Selasa, 21 Oktober 2014

IBU

          Kusambar tasku dan bergegas meninggalkan ruangan itu, dan tatapan sinis itu. Kubuka pintu didepanku dan kubanting sedikit kasar, sekedar menunjukkan pada dunia bahwa aku sedang marah dan muak dengan semua penghakiman ini. Masih sempat kudengar lengkingan suaranya, tapi cuma sebentar karena langkahku terlalu cepat menjauh.
Lagi-lagi perdebatan itu terjadi, hal yang tak seharusnya terjadi, dan sebenarnya aku tak pernah ingin itu terjadi. Pada kami.
Sampai di taman komplek rumahku aku berhenti, duduk disalah satu bangku kayu disitu. Kuhempaskan tubuhku berat. seberat beban yang menggelayut di pundakku. Pandanganku menerawang jauh kesana, mencari jawab untuk semua tanya belasan tahun ini.

Kenapa orang yang seharusnya menyayangiku malah seperti memusuhiku? Kenapa mata yang seharusnya menatapku lembut penuh cinta justru melihatku dengan sinis dan benci? Kenapa tangan yang seharusnya membelaiku dengan sayang malah sering mengasariku dan menyakiti hatiku?
" Sudahlah...jangan dimasukkan hati omongan itu, dia memang begitu. Yang penting kan ayah sayang kamu" Hibur ayah, setiap kali menemukan aku menangis usai insiden itu.
Tapi bohong kalo semua itu tak meninggalkan rasa sakit hati. 
" Ibu..." Desisku lirih...
Mataku terpejam sesaat menghindari agar tak berlanjut meneteskan air mata itu lagi. Tapi tetap saja gagal, air mata itu tetap keluar. Kuseka dengan sedikit jengkel tapi kemudian aku termangu melihat adegan sekitar 10 meter dari tempatku duduk. Dunia serasa berhenti berotasi saat aku menikmati adegan itu.
Seorang ibu muda dengan gadis kecil, mungkin sekitar umur 4 tahun. Berdua sedang asyik menikmati mie ayam yang mangkal tak jauh dari tempat mereka. Sesekali si ibu menyuapi anaknya, tapi kadang si anak tak mau dan malah menyendok sendiri mie itu hingga belepotan. Dengan sabar si ibu itu menunggui anaknya makan. Sungguh romantis.
Aku tergelak sedih. Untuk kesekian kalinya menyadari betapa malangnya aku terlahir sebagai gadis kecil, yang jauh sekali nasibnya dengan gadis kecil itu.
" Hei.." 
Aku menoleh mencari arah suara itu. Seraut wajah Luki tersenyum hambar menatapku. Aku tak bereaksi untuk senyum basa-basi itu. 
Kudengar Luki mendesah panjang, lalu ikut duduk disampingku.
" Eh, ada mie ayam, makan yuukk!" Ajaknya 
Aku menggeleng.
" Kenapa? Tenang aja, aku yang traktir kok" Bujuknya lagi
" Diet." Jawabku singkat
" Ya ampun,diet kok terus sih" Dengusnya seperti kaget campur jengkel.
Kulirik cowok yang lebih dari separuh umurku itu menemaniku. Dia memang sedikit menyebalkan, tapi dia penyelamatku saat aku sedang begini, tentunya setelah ayahku.
Luki tersenyum menyebalkan, seakan bangga bisa membuatku akhirnya memperhatikannya.
" Puas ya?!" Geramku
" Belum, senyum dong biar aku benar-benar puas!"
Aku spontan tergelak, Luki dari dulu memang selalu punya cara mengusir kesedihan diwajahku, meski dengan cara yang menyebalkan.
" Tak manis, tapi itu lebih baik daripada nangis." Gumamnya
Tak kugubris candaannya itu, seperti biasanya. Aku masih terlalu ingat kejadian tadi dirumah.
Perlahan kudengar Luki sibuk mengupas bungkus coklat batangan, kulirik sedikit ke arah tangannya. Dicuilnya sedikit lalu dilahapnya.
" Sejak kapan kau pelit, tak mau berbagi makanan denganku?" Gerutuku.
Luki menatapku kaget, melonggo sedetik, detik berikutnya tertawa.
" Oh.. kirain kamu gak mau, tadi kan bilangnya kamu diet," Ledeknya
Aku merampas coklat ditangannya sambil manyun, kulahap langsung potongan yang sudah terbuka bungkusnya. Aku tau Luki sedang tersenyum memperhatikanku, tapi aku lebih suka pura-pura tak tau. Aku mulai riskan kalo Luki mulia bersikap begitu.

Luki, aku mengenalnya saat kami masih sama-sama kelas 1 SD. Dia tetangga jarak 2 rumah dariku. Pindahan dari Surabaya kala itu. Dia sering menemukanku menangis dibelakang rumah, hingga kemudian dia mulai meluangkan bahunya untuk kusandari saat lelah. 
" Makanlah coklat ini."
Kenangku akan ucapannya kala itu, pertama kali aku dikenalkan dengan coklat batangan yang memang sering kulihat tapi belum pernah aku membelinya apalagi merasakan bagaimana manisnya. Kala itu kami masih kelas 3 SD. Luki mendapatiku diujung jalan menuju ke sekolah dalam keadaan usai menangis.
" Kata orang rasa manis coklat bisa menghilangkan kesedihan." Terang Luki waktu itu
Aku tersenyum tiap mengenang hari itu, dan sejak hari itu tiap Luki menemukanku murung selalu disodorkan sebatang coklat padaku. Mungkin tiap hari sakunya selalu ada sebatang coklat sebagai pertolongan pertama untukku.
" Sudah baikan kan?" Tanyanya 
Kujawab dengan senyum kecil.
" Tapi aku takut kalo suatu hari nanti persediaan coklatku habis."
Aku tak jadi melahap potongan kecil coklat ditanganku.
Kutatap Luki sedikit tak mengerti. Luki menggeser duduknya hingga lebih menghadapku.
" Maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu."
" Bukan masalah merepotkannya, aku cuma berharap kamu jangan sedih lagi"
Aku terpekur untuk sekian detik.
Aku... jujur juga sudah lelah dengan semua ini. Andai ibuku bisa sebaik mamanya Luki...
Ahh...ngimpi!
" Sudah hampir 20 tahun, aku juga heran kenapa ini masih belum berakhir." Gumamku
" Mungkin kamu hanya harus sedikit mengalah"
Kutatap Luki
" Apa aku masih kurang mengalah? Aku harus mengalah seperti apa lagi Luk?" Keluhku dengan intonasi cukup tinggi.
" Kukira kamu sudah sangat tau posisiku, tapi ternyata selama ini aku salah" Lanjutku bangkit dan berlalu.
" Hei...hei..." Kejar Luki, tapi tak kuindahkan. 
Sungguh, aku cukup kecewa dengan ucapannya tadi.
" Kepala batumu itu yang membuat ini terus berlanjut" Sergahnya segera, dan itu berhasil membuat langkahku terhenti. 
Langkah Luki juga terhenti 2 langkah dibelakangku. Sepi untuk beberapa detik.
" Kamu gak akan tau susahnya jadi aku Luk. Hidup dengan orang yang ingin aku sayangi tapi seperti mengelak. Sepanjang hidupku aku seperti orang yang tak pernah diharapkannya, tanpa kutau apa alasannya. Itu sesuatu yang sangat berat. Kalo ada yang ingin ini segera berakhir, orang pertama adalah aku, karena aku sudah sangat capek." Paparku tanpa kami bersitatap. 
Kulanjutkan langkahku karena sebentar lagi air mataku pasti akan meleleh lagi jika terus-terusan ditempat. Luki tak mengejarku lagi. Dan aku lebih suka begitu. Kadang aku memang ingin menikmati kesedihan ini sendiri, tanpa Luki, tanpa coklat batangannya yang dipercayanya bisa menghilangkan kesedihan itu.
Aku terus melangkah menjauhi taman kompleks ini. Entah kemana yang penting menghindari Luki meski hanya untuk saat ini.
Lalu perlahan wajah itu mengganggu langkahku.
Ibu.... aku ini putrimu, yang selama hampir 20 tahun ini sangat merindukan pelukanmu. Bahkan aku tak pernah tau rasanya pelukan hangat seorang ibu. 
Ibu... aku tak pernah meminta apapun, aku hanya ingin keadaan yang selama ini terjadi bisa berubah. Aku ingin tatapan matamu itu hangat menyapaku sambil memelukku.
Ibu...aku ingin ibu tau, tangis ini untukmu.
Ibu.....







Untukmu,
percayalah, ada akhir indah menantimu
keep calm 'n smile.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar