Selasa, 09 Februari 2016

Nama : Ari [Endless]


Memasuki area kantin yang terlihat cukup lenggang, hanya beberapa meja yang terisi. Langkahku lebar menuju satu meja yang sejak tadi menjadi targetku. Airin. Marvel sedang bersamanya, ikut menyendoki semangkuk es krim. Dito dan Kris berdiri  bersandar di tembok sedada pembatas gedung kantin. Seperti sibuk membahas sesuatu dalam smartphone mereka.

"Kita perlu bicara, Rin!" kataku datar tapi terkesan otoriter.

Marvel langsung mendongak meninggalkan sendokan es krimnya, begitu pun Dito dan Kris yang sepertinya juga penasaran dengan nada bicaraku. Tapi tidak Airin. Dia tetap terlihat tenang dan masih saja menikmati tiap sendokan es krimnya.
Mataku tak beralih sedikitpun pada wajah Airin yang sepertinya memang sengaja menghindari kontak mata langsung denganku. Marvel ikut memperhatikan Airin.

"Kalian bertengkar ya? Perasaan kemarin kalian udah kaya romeo juliet?" seloroh Marvel, seperti lebih ditujukan Airin yang seakan memasang aksi buta-tuli.

"Ayo kita bicara."

"Disini saja!" Akhirnya Airin membuka suara, meski tangannya masih sibuk menyendoki es krim di hadapannya.

Marvel mendesah pendek.
"Apa aku perlu pergi?"

"Ya, ada yang perlu kami bicarakan berdua," kataku melirik ke arah Marvel sekilas.
Tapi Marvel seperti enggan beranjak. Matanya seakan cemas memperhatikan setiap gerak Airin yang terkesan tak biasa.

Sejak kejadian kemarin malam Airin kembali seperti dulu. Masa-masa dimana dia belum menyerah. Masa-masa dimana tatapan nyalang masih terpatenkan untukku. Masa-masa dimana tak pernah ada senyum untukku.

"Ingat, jangan buat keributan. Kami tunggu disana," pamit Marvel.
Sepi, bahkan anggukan Airin pun tak ada.


"Apa ada yang salah?" tanyaku setelah kupastikan Marvel, Kris, dan Dito benar-benar menjauh dari meja kami.

"Aku yang salah."

"Kenapa kau yang salah?" kejarku

Airin menghentikan sendokan es krim-nya yang mulai lumer.
"Ada yang salah sejak dulu. Dulu, jauh sebelum kita bertemu." jawab Airin seperti menggumam keluar dari topik pembicaraan.

Airin kembali melahap sesendok es krim-nya.

''Karena kau terlahir sebagai anak biologis Ari Baskoro?" tebakku tepat sasaran.
Kulihat tangan Airin sedikit gemetar.

"Rin, dengar, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa memilih terlahir di keluarga mana. Itu adalah takdir."

"Masalahnya bukan itu."

"Lalu apa? Apa salahnya kalo mereka ikut senang kalo kita dekat?"

Diam, Airin membeku dengan sesendok es krim ditangannya yang melumer.

"Ini seperti dia sedang menjualku." gumam Airin berat.

Aku tergelak.
Menjual? Apa itu tak terlalu kasar?

Airin menatapku. Matanya nanar, penuh luka yang selama ini tak pernah kuketahui. Itukah luka yang didapatnya dari Ari? Itukah yang membuatnya sempat membenciku hanya karena namaku Ari?

"Dia tau papamu bisa dijadikan  tameng agar bisnisnya makin lancar. Dia orang yang ambisius. Dia bisa melakukan apapun. Apapun, Ri'. Termasuk menjualku seperti ini." ceracaunya serak. Matanya memburam.

Aku mendesah berat. Kuraih sendok ditangan Airin yang menggantung di udara. Es krim didalamnya meleleh 'bak tetesan air hujan. Kuletakkan sendok itu ke mangkok es krim di bawahnya.
Marvel, Kris, dan Dito yang berkumpul memperhatikan sejak tadi dalam jarak kurang dari 5 meter akhirnya bernafas lega dengan senyum lebar.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku melap tangan Airin yang sedikit basah, entah oleh keringat atau karena es krim.

"Lebih cepat, kita akhiri ini." Dingin suara Airin mengucapkan kalimat itu seraya menarik cepat tangannya yang terhimpit ke sepuluh jemariku.

Kutatap wajah yang tertunduk itu.
"Katakan sekali lagi dengan menatap mataku, Airin. Aku paling benci orang yang menghindari kontak mata denganku!" Emosiku mulai mencuat.

Kris yang hendak mendekat sepertinya lebih cepat dicegah oleh tangan Marvel.
Airin mendongak perlahan, menatapku dengan selaput bening di kedua retina matanya.

"Pergilah!" desah Airin lemah.

Emosiku menggelegar, Dengan kasar kusingkirkan mangkok es krim yang sejak tadi seperti menjadi jurang pemisah kami.

Pyaaarrr...
Mangkok es krim itu terjatuh ke lantai meninggalkan suara yang otomatis membuat semua mata mengarah ke meja ini. Aku bangkit menekan kepalan jemariku ke arah meja.
Sepi. Bahkan desah nafasku pun terdengar sangat jelas di telingaku.

"Kau, benar-benar orang teraneh di muka bumi ini!"

Beberapa derap langkah mendekat. Tak perlu kupastikan itu sudah pasti trio penjaga.

"Hei, gue sudah pesen jangan buat keributan," lerai Marvel mencoba merangkul pundakku, tapi segera kutepis kasar.
Keenam pasang mata itu kaget.

"Lu tuh kenapa sih, Ri'?" tanya Kris emosi.

"Tanya saja sama tuan putri lu!" Emosiku makin meluap karena Airin tetap membeku ditempatnya.

"Hei, bisa gak redam emosinya? Ini kantin, bro!"

Kuacuhkan nasihat Dito yang lebih bijak. Aku hendak melangkah, tapi urung dan menatap Airin lagi. Kini sudah ada Marvel merengkuh pundaknya.

"Yang lazim, hubungan berakhir karena tak disetujui, bukan sebaliknya." kataku lalu berbalik lagi dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Langkah Dito menyusul.

"Udah, gak usah peduli'in gue, urusin saja sana tuan putri kalian itu!" Kusingkirkan tangan Dito yang hendak mengentikan langkahku.

"Ini sebenarnya ada apa sih, Ri'? Aneh tau, tiba-tiba saja lu marah sampe sehebat itu sama Airin?"

"Kenapa lu tak tanya dia saja? Lu juga penasaran kan kenapa dia diam saja meski gue marah kaya gitu? Itu karena dia merasa bersalah! Dia akar masalah ini."

Dito diam, seperti bingung mencari kata-kata untuk disatukan menjadi sebuah pertanyaan lagi.

"Apes banget nasib gue, suka kok sama cewek aneh, " rutukku seperti mengomel sendiri.

"Apa ini ada kaitannya dengan ayahnya?" tanya Dito tak yakin.

Kutatap Dito seraya memikirkan sebuah kata. Alasan.
Lalu aku tergelak.

"Lu tuh ya, ditanyain gak malah dijawab malah cengengesan gak jelas."

"Sekarang gue baru nyadar, yang gue lakukan untuknya selama ini gak ada artinya sama sekali." Lalu aku melangkah pergi dengan sebongkah rasa sakit di relung-relung jantungku.

Dito mematung menatapku yang terus meninggalkan kantin kampus.

Aku tergelak dalam langkah tak berarahku.

Benar, yang lazim sebuah hubungan akan mengalami kesulitan saat tidak ada persetujuan dari pihak keliuarga. Tapi dalam kasusku justru harus di akhiri karena keduanya menyetujui. Pun karena ada udang dibalik batu, jika memang cinta apa itu perlu dipermasalahkan? Tentu saja seharusnya tidak, tapi ini...

Aku menghentikan langkahku di ujung balkon di lantai dua.

Semua ini berawal dari Ari, berlanjut karena Ari, dan hanya akan berakhir pada Ari.

Tapi mungkin  Ari itu bukan aku.



Rdb, 09.02.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar