Aku masih terpaku di balkon lantai dua kampus. Mataku memang terlihat mengamati kumpulan mahasiswa di bawah situ. Dengan dagu kuletakkan pada kepalan tangan yang menekuk di atas pagar pembatas balkon.
Mataku kemudian menangkap sosok gadis manis berkuncir satu diantara kumpulan itu. Entah sedang memperbincangkan apa dengan sesekali tertawa lepas.
Aku mendesah.
Kenapa dia begitu lain kalo dengan orang lain? Begitu bersahabat dan ceria, bathinku sedikit jengkel melihat tawa lepas itu.
Aku mendesah lagi, tetap memfokuskan pandanganku ke satu titik yang mungkin tak akan pernah sadar kalo sedang kuperhatikan. Coba kalo tau, pasti sudah melotot matanya menatapku balik.
Namanya Airin. Sudah cukup lama aku mengenalnya, bahkan kami pernah sekelas saat SMA dulu. Tapi Airin tak pernah menunjukkan sikap bersahabatnya padaku. Dulu, mungkin karena aku memang terlalu usil padanya hingga dia selalu ku buat jengkel dan marah. Tapi kemarin semua terjawab sudah.
"Aku benci namamu, aku benci nama Ari," sungutnya dengan nada meninggi.
Aku terhenyak. Detik selanjutnya aku tak sadar tergelak.
"Jadi selama ini kau selalu cetus padaku hanya karena namaku Ari?" tanyaku tak percaya.
Mata bening yang dipayungi alis melengkung indah itu menatapku dengan garang. Aku mendesah.
"Apa itu tidak kekanak-kanakan? Di dunia ini banyak sekali orang yang bernama Ari."
Airin melengos.
"Bahkan tak sedikit artis yang punya nama Ari. Ari lasso, Ari untung, Ari Wibowo. Nah... iya kan?"
Airin tak bergeming, bahkan berniat melangkah pergi.
"Apa tidak ada alasan yang lebih rasional? Sejak dulu kalo dengan aku selalu begitu. Apa aku beda jauh dengan Dito, Kris, atau Marvel yang biasa bercanda denganmu? Hah?" cerocosku diantara langkahnya meninggalkanku.
Ternyata pada akhirnya Airin berhenti dan menoleh, meski tetap dengan sisa tatapan garangnya.
"Siapa suruh kau punya nama seperti nama ayahku?" geramnya sedikit membentak.
Aku melonggo.
Dan putaran film kenangan kemarin terhenti disitu.
"Jadi sebenarnya kau benci aku karena namaku seperti nama ayahmu, atau hanya karena namaku Ari?" gumamku lagi, dengan masih memperhatikan Airin yang asyik bercanda dengan Kris.
Terlihat mereka sempat saling pukul dengan iringan tawa. Coba kalo itu aku, bukan Kris. Pasti Airin sudah ngamuk-ngamuk.
"Sebegitu bencikah kau padaku? Hanya karena namaku Ari?"
"Kau membuatku takut."
Spontak aku melonjak kaget, disusul gelak tawa Marvel. Aku mendengus kesal.
"Tidak salah? Kau yang membuatku hampir jantungan." geramku kesal.
"Tapi kau ngomong sendiri seperti orang gila. Atau jangan-jangan kau mengidap skizofernia? Kau punya teman maya yang hanya terlihat olehmu sendiri?"
Plakkk
Terpaksa kupukul kepala sahabatku sejak SMP itu dengan buku ditanganku. Marvel meringis memegangi kepalanya.
"Itulah akibatnya cowok suka nonton drama, apa-apa dikaitkan dengan drama," dengusku menyinggung kegeraman Marvel yang mania dengan drama-drama asia.
"Dari nonton drama aku juga dapat banyak pengetahuan. Buktinya aku jadi tau apa itu skizofernia," sanggahnya.
Aku tergelak. Lalu kembali fokus ke arah Airin dibawah sana.
"Sedang memperhatikan Airin ya?" goda Marvel.
Aku tersenyum kecut.
Antara aku, Marvel, Dito dan Kris, sama-sama mengenal Airin dengan baik sejak lama. Dan selama itu pula hanya denganku lah sikap Airin selalu tak bersahabat.
"Apa aku memang terlalu usil pada Airin?"
"Soal dia yang tak pernah berwajah manis padamu?"
Aku diam sebentar, memperhatikan Kris dan Airin yang berbagi sepiring siomay disana.
"Apa mereka pacaran?" tanyaku setengah tak sadar.
"Siapa? Kris dan Airin?"
"Hmm."
"Setahuku sih tidak, Airin kan memang begitu. Dengan aku, Dito, juga teman-teman yang lain sering berbagi makanan dalam satu piring."
"Kenapa denganku tidak pernah?" susulku seperti memprotes.
Marvel sedikit kaget, tapi kemudian sudut bibirnya melebar.
"Apa aku terlalu jelek?"
"Kurasa Airin bukan tipe orang yang berteman dengan melihat penampilan."
"Lalu? Apa wajar kalo dia bersikap lain padaku hanya karena namaku Ari?"
Marvel menunjukkan sikap kagetnya lagi, tapi kali ini tak disusul senyum. Yang terlihat malah kerutan di dahinya.
"Dia malah menyalahkan aku yang punya nama seperti ayahnya," lanjutku masih kesal.
Kerutan di dahi Marvel bertambah.
"Aneh kan?"
Marvel mengalihkan pandangannya dariku, seperti menyimpan keresahan.
Memang dari kami berempat, sebenarnya dengan Marvel-lah Airin paling dekat. Kedua ibu mereka bersahabat baik, jadi selain bertemu di sekolah mereka juga sering bertemu di rumah.
"Jadi nama ayahnya Ari," ujarnya setengah bertanya, juga setengah menggumam.
Kali ini dahiku yang berkerut. Dan makin jelas kerutannya ketika Marvel tertawa lirih.
"Yang harus kau permasalahkan harusnya bukan karena namamu seperti nama ayahnya, tapi kenapa dia harus membencimu hanya karena namamu seperti nama ayahnya."
Aku diam, berfikir sejenak.
"Omonganmu seperti profesor, rumit!" cetusku jengkel karena tak berhasil mengerti maksud dari kata-kata Marvel.
Tapi, kenapa Airin harus membenciku hanya karena namaku seperti nama ayahnya? Apa dia begitu membenci ayahnya? Oh, ya, apa khabar dengan ayahnya? Sejauh aku mengenal Airin, tak sekalipun aku tau tentang ayahnya. Selama ini hanya sebatas kenal ibunya yang bekerja di sebuah rumah makan.
"Kau itu seperti Tao Ming Tse, selalu ingin dimengerti tapi tak pernah berusaha mengerti orang lain."
Aku terhenyak dengan penghakiman Marvel barusan. Kutatap wajah tirus dengan bibir terkatup tipis dan mata sipit itu.
"Siapa itu Tao Ming... "
Pertanyaanku terpenggal karena ketidak tahuanku, juga karena helaan nafas Marvel. Buru-buru aku mengambil gadgetku dan membuka laman google. Siap-siap aku mengetik.
"Siapa tadi, Vel?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar gadget.
"Tao Ming Tse, meteor garden. Ketik saja seperti itu," jawab Marvel setengah membentak.
Aku mendongak menatap Marvel yang malah seperti menahan emosinya sampai matanya berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanyaku, benar-benar tak mengerti.
Marvel mendengus jengkel, sampai-sampai harus mengusap wajahnya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Kris yang tiba-tiba sudah ada di sini, masih bersama Airin yang dengan manjanya menggamit lengan Kris.
Aku tambah kebingungan, apalagi saat Marvel melangkah pergi. Menyisakan tatapan tak suka Airin. Mungkin karena salah snagka dengan kepergian Marvel. Lalu langkahnya buru-buru menyusul Marvel.
''Apapun yang kukatakan akan tetap salah dimatamu, jadi aku tak perlu katakan apapun padamu!" teriakku ikut kesal.
Lalu kembali fokus ke layar gadget-ku menemukan pencarianku pada nama Tao Ming Tse.
"Kau tak perlu sekasar itu pada Airin," ucap Kris ikut bersandar di pagar balkon.
Aku tergelak tanpa mengalihkan pandanganku pada layar gadget yang memunculkan hasil pencarianku pada nama Tao Ming Tse.
"Wahh... kenapa Marvel menyamakanku dengan aktor setampan ini?"
"Hei!" protes Kris merampas gadget milikku.
Aku mendesah.
Airin memang lebih mirip tuan putri jika diantara Marvel, Kris dan Dito. Sikap ramah dan suka menolongnya, ditambah wajah cerianya adalah nilai tersendiri, seperti sebuah pembangunan image dimata publik. Meski itu sama sekali tak berlaku untukku. Itulah kenapa semua orang menyayanginya, menjaga perasaannya. Lalu, apa hanya karena itu aku juga harus mengabaikan perasaanku yang tersakiti oleh sikapnya padaku dan tak boleh bersikap kasar padanya?
"Kenapa aku yang dikritik? Bukankah dia yang lebih dulu bersikap kasar padaku?" geramku.
Kris ikut mendesah berat.
"Dia membenciku hanya karena namaku speerti nama ayahnya, apa itu tidak aneh?" lanjutku tetap geram.
Kurebut kembali gadget-ku setengah jengkel.
"Kau ataupun Marvel sama saja, hanya memikirkan Airin tanpa mempedulikan aku. Kalian ini juga temanku. Apa karena dia perempuan?"
Kris menatapku protes.
"Pantas saja Marvel menyamakanmu dengan Tao Ming Tse. Bukan karena tampangnya, tapi lebih ke sifatnya yang sama."
"Apa?"
Kris bangkit dari sandarannya.
"Kau ingin tau kenapa dia membencimu hanya karena namamu seperti nama ayahnya?"
"Hah?"
Kris mendesah jengkel.
"Itu karena dia sangat membenci ayahnya, sampai-sampai dia membenci semua nama Ari. Bisa kau bayangkan kenapa dia sampai begitu? Hah?"
Aku melonggo. Lagi-lagi mendapat penghakiman dari para pembela Airin. Kilatan emosi Kris begitu nyata.
"Sejak dulu kau tak pernah berubah. Selalu berlagak seperti tuan muda, tak pernah peduli apa yang terjadi pada orang lain, juga merasa selalu menjadi korban. Pantas kalo Marvel menyamakanmu dengan Tao Ming Tse." Lalu Kris melangkah pergi dengan langkah kesal.
Aku masih melonggo. Kuamati gambar-gambar hasil pencarian Tao Ming Tse di layar gadget-ku. Rasa bingung dan penasaran menyelubungi otakku.
Ternyata masalah sebenarnya bukan soal Airin yang tak pernah bersahabat denganku, tapi lebih pada nama Ari yang juga nama menjadi nama ayahnya.
Lalu aku harus mencari kemana agar tau siapa itu Ari 'sang ayah'-nya Airin? Bahkan aku tak bisa mencarinya di kolom pencarian google.
Aku mendesah, menyandarkan punggungku ke pagar balkon.
Dan sekali lagi aku hanya bisa mendesah.
Idenya lewat begitu saja saat tadi pagi liat sebuah adegan di dunia nyata
Terbawa perasaan? Iya juga sih, xixixixi
Rdb, 20/11/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar