Buru-buru kumatikan mesin motorku dan kubuka helmku. Tiap melihat makhluk itu aku serasa dikejar-kejar waktu, berlomba dengan roda detik-detik jam, yang mengajakku untuk tak mennyia-nyiakan waktu yang berjalan.
" Kapan kau datang? Kenapa tak bilang kalo mau kesini? Tau begitu kan bisa aku jemput." Berondongku dengan pertanyaan seraya mendekatinya
Sungguh, bagiku dia sangat anggun dengan rok lebar, atasan longgar, dan kerudung menutupi hampir seluruh badan atasnya itu. Naida namanya, gadis anggun itu.
Naida tersenyum lembut
" Kalo aku bilang-bilang dan akhirnya kau menjemput kesana, itu namanya bukan aku yang main kesini, tapi malah merepotkanmu."
Aku pun tersenyum.
Sungguh, pagi ini terasa begitu indah kurasa, dan tak kupungkiri karena mentari diatas sana sedang membagi cerianya padaku lewat kehadiran Naida.
Entah mulai kapan aku digerogoti perasaan ini. Yang jelas, tiap melihat Naida, aku seperti mendapat doping untuk lebih memacu detak jantungku.
" Kubawakan kau sarapan, aku yakin kau belum sarapan kan?" ucapan Naida membuyarkan lamunanku.
Naida mengeluarkan sebuah kotak makanan dari tas tenteng kecil yang dibawanya.
" Untukku?" Tanyaku tak percaya
" Ya iyalah, tadi dirumah kebetulan buat sarapan cukup banyak untuk anak-anak, dan masih lebih, daripada mubazir gak kemakan karena nanti pasti pulangnya udah sore, ya aku bawa sekalian aja kesini."
" Kau kesini gak mungkin cuma mau anter ini kan?" Tanyaku tak percaya, karena Naida juga wanita karier, jarak rumah kontrakannya dengan tempat kerjaku ini hampir sejam naik angkot.
" Enggak, aku punya sedikit urusan disekitar sini. Jadi sekalian saja aku mampir. Emang gak suka ya aku kesini?" Selidik Naida
" Oh..tidak, suka kok" Sanggahku gelagapan.
Bahkan kalo boleh aku ingin berharap kau setiap pagi kesini menyisakan sisa sarapan ditempatmu untukku. Bukan sarapannya yang penting, tapi melihatmu dengan balutan hijabmu itu yang membuatku seperti batere yang dichas full.
" Ini dimakan gak?? Kalo gak mau..."
" E...e...enak aja, ini kan punyaku" Serobotku mengambil kotak nasi itu dari tangan Naida.
Naida tergelak lucu.
Kubuka kotak nasi sederhana itu perlahan, dan entah kenapa senyumku mengembang mendapati nasi, capcay sayur, telor ceplok tertata dengan apik. Garnisnya pun menggoda sekali. Bahkan sekarang aku begitu sayang untuk merusaknya.
" Aku simpan aja ya.."
" Kenapa? Gak suka ya??" Naida sedikit kecewa
" Bukan gak suka, tapi ini sayang kalo dimakan, kau menatanya terlalu bagus sih.."
Spontan Naida terbahak,
" Kau ini ada-ada saja sih Ken. Kau mau simpan sampai kapan? Itu ntar malam juga udah basi. Ada-ada saja kau ini"
Mataku melirik ekspresi wajahnya.
Apa aku salah mengagumi wanita ini? Dia begitu indah dimataku, hingga rasanya hampir tak bisa kujamah. Apa aku salah mencintai wanita ini dan kujadikan penggenap tulang rusukku? Dia yang 3 tahun lebih tua dariku. Tapi apa peduliku? Aku tak pernah menganggapnya seperti 'kakak' seperti cece-ku yang sekarang entah ada dimana dengan pria yang dicintainya. Aku selalu menganggap dia wanita yang dewasa, santun, dan penuh perhatian. Dan pantas untuk kukagumi dengan segenap cintaku.
Sayang, dia selalu menganggapku seperti adik lelakinya. Dan itulah satu-satunya hal dari dirinya yang kubenci.
" Kau baik-baik saja? Kau sakit?" Tanyanya sdikit cemas
" Kau mencemaskanku?!' Aku malah balik bertanya
" Ya cemaslah, kau disini sendirian, tak ada keluarga, kalo sakit siapa yang mengurus coba?"
" Bukan karena kau sayang aku?"
" Siapa bilang aku tak menyayangimu? Kalo tak menyayangimu, buat apa aku repot-repot sampai kesini?"
" Apa itu juga cinta?"
Hening. Sepi. Kali ini Naida tak menyahut. Bungkam menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangannya ketempat lain.
" Na..." Panggilku penuh harap dia menjawab pertanyaan terakhirku tadi.
Selama ini Naida selalu mengekangku dengan rasa sayang kakak kepada adik yang dia terapkan pada kami. Dan kalo pun pada kesempatan ini aku bisa merubah rasa itu, sungguh....
" Ken, jangan terlalu berharap yang tidak-tidak" Ucap Naida
" Berharap yang tidak-tidak, maksudnya?"
Naida malah beranjak dari duduknya.
" Sudahlah kita sambung lagi lain waktu, aku harus pergi"
" Apa aku salah Na?" Desisku sedikit marah.
Tapi.... memang aku harus marah pada siapa?
Ya Tuhan....kenapa cinta ini begitu rumit? Kenapa tidak bisa berjalan bersama lalu berakhir sederhana? Aku tak pernah meminta akhir yang indah, seindah cerita-cerita dongeng itu. Aku hanya ingin memiliki hatinya.
" Masalahnya..." Naida tak melanjutkan kata-katanya. Seperti dibiarkan terbang entah kemana.
Naida menatapku, baru kali ini aku bisa dengan jelas menikmati gemerlap kilau mata itu
" Kenapa harus aku Ken?"
Aku tak sadar tergelak
" Kenapa harus kau? Kenapa tak boleh? Apa ada yang melarang? Apa ini dosa? Bukankah rasa ini juga anugerah dariNya? Kau yang bilang kalo semua yang terjadi didunia ini adalah kehendakNya, jadi semua yang terjadi ini adalah juga kehendakNya kan? Lalu kenapa sekarang kau malah menghindarinya?"
Perlahan kilau mata itu menyurut padam, lalu akhirnya menunduk.
Lalu aku harus bagaimana? Membunuh rasa ini kah? Adakah yang bisa membunuh rasa cinta? Jangankan membunuh, untuk menghindarinya pun sangat sulit.
Tanpa kusadari kapan, tubuh Naida beringsut dari tempatnya berdiri tadi. Tanpa kata terakhir terucap.
Kupandangi punggung itu yang semakin menjauh. Sampai akhirnya mnghilang berbelok diujung jalan sana. Lalu pandanganku beralih ke kotak nasi ditanganku.
Mungkin aku harus lebih banyak bersabar menunggu tangan-tangan Tuhan ikut campur dalam hubungan ini. Hingga yang kuanggap terlalu jauh kugapai akhirnya bisa sampai dalam dekapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar