Kamis, 30 Oktober 2014

LOVE IS YOU

             Sepuluh menit sudah berlalu tapi suasana di tepi lapangan futsal itu masih hening juga. Sesekali terdengar suara bola futsal menggelinding dari tangan Niko. Mungkin untuk mengusir kegalauan karena Erin yang sejak tadi duduk didepannya tak juga bicara. Hanya terpekur diam menatap lantai lapangan. Niko pun tak berani bertanya.
Erin mendesah berat, membuat Niko langsung mengarahkan pandangannya ke Erin. Tapi tetap tak langsung ada suara. 
" Aku..." Suara Erin menghilang lagi. Niko masih sangat sabar menunggu. Sangat.
" Ini sangat tidak adil Nik, aku benci ini" Kali ini kalimatnya sempurna, menyatakan kekecewaan yang dalam.

Sekilas mata Niko melintasi jemari tangan Erin yang sejak tadi gelisah. Seminggu lalu, saat Niko menemuinya di depan rumahnya, Niko masih melihat sebuah cincin mahal yang indah menghiasi jari manis tangan kiri itu. Kini jari manis itu sudah kembali polos. Dan jujur, ada sisi bathin Niko yang bersorak gembira. Meski sisi lainnya sangat tersiksa melihat gadis yang paling dicintainya ini begitu sedih karena ini.
" Aku tak mau kehilangan dia, Nik. Aku tak rela Fatan meninggalkanku demi gadis yang baru sebulan dikenalnya." Ungkapnya egois.
Egois dalam kesakitan. Begitu tepatnya.
" Apa itu yang kau sebut cinta, Rin?" Tanya Niko tak lepas menatapnya.
 Erin menatap Niko perlahan,
" Mungkin bukan, mungkin itu posesif. Tapi itulah kenyataannya." Akunya polos.

Sebenarnya aku pun bisa bersifat posesif begitu, bathin Niko.
Aku pun sebenarnya tak rela saat Fatan memilikimu, bahkan sampai melamarmu. Aku lebih tak rela melihat kau begitu berbinar kala menceritakan kisahmu dengan Fatan. Siapa Fatan? Dia hanya mantan kolega kerjamu. Sementara aku adalah orang yang telah lama menemanimu. Ungkap Niko tetap dalam hati.
Dan sekarang, kau menerima karma itu. Kau mau tak mau harus menerima kenyataan saat Fatan jatuh cinta dengan cinta lain yang baru sebulan dikenalnya. Maaf, Rin, bukannya aku senang kau merasakan pula apa yang kurasakan selama ini, tapi....
Niko mendesah panjang, lalu bangkit dan duduk disebelah Erin.
Niko menepuk bahunya sendiri membuat Erin menoleh.
" Ini bahuku, siap kapanpun untuk kau pinjam kalau kau butuh tempat bersandar." Tegas Niko tanpa menoleh ke arah Erin.
Erin tersenyum bahagia. Lalu perlahan kepalanya bersandar ke bahu Niko.
" Terimakasih ya Nik, kau selalu ada saat kubutuhkan. Kau selalu punya cara untuk menghibur kalau aku sedih begini."

Sayang, kau tak pernah menyadari  bahwa akulah selama ini yang seharusnya kau cintai. Atau mungkin kau memang tak peduli dengan rasa cinta tulusku, karena kau sedikit lebih tua.
Beda 1 tahun saja selalu jadi alasanmu kalau kau tak pantas untuk kucintai. Memang apa salahnya? Aku juga bisa bersikap jauh lebih dewasa dari Fatan yang umurnya 4 tahun lebih tua darimu. Dengus Niko, tetap dalam hati.
Niko mendesah lagi. Membuat Erin bangkit dari sandarannya, dan menatap Niko.
" Ada apa?" Tanya Erin
Niko ikut menatap Erin. Sinar matanya seperti memancarkan ketidak senangannya atas pertanyaan Erin barusan.
" Ada apa? Harusnya aku yang tanya ada apa? Kau tiba-tiba datang mencariku ditempat begini, dengan keadaan seperti anak kecil kehilangan boneka kesayangannya. Tapi setelah ketemu aku, diam saja seperti patung." 
Erin menatap Niko minim ekspresi menanggapi semua ocehan yang mirip ocehan seorang ibu kepada anak gadisnya.
" Waktu jari manismu tiba-tiba melingkar sebuah cincin, kau tak beritahu aku kapan itu terpakai, tau-tau kau sudah memamerkannya padaku, bilang kalau Fatan melamarmu. Dan sekarang, cincin itu sudah tak ada kau pun tak beritahu aku kapan itu terjadi. Tau-tau kau kesini dengan wajah sangat sedih. Kau pikir aku suka semua ini? Sekarang siapa coba yang masih seperti anak kecil?" Berondong Niko dengan emosi.
Erin melonggo.
" Dengar Rin," Desis Niko memegang kedua bahu Erin.
" Jika aku tak pernah diijinkan membahagiakanmu, jangan selalu buat aku melihatmu sedih karena orang lain. Itu namanya menyiksaku dua kali!" Aku Niko tegas.
Erin tetap tak bereaksi. Tetap bungkam.
" Sudahlah, ayo kita cari makan, laper nih.." Sergah Niko tak mau lama-lama melihat Erin seperti itu,
Niko mendahului bangkit , memberesi tas olahraganya dan mengambil bola futsalnya. Tapi mendadak Erin berhambur memeluk Niko dari belakang. Niko diam tak bereaksi, hanya kemudian bola futsal ditangannya terlepas,menggelinding ke sisi tepi lapangan yang lain.
Sepi untuk beberapa detik.
" Aku tak mau egois Rin. Aku juga tak mau posesif. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, terserah dengan siapa. Memang tak mudah, tapi buktinya selama ini aku bisa dan aku yakin aku masih bisa." 
Erin mempererat pelukannya.
" Cukup Nik, jangan buat aku seperti orang paling jahat sedunia. Aku memang egois, aku juga posesif, aku tak pernah mencoba mengerti apa yang kau rasakan." Keluh Erin.
Niko tergelak lirih
" Siapa yang peduli? Aku tak pernah memperdulikan semua itu. "
Erin melepas pelukannya, Niko membalikkan tubuhnya dan menatap Erin dengan senyum.
" Nik, aku,...."
" Ssssttt...." Cegah Niko mengangkat tangannya, isyarat agar Erin tak melanjutkan kata-katanya.
" Hari ini terlalu banyak yang diungkapkan. Aku takut kita tak cukup banyak waktu untuk merasakannya."
Erin perlahan tersenyum. Senyum yang sangat disukai Niko.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar