Sabtu, 04 Oktober 2014

All About KEN

   Deru motor masih terdengar jelas sebelum akhirnya perlahan menghilang seiring motor yang ditumpangi Ken berbelok ditikungan depan, barulah aku membalikkan badan. Tapi belum sempat aku melangkah beberapa temanku di OSIS seperti sengaja menungguku. Aku tersenyum
" Kalian tak perlu menyambutku begini, aku kan cuma telat beberapa menit" Kataku ringan, sekedar mencoba mencairkan suasana yang sepertinya sedikit dingin.
Pasti gara-gara aku datang diantar oleh Ken.
" Kenapa kau bisa akrab dengan Ken? Dia itu raja trouble maker." Desis Gissel, sekretaris OSIS, sekaligus teman baikku.
Tuh kan? Tapi.... memang kenapa? Trouble maker? Julukan itu terlalu kasar untuk Ken yang beberapa hari ini memang terbilang dekat denganku. 
" Dia juga teman kita kan?" Sanggahku
" Iya tapi dia tak seperti kita. Dia itu tukang rusuh Fa, kalo kamu dekat-dekat dia, bisa-bisa kamu juga kena masalah" Imbuh Kaka, seksi humas kami
Aku tergelak,
" Kalian ini apa-apaan sih?" Kataku seadanya, lalu melangkah masuk ruang OSIS. Tak kuhiraukan pendapat negatif mereka yang terus berlanjut tentang Ken. 
Bagiku Ken juga berhak dekat denganku. Ya, aku tau sebagai ketua OSIS bisa dibilang aku orang nomor satu di sekolah ini, tapi apa aku perlu menjauhi Ken karena dia punya predikat negatif? Toh dia adalah 'warga'ku juga. 
Mungkin aku juga yang terlalu bandel tetap mendekati Ken meski jelas-jelas akan banyak yang memprotes itu. Tapi apa hanya karena aku ketua OSIS lalu pergaulanku harus dibatasi? Hanya sebatas orang-orang penting dan baik saja? Aku juga punya hak dekat dengan siapapun, termasuk Ken yang mereka anggap orang tak penting lagin tak baik.
Awalnya aku mendekati Ken hanya penasaran, kenapa anak yang sebenarnya tak bodoh itu malah terjebak dalam predikat buruk disekolah ini. Mangkir, berpakaian tak rapi, merokok disekolah, sering membuat ribut dengan siswa lain, bahkan tak jarang melawan guru. Tak banyak, tapi aku bisa melihat sisi lembut dan lugu anak itu justru ketika memergokinya bersama anak-anak jalanan di perempatan jalan sana.
" Kau kenal mereka?" Tanyaku waktu itu, saat pulang sekolah tanpa teman-teman gank-ku dan malah menemukan Ken bergurau dengan polosnya bersama 4 anak jalanan yang sering kutemui di lampu rambu lalu lintas diperempatan jalan sana. Terlihat pula masing-masing tangan mereka memegang ice cream, yang kalo dilihat dari segi ekonomi mereka makanan itu terlalu mewah untuk terbeli.
" Mereka teman-temanku."Jawab Ken mengelus kepala salah satu anak yang kalo kutaksir umurnya baru 8 tahunan.
Hampir dua tahun mengenal Ken sebagai siswa terbandel disekolah, baru kutau kalo dia punya sinar mata yang lembut itu. Penuh kasih, berlawanan sekali ketika aku sempat melihatnya saat bergelut dengan salah satu kakak kelas kami beberapa bulan lalu.
" Bagi kita mungkin ice cream bukan apa-apa, tapi bagi mereka itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri"
Aku selalu tersenyum tiap kali mengingat kata-kata itu. Memberi arti lain pada sosok pemberontak Ken.
Sayang, tak banyak yang tau tentang ini. Kalo pun aku ceritakan mereka pasti malah mengangapku mengada-ada. Jadi biarlah mereka dengan pendapat mereka sendiri, dan aku tetap beranggapan Ken pun layak untuk disayangi, seperti dia yang sangat menyayangi anak-anak jalanan itu.




    Sore ini suasananya begitu lain. Ken tak banyak bicara, hanya diam menatap hamparan rumput liar dihadapan kami, sambil sesekali meneguk softdrink-nya yang tadi sengaja kubawakan dari perjalanan menuju kerumahnya.
Ingat kata rumahnya, teringat pula kejadian tadi. Kejadian yang cukup membuatku syok karena seumur-umur aku tak pernah melihat hal itu dalam keluargaku. Pertengkaran hebat antara orang tua Ken. Kalo dilihat dari segi materi, keluarga Ken cukup kaya, tapi aku tak menyangka kehidupan didalamnya sangat miskin kasih sayang. Apa karena ini Ken sering keluar dari sisi baiknya?
" Maaf soal tadi" Akhirnya Ken bicara.
Sebenarnya yang pantas minta maaf adalah aku. Aku yang tanpa undangan datang ke rumah Ken. Bahkan Ken tak tau kalo aku akan datang. Aku tau alamat Ken juga dari membuka arsip biodata siswa. Alpha-nya hari ini membuatku tak tenang, apalagi saat kucari diperempatan jalan tempat anak-anak jalanan itu, pun tak ada dia. Makanya aku berbalik arah kembali ke sekolah mencari arsip biodatanya di file kesiswaan.
" Apa orang tuamu sering begitu?" Tanyaku hati-hati
" Hampir tiap hari, tiap mereka bertemu" Jawab Ken datar, seraya meneguk lagi softdrink-nya " Dan aku hanya bisa jadi penontonnya." Lanjutnya sepeti menahan sebuah kesakitan
Jadi inikah alasan Ken menjadi sosok antagonis dalam setiap hal?
Kuamati wajah sendu yang sedikitpun seperti tak peduli dengan keberadaanku disampingnya.
Kasihan dia, dirumah sudah minim kasih sayang, diluar pun tak ada yang peduli padanya. Mungkin itulah yang membuatnya bahagia diantara anak-anak jalanan itu. Yang tak peduli dengan semua hal kecuali tau kalo Ken orang yang peduli pada mereka. Yang selalu dengan senang hati membelikan mereka ice cream.
" Kenapa melihatku begitu?" Tanya Ken spontan saat menyadari sejak tadi dia kuperhatikan.
Aku mengalihkan pandanganku sembari tersenyum.
" Tak perlu kasihan padaku, karena masih banyak yang pantas dikasihani. Aku cuma seorang anak yang tak cukup beruntung punya orang tua yang hanya mementingkan egonya bukan anaknya."
" Tapi tak harus membuatmu melakukan semua kebadungan itu kan?"
Ken tertawa pendek
" Itu hanya malah membuatmu jauh dari kata bahagia. Makin dijauhi semua orang."
" Orang-orang yang penuh kepalsuan, cuma mememntingkan ego dan gengsi, apa untungnya? Lebih baik biarkan mereka dengan opini mereka sendiri. Toh kita hidup bukan dari mereka. Iya kan?" Paparnya membuatku termangu sejenak
" Lalu kenapa kau membiarkan aku?" Tanyaku kemudian.
" Apa predikat ketua OSIS membuatmu bahagia?" Ken malah bertanya padaku. Pertanyaan yang mudah tapi cukup sulit kudapat jawabannya.
Terkenang lagi masa setaun lalu saat dengan semangatnya aku mencalonkan diri menjadi ketua OSIS atas saran orang tuaku dan teman-temanku. Karena aku pantas menyandang predikat itu.
" Dulu kukira itu kebanggaan tersendiri, tapi aku sadar kalo bukan seperti itu yang kuinginkan. Saat ingin pergi dan melepaskan itu semua sudah terlambat. Apa mau dikata, ya sudah jalani saja semua meski dengan sedikit terpaksa. Yakin saja pasti ada akhir untuk semua itu, dan aku bisa jadi diriku sendiri lagi."
Ken tersenyum penuh arti. Lalu meneguk lagi sisa softdrink-nya.
" tetap menjalaninya meski sedikit terpaksa karena yakin pasti ada akhir untuk semua itu kan?" 
Beberapa detik aku mencoba menelaah kata-kata Ken, 
Ya, karena hidup ini tak pernah berjalan seperti yang kita impikan. Lebih sering berjalan diluar keinginan kita. Kadang kita mampu berontak dari keadaan kontra itu, tapi pada titik tertentu pemberontakan kita pun ada batasnya, dan itulah saatnya kita harus merelakan semua terjadi diluar kendali kita. Menjalaninya meski sedikit terpaksa.
" Mungkin orang tuaku duu juga berfikir begitu. Dengan menikah dan hidup bersama adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi seiring berjalannya waktu mereka mungkin sadar, pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan, termasuk kehadirannku." Kalimat terakhir Ken terasa sangat berat.
Ken mendesah panjang
" Itukah yang membuatmu menjadi aktor perusuh?" 
Ken tertawa sinis.
" Dulu kupikir dengan berbuat sesukaku aku bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini kucari. Tapi ternyata tidak. Saat aku menyadari itu, dan aku ingin keluar dari semua itu, semua orang terlanjur menjulukiku begitu. Ya sudah, mau gimana lagi"
Aku tak bisa menanggapi jabaran itu. Hanya diam menatap Ken.
Karena Ken aku belajar banyak tentang beberapa hal yang kupikir sudah kukuasai.
Andai tak hanya aku yang bisa mengerti jalan pikiran Ken, pasti tak ada yang menganggapnya trouble maker lagi. Dia hanya menjalani apa yang sudah terlanjur terjadi pada dirinya. Seperti halnya aku.
Ternyata kami memang sama-sama terjebak sebuah keadaan. Bedanya dia terjebak dalam peran antagonis, dan aku di peran protagonis. Meski itu sebenarnya bukan pilihan kami.






Banyak hal yang kudapat dari Mars
hehehehee....
10/5/2014








Tidak ada komentar:

Posting Komentar