Jumat, 05 September 2014

SEBUAH LUKA

Sore ini, aku bertemu mereka lagi, menyapa mereka lagi. Ilalang diatas bukit ini. Teman setiaku, pendengar semua curahan hatiku. Aku duduk diantara mereka, kurajut sendiri galauku bersama mereka, kuresapi sendiri asam pahit kemelut hatiku bersama mereka; ilalang diatas bukit. Tempat favorite ku sejak dulu, sejak aku masih terlalu kecil disini sendirian, sejak aku mulai merasakan sesaknya dilanda kerinduan akan kehadiran orang terkasihku, sejak aku belum mengenal wajah rupawan nan kharismatik Bison, sebelum cinta dan kerinduan bersamanya merajam dan mencabik-cabik hatiku karena kata mama dia punya kebiasaan seperti papa. Disinilah kutumpahkan semua rasa, disini pula kubalut kerinduan akan wajah usang itu. Disini kukubur cintaku pada Bison yang kupaksa kubunuh karena alasan wajah usang itu.
Tentang semua kerinduan pada wajah usang itu, wajah yang dulu begitu teduh memangkuku, memelukku hangat. Tapi tiba-tiba kemudian semua lenyap tanpa kutau kemana. Waktu itu aku terlalu kecil untuk mengerti semua, dan wanita kesayanganku tak ingin aku cukup mengerti agar semua tetap jadi sesuatu yang baik saat kukenang.
Aku mendesah.
Teringat lagi sinar mata Ale yang menatapku sore itu, matanya yang biasanya berbinar kali ini sedikit meredup dan sedikit membuatku sesak.
" Maaf" Kataku akhirnya, berusaha mengakhiri kekakuan ini. Tapi ternyata tak cukup berhasil. Ale mendesah pendek lalu menunduk. Tak satupun kata terucap darinya
" Salahkah aku Al?"
Sepi, Ale tak menyahut dan seperti tak punya niat menyahut menjawab pertanyaanku tadi. Dan sikap itu telah berhasil membuat seluruh relung hatiku terselubung kabut pekat bernama penyesalan.
Yah, harusnya tadi tak kuungkapkan semuanya, harusnya tadi kujaga ucap ini. Harusnya, tapi apa daya semua sudah kuucap, dan inilah akhirnya.
Aku tergelak dalam hati, gelak tawa disela tangis pedih.
Aku pun memutuskan beranjak, Ale sedikit mendongak, tapi tak sampai menatapku.
" Ini sangat tak adil Na, kenapa kamu pikr semua orang sama? Kenapa kamu beranggapan semua kisah akan berakhir setragis itu? Banyak cinta yang berakhir indah dan bahagia" Keluh Ale 
" sekali lagi aku cuma bisa bilang maaf. Maaf kalo aku tak mampu menerima ini semua. Bagiku semua akhir akan sama saja. Meninggalkan luka." Lalu aku beringsut pergi dari sisinya. Dan mungkin dari kehidupannya . Aku tak pernah berharap dia memanggilku apalagi mengejarku, tidak! Itu terlalu naif, karna yang terjadi aku memang melangkah pergi tanpa halangan.
Mungkin aku memang ditakdirkan hidup bersama ilalang ini, karna aku terlanjur percaya pada mereka yang tak pernah dusta padaku, tak pernah menyakiti hatiku, dan takkan pernah meninggalkanku.
Kurebahkan tubuhku diatas mereka, dan mereka menyambutnya hangat. Sehangat lembayung sore dicakrawala sana yang terselip juga senyum hangat wajah usang itu. Tapi kemudian seulas senyum lain merekah diantara lembayung itu, membuatku terperanjat
" Sudah kuduga kamu ada disini" Katanya ikut menghempaskan tubuhnya diatas ilalang itu,
Kupandangi sosok yang rebahan menikmati lembayung sore itu masih tak percaya
" Kenapa?" Tanyanya menatapku yang melongo, " Ayo rebahan lagi, lembayung itu sangat sayang untuk dilewatkan" ajaknya
Aku tergelak.
Sungguh tak bisa kupercaya kalo Bison tiba-tiba ada disini.
" Rasanya jadi aneh saja" Kataku lebih mirip bergumam
" Aneh?" Bison bangkit dari rebahannya dan menatapku lekat
" Ya, karena biasanya aku disini sendirian, hanya dengan mereka. Lalu tiba-tiba kamu ikut serta."
" Apa ini berarti kedatanganku tak diharapkan?"
" Bukan tak diharapkan." Ralatku " Tapi kamu tak layak ada ditempat seperti ini" Lanjutku memunguti beberapa helai ilalang yang mengotori kemeja mahalnya
Bison mendesah berat
" Kamu tak berubah " Tandas Bison
" Kukira setelah kejadian itu pola pikirmu tentang hidup akan berubah, tapi tetap dan tetap seperti itu"
Aku menunduk, aku sadar sebentar lagi penghakiman hidupku akan kembali dimulai.
" Hidup itu untuk bersama, Alona...untuk berbagi dengan sesama. Kenapa semua yang terjadi selama ini tak menyadarkanmu? Trauma masa lalumu tak harus membuatmu berfikir semua akan seperti itu"
" Aku lebih suka begini." Jawabku tetap menunduk memainkan sehelai pucuk ilalang ditanganku.
" Apa salahnya aku bersama mereka? Mereka lebih baik dari siapapun, tak pernah menduakanku, tak pernah meninggalkanku, tak pernah mengecewakanku juga tak akan pernah menyakitiku"
" Pantas Ale menyerah lebih awal." Desis Bison bangkit, aku mendongak mengikutinya
" Apa?" 
" Akupun mulai putus asa Na. Cobalah untuk ubah pandanganmu tentang hidup agar kamu bisa tau bahwa hidup itu jauh lebih indah dari desir daun ilalang dan lembayung sore. Bahwa tak semua laki-laki akhirnya akan meninggalkanmu." Lalu Bison membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh
" Kenapa dimata kalian aku selalu salah?" Desisku sebelum langkah Bison makin jauh, tanpa menolehpun aku tau Bison menghentikan langkahnya
" Kalian terlalu sibuk menyalahkan persepsiku. Apa yang salah dengan menikmati kesendirian? Aku benar kan kalo suatu saat kalian juga akan meninggalkanku seperti dia? "
" Kamu itu terlalu picik dengan semua orang!"
" Tapi lambat laun semua adalah kenyataan kan? Kalian sekarang ingin  bersamaku tapi lambat laun suatu saat juga akan meninggalkanku. Jadi bukankah lebih baik aku memilih sendiri biar tak perlu rasakan sakit itu lagi?"
Sepi. Bison tak menyahut. Lalu beberapa detik berikutnya langkah itu terdengar menjauh, semakin jauh dan semakin menghilang.
Dan aku masih disini bersama mereka, ilalang diatas bukit. Aku tak pernah memaksa Bison ataupun Ale untuk tinggal disisiku. Hidupku terlalu rumit untuk dimengerti mereka. Dan aku tak menyuruh mereka pergi, mereka sendiri yang jengah dengan keseharianku.
Mungkin aku yang memang terlalu menutup diri, menghalangi semua orang menyentuh hatiku yang terlalu rapuh untuk kutunjukkan pada khalayak ramai. Jadi biarlah begini adanya.
Kurebahkan lagi tubuhku, lembayung senja kian mencuat kemerahan. Seraut wajah usang yang menemaniku sepanjang hidupku tergambar lagi disana. Dan tanpa sadar air mata meleleh dari ujung mataku. 
 Trauma itu memang terlalu jelas membekas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar