Selasa, 01 Maret 2016

What's Up?


Saking maraknya LGBT pas liat insiden di dunia nyata, kepikirannya malah beginian. Tapi tetap naudzubillahimindzalik, semoga Safira dalam dunia nyata tak pernah seperti ini. 
Menyelesaikan ini berat banget, belum lagi tantangannya udah kaya tantangan di acara Fear Factor, wkwkwkkw





Aku Safira. Aku lesbian.
Ya, itulah aku. Mahasiswa tingkat akhir jurusan fisika murni di sebuah universitas cukup ternama di negara ini. Cerdas? Tentu saja aku termasuk gadis yang cerdas. Bahkan sejak aku masih di bangku SD aku sudah kelihatan cerdas. Aku sekolah di SD favorite dengan peringkat kelas pertama hampir di tiap semesternya. Mama, adalah sosok yang paling bangga dengan segala kemampuanku. Katanya aku anak yang cantik, tidak mbeling, dan cerdas. Tentu saja mama bangga memiliki putri sepertiku.Meski masih ada adikku, Shakira. Tapi aku lebih cerdas, juga lebih cantik tentunya.

Tapi hanya itu kelebihanku. Menginjak masuk bangku SMP aku baru tau aku memiliki banyak kekurangan. Aku memiliki begitu banyak kecacatan. Salah satunya aku begitu membenci makhluk bernama LAKI-LAKI.

Saat semua para remaja usia ABG mulai melirik-lirik lawan jenis, aku malah seperti dijangkiti rasa jijik, muak, dan tak sudi menatap mereka. Mataku seperti penuh amarah. Imajiku sering meliar ingin menghabisi mereka semua. Mencabik-cabiknya hingga mati kehabisan darah. Terkapar di depanku menjemput ajal.

Aku bukan pribadi introvet. Aku juga tak ada masalah dalam bersosialisasi. Aku juga punya beberapa teman. Bahkan bisa dibilang geng. Tapi mereka semua perempuan.

Geng yang kuikuti termasuk geng anak-anak orang kaya. Nongkrong di kafe-kafe sudah biasa kami lakukan, biarpun usia kami baru awal-awal belasan. Tapi ketika obrolan mulai merambah ke kata-kata berbau 'laki-laki' aku akan lebih memilih menutup telingaku dengan earphone, atau pura-pura tenggelam dalam bacaan buku. Aku benar-benar tak tertarik apapun yang berawalan kata laki-laki.

Dan semuanya makin mendarah daging kala aku masuk bangku kuliah. Aku hidup mandiri jauh dari keluarga, termasuk mama. Aku kost dengan seorang teman SMA. Gina namanya. Kami tidur di ranjang yang sama, ditutupi selimut yang sama pula. Dan aku merasa nyaman.

Aku makin jauh dengan laki-laki. Bahkan papaku sendiri. Sebulan sekali belum tentu aku sempat menyapanya. Papa pun terlalu sibuk dengan bisnis dan hobinya rafting. Dan mama? Jangan tanya, karena aku terlalu malas membahas tentang semua kegiatan mama. Yang pasti mereka terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri sampai lupa dengan anak-anaknya. Pantaslah jika Shakira menjadi anak yang tumbuh dengan kesenangan menghambur-hamburkan isi kartu kredit. Dan tak heran jika aku kemudian begini.

Mama ataupun papa, sepertinya hanya mau tau akan kehebatanku. Mereka bangga dengan tampang cantikku. Mereka bangga dengan prestasi gemilangku. Mereka juga bangga aku tak seperti Shakira yang suka berfoya-foya. Tapi saat tau aku lesbian, mereka syok. Terlebih mama yang pertama kali memergokiku sedang bercumbu dengan Gina di atas ranjang di kamar kost kami.

"Kenapa kau jadi seperti ini sayang? Kenapa?" keluh Mama berlinang air mata, bersimpuh di depanku yang duduk di tepi ranjang.

Aku memilih diam tak menjawab. Aku berusaha mengacuhkan kesedihan yang mama tunjukkan padaku.

Kenapa? Kenapa Mama masih bertanya kenapa aku jadi begini? Harusnya Mama instropeksi diri Mama dulu, apa yang membuatku jadi begini! 

Tapi ceracauan itu hanya kuucapkan dalam hati.
Alhasil, disinilah aku sekarang. Di tempat berkamar-kamar yang cukup sempit. Yang disetiap sudutnya menyeruak bau obat yang sebenarnya membuat perutku mual.
Mama menyebutnya panti rehabilitasi. Tapi aku yakin inilah yang dinamakan RUMAH SAKIT JIWA.

Apa aku gila? Apa karena aku merasa jijik dengan laki-laki dan lebih mencintai Gina, adalah gila? Bukankah orang yang bisa digolongkan gila adalah orang yang berhalusinasi, yang suka ngomong sendiri, yang terbahak-bahak sendiri dan mereka mengaku kalo mereka tak sendiri? Tapi aku tak seperti itu. Gina nyata, dia juga manusia. Dia bisa dilihat siapapun, termasuk mama yang kala itu langsung ingin melabraknya. Meski kemudian bisa kucegah dengan menyuruh Gina pergi keluar dulu.

Jadi kalo aku tidak gila, kenapa mama melemparku ke tempat menjijikkan ini? Dan semua ini, makin membuatku membenci mama.

"Pagi,"

Aku menoleh meninggalkan keasyikanku mengamati tetes-tetes air yang mengembun di kaca jendela usai kabut yang mulai memudar. Seorang pria berwajah manis dengan model rambut ala artis korea juga bibir memerah seperti berlip-glos melongok dari balik pintu.
Saat daun pintu diperlebar barulah ketahuan kalo dia mengenakan seragam putih dengan stetoskop terkalung di lehernya.
Dia dokter, pikirku.

Akupun memilih kembali menikmati lukisan embun di kaca jendela di samping tempat tidurku yang baru. Semalam aku terpaksa tidur disini. Dingin, keras, dan tanpa Gina.

Oh, Gina, lo dimana sayang?

"Maaf, semalam saya masih di luar kota, jadi kedatanganmu hanya disambut para asisten saya."
Dokter itu menempatkan sebuah kursi searah dengan tempat tidurku. Lalu mendudukinya.
Aku tak menanggapi omongannya.


"Perkenalkan saya dokter Karel, saya yang akan membimbing anda selama ada disini."
Aku tergelak mendengar omongannya kali ini.

Membimbing? Apa ini kelas mata pelajaran khusus? Tentang hidupku yang dicap mamaku sebagai salah satu penyakit GILA?

Dokter Karel menyandarkan punggungnya, lalu sebelah kakinya disilangkan ke kaki satunya. Mau tak mau aku pun melihat ke arahnya. Sebuah senyum menyambutku.Tangannya diletakkan di atas map yang dipangkunya.

"Kenapa? Mulai tertarik mengakui keberadaanku?"
Aku tergelak lagi. Untuk kepercayaan dirinya, juga untuk ketertarikan sesaatku. Sikapnya benar-benar aegyo, istilah kemayu dan menggemaskan dalam dunia korea yang memang aku gemari karena disana hampir tak terlihat suasana maskulin yang kubenci.

Dokter Karel membolak-balik isi dalam mapnya. Kakinya yang tergantung berayun-ayun pelan. Membuatku kembali tergelak.

''Lulusan apa? S2 apa baru S1? Udah residen apa masih koas?" tanyaku sinis, membuatnya yang awalnya hanya mendongak sedikit tanpa meninggalkan kegiatannya berubah menjadi fokus menatapku. Mapnya pun kembali ditutup. Lalu dokter itu tergelak, memperlihatkan sebuah deretan gigi putih yang tertata apik.


''Kenapa?"

"Karena gue bukan orang bodoh."

"Saya tau anda pintar. Seorang calon intelek bidang fisika bukan hal yang gampang."

"Lalu?" kejarku

Dokter Karel bangkit dan melangkah mendekatiku. Aku melengos. Benar-benar gerah melihat makhluk berlabel laki-laki mendekatiku seperti ini.

"Anda tau kenapa ada disini?"

"Mama bilang gue gila," aku terbahak menghentikan pernyataanku, "siapa yang gila? Apa mencintai orang yang berbeda dengan kebanyakan orang bisa dikategorikan gila? Bukankah mencintai itu hak asasi semua orang? Semua makhluk malah?"

Dokter yang berdiri tak lebih dari 2 meter dariku itu tersenyum samar.

"Gue tidak gila." desisku menatap biji matanya yang menatapku intens.

Lalu senyum yang tadi samar, kini menjelma lagi. Lebih nyata.

"Anda memang tidak gila."

Mungkin memang hanya Dokter muda ini yang mau mengakui aku tidak gila, meski hanya sebatas perkataan saja.

Tapi anehnya, aku disini hanya seperti ngungsi tidur. Tak ada terapi atau sesi pengobatan seperti yang sempat kubayangkan. Dokter Karel tiap hari datang hanya duduk di depan ranjangku dan sesekali menatapku yang tak pernah menggubris keberadaannya.

Dan ini sudah hari ke 5 aku terperangkap disini. Siang ini, setelah makan siang aku kedatangan tamu. Mama dan Shakira. Tanpa papa.

"Kamu kurusan, Fir, Mama bawain makanan dari rumah ntar sebagian disimpen di kulkas ya."
Aku tergelak mendengar ucapan Mama yang begitu manis.

"Kalo kurusan kan kelihatan kaya orang sakit beneran, Ma." timpalku langsung disambut pelototan mata Mama juga wajah tercengang Shakira yang sejak tadi sibuk meneliti setiap sudut 'tempat tinggalku' ini.

Mama mendekat dan membelai pipiku, menata rambutku yang terurai berantakan. Memang sejak disini aku jarang sekali menyisir rambut. Malas. Toh aku seharian mendekam di kamar yang sudah mirip penjara VIP ini. Paling-paling keluar kamar kalo ada sesi grup konseling atau olahraga di lapangan sana.

"Fir, kamu harus sembuh sayang.''
Aku tergelak lagi, mendengar ucapan Mama yang lebih ke arah pengharapan. Tapi kalo boleh jujur, itu kuanggap pengharapan palsu. Mama ingin aku sembuh bukan karena sayang aku, tapi karena takut lama-lama menanggung malu.

"Kembalikan ipad Fira, itu akan lebih cepat membantu," tawarku

"Gak!" tolak Mama keras, bahkan sampai berdiri. "kamu gak bakal Mama kasih alat komunikasi lagi. Karena kamu pasti hubungi cewek stres itu. Istigfar Fira, istigfar. Itu perbuatan yang dilaknat Allah.  Kamu suka Mama Papa masuk neraka karena membiarkan anaknya berbuat laknat begitu?"

Kucoba acuh dengan ceramah Mama.
Bullsit! Istigfar? Bukannya itu yang harus Mama Papa terapkan? Aku begini juga karena perbuata Mama. Juga karena super sibuknya Papa. Lalu, kenapa kemudian aku yang harus istigfar?

Aku memang sudah sangat lama meninggalkan sholat. Mungkin hanya sekedar pencitraan aku melakukannya. Saat bulan ramdhan ketika harus mengikuti ajakan Mama, atau saat idul fitri. Tapi aku tak mau munafik. Itu hanya untuk pencitraan. Karena ajakan Mama juga.

Allah pasti marah padaku. Aku sadar itu. Tapi, aku juga yakin kalo Allah pasti juga marah pada Mama. Tentang perbuatan Mama.

"Tapi Allah juga akan melaknat seorang istri yang selingkuh di belakang suaminya kan?" tanyaku sinis. Cukup membuat mata Mama membulat. Tapi bibirrnya terlihat gemetar. Mungkin hendak mengumpat atau memarahiku.

"Ck!"

Aku spontan menoleh ke arah Shakira yang memasang wajah jengkel.

"Ini apaan sih kok malah pada ngomongin dosa, laknat?" dengusnya.

Aku tersenyum. Aku kadang iri pada Shakira yang begitu mudah meluapkan apapun yang melintas di otaknya.

"Mending Shakira keluar kamar aja, suntuk disini." Shakira bersiap melangkah ke arah pintu. "siapa tau ketemu cowok cakep." lanjutnya membuatku terbahak. Langkah kaki Shakira spontan berhenti. Menoleh, menatapku heran.

"Lo kira ini mall atau kampus, dek? Ini rumah sakit jiwa, yang ada ya orang stres semua," kataku disela tawaku yang tak bisa kutahan.

"Ya, siapa tau ada perawat atau dokter yang cakepan." Shakira masih ngotot.
Aku tergelak getir.

"Itu tandanya adikmu normal." timpal Mama.

Aku tercekat dua detik.
Jadi, apa aku tak normal? Karena Shakira selalu seperti kehausan menguber cowok-cowok cakep, maka disebut normal, sedang aku yang mencintai Gina disebut gila? Filosofi ciptaan siapa itu?

Shakira menjulurkan lidahnya tanda kemenangan sebelum akhirnya membuka pintu di hadapannya. Tapi baru sedetik tertutup, pintu itu terbuka lagi. Tetap dengan sosok Shakira juga, hanya beda ekspresi wajah.

"Ada apa, dek?" tanya Mama heran.

Shakira bergegas menuju ranjangku.

"Kakak boong, katanya disini gak ada cowok cakep, tuh Shakira tadi liat."  lapor Shakira setengah memprotes.

Dahiku mengkerut. Shakira hendak menuju pintu kamar lagi. Hendak mengintip mungkin. Tapi dua langkah sebelum Shakira sampai di depan pintu, pintu itu lebih dulu terbuka. Seraut wajah dokter Karel terpampang.

"Siang, oh, ada tamu rupanya?"

Shakira bergegas mendekatiku. Menarik lengan baju pasienku dengan mimik wajah yang sangat kukenal. Shakira terpesona.

"Mereka mama dan adik gue," kataku seperti memberi laporan.

Raut wajah dokter muda itu langsung berubah, dari yang penasaran menjadi aneh. Atau mungkin aku yang tak bisa menerjemaahkannya.

"Oh, jadi ini yang namanya dokter Karel?" Mama langsung bersikap sok akrab, hal yang paling membuatku bergidik tiap kali melihatnya.

Senyum dokter Karel langsung mengembang, menerima uluran tangan Mama. Aku makin jengah, belum lagi sikap Shakira yang makin malu-maluin.

"Ini apaan sih, dek? Norak tau!" sungutku akhirnya, mengibas tangan Shakira yang tak bisa diam menarik-narik bajuku. Dibalas dengan pelototan Mama, manyunan bibir Shakira, dan seulas senyum dokter itu.


"Terserah kalian lah," kubenamkan wajahku ke bantal dan menutupinya dengan selimut.

Itulah aku, cepat merasa muak melihat hal-hal memalukan seperti itu. Terlebih pelakunya adalah Mama atau adikku sendiri. Memang apa istimewanya tampang dokter Karel itu? Okelah dia cukup tampan dengan kulit yang bersih. Tubuh tinggi proposional. Wajarlah, dia kan dokter, pasti pola hidupnya snagat sehat. Bibirnya juga jauh dari polusi rokok. Lagi-lagi, dia kan dokter, pasti tau bahayanya merokok. Tapi, bukankah hanya sebatas itu? Dan itu hal yang biasa ditemukan pada laki-laki kebanyakan.

*



"Ada waktu?" tanya dokter Karel sore ini, mencegatku di koridor rumah sakit saat aku baru saja menyelesaikan sesi grup konseling yang dipandu oleh dokter Akbar. Katanya itu seniornya dokter Karel. Seorang profersor yang menyelesaikan s2-nya di jerman.

"Emang gue disini ada kesibukan?" tanyaku memiringkan kepalaku.

Dokter Karel tersenyum.

"Ganti baju gih, pake celana panjang juga jaket."

Mataku memicing, heran.

"Emang kita mau kemana?"

Dokter Karel malah mendorong pelan tubuhku ke arah kamarku.

"Anggap aja ini bagian dari konseling."

Aku tak punya kesempatan menolak, dorongan tangan dokter muda ini sudah berhasil melewati pintu kamarku.

"Lima menit, ok?" katanya, seperti memberi injure time.

Aku tergelak seiring pintu tertutup. Apa-apaan ini? Emang dokter punya hak juga ya nyuruh-nyuruh pasiennya untuk menuruti ajakannya?
Tapi toh, akhirnya aku menuruti perintah itu. Kurang dari lima menit aku sudah membuka pintu kamar lagi. Tentunya dengan penampilan yang berbeda. Jeans biru dengan paduan t-shirt putih polos juga balutan jaket Nevada denim.

Dokter yang lebih mirip bukan dokter itu menyambutku dengan seulas senyum. Aku hanya mampu tergelak, atau mungkin karena hanya itu ekspresi yang pantas kutunjukkan.

"Yuk!" ajaknya berjalan mendahului.

"Emang kita mau kemana?"

"Mencari pelangi."

Aku tertawa sinis. Mata bening dokter Karel langsung menyipit melirikku.

"Emang bisa?"

Dia hanya mengedikkan bahu. Langkah kami menuju pelataran parkir. Menuju sebuah motor yang terparkir sendirian. Sendirian karena disekitarnya hanya ada mobil-mobil berbagai macam merk dan warna.

"Tunggu, tunggu... " aku berhenti, dokter Karel menoleh heran.

"Kita pergi naik ini?" lanjutku bertanya.

"Iya, kenapa?" Dokter Karel balik bertanya.

Motor? Motor trail pula? Aku tergelak. Bukan sok kaya, tapi seumur hidup tak pernah naik kendaraan bernama motor. Apalagi motor trail macam begini.

"Jangan bilang kamu gak pernah naik motor," tebaknya.

Aku mendelik.
Kamu? Hei, sejak kapan komunikasi antara dokter dan pasien ini berubah dari anda-saya menjadi kamu-aku? Apa karena aku mau diajak keluar dia? Gila.

"Yes, so? Apa itu juga digolongkan keadaan yang tak normal?" sengitku.

Dokter Karel hanya mengulum senyum.

''Tidak juga, wajarlah, kamu kan anak orang kaya,"

"Aku anggap itu pujian." aku makin kesal.

"Itu memang pujian kok." Tangannya menyodorkan sebuah helm, sementara dia juga memakai yang satunya.

Aku sedikit ragu memakai benda mirip bathok kelapa itu.

"Pasang pengaitnya," perintahnya, melakukan hal yang sama yang diperintahkan padaku.Mengaitkan pengaman helm yang dikenakannya.

"Harus ya?"

"Helm sama pentingnya kaya seat belt, bisa mengurangi resiko saat kecelakaan."

"Loe gak bermaksud ngajak gue kecelakaan kan?"

Eh, apa ini? Kenapa aku malah pake logat loe-gue?

Dokter Karel terbahak. Aku bersungut sinis dengan tangan masih sibuk mengaitkan pengaman helm yang belum juga berhasil. Aku sampai jengkel sendiri.

"Sini, " Tiba-tiba tangan Dokter Karel terulur menggeser pekerjaan tanganku.

"Eh, mau ngapain loe?' sergahku kaget, mundur selangkah.

"Ngapain lagi, bantu benerin pengaitnya."

Tangan kekar itu memaksa menyeruak, mengaitkan pengaman helm yang sejak awal seperti tak mau kooperatif denganku. Atau memang aku yang memang nol besar dengan segala hal tentang motor. Maklum lah, sejak masih bayi aku taunya naik mobil. Bahkan di garasi rumah tak pernah sekalipun nangkring yang namanya motor.

"Nah, udah kan? Yuk!" katanya setelah berhasil mengaitkan pengaman helm dengan isyarat suara 'klik'. Lalu tubuh tingginya menaiki motor trail itu.

Aku mematung, sampai dia menoleh.

"Kenapa? Tenang, aku naik motor sejak remaja, jadi bisa dibilang aku sudah profesional,"

Aku nyengir. Naik sedikit ragu.
Oh no, bau maskulin ini....
Kutahan nafasku. Rasa mual yang aneh mulai mengaduk-aduk perutku seketika aku merapat pada punggung lebar berbalut jaket warna abu-abu itu.

"Pegangan tangannya," perintahnya.

"Harus?"

Tawanya terdengar dari balik helm tertutupnya.

"Ya, kalo tak ingin jatuh saja." kali ini seperti menakut-nakuti.

Jatuh? Yang benar saja. Aku masih belum mau mati konyol dengan cara terjatuh dari motor yang melaju.

Terpaksa kurenggut permukaan jaketnya. Tolong garis bawahi, TER-PAK-SA. Ini karena aku benar-benar belum mau mati konyol.
Aisshh... tiba-tiba aku merasa sangat menyesal mau menuruti ajakan dokter aneh ini tadi. Padahal aku tadi bisa saja menolak kan? Belum lagi bau maskulin yang makin menggila ini.

Motor melaju cukup kencang membelah jalanan yang cukup sepi.
Pikiran pertama yang muncul, 'daerah mana ini?'. Ini seperti bukan daerah ibu kota. Pinggiran kota kah? Atau malah luar kota? Luar pulau jawa? Apa iya mama 'membuangku' sejauh itu?

''Kita ada dimana?" tanyaku akhirnya menyuarakan tanda tanya di otakku.

"Bandung."

Aku tergelak, selebihnya semua kejengkelanku seperti mengabur terbawa deru angin diantara pias-pias kesejukan yang kurasakan menerpa seluruh tubuhku. Dan tanpa sadar, kini tanganku bertaut di seluruh pinggangnya. Bertemu di depan perutnya yang datar.

Motor itu melaju stabil menaiki jalanan, seperti menuju bukit. Rintik air hujan mengguyur lembut diantara dedaunan dan ranting-ranting pohon. Disisi barat, sinar matahari seperti berusaha keras menggusur mendung yang sebagian telah berhasil menumpahkan kandungannya, meski hanya sebatas rintik-rintik begini.

Sejenak aku terpukau dengan suguhan pemandangan alam yang ada. Kemana saja aku selama ini? Kenapa tak pernah menikmati keindahan seperti ini? Atau memang aku yang memang lebih memilih menikmati keindahan kota yang lebih condong ke gemerlap lampu-lampu diskotik, juga hingar bingar house music ?

Laju motor yang kutumpangi ini melambat, sebelum akhirnya berhenti tepat di sebuah bukit, di ujung bibir teping. Angin sore begitu mengusik rambutku usai kulepas helm di kepalaku.

"Nah, daripada sembunyi di balik selimut, mending berdiri di disini kan? Berteriak meluapkan semua masalah." katanya enteng, seperti memamerkan keindahan alam yang terhampar. Dibawah sana terlihat daerah pemukiman penduduk yang berdampingan dengan area pertanian.

Aku tergelak.
Pasti gara-gara reaksiku atas sikap mama dan Shakira tadi siang. Saat begitu ganjen padanya dan aku memilih menyembunyikan diri ke dalam selimut.

"Maksud lo apa?" tanyaku sinis.

Dia kembali mengulum senyum. Disilangkan tangannya ke dada. Seperti menungguku sampai siap meluapkan semua yang bersarang di dalam dadaku selama  lebih 10 tahun terakhir ini. Tubuhnya disandarkan di badan motornya.

Aku menghela nafas panjang.
Sayang, aku bukan tipe orang yang suka berteriak-teriak seperti orang kesetanan saat dada terasa penuh. Aku lebih suka tenggelam dalam kesendirian. Diam dan menekan semuanya ke dasar hati.

"Saat aku berusia 12 tahun mama selingkuh dengan teman papa, dan itu terjadi di depan mataku."
Entahlah, mungkin tidak sepenuhnya salah jika kalimat itu meluncur setengah tak sadar. Mataku masih tertuju pada hamparan panorama, meski sudah bukan itu yang menjadi fokusnya.

"Sejak saat itu aku begitu muak dengan semua hal yang berlabel laki-laki. Bahkan aku juga benci dengan papa yang seperti tak peduli dengan yang mama lakukan." Mataku terpejam seketika, menahan sakit dadaku yang tiba-tiba menyeruak tanpa ampun.

"Lalu kau memilih mencintai wanita?" tanyanya. Bukan sebuah jugde, lebih ke bentuk penegasan. Menegaskan aku memang membenci semua laki-laki.

Aku tersenyum getir, "Namanya Gina, dia sangat care padaku. Dia bisa membuatku nyaman tiap kali kenangan buruk itu melintas."

Sepi beberapa menit. Langkah pelan itu mendekat dan mensejajarkan dengan posisiku berdiri.

"Kamu liat pelangi yang baru terbentuk itu? Sebentar lagi lengkungan itu akan sempurna, " jawabannya malah seperti jauh dari korelasi ceritaku. Kembali terlintas rasa sesal telah mengungkapkan rahasia hidupku hingga aku jadi begini.

Tapi tetap kuikuti arah jari telunjuknya. Yah, pelangi. Bahkan hal sesederhana itu dulu tak pernah kunikmati secara langsung. Karena memang tak pernah ada yang mengarahkanku bahwa untuk melihat pelangi harus pergi ke suatu tempat usai hujan ringan yang kemudian panas matahari kembali muncul.

"Kata orang-orang bijak, akan selalu ada pelangi usai hujan badai. Dia akan menghiasi kelamnya langit yang murung." Tawa renyahnya memenggal filosofi pelangi yang dijabarkannya tadi.

Siapa yang peduli tentang omongan orang-orang sok bijak itu? Yang kutau pelangi itu hanya barisan warna yang terbentuk karena pantulan dan pembiasan dari sinar matahari di dalam air hujan. Atau lebih kerennya lagi pelangi adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Dengan kata lain pelangi hanya busur spektrum warna besar berbentuk lingkaran yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air.

Aku mendesah, "Lalu apa hubunganya dengan gue?" masih sinis. Dan masih saja tanggapannya senyum manis.

"Orang-orang terlalu percaya dengan filosofi pelangi. Sampai mereka lupa bahwa pelangi itu semu, pelangi itu hanya sebentar dan akan hilang saat cahaya matahari kembali sempurna." Dokter Karel menatapku lekat, "dan kau, termasuk salah satu orang-orang itu."

Dahiku mengerut, mataku memicing.

"Gina itu seperti pelangi, yang hadir setelah hujan badai dalam kehidupanmu. Yang mengukir indah dalam kelam langitmu. Benar kan?"

Kali ini aku malah bingung dengan perkataannya. Tapi, ya, anggap saja begitu. Gina segalanya bagiku saat aku begitu tertatih tak mampu lagi menghadapi kemelut hidupku. Tak mampu lagi menahan kebencianku pada makhluk bernama laki-laki.

"Tapi pelangi tetaplah pelangi. Dia itu hanya bias cahaya matahari, yang akan menghilang seiring matahari itu sendiri kembali bersinar terang. Bukan pelangi yang akhirnya mengusir mendung sisa hujan badai. Matahari itu sendiri yang akan mengubah hari kembali cerah."

Dan untuk kali ini aku ingin menyangkal penjabarannya. Tapi lagi-lagi aku memilih diam saja, kulayangkan lagi pandanganku pada pelangi yang menjadi fokus pembicaraan ini.


Setelah sore itu, aku sering berfikir tentang kebenaran kata-kata dokter Karel. Meski komunikasi kami sudah benar-benar berubah dari anda-saya menjadi aku-kamu, bahkan loe-gue, tapi tetap saja tak banyak pembicaraan yang terjadi. Sore itu, adalah pembicaraan terpanjang kami. Selebihnya, seperti biasa kami hanya berkomunikasi layaknya pasien-dokter.

Tapi jujur, kadang aku sering tak sadar memperhatikan sosok tinggi tegap dengan wajah tampan itu ketika sibuk menganalisis kondisiku. Aku merasa aneh saat bau maskulin itu menyeruak penciumanku. Bukan mual, tapi... entahlah, rasa aneh yang bahkan aku tak mampu mengejanya bernama apa.

''Ada apa, dari tadi kok banyak diamnya?" tanyanya diantara deru motor dan angin yang mengaburkan segala hal dalam diriku, termasuk kesadaranku.
Ini kali kedua dia mengajakku keluar dari rumah sakit. Mengendarai motor trailnya. Dan aku seperti tak terpaksa lagi duduk nyaris tanpa jarak dibelakangnya. Melingkarkan tanganku dan mempertemukannya diperutnya yang datar.

"Hah? Tidak," sanggahku sekenanya. Karena hanya itu yang sempat kupikirkan untuk kujadikan jawaban. Daripada harus berkata jujur aku merasa aneh duduk dibelakangnya, menikmati rasa tak terjemaahkan saat bau maskulinnya mendekapku.

Dan dari kaca spion aku bisa melihat ada seulas senyum yang biasa dia tunjukkan. Aku tak sadar tergelak. Menertawakan rasa aneh yang menggelitikku saat ini.

Apa aku mulai tertarik dengan makhluk ini? Oh, tidak mungkin.
Tapi rasa yang menggelitik ini, apa?





Randublatung, 02/03/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar