sudah terbilang kasar itu. Apalagi saat menemukan pelaku penegur ternyata seorang gadis berseragam putih-biru dengan tampang sedikit tomboi. Rambut boleh panjang melebihi bahu, rok boleh mini, tapi gelang yang mungkin ada selusin jumlahnya menghiasi pergelangan tangan kirinya juga anting tindik di kedua kupingnya sudah membuatku tahu tanpa bertanya dia bukan gadis biasa.
"Pacar oppa" jawab Chen datar, seperti lebih menikmati semangkok kue beras yang baru saja dibuatnya setiba di rumah.
Gadis itu tergelak tak percaya.
"Pacar sehari?"
Aku terhenyak dengan istilah yang baru disebutkannya tadi.
"Atau pacar seminggu? Tapi gak mungkin kan pacar sampe mati?" lanjut gadis itu tetap sinis.
Chen akhirnya meninggalkan acara makannya,mendongak menatap gadis itu lembut. Sangat lembut hingga aku sempat cemburu. Bahkan denganku pun jarang menatapku begitu.
"Dia pacar oppa, namanya... "
"Aku gak perlu tau namanya, sini, mana dompetmu?" selanya congkak, menadahkan sebelah tangannya.
Dahiku mengernyit.
Apa-apaan ini? Chen membiarkan seorang anak SMP menyerahkan dompetnya?
Gadis itu menerima dompet tebal itu dengan raut muka datar. Membuka dan merogoh isinya sembarangan. Tapi menurut perkiraanku lebih dari sepuluh lembar. Setelah itu diletakkan begitu saja di meja.
"Jangan dipakai untuk yang aneh-aneh," ujar Chen sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya untuk pergi.
"Bukankah di dunia ini semua memang sudah aneh?" sungutnya lalu berlalu pergi.
Aku masih melongo mengamati setiap adegan tadi. Bahkan sampai gadis itu menghilang di balik pintu.
"Dia Cha In Ra," kata Chen seperti tau tanda tanya di kepalaku.
In Ra? Apa ada hubungannnya dengan In Ha?
Kutatap Chen lekat.
"Ya, dia dongsaengnya In Ha." lanjutnya menjelaskan lebih rinci.
Seluruh sendiku seperti luruh.
Pantas Chen bersikap seperti itu.
Aku cukup tau luka dengan label nama Cha In Ha. Meski aku termasuk orang baru untuk dunia Chen sendiri. Siapalah aku dibanding sang permaisuri hati itu. Tak ada apa-apanya.
"Yak! Kenapa malah bengong?" kejutnya lirih membuatku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
Sampai kapanpun aku mungkin memang tak bisa menggantikan posisi Cha In Ha. Tapi, aku terlalu mencintai Chen. Mungkin inilah yang dimaksud Nun meun sarang. Cinta buta.
Aku sedikit kaget saat menyadari jemari Chen merengkuh tanganku. Aku sontak menatapnya meski dengan kelopak mata yang memburam.
"Bo Na, kelak bisa kan kau jadi eonni untuk In Ra? Dia gadis yang malang. Satu-satunya keluarganya sudah kurebut dari sisinya... "
"Tapi itu kecelakaan, Chen!" sergahku tak rela dia mempatenkan diri bahwa dialah yang bertanggungjawab penuh atas kematian In Ha.
Chen menguatkan genggamannya, matanya...
Eomma... lihat mata indah itu! Mata indah itu begitu lembut menatapku. Jauh lebih lembut dari kelopak bunga sakura.
"Menjaga In Ra membuatku bisa mengurangi sesak nafas itu. Jadi aku mohon, maklumi jika In Ra bersikap seperti tadi."
Wajah Chen menunduk sebentar.
"Kuharap kau bisa berteman dengannya, atau kalo bisa jadi eonni-nya," lanjutnya lebih seperti sedikit memaksa.
"Kenapa gak sekalian jadi ibu tirinya?" sungutku pura-pura.
Mata Chen mendelik disertai tawa sekilas.
"Jangan, ibu tiri itu kesannya kejam."
Aku yang gantian tergelak.
"Arasseo, arasseo... " ujarku disela gelak tawaku yang belum sepenuhnya hilang.
Tak sadar kalau mata indah itu tetap menatapku seperti tadi. Membuat hatiku makin melumer. Lalu samar kudengar dari gerakan bibirnya yang santun mengucapkan sebuah kata 'gomapda'.
Rdb, 01.02.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar