Aku masih terpaku di balkon lantai dua kampus. Mataku memang terlihat mengamati kumpulan mahasiswa di bawah situ. Dengan dagu kuletakkan pada kepalan tangan yang menekuk di atas pagar pembatas balkon.
Mataku kemudian menangkap sosok gadis manis berkuncir satu diantara kumpulan itu. Entah sedang memperbincangkan apa dengan sesekali tertawa lepas.
Aku mendesah.
Kenapa dia begitu lain kalo dengan orang lain? Begitu bersahabat dan ceria, bathinku sedikit jengkel melihat tawa lepas itu.
Aku mendesah lagi, tetap memfokuskan pandanganku ke satu titik yang mungkin tak akan pernah sadar kalo sedang kuperhatikan. Coba kalo tau, pasti sudah melotot matanya menatapku balik.
Namanya Airin. Sudah cukup lama aku mengenalnya, bahkan kami pernah sekelas saat SMA dulu. Tapi Airin tak pernah menunjukkan sikap bersahabatnya padaku. Dulu, mungkin karena aku memang terlalu usil padanya hingga dia selalu ku buat jengkel dan marah. Tapi kemarin semua terjawab sudah.
"Aku benci namamu, aku benci nama Ari," sungutnya dengan nada meninggi.
Aku terhenyak. Detik selanjutnya aku tak sadar tergelak.
"Jadi selama ini kau selalu cetus padaku hanya karena namaku Ari?" tanyaku tak percaya.
Mata bening yang dipayungi alis melengkung indah itu menatapku dengan garang. Aku mendesah.
"Apa itu tidak kekanak-kanakan? Di dunia ini banyak sekali orang yang bernama Ari."
Airin melengos.
"Bahkan tak sedikit artis yang punya nama Ari. Ari lasso, Ari untung, Ari Wibowo. Nah... iya kan?"
Airin tak bergeming, bahkan berniat melangkah pergi.
"Apa tidak ada alasan yang lebih rasional? Sejak dulu kalo dengan aku selalu begitu. Apa aku beda jauh dengan Dito, Kris, atau Marvel yang biasa bercanda denganmu? Hah?" cerocosku diantara langkahnya meninggalkanku.
Ternyata pada akhirnya Airin berhenti dan menoleh, meski tetap dengan sisa tatapan garangnya.
"Siapa suruh kau punya nama seperti nama ayahku?" geramnya sedikit membentak.
Aku melonggo.
Dan putaran film kenangan kemarin terhenti disitu.
"Jadi sebenarnya kau benci aku karena namaku seperti nama ayahmu, atau hanya karena namaku Ari?" gumamku lagi, dengan masih memperhatikan Airin yang asyik bercanda dengan Kris.
Terlihat mereka sempat saling pukul dengan iringan tawa. Coba kalo itu aku, bukan Kris. Pasti Airin sudah ngamuk-ngamuk.
"Sebegitu bencikah kau padaku? Hanya karena namaku Ari?"
"Kau membuatku takut."
Spontak aku melonjak kaget, disusul gelak tawa Marvel. Aku mendengus kesal.
"Tidak salah? Kau yang membuatku hampir jantungan." geramku kesal.
"Tapi kau ngomong sendiri seperti orang gila. Atau jangan-jangan kau mengidap skizofernia? Kau punya teman maya yang hanya terlihat olehmu sendiri?"
Plakkk
Terpaksa kupukul kepala sahabatku sejak SMP itu dengan buku ditanganku. Marvel meringis memegangi kepalanya.
"Itulah akibatnya cowok suka nonton drama, apa-apa dikaitkan dengan drama," dengusku menyinggung kegeraman Marvel yang mania dengan drama-drama asia.
"Dari nonton drama aku juga dapat banyak pengetahuan. Buktinya aku jadi tau apa itu skizofernia," sanggahnya.
Aku tergelak. Lalu kembali fokus ke arah Airin dibawah sana.
"Sedang memperhatikan Airin ya?" goda Marvel.
Aku tersenyum kecut.
Antara aku, Marvel, Dito dan Kris, sama-sama mengenal Airin dengan baik sejak lama. Dan selama itu pula hanya denganku lah sikap Airin selalu tak bersahabat.
"Apa aku memang terlalu usil pada Airin?"
"Soal dia yang tak pernah berwajah manis padamu?"
Aku diam sebentar, memperhatikan Kris dan Airin yang berbagi sepiring siomay disana.
"Apa mereka pacaran?" tanyaku setengah tak sadar.
"Siapa? Kris dan Airin?"
"Hmm."
"Setahuku sih tidak, Airin kan memang begitu. Dengan aku, Dito, juga teman-teman yang lain sering berbagi makanan dalam satu piring."
"Kenapa denganku tidak pernah?" susulku seperti memprotes.
Marvel sedikit kaget, tapi kemudian sudut bibirnya melebar.
"Apa aku terlalu jelek?"
"Kurasa Airin bukan tipe orang yang berteman dengan melihat penampilan."
"Lalu? Apa wajar kalo dia bersikap lain padaku hanya karena namaku Ari?"
Marvel menunjukkan sikap kagetnya lagi, tapi kali ini tak disusul senyum. Yang terlihat malah kerutan di dahinya.
"Dia malah menyalahkan aku yang punya nama seperti ayahnya," lanjutku masih kesal.
Kerutan di dahi Marvel bertambah.
"Aneh kan?"
Marvel mengalihkan pandangannya dariku, seperti menyimpan keresahan.
Memang dari kami berempat, sebenarnya dengan Marvel-lah Airin paling dekat. Kedua ibu mereka bersahabat baik, jadi selain bertemu di sekolah mereka juga sering bertemu di rumah.
"Jadi nama ayahnya Ari," ujarnya setengah bertanya, juga setengah menggumam.
Kali ini dahiku yang berkerut. Dan makin jelas kerutannya ketika Marvel tertawa lirih.
"Yang harus kau permasalahkan harusnya bukan karena namamu seperti nama ayahnya, tapi kenapa dia harus membencimu hanya karena namamu seperti nama ayahnya."
Aku diam, berfikir sejenak.
"Omonganmu seperti profesor, rumit!" cetusku jengkel karena tak berhasil mengerti maksud dari kata-kata Marvel.
Tapi, kenapa Airin harus membenciku hanya karena namaku seperti nama ayahnya? Apa dia begitu membenci ayahnya? Oh, ya, apa khabar dengan ayahnya? Sejauh aku mengenal Airin, tak sekalipun aku tau tentang ayahnya. Selama ini hanya sebatas kenal ibunya yang bekerja di sebuah rumah makan.
"Kau itu seperti Tao Ming Tse, selalu ingin dimengerti tapi tak pernah berusaha mengerti orang lain."
Aku terhenyak dengan penghakiman Marvel barusan. Kutatap wajah tirus dengan bibir terkatup tipis dan mata sipit itu.
"Siapa itu Tao Ming... "
Pertanyaanku terpenggal karena ketidak tahuanku, juga karena helaan nafas Marvel. Buru-buru aku mengambil gadgetku dan membuka laman google. Siap-siap aku mengetik.
"Siapa tadi, Vel?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar gadget.
"Tao Ming Tse, meteor garden. Ketik saja seperti itu," jawab Marvel setengah membentak.
Aku mendongak menatap Marvel yang malah seperti menahan emosinya sampai matanya berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanyaku, benar-benar tak mengerti.
Marvel mendengus jengkel, sampai-sampai harus mengusap wajahnya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Kris yang tiba-tiba sudah ada di sini, masih bersama Airin yang dengan manjanya menggamit lengan Kris.
Aku tambah kebingungan, apalagi saat Marvel melangkah pergi. Menyisakan tatapan tak suka Airin. Mungkin karena salah snagka dengan kepergian Marvel. Lalu langkahnya buru-buru menyusul Marvel.
''Apapun yang kukatakan akan tetap salah dimatamu, jadi aku tak perlu katakan apapun padamu!" teriakku ikut kesal.
Lalu kembali fokus ke layar gadget-ku menemukan pencarianku pada nama Tao Ming Tse.
"Kau tak perlu sekasar itu pada Airin," ucap Kris ikut bersandar di pagar balkon.
Aku tergelak tanpa mengalihkan pandanganku pada layar gadget yang memunculkan hasil pencarianku pada nama Tao Ming Tse.
"Wahh... kenapa Marvel menyamakanku dengan aktor setampan ini?"
"Hei!" protes Kris merampas gadget milikku.
Aku mendesah.
Airin memang lebih mirip tuan putri jika diantara Marvel, Kris dan Dito. Sikap ramah dan suka menolongnya, ditambah wajah cerianya adalah nilai tersendiri, seperti sebuah pembangunan image dimata publik. Meski itu sama sekali tak berlaku untukku. Itulah kenapa semua orang menyayanginya, menjaga perasaannya. Lalu, apa hanya karena itu aku juga harus mengabaikan perasaanku yang tersakiti oleh sikapnya padaku dan tak boleh bersikap kasar padanya?
"Kenapa aku yang dikritik? Bukankah dia yang lebih dulu bersikap kasar padaku?" geramku.
Kris ikut mendesah berat.
"Dia membenciku hanya karena namaku speerti nama ayahnya, apa itu tidak aneh?" lanjutku tetap geram.
Kurebut kembali gadget-ku setengah jengkel.
"Kau ataupun Marvel sama saja, hanya memikirkan Airin tanpa mempedulikan aku. Kalian ini juga temanku. Apa karena dia perempuan?"
Kris menatapku protes.
"Pantas saja Marvel menyamakanmu dengan Tao Ming Tse. Bukan karena tampangnya, tapi lebih ke sifatnya yang sama."
"Apa?"
Kris bangkit dari sandarannya.
"Kau ingin tau kenapa dia membencimu hanya karena namamu seperti nama ayahnya?"
"Hah?"
Kris mendesah jengkel.
"Itu karena dia sangat membenci ayahnya, sampai-sampai dia membenci semua nama Ari. Bisa kau bayangkan kenapa dia sampai begitu? Hah?"
Aku melonggo. Lagi-lagi mendapat penghakiman dari para pembela Airin. Kilatan emosi Kris begitu nyata.
"Sejak dulu kau tak pernah berubah. Selalu berlagak seperti tuan muda, tak pernah peduli apa yang terjadi pada orang lain, juga merasa selalu menjadi korban. Pantas kalo Marvel menyamakanmu dengan Tao Ming Tse." Lalu Kris melangkah pergi dengan langkah kesal.
Aku masih melonggo. Kuamati gambar-gambar hasil pencarian Tao Ming Tse di layar gadget-ku. Rasa bingung dan penasaran menyelubungi otakku.
Ternyata masalah sebenarnya bukan soal Airin yang tak pernah bersahabat denganku, tapi lebih pada nama Ari yang juga nama menjadi nama ayahnya.
Lalu aku harus mencari kemana agar tau siapa itu Ari 'sang ayah'-nya Airin? Bahkan aku tak bisa mencarinya di kolom pencarian google.
Aku mendesah, menyandarkan punggungku ke pagar balkon.
Dan sekali lagi aku hanya bisa mendesah.
Idenya lewat begitu saja saat tadi pagi liat sebuah adegan di dunia nyata
Terbawa perasaan? Iya juga sih, xixixixi
Rdb, 20/11/2015
Selasa, 23 Februari 2016
Jumat, 12 Februari 2016
Masih Ada Aku, Pentingkah?
Langkahku langsung terhenti. Desah nafasku yang tinggal satu-satu, karena berlari menuruni anak tangga tiga lantai, semakin mengabur. Degup jantungku juga nyaris hilang.
Sepuluh menit lalu aku mendapat laporan dari Gita, karyawan di divisi HRD yang kukepalai, bahwa seorang pelamar bagian security yang mungkin akan bisa menjadi ledakan bom di kantor ini.
"Anda tidak akan percaya sebelum melihatnya, Pak Azam. Wajah pelamar itu benar-benar mirip." kata Gita menambahi.
Dan tanpa berpikir apapun lagi aku segera menuju tempat yang ditunjukkan Gita tentang keberadaan 'pelamar' yang dimaksudnya tadi. Tak sabar menunggu lift, aku pun memilih menuju tangga darurat. Dalam pikiranku hanya ada satu hal yang kucemaskan; Rhein.
Tapi ternyata segala usahaku sia-sia setelah melihat sosok yang berjarak sekitar lima meter di depanku itu adalah Rhein. Dia juga mematung ditempatnya. Dan tanpa kuteliti lagi aku sudah tau kenapa.
Di deretan bangku-bangku ruang tunggu sana, ada beberapa wajah-wajah asing yang masing-masing menenteng map coklat. Para pelamar lowongan kerja. Dan satu wajah langsung terkunci.
Benarkah itu Ken? dengungku bimbang.
Padahal tadi Gita jelas-jelas menegaskan dengan lembaran CV bertuliskan sebuah nama Duta Ardyanto.
Ya, Duta Ardyanto, bukan Ken Barata.
Tapi kenapa wajah itu sangat mirip? Tinggi tegapnya. Rahang kokohnya. Sinar matanya.
Saat perlahan Rhein melangkah, kakiku masih tak mampu bergerak meskipun hanya beringsut.
Harusnya aku melangkah secepat mungkin. Harusnya aku menarik tangan Rhein dan membawanya pergi dari sini. Harusnya aku menghalangi agar Rhein tak bertemu Duta Ardyanto itu. Harusnya, ya, harusnya. Bukan malah diam mematung disini.
"Pak, itu Bu Rhein... " Sebuah suara disampingku menyadarkanku akan ke-linglunganku.
Kutatap wajah sekretarisku, Diana. Semburat cemas itu seperti virus yang menyebar cepat dari pusatnya. Aku.
Rhein makin mendekat kumpulan para pelamar kerja itu. Dan duniaku seakan berhenti berotasi saat mata legam itu menatap Rhein.
Tuhan, egokah aku jika saat ini sangat memohon padaMU? Jangan turunkan keajaiban seperti dalam drama-drama itu. Tetap biarkan Duta Ardyanto itu menjadi Duta Ardyanto.
"Pak Azam... " gusar Diana tak sabar saat Rhein berhambur memeluk sosok tak tahu menahu apa yang sedang dihadapinya itu.
Semua mata di ruang lobby ini langsung mengamati adegan itu. Merekamnya dengan berbagai judul. Miris, jika tau kisah dibalik wajah korban pemelukan itu. Tapi juga memalukan, jika menganggap Rhein lain.
Aku pun akhirnya mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dan melangkah mendekati Rhein.
"Rhein, lepaskan dia!" Suaraku nyaris tertahan di tenggorokan. Kutarik lengan Rhein yang melingkar ke leher Duta.
"Zam, dia Ken, Zam..." rengek Rhein hendak kembali memeluk Duta yang sepertinya berangsur mendapatkan kesadarannya dari keterkejutan yang melandanya.
"Dia bukan Ken."
"Zam, lihat baik-baik! Dia Ken, dia Ken!" Rhein makin menggila dalam racauannya. Air matanya pun mulai meleleh. Membuatku kembali mematung.
Jangan menangis, Rhein. Itu membuatku kehilangan semua tenagaku.
Kutatap sosok yang tetap kebingungan dengan apa yang sedang menimpanya. Ya, hampir tak ada bedanya. Nyaris sama dengan Ken. Beda cara berpakaian saja. Tentu saja Ken jauh lebih parlente dan fasionable.
"Maaf, tapi nama saya Duta."
Satu kalimat itu sempat mengendurkan cengkeraman tangan Rhein pada lenganku.
Ya, sekarang terlihat satu perbedaan. Suara. Suara Duta sangat jauh berbeda dengan suara Ken yang selalu berwibawa.
"Iya, maaf, kami memang salah orang." Kutuntun Rhein untuk berbalik melangkah.
Tapi Rhein kembali berontak.
"Tidak, dia Ken. Suara, pasti pita suaranya rusak akibat kecelakaan itu, pasti... "
"Rhein, dengar, namanya Duta. Apa perlu aku tunjukkan CV-nya?" desisku mencoba meyakinkan
Rhein menggeleng, dan langkahnya merangsek mendekati Duta yang makin kebingungan.
"Tidak, Zam. Dia Ken, Zam. Dia kembali untukku, dia... "
Plaakk
Lalu sunyi.
Paling tidak untuk duniaku sendiri. Suara telapak tanganku yang menghantam pipi mulus Rhein tak kalah mengerikannya dengan gelombang tsunami di Aceh kala itu.
Cengkeraman tanganku pada lengan kirinya perlahan mengendur. Dan tanpa mampu kutahan, tubuh Rhein melemas. Jatuh terduduk. Lalu isaknya pecah.
Sebelah hatiku meretak mendengar isak itu.
Kuraih jemari Rhein dan menempatkan segelas teh hangat yang tadi kupesan pada Diana. Rhein tetap tak berkutik. Tetap seperti itu sejak insiden di lobby tadi. Hanya air matanya yang kadang masih meloloskan diri menetes dari sudut matanya. Meluncur turun membasahi pipinya.
"Benarkah dia bukan Ken?" Suara seraknya mengakhiri kebisuan di ruang kerjaku ini.
"Namanya Duta Ardyanto. Dia dari Malang. Dia juga punya keluarga."
Terdengar desahan panjang Rhein. Pandangan matanya tak berarah dan tak bermakna. Kosong. Hampa.
"Mungkin itu semacam doppelgangger." Langsung terdengar gelak tawa getir Rhein saat kalimatku itu meluncur.
Ya, itu hanya semacam doppelgangger. Mereka dua orang yang berbeda dan hanya kebetulan berwajah sama. Hanya itu. Bathinku menghibur diri.
"Apa ini hanya kebetulan?" tanyanya ragu.
Kuamati sebuah cincin yang melingkar manis di jari manis sebelah kiri Rhein.
Setelah berjuang selama hampir 50 bulan sejak kepergian dia. Setelah aku berhasil menyematkan cincin itu di jari manisnya dua bulan lalu, haruskah ada kebetulan yang menyesakkan ini?
"Kuantar kau pulang," kataku bangkit lebih dulu.
''Hmm, aku ke toilet dulu ya." Rhein bangkit dan melangkah ke arah toilet di sudut ruangan kerjaku.
Kupandangi punggung ramping itu sebelum benar-benar hilang ditelan pintu toilet. Lalu aku mendesah panjang. Kumasukkan kedua tanganku pada saku celana, kupejam mataku mencoba menguatkan apa yang tadi sempat kupercayai. Soal doppelgangger itu.
Mataku spontan terbuka saat pintu ruang kerjaku terdengar ketukan dari luar.
"Ya?"
Lalu pintu yang searah dengan tempatku berdiri itu terbuka. Refleks aku mundur selangkah saat menemukan wajah yang serupa seperti di ruang tunggu tadi. Mataku gelisah menatap pintu toilet. Dan makin bertambah saat pintu itu juga ikut terbuka.
Hening.
Sunyi.
Hanya enam pasang mata yang saling pandang dengan sinar yang kontras.
"Maaf, " ucap wajah mirip itu mengakhiri kebisuan, "saya hanya mau mengambil CV saya. Tak seharusnya saya ada disini." lanjutnya menghindari tatapanku dan tatapan Rhein yang berbeda.
Kaki Rhein beringsut pelan.
Jangan, Rhein. Dia bukan Ken. Sekalipun keajaiban mengatakan dia Ken, jangan! bathinku memelas.
Tapi langkah Rhein semakin mendekat.
"Kenapa kau mirip sekali dengan dia?'' tanya Rhein setelah jarak mereka sangat dekat.
Dan aku hanya mampu terpaku disini.
"Maaf."
Rhein tergelak getir. Amat getir hingga aku mampu merasakannya dalam versiku juga.
"Maaf, Pak, CV saya." lanjutnya mengingatkan permintaannya tadi.
Aku sedikit tergagap. Aku mengambil tumpukan CV yang ada di atas meja kerjaku.
"Maaf juga telah membuatmu bingung dengan semua ini." kataku sambil menyerahkan CV itu.
Dia mengangguk lemah dengan seulas senyum. Juga ada seringai anah pada bibir Rhein.
"Apa ini hanya kebetulan?" tanya Rhein sedikit sinis.
"Sayangnya saya tidak percaya kebetulan. Saya hanya percaya takdir." sanggahnya datar.
Rhein tergelak.
"Takdir?"
Takdir? Apakah juga takdir aku tak bisa memiliki Rhein sepenuhnya? Apa juga takdir bayang-bayang wajah itu akan selalu ada?
"Pemilihan kata yang unik. Aku menyukainya." tanggap Rhein, lalu tangannya terulur.
"Rhein, manager Public Relation disini." lanjutnya memperkenalkan diri.
Lalu darahku ikut berdesir saat ada sebuah senyum tercetak di bibir pria itu. Senyum yang mengingatkanku akan sosok yang kuyakini tak akan pernah kembali.
"Duta, Duta Ardyanto." Tangan kekar itu menyambut uluran tangan Rhein. Menghantam sisi tembok pertahananku yang selama ini kukira telah aman.
Masalahnya sekarang bukan doppelgangger lagi, tapi ini tentang takdir.
Rdb, 12.02.2016
Winarind@
Selasa, 09 Februari 2016
Nama : Ari [Endless]
Memasuki area kantin yang terlihat cukup lenggang, hanya beberapa meja yang terisi. Langkahku lebar menuju satu meja yang sejak tadi menjadi targetku. Airin. Marvel sedang bersamanya, ikut menyendoki semangkuk es krim. Dito dan Kris berdiri bersandar di tembok sedada pembatas gedung kantin. Seperti sibuk membahas sesuatu dalam smartphone mereka.
"Kita perlu bicara, Rin!" kataku datar tapi terkesan otoriter.
Marvel langsung mendongak meninggalkan sendokan es krimnya, begitu pun Dito dan Kris yang sepertinya juga penasaran dengan nada bicaraku. Tapi tidak Airin. Dia tetap terlihat tenang dan masih saja menikmati tiap sendokan es krimnya.
Mataku tak beralih sedikitpun pada wajah Airin yang sepertinya memang sengaja menghindari kontak mata langsung denganku. Marvel ikut memperhatikan Airin.
"Kalian bertengkar ya? Perasaan kemarin kalian udah kaya romeo juliet?" seloroh Marvel, seperti lebih ditujukan Airin yang seakan memasang aksi buta-tuli.
"Ayo kita bicara."
"Disini saja!" Akhirnya Airin membuka suara, meski tangannya masih sibuk menyendoki es krim di hadapannya.
Marvel mendesah pendek.
"Apa aku perlu pergi?"
"Ya, ada yang perlu kami bicarakan berdua," kataku melirik ke arah Marvel sekilas.
Tapi Marvel seperti enggan beranjak. Matanya seakan cemas memperhatikan setiap gerak Airin yang terkesan tak biasa.
Sejak kejadian kemarin malam Airin kembali seperti dulu. Masa-masa dimana dia belum menyerah. Masa-masa dimana tatapan nyalang masih terpatenkan untukku. Masa-masa dimana tak pernah ada senyum untukku.
"Ingat, jangan buat keributan. Kami tunggu disana," pamit Marvel.
Sepi, bahkan anggukan Airin pun tak ada.
"Apa ada yang salah?" tanyaku setelah kupastikan Marvel, Kris, dan Dito benar-benar menjauh dari meja kami.
"Aku yang salah."
"Kenapa kau yang salah?" kejarku
Airin menghentikan sendokan es krim-nya yang mulai lumer.
"Ada yang salah sejak dulu. Dulu, jauh sebelum kita bertemu." jawab Airin seperti menggumam keluar dari topik pembicaraan.
Airin kembali melahap sesendok es krim-nya.
''Karena kau terlahir sebagai anak biologis Ari Baskoro?" tebakku tepat sasaran.
Kulihat tangan Airin sedikit gemetar.
"Rin, dengar, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa memilih terlahir di keluarga mana. Itu adalah takdir."
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu apa? Apa salahnya kalo mereka ikut senang kalo kita dekat?"
Diam, Airin membeku dengan sesendok es krim ditangannya yang melumer.
"Ini seperti dia sedang menjualku." gumam Airin berat.
Aku tergelak.
Menjual? Apa itu tak terlalu kasar?
Airin menatapku. Matanya nanar, penuh luka yang selama ini tak pernah kuketahui. Itukah luka yang didapatnya dari Ari? Itukah yang membuatnya sempat membenciku hanya karena namaku Ari?
"Dia tau papamu bisa dijadikan tameng agar bisnisnya makin lancar. Dia orang yang ambisius. Dia bisa melakukan apapun. Apapun, Ri'. Termasuk menjualku seperti ini." ceracaunya serak. Matanya memburam.
Aku mendesah berat. Kuraih sendok ditangan Airin yang menggantung di udara. Es krim didalamnya meleleh 'bak tetesan air hujan. Kuletakkan sendok itu ke mangkok es krim di bawahnya.
Marvel, Kris, dan Dito yang berkumpul memperhatikan sejak tadi dalam jarak kurang dari 5 meter akhirnya bernafas lega dengan senyum lebar.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku melap tangan Airin yang sedikit basah, entah oleh keringat atau karena es krim.
"Lebih cepat, kita akhiri ini." Dingin suara Airin mengucapkan kalimat itu seraya menarik cepat tangannya yang terhimpit ke sepuluh jemariku.
Kutatap wajah yang tertunduk itu.
"Katakan sekali lagi dengan menatap mataku, Airin. Aku paling benci orang yang menghindari kontak mata denganku!" Emosiku mulai mencuat.
Kris yang hendak mendekat sepertinya lebih cepat dicegah oleh tangan Marvel.
Airin mendongak perlahan, menatapku dengan selaput bening di kedua retina matanya.
"Pergilah!" desah Airin lemah.
Emosiku menggelegar, Dengan kasar kusingkirkan mangkok es krim yang sejak tadi seperti menjadi jurang pemisah kami.
Pyaaarrr...
Mangkok es krim itu terjatuh ke lantai meninggalkan suara yang otomatis membuat semua mata mengarah ke meja ini. Aku bangkit menekan kepalan jemariku ke arah meja.
Sepi. Bahkan desah nafasku pun terdengar sangat jelas di telingaku.
"Kau, benar-benar orang teraneh di muka bumi ini!"
Beberapa derap langkah mendekat. Tak perlu kupastikan itu sudah pasti trio penjaga.
"Hei, gue sudah pesen jangan buat keributan," lerai Marvel mencoba merangkul pundakku, tapi segera kutepis kasar.
Keenam pasang mata itu kaget.
"Lu tuh kenapa sih, Ri'?" tanya Kris emosi.
"Tanya saja sama tuan putri lu!" Emosiku makin meluap karena Airin tetap membeku ditempatnya.
"Hei, bisa gak redam emosinya? Ini kantin, bro!"
Kuacuhkan nasihat Dito yang lebih bijak. Aku hendak melangkah, tapi urung dan menatap Airin lagi. Kini sudah ada Marvel merengkuh pundaknya.
"Yang lazim, hubungan berakhir karena tak disetujui, bukan sebaliknya." kataku lalu berbalik lagi dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Langkah Dito menyusul.
"Udah, gak usah peduli'in gue, urusin saja sana tuan putri kalian itu!" Kusingkirkan tangan Dito yang hendak mengentikan langkahku.
"Ini sebenarnya ada apa sih, Ri'? Aneh tau, tiba-tiba saja lu marah sampe sehebat itu sama Airin?"
"Kenapa lu tak tanya dia saja? Lu juga penasaran kan kenapa dia diam saja meski gue marah kaya gitu? Itu karena dia merasa bersalah! Dia akar masalah ini."
Dito diam, seperti bingung mencari kata-kata untuk disatukan menjadi sebuah pertanyaan lagi.
"Apes banget nasib gue, suka kok sama cewek aneh, " rutukku seperti mengomel sendiri.
"Apa ini ada kaitannya dengan ayahnya?" tanya Dito tak yakin.
Kutatap Dito seraya memikirkan sebuah kata. Alasan.
Lalu aku tergelak.
"Lu tuh ya, ditanyain gak malah dijawab malah cengengesan gak jelas."
"Sekarang gue baru nyadar, yang gue lakukan untuknya selama ini gak ada artinya sama sekali." Lalu aku melangkah pergi dengan sebongkah rasa sakit di relung-relung jantungku.
Dito mematung menatapku yang terus meninggalkan kantin kampus.
Aku tergelak dalam langkah tak berarahku.
Benar, yang lazim sebuah hubungan akan mengalami kesulitan saat tidak ada persetujuan dari pihak keliuarga. Tapi dalam kasusku justru harus di akhiri karena keduanya menyetujui. Pun karena ada udang dibalik batu, jika memang cinta apa itu perlu dipermasalahkan? Tentu saja seharusnya tidak, tapi ini...
Aku menghentikan langkahku di ujung balkon di lantai dua.
Semua ini berawal dari Ari, berlanjut karena Ari, dan hanya akan berakhir pada Ari.
Tapi mungkin Ari itu bukan aku.
Rdb, 09.02.2016
Winarind@
[Benar-benar] Berpisah
---[Benar-benar] Berpisah---
Kuhentikan kegiatanku sejak tadi yang terfokus membuangi benang sisa-sisa jahitan pada baju garapanku.
Sepi. Hanya irama air hujan yang turun dengan derasnya di luar sana. Kadang kala juga disertai hembusan angin yang mampu menusuk pori-pori kulit. Menghadirkan hawa dingin.
Sepi. Hanya irama air hujan yang turun dengan derasnya di luar sana. Kadang kala juga disertai hembusan angin yang mampu menusuk pori-pori kulit. Menghadirkan hawa dingin.
Di sofa sederhana tak jauh di belakangku terlihat Muthia sudah terlelap dalam dekapan tangan Lukas. Sejam lalu Lukas datang berkunjung lagi ke sini. Setelah lebih dari dua bulan kembali tanpa kabar sejak kemarahannya sore itu, pemuda itu kembali tiba-tiba muncul disini. Tapi kali ini bukan dengan kemarahan seperti waktu itu. Kali ini matanya begitu sayu, sarat dengan hal yang begitu riskan untuk kuterjemahkan.
Tapi belum sempat kucari tau semua itu, Muthia lebih dulu menguasai keadaan. Muthia memang dekat dengan Lukas, meski setahun belakangan ini sudah jarang berkunjung. Dan tadi, ketika dilihatnya Lukas yang mengucapkan salam, Muthia yang baru saja pulang dari mengaji langsung menyerbu Lukas dengan berbagai hal. Pada akhirnya Lukas memilih mengajaknya bermain game diponselnya.
Aku tersenyum melihat Lukas ternyata juga ikut ketiduran. Mungkin kecapekan karena perjalanan dari tempat tinggalnya ke sini ada sejam dengan mengendarai motor. Belum lagi sampai sini sudah mati-matian menanggapi segala bentuk ocehan Muthia.
Aku bangkit, kuambil selimut dan kuselimutkan pada tubuh Muthia sekaligus setengah badan Lukas. Senyumku kembali mengembang.
"Mbak," panggil Lukas sebelum aku genap membalikkan tubuh.
Mata Lukas perlahan terbuka. Sedikit memerah.
"Kalo capek tidur saja, gak apa-apa kok. Nanti kalo Muthia sudah benar-benar nyenyak tak pindahin ke dalam."
Lukas kembali menegakkan tubuhnya. Pelan-pelan ditariknya tangannya dari dekapan Muthia. Kini Muthia tidur di pangkuan Lukas.
"Ini pasti berat untuk kalian," gumamnya membelai kepala Muthia.
Aku mendesah panjang. Aku duduk di ujung sofa yang lain.
"Kalo aku bilang tidak, itu berarti bohong. Tapi mungkin ini yang disebut konsekuensi sebuah keputusan. Yang penting kami tetap bersama."
"Mbak," panggil Lukas sebelum aku genap membalikkan tubuh.
Mata Lukas perlahan terbuka. Sedikit memerah.
"Kalo capek tidur saja, gak apa-apa kok. Nanti kalo Muthia sudah benar-benar nyenyak tak pindahin ke dalam."
Lukas kembali menegakkan tubuhnya. Pelan-pelan ditariknya tangannya dari dekapan Muthia. Kini Muthia tidur di pangkuan Lukas.
"Ini pasti berat untuk kalian," gumamnya membelai kepala Muthia.
Aku mendesah panjang. Aku duduk di ujung sofa yang lain.
"Kalo aku bilang tidak, itu berarti bohong. Tapi mungkin ini yang disebut konsekuensi sebuah keputusan. Yang penting kami tetap bersama."
Berat. Sejak status baruku berlaku, secara langsung aku berusaha memeras keringat agar perjalanan hidup tak berhenti. Banyak hal yang harus dirombak. Terlebih pada diri Muthia. Untunglah gadisku yang baru menginjak 5 tahun itu cukup memahami keadaan. Mau mengerti jerih payah yang dilakukan ibunya biar bisa tetap bertahan hidup.
"Tapi makin lama semua akan semakin susah, Mbak. Kebutuhan Muthia akan semakin banyak dan mahal. Mbak Gin yakin peghasilan dari menjahit ini cukup?" tanya Lukas parau.
Aku tersenyum getir.
Entahlah. Aku bahkan sedikit malas memikirkan ini terlalu detail.
Aku tersenyum getir.
Entahlah. Aku bahkan sedikit malas memikirkan ini terlalu detail.
"Kalo gak pake duitku dulu Mbak, untuk mencukupi apa-apa yang sekarang ini belum tercukupi. Gak banyak sih, tapi... "
Ucapan Lukas terhenti saat mendengar tawa lirihku.
Ucapan Lukas terhenti saat mendengar tawa lirihku.
Aku bahagia sekali menemukan sosok penuh kasih itu kembali. Padahal di kunjungan yang sebelum ini dulu membuatku sempat yakin aku juga telah kehilangan sosok penuh kasih Lukas.
"Gak usah, Kas."
"Tapi Mbak, aku tau Mbak kekurangan."
"Cukup dan kurang itu relatif, Kas. Tergantung kita sendiri yang menentukan batasnya."
Lukas tetap mendesak dengan tatapan mata. Aku kembali mengulum senyum.
"Kebutuhanmu sendiri kan juga banyak, Kas. Bayar kontrakan, biaya check up mama kamu, belum kebutuhan lainnya. Kamu juga perlu nabung lho ya. Udah gede gitu, masa iya belum mikir nabung untuk nikah?" Kalimat terakhirku sengaja kuselingi senyum lebar.
Lukas tergelak lirih.
Lalu sepi beberapa menit. Rinai hujan yang masih deras mengungkung kebisuan ruang tengah rumah ini.
"Gak usah, Kas."
"Tapi Mbak, aku tau Mbak kekurangan."
"Cukup dan kurang itu relatif, Kas. Tergantung kita sendiri yang menentukan batasnya."
Lukas tetap mendesak dengan tatapan mata. Aku kembali mengulum senyum.
"Kebutuhanmu sendiri kan juga banyak, Kas. Bayar kontrakan, biaya check up mama kamu, belum kebutuhan lainnya. Kamu juga perlu nabung lho ya. Udah gede gitu, masa iya belum mikir nabung untuk nikah?" Kalimat terakhirku sengaja kuselingi senyum lebar.
Lukas tergelak lirih.
Lalu sepi beberapa menit. Rinai hujan yang masih deras mengungkung kebisuan ruang tengah rumah ini.
"Kemarin aku bertemu Baim lagi."
Aku terkesiap mendengar nama yang hampir terlupa beberapa minggu ini. Aromanya mampu menghadirkan dingin yang melebihi angin sore ini, lebih menusuk pori-pori kulitku.
Aku terkesiap mendengar nama yang hampir terlupa beberapa minggu ini. Aromanya mampu menghadirkan dingin yang melebihi angin sore ini, lebih menusuk pori-pori kulitku.
TIdak, dia bukan suamimu lagi, Gin!
"Oh,"
Hanya itu yang sempat kulontarkan sebagai tanggapan. Lalu mata Lukas menatapku aneh.
"Aku tak menyangka dia tega melakukan semua ini pada Mbak Gin dan Muthia." Kali ini kalimatnya terdengar sebagai deru penyesalan.
''Gak apa-apa, mungkin memang sudah takdirku dan Muthia harus terbang hanya dengan satu sayap." tanggapku mencoba mengurai kesedihan yang menyelimutinya.
"Mbak... "
Aku bangkit.
Aku tak mau memikirkan apapun yang masih jadi rahasia Illahi.
"Sini biar Muthia tak pindahin ke dalam." kataku
"Biar saja disini dulu, dia mungkin lebih nyaman tidur seperti ini." Lukas mencoba melarangku, matanya lekat menatap Muthia yang memang terlihat begitu damai dalam belaian tangannya.
Hanya itu yang sempat kulontarkan sebagai tanggapan. Lalu mata Lukas menatapku aneh.
"Aku tak menyangka dia tega melakukan semua ini pada Mbak Gin dan Muthia." Kali ini kalimatnya terdengar sebagai deru penyesalan.
''Gak apa-apa, mungkin memang sudah takdirku dan Muthia harus terbang hanya dengan satu sayap." tanggapku mencoba mengurai kesedihan yang menyelimutinya.
"Mbak... "
Aku bangkit.
Aku tak mau memikirkan apapun yang masih jadi rahasia Illahi.
"Sini biar Muthia tak pindahin ke dalam." kataku
"Biar saja disini dulu, dia mungkin lebih nyaman tidur seperti ini." Lukas mencoba melarangku, matanya lekat menatap Muthia yang memang terlihat begitu damai dalam belaian tangannya.
Aku terdiam. Salah tingkah harus bagaimana.
Lukas, terimakasih.
Sebelah sayap itu mungkin memang telah patah, tapi berkat semua kasihmu, meski hanya seperti ini cukup menguatkan aku.
Lukas, terimakasih.
Sebelah sayap itu mungkin memang telah patah, tapi berkat semua kasihmu, meski hanya seperti ini cukup menguatkan aku.
Lukas, andai kamu bukan Lukas dengan segala identitas yang ada. Andai aku bukan dengan identitas ini. Andai...
Yah, hanya andai.
Dan dalam dunia andai, keajaiban Illahi-lah yang berjalan.
Yah, hanya andai.
Dan dalam dunia andai, keajaiban Illahi-lah yang berjalan.
Rdb, 31.01.2016
Winarind@
Winarind@
Berpisah
Berpisah
"Apa itu benar, Mbak?" tanya Lukas yang baru datang berkunjung ke rumah sederhanaku.
Bahkan helm di kepalanya pun belum sepenuhnya terlepas. Bahkan kakinya pun belum sepenuhnya melewati pintu rumahku yang sejak tadi terbuka setengah.
Bahkan helm di kepalanya pun belum sepenuhnya terlepas. Bahkan kakinya pun belum sepenuhnya melewati pintu rumahku yang sejak tadi terbuka setengah.
Kutatap wajah oriental yang sudah akrab denganku sejak 7 tahun lalu itu. Yang sudah menjelma seperti adik ipar bagiku. Lukas dulu pernah menjadi rekan kerja mas Baim sebelum akhirnya dia keluar saat lebih fokus mengurusi masalah keluarga besarnya.
Mau tak mau aku menghentikan pijakan pedal dinamo mesin jahitku. Senyumku mengembang samar.
"Kamu nih, Kas, berminggu-minggu gak ada khabar sekarang datang-datang malah kaya depkolektor nagih utang. Gak ada salam, gak ada... "
"Apa benar yang dikatakan mas Baim?" tanyanya lugas, dengan tatapan mata tajam.
Aku menahan nafasku sebentar saat mendengar nama mas Baim disebut Lukas.
"Ketemu mas Baim dimana?" tanyaku perlahan, menahan perih yang tiba-tiba menohok ulu hatiku. Sakit.
Lukas mendengus jengkel. Matanya yang tadi menatapku tajam kini berubah nyalang.
"Mbak Gin mau menghindar ya? Kenapa sejak tadi pertanyaanku tak dijawab? Benar, Mbak Gin gak mau diajak rukun lagi sama mas Baim?" Suara Lukas sudah setengah memekak.
Aku menunduk menghindari kilatan sinar mata yang biasanya menatapku lembut dan penuh kasih.
Dalam tunduk wajahku, aku tersenyum getir.
"Tadi aku bertemu mas Baim dijalan, katanya mau ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian kalian. Dan mas Baim bilang Mbak Gin gak mau diajak mencoba lagi, dan memilih jalan cerai, benar?!"
Mau tak mau aku menghentikan pijakan pedal dinamo mesin jahitku. Senyumku mengembang samar.
"Kamu nih, Kas, berminggu-minggu gak ada khabar sekarang datang-datang malah kaya depkolektor nagih utang. Gak ada salam, gak ada... "
"Apa benar yang dikatakan mas Baim?" tanyanya lugas, dengan tatapan mata tajam.
Aku menahan nafasku sebentar saat mendengar nama mas Baim disebut Lukas.
"Ketemu mas Baim dimana?" tanyaku perlahan, menahan perih yang tiba-tiba menohok ulu hatiku. Sakit.
Lukas mendengus jengkel. Matanya yang tadi menatapku tajam kini berubah nyalang.
"Mbak Gin mau menghindar ya? Kenapa sejak tadi pertanyaanku tak dijawab? Benar, Mbak Gin gak mau diajak rukun lagi sama mas Baim?" Suara Lukas sudah setengah memekak.
Aku menunduk menghindari kilatan sinar mata yang biasanya menatapku lembut dan penuh kasih.
Dalam tunduk wajahku, aku tersenyum getir.
"Tadi aku bertemu mas Baim dijalan, katanya mau ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian kalian. Dan mas Baim bilang Mbak Gin gak mau diajak mencoba lagi, dan memilih jalan cerai, benar?!"
Aku hanya mampu menggigit bibir bawahku pelan sambil beristigfar dalam hati.
Rumah tanggaku sejak setahun lalu memang mulai diujung tanduk. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku tau cinta antar manusia itu ada ujungnya. Bahkan sebelum mencapai titik ujung itu pasti sudah terhinggap rasa bosan. Dan itulah yang terjadi.
"Aku sudah tak tahan bersamamu, Gin!" dengus mas Baim kala itu. Bahkan kala itu dia belum melepas sepatu kerjanya.
Muthia yang sedang kupangku kubisiki untuk membeli cup cake di warung sebelah. Muthia pun menurut pergi setelah kuberikan selembar uang dua ribuan.
"Kita cerai saja, sepertinya hanya itu jalan satu-satunya. Kalau kamu nurut maka Muthia akan kuatur bersamamu. Tapi jika kamu mempersulit, maka aku bisa mengambil Muthia."
Rumah tanggaku sejak setahun lalu memang mulai diujung tanduk. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku tau cinta antar manusia itu ada ujungnya. Bahkan sebelum mencapai titik ujung itu pasti sudah terhinggap rasa bosan. Dan itulah yang terjadi.
"Aku sudah tak tahan bersamamu, Gin!" dengus mas Baim kala itu. Bahkan kala itu dia belum melepas sepatu kerjanya.
Muthia yang sedang kupangku kubisiki untuk membeli cup cake di warung sebelah. Muthia pun menurut pergi setelah kuberikan selembar uang dua ribuan.
"Kita cerai saja, sepertinya hanya itu jalan satu-satunya. Kalau kamu nurut maka Muthia akan kuatur bersamamu. Tapi jika kamu mempersulit, maka aku bisa mengambil Muthia."
Aku mendesah. Pertengkaran nyata itu masih tercetak jelas di otakku. Hanya sayangnya aku tak bisa membagi keaslian kejadian itu pada orang lain. Bahkan pada Lukas sekalipun.
"Mbak, kenapa?" Kali ini suara Lukas seperti memelas. "Kalian lupa perjuangan cinta kalian? Atau kalian sudah tak menganggap penting semuanya? Bahkan Muthia?"
Tidak, justru semua ini demi Muthia, Kas.
Aku mendesah berat.
"Maafin Mbak, Kas. Tapi kita memang sudah tak ada lagi cinta."
Lukas tergelak sinis. Entah menertawakan ucapanku tadi, atau entah karena menahan amarahnya yang meledak-ledak.
"Kalian ABG ya? Tidak, kan? Lalu kenapa menyebut nama cinta di acara mempertahankan sebuah komitmen?" geram Lukas menggeretakkan giginya.
Aku mendesah berat.
"Maafin Mbak, Kas. Tapi kita memang sudah tak ada lagi cinta."
Lukas tergelak sinis. Entah menertawakan ucapanku tadi, atau entah karena menahan amarahnya yang meledak-ledak.
"Kalian ABG ya? Tidak, kan? Lalu kenapa menyebut nama cinta di acara mempertahankan sebuah komitmen?" geram Lukas menggeretakkan giginya.
Komitmen?
Kata itu terlalu ambigu untukku.
Di satu sisi itu adalah ikhrar sehidup semati yang fenomenal. Tapi di sisi lain itu hanyalah scene yang paling ditunggu Muthia. Saat penjual bubur ayam lewat.
Kata itu terlalu ambigu untukku.
Di satu sisi itu adalah ikhrar sehidup semati yang fenomenal. Tapi di sisi lain itu hanyalah scene yang paling ditunggu Muthia. Saat penjual bubur ayam lewat.
Kuputuskan untuk kembali menginjak pedal dinamo mesin jahitku.
"Kalian ini sebenarnya ada masalah apa?"
Kuhentikan lagi pijakan pedal dinamo, tapi sedetik kemudian aku kembali menjahit.
Semakin sedikit orang tau akan semakin berkurang pula sakitnya luka ini.
Aku memilih diam.
"Kalian ini sebenarnya ada masalah apa?"
Kuhentikan lagi pijakan pedal dinamo, tapi sedetik kemudian aku kembali menjahit.
Semakin sedikit orang tau akan semakin berkurang pula sakitnya luka ini.
Aku memilih diam.
Rdb, 28.01.2016
Winarind@
Winarind@
Saranghae
Saranghae
"Agashi mana lagi ini?"
Aku sempat kaget mendengar teguran yang sudah terbilang kasar itu. Apalagi saat menemukan pelaku penegur ternyata seorang gadis berseragam putih-biru dengan tampang sedikit tomboi. Rambut boleh panjang melebihi bahu, rok boleh mini, tapi gelang yang mungkin ada selusin jumlahnya menghiasi pergelangan tangan kirinya juga anting tindik di kedua kupingnya sudah membuatku tahu tanpa bertanya dia bukan gadis biasa.
Aku sempat kaget mendengar teguran yang sudah terbilang kasar itu. Apalagi saat menemukan pelaku penegur ternyata seorang gadis berseragam putih-biru dengan tampang sedikit tomboi. Rambut boleh panjang melebihi bahu, rok boleh mini, tapi gelang yang mungkin ada selusin jumlahnya menghiasi pergelangan tangan kirinya juga anting tindik di kedua kupingnya sudah membuatku tahu tanpa bertanya dia bukan gadis biasa.
"Pacar oppa" jawab Chen datar, seperti lebih menikmati semangkok kue beras yang baru saja dibuatnya setiba di rumah.
Gadis itu tergelak tak percaya.
"Pacar sehari?"
Aku terhenyak dengan istilah yang baru disebutkannya tadi.
"Atau pacar seminggu? Tapi gak mungkin kan pacar sampe mati?" lanjut gadis itu tetap sinis.
Gadis itu tergelak tak percaya.
"Pacar sehari?"
Aku terhenyak dengan istilah yang baru disebutkannya tadi.
"Atau pacar seminggu? Tapi gak mungkin kan pacar sampe mati?" lanjut gadis itu tetap sinis.
Chen akhirnya meninggalkan acara makannya,mendongak menatap gadis itu lembut. Sangat lembut hingga aku sempat cemburu. Bahkan denganku pun jarang menatapku begitu.
"Dia pacar oppa, namanya... "
"Aku gak perlu tau namanya, sini, mana dompetmu?" selanya congkak, menadahkan sebelah tangannya.
Dahiku mengernyit.
Apa-apaan ini? Chen membiarkan seorang anak SMP menyerahkan dompetnya?
"Dia pacar oppa, namanya... "
"Aku gak perlu tau namanya, sini, mana dompetmu?" selanya congkak, menadahkan sebelah tangannya.
Dahiku mengernyit.
Apa-apaan ini? Chen membiarkan seorang anak SMP menyerahkan dompetnya?
Gadis itu menerima dompet tebal itu dengan raut muka datar. Membuka dan merogoh isinya sembarangan. Tapi menurut perkiraanku lebih dari sepuluh lembar. Setelah itu diletakkan begitu saja di meja.
"Jangan dipakai untuk yang aneh-aneh," ujar Chen sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya untuk pergi.
"Bukankah di dunia ini semua memang sudah aneh?" sungutnya lalu berlalu pergi.
"Jangan dipakai untuk yang aneh-aneh," ujar Chen sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya untuk pergi.
"Bukankah di dunia ini semua memang sudah aneh?" sungutnya lalu berlalu pergi.
Aku masih melongo mengamati setiap adegan tadi. Bahkan sampai gadis itu menghilang di balik pintu.
"Dia Cha In Ra," kata Chen seperti tau tanda tanya di kepalaku.
In Ra? Apa ada hubungannnya dengan In Ha?
Kutatap Chen lekat.
"Ya, dia dongsaengnya In Ha." lanjutnya menjelaskan lebih rinci.
Seluruh sendiku seperti luruh.
Pantas Chen bersikap seperti itu.
Aku cukup tau luka dengan label nama Cha In Ha. Meski aku termasuk orang baru untuk dunia Chen sendiri. Siapalah aku dibanding sang permaisuri hati itu. Tak ada apa-apanya.
"Dia Cha In Ra," kata Chen seperti tau tanda tanya di kepalaku.
In Ra? Apa ada hubungannnya dengan In Ha?
Kutatap Chen lekat.
"Ya, dia dongsaengnya In Ha." lanjutnya menjelaskan lebih rinci.
Seluruh sendiku seperti luruh.
Pantas Chen bersikap seperti itu.
Aku cukup tau luka dengan label nama Cha In Ha. Meski aku termasuk orang baru untuk dunia Chen sendiri. Siapalah aku dibanding sang permaisuri hati itu. Tak ada apa-apanya.
"Yak! Kenapa malah bengong?" kejutnya lirih membuatku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
Sampai kapanpun aku mungkin memang tak bisa menggantikan posisi Cha In Ha. Tapi, aku terlalu mencintai Chen. Mungkin inilah yang dimaksud Nun meun sarang. Cinta buta.
Sampai kapanpun aku mungkin memang tak bisa menggantikan posisi Cha In Ha. Tapi, aku terlalu mencintai Chen. Mungkin inilah yang dimaksud Nun meun sarang. Cinta buta.
Aku sedikit kaget saat menyadari jemari Chen merengkuh tanganku. Aku sontak menatapnya meski dengan kelopak mata yang memburam.
"Bo Na, kelak bisa kan kau jadi eonni untuk In Ra? Dia gadis yang malang. Satu-satunya keluarganya sudah kurebut dari sisinya... "
"Tapi itu kecelakaan, Chen!" sergahku tak rela dia mempatenkan diri bahwa dialah yang bertanggungjawab penuh atas kematian In Ha.
"Bo Na, kelak bisa kan kau jadi eonni untuk In Ra? Dia gadis yang malang. Satu-satunya keluarganya sudah kurebut dari sisinya... "
"Tapi itu kecelakaan, Chen!" sergahku tak rela dia mempatenkan diri bahwa dialah yang bertanggungjawab penuh atas kematian In Ha.
Chen menguatkan genggamannya, matanya...
Eomma... lihat mata indah itu! Mata indah itu begitu lembut menatapku. Jauh lebih lembut dari kelopak bunga sakura.
"Menjaga In Ra membuatku bisa mengurangi sesak nafas itu. Jadi aku mohon, maklumi jika In Ra bersikap seperti tadi."
Wajah Chen menunduk sebentar.
"Kuharap kau bisa berteman dengannya, atau kalo bisa jadi eonni-nya," lanjutnya lebih seperti sedikit memaksa.
"Kenapa gak sekalian jadi ibu tirinya?" sungutku pura-pura.
Mata Chen mendelik disertai tawa sekilas.
"Jangan, ibu tiri itu kesannya kejam."
Aku yang gantian tergelak.
"Arasseo, arasseo... " ujarku disela gelak tawaku yang belum sepenuhnya hilang.
Eomma... lihat mata indah itu! Mata indah itu begitu lembut menatapku. Jauh lebih lembut dari kelopak bunga sakura.
"Menjaga In Ra membuatku bisa mengurangi sesak nafas itu. Jadi aku mohon, maklumi jika In Ra bersikap seperti tadi."
Wajah Chen menunduk sebentar.
"Kuharap kau bisa berteman dengannya, atau kalo bisa jadi eonni-nya," lanjutnya lebih seperti sedikit memaksa.
"Kenapa gak sekalian jadi ibu tirinya?" sungutku pura-pura.
Mata Chen mendelik disertai tawa sekilas.
"Jangan, ibu tiri itu kesannya kejam."
Aku yang gantian tergelak.
"Arasseo, arasseo... " ujarku disela gelak tawaku yang belum sepenuhnya hilang.
Tak sadar kalau mata indah itu tetap menatapku seperti tadi. Membuat hatiku makin melumer. Lalu samar kudengar dari gerakan bibirnya yang santun mengucapkan sebuah kata 'gomapda'.
Rdb, 01.02.2016
Winarind@
Winarind@
Chagiya... [chapter 1]
Chagiya... [chapter 1]
Aku melongok ke arah wajah Kyungsoo yang seperti kosong tanpa jiwa, sedang merebahkan kepalanya di atas bantal Hello Kitty hadiah darinya beberapa minggu lalu.
"Waeyo?" tanyaku, lalu duduk disebelah bantal dengan sepiring sambal tahu yang memang sejak kedatangannya tadi sibuk ku eksekusi dan mengacuhkannya di sini.
"Aku merasa aneh memainkan peran Han Kangwoo," jawabnya, pun tanpa mengubah posisinya.
Kuhentikan kunyahan sepotong tahu dalam baluran sambal kacang campur kecap, salah satu makanan khas Indonesia. Beginilah akhirnya kalo lagi homesick sama negaraku. Kulampiaskan dengan memasak makanan yang masih bisa kujangkau dengan bahan-bahan yang tersedia disini.
Setahun lalu seperti takdir tiba-tiba aku harus berada di negeri boy band ini. Awalnya aku mengira sebuah kemalangan. Nasib buruk. Aku tertinggal rombongan sebuah liburan gratis sebuah produk iklan kala itu. Naasnya tas kecilku hanya berisi dompet dengan beberapa lembar ribuan mata uang won dan Kartu penduduk. Indonesia tentunya.
Dalam kekalutanku yang bahkan ponsel terjatuh ke wastafel, aku bertemu dia. Ya, dia, Do Kyungsoo.
Dalam kekalutanku yang bahkan ponsel terjatuh ke wastafel, aku bertemu dia. Ya, dia, Do Kyungsoo.
Kala itu awalnya dia seperti tak peduli dengan keadaanku tapi lama-lama mendekatiku yang duduk menekuk lutut di anak tangga pintu masuk sebuah kuil yang bahkan aku tak hafal namanya.
Dan akhirnya disinilah aku kemudian.
Kyungsoo oppa memberiku sebuah apartemen kecil untuk tempat berteduhku. Dari artikel yang sering kubaca, Kyungsoo oppa sering 'dicap' sebagai orang yang sangat perhatian meski tak banyak bicara. Dan itu memang benar.
Kyungsoo oppa memberiku sebuah apartemen kecil untuk tempat berteduhku. Dari artikel yang sering kubaca, Kyungsoo oppa sering 'dicap' sebagai orang yang sangat perhatian meski tak banyak bicara. Dan itu memang benar.
Setiap berkunjung ke sini, bisa dibilang dia hanya numpang tidur. Atau sesekali memasakkanku beberapa makanan yang dikiranya cocok dengan lidah indonesiaku, meski sebenarnya tidak juga.
Pertanyaannya, apa kami pacaran?
Entahlah, aku kadang juga nyaris ingin bertanya dengan nyanyiannya Armada band "Mau Dibawa Kemana", tapi pasti dia malah minta diterjemaahkan ke bahasa korea. Dan itu malah akan merepotkanku dua kali.
Entahlah, aku kadang juga nyaris ingin bertanya dengan nyanyiannya Armada band "Mau Dibawa Kemana", tapi pasti dia malah minta diterjemaahkan ke bahasa korea. Dan itu malah akan merepotkanku dua kali.
"Gendhis," panggilnya, tetap dengan posisi tadi.
"Hmm." Aku juga tak berhenti menikmati sambal tahu-ku yang tau-tau tinggal separo.
"Kau pindah kewarganegaraan saja."
"Hmm." Aku juga tak berhenti menikmati sambal tahu-ku yang tau-tau tinggal separo.
"Kau pindah kewarganegaraan saja."
Glontaaannggg...
Sendok yang hampir masuk ke mulutku akhirnya terjatuh bersama sepotong tahu dan sambal setengahnya. Kyungsoo langsung bangkit.
"Kau ini, kenapa membuat kotor karpetnya? Bukannya kau bilang baru kau cuci kemarin?" cerocosnya karena meskipun pada akhirnya sendok yang jatuh tadi terlempar ke lantai, tapi tahu dan beberapa bercak sambal berwarna pekat itu mengotori karpet bulu warna putih.
Diambilnya tissu dan dilapnya.
Diambilnya tissu dan dilapnya.
Tadi dia bilang apa? Pindah kewarganegaraan? Maksudnya aku menjadi warga negara Korea, dan bukan lagi warga negara Indonesia seperti yang tercantum dalam KTP yag masih rapi kusimpan layaknya harta paling berharga?
Saat sadar, baru kusadari mata bulat kelereng itu menatapku.
"Wae?" Kali ini Kyungsoo oppa yang heran dengan mimik mukaku.
"Tentang pindah kewarganegaraan itu... "
"Shiro?"
"Bukan begitu, tapi... " Suaraku mengambang, tak mampu kuselesaikan.
Kyungsoo oppa membenarkan posisi tubuhnya, menghadap penuh ke arahku yang terpaku seperti patung yang sedang memegang sebuah piring.
Tapi kemudian dia mengambil piring sambal tahu-ku, dan menaruhnya sedikit menjauh. Lalu ke sepuluh jemarinya merengkuh ke sepuluh jariku. Aku menatapnya tak mengerti.
Tapi kemudian dia mengambil piring sambal tahu-ku, dan menaruhnya sedikit menjauh. Lalu ke sepuluh jemarinya merengkuh ke sepuluh jariku. Aku menatapnya tak mengerti.
"Gendhis, aku tak menyuruhmu menjadi pengkhianat bangsa dengan pindah kewarganegaraan. Mmm... geureu, memang kesannya kaya mengkhianati negara sih, tapi... "
Jantungku berdegup kencang, aliran darahku berdesir 2 kali dari normalnya. Ke sepuluh jemari putih mulus yang cukup kontras dengan kulit gelapku itu mengeratkan genggamannya.
"Saat berperan menjadi Han Kangwoo yang ternyata hanya sosok halusinasi, aku selalu memikirkanmu."
"Na?" Kukerutkan dahiku.
"Selama ini kau lebih seperti halusinasi, kau selalu bersembunyi karena kau tak punya identitas diri yang bisa kau tunjukkan pada pihak berwajib."
"Aku punya KTP," sahutku lantang, bibir Kyungsoo oppa langsung mengerucut. "Oh ya, itu tak ada gunanya disini ya?" lanjutku linglung, tapi tak bisa mengekspresikannya dengan garuk-garuk kepala karena kedua tanganku masih dalam genggamannya.
"Aku ingin di waktu-waktu senggang begini mengajakmu keluar. Jalan-jalan, nonton bioskop, makan di restoran, atau malah berkumpul bersama teman-teman yang lain. Aku ingin menunjukkan pada dunia tentang keberadaanmu, Gendhis."
Aku tersenyum hambar.
"Bagiku kau nyata. Tapi bagi orang lain kau tak ada. Aku tak mau kau seperti Han Kangwoo yang kuperankan."
Kumiringkan kepalaku. Baby face itu seperti setengah merajuk. Aku tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan jelas.
"Oppa, gumawo." kataku masiih dengan seulas senyum untuknya
Jumat, 05 Februari 2016
Cintaku Sebesar Cintamu Untuknya
"Ri On-ah!!'
Terdengar suara dari balik pintu kamarku. Ketukan tak beraturan membisingkan telingaku. Memecah langsung konsentrasiku pada layar laptop.
"Panggil aku oppa, Yeoja nakal!" geramku tetap tak bergeming membukakan pintu. Meski konsentrasiku sudah benar-benar buyar.
"Oppa... "
Panggilan itu menghentikan gerakan jemariku di atas keyboard laptop di depanku. Aku menoleh. Seraut wajah manis menyembul dari balik pintu kamarku. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Pertanda dia sangat bahagia.
"Hmm... " tanggapku seadanya, lalu mengembalikan posisi tubuhku seperti semula, juga posisi jemariku.
Namanya Ri Jin. Dia... dalam kartu keluarga kami dia punya tanggal lahir yang sama persis denganku. Tanggal, bulan, tahun. Bahkan kalo saja kartu keluarga juga mencantumkan jam kelahiran, pasti juga sama. Dia saudara kembarku. Itu yang ditegaskan omma dan appa padaku sejak aku berumur 7 tahun.
"Ri On-ah, ini Ri Jin. Mulai sekarang dia saudara kembarmu!" ucap omma kala itu, mirip sebuah ultimatum seorang jenderal besar pada prajurit perang berpangkat paling rendah.
Pikirku, kok tiba-tiba aku punya saudara kembar? Padahal yang kutau aku ini anak tunggal di keluarga Oh. Wahh... ada yang tak beres nih.
Sejak awal aku bukannya menolak kehadiran yeoja manis yang sangat penakut itu. Tapi mungkin karena memang sejak kecil aku sudah teralir darah investigator, aku pun makin skeptis. Apapun yang membuatku curiga akan kuselidiki sampai tuntas.
Makin lama kecurigaanku makin bertambah. Aku menyelidikinya tanpa henti. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan omma, appa, bahkan Ri Jin sendiri.
Dan setahun lalu, semua terungkap. Oh Ri Jin memang bukan saudara kandungku, apalagi saudara kembarku. Dia putri seorang presiden direktur Min Seo Yoon dari grup Seung Jin, yang meninggal akibat kecelakaan mobil bersama pemilik grup Seung Jin, Cha Gun Ho. Dan dari situlah terungkap juga tentang phobia Ri Jin pada basement. Sekaligus, itu juga yang mempertemukan Ri Jin pada cinta sejatinya, Cha Do Hyun.
"Ri On-ah... "
Lagi.
Yeoja satu ini benar-benar tak bisa diatur.
Kedua tangan Ri Jin melingkar ke leherku. Degup jantungku langsung berpacu 2 kali lipat. Tapi aku pura-pura fokus memperhatikan tulisanku.
"Aku dilamar." katanya tepat dibelakang telingaku, seraya menunjukkan sebuah cincin bermotif sederhana dijari manis kirinya.
Sedetik aku terpaku menatap kilauan cincin emas itu. Seperti kilauan mata Cha Do Hyun.
Aku tersenyum detik kedua.
"Mana namja itu... " geramku di detik ketiga.
Buru-buru Ri Jin menjauhkan tangannya dari leherku. Aku bangkit.
"Berani-beraninya melamar dongsaengku tanpa minta ijin dulu padaku!" lanjutku tetap geram, meski pura-pura.
Kusisingkan lengan baju hangatku, saat berbalik langsung saja kutemukan sosok Do Hyun bersender dengan santainya di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya ke dada. Senyum tipis khas Cha Do Hyun terukir disana.
"Yak, Cha Do Hyun-ssi!" seruku berkacak pinggang.
Bukkk
Cenuutt...
Kepalaku sedikit berdenyut akibat benturan dengan benda keras.
''Yak, Oh Ri On-ssi! Jangan bersikap tak sopan dengan tamu!" Kali ini Ri Jin memelototiku dengan sebuah buku besar ditangannya. Biang kerok pembuat kepalaku sedikit terhuyung.
"Yak, yeoja nakal! Panggil aku oppa, aku ini oppa-mu. Kau lupa appa selalu mengingatkanmu memanggilku oppa?" Gantian aku yang memelototi.
Lalu senyum lebar tercetak di bibir psikolog itu.
"Hyungnim... "
"Jangan panggil aku hyungnim, aku belum memberimu ijin melamar Ri Jin kami!" selaku cepat.
Ri jin melongok ke arah wajahku yang memang kupasang segarang mungkin. Untuk urusan wajah drama akulah ahlinya, Mungkin itulah yang membuatku menjadi penulis misterius bernama pena Omega.
"Apa kau juga ingin Do Hyun-ah memanggilmu oppa??"
Aku melengak ke arah Ri Jin yang tersenyum jahil.
Langsung saja ingatanku menuju kenangan tak terlupakan saat bersama Yoo Na. Salah satu kepribadian Cha Do Hyun selain Sin She Gi, Ferry Park, Ahn Yoo Sub, Nana, dan Mr. X. Masalahnya, Yoo Na itu yeoja yang selalu genit dengan semua namja.
"Oppa... "
Benar-benar mimpi buruk mendengar gaya bicara centil itu, apalagi saat Do Hyun malah menambahi dengan menempatkan kedua tangannya ke dagu. Benar-benar aegyo khas Yoo Na.
"Omma... " teriakku histeris.
"Ri Jin-ah, jangan ganggu Oppa-mu, cepat sini, bantu Omma!" teriakan omma dari bawah membalas.
"Ne!" sahut Ri Jin melangkah ke arah pintu."kalian aku tinggal dulu ya?!"
Ri Jin mendorong pelan tubuh Cha Do Hyun untuk masuk ke dalam. Senyum Cha Do Hyun masih intens. Bahkan ketika Ri Jin menutup pintu kamar dengan cepat.
"Yak, Ri Jin-ah... "
Ri Jin malah terbahak dan hilang dibalik pintu.
Aku mendesah setelah semua kembali sepi. Lamat-lamat di bawah sana terdengar suara Ri Jin yang ramai bercengkerama dengan Omma.
"Selamat," Singkat saja kuucapkan 1 kata itu. Pun begitu, dadaku sudah cukup sakit.
"Hyungnim benar-benar merestui kami?" tanyanya melebarkan matanya.
Aku tergelak "Mau bagaimana lagi, Ri Jin-ah sangat mencintaimu, matanya hanya melihat ke arahmu. Cinta kalian sudah menjadi ketetapan takdir."
Kali ini benar-benar sakit menjabarkan puluhan kata itu.
Tapi memang kenyataannya seperti itu. Tak bisa diubah sekalipun aku pernah mencobanya. Oh Ri Jin dan Cha Do Hyun memang sudah ditakdirkan bersama sejak mereka masih kecil. Ditakdirkan membagi kesedihan masa kecil. Ditakdirkan menanggung trauma masa kecil. Dan akhirnya ditakdirkan kembali bertemu untuk saling menyembuhkan luka dari masa kecil.
Dan aku hanya ditakdirkan sebagai oppa-nya. Orang yang menyayanginya. Dan ditakdirkan tak diketahui bahwa aku menyayanginya bukan sebagai saudara. Hanya Shin Se Gi yang tau itu.
Cha Do Hyun menatapku dengan senyum. Dahiku berkerut.
"Wae?" tanyaku takut.
"Hyungnim, terimakasih telah menyayangi Ri Jin-ah selama ini. Dia bisa seperti itu berkat kau dan kalian semua. "
Aku mengamati Cha Do Hyun seksama.
"Kau membuatku takut." Lalu aku melangkah keluar kamar. Sempat kudengar Cha Do Hyun tergelak.
Langkahku lebar menuju ke dapur tempat Omma dan Ri Jin sedang sibuk memotong sayur dan buah.
"Omma... " rajukku manja memeluk wanita kesayanganku itu dari belakang. Kusenderkan daguku ke bahunya.
Sempat kulihat Ri Jin menatapku dengan senyum, sebelum terhenti akan kedatangan Cha Do Hyun yang langsung duduk disebelahnya.
"Akhirnya kau mau keluar juga. Sudah membunuh berapa orang hari ini?" tanya Omma enteng sambil menyodorkan sepotong apel ke arah mulutku. Kulahap dengan tanpa mengubah posisiku.
"Hampir tiga orang, sayang keburu pengganggu datang."
Ri Jin langsung tergelak, merasa tersindir.
Terdengar omma mendesah berat.
"Omma dulu khawatir dengan kalian berdua. Yang satu takut celaka karena orang-orang gila, satunya lagi takut gila karena mencelakai orang-orang ciptaannya. "
Ri Jin tersenyum mendengar keluhan Omma.
"Tapi sekarang Omma sudah tak khawatir dengan Ri Jin-ah karena ada Do Hyun-ah. Omma sekarang mengkhawatirkanmu, Ri On-ah... "
Kueratkan pelukanku tanpa mempedulikan keluhan Omma.
"Tiap hari selalu membunuh orang, apa kau mau jadi penerus Agatha Christie?"
Kukecup pipi Omma, berharap itu bisa menghentikan keluhan Omma yang tak masuk akal. Tapi mungkin memang masuk akal,karena ujung-ujungnya Omma akan menanyakan 'kapan aku memperkenalkan seorang gadis padanya'.
Mianhamnida Omma, terlalu lama cinta ini hanya melihat gadis cerdas nan baik hati itu. Mungkin karena itulah aku terlalu sulit memindahkannya ke arah lain.
Mataku mengekor ke arah Ri Jin dan Do Hyun yang ternyata lebih banyak melahap potongan buah di depannya, daripada ditusukkan.
"Omo, Omma, lihat!" pekikku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Jari telunjukku tepat menghunus ke arah dua sejoli itu yang kebetulan sedang sama-sama melahap potongan buah.
Dalam hati aku tertawa keras, tapi kutahan. Action dimulai.
"Yak! Kalian bukannya membantu malah menghabiskannya sendiri?" Spontan suara Omma melengking.
Bagai para pencuri yang tertangkap basah ekspresi kedua wajah dua sejoli itu.
Aku tetap terpingkal dalam hati.
Lamat-lamat, dari luar terdengar suara kayu terbelah.
"Ah, aku lupa belum menyapa Appa... " Ri Jin buru-buru bangkit dan meninggalkan tempatnya.
Kini tatapan mataku dan Omma tertuju pada Cha Do Hyun yang salah tingkah.
"Aku akan membantu aboniem membelah kayu," pamitnya gugup. Menyusul langkah Ri Jin yang sudah keluar dari pintu.
Sepeninggal Cha Do Hyun aku ataupun Omma cekikikan. Lalu mata kami seperti sibuk memperhatikan Ri Jin yang memeluk Appa kemudian keduanya berjingkrak-jingkrak.
Mungkin Appa juga sedang dipameri cincin itu, pikirku.
Dan ketika Cha Do Hyun bergabung, kegembiraan Appa makin menjadi. Tak henti-hentinya memeluk dan menepuk pundak Cha Do Hyun.
"Ri Jin-ah, Omma bahagia dia sekarang benar-benar telah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan sejak kecil." gumam Omma.
Geurae, Omma, Ri Jin kita memang sudah sepantasnya bahagia. Terlalu banyak kepahitan yang telah dia telan. Terlalu banyak yang telah dirampas dari tangannya. Dan jika sekarang semua yang seharusnya telah dimilikinya, maka aku akan membuatnya tetap seperti itu.
Mataku menemukan moment Ri Jin dan Cha Do Hyun saling berpelukan dan Appa berpose seperti memotret keduanya. Sempat ada kesakitan yang menusuk, tapi aku mencoba tersenyum.
Cha Do Hyun, mungkin cintaku pada Yeoja dalam pelukanmu itu sama besarnya dengan cintamu yang sudah tercipta sejak kecil. Aku hanya kalah dalam hal pembalasan. Cinta Ri Jin hanya untukmu. Takdir tak pernah menulisnya untukku.
* Tokoh, karakter, dan latar belakang cerita ini murni diambil dari drakor Kill Me Heal Me, saya hanya mengembangkan cerita yang tak tertulis di drama ini.
Kalo pengen tau lanjutan keaslian kisah Cha Do Hyun, Oh Ri Jin, dan 'aku' (Oh Ri On) intip aja di drama korea Kill Me Heal Me, oke?
Tto manayo.....
Rdb, 05.02.2016
Winarind@
Selasa, 02 Februari 2016
Akhir Sang Kedua
Isak tangis Vera masih memenuhi kamarku yang lumayan berantakan. Maklum, mama lagi menerapkan asas mandiri untukku. Katanya biar aku gak kebanyakan keluyuran. Katanya biar aku bisa sedikit sadar diri kalo sudah bukan anak kecil lagi. Jadi apa-apa jangan melulu mengandalkan mama. Giliran bersih-bersih dibilangnya bukan anak kecil, tapi ntar kalo aku ketahuan deket sama temen cowok bilangnya masih kecil, Mama mah gitu orangnya, plin plan. Lagian kalo daerah teritorialku dimasukkan daftar pengecualian program brsih-bersih, yang ada aku malah malas berhenti keluyurannya.
Kembali aku mengamati Vera yang seperti belum puas menangis meski udah menghabiskan sekotak tissu milikku. Lantai kamarku pun sudah berubah jadi lautan tissu bekas melap ingus dan air mata. Alhasil makin tambah berat nih ntar acara bersih-bersihnya.
Hufftt, aku mendesah panjang. Untuk acara bersih-bersih yang sudah terbayang di depan mata. Dan untuk rasa belasungkawa nasib sahabatku ini.
"Aji... "
Kembali nama itu tersebut. Pokoknya melebihi penyebutan suara calon ketua OSIS baru kemarin deh. Sekalipun untuk kandidat yang menang. Nama Aji yang terdepan, mengalahkan nama Grenta, ketua OSIS yang baru itu.
Aku mendesah lagi.
"Udah deh, seribu kalipun kamu nyebut nama itu gak bakal ngerubah keadaan." cetusku membuat volume tangisnya kontan membesar.
Aku merasa bersalah, tapi juga jengkel.
Nih anak kaya udah mentok aja cintanya sama Aji 'ndut itu. Padahal dari awal aku juga tau kalo Vera hanya dijadikan Aji sebagai sephia.
Salahku juga. Aku juga ikut andil dalam kehancuran Vera hari ini saat mengetahui ternyata Aji punya pacar bernama Diandra. Aji dan Diandra sudah pacaran sejak setahunan lalu, sedang kalo sama Vera baru 3 bulanan lalu. Jadi tanpa analisa bin hipotesa apapun lagi sudah bisa ditentukan mana pacar mana selingkuhan.
"Aji jahat banget, Mon... " keluhnya disela isak, tentunya dengan suara serak-serak gak jelas.
"Ya udah, kalo jahat ya dilupain aja. Udah buang ke laut aja sana."
Lagi, volume isak tangis Vera meninggi.
Kupegangi kepalaku dengan kedua tangan. Pusing pala inyong!
"Dia anggep apa coba semua kenangan-kenangan indah itu?"
W-what? Kenangan indah? Kenangan indah yang mana yang kamu maksud Vera? Perasaan sejak dulu ketemuannya di kafe tempat tongkrongan kita? Masa iya duduk berdua gitu udah masuk kategori kenangan indah sih? Cckckck, parah.
Vera melap air matanya. Matanya sudah kaya habis disengat lebah. Bengep gak karuan.
"Apa aku datengin aja pacarnya itu ya?"
"W-what??" Spontan aku mendelik, "Gila kamu ya? Kamu mau dosa dua kali? Kemarin-kemarin udah affair sama cowoknya, sekarang malah mau buat mereka putus, gitu?" tukasku pedas.
Kalo gak dicegah, bisa-bisa perang dunia ke 3 bakal terjadi di Indonesia. Vera emang terkenal manis dan centil, tapi kalo sudah emosi bisa kaya macan kelaparan dia. Pernah dulu ada adik kelas yang cemburu gara-gara gebetannya ternyata dekat dengan Vera, dibuatlah isu kalo Vera masuk ke tim cheerleader sekolah karena koneksi sang ayah yang notabene juga guru di sekolah ini. Langsung saja tanpa babibu Vera mendatangi pelaku penyebar isu tersebut. Membuatnya jera selamanya. Itu cuma soal harga diri, udah kaya macan kelaparan. Lha kalo udah nyangkut hidup-mati perasaannya, pasti malah tambah buas dia.
"Udah deh, Ver, mau dilihat dari sisi manapun yang salah tuh tetep kamu. Kamu disini sebagai orang ketiga. Dan dimana-mana orang ketiga itu tetap tokoh antagonis. Gak ada orang ketiga jadi lakon." paparku sok bijak.
"Siapa bilang, ada kok."
Yah... malah ngeyel.
"Kata tanteku yang mania drakor, dia pernah cerita soal drakor Temptation. Katanya menceritakan soal pihak ketiga yang kemudian malah yang jadian sama cowoknya. Malah ceritanya mereka udah nikah. Yang main Choi Ji Woo sama Kwon San Woo yang macho itu."
Hadehhh... ni anak malah nyasar sampe ke korea. Mana aku gak paham apapun soal korea dan tetek bengeknya lagi.
"Itu cuma drama, Vera. Kamu kira kisahmu ini kisah drama korea apa? Udah ah, gak usah dipikirin lagi si Aji itu. Mending kamu tanggepin tuh si Tata, dia kan dari awal ada hati sama kamu." Aku berusaha mengalihkan perhatiannya pada sosok Tata, salah satu dari sekian banyak teman Aji di tempat nongkrong. Aku sudah lama sering mergoki cowok itu merhatiin Vera. Tapi mungkin karena solidaritas sama Aji, Tata cuma berani mandang dari jauh.
"Siapa? Tata? Aku? Ogah!"
Jiaahh... udah patah hati sampe nangis-nangis kaya artis bollywood gini masih berani nolak? Ckckc
"Kamu tuh ya, enaknya apa sih mencintai? Mending dicintai tauk!" geramku pengen mengacak-acak rambut iklan shampoo itu.
"Ini soal hati, Mona sayang, soal hati!!" Vera ikut menggeram meski tetap disela isak.
Kuacak-acak sendiri rrambut kepalaku yang seperti pada rontok satu-satu. Saking panasnya mikir nasib Vera yang udah kaya adonan martabak.
"Tauk ah, terserah kamu aja, makan tuh hati! Diabetes baru tau rasa!" sungutku melangkah menuju pintu kamar.
"Monaa... kok aku malah ditinggal??" rengek Vera menaikkan kembali suaranya.
Tak kugubris kali ini. Biarin lah. Lagian rumah juga pas sepi, gak bakal ada yang teriak protes atau adakan interogasi mendadak.
Aku melenggang ke arah dapur.
Rdb, 02.02.2016
Winarind@
Langganan:
Komentar (Atom)


