Jumat, 29 Januari 2016

Nama : Ari [Extended]


Desah nafas satu-satu mengiringi mataku yang berkeliaran seantereo ruang lobby hotel ini. Tapi sekalipun kumaksimalkan urat kornea mataku untuk menyorot semua sisi lobby tetap tak kutemukan sosok yang kumaksud; Airin.
Sedikit gemetar tanganku kembali menyentuh tombol hijau pada nomor yang sejak tadi terpampang di layar ponselku. Setelah terhubung tetap tak ada tanda-tanda pengangkatan. Bahkan sampai dering terakhir. Dan itu entah usaha yang keberapa kalinya.

Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain.
Ucapan yang lebih seperti mandat yang diberikan Marvel padaku waktu itu seperti meraung-raung meminta pertanggungjawaban. Memacu detak jantungku jauh lebih cepat hingga membuatku makin sesak nafas.

Harusnya tadi tak kupercayai omongan papa yang mengajakku menemui kliennya dari China. Harusnya tak kupercayakan Airin tadi bersama sepupu-sepupuku yang memang terlahir dengan darah tiran. Harusnya tadi sore kuturuti saja Airin yang menolak ikut. Harusnya tadi pagi tak kuiyakan undangan papa untuk acara konspirasi berkedok amal ini. Harusnya... Harusnya... Harusnya... Ya, hanya itu yang berputar-putar diotakku.

Aku berlari keluar hotel dan mendadak langkahku terhenti. Mataku tertuju pada sesorang yang duduk menekuk lututnya. Wajahnya tertunduk dalam-dalam.
Dan ada yang menghujam hatiku sampai tembus ke sisi sebelahnya. Benar-benar sakit.

Gemetar aku mendekati sosok terpekur itu. Airin.
Mungkin mendengar suara langkah sepatuku, kemudian Airin mendongak perlahan. Dan entah kenapa, langsung saja mata yang awalnya sendu itu tiba-tiba membelalak kaget. Airin langsung bangkit.
"Ri'."
Kentara sekali wajah sedih itu dipaksa disembunyikannya rapat-rapat. Meski tau aku sudah mengetahuinya.
"Di dalam gerah banget jadi aku keluar untuk cari angin." dalihnya tanpa kuminta.
Mataku tak bisa lepas dari wajahnya.
"Maskaramu luntur," kataku lirih.
"Oh, benarkah?'' Airin sedikit kebingungan, kurogoh sakuku dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil. Kusodorkan padanya.
"Aku memang tidak pernah pakai beginian, jadi kurang paham tata caranya. Jadi tadi pas gatal aku langsung kucek mataku. " Perlahan di usapkannya sapu tangan itu pada kelopak matanya.
Aku makin trenyuh.

Sampai kapan kau terus-terusan bersikap baik-baik saja begini, Rin? Kurang beratkah penderitaanmu di dalam tadi?

"Udah, udah, gak apa-apa. Gak usah ditata lagi. Kita pulang saja," kataku akhirnya.
Aku harus mengakhiri lebih cepat penderitaan ini. Kalo tidak, bisa-bisa aku menangis dihadapan cewek ini
"Tapi nanti orang-orang di dalam mencarimu." Airin mencoba menahan tanganku yang hendak menggandengnya.
"Kenapa harus peduli???" geramku tak terkontrol. Nyaris ke status bentakan.
Airin diam. Bungkam. Terpaku di tempat.

Aku mendesah berat.
Sakit. Lagi kurasakan menoreh hatiku.
Maaf, Rin. Maaf.
Hanya dalam hati kata itu mampu kuucapkan. Suaraku tercekat mencekik urat leherku.

"Harusnya kau percaya waktu kubilang aku tak cocok di tempat seperti ini." Suara Airin lebih seperti kalimat judge.
Sekarang kedua tanganku ganti merengkuh pundaknya.
"Rin, gue... " kalimatku terpenggal oleh tatapan matanya yang menghunus tajam ke mataku. Aku tertunduk.
"Maaf."
Bahkan aku mendengar jelas kalo suaraku bergetar hebat. Bahkan hembusan lembut angin malam mampu menggigilkan tulang-tulangku. Bahkan aku tau ini adalah sesuatu yang sangat asing bagiku.

Lalu samar terdengar suara gelak tawa Airin.
"Kau seperti bukan Ari yang selama ini kukenal."
Aku menatap Airin.

Sungguh, mungkin dia memang sudah terlatih dalam hal mengembalikan keadaan yang buruk. Sisa-sisa air mata yang masih mencoba mengoyak maskara itu mewakili kenyataan bahwa yang terjadi di dalam tadi cukup mengagetkannya.

"Maaf."
Lagi, kata itu dengan lancar meluncur dari bibirku.
"Maaf, biasanya sori kan? Kenapa gaya bicaramu berubah kalo di depanku?" tanyanya ringan, jauh dari situasi dimana seseorang habis di bully.
Aku tak mampu memilih kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaannya. Aku diam.

Benar, tempat ini memang tak pantas untuk Airin. Terlalu banyak hal yang bisa membuat hatinya terluka. Harusnya aku tak perlu mengajaknya kesini, apapun alasannya. Apalagi jika alasannya hanya untuk memperkenalkannya pada papa dan keluarga yang lain.
Bodohnya aku.

"Kita pulang saja ya?!" ajakku lembut, menatapnya dengan sinar mata memohon.
Airin tersenyum. Hal yang bahkan dulu tak pernah diperlihatkannya padaku.

Benar kata Marvel minggu lalu, tak ada yang bisa bertahan dengan tingkah-tingkah gilaku. Dan akhirnya Airin pun menyerah. Cewek yang awalnya selalu bersikap galak dan sinis padaku itu perlahan luluh. Bahkan siang tadi setuju saat kubilang akan kuajak ke sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh firma milik papaku.

"Gak pa-pa, kau masuk aja lagi, aku bisa sms Marvel untuk jemput aku pulang." kilahnya.
"Emang tadi kesininya dianter Marvel? Gak kan? Jadi kenapa harus nyuruh Marvel anterin pulang?"
"Ya tapi kan didalam... "
"Rin!" sergahku menatap matanya lekat.
Airin menunduk.
"Kita pulang saja, oke? Lagian aku sebenarnya juga gak cocok dengan suasana di dalam. Penuh dengan wajah-wajah bertopeng."
Airin mendongak sedikit. Wajahnya sedikit meringis.
"Kenapa?" tanyaku lebih memperhatikan raut wajahnya yang seperti menahan sakit.
"High heels-nya dilepas gak pa-pa kan? Kakiku sakit, aku gak pernah pake beginian soalnya." Airin seperti mencoba menjabarkan arti raut wajahnya.
Kuperhatikan kakinya, Tumitnya memang sedikit memerah.
"Ya udah lepas aja, ntar pake sepatuku."
Ucapanku disambut tawa sumbangnya. Aku mengernyit tak mengerti.
"Norak ah, masa aku pake sepatumu? Ukuran kaki kita aja jauh beda." Airin melepas high heels-nya.
"Ya udah aku gendong sampai parkiran mobil, sini!" Kali ini kutepuk punggungku perlahan sebagai isyarat bahwa punggungku siap untuk menggendongnya.
Tawa Airin makin sumbang.
"Ini apaan sih, Ri'? Makin norak lagi. Masa iya orang bisa jalan malah digendong? Kaya main gobak sodor aja yang kalah nggendong yang menang. Udah ah, yuk jalan... " celotehnya hendak melangkah.
Aku tersenyum sendiri.

Mungkin, unikmu itulah yang membuatku mencintaimu, Rin.

"Ya udah, sini tak bawain high heels-nya ya!" seruku mengejar langkahnya seraya menyambar high heels yang ditentengnya.
"Gak usah... "
Airin mencoba menolak.
"Airin?" geramku menggertakkan gigiku pelan
"Ari?" Mata Airin melotot membalas panggilanku. Dengan tanpa melepas high heels yang ditentengnya.

"Airin, ngapain disini?"
Suara berwibawa dari dalam mobil yang baru saja lewat itu mengakhiri ritual kami. Sama-sama kaget, sama-sama menoleh ke sumber suara.
Aku memang benar-benar kaget melihat kali kedua wajah pria berwibawa itu. Ari Baskoro.
Mataku sedikit mengekor ke arah Airin. Mungkin saking kagetnya, high heels yang tadi dipertahankannya terlepas begitu saja. Sayangnya aku tak cukup persiapan menggantikan membawa high heels itu hingga akhirnya high heels itu malah terjatuh.
Airin menunduk. Ekspresi wajahnya lebih mirip seorang anak SMP yang ketahuan oleh ayahnya sedang berkencan diam-diam. Bahkan kakinya mundur selangkah.
Pria itu keluar dari mobil. Menatap Airin tetap lekat.
"Ari!"
Lagi, kekagetan menyerangku. Aku menoleh ke arah pintu masuk lobby hotel.
Papa menatapku garang.
"Papa?" desisku spontanitas.
"Papa?" susul pria yang berdiri tak jauh dariku itu seperti kaget.
"Jadi kau ini putra tunggal Hadi Anggoro?" lanjutnya menuntut penjelasan.
"Ari, masuk!" perintah lugas papa ikut menyusul, seperti tiba-tiba pria separuh baya itu sudah ikut menjulang tak jauh dariku.
"Pak Hadi Anggoro?" panggilan itu juga ikut menyusul.
Raut wajah keluarga tunggalku itu seketika berubah.
"Pak Ari Baskoro?"

Dan, akhirnya aku hanya menjadi penonton ekspresi tak percaya dua pria separuh baya itu. Saat pandanganku beralih ke Airin, kulihat ada berbagai rasa mengendapi wajahnya membuat intensitas tanya yang selama ini belum terungkap bertambah.





Rdb, 29.01.2016
Winarind@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar