Aku mendesah lagi. Dadaku terasa sesak tiap kali mengingat itu,
" Apa? New york?" Desisku tak percaya
Billy tersenyum lebar seraya mengangguk pasti, lalu diraihnya jemariku.
" Iya Nda, kita pindah saja ke New york, lalu kita menikah disana."
Spontan mataku membulat, nafasku tercekat dan aliran darahku serasa terhenti disatu titik nadi. Perlahan kutarik jemariku dari genggaman tangan Billy. Dan itu terlihat sekali membuat Billy heran, alisnya mengkerut.
" Kenapa Nda? Kau tak suka? Kau tak mau menikah denganku?' Berondongnya sedih.
Aku tergelak dalam hati.
Sedih? Benarkah Billy sedih aku bersikap begini? Kenapa aku harus memikirkannya? Apa ada yang memikirkan perasaanku saat ini?
Setiap kali teringat kata MENIKAH, ingatan tragedi setahun lalu itu seperti menusuk-nusuk hatiku, mencabik-cabik seluruh ketenanganku. Terserah orang mau bilang aku mengalami trauma akut dengan yang namanya menikah, yang pasti aku perlu waktu cukup banyak untuk melupakan kesakitan dari kata itu.
" Aku perlu waktu untuk melangkah ke jenjang itu Bil."
" Tapi bukankah kita sudah bersama cukup lama? sudah banyak hal yang kita lalui? Kau masih belum percaya aku?"
" Bukan begitu, aku....."
Lamunanku terbuyar saat Hanif ikut duduk disebelahku, dengan segelas lemon tea dingin ditangannya.
" Aku rindu sekali suasana disini. Rindu sekali." Gumamku sedih.
Hanif hanya menanggapi dengan desahan panjang.
" Minumlah, kau pasti haus." Katanya menyodorkan gelas lemon tea itu, kuterima dengan sudut bibir sedikit melebar
" Terimakasih." Lalu kuteguk sedikit lemon tea itu, perjalanan sejam lebih dengan KRL memang membuatku sedikit haus.
Lalu sepi beberapa detik. Mungkin kami lebih sibuk dengan kegalauan kami masing-masing. Aku masih bingung harus mulai darimana untuk bicara dengan Hanif mengenai keputusan Billy kemarin pagi.
" Han, aku..."
" Aku tau." Sergah Hanif dengan senyum kecil, tapi cukup besar menimbulkan rasa sakit didadaku.
" Kau sudah tau?"
Hanif menarik nafas pendek,
" Aku kan sahabat baiknya Din, jadi sebelum dia memutuskan itu dia sudah berunding dulu denganku. Katanya dia ingin membuka lembaran baru denganmu, biar tak ada gadis-gadis bodoh lagi yang menganggu kalian."
Aku tergelak mendengar semua omongan Hanif.
" Apa-apaan ini? Jadi sebelum bicara denganku, Billy sudah berunding dulu denganmu?" Desisku tak percaya.
Hanif mengangguk pelan.
" Dan kau menyetujuinya Han?"
" Aku bisa apa Din?" Keluh Hanif
Aku beranjak marah,
" Ya Tuhan...Apa kalian anggap aku ini cuma seonggok daging yang tak punya perasaan sedikitpun? Kenapa aku harus menuruti semua permainan ini? Kenapa??!" Geramku,
" Din..." Hanif bangkit dan mendekat, mencoba menenangkanku.
Aku mundur menghindar.
" Aku tak suka ini Han, aku juga ingin bahagia. Denganmu, bukan dengan Billy." Ceracauku mulai menangis.
" Aku tak mau ke New York, aku mau disini."
" Benarkah sebulan ini tak membuatmu kembali seperti dulu?" Tanya Hanif.
Aku terperanjat. Lalu tergelak, menertawakan keadaanku yang begitu menyedihkan.
" Apa kau juga amnesia seperti Billy, Han? Apa kau sudah lupa dengan yang dia lakukan pada kita setaun lalu itu? Dia menghancurkan kehidupan kita begitu hebat, Han? Sampai kita harus rela hidup ditempat seperti ini."
" Benarkah sudah tak ada sisa cinta dihatimu Din? Sedikitpun?!" Tanya Hanif seperti butuh kepastian, seperti meragukan kesetiaanku pada laut ini, pada pantai ini, pada semua yang ada disini.
" Awalnya aku juga berfikir begitu Han, aku juga takut jatuh cinta lagi dengan Billy yang sangat memuja dan mencintaiku. Aku takut. Tapi anehnya, semakin hari aku semakin sadar, dia bukan Billy yang dulu sangat mencintaiku sampai kemudian berubah sangat membenciku. Dia hanya Billy yang amnesia, Billy yang sebagian ingatannya berkelana entah kemana. Dan aku, aku juga bukan Dinda yang dulu Han. Aku adalah Dinda yang sekarang, Dinda yang begitu dekat dengan laut dan pantai. Dinda yang belajar banyak tentang ketegaran dari seorang Hanif." Akuku sungguh-sungguh.
Siang ini aku hanya ingin Hanif tau perasaanku selama ini bukan terlahir dari keadaan kami selama ini. Tapi karena aku memang benar-benar membutuhkan dia, jauh melebihi apapun apalagi Billy.
" Kita telah lalui banyak hal sulit bersama Han, dan aku tak pernah memilihmu apalagi bersamamu karena keterpaksaan. Aku merasa ini semua karena sudah digariskanNya. Dan aku bisa apa? Meskipun sekali lagi ada kesempatan bersama Billy yang dulu, ternyata tak bisa membuat hatiku kembali. Mungkin karena aku telah pergi terlalu jauh. Dan ditempat yang jauh itu aku menemukanmu. Kau menyuruhku untuk selalu percaya padamu, jadi kau juga harus percaya padaku. Aku mau disini, bersamamu."
Hanif perlahan tersenyum, lalu mendekat dan memelukku.
" Kita akhiri saja semua ini Han, aku sudah tak kuat lagi. Aku tak mau meninggalkanmu." Rengekku dalam pelukannya.
Tapi Hanif tak menyahut, akupun bangkit dari pelukannya. Menatap Hanif.
" Kau tak mau lihat strawberry-mu?" Tanyanya malah mengalihkan topik.
Benarkah Hanif takut melawan keadaan ini? Atau dia hanya berusaha mengalah untuk Billy?
Aku duduk terpaku menatap lalu lalang orang-orang di bandara ini. Ternyata sampai hari H tiba, aku tetap seonggok daging yang tak pernah punya pilihan. Aku tak jauh beda dengan Hanif yang pasrah dengan keadaan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, cinta ini, juga kebahagiaan yang sempat kumiliki bersama Hanif. Semuanya.
Ya Tuhan... kenapa semua ini begitu sulit kuhentikan?
" Kukira kau tak kan datang mengantar kami." Ucapan Billy menyadarkanku, aku menoleh. Seraut wajah Hanif tersenyum pada Billy, lalu padaku. Tapi, lagi-lagi senyum itu membuat dadaku sangat sesak.
" Ini boarding pass-nya kak," susul Benny dari belakang Hanif, menyerahkan lembaran kertas pada Billy.
Billy menerima dengan suka cita.
" Oke, kalau begitu kami masuk dulu ya.."
Nafasku terasa terhenti. Sungguh, haruskah secepat ini? Keluhku dalam hati.
Hanif menunduk saat melihat pandanganku.
" Ayo, Nda!" Ajak Billy mengulurkan tangannya.
Saat ini aku ingin teriak tak mau. Saat ini aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Saat ini aku ingin berontak dari semua ini. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku hanya bisa diam.
Terdengar Billy menghela nafas panjang, lalu duduk disebelahku. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa. Tapi kemudian Billy tergelak.
" Sudahlah..." Katanya, lalu tiba-tiba tangannya menyobek tiket dan boarding pass. Punyaku.
Tentu saja kami semua kaget,
" Bil..." Desisku menatapnya lekat
" Sudah aku sobek, sekarang buang jauh-jauh wajah sedihmu itu." Katanya menyerahkan sobekan tiket dan boarding pass itu ke tanganku.
" Apa maksudnya ini Bil?"
Billy seperti menahan nafasnya sejenak, lalu menatapku dan Hanif bergantian.
" Aku sudah ingat semuanya."
Lagi-lagi kami terhenyak. Kutatap Hanif.
" Saat aku pingsan minggu lalu itu, dalam tidurku, aku mengingat semua kejadian, sebelum dan sesudah kecelakaan. Dan aku sempat tak percaya dengan yang kalian lakukan. Aku malu pada kalian. Aku..." Billy seperti butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
" Saat terbangun dan menemukan kalian diteras waktu itu, aku baru sadar kalau aku orang paling menyedihkan. Kau tau, Nda, sebenarnya aku menyesali semua yang terjadi pada kita setahun lalu itu. Tapi ternyata egoku lebih besar dari sisa cintaku hingga aku memilih terbelenggu dalam keadaan itu. Dan kecelakaan itu, amnesia itu, mungkin kesempatan kedua dari Tuhan agar aku memperbaiki kesalahanku padamu. Andai aku yang ada diposisimu, aku pun tak sanggup melakukan ini semua Nda,.." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dihadapanku sekarang bukan seperti Billy sebelum setahun lalu, juga bukan Billy sebulan lalu. Dia Billy yang lain, yang belum pernah kupahami sifatnya.
" Dan kau Han, aku tak percaya kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau menyuruh wanita yang kau cintai kembali kepada orang yang pernah menghancurkan hidupmu?!" Desis Billy geram, menatap Hanif.
" Kalian malah menjadikanku orang paling kejam sedunia. Menghancurkan hidup dua orang yang saling mencintai. Untung aku cepat sadar, kalau tidak, aku akan menanggung kesedihan kalian berdua sepanjang hidupku."
" Bil..." Keluhku menyentuh tangannya.
Billy menatapku dengan senyum
" Tenanglah Nda, aku sudah memikirkannya. Aku tak akan egois lagi. Aku tak akan menghancurkan hidup kalian untuk kedua kalinya. Tuhan memang memberiku kesempatan kedua, tapi bukan untuk memilikimu lagi. Tuhan menunjukkan padaku bahwa aku harus lebih mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan sinar matamu tak pernah bisa bohong, bahwa sekarang, atau mungkin sejak dulu, aku tak pernah bisa memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya."
Aku tak bisa menahan tangisku, Billy tersenyum.
" Dulu, melihatmu sedih membuat hatiku sangat sakit. Tapi sekarang, saat merasakan kau tersiksa bersamaku malah membuatku ingin mati saja. Aku memang sempat ingin tak peduli, hingga aku berencana membawamu menjauh dari Hanif, tapi makin hari aku makin merasa sakit melihatmu tersenyum dalam kepura-puraan. Aku menunggu kalian berontak tapi ternyata sampai disini pun kalian tetap bungkam. Kalian benar-benar bodoh, pantas kalian cocok.
Aku tergelak dalam tangisku.
" Rasanya sungguh aneh saat pertama kali teringat semuanya. Aku bahkan sampai benci diriku sendiri, kenapa sampai menjadi orang yang sangat tidak berguna begini. Dulu aku sendiri yang mencampakkanmu karena alasan yang tak masuk akal, sungguh aneh kalau kemudian Tuhan malah sejenak membuat aku menjadi orang yang sebelum membencimu. Tapi lama-lama aku sadar, menemukan sinar matamu yang begitu sedih, mendapati sikap Hanif yang begitu tegar. Kebahagiaan itu tidak berasal dari cinta yang berlebihan seperti yang kumiliki, tapi dari pengertian dan pengorbanan yang tulus." Ungkap Billy.
Kami semua membisu, tak satupun yang menanggapi semua ucapan Billy. Mungkin kami terlalu sibuk dengan ketidakpercayaan kami.
" Ya sudahlah, aku masuk dulu ya.." Katanya bangkit.
" Bil.." Susulmu memeluknya.
" Sudahlah Nda, mungkin ini hukum karma yang harus kuterima." Katanya menepuk bahuku.
" Berjanjilah kau akan baik-baik disana" Pesanku
" Tentu saja, aku janji" Ucapnya melepas pelukan.
" Kalian juga harus berjanji akan selalu bersama. Dan kau Han, berjanjilah untuk tidak pernah melepaskan Dinda untuk siapapun. Apapun alasannya."
Hanif tersenyum, seraya mendekat dan memeluk Billy.
Dua orang sahabat baik benar-benar sudah kembali, Bathinku.
" Tenanglah, aku hanya mengalah sekali, dan itupun hanya denganmu."Aku Hanif.
" Sekali lagi kau beri kesempatan aku merebut Dinda, aku akan membawanya kabur sejauh mungkin sampai kau tak bisa menemukannya."
Lalu mereka tertawa bersama, dan melepas pelukan. Billy kemudian menatapku.
" Sejak dulu aku ingin katakan ini pada kalian, aku..." Billy menunduk sebentar.
" Maaf, Maaf untuk semua kesalahanku dulu, terlebih padamu Nda, aku begitu banyak menyakitimu. Wajar saja kalau seperti apapun aku berubah kau tak bisa mencintaiku lagi."
" Bil...."
Billy tersenyum,
" Pulanglah bersama Hanif yang lebih mengerti arti kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu, bukankah strawberry kalian perlu dipanen?"
Aku tersenyum haru, air mataku kembali jatuh.
Billy menggigit bibirnya kuat-kuat, seperti menahan tangisnya.
" Aku harus pergi." Katanya berat. Dengan mata mengembun.
" Terimakasih Bil,"
Billy hanya tersenyum dan buru-buru membalikkan badan, aku tau dia begitu untuk menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.
Billy langsung melangkah masuk ke ruang boarding pass, diikuti Benny. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, tak bisa kumengerti, hanya saja ini bukan perasaan kehilangan.
" Aku tak percaya akhirnya begini."
Hanif juga menatap kepergian punggung Billy.
" Ini bukan akhir cerita Han," Sanggahku.
Hanif menatapku, kamipun saling tersenyum.
" Ini adalah awal kita, tanpa kebencian, tanpa penyesalan masa lalu."
Hanif merangkul pundakku.
Dipintu terakhir masih sempat kami lihat Billy menoleh ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan senyum. Kamipun membalasnya dengan senyum.
" Ternyata jalan takdir itu unik ya" Gumamku,
" Lebih unik dari yang kita bayangkan." Imbuh Hanif. Aku mengangguk setuju.
Sungguh, hari ini begitu indah. Semua kesedihan yang kuratapi selama ini terbayar sudah.
" Din..." Panggil Hanif " Kau mau menikah denganku?" Lanjutnya membuatku mau tak mau tersentak.
" Apa?"
Hanif menggeser tubuhku, menghadapnya penuh. Memegang pundakku lembut.
" Aku tau ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya takut. Takut takdir menyeret kita ke keadaan menyulitkan seperti kemarin. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti kemarin. Aku yakin jika harus ada diposisi itu lagi aku tak mungkin sanggup."
Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku ingin ungkapkan banyak hal. Tapi kurasa Hanif sudah tau meski hanya lewat senyumku.
" Aku bisa membantumu memanen strawberry." Lanjutnya membuatku tergelak dan aku sangat bahagia sekali saat memeluknya.
Memang benar, takdir itu penuh liku, tapi percayalah jalannya tetap menuju ke kebahagiaan yang kita cari. Ibarat strawberry, rasanya memang asam dan kasar, tapi tetap saja begitu indah dan menarik hati untuk dinikmati. Dan apapun yang telah kami lalui, ternyata tetap menegaskan satu hal pada kami, bahwa kita ini hanya pemeran sebuah sandiwara kehidupan. Asal kita menikmatinya, pasti ada kebahagiaan yang akan kita terima sebagai imbalannya.
" Terimakasih." Lalu kuteguk sedikit lemon tea itu, perjalanan sejam lebih dengan KRL memang membuatku sedikit haus.
Lalu sepi beberapa detik. Mungkin kami lebih sibuk dengan kegalauan kami masing-masing. Aku masih bingung harus mulai darimana untuk bicara dengan Hanif mengenai keputusan Billy kemarin pagi.
" Han, aku..."
" Aku tau." Sergah Hanif dengan senyum kecil, tapi cukup besar menimbulkan rasa sakit didadaku.
" Kau sudah tau?"
Hanif menarik nafas pendek,
" Aku kan sahabat baiknya Din, jadi sebelum dia memutuskan itu dia sudah berunding dulu denganku. Katanya dia ingin membuka lembaran baru denganmu, biar tak ada gadis-gadis bodoh lagi yang menganggu kalian."
Aku tergelak mendengar semua omongan Hanif.
" Apa-apaan ini? Jadi sebelum bicara denganku, Billy sudah berunding dulu denganmu?" Desisku tak percaya.
Hanif mengangguk pelan.
" Dan kau menyetujuinya Han?"
" Aku bisa apa Din?" Keluh Hanif
Aku beranjak marah,
" Ya Tuhan...Apa kalian anggap aku ini cuma seonggok daging yang tak punya perasaan sedikitpun? Kenapa aku harus menuruti semua permainan ini? Kenapa??!" Geramku,
" Din..." Hanif bangkit dan mendekat, mencoba menenangkanku.
Aku mundur menghindar.
" Aku tak suka ini Han, aku juga ingin bahagia. Denganmu, bukan dengan Billy." Ceracauku mulai menangis.
" Aku tak mau ke New York, aku mau disini."
" Benarkah sebulan ini tak membuatmu kembali seperti dulu?" Tanya Hanif.
Aku terperanjat. Lalu tergelak, menertawakan keadaanku yang begitu menyedihkan.
" Apa kau juga amnesia seperti Billy, Han? Apa kau sudah lupa dengan yang dia lakukan pada kita setaun lalu itu? Dia menghancurkan kehidupan kita begitu hebat, Han? Sampai kita harus rela hidup ditempat seperti ini."
" Benarkah sudah tak ada sisa cinta dihatimu Din? Sedikitpun?!" Tanya Hanif seperti butuh kepastian, seperti meragukan kesetiaanku pada laut ini, pada pantai ini, pada semua yang ada disini.
" Awalnya aku juga berfikir begitu Han, aku juga takut jatuh cinta lagi dengan Billy yang sangat memuja dan mencintaiku. Aku takut. Tapi anehnya, semakin hari aku semakin sadar, dia bukan Billy yang dulu sangat mencintaiku sampai kemudian berubah sangat membenciku. Dia hanya Billy yang amnesia, Billy yang sebagian ingatannya berkelana entah kemana. Dan aku, aku juga bukan Dinda yang dulu Han. Aku adalah Dinda yang sekarang, Dinda yang begitu dekat dengan laut dan pantai. Dinda yang belajar banyak tentang ketegaran dari seorang Hanif." Akuku sungguh-sungguh.
Siang ini aku hanya ingin Hanif tau perasaanku selama ini bukan terlahir dari keadaan kami selama ini. Tapi karena aku memang benar-benar membutuhkan dia, jauh melebihi apapun apalagi Billy.
" Kita telah lalui banyak hal sulit bersama Han, dan aku tak pernah memilihmu apalagi bersamamu karena keterpaksaan. Aku merasa ini semua karena sudah digariskanNya. Dan aku bisa apa? Meskipun sekali lagi ada kesempatan bersama Billy yang dulu, ternyata tak bisa membuat hatiku kembali. Mungkin karena aku telah pergi terlalu jauh. Dan ditempat yang jauh itu aku menemukanmu. Kau menyuruhku untuk selalu percaya padamu, jadi kau juga harus percaya padaku. Aku mau disini, bersamamu."
Hanif perlahan tersenyum, lalu mendekat dan memelukku.
" Kita akhiri saja semua ini Han, aku sudah tak kuat lagi. Aku tak mau meninggalkanmu." Rengekku dalam pelukannya.
Tapi Hanif tak menyahut, akupun bangkit dari pelukannya. Menatap Hanif.
" Kau tak mau lihat strawberry-mu?" Tanyanya malah mengalihkan topik.
Benarkah Hanif takut melawan keadaan ini? Atau dia hanya berusaha mengalah untuk Billy?
Aku duduk terpaku menatap lalu lalang orang-orang di bandara ini. Ternyata sampai hari H tiba, aku tetap seonggok daging yang tak pernah punya pilihan. Aku tak jauh beda dengan Hanif yang pasrah dengan keadaan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, cinta ini, juga kebahagiaan yang sempat kumiliki bersama Hanif. Semuanya.
Ya Tuhan... kenapa semua ini begitu sulit kuhentikan?
" Kukira kau tak kan datang mengantar kami." Ucapan Billy menyadarkanku, aku menoleh. Seraut wajah Hanif tersenyum pada Billy, lalu padaku. Tapi, lagi-lagi senyum itu membuat dadaku sangat sesak.
" Ini boarding pass-nya kak," susul Benny dari belakang Hanif, menyerahkan lembaran kertas pada Billy.
Billy menerima dengan suka cita.
" Oke, kalau begitu kami masuk dulu ya.."
Nafasku terasa terhenti. Sungguh, haruskah secepat ini? Keluhku dalam hati.
Hanif menunduk saat melihat pandanganku.
" Ayo, Nda!" Ajak Billy mengulurkan tangannya.
Saat ini aku ingin teriak tak mau. Saat ini aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Saat ini aku ingin berontak dari semua ini. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku hanya bisa diam.
Terdengar Billy menghela nafas panjang, lalu duduk disebelahku. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa. Tapi kemudian Billy tergelak.
" Sudahlah..." Katanya, lalu tiba-tiba tangannya menyobek tiket dan boarding pass. Punyaku.
Tentu saja kami semua kaget,
" Bil..." Desisku menatapnya lekat
" Sudah aku sobek, sekarang buang jauh-jauh wajah sedihmu itu." Katanya menyerahkan sobekan tiket dan boarding pass itu ke tanganku.
" Apa maksudnya ini Bil?"
Billy seperti menahan nafasnya sejenak, lalu menatapku dan Hanif bergantian.
" Aku sudah ingat semuanya."
Lagi-lagi kami terhenyak. Kutatap Hanif.
" Saat aku pingsan minggu lalu itu, dalam tidurku, aku mengingat semua kejadian, sebelum dan sesudah kecelakaan. Dan aku sempat tak percaya dengan yang kalian lakukan. Aku malu pada kalian. Aku..." Billy seperti butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
" Saat terbangun dan menemukan kalian diteras waktu itu, aku baru sadar kalau aku orang paling menyedihkan. Kau tau, Nda, sebenarnya aku menyesali semua yang terjadi pada kita setahun lalu itu. Tapi ternyata egoku lebih besar dari sisa cintaku hingga aku memilih terbelenggu dalam keadaan itu. Dan kecelakaan itu, amnesia itu, mungkin kesempatan kedua dari Tuhan agar aku memperbaiki kesalahanku padamu. Andai aku yang ada diposisimu, aku pun tak sanggup melakukan ini semua Nda,.." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dihadapanku sekarang bukan seperti Billy sebelum setahun lalu, juga bukan Billy sebulan lalu. Dia Billy yang lain, yang belum pernah kupahami sifatnya.
" Dan kau Han, aku tak percaya kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau menyuruh wanita yang kau cintai kembali kepada orang yang pernah menghancurkan hidupmu?!" Desis Billy geram, menatap Hanif.
" Kalian malah menjadikanku orang paling kejam sedunia. Menghancurkan hidup dua orang yang saling mencintai. Untung aku cepat sadar, kalau tidak, aku akan menanggung kesedihan kalian berdua sepanjang hidupku."
" Bil..." Keluhku menyentuh tangannya.
Billy menatapku dengan senyum
" Tenanglah Nda, aku sudah memikirkannya. Aku tak akan egois lagi. Aku tak akan menghancurkan hidup kalian untuk kedua kalinya. Tuhan memang memberiku kesempatan kedua, tapi bukan untuk memilikimu lagi. Tuhan menunjukkan padaku bahwa aku harus lebih mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan sinar matamu tak pernah bisa bohong, bahwa sekarang, atau mungkin sejak dulu, aku tak pernah bisa memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya."
Aku tak bisa menahan tangisku, Billy tersenyum.
" Dulu, melihatmu sedih membuat hatiku sangat sakit. Tapi sekarang, saat merasakan kau tersiksa bersamaku malah membuatku ingin mati saja. Aku memang sempat ingin tak peduli, hingga aku berencana membawamu menjauh dari Hanif, tapi makin hari aku makin merasa sakit melihatmu tersenyum dalam kepura-puraan. Aku menunggu kalian berontak tapi ternyata sampai disini pun kalian tetap bungkam. Kalian benar-benar bodoh, pantas kalian cocok.
Aku tergelak dalam tangisku.
" Rasanya sungguh aneh saat pertama kali teringat semuanya. Aku bahkan sampai benci diriku sendiri, kenapa sampai menjadi orang yang sangat tidak berguna begini. Dulu aku sendiri yang mencampakkanmu karena alasan yang tak masuk akal, sungguh aneh kalau kemudian Tuhan malah sejenak membuat aku menjadi orang yang sebelum membencimu. Tapi lama-lama aku sadar, menemukan sinar matamu yang begitu sedih, mendapati sikap Hanif yang begitu tegar. Kebahagiaan itu tidak berasal dari cinta yang berlebihan seperti yang kumiliki, tapi dari pengertian dan pengorbanan yang tulus." Ungkap Billy.
Kami semua membisu, tak satupun yang menanggapi semua ucapan Billy. Mungkin kami terlalu sibuk dengan ketidakpercayaan kami.
" Ya sudahlah, aku masuk dulu ya.." Katanya bangkit.
" Bil.." Susulmu memeluknya.
" Sudahlah Nda, mungkin ini hukum karma yang harus kuterima." Katanya menepuk bahuku.
" Berjanjilah kau akan baik-baik disana" Pesanku
" Tentu saja, aku janji" Ucapnya melepas pelukan.
" Kalian juga harus berjanji akan selalu bersama. Dan kau Han, berjanjilah untuk tidak pernah melepaskan Dinda untuk siapapun. Apapun alasannya."
Hanif tersenyum, seraya mendekat dan memeluk Billy.
Dua orang sahabat baik benar-benar sudah kembali, Bathinku.
" Tenanglah, aku hanya mengalah sekali, dan itupun hanya denganmu."Aku Hanif.
" Sekali lagi kau beri kesempatan aku merebut Dinda, aku akan membawanya kabur sejauh mungkin sampai kau tak bisa menemukannya."
Lalu mereka tertawa bersama, dan melepas pelukan. Billy kemudian menatapku.
" Sejak dulu aku ingin katakan ini pada kalian, aku..." Billy menunduk sebentar.
" Maaf, Maaf untuk semua kesalahanku dulu, terlebih padamu Nda, aku begitu banyak menyakitimu. Wajar saja kalau seperti apapun aku berubah kau tak bisa mencintaiku lagi."
" Bil...."
Billy tersenyum,
" Pulanglah bersama Hanif yang lebih mengerti arti kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu, bukankah strawberry kalian perlu dipanen?"
Aku tersenyum haru, air mataku kembali jatuh.
Billy menggigit bibirnya kuat-kuat, seperti menahan tangisnya.
" Aku harus pergi." Katanya berat. Dengan mata mengembun.
" Terimakasih Bil,"
Billy hanya tersenyum dan buru-buru membalikkan badan, aku tau dia begitu untuk menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.
Billy langsung melangkah masuk ke ruang boarding pass, diikuti Benny. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, tak bisa kumengerti, hanya saja ini bukan perasaan kehilangan.
" Aku tak percaya akhirnya begini."
Hanif juga menatap kepergian punggung Billy.
" Ini bukan akhir cerita Han," Sanggahku.
Hanif menatapku, kamipun saling tersenyum.
" Ini adalah awal kita, tanpa kebencian, tanpa penyesalan masa lalu."
Hanif merangkul pundakku.
Dipintu terakhir masih sempat kami lihat Billy menoleh ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan senyum. Kamipun membalasnya dengan senyum.
" Ternyata jalan takdir itu unik ya" Gumamku,
" Lebih unik dari yang kita bayangkan." Imbuh Hanif. Aku mengangguk setuju.
Sungguh, hari ini begitu indah. Semua kesedihan yang kuratapi selama ini terbayar sudah.
" Din..." Panggil Hanif " Kau mau menikah denganku?" Lanjutnya membuatku mau tak mau tersentak.
" Apa?"
Hanif menggeser tubuhku, menghadapnya penuh. Memegang pundakku lembut.
" Aku tau ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya takut. Takut takdir menyeret kita ke keadaan menyulitkan seperti kemarin. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti kemarin. Aku yakin jika harus ada diposisi itu lagi aku tak mungkin sanggup."
Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku ingin ungkapkan banyak hal. Tapi kurasa Hanif sudah tau meski hanya lewat senyumku.
" Aku bisa membantumu memanen strawberry." Lanjutnya membuatku tergelak dan aku sangat bahagia sekali saat memeluknya.
Memang benar, takdir itu penuh liku, tapi percayalah jalannya tetap menuju ke kebahagiaan yang kita cari. Ibarat strawberry, rasanya memang asam dan kasar, tapi tetap saja begitu indah dan menarik hati untuk dinikmati. Dan apapun yang telah kami lalui, ternyata tetap menegaskan satu hal pada kami, bahwa kita ini hanya pemeran sebuah sandiwara kehidupan. Asal kita menikmatinya, pasti ada kebahagiaan yang akan kita terima sebagai imbalannya.
"akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain"
-Mario Teguh-
randublatung,10/12/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar