Kenapa Resty begitu beda? Biasanya tingkahnya sudah rame sendiri menjadi polusi suara tersendiri di bengkel omnya ini.
Setelah mencuci tanganku, aku mendekati Resty yang duduk manis di sebuah kursi tunggu. Tangannya seperti disibukkan menimang-nimang kaleng minuman. Resty hanya tersenyum kecil saat aku menghempaskan tubuhku didekatnya.
" Kau mau?!" Tawarnya menyodorkan kaleng minuman itu
Kuamati wajah polos minim make-up yang biasanya ceria itu. Hari ini ada sedikit mendung menutupi bias-bias terangnya.
Aaahh... Ternyata aku juga bisa rindu dengan tingkah lucu dan polos gadis itu.
" Untukku?" Aku seperti tak yakin
Resty mengangguk pasti.
" Kau pasti haus sehabis kerja" Katanya makin mendekatkan kaleng minuman itu
Kuterima dengan senyum kecil, dan usai kaleng itu kuterima Resty bangkit dari duduknya. Kuamati tubuh sederhana itu. Jauh sekali dengan Putri yang putih semampai, rambut lurus panjang, perilaku teratur, tutur katapun begitu sopan. Pantaslah dia diibaratkan putri raja. Dan sayang, aku tak mungkin jadi pangerannya. Terlalu jauh jenjang sosial kami.
Aku menunduk dan memilih membuka kaleng minuman pemberian Resty, meneguknya sedikit.
Resty termangu didepan sebuah mobil milik pelanggan.
" kau ada masalah?" Tanyaku
Resty sedikit kaget dan spontan menoleh. Tapi kemudian bibirnya melebar sedikit seraya menggeleng.
" Tapi hari ini kau aneh sekali" Akhirnya kuungkapkan hal yang sejak tadi mengganjal diotakku.
" Tidak apa-apa, tidak ada yang serius," Kilahnya ringan " Jam kerjamu sudah selesai kan?" Lanjutnya bertanya
Aku mengangguk,
" Temani aku cari buku ya"
Aku tersenyum kecil.
Mungkin aku memang harus mulai mengikis sedikit demi sedikit cintaku pada Putri yang terlalu mustahil bersatu, dan mulai memberi harapan pada cinta gadis polos ini.
Kumatikan mesin motorku, melepas helmku sambil celingukan. Biasanya pagi-pagi begini Resty sudah menunggu disini, saat motorku memasuki area bengkel ini dia pasti sudah berhambur dari dalam rumah omnya dengan sebuah kotak makan untuk menu sarapanku, yang katanya dibuatnya sendiri. Dan sebagai imbalan dia memintaku mengantarnya kesekolah dengan alasan sudah nyaris terlambat, hahaha.... gadis itu memang biang kelucuan. Dan aku baru sadar hari ini, saat tak kutemukan dia menyambutku pagi ini. Kemana dia? Kenapa tak melakukan ritual paginya?
Aku mendesah berat. Apakah Resty marah padaku gara-gara kemarin aku meninggalkannya sebelum dia selesai mencari buku yang mau dibelinya? Mungkin,
Tapi mungkin memang aku yang sedikit keterlaluan meninggalkannya sendirian di toko buku yang cukup jauh dari rumahnya. Tapi apa peduliku? Semua tak lebih penting jika dibandingkan dengan panggilan Putri.
Aku tersenyum mengingat kembali memori kemarin, saat aku bertemu lagi dengan pujaan hatiku, Putri.
Tapi.... Kenapa aku juga merasa bersalah pada Resty? Huuufttt, aku benci dengan perasaan ini.
" Oh, hai Joe..."
Aku menoleh, Sandy, anak pemilik bengkel ini, sekaligus sepupu Resty. Dia mau berangkat kuliah pagi sepertinya
" Pagi amat San,.."
" Iya ada makul pagi, oh ya kata mama kalo mau sarapan ada nasi goreng di dapur. Hari ini tak ada yang menyiapkan kotak sarapan seperti biasa, orangnya lagi sakit" Cerocos Sandy sambil siap- siap menggendarai motor CB-nya,
"Siapa yang sakit?"
" Siapa lagi, si bawel Resty"
" Sakit apa?" Buruku, benar-benar terlihat kecemasanku, dan itu mudah sekali tertangkap Sandy.
Sandy tergelak,
" Ternyata kau cemas juga dengar si bawel sakit"
Aku menunduk sambil tersnyum getir.
" Tadi malam dia sempat bikin mama papanya cemas sebelum kemudian dia ditemukan di depan toko buku disudut kota sana sampai jam 11 malam?"
Aku terngungu. Dan sebelum Sandy menyalakan motornya, aku lebih dulu melesat pergi berlari ke rumahnya yang berjarak kurang dari 100meter.
Sungguh, andai Sandy tau alasan Resty semalam sampai jam 11 ada di depan toko buku karena mau menungguku kembali lagi, dia pasti sudah menghajarku tadi
" Kau mau kemana?" Tanya Resty waktu itu,
" Aku ada urusan sebentar, habis ini kau langsung pulang saja ya, naik taksi"
" Gak mau!" Dengusnya
" Hei..."
" Urusanmu cuma sebentar kan? Aku tunggu disini saja, nanti kalo urusanmu sudah selesai cepat balik kesini"
" Jangan konyol"
" Kok konyol?!"
" Udah jangan bawel, kamu habis ini pulang saja ya!" Kataku sambil beringsut pergi
" Pokoknya aku tunggu disini!!" Seru Resty sebelum aku keluar dari toko buku itu
Tak kusangka Resty benar-benar menungguku. Dasar gadis aneh.
Kutemukan dia di belakang rumahnya,dipinggir kolam ikan koi kesayangannya. Sesekali dia menabur beberapa butir makanan ikannya.
" Kau sudah baikan?" Tanyaku sedikit ragu, karena sejak tadi Resty menyadari kedatanganku, tapi seperti tak digubrisnya. Benarkah gadis ini marah karena soal kemarin?
" Hmmm" Sahutnya hanya berdehem, tanpa melihat kearahku.
" Kau marah?"
Tak ada sahutan.
Aku mendekat,
" Oke aku minta maaf soal kemarin, tapi..."
" Kemarin kau menemuinya kan?" Tanya Resty dingin, dan saat matanya menatapku sungguh rasanya dia bukan gadis polos lugu yang selama ini begitu setia menanti cintaku.
Tiba-tiba bibirnya tersungging senyum, senyum getir lagi menyesakkan dada.
" Aku masuk dulu ya.." katanya seraya bangkit
Aku hanya terbengong menatap Resty pergi.
Apa dia benar-benar Resty yang selama ini setia membuatkanku sarapan, yang selama ini tiap pulang sekolah selalu menyempatkan mampir ke bengkel membawakan minuman/ makanan? Sepertinya bukan, dia gadis lain bernama Resty.
Dan sejak saat itu semua berubah, duniaku tak lagi seindah saat dihiasi kehadiran Resty dan entah kenapa aku merasa kehilangan.
Baru seminggu kemudian aku tau kalo sore itu Resty mengikutiku menemui Putri. Dan itulah yang membuat dia berubah. Dan aku tak tahu kenapa au merasa sangat bersalah,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar