Aku masih terpekur ditepi ranjang menatapnya dengan perasaan kacau balau. Wajah tampan nan penuh kharisma itu terlihat begitu damai dalam tidurnya dibawah pengaruh obat dari dokter yang ikut disuntikkan usai pemeriksaan tadi. Jujur, degup jantungku masih terasa meski insiden tadi sudah berlalu hampir sejam.
" Mungkin Billy cuma kecapekan, karena seharusnya dia masih harus banyak istirahat, tapi dia sudah memaksakan diri bekerja." tutur Dokter Frans mencoba menenangkanku yang masih gemetar, karena aku tak pernah melihat hal itu sebelumnya terjadi pada Billy.
" Anda yakin Dok?" Ternyata aku masih belum yakin.
" Dia tadi kelihatan sangat kesakitan memegangi kepalanya, sampai tak bisa bicara apapun selain merintih kesakitan, sampai kemudian dia pingsan." Lanjutku menjelaskan kronologi kejadian yang dialami Billy. Entah untuk keberapa kalinya.
Dokter Frans tersenyum.
" Insya Allah tidak ada masalah apa-apa. Semua sudah saya cek, semua normal, hanya kecapekan saja."
Aku mendesah. Pasrah dengan yang diputuskan Dokter Frans. Tiba-tiba terlintas suatu kemungkinan.
" Dok, apa mungkin tadi otaknya sedang mengalami proses mengingat kembali memorinya yang hilang?" Tebakku
Dokter Frans termangu sejenak.
" Bisa jadi, tapi semua itu tergantung reaksi Billy nanti kalau sudah sadar."
Kali ini aku yang termangu. Pandanganku nanar ke arah Billy.
" Saya pemisi dulu. Kalau ada perkembangan, hubungi saya lagi." Pamit Dokter Frans, hanya kutanggapi dengan senyum, karena pikiranku sedang sibuk menduga-duga tebakanku tadi.
Sebulan ini, begitu banyak cerita yang telah tercipta bersama Billly. Billy yang lama telah kembali lagi. Billy yang menatapku dengan lembut dan senyum hangat. Billy yang selalu memperhatikan detail tiap kondisiku. Billy yang begitu punya banyak cinta untukku.
" Kenapa aku merasa kau sedikit berbeda?" Katanya seperti curiga, malam itu saat kami usai makan malam.
Aku sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum tipis.
" Kau ini ada-ada saja." Kilahku
Billy meraih jemariku yang sejak tadi sibuk mencuci piring alat makan malam kami tadi.
" Matamu tak bisa bohong Nda, aku...seperti melihat sayatan luka disana. Luka yang dalam, luka yang sangat menyakitkan."
Aku menunduk, mencoba menata hatiku.
Jujur, meski sudah puluhan hari aku kembali menjadi kesayangan Billy, sebenarnya aku masih belum bisa memainkan peran itu sepenuhnya. Dan itu karena Hanif. Pria yang paling mengerti keadaanku dan posisiku. Pria malang yang secara tak sengaja ikut kuseret dalam dilema ini.
" Bil,..." Suaraku tercekat, senyum Hanif seperti menahanku bicara.
Berulang kali aku ingin menceritakan semua yang terjadi, semua, agar aku bisa cepat-cepat keluar dari peran konyol ini. Tapi lagi-lagi senyum Hanif seperti mengambil semua suaraku.
" Aku mungkin cuma sedikit capek." Lanjutku akhirnya. Ya, akhirnya, dan membuatku akan lebih lama terjebak disini.
Billy tersenyum, seraya membelai rambutku lembut.
" Ya sudah kau istirahat saja, biar piringnya aku yang cuci." Katanya kemudian seperti lega.
" Gak usah, lagian ini juga tinggal 2 piring."
" Eiitts...gak boleh bandel ya, apa mau dijewer?" Sergah Billy siap-siap mengangkat tangannya menuju kupingku.
" Billy...."
" Nda," Billy merengkuh tanganku yang sudah siap-siap mencebur ke wastafel lagi, ditariknya menjauh, didekapnya ke dalam dadanya hingga bajunya sedikit basah.
" Kau satu-satunya yang kuharapkan selalu baik-baik saja. Aku tak ingin apapun terjadi padamu, apalagi itu adalah yang membuatmu sakit atau terluka." Akunya
Kunikmati pancaran sinar terhangat dari matanya. Sungguh, aku seperti kembali ke masa-masa indah itu. Dan rasanya jika hari ini sinar mata hangat itu ada, seperti tak pernah ada hari dimana Billy begitu membenciku. Sampai-sampai pernah terucap sumpah serapah yang tak pernah memberiku kesempatan kembali dalam bagian hidupnya, kapanpun itu.
Dan kalau yang kusangka tadi benar terjadi, aku harus bagaimana? Keadaan yang sebelumnya hangat dan romantis, tiba-tiba harus kembali berubah 180 derajat. Apa aku akan menerima makian, tatapan sinis penuh kebencian, pengusiran yang kasar? Lagi?
Aku menunduk, entah ketakutan atau malah endapan kegembiraan karena semua sandiwara ini akan segera usai.
Tiba-tiba pintu kamar terdengar terbuka perlahan. Aku menoleh sedikit. Seraut wajah kalem milik Hanif berdiri diambang pintu, seulas senyum menyusul terlihat.
" Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya kemudian.
" Hmm...kuharap, kata dokter tadi juga begitu, cuma terlalu capek." Jawabku, lalu kembali menatap Billy yang masih tertidur pulas. Detik berikutnya kudengar langkah Hanif menjauh, kuikuti segera.
" Han.." Panggilku setelah sampai diteras samping kamar Billy.
" Kau mengkhawatirkannya kan Din?"
" Aku..."
" Kau tak pandai berbohong Din, apalagi tatapan matamu itu. Mungkin sebulan ini kembalinya Billy yang dulu sudah bisa membalut lukamu waktu itu."
" Aku seperti orang paling kejam sedunia." Keluhku menunduk
" Kenapa bicara seperti itu?"
" Kata-katamu tadi..."
" Dinda aku tadi..."
" Maaf." Sesalku menunduk lebih dalam.
" Din..."
" Maafkan aku Han, aku terlalu banyak menyakitimu dalam masalah ini, sejak dulu. Aku menyeretmu dalam tragedi tak terselesaikan. Dulu aku sudah sangat fatal melibatkanmu, hingga kau terdepak dari pekerjaanmu. Tak sampai disitu, kau bahkan kemudian ikut menanggung deritaku. Dan sekarang, kau pun harus rela hati hidup begini..."
" Heii..sstt..." Desis Hanif mendekat, seraya mencoba menenangkanku.
" Kau ini bicara apa sih Din."
" Padahal setahun ini aku sudah cukup bahagia. Aku sudah mencoba ikhlaskan semua dan memulai lembaran baru denganmu, tapi..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.
" Sudahlah.."
Hanya itu yang diucapkan Hanif lalu hanya memelukku lembut. Isakku pun makin menjadi.
Sungguh, aku rindu pelukan lembut Hanif, aku begitu rindu meski sebulan ini Billy tak bosan memanjakanku. Ternyata goresan luka tetaplah goresan luka. Ditutupi seperti apapun tetap membekas. Dan aku ingin segera kembali bersama Hanif yang mencintaiku sewajarnya saja. Cinta yang terbina dengan manisnya oleh keadaan yang begitu pelik.
" Han..kita sudahi saja semua ini ya, aku sudah tak sanggup lagi brsandiwara." Pintaku
Hanif menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
"Kau ini bicara apa, Din? Kitakah yang tentukan kita main disini? Tidak! Jadi kita juga tak punya hak keluar dari permainan ini"
" Kenapa tidak bisa, Han?! Ini hidup kita, kenapa kita tak boleh bahagia? Kenapa kita harus memikirkan Billy sementara tak satupun memikirkan perasaan kita? Kenapa harus kita yang mengalah?" Ceracauku geram.
Hanif tak menjawab, malah beringsut dan duduk ditembok pembatas teras yang memang hanya setinggi 1 meter.
" Aku tak tau Din, sejak awal aku hanya pasrah. Aku terlalu lemah untuk berani melawan takdir. Bahkan kalau kupikir-pikir lagi, kau jauh lebih tegar. Lebih mampu menghadapi semua ini."
Aku ikut duduk disamping Hanif, mataku pun ikut menerawang ke angkasa sana.
" Asal kau tau Han, aku bisa setegar ini juga karena kau percaya padaku. Aku bisa sejauh ini juga karena kau tak pernah bosan menyemangatiku." Akuku datar.
Hanif menatapku , akupun mengarahkan pandanganku ke wajah lembutnya. Kamipun tersenyum bersama.
" Terimakasih sudah percaya, menitipkan semua sisa milikmu padaku." Ucap Hanif
" Aku juga, terimakasih mau menerima semua ini. Semuanya." Lalu aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Tangan Hanif kemudian merengkuh pundakku.
" Aku mohon, jangan tanya lagi kapan ini berakhir ya. karena aku juga bingung mau jawab apa. Kita jalani saja semua yang ada. Kita percaya saja, Tuhan telah menyiapkan sebuah akhir. Meski masih kapan dan entah seperti apa akhirnya."
Aku tak menyahut, lebih suka menikmati letihnya jiwa ragaku yang tersambut rengkuhan Hanif.
" Aku rindu tanaman strawberry-ku."
Terdengar Hnaif tergelak pendek.
" Kelihatannya sebentar lagi akan berbuah, sudah mulai kelihatan kuncupnya."
" Oya?!" Aku terlonjak gembira,
Hanif mengangguk dengan senyum.
" Kapan-kapan kalau ada waktu lihatlah." Sarannnya.
Aku tersenyum bahagia, sejenak lupa beban yang selama ini melilit.
Inilah indahnya hubunganku dengan Hanif, meski sewajarnya saja tapi begitu menentramkan perasaanku. Sementara keromantisan Billy sejak dulu memang membuatku tak tenang.
10/10/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar