" Din..., aku tau ini berat, tapi ada baiknya kau tetap berusaha." Katanya lebih mirip seperti memohon
" Aku tak sanggup Han, kau juga tau itu." Rengekku.
Hanif membalikkan tubuhnya mengahadapku, diraihnya jemariku.
" Aku tau, tapi cobalah lakukan ini demi.."
" Demi siapa Han?"
" Demi Billy." Lanjut Hanif menunduk
Aku tergelak bercampur isak.
Sejam lalu, tiba-tiba Benny, adik Billy menemuiku dengan wajah murung.
" Aku mohon, ikutlah ke rumah sakit. Kak Billy sangat membutuhkanmu." Pintanya memelas.
Dan aku bisa apa jika Hanif juga ikut memohon?
Billy,
Sebenarnya mendengar nama itu pun aku sudah tak ingin. Begitu inginnya aku mengubur dalam-dalam nama itu, bahkan kalau perlu aku ingin tak ingat lagi.
Terlalu banyak luka yang tercipta bersama nama itu. Terlalu banyak dan semuanya menyakitkan.
Tapi kenapa takdir malah mengantar aku kesini?
Menurut cerita Benny, kemarin Billy mengalami kecelakaan, sempat koma sampai kemudian tadi pagi tersadar. Dan saat itulah dilema ini dimulai.
Billy mengalami gegar otak yang cukup aneh. Sebagian memori di otaknya hilang tak bisa diingatnya. Otaknya hanya mampu mengingat kejadian sebelum 2 tahun lalu. Dan masa itu adalah awal-awal kami berpacaran.
Dulu, 2 tahun lalu adalah masa-masa indah bersama Billy. Pria kharismatik nan ceria itu begitu mencintaiku. Bahkan bisa dibilang sangat memujaku. Dia seperti ingin menunjukkan dunia bahwa akulah pemenang hatinya yang sebelumnya selalu berkelana dari berbagai cinta.
Sebenarnya aku tak begitu setuju Billy bersikap terlalu berlebihan begitu. Karena aku malah merasa aneh dipuja seperti itu. Aku pun takut akan kebenaran sebuah peribahasa, diujung cinta yang sangat, ada kebncian yang sangat pula. Dan ketakutanku pun menjadi nyata, justru ketika aku memutuskan menyetujui ajakannya menikah.
Tiap teringat kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, sebenarnya aku ingin limbung. Dadaku begitu sesak mengingat tiap ucapan menyakitkan Billy.
Sebagai pria kharismatik bertalenta tinggi, tentu saja banyak wanita yang ingin merebutnya dariku yang sebenarnya tak cukup pantas bersanding dengannya, hingga tak sedikit wanita yang cemburu. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba beberapa lembar foto rekayasa antara aku dan Hanif ada ditangan Billy. Dan Billy yang sangat menjunjung kesetiaan akhirnya kalap dan menghancurkan semuanya. Termasuk hatiku dan persahabatnya dengan Hanif.
" Aku tak bisa Han.." Desisku berbalik arah.
" Dinda..." Buru Hanif mencegahku.
" Tolong Han, jangan berpura-pura lagi, aku tau kita tak bisa lakukan ini.." Hibaku.
Hanif termangu menggenggam erat jemariku. Aku tau dia juga dalam dilema ini
Sejak kejadian hancurnya rencana pernikahanku dengan Billy di H-1 itu, Hanif lah yang selalu disampingku. Menangkal semua cacian dan cemoohan semua orang yang tak tau pokok permasalahannya. Bahkan dia juga yang tetap menemaniku saat aku memutuskan menjauh sejauh mungkin dari keluargaku. Karena tak ingin makin mempermalukan mereka.
" Siapa yang bisa melawan takdir Din? Kita ini hanya pion-pion kecil dihadapanNya. Kurang jauhkah kita menjauh? Kurang dalamkah kau membenci Billy? Kurang berlapang dadakah kita terima semua akibat yang seharusnya tak perlu kita pikul? Tapi apa daya kita Din? Kita akhirnya kembali ke sini. Kita akhirnya harus menghadapi semua ini. Kau pacar kesayangan Billy, dan aku sahabat terbaiknya."
Aku makin sakit mendengar semua jabaran Hanif.
" Kau yang saat ini dibutuhkan Billy. Tegakah kau membiarkan orang yang sangat mencintaimu itu menunggumu? Tegakah kau membiarkan orang yang sangat memujamu itu kebingungan mencarimu?"
Aku menunduk dalam-dalam menyembunyikan isakku.
" Bagaimana kalau ingatannya pulih lagi? Dia kembali membenciku, mencampakkanku. Aku juga kau Han. Dihadapannya kita ini seperti penghianat."
Hanif tersenyum tipis, megusap lembut air mata dipipiku.
" Ada aku Din. Aku tetap disini."
Dan akhirnya aku kembali meneruskan perjalanan beratku menemui Billy. Sampai di depan pintu kamar Billy aku kembali termangu.
" Tenanglah, aku diluar, 10 menit lagi aku menyusul." Ucap Hanif seperti menghibur.
Tapi kalau boleh jujur, yang kubutuhkan saat ini adalah kabur dari sini.
" Masuklah, jadilah Dinda kesayangan Billy."
" Kalau boleh memilih, aku lebih suka menjadi Dinda-mu."
Hanif tersenyum.
" Tuhan punya rencana sendiri kenapa ini terjadi."
" Kenapa tak diceritakan saja yang sebenarnya? Kalau sekarang dia sangat membenciku, bahkan dia tak kan pernah memaafkanku. Bukankah itu lebih baik baginya saat kelak kesadarannya pulih?" Desisku
" kenyataan yang berlawanan dengan yang diingatnya akan membuat kerusakan otaknya makin parah. Dan bisa berakibat fatal." Sahut Benny tiba-tiba.
Aku menatap Benny.
" Maaf, mungkin dulu dia terlalu dalam menyakitimu, akupun tak kan sanggup memaafkan hal itu jika jadi dirimu, tapi...aku mohon!" Ucapan Benny kali ini sangat memelas.
hampir 4 tahun aku pacaran dengan Billy, hingga aku cukup mengenal Benny. Benny sangat menyayangi kakaknya, melebihi orang tua mereka menyayangi mereka.
Pandanganku beralih ke Hanif, laki-laki yang lebih mirip tongkat penyanggaku. Pengorbanannya sangat tak adil jika harus dihanguskan dengan kenyataan ini. Awal kisah kami memang bukan bernama cinta. Tapi seiring waktu berjalan kami menjadi dua orang yang saling membutuhkan. Dan itu lebih dalam dari percintaan manapun.
" Masuklah, aku tau kau bukan orang yang tak bisa memaafkan kesalahan orang lain."
" Ini tak adil Han," Aku terus mencoba 'berontak'.
" Kau masih percaya Tuhan kan? Dia maha adil, Dia tak kan meninggalkanmu, percayalah" Ucap Hanif meyakinkan.
Tapi aku tetap tak bisa meyakinkan hati ini. Kenapa aku harus kembali ketempat yang sudah sangat jauh kutinggalkan? Kenapa aku harus kembali ke tempat yang sebenarnya sudah tak menginginkanku lagi?
Kupandangi pintu dihadapanku dengan perasaan tak menentu. Tanganku gemetar mendekati handle pintu itu.
Sungguh, yang paling kuharapkan saat ini adalah ingatan Billy cepat pulih. Hingga aku tak perlu lagi memainkan peran tak kusukai ini. Hingga aku tak perlu lagi ada ditempat tak seharusnya ini. Hingga aku bisa hidup wajar dengan Hanif yang mengerti semua ini.
Untuk terakhir kalinya mataku kembali menatap Hanif, dan hanya senyum yang terasa hambar yang diperlihatkannya. Ya Tuhan, tolong aku.
10/09/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar