Sabtu, 25 Oktober 2014

PELAJARAN DALAM PERJALANAN

               Sedikit sayu kupandangi kertas ditanganku, sebuah surat teguran dari atasan tempat kerjaku karena seminggu ini hampir tiap hari aku telat masuk kerja, juga banyak pekerjaan yang kocar-kacir. Jika minggu ini aku tak segera memperbaiki semuanya maka dapat dipastikan minggu selanjutnya aku akan dipindahkan dari ruang kerja ber-AC menjadi di gudang yang pengap, panas, dan tentu saja bising. Aku mendesah berat, seberat beban hidup yang kupikul saat ini. 
" Maaf, sepertinya diantara kita sudah tak ada kecocokan, kupaksa seperti apapun tetap tak kan berhasil." 
Terngiang lagi kata-kata Adis minggu lalu, gadis cantik yang sudah hampir 3 tahun ini kupacari. Dan ironisnya saat aku punya rencana ingin memutuskan membawanya dalam perahu kehidupanku, dia malah membalikkan langkahnya meninggalkanku. Tentu saja aku down, aku terpuruk sangat dalam. Dan itulah yang membuatku limbung, hilang arah, tak bisa berfikr jernih apalagi konsentrasi dalam pekerjaan. Tiap malam aku terpekur sampai hampir pagi di atas gedung rumah susun tempat tinggalku.

Kulihat kebawah, aliran sungai yang cukup deras yang melewati jembatan ini membuat pikiranku makin tak tenang. Terbesit ingin untuk pergi ke tempat yang jauh dan damai hingga tak perlu lagi merasakan semua masalah-masalah ini. Ya, mungkin itu lebih baik daripada keadaan sekarang.
Tanganku perlahan memegang balok besi pagar pembatas jembatan ini, kakiku perlahan menaiki balok besi terbawah. Semilir angin sore menerpa relung-relung jiwaku yang mulai pekat kehilangan cahaya kebenaran. Serpihan-serpihan kejadian dan orang-orang seminggu ini berlalu lalang dengan cepatnya melebihi semua laju kendaraan dibelakangku. Mataku kupejam agar semua terhenti, sampai kemudian...
" Bunda, Om itu ngapain ya?!" Suara lembut nan polos tak jauh dari belakangku seakan membuat semua yang tadinya mengepungku tiba-tiba buyar,
Kubuka mataku lagi, dan menoleh perlahan. Seorang gadis kecil berjilbab ungu menatapku penuh tanya, 
" Joe?!" Susul sebuah suara disampingnya. Mataku menatap pemilik suara itu,
" Mbak Gendhis?!" Aku hampir tak percaya menemukan wajah itu,
" Ngapain disitu?"
Aku salah tingkah dan buru-buru menurunkan kakiku, " Oh, itu...air dibawah kelihatan segar sekali, ikannya kelihatannya juga banyak," Jawabku berbohong.
Kedua wanita dihadapanku sama-sama tergelak,
" Iya tapi kan gak harus naik begitu, ntar kalo kepeleset apa gak malah bahaya?"
Tiba-tiba tekad bulat yang tadi sempat menguasaiku hilang seketika saat melihat mereka. Kamipun akhirnya mampir ke taman bermain di ujung jalan jembatan tadi. Kami duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang panjang. Kuamati perlahan wanita disampingku itu, dandanannya sangat sederhana dengan gamis dari katun dengan paduan jilbab besar menutupi seluruh tubuh atasnya. Sempat kulirik bawaannya, sebuah buket tertutup dari bahan plastik, entah berisi apa. Matanya tak lepas mengawasi bocah kecil didepan sana yang asyik bermain.
" Itu Syaffa ya mbak?" Tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku sejak tadi.
" He-em"
" Sekarang kalo gak salah umurnya 4 tahun ya?"
" Iya, 4 tahun 3 bulan lagi." Ralatnya. 
" Cepatnya waktu berlalu, perasaan baru kapan dia masih belum bisa tengkurap, waktu aku main dulu." Kataku mengingat kejadian beberapa tahun lalu. 
Perlahan wajah Mbak Gendhis menunduk, 
Ya Tuhan...bodohnya aku!! Rutukku dalam hati menyesal.

Sudah menjadi rahasia umum tentang apa yang terjadi pada rumah tangga Mbak Gendhis dan suaminya, Ardan. Sebenarnya aku tak cukup dekat dengan Mbak Gendhis, aku lebih banyak mengenalnya lewat Ardan. 
5 tahun lalu aku, Ardan, Ling, dan Danny sama-sama bekerja disebuah perusahaan art. Ardan kami anggap panutan kami, karena memang dia yang paling tua dan sudah berkeluarga. Karena begitu akrabnya kami, sering kami adakan kumpul-kumpul sekedar ngopi dan ngobrol di loteng rumahnya. Dan mau tak mau kami pun akhirnya mengenal Mbak Gendhis. Dia wanita yang sederhana, memang terlalu kontras dengan pribadi Ardan yang karismatik dan penuh magnet bagi kebanyakan wanita. Tapi menurut Ardan, banyak gadis yang menarik untuk dipilih, tapi hanya sedikit yang pantas dijadikan istri. Dan Mbak Gendhis adalah salah satu dari wanita yang pantas dijadikan istri. Awalnya aku benar-benar mengagumi semua pribadi Ardan, tapi beberapa tahun ini entah kenapa aku mulai kehilangan figur teladan itu. Saat Ardan dipindah tugaskan ke luar negeri 3 tahun lalu kami pikir itu sesuatu yang sangat istimewa bagi kami. Tapi kemudian kami memang benar-benar cukup kacau tanpa Ardan sebagai pemersatu kami. Alhasil Ling dan Danny keluar dari pekerjaan, karena prestasi yang makin menurun, dan aku sendiri, sangat tertatih melanjutkan perjalanan sendirian. Dan aku cukup terkejut saat setahun lalu mendapat kabar dari Ling kalau Ardan dan Mbak Gendhis telah bercerai.
" Apa? Mereka bercerai? Bagaimana mungkin?" Ingatku akan ekspresi keterjutanku saat aku dan Ling menyempatkan diri berkumpul disebuah kafe.
" Apanya yang tak mungkin Joe? wanita-wanita disana 10 kali lipat lebih menarik daripada Mbak Gendhis." Jawab Ling gusar,
Dari kami bertiga, Ling memang yang paling dekat dengan Mbak Gendhis. Mungkin karena lebih seringnya mereka bertemu dan lebih banyak kecocokan. Ling dan Mbak Gendhis sama-sama suka memasak, terlebih membuat kue.
Dan aku mungkin terlalu sibuk untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Tapi yang kudengar usai perceraian Mbak Gendhis hanya mendapat rumah sederhana penuh kenangan itu, dan tunjangan untuk biaya hidup Syaffa, hanya Syaffa.
" Bagaimana khabarmu Joe? Masih bekerja disitu kan?" Tanya Mbak Gendhis membuyarkan lamunan panjangku.
" Begitulah. Mbak sendiri? Baik-baik saja kan tinggal sendiri dengan Syaffa?" Tanyaku sedikit takut.
Yang kutau, lagi-lagi dari Ling, Mbak Gendhis sekarang berjualan kue untuk menyambung hidup. Beberapa pesanan dan sebagian dititipkan dikantin sekolah dan warung-warung. 
Tiba-tiba aku trenyuh mencermati kehidupan wanita muda ini. Seharusnya dia adalah nyonya besar dari seorang manager perusahan art terkenal. Harusnya hidupnya jauh dari kata susah. Tapi kenyataannya dia malah harus banting tulang menyisihkan gengsinya dengan menjajakan dagangannya demi menyambung hidupnya. Tak ada kata yang pantas untuk mewakili kisahnya selain kata tragis.
" Ya, beginilah Joe, cukup menghasilkan jualan kue, daripada nganggur, bisa buat beli lauk sehari-hari dan jajannya Syaffa. Kalau ada pesanan cukup banyak bisalah ditabung sedikit-sedikit.." Ungkapnya dengan sedikit senyum lebar.
Sedikitpun tak kulihat gurat lelah dan tak berdaya diwajah wanita itu. Bagaimana bisa? Hidupnya sudah begitu keras menjadi single parent untuk anak seusia Syaffa? Mungkin, itulah dulu yang membuat Ardan jatuh cinta.
" Kenapa Mbak begitu tegar menghadapi semua ini?" Tanyaku sedikit tak sadar
" Apa?" Herannya tapi kemudian seulas senyum menyusul.
" Maaf" Lanjutku.
Mbak Gendhis tak langsung menjawab. Matanya menerawang ke depan, mengamati gadis kecilnya yang bermain ayunan.
" Bagaimana aku bisa sedih kalau setiap hari aku bisa melihat malaikat kecil itu? Dia penyemangatku, dia yang membuatku terus berusaha hidup jauh lebih lama dibanding siapapun. Agar bisa menemaninya selama mungkin."
Aku terpekur mendengar semua ungkapannya. Semangat besarnya menghadapi lika-liku hidupnya yang begitu keras dan kejam hanyalah seorang gadis kecil itu? Kenapa gadis kecil itu begitu punya arti besar bagi Mbak Gendhis? Bukankah dia warisan pria yang selama ini telah memporak-porandakan sisa hidupnya? 
Tiba-tiba Syaffa berlari mendekati kami, kuamati dengan cermat malaikat kecil itu. Sungguh, hampir semua sama dengan Ardan. Matanya, bentuk alisnya, bentuk bibirnya. Secara keseluruhan bentuk setiap inci wajah Syaffa benar-benar mirip sekali dengan Ardan.
" Bunda.... kapan pulang???" Bisiknya lebih mendekat ke Mbak Gendhis, tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya.
Mbak Gendhis tersenyum " Bentar lagi , Syaffa main dulu lagi aja ya..." Balas Mbk Gendhis juga berbisik, dengan senyum kecil. Syaffa pun kembali berlari ke arah ayunan tadi.
" Mirip sekali ya Mbak," Kataku seperti bergumam, tak lepas memperhatikan Syaffa didepan sana.
" Hmmm...hampir semuanya Joe. Wajahnya, watak kerasnya, apa yang disukai dan tak disukai, mulai dari sifat, makanan, kegiatan...semuanya."
Mataku beralih ke wajah Mbak Gendhis. Matanya seperti menerawang, bukan ke pandangan depan sana tapi ke tempat yang lebih jauh.
" Kau tak membenci wajah itu mbk? Wajah yang tertinggal di wajah syaffa?"
Mbak Gendhis menatapku cepat, dahinya berkerut samar.
" Ardan sudah meninggalkan masa lalu yang kelam, bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan wajahnya yang tertinggal diwajah Syaffa?"
Mbak Gendhis tertawa kecil. Gantian dahiku yang berkerut.
" Masalahnya bukan siapa yang membuat masa lalu kita buruk, karena kita semua punya masa lalu. Perpisahan dengan seseorang bukan berarti itu buruk, karena Dia maha tahu itu apa yang tak baik untuk masa depan kita. Makanya kita dipisahkan. Bukankah sebuah hadiah tak selalu dibungkus indah? Kadang kan memang diberikan dalam bentuk yang berbeda. Tapi apapun bungkusnya tetaplah sebuah hadiah, hadiah dari Tuhan."
Aku terngungu mencermati ucapan Mbak Gendhis
" Dan kalau aku harus membenci Syaffa hanya karena semua tentangnya mengingatkanku pada Ardan, itu sangat bodoh. Justru wajah itulah satu-satunya alasan, untuk apapun. Agar aku lebih semangat menjalani hidup." Lanjutnya tandas, menatapku lekat.
Aku menunduk.
Bodohnya aku, kenapa hanya karena Adis aku harus menghancurkan hidup dan masa depanku? Bukankah seharusnya aku harus lebih baik? Menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa lebih baik meski tanpa Adis?
" Saat Dia mengambil apa yang kita anggap berharga, Dia juga sudah menyiapkan gantinya, yang jauh lebih istimewa. Saat 1 pintu tertutup, saat itu juga pintu lain terbuka. Hanya kadang, kita terlalu lama menatap pintu yang tertutup itu, meratapi kenapa pintu itu sampai tertutup. Hingga kita butuh waktu cukup lama menyadari bahwa ada pintu lain yang menunggu untuk kita datangi. "
Satu lagi tamparan kesadaran dari statement Mbak Gendhis.
" Ada banyak hal selain rasa pahit itu, Joe...."
Kutatap Mbak Gendhis,
" Kepahitan hidup itu seperti rasa obat. Memang pahit tapi bersifat menyembuhkan. Kalo bisa menelannya maka niscaya kita akan sembuh dari sakit itu."
Aku tergelak lirih, 
" Pendapatku tak salah kan?"
" Bukan pendapatmu yang salah mbk, tapi aku yang selama sudah berfikir salah tentang semua ini" Sanggahku membuat dahi Mbak Gendhis mengkerut lagi.

       Sekarang aku tau kenapa Ling bisa betah berlama-lama ngobrol dengan Mbak Gendhis. Dan bisa rela hati menolak tawaran kerja diluar jawa dan memilih hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil disini. Karena Mbak Gendhis. 
" Bunda ayo kita pulang, sudah mau magrib nih..." Rajuk Syaffa
" Iya..." Mbak Gendhis bangkit dari duduknya
" Kami pulang dulu ya, sudah mulai petang ini" Pamitnya.
Aku tersenyum mengangguk.
" Syaffa, salim dulu sama om ya. Om ini temennya om Ling juga lho."
Syaffa mengamatiku dengan seksama. Pun begitu aku bisa grogi juga diperhatikan gadis 4 tahun itu.
Lalu tiba-tiba senyumnya yang manis tersungging. Senyum terindah yang dulu juga sering kulihat  menghiasi sosok Ardan. 
Belum selesai akan pemandangan itu, tangan mungilnya terulur. Kusambut dan dengan santun dikecupnya tanganku sepintas.
" Om bisa main ke rumah seperti Om Ling,"
Aku tak sadar tersenyum.
" Syaffa pasti senang sekali kalo yang mengunjunginya bertambah satu lagi." Timpal Mbak Gendhis.
" Ok, kapan-kapan om akan main bareng om Ling" Kataku akhirnya membuat gadis kecil itu bersorak gembira.
" Kami pergi dulu ya. Assalamuallaikum..."
" Waalaikum salam" 
Kuantar kepergian dua wanita hebat itu. Hebat karena telah berhasil membuatku tersadar bahwa selama seminggu ini aku telah menyia-nyiakan hidupku yang sangat berharga, untuk sesuatu yang sudah tak menghargaiku. 
Dan sekarang, aku tau alasan kenapa hari ini aku dipertemukan dengan wanita itu. Wanita yang begitu banyak memaklumi apapun yang menimpanya. Yang menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tak hanya ada pada Adis,
Tuhan menegurku untuk tak lagi meratapi pintu yang sudah tertutup itu, menyadarkanku bahwa Adis bukan yang terbaik untuk hidupku kelak. Dan bahwa ada pintu lain yang terbuka, dan aku akan mencarinya.
Aku tersenyum sambil menghela napas lega, menatap penuh semangat lembayung senja diufuk barat sana. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar