Dulu, aku suka sekali saat wajah manis itu tersenyum. Membuatku ikut bahagia. Meski manja dan egois melebihi keegoisan Angel, keponakanku yang baru berumur 4 tahun, tapi aku suka. Ya, dia. Karin. Gadis manis yang semasa SMA dulu aku pacari. Yang semasa SMA dulu tak pernah bosan bergelayut manja dibahuku. Yang begitu manis dan lugu, meski egois dan selalu minta dituruti. Dan aku tak pernah mampu menolaknya, apapun akan aku lakukan asal dia tak marah atau sedih apalagi menangis. Tapi itu dulu, 3 tahun lalu.
Dan setelah terpisah 3 tahun secara tak sengaja kami bertemu lagi. Dan Karin tetap tak berubah. Tetap manis dan manja.
" Jadi kau kuliah sambil kerja ya? Apa tak repot? Belum kau masih latihan futsal, main-main..."
Tawa pendekku memotong ucapannya
" Kita bukan anak SMA lagi Rin, orang dewasa selalu harus bisa mengesampingkan hal-hal yang tidak penting." Kataku
Karin mengerutkan alisnya, dan itu membuatnya makin manis.
" Kau banyak berubah Ga." Cetusnya seperti tak suka.
Ya, Karin memang tak suka, dan itu jelas terlihat dari mimik wajahnya.
Aku berubah? Ya, memang benar aku telah banyak berubah.
" Kau bukan Arga-ku yang dulu. Yang selalu ceria dan suka kebebasan. Kau sekarang seperti terikat, patuh."
Aku tersenyum kecil.
Bukankah saat bersamanya dulu aku juga seperti terikat? Seperti patuh? Terikat suasana hatinya dan patuh pada apa yang diinginkannya.
" Kembalilah seperti dulu Ga, seperti Arga-ku yang dulu. Kita lewati hari-hari bersama, bahagia..."
" Hidup ini tak hanya berisi bahagia Rin." Potongku lagi.
Karin reflek memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Apa yang susah buat Karin? Kurasa tak ada. Dia adalah putri tunggal konglomerat. Apa yang diinginkannya tinggal ucap dan seperti sihir sulap dalam sekejap ada dihadapannya. Mungkin dulu aku juga salah satunya. Dia begitu manis hingga semua orang mau mengalah untuknya. Mau menyerahkan apapun untuknya. Dan aku, pun demikian. Entahlah, pacaran dengannya seperti hambar. Saat dia bahagia, ikut bahagia. Dan dia ingin selalu bahagia.
" Apa kau sudah tak mencintaiku lagi Ga? Apa karena kita terlalu lama berpisah?"
Aku diam tak menyahut.
" Dulu kau begitu mencintaiku Ga, dulu kau tak pernah membuatku begini." Lanjutnya sedih, hampir menangis.
Aku mendesah berat.
" Dulu, saat bersamamu saat melihatmu bahagia akupun ikut bahagia. Saat kau marah atau ngambek, aku tak suka, makanya aku memilih untuk mengalah agar kau tak marah lagi."
Perlahan raut muka Karin berangsur cerah lagi. sudut bibirnya melebar menciptakan siluet senyum.
" Dan saat kau menangis, aku tak suka, dan aku akan mencari tau apa yang membuatmu menangis. Dan aku akan menjauhkannya sejauh mungkin darimu."
Senyum Karin tergelar manis sekali.
" Tapi....itu dulu Rin," Lanjutku membuat senyumnya langsung lenyap.
Lalu bayangan Mika melintas. Gadis sederhana yang kukenal belum genap setahun ini. Gadis yang telah mengubah hampir seluruh hidupku. Gadis yang mengajarkanku tentang arti sebenarnya hidup. Hidup yang tak hanya melulu mudah dan bisa dipermudah.
" Kau memang sudah berubah Ga."
Aku menunduk menghindari tatapannya yang dulu membuatku selalu mengalah dan akhirnya menuruti semua inginnya, semua.
" Bersamamu, dekat denganmu rasanya hanya ada ceria. Tapi bersamanya, rasanya sangat nyaman. Tak pernah bosan." Akuku menatapnya sekilas, tapi sekilas saja aku bisa melihat matanya begitu angkuh dan tak suka.
" Menemukanmu dalam keadaan menangis, membuat aku tidak suka. Hingga aku selalu mencoba menjauhkan apapun yang membuatmu menangis. Tapi melihatnya menangis, membuat dadaku sangat sakit, bahkan sampai tak bisa bernafas." Pengakuanku terus berlanjut.
Kuberanikan diri menatap wajah Karin. Kali ini dia tak hanya menunjukkan ekspresi tak suka, tapi juga marah.
" Tapi ada kalanya dia terlihat sangat tegar hingga mampu menopangku saat aku rapuh, saat aku tak kuat menghadapi masalah. Dihadapanmu aku seperti harus selalu menjadi orang yang tegar. Tapi dihadapannya aku berani menjadi apapun, bahkan menangis" Aku diam sebentar.
Kuraih jemarinya yang gelisah menahan amarah
" Rin, kau tau, bersamamu aku tak merasakan apapun selain ingin membuatmu bahagia, tapi bersama dia aku juga bisa merasakan takut. Takut kehilangan, takut berakhir, takut melukai. Apa dulu kau pernah merasakan itu padaku Rin?"
Jemari Karin makin gemetar, perlahan menarik jemarinya dari genggamanku. Matanya berubah nanar.
" Aku sudah menduga. Saat melihatnya pertama kali aku sudah menduga bahwa dia telah merebut Arga-ku.."
" Mika tak merebut aku darimu Rin, karena dulu kau yang meninggalkan aku."
Isak Karin hampir pecah, tangannya membungkam mulutnya sendiri.
" Kau memang manis Rin, dan aku menyukaimu. Tapi itu dulu karena sekarang hatiku sudah terikat Mika. Aku takut melukainya, aku takut membuatnya menangis, aku takut kehilangan dia, aku takut..."
" Cukup!!!" Hardik Karin bangkit, dengan intonasi suara yang cukup tinggi hingga membuat seluruh pengunjung kafe ini melihatnya.
Mata Karin terlihat sangat marah
" Jangan pernah membandingkan aku dengannya, aku tidak menyukainya. Dan aku makin tak suka saat kau lebih memilih dia"
" Ini bukan soal memilih Rin, ini soal masa. Kau masa lalu, dan dia masa sekarang. Dan bersamanya aku bisa melihat masa depan itu.."
Plaaaaaaaaaaakkkk
Tamparan keras mendarat manis di pipiku. Dan untuk kedua kalinya mata pengunjung kafe mengarah pada kami.
Tamparan itu pula yang menyadarkanku akan kenangan masa laluku dengan Karin. Dan saat aku tersadar, yang kulihat hanya Mika.
" Kau memang berhak marah, tapi hanya padaku. Jika tamparan ini membuatmu cukup lega, tak apa." Kataku datar,
Bulir-bulir air mata perlahan membasahi pipinya yang lembut seperti pualam.
" Percayalah Rin, kau pasti juga akan menemukan orang yang bisa mengajarkanmu tentang arti hidup yang sesungguhnya. Entah cepat atau lambat, kau pasti akan menemukannya. Karena aku sudah menemukannya."
Aku beranjak dari dudukku,
" Belajarlah untuk tegar, karena sesungguhnya hidup ini tak mudah, bahkan ada beberapa yang tak bisa dimudahkan sekalipun. Aku ingin kelak kau jadi Karin yang tak hanya manis, tapi juga kuat." Ucapku ringan,
Dan saat aku mulai melangkah, Karin tetap termangu seperti itu.
Senja mulai merambat memayungi cakrawala. Lampu-lampu disepanjang jalan dan toko mulai menyala. Aku berdiri bersandar dibawah tiang listrik, sekitar 10 meter dari sebuah kios bunga kecil dipinggir jalan. Seorang gadis sederhana sedang sibuk melayani seorang pembeli, sepertinya pembelinya butuh sedikit penjelasan tentang bunga apa yang cocok untuk akhirnya dipesan. Sampai akhirnya beberapa tangkai bunga prisan yang dipilihnya. Terlihat senyum lebar menghiasi wajah gadis itu.
Dialah Mika. Gadis yang begitu berarti dalam hidupku kini. Gadis yang sebenarnya rapuh, sering sakit-sakitan. Tapi entah kenapa, justru dialah yang mengajarkanku menjadi tegar. Tegar yang sebenarnya. Yang membuatku memiliki sekaligus takut kehilangan dalam waktu yang bersamaan.
" Hei..."
Aku tersadar oleh panggilannya, selepas pembelinya pergi.
" Kau mau tetap disitu?" Tanyanya
Aku tersenyum kecil, lalu melangkah mendekatinya.Dia pun menyambutku dengan senyum.
" Duduklah, kubuatkan minum" Katanya kemudian.
Dan belum 5 menit berlalu Mika sudah kembali dengan 2 cangkir teh hangat.
" Dari mana tadi?" Tanyanya seraya duduk disebelahku.
Aku tak langsung menjawab, kuseruput dulu teh hangat itu, terasa sekali kehangatannya merasuk sampai ke relung-relung.
" Mik, jika aku teringat masa laluku, apa kau akan marah?"
Sepi beberapa detik, Mika ikut menikmati hangatnya teh ditangannya.
" Masa lalu. Bukankah semua orang punya masa lalu Ga? Aku juga punya masa lalu. Jadi kenapa aku harus marah?" Tegas Mika dengan kata-kata datar
Kuamati wajah itu berekspresi. Begitu dewasa, bahkan seperti seorang ibu sedang menanggapi curhatan anaknya.
" Teringat masa lalu itu manusiawi. Tapi untuk kembali adalah mustahil. Karena kita bukan doraemon." Kali ini sambil melucu. Akupun refleks tergelak.
" Ga, kau tau..."
Kuamati sinar mata Mika, ada semburat lain didalam sana, entahlah, aku tak cukup pintar menerkanya.
" Mencintai seseorang itu ibarat mengenggam pasir. Semakin kita menggenggamnya erat-erat, maka makin banyak pula pasir yang terlepas dari genggaman kita. Dan mungkin lama-lama akan habis tak tersisa. Tapi jika kita menggenggamnya seadanya saja, bahkan dengan tangan terbuka, kita mungkin malah bisa menambahnya." Ungkap Mika.
Cukup masuk akal.
Mungkin itu alasan Mika tak pernah mengekangku, apapun yang kuungkapkan ditanggapinya dengan senyum. Dan semua itu malah membuatku makin takut kehilangannya.
Dan soal masa lalu bersama Karin, biarlah... Toh aku sudah memutuskan semuanya, bahwa aku lebih nyaman dengan semua yang ada sekarang.
" Selamat dataaangg..." Seru Mika tiba-tiba seraya buru-buru bangkit.
Aku ikut bangkit dan semua menjadi sepi.
Karin berdiri tanpa ekspresi menatap kami.
" Kau..." Desisku tak percaya
Tapi Mika malah tersenyum.
" Apa istimewanya dia Ga, kenapa kau tetap pilih dia?" Ucapnya dingin.
" Sekali lagi, ini bukan soal pilihan Rin."
Karin tersenyum apatis,
" Aku masih ingat, dulu kau selalu bilang apapun akan kau lakukan asal aku tak menangis." Kenang Karin
" Kenapa sekarang kau malah buat aku begini Ga?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca
Mika menyentuh lenganku
" Ga, kau tak boleh..."
" Diam kau! Aku tak butuh kau bicara!" Sergah Karin kasar
" Karin!!!" Hardikku membuat tangisnya langsung pecah.
Mika menunduk, saat kakinya hendak beringsut, segera kesambar tangannya.
" Rin, apa kau pernah peduli apa yang kuinginkan?" Tanyaku
Karin menatapku dengan mata sembab.
" Apa dulu kau pernah sekali saja berfikir bahwa aku juga bisa tak berdaya? Aku bisa sedih? Bisa takut?"
Mika dan karin sama-sama menatapku, tapi dengan pandangan yang berbeda.
" Kau tak mungkin memikirkan itu semua, karena kau sudah disibukkan dengan yang kau pikirkan sendiri. Kau mau ini, mau itu. Dan tak pernah mau tau semua itu menyusahkan orang lain atau tidak, menyakiti orang lain atau tidak. Kau manis Rin, tapi kau terlalu egois. Kau menggenggamku terlalu kuat. Dan kau tak pernah peduli aku kesakitan atau tidak."
" Ga..." Karin ternganga.
" Maaf Rin, bukannya aku tak peduli perasaanmu, aku tau ini tak adil. Tapi aku sudah tak punya sisa cinta itu. Semua mulai terkikis sejak kita masih bersama dulu, dan makin terkikis saat kau dengan egoisnya meninggalkanku ke Perancis untuk cita-cita modelmu itu."
Satu persatu bulir-bulir air mata itu kembali membasahi pipi Karin lagi.
" Aku juga manusia biasa Rin, butuh cinta yang hangat, yang juga mau mengerti inginku. Ini bukan soal pilihan, ini soal hati."
Karin masih terisak saat tubuhnya berbalik dan berlari meninggalkan kami. Kualihkan pandanganku ke Mika yang sejak tadi memang sedang menatapku dengan pandangan yang tak pernah kumengerti.
" Apa aku terlalu jahat padanya?" Tanyaku.
Mika meraih tanganku dan menggenggam jemariku.
" Cinta itu lebih mirip bunga mawar. Menarik, indah. Tapi kalau kita tak mengenal mawar itu bagaimana, dan kita tak hati-hati saat memegangnya, kita sendiri yang akan terluka karena durinya." Paparnya lembut.
" Ajari aku mengenal mawar itu Mik, agar aku tak ceroboh dan terluka olehnya." Pintaku.
Mika tersenyum.
Sekali lagi ini bukan soal pilihan, karena aku tau aku tak memilih Mika, aku hanya tak melepaskannya demi masa lalu yang tak pernah memahamiku. Jika mungkin ini tak adil, bukankah apapun adil jika menyangkut cinta? Karena cinta itu sendiri egois. Tak peduli perasaanmu, tak peduli kau siap atau tidak menerima kedatangannya. Tapi percayalah, cinta tak pernah salah mendatangimu. Mungkin kita saja yang salah mengenalkan cinta itu dan tak hati-hati saat memegangnya, hingga kita bisa terluka olehnya.
Randublatung,10/08/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar