Sepuluh menit sudah berlalu tapi suasana di tepi lapangan futsal itu masih hening juga. Sesekali terdengar suara bola futsal menggelinding dari tangan Niko. Mungkin untuk mengusir kegalauan karena Erin yang sejak tadi duduk didepannya tak juga bicara. Hanya terpekur diam menatap lantai lapangan. Niko pun tak berani bertanya.
Erin mendesah berat, membuat Niko langsung mengarahkan pandangannya ke Erin. Tapi tetap tak langsung ada suara.
" Aku..." Suara Erin menghilang lagi. Niko masih sangat sabar menunggu. Sangat.
" Ini sangat tidak adil Nik, aku benci ini" Kali ini kalimatnya sempurna, menyatakan kekecewaan yang dalam.
Sekilas mata Niko melintasi jemari tangan Erin yang sejak tadi gelisah. Seminggu lalu, saat Niko menemuinya di depan rumahnya, Niko masih melihat sebuah cincin mahal yang indah menghiasi jari manis tangan kiri itu. Kini jari manis itu sudah kembali polos. Dan jujur, ada sisi bathin Niko yang bersorak gembira. Meski sisi lainnya sangat tersiksa melihat gadis yang paling dicintainya ini begitu sedih karena ini.
" Aku tak mau kehilangan dia, Nik. Aku tak rela Fatan meninggalkanku demi gadis yang baru sebulan dikenalnya." Ungkapnya egois.
Egois dalam kesakitan. Begitu tepatnya.
" Apa itu yang kau sebut cinta, Rin?" Tanya Niko tak lepas menatapnya.
Erin menatap Niko perlahan,
" Mungkin bukan, mungkin itu posesif. Tapi itulah kenyataannya." Akunya polos.
Sebenarnya aku pun bisa bersifat posesif begitu, bathin Niko.
Aku pun sebenarnya tak rela saat Fatan memilikimu, bahkan sampai melamarmu. Aku lebih tak rela melihat kau begitu berbinar kala menceritakan kisahmu dengan Fatan. Siapa Fatan? Dia hanya mantan kolega kerjamu. Sementara aku adalah orang yang telah lama menemanimu. Ungkap Niko tetap dalam hati.
Dan sekarang, kau menerima karma itu. Kau mau tak mau harus menerima kenyataan saat Fatan jatuh cinta dengan cinta lain yang baru sebulan dikenalnya. Maaf, Rin, bukannya aku senang kau merasakan pula apa yang kurasakan selama ini, tapi....
Niko mendesah panjang, lalu bangkit dan duduk disebelah Erin.
Niko menepuk bahunya sendiri membuat Erin menoleh.
" Ini bahuku, siap kapanpun untuk kau pinjam kalau kau butuh tempat bersandar." Tegas Niko tanpa menoleh ke arah Erin.
Erin tersenyum bahagia. Lalu perlahan kepalanya bersandar ke bahu Niko.
" Terimakasih ya Nik, kau selalu ada saat kubutuhkan. Kau selalu punya cara untuk menghibur kalau aku sedih begini."
Sayang, kau tak pernah menyadari bahwa akulah selama ini yang seharusnya kau cintai. Atau mungkin kau memang tak peduli dengan rasa cinta tulusku, karena kau sedikit lebih tua.
Beda 1 tahun saja selalu jadi alasanmu kalau kau tak pantas untuk kucintai. Memang apa salahnya? Aku juga bisa bersikap jauh lebih dewasa dari Fatan yang umurnya 4 tahun lebih tua darimu. Dengus Niko, tetap dalam hati.
Niko mendesah lagi. Membuat Erin bangkit dari sandarannya, dan menatap Niko.
" Ada apa?" Tanya Erin
Niko ikut menatap Erin. Sinar matanya seperti memancarkan ketidak senangannya atas pertanyaan Erin barusan.
" Ada apa? Harusnya aku yang tanya ada apa? Kau tiba-tiba datang mencariku ditempat begini, dengan keadaan seperti anak kecil kehilangan boneka kesayangannya. Tapi setelah ketemu aku, diam saja seperti patung."
Erin menatap Niko minim ekspresi menanggapi semua ocehan yang mirip ocehan seorang ibu kepada anak gadisnya.
" Waktu jari manismu tiba-tiba melingkar sebuah cincin, kau tak beritahu aku kapan itu terpakai, tau-tau kau sudah memamerkannya padaku, bilang kalau Fatan melamarmu. Dan sekarang, cincin itu sudah tak ada kau pun tak beritahu aku kapan itu terjadi. Tau-tau kau kesini dengan wajah sangat sedih. Kau pikir aku suka semua ini? Sekarang siapa coba yang masih seperti anak kecil?" Berondong Niko dengan emosi.
Erin melonggo.
" Dengar Rin," Desis Niko memegang kedua bahu Erin.
" Jika aku tak pernah diijinkan membahagiakanmu, jangan selalu buat aku melihatmu sedih karena orang lain. Itu namanya menyiksaku dua kali!" Aku Niko tegas.
Erin tetap tak bereaksi. Tetap bungkam.
" Sudahlah, ayo kita cari makan, laper nih.." Sergah Niko tak mau lama-lama melihat Erin seperti itu,
Niko mendahului bangkit , memberesi tas olahraganya dan mengambil bola futsalnya. Tapi mendadak Erin berhambur memeluk Niko dari belakang. Niko diam tak bereaksi, hanya kemudian bola futsal ditangannya terlepas,menggelinding ke sisi tepi lapangan yang lain.
Sepi untuk beberapa detik.
" Aku tak mau egois Rin. Aku juga tak mau posesif. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, terserah dengan siapa. Memang tak mudah, tapi buktinya selama ini aku bisa dan aku yakin aku masih bisa."
Erin mempererat pelukannya.
" Cukup Nik, jangan buat aku seperti orang paling jahat sedunia. Aku memang egois, aku juga posesif, aku tak pernah mencoba mengerti apa yang kau rasakan." Keluh Erin.
Niko tergelak lirih
" Siapa yang peduli? Aku tak pernah memperdulikan semua itu. "
Erin melepas pelukannya, Niko membalikkan tubuhnya dan menatap Erin dengan senyum.
" Nik, aku,...."
" Ssssttt...." Cegah Niko mengangkat tangannya, isyarat agar Erin tak melanjutkan kata-katanya.
" Hari ini terlalu banyak yang diungkapkan. Aku takut kita tak cukup banyak waktu untuk merasakannya."
Erin perlahan tersenyum. Senyum yang sangat disukai Niko.
Kamis, 30 Oktober 2014
Sabtu, 25 Oktober 2014
PELAJARAN DALAM PERJALANAN
Sedikit sayu kupandangi kertas ditanganku, sebuah surat teguran dari atasan tempat kerjaku karena seminggu ini hampir tiap hari aku telat masuk kerja, juga banyak pekerjaan yang kocar-kacir. Jika minggu ini aku tak segera memperbaiki semuanya maka dapat dipastikan minggu selanjutnya aku akan dipindahkan dari ruang kerja ber-AC menjadi di gudang yang pengap, panas, dan tentu saja bising. Aku mendesah berat, seberat beban hidup yang kupikul saat ini.
" Maaf, sepertinya diantara kita sudah tak ada kecocokan, kupaksa seperti apapun tetap tak kan berhasil."
Terngiang lagi kata-kata Adis minggu lalu, gadis cantik yang sudah hampir 3 tahun ini kupacari. Dan ironisnya saat aku punya rencana ingin memutuskan membawanya dalam perahu kehidupanku, dia malah membalikkan langkahnya meninggalkanku. Tentu saja aku down, aku terpuruk sangat dalam. Dan itulah yang membuatku limbung, hilang arah, tak bisa berfikr jernih apalagi konsentrasi dalam pekerjaan. Tiap malam aku terpekur sampai hampir pagi di atas gedung rumah susun tempat tinggalku.
Kulihat kebawah, aliran sungai yang cukup deras yang melewati jembatan ini membuat pikiranku makin tak tenang. Terbesit ingin untuk pergi ke tempat yang jauh dan damai hingga tak perlu lagi merasakan semua masalah-masalah ini. Ya, mungkin itu lebih baik daripada keadaan sekarang.
Tanganku perlahan memegang balok besi pagar pembatas jembatan ini, kakiku perlahan menaiki balok besi terbawah. Semilir angin sore menerpa relung-relung jiwaku yang mulai pekat kehilangan cahaya kebenaran. Serpihan-serpihan kejadian dan orang-orang seminggu ini berlalu lalang dengan cepatnya melebihi semua laju kendaraan dibelakangku. Mataku kupejam agar semua terhenti, sampai kemudian...
" Bunda, Om itu ngapain ya?!" Suara lembut nan polos tak jauh dari belakangku seakan membuat semua yang tadinya mengepungku tiba-tiba buyar,
Kubuka mataku lagi, dan menoleh perlahan. Seorang gadis kecil berjilbab ungu menatapku penuh tanya,
" Joe?!" Susul sebuah suara disampingnya. Mataku menatap pemilik suara itu,
" Mbak Gendhis?!" Aku hampir tak percaya menemukan wajah itu,
" Ngapain disitu?"
Aku salah tingkah dan buru-buru menurunkan kakiku, " Oh, itu...air dibawah kelihatan segar sekali, ikannya kelihatannya juga banyak," Jawabku berbohong.
Kedua wanita dihadapanku sama-sama tergelak,
" Iya tapi kan gak harus naik begitu, ntar kalo kepeleset apa gak malah bahaya?"
Tiba-tiba tekad bulat yang tadi sempat menguasaiku hilang seketika saat melihat mereka. Kamipun akhirnya mampir ke taman bermain di ujung jalan jembatan tadi. Kami duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang panjang. Kuamati perlahan wanita disampingku itu, dandanannya sangat sederhana dengan gamis dari katun dengan paduan jilbab besar menutupi seluruh tubuh atasnya. Sempat kulirik bawaannya, sebuah buket tertutup dari bahan plastik, entah berisi apa. Matanya tak lepas mengawasi bocah kecil didepan sana yang asyik bermain.
" Itu Syaffa ya mbak?" Tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku sejak tadi.
" He-em"
" Sekarang kalo gak salah umurnya 4 tahun ya?"
" Iya, 4 tahun 3 bulan lagi." Ralatnya.
" Cepatnya waktu berlalu, perasaan baru kapan dia masih belum bisa tengkurap, waktu aku main dulu." Kataku mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Perlahan wajah Mbak Gendhis menunduk,
Ya Tuhan...bodohnya aku!! Rutukku dalam hati menyesal.
Sudah menjadi rahasia umum tentang apa yang terjadi pada rumah tangga Mbak Gendhis dan suaminya, Ardan. Sebenarnya aku tak cukup dekat dengan Mbak Gendhis, aku lebih banyak mengenalnya lewat Ardan.
5 tahun lalu aku, Ardan, Ling, dan Danny sama-sama bekerja disebuah perusahaan art. Ardan kami anggap panutan kami, karena memang dia yang paling tua dan sudah berkeluarga. Karena begitu akrabnya kami, sering kami adakan kumpul-kumpul sekedar ngopi dan ngobrol di loteng rumahnya. Dan mau tak mau kami pun akhirnya mengenal Mbak Gendhis. Dia wanita yang sederhana, memang terlalu kontras dengan pribadi Ardan yang karismatik dan penuh magnet bagi kebanyakan wanita. Tapi menurut Ardan, banyak gadis yang menarik untuk dipilih, tapi hanya sedikit yang pantas dijadikan istri. Dan Mbak Gendhis adalah salah satu dari wanita yang pantas dijadikan istri. Awalnya aku benar-benar mengagumi semua pribadi Ardan, tapi beberapa tahun ini entah kenapa aku mulai kehilangan figur teladan itu. Saat Ardan dipindah tugaskan ke luar negeri 3 tahun lalu kami pikir itu sesuatu yang sangat istimewa bagi kami. Tapi kemudian kami memang benar-benar cukup kacau tanpa Ardan sebagai pemersatu kami. Alhasil Ling dan Danny keluar dari pekerjaan, karena prestasi yang makin menurun, dan aku sendiri, sangat tertatih melanjutkan perjalanan sendirian. Dan aku cukup terkejut saat setahun lalu mendapat kabar dari Ling kalau Ardan dan Mbak Gendhis telah bercerai.
" Apa? Mereka bercerai? Bagaimana mungkin?" Ingatku akan ekspresi keterjutanku saat aku dan Ling menyempatkan diri berkumpul disebuah kafe.
" Apanya yang tak mungkin Joe? wanita-wanita disana 10 kali lipat lebih menarik daripada Mbak Gendhis." Jawab Ling gusar,
Dari kami bertiga, Ling memang yang paling dekat dengan Mbak Gendhis. Mungkin karena lebih seringnya mereka bertemu dan lebih banyak kecocokan. Ling dan Mbak Gendhis sama-sama suka memasak, terlebih membuat kue.
Dan aku mungkin terlalu sibuk untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Tapi yang kudengar usai perceraian Mbak Gendhis hanya mendapat rumah sederhana penuh kenangan itu, dan tunjangan untuk biaya hidup Syaffa, hanya Syaffa.
" Bagaimana khabarmu Joe? Masih bekerja disitu kan?" Tanya Mbak Gendhis membuyarkan lamunan panjangku.
" Begitulah. Mbak sendiri? Baik-baik saja kan tinggal sendiri dengan Syaffa?" Tanyaku sedikit takut.
Yang kutau, lagi-lagi dari Ling, Mbak Gendhis sekarang berjualan kue untuk menyambung hidup. Beberapa pesanan dan sebagian dititipkan dikantin sekolah dan warung-warung.
Tiba-tiba aku trenyuh mencermati kehidupan wanita muda ini. Seharusnya dia adalah nyonya besar dari seorang manager perusahan art terkenal. Harusnya hidupnya jauh dari kata susah. Tapi kenyataannya dia malah harus banting tulang menyisihkan gengsinya dengan menjajakan dagangannya demi menyambung hidupnya. Tak ada kata yang pantas untuk mewakili kisahnya selain kata tragis.
" Ya, beginilah Joe, cukup menghasilkan jualan kue, daripada nganggur, bisa buat beli lauk sehari-hari dan jajannya Syaffa. Kalau ada pesanan cukup banyak bisalah ditabung sedikit-sedikit.." Ungkapnya dengan sedikit senyum lebar.
Sedikitpun tak kulihat gurat lelah dan tak berdaya diwajah wanita itu. Bagaimana bisa? Hidupnya sudah begitu keras menjadi single parent untuk anak seusia Syaffa? Mungkin, itulah dulu yang membuat Ardan jatuh cinta.
" Kenapa Mbak begitu tegar menghadapi semua ini?" Tanyaku sedikit tak sadar
" Apa?" Herannya tapi kemudian seulas senyum menyusul.
" Maaf" Lanjutku.
Mbak Gendhis tak langsung menjawab. Matanya menerawang ke depan, mengamati gadis kecilnya yang bermain ayunan.
" Bagaimana aku bisa sedih kalau setiap hari aku bisa melihat malaikat kecil itu? Dia penyemangatku, dia yang membuatku terus berusaha hidup jauh lebih lama dibanding siapapun. Agar bisa menemaninya selama mungkin."
Aku terpekur mendengar semua ungkapannya. Semangat besarnya menghadapi lika-liku hidupnya yang begitu keras dan kejam hanyalah seorang gadis kecil itu? Kenapa gadis kecil itu begitu punya arti besar bagi Mbak Gendhis? Bukankah dia warisan pria yang selama ini telah memporak-porandakan sisa hidupnya?
Tiba-tiba Syaffa berlari mendekati kami, kuamati dengan cermat malaikat kecil itu. Sungguh, hampir semua sama dengan Ardan. Matanya, bentuk alisnya, bentuk bibirnya. Secara keseluruhan bentuk setiap inci wajah Syaffa benar-benar mirip sekali dengan Ardan.
" Bunda.... kapan pulang???" Bisiknya lebih mendekat ke Mbak Gendhis, tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya.
Mbak Gendhis tersenyum " Bentar lagi , Syaffa main dulu lagi aja ya..." Balas Mbk Gendhis juga berbisik, dengan senyum kecil. Syaffa pun kembali berlari ke arah ayunan tadi.
" Mirip sekali ya Mbak," Kataku seperti bergumam, tak lepas memperhatikan Syaffa didepan sana.
" Hmmm...hampir semuanya Joe. Wajahnya, watak kerasnya, apa yang disukai dan tak disukai, mulai dari sifat, makanan, kegiatan...semuanya."
Mataku beralih ke wajah Mbak Gendhis. Matanya seperti menerawang, bukan ke pandangan depan sana tapi ke tempat yang lebih jauh.
" Kau tak membenci wajah itu mbk? Wajah yang tertinggal di wajah syaffa?"
Mbak Gendhis menatapku cepat, dahinya berkerut samar.
" Ardan sudah meninggalkan masa lalu yang kelam, bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan wajahnya yang tertinggal diwajah Syaffa?"
Mbak Gendhis tertawa kecil. Gantian dahiku yang berkerut.
" Masalahnya bukan siapa yang membuat masa lalu kita buruk, karena kita semua punya masa lalu. Perpisahan dengan seseorang bukan berarti itu buruk, karena Dia maha tahu itu apa yang tak baik untuk masa depan kita. Makanya kita dipisahkan. Bukankah sebuah hadiah tak selalu dibungkus indah? Kadang kan memang diberikan dalam bentuk yang berbeda. Tapi apapun bungkusnya tetaplah sebuah hadiah, hadiah dari Tuhan."
Aku terngungu mencermati ucapan Mbak Gendhis
" Dan kalau aku harus membenci Syaffa hanya karena semua tentangnya mengingatkanku pada Ardan, itu sangat bodoh. Justru wajah itulah satu-satunya alasan, untuk apapun. Agar aku lebih semangat menjalani hidup." Lanjutnya tandas, menatapku lekat.
Aku menunduk.
Bodohnya aku, kenapa hanya karena Adis aku harus menghancurkan hidup dan masa depanku? Bukankah seharusnya aku harus lebih baik? Menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa lebih baik meski tanpa Adis?
" Saat Dia mengambil apa yang kita anggap berharga, Dia juga sudah menyiapkan gantinya, yang jauh lebih istimewa. Saat 1 pintu tertutup, saat itu juga pintu lain terbuka. Hanya kadang, kita terlalu lama menatap pintu yang tertutup itu, meratapi kenapa pintu itu sampai tertutup. Hingga kita butuh waktu cukup lama menyadari bahwa ada pintu lain yang menunggu untuk kita datangi. "
Satu lagi tamparan kesadaran dari statement Mbak Gendhis.
" Ada banyak hal selain rasa pahit itu, Joe...."
Kutatap Mbak Gendhis,
" Kepahitan hidup itu seperti rasa obat. Memang pahit tapi bersifat menyembuhkan. Kalo bisa menelannya maka niscaya kita akan sembuh dari sakit itu."
Aku tergelak lirih,
" Pendapatku tak salah kan?"
" Bukan pendapatmu yang salah mbk, tapi aku yang selama sudah berfikir salah tentang semua ini" Sanggahku membuat dahi Mbak Gendhis mengkerut lagi.
Sekarang aku tau kenapa Ling bisa betah berlama-lama ngobrol dengan Mbak Gendhis. Dan bisa rela hati menolak tawaran kerja diluar jawa dan memilih hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil disini. Karena Mbak Gendhis.
" Bunda ayo kita pulang, sudah mau magrib nih..." Rajuk Syaffa
" Iya..." Mbak Gendhis bangkit dari duduknya
" Kami pulang dulu ya, sudah mulai petang ini" Pamitnya.
Aku tersenyum mengangguk.
" Syaffa, salim dulu sama om ya. Om ini temennya om Ling juga lho."
Syaffa mengamatiku dengan seksama. Pun begitu aku bisa grogi juga diperhatikan gadis 4 tahun itu.
Lalu tiba-tiba senyumnya yang manis tersungging. Senyum terindah yang dulu juga sering kulihat menghiasi sosok Ardan.
Belum selesai akan pemandangan itu, tangan mungilnya terulur. Kusambut dan dengan santun dikecupnya tanganku sepintas.
" Om bisa main ke rumah seperti Om Ling,"
Aku tak sadar tersenyum.
" Syaffa pasti senang sekali kalo yang mengunjunginya bertambah satu lagi." Timpal Mbak Gendhis.
" Ok, kapan-kapan om akan main bareng om Ling" Kataku akhirnya membuat gadis kecil itu bersorak gembira.
" Kami pergi dulu ya. Assalamuallaikum..."
" Waalaikum salam"
Kuantar kepergian dua wanita hebat itu. Hebat karena telah berhasil membuatku tersadar bahwa selama seminggu ini aku telah menyia-nyiakan hidupku yang sangat berharga, untuk sesuatu yang sudah tak menghargaiku.
Dan sekarang, aku tau alasan kenapa hari ini aku dipertemukan dengan wanita itu. Wanita yang begitu banyak memaklumi apapun yang menimpanya. Yang menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tak hanya ada pada Adis,
" Maaf, sepertinya diantara kita sudah tak ada kecocokan, kupaksa seperti apapun tetap tak kan berhasil."
Terngiang lagi kata-kata Adis minggu lalu, gadis cantik yang sudah hampir 3 tahun ini kupacari. Dan ironisnya saat aku punya rencana ingin memutuskan membawanya dalam perahu kehidupanku, dia malah membalikkan langkahnya meninggalkanku. Tentu saja aku down, aku terpuruk sangat dalam. Dan itulah yang membuatku limbung, hilang arah, tak bisa berfikr jernih apalagi konsentrasi dalam pekerjaan. Tiap malam aku terpekur sampai hampir pagi di atas gedung rumah susun tempat tinggalku.
Kulihat kebawah, aliran sungai yang cukup deras yang melewati jembatan ini membuat pikiranku makin tak tenang. Terbesit ingin untuk pergi ke tempat yang jauh dan damai hingga tak perlu lagi merasakan semua masalah-masalah ini. Ya, mungkin itu lebih baik daripada keadaan sekarang.
Tanganku perlahan memegang balok besi pagar pembatas jembatan ini, kakiku perlahan menaiki balok besi terbawah. Semilir angin sore menerpa relung-relung jiwaku yang mulai pekat kehilangan cahaya kebenaran. Serpihan-serpihan kejadian dan orang-orang seminggu ini berlalu lalang dengan cepatnya melebihi semua laju kendaraan dibelakangku. Mataku kupejam agar semua terhenti, sampai kemudian...
" Bunda, Om itu ngapain ya?!" Suara lembut nan polos tak jauh dari belakangku seakan membuat semua yang tadinya mengepungku tiba-tiba buyar,
Kubuka mataku lagi, dan menoleh perlahan. Seorang gadis kecil berjilbab ungu menatapku penuh tanya,
" Joe?!" Susul sebuah suara disampingnya. Mataku menatap pemilik suara itu,
" Mbak Gendhis?!" Aku hampir tak percaya menemukan wajah itu,
" Ngapain disitu?"
Aku salah tingkah dan buru-buru menurunkan kakiku, " Oh, itu...air dibawah kelihatan segar sekali, ikannya kelihatannya juga banyak," Jawabku berbohong.
Kedua wanita dihadapanku sama-sama tergelak,
" Iya tapi kan gak harus naik begitu, ntar kalo kepeleset apa gak malah bahaya?"
Tiba-tiba tekad bulat yang tadi sempat menguasaiku hilang seketika saat melihat mereka. Kamipun akhirnya mampir ke taman bermain di ujung jalan jembatan tadi. Kami duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang panjang. Kuamati perlahan wanita disampingku itu, dandanannya sangat sederhana dengan gamis dari katun dengan paduan jilbab besar menutupi seluruh tubuh atasnya. Sempat kulirik bawaannya, sebuah buket tertutup dari bahan plastik, entah berisi apa. Matanya tak lepas mengawasi bocah kecil didepan sana yang asyik bermain.
" Itu Syaffa ya mbak?" Tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku sejak tadi.
" He-em"
" Sekarang kalo gak salah umurnya 4 tahun ya?"
" Iya, 4 tahun 3 bulan lagi." Ralatnya.
" Cepatnya waktu berlalu, perasaan baru kapan dia masih belum bisa tengkurap, waktu aku main dulu." Kataku mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Perlahan wajah Mbak Gendhis menunduk,
Ya Tuhan...bodohnya aku!! Rutukku dalam hati menyesal.
Sudah menjadi rahasia umum tentang apa yang terjadi pada rumah tangga Mbak Gendhis dan suaminya, Ardan. Sebenarnya aku tak cukup dekat dengan Mbak Gendhis, aku lebih banyak mengenalnya lewat Ardan.
5 tahun lalu aku, Ardan, Ling, dan Danny sama-sama bekerja disebuah perusahaan art. Ardan kami anggap panutan kami, karena memang dia yang paling tua dan sudah berkeluarga. Karena begitu akrabnya kami, sering kami adakan kumpul-kumpul sekedar ngopi dan ngobrol di loteng rumahnya. Dan mau tak mau kami pun akhirnya mengenal Mbak Gendhis. Dia wanita yang sederhana, memang terlalu kontras dengan pribadi Ardan yang karismatik dan penuh magnet bagi kebanyakan wanita. Tapi menurut Ardan, banyak gadis yang menarik untuk dipilih, tapi hanya sedikit yang pantas dijadikan istri. Dan Mbak Gendhis adalah salah satu dari wanita yang pantas dijadikan istri. Awalnya aku benar-benar mengagumi semua pribadi Ardan, tapi beberapa tahun ini entah kenapa aku mulai kehilangan figur teladan itu. Saat Ardan dipindah tugaskan ke luar negeri 3 tahun lalu kami pikir itu sesuatu yang sangat istimewa bagi kami. Tapi kemudian kami memang benar-benar cukup kacau tanpa Ardan sebagai pemersatu kami. Alhasil Ling dan Danny keluar dari pekerjaan, karena prestasi yang makin menurun, dan aku sendiri, sangat tertatih melanjutkan perjalanan sendirian. Dan aku cukup terkejut saat setahun lalu mendapat kabar dari Ling kalau Ardan dan Mbak Gendhis telah bercerai.
" Apa? Mereka bercerai? Bagaimana mungkin?" Ingatku akan ekspresi keterjutanku saat aku dan Ling menyempatkan diri berkumpul disebuah kafe.
" Apanya yang tak mungkin Joe? wanita-wanita disana 10 kali lipat lebih menarik daripada Mbak Gendhis." Jawab Ling gusar,
Dari kami bertiga, Ling memang yang paling dekat dengan Mbak Gendhis. Mungkin karena lebih seringnya mereka bertemu dan lebih banyak kecocokan. Ling dan Mbak Gendhis sama-sama suka memasak, terlebih membuat kue.
Dan aku mungkin terlalu sibuk untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Tapi yang kudengar usai perceraian Mbak Gendhis hanya mendapat rumah sederhana penuh kenangan itu, dan tunjangan untuk biaya hidup Syaffa, hanya Syaffa.
" Bagaimana khabarmu Joe? Masih bekerja disitu kan?" Tanya Mbak Gendhis membuyarkan lamunan panjangku.
" Begitulah. Mbak sendiri? Baik-baik saja kan tinggal sendiri dengan Syaffa?" Tanyaku sedikit takut.
Yang kutau, lagi-lagi dari Ling, Mbak Gendhis sekarang berjualan kue untuk menyambung hidup. Beberapa pesanan dan sebagian dititipkan dikantin sekolah dan warung-warung.
Tiba-tiba aku trenyuh mencermati kehidupan wanita muda ini. Seharusnya dia adalah nyonya besar dari seorang manager perusahan art terkenal. Harusnya hidupnya jauh dari kata susah. Tapi kenyataannya dia malah harus banting tulang menyisihkan gengsinya dengan menjajakan dagangannya demi menyambung hidupnya. Tak ada kata yang pantas untuk mewakili kisahnya selain kata tragis.
" Ya, beginilah Joe, cukup menghasilkan jualan kue, daripada nganggur, bisa buat beli lauk sehari-hari dan jajannya Syaffa. Kalau ada pesanan cukup banyak bisalah ditabung sedikit-sedikit.." Ungkapnya dengan sedikit senyum lebar.
Sedikitpun tak kulihat gurat lelah dan tak berdaya diwajah wanita itu. Bagaimana bisa? Hidupnya sudah begitu keras menjadi single parent untuk anak seusia Syaffa? Mungkin, itulah dulu yang membuat Ardan jatuh cinta.
" Kenapa Mbak begitu tegar menghadapi semua ini?" Tanyaku sedikit tak sadar
" Apa?" Herannya tapi kemudian seulas senyum menyusul.
" Maaf" Lanjutku.
Mbak Gendhis tak langsung menjawab. Matanya menerawang ke depan, mengamati gadis kecilnya yang bermain ayunan.
" Bagaimana aku bisa sedih kalau setiap hari aku bisa melihat malaikat kecil itu? Dia penyemangatku, dia yang membuatku terus berusaha hidup jauh lebih lama dibanding siapapun. Agar bisa menemaninya selama mungkin."
Aku terpekur mendengar semua ungkapannya. Semangat besarnya menghadapi lika-liku hidupnya yang begitu keras dan kejam hanyalah seorang gadis kecil itu? Kenapa gadis kecil itu begitu punya arti besar bagi Mbak Gendhis? Bukankah dia warisan pria yang selama ini telah memporak-porandakan sisa hidupnya?
Tiba-tiba Syaffa berlari mendekati kami, kuamati dengan cermat malaikat kecil itu. Sungguh, hampir semua sama dengan Ardan. Matanya, bentuk alisnya, bentuk bibirnya. Secara keseluruhan bentuk setiap inci wajah Syaffa benar-benar mirip sekali dengan Ardan.
" Bunda.... kapan pulang???" Bisiknya lebih mendekat ke Mbak Gendhis, tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya.
Mbak Gendhis tersenyum " Bentar lagi , Syaffa main dulu lagi aja ya..." Balas Mbk Gendhis juga berbisik, dengan senyum kecil. Syaffa pun kembali berlari ke arah ayunan tadi.
" Mirip sekali ya Mbak," Kataku seperti bergumam, tak lepas memperhatikan Syaffa didepan sana.
" Hmmm...hampir semuanya Joe. Wajahnya, watak kerasnya, apa yang disukai dan tak disukai, mulai dari sifat, makanan, kegiatan...semuanya."
Mataku beralih ke wajah Mbak Gendhis. Matanya seperti menerawang, bukan ke pandangan depan sana tapi ke tempat yang lebih jauh.
" Kau tak membenci wajah itu mbk? Wajah yang tertinggal di wajah syaffa?"
Mbak Gendhis menatapku cepat, dahinya berkerut samar.
" Ardan sudah meninggalkan masa lalu yang kelam, bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan wajahnya yang tertinggal diwajah Syaffa?"
Mbak Gendhis tertawa kecil. Gantian dahiku yang berkerut.
" Masalahnya bukan siapa yang membuat masa lalu kita buruk, karena kita semua punya masa lalu. Perpisahan dengan seseorang bukan berarti itu buruk, karena Dia maha tahu itu apa yang tak baik untuk masa depan kita. Makanya kita dipisahkan. Bukankah sebuah hadiah tak selalu dibungkus indah? Kadang kan memang diberikan dalam bentuk yang berbeda. Tapi apapun bungkusnya tetaplah sebuah hadiah, hadiah dari Tuhan."
Aku terngungu mencermati ucapan Mbak Gendhis
" Dan kalau aku harus membenci Syaffa hanya karena semua tentangnya mengingatkanku pada Ardan, itu sangat bodoh. Justru wajah itulah satu-satunya alasan, untuk apapun. Agar aku lebih semangat menjalani hidup." Lanjutnya tandas, menatapku lekat.
Aku menunduk.
Bodohnya aku, kenapa hanya karena Adis aku harus menghancurkan hidup dan masa depanku? Bukankah seharusnya aku harus lebih baik? Menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa lebih baik meski tanpa Adis?
" Saat Dia mengambil apa yang kita anggap berharga, Dia juga sudah menyiapkan gantinya, yang jauh lebih istimewa. Saat 1 pintu tertutup, saat itu juga pintu lain terbuka. Hanya kadang, kita terlalu lama menatap pintu yang tertutup itu, meratapi kenapa pintu itu sampai tertutup. Hingga kita butuh waktu cukup lama menyadari bahwa ada pintu lain yang menunggu untuk kita datangi. "
Satu lagi tamparan kesadaran dari statement Mbak Gendhis.
" Ada banyak hal selain rasa pahit itu, Joe...."
Kutatap Mbak Gendhis,
" Kepahitan hidup itu seperti rasa obat. Memang pahit tapi bersifat menyembuhkan. Kalo bisa menelannya maka niscaya kita akan sembuh dari sakit itu."
Aku tergelak lirih,
" Pendapatku tak salah kan?"
" Bukan pendapatmu yang salah mbk, tapi aku yang selama sudah berfikir salah tentang semua ini" Sanggahku membuat dahi Mbak Gendhis mengkerut lagi.
Sekarang aku tau kenapa Ling bisa betah berlama-lama ngobrol dengan Mbak Gendhis. Dan bisa rela hati menolak tawaran kerja diluar jawa dan memilih hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil disini. Karena Mbak Gendhis.
" Bunda ayo kita pulang, sudah mau magrib nih..." Rajuk Syaffa
" Iya..." Mbak Gendhis bangkit dari duduknya
" Kami pulang dulu ya, sudah mulai petang ini" Pamitnya.
Aku tersenyum mengangguk.
" Syaffa, salim dulu sama om ya. Om ini temennya om Ling juga lho."
Syaffa mengamatiku dengan seksama. Pun begitu aku bisa grogi juga diperhatikan gadis 4 tahun itu.
Lalu tiba-tiba senyumnya yang manis tersungging. Senyum terindah yang dulu juga sering kulihat menghiasi sosok Ardan.
Belum selesai akan pemandangan itu, tangan mungilnya terulur. Kusambut dan dengan santun dikecupnya tanganku sepintas.
" Om bisa main ke rumah seperti Om Ling,"
Aku tak sadar tersenyum.
" Syaffa pasti senang sekali kalo yang mengunjunginya bertambah satu lagi." Timpal Mbak Gendhis.
" Ok, kapan-kapan om akan main bareng om Ling" Kataku akhirnya membuat gadis kecil itu bersorak gembira.
" Kami pergi dulu ya. Assalamuallaikum..."
" Waalaikum salam"
Kuantar kepergian dua wanita hebat itu. Hebat karena telah berhasil membuatku tersadar bahwa selama seminggu ini aku telah menyia-nyiakan hidupku yang sangat berharga, untuk sesuatu yang sudah tak menghargaiku.
Dan sekarang, aku tau alasan kenapa hari ini aku dipertemukan dengan wanita itu. Wanita yang begitu banyak memaklumi apapun yang menimpanya. Yang menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tak hanya ada pada Adis,
Tuhan menegurku untuk tak lagi meratapi pintu yang sudah tertutup itu, menyadarkanku bahwa Adis bukan yang terbaik untuk hidupku kelak. Dan bahwa ada pintu lain yang terbuka, dan aku akan mencarinya.
Aku tersenyum sambil menghela napas lega, menatap penuh semangat lembayung senja diufuk barat sana.
Selasa, 21 Oktober 2014
IBU
Kusambar tasku dan bergegas meninggalkan ruangan itu, dan tatapan sinis itu. Kubuka pintu didepanku dan kubanting sedikit kasar, sekedar menunjukkan pada dunia bahwa aku sedang marah dan muak dengan semua penghakiman ini. Masih sempat kudengar lengkingan suaranya, tapi cuma sebentar karena langkahku terlalu cepat menjauh.
Lagi-lagi perdebatan itu terjadi, hal yang tak seharusnya terjadi, dan sebenarnya aku tak pernah ingin itu terjadi. Pada kami.
Sampai di taman komplek rumahku aku berhenti, duduk disalah satu bangku kayu disitu. Kuhempaskan tubuhku berat. seberat beban yang menggelayut di pundakku. Pandanganku menerawang jauh kesana, mencari jawab untuk semua tanya belasan tahun ini.
Kenapa orang yang seharusnya menyayangiku malah seperti memusuhiku? Kenapa mata yang seharusnya menatapku lembut penuh cinta justru melihatku dengan sinis dan benci? Kenapa tangan yang seharusnya membelaiku dengan sayang malah sering mengasariku dan menyakiti hatiku?
" Sudahlah...jangan dimasukkan hati omongan itu, dia memang begitu. Yang penting kan ayah sayang kamu" Hibur ayah, setiap kali menemukan aku menangis usai insiden itu.
Tapi bohong kalo semua itu tak meninggalkan rasa sakit hati.
" Ibu..." Desisku lirih...
Mataku terpejam sesaat menghindari agar tak berlanjut meneteskan air mata itu lagi. Tapi tetap saja gagal, air mata itu tetap keluar. Kuseka dengan sedikit jengkel tapi kemudian aku termangu melihat adegan sekitar 10 meter dari tempatku duduk. Dunia serasa berhenti berotasi saat aku menikmati adegan itu.
Seorang ibu muda dengan gadis kecil, mungkin sekitar umur 4 tahun. Berdua sedang asyik menikmati mie ayam yang mangkal tak jauh dari tempat mereka. Sesekali si ibu menyuapi anaknya, tapi kadang si anak tak mau dan malah menyendok sendiri mie itu hingga belepotan. Dengan sabar si ibu itu menunggui anaknya makan. Sungguh romantis.
Aku tergelak sedih. Untuk kesekian kalinya menyadari betapa malangnya aku terlahir sebagai gadis kecil, yang jauh sekali nasibnya dengan gadis kecil itu.
" Hei.."
Aku menoleh mencari arah suara itu. Seraut wajah Luki tersenyum hambar menatapku. Aku tak bereaksi untuk senyum basa-basi itu.
Kudengar Luki mendesah panjang, lalu ikut duduk disampingku.
" Eh, ada mie ayam, makan yuukk!" Ajaknya
Aku menggeleng.
" Kenapa? Tenang aja, aku yang traktir kok" Bujuknya lagi
" Diet." Jawabku singkat
" Ya ampun,diet kok terus sih" Dengusnya seperti kaget campur jengkel.
Kulirik cowok yang lebih dari separuh umurku itu menemaniku. Dia memang sedikit menyebalkan, tapi dia penyelamatku saat aku sedang begini, tentunya setelah ayahku.
Luki tersenyum menyebalkan, seakan bangga bisa membuatku akhirnya memperhatikannya.
" Puas ya?!" Geramku
" Belum, senyum dong biar aku benar-benar puas!"
Aku spontan tergelak, Luki dari dulu memang selalu punya cara mengusir kesedihan diwajahku, meski dengan cara yang menyebalkan.
" Tak manis, tapi itu lebih baik daripada nangis." Gumamnya
Tak kugubris candaannya itu, seperti biasanya. Aku masih terlalu ingat kejadian tadi dirumah.
Perlahan kudengar Luki sibuk mengupas bungkus coklat batangan, kulirik sedikit ke arah tangannya. Dicuilnya sedikit lalu dilahapnya.
" Sejak kapan kau pelit, tak mau berbagi makanan denganku?" Gerutuku.
Luki menatapku kaget, melonggo sedetik, detik berikutnya tertawa.
" Oh.. kirain kamu gak mau, tadi kan bilangnya kamu diet," Ledeknya
Aku merampas coklat ditangannya sambil manyun, kulahap langsung potongan yang sudah terbuka bungkusnya. Aku tau Luki sedang tersenyum memperhatikanku, tapi aku lebih suka pura-pura tak tau. Aku mulai riskan kalo Luki mulia bersikap begitu.
Luki, aku mengenalnya saat kami masih sama-sama kelas 1 SD. Dia tetangga jarak 2 rumah dariku. Pindahan dari Surabaya kala itu. Dia sering menemukanku menangis dibelakang rumah, hingga kemudian dia mulai meluangkan bahunya untuk kusandari saat lelah.
" Makanlah coklat ini."
Kenangku akan ucapannya kala itu, pertama kali aku dikenalkan dengan coklat batangan yang memang sering kulihat tapi belum pernah aku membelinya apalagi merasakan bagaimana manisnya. Kala itu kami masih kelas 3 SD. Luki mendapatiku diujung jalan menuju ke sekolah dalam keadaan usai menangis.
" Kata orang rasa manis coklat bisa menghilangkan kesedihan." Terang Luki waktu itu
Aku tersenyum tiap mengenang hari itu, dan sejak hari itu tiap Luki menemukanku murung selalu disodorkan sebatang coklat padaku. Mungkin tiap hari sakunya selalu ada sebatang coklat sebagai pertolongan pertama untukku.
" Sudah baikan kan?" Tanyanya
Kujawab dengan senyum kecil.
" Tapi aku takut kalo suatu hari nanti persediaan coklatku habis."
Aku tak jadi melahap potongan kecil coklat ditanganku.
Kutatap Luki sedikit tak mengerti. Luki menggeser duduknya hingga lebih menghadapku.
" Maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu."
" Bukan masalah merepotkannya, aku cuma berharap kamu jangan sedih lagi"
Aku terpekur untuk sekian detik.
Aku... jujur juga sudah lelah dengan semua ini. Andai ibuku bisa sebaik mamanya Luki...
Ahh...ngimpi!
" Sudah hampir 20 tahun, aku juga heran kenapa ini masih belum berakhir." Gumamku
" Mungkin kamu hanya harus sedikit mengalah"
Kutatap Luki
" Apa aku masih kurang mengalah? Aku harus mengalah seperti apa lagi Luk?" Keluhku dengan intonasi cukup tinggi.
" Kukira kamu sudah sangat tau posisiku, tapi ternyata selama ini aku salah" Lanjutku bangkit dan berlalu.
" Hei...hei..." Kejar Luki, tapi tak kuindahkan.
Sungguh, aku cukup kecewa dengan ucapannya tadi.
" Kepala batumu itu yang membuat ini terus berlanjut" Sergahnya segera, dan itu berhasil membuat langkahku terhenti.
Langkah Luki juga terhenti 2 langkah dibelakangku. Sepi untuk beberapa detik.
" Kamu gak akan tau susahnya jadi aku Luk. Hidup dengan orang yang ingin aku sayangi tapi seperti mengelak. Sepanjang hidupku aku seperti orang yang tak pernah diharapkannya, tanpa kutau apa alasannya. Itu sesuatu yang sangat berat. Kalo ada yang ingin ini segera berakhir, orang pertama adalah aku, karena aku sudah sangat capek." Paparku tanpa kami bersitatap.
Kulanjutkan langkahku karena sebentar lagi air mataku pasti akan meleleh lagi jika terus-terusan ditempat. Luki tak mengejarku lagi. Dan aku lebih suka begitu. Kadang aku memang ingin menikmati kesedihan ini sendiri, tanpa Luki, tanpa coklat batangannya yang dipercayanya bisa menghilangkan kesedihan itu.
Aku terus melangkah menjauhi taman kompleks ini. Entah kemana yang penting menghindari Luki meski hanya untuk saat ini.
Lalu perlahan wajah itu mengganggu langkahku.
Ibu.... aku ini putrimu, yang selama hampir 20 tahun ini sangat merindukan pelukanmu. Bahkan aku tak pernah tau rasanya pelukan hangat seorang ibu.
Ibu... aku tak pernah meminta apapun, aku hanya ingin keadaan yang selama ini terjadi bisa berubah. Aku ingin tatapan matamu itu hangat menyapaku sambil memelukku.
Ibu...aku ingin ibu tau, tangis ini untukmu.
Ibu.....
Lagi-lagi perdebatan itu terjadi, hal yang tak seharusnya terjadi, dan sebenarnya aku tak pernah ingin itu terjadi. Pada kami.
Sampai di taman komplek rumahku aku berhenti, duduk disalah satu bangku kayu disitu. Kuhempaskan tubuhku berat. seberat beban yang menggelayut di pundakku. Pandanganku menerawang jauh kesana, mencari jawab untuk semua tanya belasan tahun ini.
Kenapa orang yang seharusnya menyayangiku malah seperti memusuhiku? Kenapa mata yang seharusnya menatapku lembut penuh cinta justru melihatku dengan sinis dan benci? Kenapa tangan yang seharusnya membelaiku dengan sayang malah sering mengasariku dan menyakiti hatiku?
" Sudahlah...jangan dimasukkan hati omongan itu, dia memang begitu. Yang penting kan ayah sayang kamu" Hibur ayah, setiap kali menemukan aku menangis usai insiden itu.
Tapi bohong kalo semua itu tak meninggalkan rasa sakit hati.
" Ibu..." Desisku lirih...
Mataku terpejam sesaat menghindari agar tak berlanjut meneteskan air mata itu lagi. Tapi tetap saja gagal, air mata itu tetap keluar. Kuseka dengan sedikit jengkel tapi kemudian aku termangu melihat adegan sekitar 10 meter dari tempatku duduk. Dunia serasa berhenti berotasi saat aku menikmati adegan itu.
Seorang ibu muda dengan gadis kecil, mungkin sekitar umur 4 tahun. Berdua sedang asyik menikmati mie ayam yang mangkal tak jauh dari tempat mereka. Sesekali si ibu menyuapi anaknya, tapi kadang si anak tak mau dan malah menyendok sendiri mie itu hingga belepotan. Dengan sabar si ibu itu menunggui anaknya makan. Sungguh romantis.
Aku tergelak sedih. Untuk kesekian kalinya menyadari betapa malangnya aku terlahir sebagai gadis kecil, yang jauh sekali nasibnya dengan gadis kecil itu.
" Hei.."
Aku menoleh mencari arah suara itu. Seraut wajah Luki tersenyum hambar menatapku. Aku tak bereaksi untuk senyum basa-basi itu.
Kudengar Luki mendesah panjang, lalu ikut duduk disampingku.
" Eh, ada mie ayam, makan yuukk!" Ajaknya
Aku menggeleng.
" Kenapa? Tenang aja, aku yang traktir kok" Bujuknya lagi
" Diet." Jawabku singkat
" Ya ampun,diet kok terus sih" Dengusnya seperti kaget campur jengkel.
Kulirik cowok yang lebih dari separuh umurku itu menemaniku. Dia memang sedikit menyebalkan, tapi dia penyelamatku saat aku sedang begini, tentunya setelah ayahku.
Luki tersenyum menyebalkan, seakan bangga bisa membuatku akhirnya memperhatikannya.
" Puas ya?!" Geramku
" Belum, senyum dong biar aku benar-benar puas!"
Aku spontan tergelak, Luki dari dulu memang selalu punya cara mengusir kesedihan diwajahku, meski dengan cara yang menyebalkan.
" Tak manis, tapi itu lebih baik daripada nangis." Gumamnya
Tak kugubris candaannya itu, seperti biasanya. Aku masih terlalu ingat kejadian tadi dirumah.
Perlahan kudengar Luki sibuk mengupas bungkus coklat batangan, kulirik sedikit ke arah tangannya. Dicuilnya sedikit lalu dilahapnya.
" Sejak kapan kau pelit, tak mau berbagi makanan denganku?" Gerutuku.
Luki menatapku kaget, melonggo sedetik, detik berikutnya tertawa.
" Oh.. kirain kamu gak mau, tadi kan bilangnya kamu diet," Ledeknya
Aku merampas coklat ditangannya sambil manyun, kulahap langsung potongan yang sudah terbuka bungkusnya. Aku tau Luki sedang tersenyum memperhatikanku, tapi aku lebih suka pura-pura tak tau. Aku mulai riskan kalo Luki mulia bersikap begitu.
Luki, aku mengenalnya saat kami masih sama-sama kelas 1 SD. Dia tetangga jarak 2 rumah dariku. Pindahan dari Surabaya kala itu. Dia sering menemukanku menangis dibelakang rumah, hingga kemudian dia mulai meluangkan bahunya untuk kusandari saat lelah.
" Makanlah coklat ini."
Kenangku akan ucapannya kala itu, pertama kali aku dikenalkan dengan coklat batangan yang memang sering kulihat tapi belum pernah aku membelinya apalagi merasakan bagaimana manisnya. Kala itu kami masih kelas 3 SD. Luki mendapatiku diujung jalan menuju ke sekolah dalam keadaan usai menangis.
" Kata orang rasa manis coklat bisa menghilangkan kesedihan." Terang Luki waktu itu
Aku tersenyum tiap mengenang hari itu, dan sejak hari itu tiap Luki menemukanku murung selalu disodorkan sebatang coklat padaku. Mungkin tiap hari sakunya selalu ada sebatang coklat sebagai pertolongan pertama untukku.
" Sudah baikan kan?" Tanyanya
Kujawab dengan senyum kecil.
" Tapi aku takut kalo suatu hari nanti persediaan coklatku habis."
Aku tak jadi melahap potongan kecil coklat ditanganku.
Kutatap Luki sedikit tak mengerti. Luki menggeser duduknya hingga lebih menghadapku.
" Maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu."
" Bukan masalah merepotkannya, aku cuma berharap kamu jangan sedih lagi"
Aku terpekur untuk sekian detik.
Aku... jujur juga sudah lelah dengan semua ini. Andai ibuku bisa sebaik mamanya Luki...
Ahh...ngimpi!
" Sudah hampir 20 tahun, aku juga heran kenapa ini masih belum berakhir." Gumamku
" Mungkin kamu hanya harus sedikit mengalah"
Kutatap Luki
" Apa aku masih kurang mengalah? Aku harus mengalah seperti apa lagi Luk?" Keluhku dengan intonasi cukup tinggi.
" Kukira kamu sudah sangat tau posisiku, tapi ternyata selama ini aku salah" Lanjutku bangkit dan berlalu.
" Hei...hei..." Kejar Luki, tapi tak kuindahkan.
Sungguh, aku cukup kecewa dengan ucapannya tadi.
" Kepala batumu itu yang membuat ini terus berlanjut" Sergahnya segera, dan itu berhasil membuat langkahku terhenti.
Langkah Luki juga terhenti 2 langkah dibelakangku. Sepi untuk beberapa detik.
" Kamu gak akan tau susahnya jadi aku Luk. Hidup dengan orang yang ingin aku sayangi tapi seperti mengelak. Sepanjang hidupku aku seperti orang yang tak pernah diharapkannya, tanpa kutau apa alasannya. Itu sesuatu yang sangat berat. Kalo ada yang ingin ini segera berakhir, orang pertama adalah aku, karena aku sudah sangat capek." Paparku tanpa kami bersitatap.
Kulanjutkan langkahku karena sebentar lagi air mataku pasti akan meleleh lagi jika terus-terusan ditempat. Luki tak mengejarku lagi. Dan aku lebih suka begitu. Kadang aku memang ingin menikmati kesedihan ini sendiri, tanpa Luki, tanpa coklat batangannya yang dipercayanya bisa menghilangkan kesedihan itu.
Aku terus melangkah menjauhi taman kompleks ini. Entah kemana yang penting menghindari Luki meski hanya untuk saat ini.
Lalu perlahan wajah itu mengganggu langkahku.
Ibu.... aku ini putrimu, yang selama hampir 20 tahun ini sangat merindukan pelukanmu. Bahkan aku tak pernah tau rasanya pelukan hangat seorang ibu.
Ibu... aku tak pernah meminta apapun, aku hanya ingin keadaan yang selama ini terjadi bisa berubah. Aku ingin tatapan matamu itu hangat menyapaku sambil memelukku.
Ibu...aku ingin ibu tau, tangis ini untukmu.
Ibu.....
Untukmu,
percayalah, ada akhir indah menantimu
keep calm 'n smile.....
Minggu, 12 Oktober 2014
KULDESAK III
Aku terpekur dibangku panjang di teras depan rumah, tempat favorite-ku, karena disini aku bisa dengan bebas melihat hamparan laut disana,juga debur ombak dipantai itu. Sebulan lebih telah berlalu, dan tak satupun ada yang berubah dari tempat kecil nan sederhana ini. Hanya suasana hatiku yang tak seperti biasanya.
Aku mendesah lagi. Dadaku terasa sesak tiap kali mengingat itu,
" Apa? New york?" Desisku tak percaya
Billy tersenyum lebar seraya mengangguk pasti, lalu diraihnya jemariku.
" Iya Nda, kita pindah saja ke New york, lalu kita menikah disana."
Spontan mataku membulat, nafasku tercekat dan aliran darahku serasa terhenti disatu titik nadi. Perlahan kutarik jemariku dari genggaman tangan Billy. Dan itu terlihat sekali membuat Billy heran, alisnya mengkerut.
" Kenapa Nda? Kau tak suka? Kau tak mau menikah denganku?' Berondongnya sedih.
Aku tergelak dalam hati.
Sedih? Benarkah Billy sedih aku bersikap begini? Kenapa aku harus memikirkannya? Apa ada yang memikirkan perasaanku saat ini?
Setiap kali teringat kata MENIKAH, ingatan tragedi setahun lalu itu seperti menusuk-nusuk hatiku, mencabik-cabik seluruh ketenanganku. Terserah orang mau bilang aku mengalami trauma akut dengan yang namanya menikah, yang pasti aku perlu waktu cukup banyak untuk melupakan kesakitan dari kata itu.
" Aku perlu waktu untuk melangkah ke jenjang itu Bil."
" Tapi bukankah kita sudah bersama cukup lama? sudah banyak hal yang kita lalui? Kau masih belum percaya aku?"
" Bukan begitu, aku....."
Lamunanku terbuyar saat Hanif ikut duduk disebelahku, dengan segelas lemon tea dingin ditangannya.
" Aku rindu sekali suasana disini. Rindu sekali." Gumamku sedih.
Hanif hanya menanggapi dengan desahan panjang.
" Minumlah, kau pasti haus." Katanya menyodorkan gelas lemon tea itu, kuterima dengan sudut bibir sedikit melebar
" Terimakasih." Lalu kuteguk sedikit lemon tea itu, perjalanan sejam lebih dengan KRL memang membuatku sedikit haus.
Lalu sepi beberapa detik. Mungkin kami lebih sibuk dengan kegalauan kami masing-masing. Aku masih bingung harus mulai darimana untuk bicara dengan Hanif mengenai keputusan Billy kemarin pagi.
" Han, aku..."
" Aku tau." Sergah Hanif dengan senyum kecil, tapi cukup besar menimbulkan rasa sakit didadaku.
" Kau sudah tau?"
Hanif menarik nafas pendek,
" Aku kan sahabat baiknya Din, jadi sebelum dia memutuskan itu dia sudah berunding dulu denganku. Katanya dia ingin membuka lembaran baru denganmu, biar tak ada gadis-gadis bodoh lagi yang menganggu kalian."
Aku tergelak mendengar semua omongan Hanif.
" Apa-apaan ini? Jadi sebelum bicara denganku, Billy sudah berunding dulu denganmu?" Desisku tak percaya.
Hanif mengangguk pelan.
" Dan kau menyetujuinya Han?"
" Aku bisa apa Din?" Keluh Hanif
Aku beranjak marah,
" Ya Tuhan...Apa kalian anggap aku ini cuma seonggok daging yang tak punya perasaan sedikitpun? Kenapa aku harus menuruti semua permainan ini? Kenapa??!" Geramku,
" Din..." Hanif bangkit dan mendekat, mencoba menenangkanku.
Aku mundur menghindar.
" Aku tak suka ini Han, aku juga ingin bahagia. Denganmu, bukan dengan Billy." Ceracauku mulai menangis.
" Aku tak mau ke New York, aku mau disini."
" Benarkah sebulan ini tak membuatmu kembali seperti dulu?" Tanya Hanif.
Aku terperanjat. Lalu tergelak, menertawakan keadaanku yang begitu menyedihkan.
" Apa kau juga amnesia seperti Billy, Han? Apa kau sudah lupa dengan yang dia lakukan pada kita setaun lalu itu? Dia menghancurkan kehidupan kita begitu hebat, Han? Sampai kita harus rela hidup ditempat seperti ini."
" Benarkah sudah tak ada sisa cinta dihatimu Din? Sedikitpun?!" Tanya Hanif seperti butuh kepastian, seperti meragukan kesetiaanku pada laut ini, pada pantai ini, pada semua yang ada disini.
" Awalnya aku juga berfikir begitu Han, aku juga takut jatuh cinta lagi dengan Billy yang sangat memuja dan mencintaiku. Aku takut. Tapi anehnya, semakin hari aku semakin sadar, dia bukan Billy yang dulu sangat mencintaiku sampai kemudian berubah sangat membenciku. Dia hanya Billy yang amnesia, Billy yang sebagian ingatannya berkelana entah kemana. Dan aku, aku juga bukan Dinda yang dulu Han. Aku adalah Dinda yang sekarang, Dinda yang begitu dekat dengan laut dan pantai. Dinda yang belajar banyak tentang ketegaran dari seorang Hanif." Akuku sungguh-sungguh.
Siang ini aku hanya ingin Hanif tau perasaanku selama ini bukan terlahir dari keadaan kami selama ini. Tapi karena aku memang benar-benar membutuhkan dia, jauh melebihi apapun apalagi Billy.
" Kita telah lalui banyak hal sulit bersama Han, dan aku tak pernah memilihmu apalagi bersamamu karena keterpaksaan. Aku merasa ini semua karena sudah digariskanNya. Dan aku bisa apa? Meskipun sekali lagi ada kesempatan bersama Billy yang dulu, ternyata tak bisa membuat hatiku kembali. Mungkin karena aku telah pergi terlalu jauh. Dan ditempat yang jauh itu aku menemukanmu. Kau menyuruhku untuk selalu percaya padamu, jadi kau juga harus percaya padaku. Aku mau disini, bersamamu."
Hanif perlahan tersenyum, lalu mendekat dan memelukku.
" Kita akhiri saja semua ini Han, aku sudah tak kuat lagi. Aku tak mau meninggalkanmu." Rengekku dalam pelukannya.
Tapi Hanif tak menyahut, akupun bangkit dari pelukannya. Menatap Hanif.
" Kau tak mau lihat strawberry-mu?" Tanyanya malah mengalihkan topik.
Benarkah Hanif takut melawan keadaan ini? Atau dia hanya berusaha mengalah untuk Billy?
Aku duduk terpaku menatap lalu lalang orang-orang di bandara ini. Ternyata sampai hari H tiba, aku tetap seonggok daging yang tak pernah punya pilihan. Aku tak jauh beda dengan Hanif yang pasrah dengan keadaan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, cinta ini, juga kebahagiaan yang sempat kumiliki bersama Hanif. Semuanya.
Ya Tuhan... kenapa semua ini begitu sulit kuhentikan?
" Kukira kau tak kan datang mengantar kami." Ucapan Billy menyadarkanku, aku menoleh. Seraut wajah Hanif tersenyum pada Billy, lalu padaku. Tapi, lagi-lagi senyum itu membuat dadaku sangat sesak.
" Ini boarding pass-nya kak," susul Benny dari belakang Hanif, menyerahkan lembaran kertas pada Billy.
Billy menerima dengan suka cita.
" Oke, kalau begitu kami masuk dulu ya.."
Nafasku terasa terhenti. Sungguh, haruskah secepat ini? Keluhku dalam hati.
Hanif menunduk saat melihat pandanganku.
" Ayo, Nda!" Ajak Billy mengulurkan tangannya.
Saat ini aku ingin teriak tak mau. Saat ini aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Saat ini aku ingin berontak dari semua ini. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku hanya bisa diam.
Terdengar Billy menghela nafas panjang, lalu duduk disebelahku. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa. Tapi kemudian Billy tergelak.
" Sudahlah..." Katanya, lalu tiba-tiba tangannya menyobek tiket dan boarding pass. Punyaku.
Tentu saja kami semua kaget,
" Bil..." Desisku menatapnya lekat
" Sudah aku sobek, sekarang buang jauh-jauh wajah sedihmu itu." Katanya menyerahkan sobekan tiket dan boarding pass itu ke tanganku.
" Apa maksudnya ini Bil?"
Billy seperti menahan nafasnya sejenak, lalu menatapku dan Hanif bergantian.
" Aku sudah ingat semuanya."
Lagi-lagi kami terhenyak. Kutatap Hanif.
" Saat aku pingsan minggu lalu itu, dalam tidurku, aku mengingat semua kejadian, sebelum dan sesudah kecelakaan. Dan aku sempat tak percaya dengan yang kalian lakukan. Aku malu pada kalian. Aku..." Billy seperti butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
" Saat terbangun dan menemukan kalian diteras waktu itu, aku baru sadar kalau aku orang paling menyedihkan. Kau tau, Nda, sebenarnya aku menyesali semua yang terjadi pada kita setahun lalu itu. Tapi ternyata egoku lebih besar dari sisa cintaku hingga aku memilih terbelenggu dalam keadaan itu. Dan kecelakaan itu, amnesia itu, mungkin kesempatan kedua dari Tuhan agar aku memperbaiki kesalahanku padamu. Andai aku yang ada diposisimu, aku pun tak sanggup melakukan ini semua Nda,.." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dihadapanku sekarang bukan seperti Billy sebelum setahun lalu, juga bukan Billy sebulan lalu. Dia Billy yang lain, yang belum pernah kupahami sifatnya.
" Dan kau Han, aku tak percaya kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau menyuruh wanita yang kau cintai kembali kepada orang yang pernah menghancurkan hidupmu?!" Desis Billy geram, menatap Hanif.
" Kalian malah menjadikanku orang paling kejam sedunia. Menghancurkan hidup dua orang yang saling mencintai. Untung aku cepat sadar, kalau tidak, aku akan menanggung kesedihan kalian berdua sepanjang hidupku."
" Bil..." Keluhku menyentuh tangannya.
Billy menatapku dengan senyum
" Tenanglah Nda, aku sudah memikirkannya. Aku tak akan egois lagi. Aku tak akan menghancurkan hidup kalian untuk kedua kalinya. Tuhan memang memberiku kesempatan kedua, tapi bukan untuk memilikimu lagi. Tuhan menunjukkan padaku bahwa aku harus lebih mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan sinar matamu tak pernah bisa bohong, bahwa sekarang, atau mungkin sejak dulu, aku tak pernah bisa memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya."
Aku tak bisa menahan tangisku, Billy tersenyum.
" Dulu, melihatmu sedih membuat hatiku sangat sakit. Tapi sekarang, saat merasakan kau tersiksa bersamaku malah membuatku ingin mati saja. Aku memang sempat ingin tak peduli, hingga aku berencana membawamu menjauh dari Hanif, tapi makin hari aku makin merasa sakit melihatmu tersenyum dalam kepura-puraan. Aku menunggu kalian berontak tapi ternyata sampai disini pun kalian tetap bungkam. Kalian benar-benar bodoh, pantas kalian cocok.
Aku tergelak dalam tangisku.
" Rasanya sungguh aneh saat pertama kali teringat semuanya. Aku bahkan sampai benci diriku sendiri, kenapa sampai menjadi orang yang sangat tidak berguna begini. Dulu aku sendiri yang mencampakkanmu karena alasan yang tak masuk akal, sungguh aneh kalau kemudian Tuhan malah sejenak membuat aku menjadi orang yang sebelum membencimu. Tapi lama-lama aku sadar, menemukan sinar matamu yang begitu sedih, mendapati sikap Hanif yang begitu tegar. Kebahagiaan itu tidak berasal dari cinta yang berlebihan seperti yang kumiliki, tapi dari pengertian dan pengorbanan yang tulus." Ungkap Billy.
Kami semua membisu, tak satupun yang menanggapi semua ucapan Billy. Mungkin kami terlalu sibuk dengan ketidakpercayaan kami.
" Ya sudahlah, aku masuk dulu ya.." Katanya bangkit.
" Bil.." Susulmu memeluknya.
" Sudahlah Nda, mungkin ini hukum karma yang harus kuterima." Katanya menepuk bahuku.
" Berjanjilah kau akan baik-baik disana" Pesanku
" Tentu saja, aku janji" Ucapnya melepas pelukan.
" Kalian juga harus berjanji akan selalu bersama. Dan kau Han, berjanjilah untuk tidak pernah melepaskan Dinda untuk siapapun. Apapun alasannya."
Hanif tersenyum, seraya mendekat dan memeluk Billy.
Dua orang sahabat baik benar-benar sudah kembali, Bathinku.
" Tenanglah, aku hanya mengalah sekali, dan itupun hanya denganmu."Aku Hanif.
" Sekali lagi kau beri kesempatan aku merebut Dinda, aku akan membawanya kabur sejauh mungkin sampai kau tak bisa menemukannya."
Lalu mereka tertawa bersama, dan melepas pelukan. Billy kemudian menatapku.
" Sejak dulu aku ingin katakan ini pada kalian, aku..." Billy menunduk sebentar.
" Maaf, Maaf untuk semua kesalahanku dulu, terlebih padamu Nda, aku begitu banyak menyakitimu. Wajar saja kalau seperti apapun aku berubah kau tak bisa mencintaiku lagi."
" Bil...."
Billy tersenyum,
" Pulanglah bersama Hanif yang lebih mengerti arti kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu, bukankah strawberry kalian perlu dipanen?"
Aku tersenyum haru, air mataku kembali jatuh.
Billy menggigit bibirnya kuat-kuat, seperti menahan tangisnya.
" Aku harus pergi." Katanya berat. Dengan mata mengembun.
" Terimakasih Bil,"
Billy hanya tersenyum dan buru-buru membalikkan badan, aku tau dia begitu untuk menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.
Billy langsung melangkah masuk ke ruang boarding pass, diikuti Benny. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, tak bisa kumengerti, hanya saja ini bukan perasaan kehilangan.
" Aku tak percaya akhirnya begini."
Hanif juga menatap kepergian punggung Billy.
" Ini bukan akhir cerita Han," Sanggahku.
Hanif menatapku, kamipun saling tersenyum.
" Ini adalah awal kita, tanpa kebencian, tanpa penyesalan masa lalu."
Hanif merangkul pundakku.
Dipintu terakhir masih sempat kami lihat Billy menoleh ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan senyum. Kamipun membalasnya dengan senyum.
" Ternyata jalan takdir itu unik ya" Gumamku,
" Lebih unik dari yang kita bayangkan." Imbuh Hanif. Aku mengangguk setuju.
Sungguh, hari ini begitu indah. Semua kesedihan yang kuratapi selama ini terbayar sudah.
" Din..." Panggil Hanif " Kau mau menikah denganku?" Lanjutnya membuatku mau tak mau tersentak.
" Apa?"
Hanif menggeser tubuhku, menghadapnya penuh. Memegang pundakku lembut.
" Aku tau ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya takut. Takut takdir menyeret kita ke keadaan menyulitkan seperti kemarin. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti kemarin. Aku yakin jika harus ada diposisi itu lagi aku tak mungkin sanggup."
Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku ingin ungkapkan banyak hal. Tapi kurasa Hanif sudah tau meski hanya lewat senyumku.
" Aku bisa membantumu memanen strawberry." Lanjutnya membuatku tergelak dan aku sangat bahagia sekali saat memeluknya.
Memang benar, takdir itu penuh liku, tapi percayalah jalannya tetap menuju ke kebahagiaan yang kita cari. Ibarat strawberry, rasanya memang asam dan kasar, tapi tetap saja begitu indah dan menarik hati untuk dinikmati. Dan apapun yang telah kami lalui, ternyata tetap menegaskan satu hal pada kami, bahwa kita ini hanya pemeran sebuah sandiwara kehidupan. Asal kita menikmatinya, pasti ada kebahagiaan yang akan kita terima sebagai imbalannya.
" Terimakasih." Lalu kuteguk sedikit lemon tea itu, perjalanan sejam lebih dengan KRL memang membuatku sedikit haus.
Lalu sepi beberapa detik. Mungkin kami lebih sibuk dengan kegalauan kami masing-masing. Aku masih bingung harus mulai darimana untuk bicara dengan Hanif mengenai keputusan Billy kemarin pagi.
" Han, aku..."
" Aku tau." Sergah Hanif dengan senyum kecil, tapi cukup besar menimbulkan rasa sakit didadaku.
" Kau sudah tau?"
Hanif menarik nafas pendek,
" Aku kan sahabat baiknya Din, jadi sebelum dia memutuskan itu dia sudah berunding dulu denganku. Katanya dia ingin membuka lembaran baru denganmu, biar tak ada gadis-gadis bodoh lagi yang menganggu kalian."
Aku tergelak mendengar semua omongan Hanif.
" Apa-apaan ini? Jadi sebelum bicara denganku, Billy sudah berunding dulu denganmu?" Desisku tak percaya.
Hanif mengangguk pelan.
" Dan kau menyetujuinya Han?"
" Aku bisa apa Din?" Keluh Hanif
Aku beranjak marah,
" Ya Tuhan...Apa kalian anggap aku ini cuma seonggok daging yang tak punya perasaan sedikitpun? Kenapa aku harus menuruti semua permainan ini? Kenapa??!" Geramku,
" Din..." Hanif bangkit dan mendekat, mencoba menenangkanku.
Aku mundur menghindar.
" Aku tak suka ini Han, aku juga ingin bahagia. Denganmu, bukan dengan Billy." Ceracauku mulai menangis.
" Aku tak mau ke New York, aku mau disini."
" Benarkah sebulan ini tak membuatmu kembali seperti dulu?" Tanya Hanif.
Aku terperanjat. Lalu tergelak, menertawakan keadaanku yang begitu menyedihkan.
" Apa kau juga amnesia seperti Billy, Han? Apa kau sudah lupa dengan yang dia lakukan pada kita setaun lalu itu? Dia menghancurkan kehidupan kita begitu hebat, Han? Sampai kita harus rela hidup ditempat seperti ini."
" Benarkah sudah tak ada sisa cinta dihatimu Din? Sedikitpun?!" Tanya Hanif seperti butuh kepastian, seperti meragukan kesetiaanku pada laut ini, pada pantai ini, pada semua yang ada disini.
" Awalnya aku juga berfikir begitu Han, aku juga takut jatuh cinta lagi dengan Billy yang sangat memuja dan mencintaiku. Aku takut. Tapi anehnya, semakin hari aku semakin sadar, dia bukan Billy yang dulu sangat mencintaiku sampai kemudian berubah sangat membenciku. Dia hanya Billy yang amnesia, Billy yang sebagian ingatannya berkelana entah kemana. Dan aku, aku juga bukan Dinda yang dulu Han. Aku adalah Dinda yang sekarang, Dinda yang begitu dekat dengan laut dan pantai. Dinda yang belajar banyak tentang ketegaran dari seorang Hanif." Akuku sungguh-sungguh.
Siang ini aku hanya ingin Hanif tau perasaanku selama ini bukan terlahir dari keadaan kami selama ini. Tapi karena aku memang benar-benar membutuhkan dia, jauh melebihi apapun apalagi Billy.
" Kita telah lalui banyak hal sulit bersama Han, dan aku tak pernah memilihmu apalagi bersamamu karena keterpaksaan. Aku merasa ini semua karena sudah digariskanNya. Dan aku bisa apa? Meskipun sekali lagi ada kesempatan bersama Billy yang dulu, ternyata tak bisa membuat hatiku kembali. Mungkin karena aku telah pergi terlalu jauh. Dan ditempat yang jauh itu aku menemukanmu. Kau menyuruhku untuk selalu percaya padamu, jadi kau juga harus percaya padaku. Aku mau disini, bersamamu."
Hanif perlahan tersenyum, lalu mendekat dan memelukku.
" Kita akhiri saja semua ini Han, aku sudah tak kuat lagi. Aku tak mau meninggalkanmu." Rengekku dalam pelukannya.
Tapi Hanif tak menyahut, akupun bangkit dari pelukannya. Menatap Hanif.
" Kau tak mau lihat strawberry-mu?" Tanyanya malah mengalihkan topik.
Benarkah Hanif takut melawan keadaan ini? Atau dia hanya berusaha mengalah untuk Billy?
Aku duduk terpaku menatap lalu lalang orang-orang di bandara ini. Ternyata sampai hari H tiba, aku tetap seonggok daging yang tak pernah punya pilihan. Aku tak jauh beda dengan Hanif yang pasrah dengan keadaan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, cinta ini, juga kebahagiaan yang sempat kumiliki bersama Hanif. Semuanya.
Ya Tuhan... kenapa semua ini begitu sulit kuhentikan?
" Kukira kau tak kan datang mengantar kami." Ucapan Billy menyadarkanku, aku menoleh. Seraut wajah Hanif tersenyum pada Billy, lalu padaku. Tapi, lagi-lagi senyum itu membuat dadaku sangat sesak.
" Ini boarding pass-nya kak," susul Benny dari belakang Hanif, menyerahkan lembaran kertas pada Billy.
Billy menerima dengan suka cita.
" Oke, kalau begitu kami masuk dulu ya.."
Nafasku terasa terhenti. Sungguh, haruskah secepat ini? Keluhku dalam hati.
Hanif menunduk saat melihat pandanganku.
" Ayo, Nda!" Ajak Billy mengulurkan tangannya.
Saat ini aku ingin teriak tak mau. Saat ini aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Saat ini aku ingin berontak dari semua ini. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku hanya bisa diam.
Terdengar Billy menghela nafas panjang, lalu duduk disebelahku. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa. Tapi kemudian Billy tergelak.
" Sudahlah..." Katanya, lalu tiba-tiba tangannya menyobek tiket dan boarding pass. Punyaku.
Tentu saja kami semua kaget,
" Bil..." Desisku menatapnya lekat
" Sudah aku sobek, sekarang buang jauh-jauh wajah sedihmu itu." Katanya menyerahkan sobekan tiket dan boarding pass itu ke tanganku.
" Apa maksudnya ini Bil?"
Billy seperti menahan nafasnya sejenak, lalu menatapku dan Hanif bergantian.
" Aku sudah ingat semuanya."
Lagi-lagi kami terhenyak. Kutatap Hanif.
" Saat aku pingsan minggu lalu itu, dalam tidurku, aku mengingat semua kejadian, sebelum dan sesudah kecelakaan. Dan aku sempat tak percaya dengan yang kalian lakukan. Aku malu pada kalian. Aku..." Billy seperti butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
" Saat terbangun dan menemukan kalian diteras waktu itu, aku baru sadar kalau aku orang paling menyedihkan. Kau tau, Nda, sebenarnya aku menyesali semua yang terjadi pada kita setahun lalu itu. Tapi ternyata egoku lebih besar dari sisa cintaku hingga aku memilih terbelenggu dalam keadaan itu. Dan kecelakaan itu, amnesia itu, mungkin kesempatan kedua dari Tuhan agar aku memperbaiki kesalahanku padamu. Andai aku yang ada diposisimu, aku pun tak sanggup melakukan ini semua Nda,.." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dihadapanku sekarang bukan seperti Billy sebelum setahun lalu, juga bukan Billy sebulan lalu. Dia Billy yang lain, yang belum pernah kupahami sifatnya.
" Dan kau Han, aku tak percaya kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau menyuruh wanita yang kau cintai kembali kepada orang yang pernah menghancurkan hidupmu?!" Desis Billy geram, menatap Hanif.
" Kalian malah menjadikanku orang paling kejam sedunia. Menghancurkan hidup dua orang yang saling mencintai. Untung aku cepat sadar, kalau tidak, aku akan menanggung kesedihan kalian berdua sepanjang hidupku."
" Bil..." Keluhku menyentuh tangannya.
Billy menatapku dengan senyum
" Tenanglah Nda, aku sudah memikirkannya. Aku tak akan egois lagi. Aku tak akan menghancurkan hidup kalian untuk kedua kalinya. Tuhan memang memberiku kesempatan kedua, tapi bukan untuk memilikimu lagi. Tuhan menunjukkan padaku bahwa aku harus lebih mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan sinar matamu tak pernah bisa bohong, bahwa sekarang, atau mungkin sejak dulu, aku tak pernah bisa memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya."
Aku tak bisa menahan tangisku, Billy tersenyum.
" Dulu, melihatmu sedih membuat hatiku sangat sakit. Tapi sekarang, saat merasakan kau tersiksa bersamaku malah membuatku ingin mati saja. Aku memang sempat ingin tak peduli, hingga aku berencana membawamu menjauh dari Hanif, tapi makin hari aku makin merasa sakit melihatmu tersenyum dalam kepura-puraan. Aku menunggu kalian berontak tapi ternyata sampai disini pun kalian tetap bungkam. Kalian benar-benar bodoh, pantas kalian cocok.
Aku tergelak dalam tangisku.
" Rasanya sungguh aneh saat pertama kali teringat semuanya. Aku bahkan sampai benci diriku sendiri, kenapa sampai menjadi orang yang sangat tidak berguna begini. Dulu aku sendiri yang mencampakkanmu karena alasan yang tak masuk akal, sungguh aneh kalau kemudian Tuhan malah sejenak membuat aku menjadi orang yang sebelum membencimu. Tapi lama-lama aku sadar, menemukan sinar matamu yang begitu sedih, mendapati sikap Hanif yang begitu tegar. Kebahagiaan itu tidak berasal dari cinta yang berlebihan seperti yang kumiliki, tapi dari pengertian dan pengorbanan yang tulus." Ungkap Billy.
Kami semua membisu, tak satupun yang menanggapi semua ucapan Billy. Mungkin kami terlalu sibuk dengan ketidakpercayaan kami.
" Ya sudahlah, aku masuk dulu ya.." Katanya bangkit.
" Bil.." Susulmu memeluknya.
" Sudahlah Nda, mungkin ini hukum karma yang harus kuterima." Katanya menepuk bahuku.
" Berjanjilah kau akan baik-baik disana" Pesanku
" Tentu saja, aku janji" Ucapnya melepas pelukan.
" Kalian juga harus berjanji akan selalu bersama. Dan kau Han, berjanjilah untuk tidak pernah melepaskan Dinda untuk siapapun. Apapun alasannya."
Hanif tersenyum, seraya mendekat dan memeluk Billy.
Dua orang sahabat baik benar-benar sudah kembali, Bathinku.
" Tenanglah, aku hanya mengalah sekali, dan itupun hanya denganmu."Aku Hanif.
" Sekali lagi kau beri kesempatan aku merebut Dinda, aku akan membawanya kabur sejauh mungkin sampai kau tak bisa menemukannya."
Lalu mereka tertawa bersama, dan melepas pelukan. Billy kemudian menatapku.
" Sejak dulu aku ingin katakan ini pada kalian, aku..." Billy menunduk sebentar.
" Maaf, Maaf untuk semua kesalahanku dulu, terlebih padamu Nda, aku begitu banyak menyakitimu. Wajar saja kalau seperti apapun aku berubah kau tak bisa mencintaiku lagi."
" Bil...."
Billy tersenyum,
" Pulanglah bersama Hanif yang lebih mengerti arti kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu, bukankah strawberry kalian perlu dipanen?"
Aku tersenyum haru, air mataku kembali jatuh.
Billy menggigit bibirnya kuat-kuat, seperti menahan tangisnya.
" Aku harus pergi." Katanya berat. Dengan mata mengembun.
" Terimakasih Bil,"
Billy hanya tersenyum dan buru-buru membalikkan badan, aku tau dia begitu untuk menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.
Billy langsung melangkah masuk ke ruang boarding pass, diikuti Benny. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, tak bisa kumengerti, hanya saja ini bukan perasaan kehilangan.
" Aku tak percaya akhirnya begini."
Hanif juga menatap kepergian punggung Billy.
" Ini bukan akhir cerita Han," Sanggahku.
Hanif menatapku, kamipun saling tersenyum.
" Ini adalah awal kita, tanpa kebencian, tanpa penyesalan masa lalu."
Hanif merangkul pundakku.
Dipintu terakhir masih sempat kami lihat Billy menoleh ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan senyum. Kamipun membalasnya dengan senyum.
" Ternyata jalan takdir itu unik ya" Gumamku,
" Lebih unik dari yang kita bayangkan." Imbuh Hanif. Aku mengangguk setuju.
Sungguh, hari ini begitu indah. Semua kesedihan yang kuratapi selama ini terbayar sudah.
" Din..." Panggil Hanif " Kau mau menikah denganku?" Lanjutnya membuatku mau tak mau tersentak.
" Apa?"
Hanif menggeser tubuhku, menghadapnya penuh. Memegang pundakku lembut.
" Aku tau ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya takut. Takut takdir menyeret kita ke keadaan menyulitkan seperti kemarin. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti kemarin. Aku yakin jika harus ada diposisi itu lagi aku tak mungkin sanggup."
Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku ingin ungkapkan banyak hal. Tapi kurasa Hanif sudah tau meski hanya lewat senyumku.
" Aku bisa membantumu memanen strawberry." Lanjutnya membuatku tergelak dan aku sangat bahagia sekali saat memeluknya.
Memang benar, takdir itu penuh liku, tapi percayalah jalannya tetap menuju ke kebahagiaan yang kita cari. Ibarat strawberry, rasanya memang asam dan kasar, tapi tetap saja begitu indah dan menarik hati untuk dinikmati. Dan apapun yang telah kami lalui, ternyata tetap menegaskan satu hal pada kami, bahwa kita ini hanya pemeran sebuah sandiwara kehidupan. Asal kita menikmatinya, pasti ada kebahagiaan yang akan kita terima sebagai imbalannya.
"akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain"
-Mario Teguh-
randublatung,10/12/2014
Jumat, 10 Oktober 2014
KULDESAK II
Siang ini begitu sunyi, hingga suara burung berkicau di taman seberang jalan sana pun bisa terdengar. Bahkan suara dengkur halus Billy juga bisa kudengar, menjadi irama nyaring di kamarnya yang nyaman ini.
Aku masih terpekur ditepi ranjang menatapnya dengan perasaan kacau balau. Wajah tampan nan penuh kharisma itu terlihat begitu damai dalam tidurnya dibawah pengaruh obat dari dokter yang ikut disuntikkan usai pemeriksaan tadi. Jujur, degup jantungku masih terasa meski insiden tadi sudah berlalu hampir sejam.
" Mungkin Billy cuma kecapekan, karena seharusnya dia masih harus banyak istirahat, tapi dia sudah memaksakan diri bekerja." tutur Dokter Frans mencoba menenangkanku yang masih gemetar, karena aku tak pernah melihat hal itu sebelumnya terjadi pada Billy.
" Anda yakin Dok?" Ternyata aku masih belum yakin.
" Dia tadi kelihatan sangat kesakitan memegangi kepalanya, sampai tak bisa bicara apapun selain merintih kesakitan, sampai kemudian dia pingsan." Lanjutku menjelaskan kronologi kejadian yang dialami Billy. Entah untuk keberapa kalinya.
Dokter Frans tersenyum.
" Insya Allah tidak ada masalah apa-apa. Semua sudah saya cek, semua normal, hanya kecapekan saja."
Aku mendesah. Pasrah dengan yang diputuskan Dokter Frans. Tiba-tiba terlintas suatu kemungkinan.
" Dok, apa mungkin tadi otaknya sedang mengalami proses mengingat kembali memorinya yang hilang?" Tebakku
Dokter Frans termangu sejenak.
" Bisa jadi, tapi semua itu tergantung reaksi Billy nanti kalau sudah sadar."
Kali ini aku yang termangu. Pandanganku nanar ke arah Billy.
" Saya pemisi dulu. Kalau ada perkembangan, hubungi saya lagi." Pamit Dokter Frans, hanya kutanggapi dengan senyum, karena pikiranku sedang sibuk menduga-duga tebakanku tadi.
Sebulan ini, begitu banyak cerita yang telah tercipta bersama Billly. Billy yang lama telah kembali lagi. Billy yang menatapku dengan lembut dan senyum hangat. Billy yang selalu memperhatikan detail tiap kondisiku. Billy yang begitu punya banyak cinta untukku.
" Kenapa aku merasa kau sedikit berbeda?" Katanya seperti curiga, malam itu saat kami usai makan malam.
Aku sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum tipis.
" Kau ini ada-ada saja." Kilahku
Billy meraih jemariku yang sejak tadi sibuk mencuci piring alat makan malam kami tadi.
" Matamu tak bisa bohong Nda, aku...seperti melihat sayatan luka disana. Luka yang dalam, luka yang sangat menyakitkan."
Aku menunduk, mencoba menata hatiku.
Jujur, meski sudah puluhan hari aku kembali menjadi kesayangan Billy, sebenarnya aku masih belum bisa memainkan peran itu sepenuhnya. Dan itu karena Hanif. Pria yang paling mengerti keadaanku dan posisiku. Pria malang yang secara tak sengaja ikut kuseret dalam dilema ini.
" Bil,..." Suaraku tercekat, senyum Hanif seperti menahanku bicara.
Berulang kali aku ingin menceritakan semua yang terjadi, semua, agar aku bisa cepat-cepat keluar dari peran konyol ini. Tapi lagi-lagi senyum Hanif seperti mengambil semua suaraku.
" Aku mungkin cuma sedikit capek." Lanjutku akhirnya. Ya, akhirnya, dan membuatku akan lebih lama terjebak disini.
Billy tersenyum, seraya membelai rambutku lembut.
" Ya sudah kau istirahat saja, biar piringnya aku yang cuci." Katanya kemudian seperti lega.
" Gak usah, lagian ini juga tinggal 2 piring."
" Eiitts...gak boleh bandel ya, apa mau dijewer?" Sergah Billy siap-siap mengangkat tangannya menuju kupingku.
" Billy...."
" Nda," Billy merengkuh tanganku yang sudah siap-siap mencebur ke wastafel lagi, ditariknya menjauh, didekapnya ke dalam dadanya hingga bajunya sedikit basah.
" Kau satu-satunya yang kuharapkan selalu baik-baik saja. Aku tak ingin apapun terjadi padamu, apalagi itu adalah yang membuatmu sakit atau terluka." Akunya
Kunikmati pancaran sinar terhangat dari matanya. Sungguh, aku seperti kembali ke masa-masa indah itu. Dan rasanya jika hari ini sinar mata hangat itu ada, seperti tak pernah ada hari dimana Billy begitu membenciku. Sampai-sampai pernah terucap sumpah serapah yang tak pernah memberiku kesempatan kembali dalam bagian hidupnya, kapanpun itu.
Dan kalau yang kusangka tadi benar terjadi, aku harus bagaimana? Keadaan yang sebelumnya hangat dan romantis, tiba-tiba harus kembali berubah 180 derajat. Apa aku akan menerima makian, tatapan sinis penuh kebencian, pengusiran yang kasar? Lagi?
Aku menunduk, entah ketakutan atau malah endapan kegembiraan karena semua sandiwara ini akan segera usai.
Tiba-tiba pintu kamar terdengar terbuka perlahan. Aku menoleh sedikit. Seraut wajah kalem milik Hanif berdiri diambang pintu, seulas senyum menyusul terlihat.
" Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya kemudian.
" Hmm...kuharap, kata dokter tadi juga begitu, cuma terlalu capek." Jawabku, lalu kembali menatap Billy yang masih tertidur pulas. Detik berikutnya kudengar langkah Hanif menjauh, kuikuti segera.
" Han.." Panggilku setelah sampai diteras samping kamar Billy.
" Kau mengkhawatirkannya kan Din?"
" Aku..."
" Kau tak pandai berbohong Din, apalagi tatapan matamu itu. Mungkin sebulan ini kembalinya Billy yang dulu sudah bisa membalut lukamu waktu itu."
" Aku seperti orang paling kejam sedunia." Keluhku menunduk
" Kenapa bicara seperti itu?"
" Kata-katamu tadi..."
" Dinda aku tadi..."
" Maaf." Sesalku menunduk lebih dalam.
" Din..."
" Maafkan aku Han, aku terlalu banyak menyakitimu dalam masalah ini, sejak dulu. Aku menyeretmu dalam tragedi tak terselesaikan. Dulu aku sudah sangat fatal melibatkanmu, hingga kau terdepak dari pekerjaanmu. Tak sampai disitu, kau bahkan kemudian ikut menanggung deritaku. Dan sekarang, kau pun harus rela hati hidup begini..."
" Heii..sstt..." Desis Hanif mendekat, seraya mencoba menenangkanku.
" Kau ini bicara apa sih Din."
" Padahal setahun ini aku sudah cukup bahagia. Aku sudah mencoba ikhlaskan semua dan memulai lembaran baru denganmu, tapi..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.
" Sudahlah.."
Hanya itu yang diucapkan Hanif lalu hanya memelukku lembut. Isakku pun makin menjadi.
Sungguh, aku rindu pelukan lembut Hanif, aku begitu rindu meski sebulan ini Billy tak bosan memanjakanku. Ternyata goresan luka tetaplah goresan luka. Ditutupi seperti apapun tetap membekas. Dan aku ingin segera kembali bersama Hanif yang mencintaiku sewajarnya saja. Cinta yang terbina dengan manisnya oleh keadaan yang begitu pelik.
" Han..kita sudahi saja semua ini ya, aku sudah tak sanggup lagi brsandiwara." Pintaku
Hanif menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
"Kau ini bicara apa, Din? Kitakah yang tentukan kita main disini? Tidak! Jadi kita juga tak punya hak keluar dari permainan ini"
" Kenapa tidak bisa, Han?! Ini hidup kita, kenapa kita tak boleh bahagia? Kenapa kita harus memikirkan Billy sementara tak satupun memikirkan perasaan kita? Kenapa harus kita yang mengalah?" Ceracauku geram.
Hanif tak menjawab, malah beringsut dan duduk ditembok pembatas teras yang memang hanya setinggi 1 meter.
" Aku tak tau Din, sejak awal aku hanya pasrah. Aku terlalu lemah untuk berani melawan takdir. Bahkan kalau kupikir-pikir lagi, kau jauh lebih tegar. Lebih mampu menghadapi semua ini."
Aku ikut duduk disamping Hanif, mataku pun ikut menerawang ke angkasa sana.
" Asal kau tau Han, aku bisa setegar ini juga karena kau percaya padaku. Aku bisa sejauh ini juga karena kau tak pernah bosan menyemangatiku." Akuku datar.
Hanif menatapku , akupun mengarahkan pandanganku ke wajah lembutnya. Kamipun tersenyum bersama.
" Terimakasih sudah percaya, menitipkan semua sisa milikmu padaku." Ucap Hanif
" Aku juga, terimakasih mau menerima semua ini. Semuanya." Lalu aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Tangan Hanif kemudian merengkuh pundakku.
" Aku mohon, jangan tanya lagi kapan ini berakhir ya. karena aku juga bingung mau jawab apa. Kita jalani saja semua yang ada. Kita percaya saja, Tuhan telah menyiapkan sebuah akhir. Meski masih kapan dan entah seperti apa akhirnya."
Aku tak menyahut, lebih suka menikmati letihnya jiwa ragaku yang tersambut rengkuhan Hanif.
" Aku rindu tanaman strawberry-ku."
Terdengar Hnaif tergelak pendek.
" Kelihatannya sebentar lagi akan berbuah, sudah mulai kelihatan kuncupnya."
" Oya?!" Aku terlonjak gembira,
Hanif mengangguk dengan senyum.
" Kapan-kapan kalau ada waktu lihatlah." Sarannnya.
Aku tersenyum bahagia, sejenak lupa beban yang selama ini melilit.
Inilah indahnya hubunganku dengan Hanif, meski sewajarnya saja tapi begitu menentramkan perasaanku. Sementara keromantisan Billy sejak dulu memang membuatku tak tenang.
Aku masih terpekur ditepi ranjang menatapnya dengan perasaan kacau balau. Wajah tampan nan penuh kharisma itu terlihat begitu damai dalam tidurnya dibawah pengaruh obat dari dokter yang ikut disuntikkan usai pemeriksaan tadi. Jujur, degup jantungku masih terasa meski insiden tadi sudah berlalu hampir sejam.
" Mungkin Billy cuma kecapekan, karena seharusnya dia masih harus banyak istirahat, tapi dia sudah memaksakan diri bekerja." tutur Dokter Frans mencoba menenangkanku yang masih gemetar, karena aku tak pernah melihat hal itu sebelumnya terjadi pada Billy.
" Anda yakin Dok?" Ternyata aku masih belum yakin.
" Dia tadi kelihatan sangat kesakitan memegangi kepalanya, sampai tak bisa bicara apapun selain merintih kesakitan, sampai kemudian dia pingsan." Lanjutku menjelaskan kronologi kejadian yang dialami Billy. Entah untuk keberapa kalinya.
Dokter Frans tersenyum.
" Insya Allah tidak ada masalah apa-apa. Semua sudah saya cek, semua normal, hanya kecapekan saja."
Aku mendesah. Pasrah dengan yang diputuskan Dokter Frans. Tiba-tiba terlintas suatu kemungkinan.
" Dok, apa mungkin tadi otaknya sedang mengalami proses mengingat kembali memorinya yang hilang?" Tebakku
Dokter Frans termangu sejenak.
" Bisa jadi, tapi semua itu tergantung reaksi Billy nanti kalau sudah sadar."
Kali ini aku yang termangu. Pandanganku nanar ke arah Billy.
" Saya pemisi dulu. Kalau ada perkembangan, hubungi saya lagi." Pamit Dokter Frans, hanya kutanggapi dengan senyum, karena pikiranku sedang sibuk menduga-duga tebakanku tadi.
Sebulan ini, begitu banyak cerita yang telah tercipta bersama Billly. Billy yang lama telah kembali lagi. Billy yang menatapku dengan lembut dan senyum hangat. Billy yang selalu memperhatikan detail tiap kondisiku. Billy yang begitu punya banyak cinta untukku.
" Kenapa aku merasa kau sedikit berbeda?" Katanya seperti curiga, malam itu saat kami usai makan malam.
Aku sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum tipis.
" Kau ini ada-ada saja." Kilahku
Billy meraih jemariku yang sejak tadi sibuk mencuci piring alat makan malam kami tadi.
" Matamu tak bisa bohong Nda, aku...seperti melihat sayatan luka disana. Luka yang dalam, luka yang sangat menyakitkan."
Aku menunduk, mencoba menata hatiku.
Jujur, meski sudah puluhan hari aku kembali menjadi kesayangan Billy, sebenarnya aku masih belum bisa memainkan peran itu sepenuhnya. Dan itu karena Hanif. Pria yang paling mengerti keadaanku dan posisiku. Pria malang yang secara tak sengaja ikut kuseret dalam dilema ini.
" Bil,..." Suaraku tercekat, senyum Hanif seperti menahanku bicara.
Berulang kali aku ingin menceritakan semua yang terjadi, semua, agar aku bisa cepat-cepat keluar dari peran konyol ini. Tapi lagi-lagi senyum Hanif seperti mengambil semua suaraku.
" Aku mungkin cuma sedikit capek." Lanjutku akhirnya. Ya, akhirnya, dan membuatku akan lebih lama terjebak disini.
Billy tersenyum, seraya membelai rambutku lembut.
" Ya sudah kau istirahat saja, biar piringnya aku yang cuci." Katanya kemudian seperti lega.
" Gak usah, lagian ini juga tinggal 2 piring."
" Eiitts...gak boleh bandel ya, apa mau dijewer?" Sergah Billy siap-siap mengangkat tangannya menuju kupingku.
" Billy...."
" Nda," Billy merengkuh tanganku yang sudah siap-siap mencebur ke wastafel lagi, ditariknya menjauh, didekapnya ke dalam dadanya hingga bajunya sedikit basah.
" Kau satu-satunya yang kuharapkan selalu baik-baik saja. Aku tak ingin apapun terjadi padamu, apalagi itu adalah yang membuatmu sakit atau terluka." Akunya
Kunikmati pancaran sinar terhangat dari matanya. Sungguh, aku seperti kembali ke masa-masa indah itu. Dan rasanya jika hari ini sinar mata hangat itu ada, seperti tak pernah ada hari dimana Billy begitu membenciku. Sampai-sampai pernah terucap sumpah serapah yang tak pernah memberiku kesempatan kembali dalam bagian hidupnya, kapanpun itu.
Dan kalau yang kusangka tadi benar terjadi, aku harus bagaimana? Keadaan yang sebelumnya hangat dan romantis, tiba-tiba harus kembali berubah 180 derajat. Apa aku akan menerima makian, tatapan sinis penuh kebencian, pengusiran yang kasar? Lagi?
Aku menunduk, entah ketakutan atau malah endapan kegembiraan karena semua sandiwara ini akan segera usai.
Tiba-tiba pintu kamar terdengar terbuka perlahan. Aku menoleh sedikit. Seraut wajah kalem milik Hanif berdiri diambang pintu, seulas senyum menyusul terlihat.
" Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya kemudian.
" Hmm...kuharap, kata dokter tadi juga begitu, cuma terlalu capek." Jawabku, lalu kembali menatap Billy yang masih tertidur pulas. Detik berikutnya kudengar langkah Hanif menjauh, kuikuti segera.
" Han.." Panggilku setelah sampai diteras samping kamar Billy.
" Kau mengkhawatirkannya kan Din?"
" Aku..."
" Kau tak pandai berbohong Din, apalagi tatapan matamu itu. Mungkin sebulan ini kembalinya Billy yang dulu sudah bisa membalut lukamu waktu itu."
" Aku seperti orang paling kejam sedunia." Keluhku menunduk
" Kenapa bicara seperti itu?"
" Kata-katamu tadi..."
" Dinda aku tadi..."
" Maaf." Sesalku menunduk lebih dalam.
" Din..."
" Maafkan aku Han, aku terlalu banyak menyakitimu dalam masalah ini, sejak dulu. Aku menyeretmu dalam tragedi tak terselesaikan. Dulu aku sudah sangat fatal melibatkanmu, hingga kau terdepak dari pekerjaanmu. Tak sampai disitu, kau bahkan kemudian ikut menanggung deritaku. Dan sekarang, kau pun harus rela hati hidup begini..."
" Heii..sstt..." Desis Hanif mendekat, seraya mencoba menenangkanku.
" Kau ini bicara apa sih Din."
" Padahal setahun ini aku sudah cukup bahagia. Aku sudah mencoba ikhlaskan semua dan memulai lembaran baru denganmu, tapi..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.
" Sudahlah.."
Hanya itu yang diucapkan Hanif lalu hanya memelukku lembut. Isakku pun makin menjadi.
Sungguh, aku rindu pelukan lembut Hanif, aku begitu rindu meski sebulan ini Billy tak bosan memanjakanku. Ternyata goresan luka tetaplah goresan luka. Ditutupi seperti apapun tetap membekas. Dan aku ingin segera kembali bersama Hanif yang mencintaiku sewajarnya saja. Cinta yang terbina dengan manisnya oleh keadaan yang begitu pelik.
" Han..kita sudahi saja semua ini ya, aku sudah tak sanggup lagi brsandiwara." Pintaku
Hanif menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
"Kau ini bicara apa, Din? Kitakah yang tentukan kita main disini? Tidak! Jadi kita juga tak punya hak keluar dari permainan ini"
" Kenapa tidak bisa, Han?! Ini hidup kita, kenapa kita tak boleh bahagia? Kenapa kita harus memikirkan Billy sementara tak satupun memikirkan perasaan kita? Kenapa harus kita yang mengalah?" Ceracauku geram.
Hanif tak menjawab, malah beringsut dan duduk ditembok pembatas teras yang memang hanya setinggi 1 meter.
" Aku tak tau Din, sejak awal aku hanya pasrah. Aku terlalu lemah untuk berani melawan takdir. Bahkan kalau kupikir-pikir lagi, kau jauh lebih tegar. Lebih mampu menghadapi semua ini."
Aku ikut duduk disamping Hanif, mataku pun ikut menerawang ke angkasa sana.
" Asal kau tau Han, aku bisa setegar ini juga karena kau percaya padaku. Aku bisa sejauh ini juga karena kau tak pernah bosan menyemangatiku." Akuku datar.
Hanif menatapku , akupun mengarahkan pandanganku ke wajah lembutnya. Kamipun tersenyum bersama.
" Terimakasih sudah percaya, menitipkan semua sisa milikmu padaku." Ucap Hanif
" Aku juga, terimakasih mau menerima semua ini. Semuanya." Lalu aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Tangan Hanif kemudian merengkuh pundakku.
" Aku mohon, jangan tanya lagi kapan ini berakhir ya. karena aku juga bingung mau jawab apa. Kita jalani saja semua yang ada. Kita percaya saja, Tuhan telah menyiapkan sebuah akhir. Meski masih kapan dan entah seperti apa akhirnya."
Aku tak menyahut, lebih suka menikmati letihnya jiwa ragaku yang tersambut rengkuhan Hanif.
" Aku rindu tanaman strawberry-ku."
Terdengar Hnaif tergelak pendek.
" Kelihatannya sebentar lagi akan berbuah, sudah mulai kelihatan kuncupnya."
" Oya?!" Aku terlonjak gembira,
Hanif mengangguk dengan senyum.
" Kapan-kapan kalau ada waktu lihatlah." Sarannnya.
Aku tersenyum bahagia, sejenak lupa beban yang selama ini melilit.
Inilah indahnya hubunganku dengan Hanif, meski sewajarnya saja tapi begitu menentramkan perasaanku. Sementara keromantisan Billy sejak dulu memang membuatku tak tenang.
10/10/2014
Rabu, 08 Oktober 2014
KULDESAK
Langkahku terhenti diujung koridor rumah sakit. Rasanya kaki ini begitu berat untuk melangkah lagi. Hanif yang selangkah didepanku menyadari aku berhenti dan menoleh. Matanya memancarkan sinar spirit yang begitu buat aku risih. Harusnya dia tak menyemangatiku.
" Din..., aku tau ini berat, tapi ada baiknya kau tetap berusaha." Katanya lebih mirip seperti memohon
" Aku tak sanggup Han, kau juga tau itu." Rengekku.
Hanif membalikkan tubuhnya mengahadapku, diraihnya jemariku.
" Aku tau, tapi cobalah lakukan ini demi.."
" Demi siapa Han?"
" Demi Billy." Lanjut Hanif menunduk
Aku tergelak bercampur isak.
Sejam lalu, tiba-tiba Benny, adik Billy menemuiku dengan wajah murung.
" Aku mohon, ikutlah ke rumah sakit. Kak Billy sangat membutuhkanmu." Pintanya memelas.
Dan aku bisa apa jika Hanif juga ikut memohon?
Billy,
Sebenarnya mendengar nama itu pun aku sudah tak ingin. Begitu inginnya aku mengubur dalam-dalam nama itu, bahkan kalau perlu aku ingin tak ingat lagi.
Terlalu banyak luka yang tercipta bersama nama itu. Terlalu banyak dan semuanya menyakitkan.
Tapi kenapa takdir malah mengantar aku kesini?
Menurut cerita Benny, kemarin Billy mengalami kecelakaan, sempat koma sampai kemudian tadi pagi tersadar. Dan saat itulah dilema ini dimulai.
Billy mengalami gegar otak yang cukup aneh. Sebagian memori di otaknya hilang tak bisa diingatnya. Otaknya hanya mampu mengingat kejadian sebelum 2 tahun lalu. Dan masa itu adalah awal-awal kami berpacaran.
Dulu, 2 tahun lalu adalah masa-masa indah bersama Billy. Pria kharismatik nan ceria itu begitu mencintaiku. Bahkan bisa dibilang sangat memujaku. Dia seperti ingin menunjukkan dunia bahwa akulah pemenang hatinya yang sebelumnya selalu berkelana dari berbagai cinta.
Sebenarnya aku tak begitu setuju Billy bersikap terlalu berlebihan begitu. Karena aku malah merasa aneh dipuja seperti itu. Aku pun takut akan kebenaran sebuah peribahasa, diujung cinta yang sangat, ada kebncian yang sangat pula. Dan ketakutanku pun menjadi nyata, justru ketika aku memutuskan menyetujui ajakannya menikah.
Tiap teringat kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, sebenarnya aku ingin limbung. Dadaku begitu sesak mengingat tiap ucapan menyakitkan Billy.
Sebagai pria kharismatik bertalenta tinggi, tentu saja banyak wanita yang ingin merebutnya dariku yang sebenarnya tak cukup pantas bersanding dengannya, hingga tak sedikit wanita yang cemburu. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba beberapa lembar foto rekayasa antara aku dan Hanif ada ditangan Billy. Dan Billy yang sangat menjunjung kesetiaan akhirnya kalap dan menghancurkan semuanya. Termasuk hatiku dan persahabatnya dengan Hanif.
" Aku tak bisa Han.." Desisku berbalik arah.
" Dinda..." Buru Hanif mencegahku.
" Tolong Han, jangan berpura-pura lagi, aku tau kita tak bisa lakukan ini.." Hibaku.
Hanif termangu menggenggam erat jemariku. Aku tau dia juga dalam dilema ini
Sejak kejadian hancurnya rencana pernikahanku dengan Billy di H-1 itu, Hanif lah yang selalu disampingku. Menangkal semua cacian dan cemoohan semua orang yang tak tau pokok permasalahannya. Bahkan dia juga yang tetap menemaniku saat aku memutuskan menjauh sejauh mungkin dari keluargaku. Karena tak ingin makin mempermalukan mereka.
" Siapa yang bisa melawan takdir Din? Kita ini hanya pion-pion kecil dihadapanNya. Kurang jauhkah kita menjauh? Kurang dalamkah kau membenci Billy? Kurang berlapang dadakah kita terima semua akibat yang seharusnya tak perlu kita pikul? Tapi apa daya kita Din? Kita akhirnya kembali ke sini. Kita akhirnya harus menghadapi semua ini. Kau pacar kesayangan Billy, dan aku sahabat terbaiknya."
Aku makin sakit mendengar semua jabaran Hanif.
" Kau yang saat ini dibutuhkan Billy. Tegakah kau membiarkan orang yang sangat mencintaimu itu menunggumu? Tegakah kau membiarkan orang yang sangat memujamu itu kebingungan mencarimu?"
Aku menunduk dalam-dalam menyembunyikan isakku.
" Bagaimana kalau ingatannya pulih lagi? Dia kembali membenciku, mencampakkanku. Aku juga kau Han. Dihadapannya kita ini seperti penghianat."
Hanif tersenyum tipis, megusap lembut air mata dipipiku.
" Ada aku Din. Aku tetap disini."
Dan akhirnya aku kembali meneruskan perjalanan beratku menemui Billy. Sampai di depan pintu kamar Billy aku kembali termangu.
" Tenanglah, aku diluar, 10 menit lagi aku menyusul." Ucap Hanif seperti menghibur.
Tapi kalau boleh jujur, yang kubutuhkan saat ini adalah kabur dari sini.
" Masuklah, jadilah Dinda kesayangan Billy."
" Kalau boleh memilih, aku lebih suka menjadi Dinda-mu."
Hanif tersenyum.
" Tuhan punya rencana sendiri kenapa ini terjadi."
" Kenapa tak diceritakan saja yang sebenarnya? Kalau sekarang dia sangat membenciku, bahkan dia tak kan pernah memaafkanku. Bukankah itu lebih baik baginya saat kelak kesadarannya pulih?" Desisku
" kenyataan yang berlawanan dengan yang diingatnya akan membuat kerusakan otaknya makin parah. Dan bisa berakibat fatal." Sahut Benny tiba-tiba.
Aku menatap Benny.
" Maaf, mungkin dulu dia terlalu dalam menyakitimu, akupun tak kan sanggup memaafkan hal itu jika jadi dirimu, tapi...aku mohon!" Ucapan Benny kali ini sangat memelas.
hampir 4 tahun aku pacaran dengan Billy, hingga aku cukup mengenal Benny. Benny sangat menyayangi kakaknya, melebihi orang tua mereka menyayangi mereka.
Pandanganku beralih ke Hanif, laki-laki yang lebih mirip tongkat penyanggaku. Pengorbanannya sangat tak adil jika harus dihanguskan dengan kenyataan ini. Awal kisah kami memang bukan bernama cinta. Tapi seiring waktu berjalan kami menjadi dua orang yang saling membutuhkan. Dan itu lebih dalam dari percintaan manapun.
" Masuklah, aku tau kau bukan orang yang tak bisa memaafkan kesalahan orang lain."
" Ini tak adil Han," Aku terus mencoba 'berontak'.
" Kau masih percaya Tuhan kan? Dia maha adil, Dia tak kan meninggalkanmu, percayalah" Ucap Hanif meyakinkan.
Tapi aku tetap tak bisa meyakinkan hati ini. Kenapa aku harus kembali ketempat yang sudah sangat jauh kutinggalkan? Kenapa aku harus kembali ke tempat yang sebenarnya sudah tak menginginkanku lagi?
Kupandangi pintu dihadapanku dengan perasaan tak menentu. Tanganku gemetar mendekati handle pintu itu.
" Din..., aku tau ini berat, tapi ada baiknya kau tetap berusaha." Katanya lebih mirip seperti memohon
" Aku tak sanggup Han, kau juga tau itu." Rengekku.
Hanif membalikkan tubuhnya mengahadapku, diraihnya jemariku.
" Aku tau, tapi cobalah lakukan ini demi.."
" Demi siapa Han?"
" Demi Billy." Lanjut Hanif menunduk
Aku tergelak bercampur isak.
Sejam lalu, tiba-tiba Benny, adik Billy menemuiku dengan wajah murung.
" Aku mohon, ikutlah ke rumah sakit. Kak Billy sangat membutuhkanmu." Pintanya memelas.
Dan aku bisa apa jika Hanif juga ikut memohon?
Billy,
Sebenarnya mendengar nama itu pun aku sudah tak ingin. Begitu inginnya aku mengubur dalam-dalam nama itu, bahkan kalau perlu aku ingin tak ingat lagi.
Terlalu banyak luka yang tercipta bersama nama itu. Terlalu banyak dan semuanya menyakitkan.
Tapi kenapa takdir malah mengantar aku kesini?
Menurut cerita Benny, kemarin Billy mengalami kecelakaan, sempat koma sampai kemudian tadi pagi tersadar. Dan saat itulah dilema ini dimulai.
Billy mengalami gegar otak yang cukup aneh. Sebagian memori di otaknya hilang tak bisa diingatnya. Otaknya hanya mampu mengingat kejadian sebelum 2 tahun lalu. Dan masa itu adalah awal-awal kami berpacaran.
Dulu, 2 tahun lalu adalah masa-masa indah bersama Billy. Pria kharismatik nan ceria itu begitu mencintaiku. Bahkan bisa dibilang sangat memujaku. Dia seperti ingin menunjukkan dunia bahwa akulah pemenang hatinya yang sebelumnya selalu berkelana dari berbagai cinta.
Sebenarnya aku tak begitu setuju Billy bersikap terlalu berlebihan begitu. Karena aku malah merasa aneh dipuja seperti itu. Aku pun takut akan kebenaran sebuah peribahasa, diujung cinta yang sangat, ada kebncian yang sangat pula. Dan ketakutanku pun menjadi nyata, justru ketika aku memutuskan menyetujui ajakannya menikah.
Tiap teringat kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, sebenarnya aku ingin limbung. Dadaku begitu sesak mengingat tiap ucapan menyakitkan Billy.
Sebagai pria kharismatik bertalenta tinggi, tentu saja banyak wanita yang ingin merebutnya dariku yang sebenarnya tak cukup pantas bersanding dengannya, hingga tak sedikit wanita yang cemburu. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba beberapa lembar foto rekayasa antara aku dan Hanif ada ditangan Billy. Dan Billy yang sangat menjunjung kesetiaan akhirnya kalap dan menghancurkan semuanya. Termasuk hatiku dan persahabatnya dengan Hanif.
" Aku tak bisa Han.." Desisku berbalik arah.
" Dinda..." Buru Hanif mencegahku.
" Tolong Han, jangan berpura-pura lagi, aku tau kita tak bisa lakukan ini.." Hibaku.
Hanif termangu menggenggam erat jemariku. Aku tau dia juga dalam dilema ini
Sejak kejadian hancurnya rencana pernikahanku dengan Billy di H-1 itu, Hanif lah yang selalu disampingku. Menangkal semua cacian dan cemoohan semua orang yang tak tau pokok permasalahannya. Bahkan dia juga yang tetap menemaniku saat aku memutuskan menjauh sejauh mungkin dari keluargaku. Karena tak ingin makin mempermalukan mereka.
" Siapa yang bisa melawan takdir Din? Kita ini hanya pion-pion kecil dihadapanNya. Kurang jauhkah kita menjauh? Kurang dalamkah kau membenci Billy? Kurang berlapang dadakah kita terima semua akibat yang seharusnya tak perlu kita pikul? Tapi apa daya kita Din? Kita akhirnya kembali ke sini. Kita akhirnya harus menghadapi semua ini. Kau pacar kesayangan Billy, dan aku sahabat terbaiknya."
Aku makin sakit mendengar semua jabaran Hanif.
" Kau yang saat ini dibutuhkan Billy. Tegakah kau membiarkan orang yang sangat mencintaimu itu menunggumu? Tegakah kau membiarkan orang yang sangat memujamu itu kebingungan mencarimu?"
Aku menunduk dalam-dalam menyembunyikan isakku.
" Bagaimana kalau ingatannya pulih lagi? Dia kembali membenciku, mencampakkanku. Aku juga kau Han. Dihadapannya kita ini seperti penghianat."
Hanif tersenyum tipis, megusap lembut air mata dipipiku.
" Ada aku Din. Aku tetap disini."
Dan akhirnya aku kembali meneruskan perjalanan beratku menemui Billy. Sampai di depan pintu kamar Billy aku kembali termangu.
" Tenanglah, aku diluar, 10 menit lagi aku menyusul." Ucap Hanif seperti menghibur.
Tapi kalau boleh jujur, yang kubutuhkan saat ini adalah kabur dari sini.
" Masuklah, jadilah Dinda kesayangan Billy."
" Kalau boleh memilih, aku lebih suka menjadi Dinda-mu."
Hanif tersenyum.
" Tuhan punya rencana sendiri kenapa ini terjadi."
" Kenapa tak diceritakan saja yang sebenarnya? Kalau sekarang dia sangat membenciku, bahkan dia tak kan pernah memaafkanku. Bukankah itu lebih baik baginya saat kelak kesadarannya pulih?" Desisku
" kenyataan yang berlawanan dengan yang diingatnya akan membuat kerusakan otaknya makin parah. Dan bisa berakibat fatal." Sahut Benny tiba-tiba.
Aku menatap Benny.
" Maaf, mungkin dulu dia terlalu dalam menyakitimu, akupun tak kan sanggup memaafkan hal itu jika jadi dirimu, tapi...aku mohon!" Ucapan Benny kali ini sangat memelas.
hampir 4 tahun aku pacaran dengan Billy, hingga aku cukup mengenal Benny. Benny sangat menyayangi kakaknya, melebihi orang tua mereka menyayangi mereka.
Pandanganku beralih ke Hanif, laki-laki yang lebih mirip tongkat penyanggaku. Pengorbanannya sangat tak adil jika harus dihanguskan dengan kenyataan ini. Awal kisah kami memang bukan bernama cinta. Tapi seiring waktu berjalan kami menjadi dua orang yang saling membutuhkan. Dan itu lebih dalam dari percintaan manapun.
" Masuklah, aku tau kau bukan orang yang tak bisa memaafkan kesalahan orang lain."
" Ini tak adil Han," Aku terus mencoba 'berontak'.
" Kau masih percaya Tuhan kan? Dia maha adil, Dia tak kan meninggalkanmu, percayalah" Ucap Hanif meyakinkan.
Tapi aku tetap tak bisa meyakinkan hati ini. Kenapa aku harus kembali ketempat yang sudah sangat jauh kutinggalkan? Kenapa aku harus kembali ke tempat yang sebenarnya sudah tak menginginkanku lagi?
Kupandangi pintu dihadapanku dengan perasaan tak menentu. Tanganku gemetar mendekati handle pintu itu.
Sungguh, yang paling kuharapkan saat ini adalah ingatan Billy cepat pulih. Hingga aku tak perlu lagi memainkan peran tak kusukai ini. Hingga aku tak perlu lagi ada ditempat tak seharusnya ini. Hingga aku bisa hidup wajar dengan Hanif yang mengerti semua ini.
Untuk terakhir kalinya mataku kembali menatap Hanif, dan hanya senyum yang terasa hambar yang diperlihatkannya. Ya Tuhan, tolong aku.
10/09/2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Cinta Disebuah Masa
Senyum itu mengembang lagi, senyum yang manis, dan membuat wajah manis dihadapanku itu kian manis saja. Sejak 10 menit lalu entah sudah berapa kali gadis manis itu memamerkan senyumnya padaku, atau mungkin malah senyum itu tak pernah lepas dari bibirnya. Kentara sekali wajah manis itu bahagia.
Dulu, aku suka sekali saat wajah manis itu tersenyum. Membuatku ikut bahagia. Meski manja dan egois melebihi keegoisan Angel, keponakanku yang baru berumur 4 tahun, tapi aku suka. Ya, dia. Karin. Gadis manis yang semasa SMA dulu aku pacari. Yang semasa SMA dulu tak pernah bosan bergelayut manja dibahuku. Yang begitu manis dan lugu, meski egois dan selalu minta dituruti. Dan aku tak pernah mampu menolaknya, apapun akan aku lakukan asal dia tak marah atau sedih apalagi menangis. Tapi itu dulu, 3 tahun lalu.
Dan setelah terpisah 3 tahun secara tak sengaja kami bertemu lagi. Dan Karin tetap tak berubah. Tetap manis dan manja.
" Jadi kau kuliah sambil kerja ya? Apa tak repot? Belum kau masih latihan futsal, main-main..."
Tawa pendekku memotong ucapannya
" Kita bukan anak SMA lagi Rin, orang dewasa selalu harus bisa mengesampingkan hal-hal yang tidak penting." Kataku
Karin mengerutkan alisnya, dan itu membuatnya makin manis.
" Kau banyak berubah Ga." Cetusnya seperti tak suka.
Ya, Karin memang tak suka, dan itu jelas terlihat dari mimik wajahnya.
Aku berubah? Ya, memang benar aku telah banyak berubah.
" Kau bukan Arga-ku yang dulu. Yang selalu ceria dan suka kebebasan. Kau sekarang seperti terikat, patuh."
Aku tersenyum kecil.
Bukankah saat bersamanya dulu aku juga seperti terikat? Seperti patuh? Terikat suasana hatinya dan patuh pada apa yang diinginkannya.
" Kembalilah seperti dulu Ga, seperti Arga-ku yang dulu. Kita lewati hari-hari bersama, bahagia..."
" Hidup ini tak hanya berisi bahagia Rin." Potongku lagi.
Karin reflek memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Apa yang susah buat Karin? Kurasa tak ada. Dia adalah putri tunggal konglomerat. Apa yang diinginkannya tinggal ucap dan seperti sihir sulap dalam sekejap ada dihadapannya. Mungkin dulu aku juga salah satunya. Dia begitu manis hingga semua orang mau mengalah untuknya. Mau menyerahkan apapun untuknya. Dan aku, pun demikian. Entahlah, pacaran dengannya seperti hambar. Saat dia bahagia, ikut bahagia. Dan dia ingin selalu bahagia.
" Apa kau sudah tak mencintaiku lagi Ga? Apa karena kita terlalu lama berpisah?"
Aku diam tak menyahut.
" Dulu kau begitu mencintaiku Ga, dulu kau tak pernah membuatku begini." Lanjutnya sedih, hampir menangis.
Aku mendesah berat.
" Dulu, saat bersamamu saat melihatmu bahagia akupun ikut bahagia. Saat kau marah atau ngambek, aku tak suka, makanya aku memilih untuk mengalah agar kau tak marah lagi."
Perlahan raut muka Karin berangsur cerah lagi. sudut bibirnya melebar menciptakan siluet senyum.
" Dan saat kau menangis, aku tak suka, dan aku akan mencari tau apa yang membuatmu menangis. Dan aku akan menjauhkannya sejauh mungkin darimu."
Senyum Karin tergelar manis sekali.
" Tapi....itu dulu Rin," Lanjutku membuat senyumnya langsung lenyap.
Lalu bayangan Mika melintas. Gadis sederhana yang kukenal belum genap setahun ini. Gadis yang telah mengubah hampir seluruh hidupku. Gadis yang mengajarkanku tentang arti sebenarnya hidup. Hidup yang tak hanya melulu mudah dan bisa dipermudah.
" Kau memang sudah berubah Ga."
Aku menunduk menghindari tatapannya yang dulu membuatku selalu mengalah dan akhirnya menuruti semua inginnya, semua.
" Bersamamu, dekat denganmu rasanya hanya ada ceria. Tapi bersamanya, rasanya sangat nyaman. Tak pernah bosan." Akuku menatapnya sekilas, tapi sekilas saja aku bisa melihat matanya begitu angkuh dan tak suka.
" Menemukanmu dalam keadaan menangis, membuat aku tidak suka. Hingga aku selalu mencoba menjauhkan apapun yang membuatmu menangis. Tapi melihatnya menangis, membuat dadaku sangat sakit, bahkan sampai tak bisa bernafas." Pengakuanku terus berlanjut.
Kuberanikan diri menatap wajah Karin. Kali ini dia tak hanya menunjukkan ekspresi tak suka, tapi juga marah.
" Tapi ada kalanya dia terlihat sangat tegar hingga mampu menopangku saat aku rapuh, saat aku tak kuat menghadapi masalah. Dihadapanmu aku seperti harus selalu menjadi orang yang tegar. Tapi dihadapannya aku berani menjadi apapun, bahkan menangis" Aku diam sebentar.
Kuraih jemarinya yang gelisah menahan amarah
" Rin, kau tau, bersamamu aku tak merasakan apapun selain ingin membuatmu bahagia, tapi bersama dia aku juga bisa merasakan takut. Takut kehilangan, takut berakhir, takut melukai. Apa dulu kau pernah merasakan itu padaku Rin?"
Jemari Karin makin gemetar, perlahan menarik jemarinya dari genggamanku. Matanya berubah nanar.
" Aku sudah menduga. Saat melihatnya pertama kali aku sudah menduga bahwa dia telah merebut Arga-ku.."
" Mika tak merebut aku darimu Rin, karena dulu kau yang meninggalkan aku."
Isak Karin hampir pecah, tangannya membungkam mulutnya sendiri.
" Kau memang manis Rin, dan aku menyukaimu. Tapi itu dulu karena sekarang hatiku sudah terikat Mika. Aku takut melukainya, aku takut membuatnya menangis, aku takut kehilangan dia, aku takut..."
" Cukup!!!" Hardik Karin bangkit, dengan intonasi suara yang cukup tinggi hingga membuat seluruh pengunjung kafe ini melihatnya.
Mata Karin terlihat sangat marah
" Jangan pernah membandingkan aku dengannya, aku tidak menyukainya. Dan aku makin tak suka saat kau lebih memilih dia"
" Ini bukan soal memilih Rin, ini soal masa. Kau masa lalu, dan dia masa sekarang. Dan bersamanya aku bisa melihat masa depan itu.."
Plaaaaaaaaaaakkkk
Tamparan keras mendarat manis di pipiku. Dan untuk kedua kalinya mata pengunjung kafe mengarah pada kami.
Tamparan itu pula yang menyadarkanku akan kenangan masa laluku dengan Karin. Dan saat aku tersadar, yang kulihat hanya Mika.
" Kau memang berhak marah, tapi hanya padaku. Jika tamparan ini membuatmu cukup lega, tak apa." Kataku datar,
Bulir-bulir air mata perlahan membasahi pipinya yang lembut seperti pualam.
" Percayalah Rin, kau pasti juga akan menemukan orang yang bisa mengajarkanmu tentang arti hidup yang sesungguhnya. Entah cepat atau lambat, kau pasti akan menemukannya. Karena aku sudah menemukannya."
Aku beranjak dari dudukku,
" Belajarlah untuk tegar, karena sesungguhnya hidup ini tak mudah, bahkan ada beberapa yang tak bisa dimudahkan sekalipun. Aku ingin kelak kau jadi Karin yang tak hanya manis, tapi juga kuat." Ucapku ringan,
Dan saat aku mulai melangkah, Karin tetap termangu seperti itu.
Senja mulai merambat memayungi cakrawala. Lampu-lampu disepanjang jalan dan toko mulai menyala. Aku berdiri bersandar dibawah tiang listrik, sekitar 10 meter dari sebuah kios bunga kecil dipinggir jalan. Seorang gadis sederhana sedang sibuk melayani seorang pembeli, sepertinya pembelinya butuh sedikit penjelasan tentang bunga apa yang cocok untuk akhirnya dipesan. Sampai akhirnya beberapa tangkai bunga prisan yang dipilihnya. Terlihat senyum lebar menghiasi wajah gadis itu.
Dialah Mika. Gadis yang begitu berarti dalam hidupku kini. Gadis yang sebenarnya rapuh, sering sakit-sakitan. Tapi entah kenapa, justru dialah yang mengajarkanku menjadi tegar. Tegar yang sebenarnya. Yang membuatku memiliki sekaligus takut kehilangan dalam waktu yang bersamaan.
" Hei..."
Aku tersadar oleh panggilannya, selepas pembelinya pergi.
" Kau mau tetap disitu?" Tanyanya
Aku tersenyum kecil, lalu melangkah mendekatinya.Dia pun menyambutku dengan senyum.
" Duduklah, kubuatkan minum" Katanya kemudian.
Dan belum 5 menit berlalu Mika sudah kembali dengan 2 cangkir teh hangat.
" Dari mana tadi?" Tanyanya seraya duduk disebelahku.
Aku tak langsung menjawab, kuseruput dulu teh hangat itu, terasa sekali kehangatannya merasuk sampai ke relung-relung.
" Mik, jika aku teringat masa laluku, apa kau akan marah?"
Sepi beberapa detik, Mika ikut menikmati hangatnya teh ditangannya.
" Masa lalu. Bukankah semua orang punya masa lalu Ga? Aku juga punya masa lalu. Jadi kenapa aku harus marah?" Tegas Mika dengan kata-kata datar
Kuamati wajah itu berekspresi. Begitu dewasa, bahkan seperti seorang ibu sedang menanggapi curhatan anaknya.
" Teringat masa lalu itu manusiawi. Tapi untuk kembali adalah mustahil. Karena kita bukan doraemon." Kali ini sambil melucu. Akupun refleks tergelak.
" Ga, kau tau..."
Kuamati sinar mata Mika, ada semburat lain didalam sana, entahlah, aku tak cukup pintar menerkanya.
" Mencintai seseorang itu ibarat mengenggam pasir. Semakin kita menggenggamnya erat-erat, maka makin banyak pula pasir yang terlepas dari genggaman kita. Dan mungkin lama-lama akan habis tak tersisa. Tapi jika kita menggenggamnya seadanya saja, bahkan dengan tangan terbuka, kita mungkin malah bisa menambahnya." Ungkap Mika.
Cukup masuk akal.
Mungkin itu alasan Mika tak pernah mengekangku, apapun yang kuungkapkan ditanggapinya dengan senyum. Dan semua itu malah membuatku makin takut kehilangannya.
Dan soal masa lalu bersama Karin, biarlah... Toh aku sudah memutuskan semuanya, bahwa aku lebih nyaman dengan semua yang ada sekarang.
" Selamat dataaangg..." Seru Mika tiba-tiba seraya buru-buru bangkit.
Aku ikut bangkit dan semua menjadi sepi.
Karin berdiri tanpa ekspresi menatap kami.
" Kau..." Desisku tak percaya
Tapi Mika malah tersenyum.
" Apa istimewanya dia Ga, kenapa kau tetap pilih dia?" Ucapnya dingin.
" Sekali lagi, ini bukan soal pilihan Rin."
Karin tersenyum apatis,
" Aku masih ingat, dulu kau selalu bilang apapun akan kau lakukan asal aku tak menangis." Kenang Karin
" Kenapa sekarang kau malah buat aku begini Ga?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca
Mika menyentuh lenganku
" Ga, kau tak boleh..."
" Diam kau! Aku tak butuh kau bicara!" Sergah Karin kasar
" Karin!!!" Hardikku membuat tangisnya langsung pecah.
Mika menunduk, saat kakinya hendak beringsut, segera kesambar tangannya.
" Rin, apa kau pernah peduli apa yang kuinginkan?" Tanyaku
Karin menatapku dengan mata sembab.
" Apa dulu kau pernah sekali saja berfikir bahwa aku juga bisa tak berdaya? Aku bisa sedih? Bisa takut?"
Mika dan karin sama-sama menatapku, tapi dengan pandangan yang berbeda.
" Kau tak mungkin memikirkan itu semua, karena kau sudah disibukkan dengan yang kau pikirkan sendiri. Kau mau ini, mau itu. Dan tak pernah mau tau semua itu menyusahkan orang lain atau tidak, menyakiti orang lain atau tidak. Kau manis Rin, tapi kau terlalu egois. Kau menggenggamku terlalu kuat. Dan kau tak pernah peduli aku kesakitan atau tidak."
" Ga..." Karin ternganga.
" Maaf Rin, bukannya aku tak peduli perasaanmu, aku tau ini tak adil. Tapi aku sudah tak punya sisa cinta itu. Semua mulai terkikis sejak kita masih bersama dulu, dan makin terkikis saat kau dengan egoisnya meninggalkanku ke Perancis untuk cita-cita modelmu itu."
Satu persatu bulir-bulir air mata itu kembali membasahi pipi Karin lagi.
" Aku juga manusia biasa Rin, butuh cinta yang hangat, yang juga mau mengerti inginku. Ini bukan soal pilihan, ini soal hati."
Karin masih terisak saat tubuhnya berbalik dan berlari meninggalkan kami. Kualihkan pandanganku ke Mika yang sejak tadi memang sedang menatapku dengan pandangan yang tak pernah kumengerti.
" Apa aku terlalu jahat padanya?" Tanyaku.
Mika meraih tanganku dan menggenggam jemariku.
" Cinta itu lebih mirip bunga mawar. Menarik, indah. Tapi kalau kita tak mengenal mawar itu bagaimana, dan kita tak hati-hati saat memegangnya, kita sendiri yang akan terluka karena durinya." Paparnya lembut.
" Ajari aku mengenal mawar itu Mik, agar aku tak ceroboh dan terluka olehnya." Pintaku.
Mika tersenyum.
Dulu, aku suka sekali saat wajah manis itu tersenyum. Membuatku ikut bahagia. Meski manja dan egois melebihi keegoisan Angel, keponakanku yang baru berumur 4 tahun, tapi aku suka. Ya, dia. Karin. Gadis manis yang semasa SMA dulu aku pacari. Yang semasa SMA dulu tak pernah bosan bergelayut manja dibahuku. Yang begitu manis dan lugu, meski egois dan selalu minta dituruti. Dan aku tak pernah mampu menolaknya, apapun akan aku lakukan asal dia tak marah atau sedih apalagi menangis. Tapi itu dulu, 3 tahun lalu.
Dan setelah terpisah 3 tahun secara tak sengaja kami bertemu lagi. Dan Karin tetap tak berubah. Tetap manis dan manja.
" Jadi kau kuliah sambil kerja ya? Apa tak repot? Belum kau masih latihan futsal, main-main..."
Tawa pendekku memotong ucapannya
" Kita bukan anak SMA lagi Rin, orang dewasa selalu harus bisa mengesampingkan hal-hal yang tidak penting." Kataku
Karin mengerutkan alisnya, dan itu membuatnya makin manis.
" Kau banyak berubah Ga." Cetusnya seperti tak suka.
Ya, Karin memang tak suka, dan itu jelas terlihat dari mimik wajahnya.
Aku berubah? Ya, memang benar aku telah banyak berubah.
" Kau bukan Arga-ku yang dulu. Yang selalu ceria dan suka kebebasan. Kau sekarang seperti terikat, patuh."
Aku tersenyum kecil.
Bukankah saat bersamanya dulu aku juga seperti terikat? Seperti patuh? Terikat suasana hatinya dan patuh pada apa yang diinginkannya.
" Kembalilah seperti dulu Ga, seperti Arga-ku yang dulu. Kita lewati hari-hari bersama, bahagia..."
" Hidup ini tak hanya berisi bahagia Rin." Potongku lagi.
Karin reflek memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Apa yang susah buat Karin? Kurasa tak ada. Dia adalah putri tunggal konglomerat. Apa yang diinginkannya tinggal ucap dan seperti sihir sulap dalam sekejap ada dihadapannya. Mungkin dulu aku juga salah satunya. Dia begitu manis hingga semua orang mau mengalah untuknya. Mau menyerahkan apapun untuknya. Dan aku, pun demikian. Entahlah, pacaran dengannya seperti hambar. Saat dia bahagia, ikut bahagia. Dan dia ingin selalu bahagia.
" Apa kau sudah tak mencintaiku lagi Ga? Apa karena kita terlalu lama berpisah?"
Aku diam tak menyahut.
" Dulu kau begitu mencintaiku Ga, dulu kau tak pernah membuatku begini." Lanjutnya sedih, hampir menangis.
Aku mendesah berat.
" Dulu, saat bersamamu saat melihatmu bahagia akupun ikut bahagia. Saat kau marah atau ngambek, aku tak suka, makanya aku memilih untuk mengalah agar kau tak marah lagi."
Perlahan raut muka Karin berangsur cerah lagi. sudut bibirnya melebar menciptakan siluet senyum.
" Dan saat kau menangis, aku tak suka, dan aku akan mencari tau apa yang membuatmu menangis. Dan aku akan menjauhkannya sejauh mungkin darimu."
Senyum Karin tergelar manis sekali.
" Tapi....itu dulu Rin," Lanjutku membuat senyumnya langsung lenyap.
Lalu bayangan Mika melintas. Gadis sederhana yang kukenal belum genap setahun ini. Gadis yang telah mengubah hampir seluruh hidupku. Gadis yang mengajarkanku tentang arti sebenarnya hidup. Hidup yang tak hanya melulu mudah dan bisa dipermudah.
" Kau memang sudah berubah Ga."
Aku menunduk menghindari tatapannya yang dulu membuatku selalu mengalah dan akhirnya menuruti semua inginnya, semua.
" Bersamamu, dekat denganmu rasanya hanya ada ceria. Tapi bersamanya, rasanya sangat nyaman. Tak pernah bosan." Akuku menatapnya sekilas, tapi sekilas saja aku bisa melihat matanya begitu angkuh dan tak suka.
" Menemukanmu dalam keadaan menangis, membuat aku tidak suka. Hingga aku selalu mencoba menjauhkan apapun yang membuatmu menangis. Tapi melihatnya menangis, membuat dadaku sangat sakit, bahkan sampai tak bisa bernafas." Pengakuanku terus berlanjut.
Kuberanikan diri menatap wajah Karin. Kali ini dia tak hanya menunjukkan ekspresi tak suka, tapi juga marah.
" Tapi ada kalanya dia terlihat sangat tegar hingga mampu menopangku saat aku rapuh, saat aku tak kuat menghadapi masalah. Dihadapanmu aku seperti harus selalu menjadi orang yang tegar. Tapi dihadapannya aku berani menjadi apapun, bahkan menangis" Aku diam sebentar.
Kuraih jemarinya yang gelisah menahan amarah
" Rin, kau tau, bersamamu aku tak merasakan apapun selain ingin membuatmu bahagia, tapi bersama dia aku juga bisa merasakan takut. Takut kehilangan, takut berakhir, takut melukai. Apa dulu kau pernah merasakan itu padaku Rin?"
Jemari Karin makin gemetar, perlahan menarik jemarinya dari genggamanku. Matanya berubah nanar.
" Aku sudah menduga. Saat melihatnya pertama kali aku sudah menduga bahwa dia telah merebut Arga-ku.."
" Mika tak merebut aku darimu Rin, karena dulu kau yang meninggalkan aku."
Isak Karin hampir pecah, tangannya membungkam mulutnya sendiri.
" Kau memang manis Rin, dan aku menyukaimu. Tapi itu dulu karena sekarang hatiku sudah terikat Mika. Aku takut melukainya, aku takut membuatnya menangis, aku takut kehilangan dia, aku takut..."
" Cukup!!!" Hardik Karin bangkit, dengan intonasi suara yang cukup tinggi hingga membuat seluruh pengunjung kafe ini melihatnya.
Mata Karin terlihat sangat marah
" Jangan pernah membandingkan aku dengannya, aku tidak menyukainya. Dan aku makin tak suka saat kau lebih memilih dia"
" Ini bukan soal memilih Rin, ini soal masa. Kau masa lalu, dan dia masa sekarang. Dan bersamanya aku bisa melihat masa depan itu.."
Plaaaaaaaaaaakkkk
Tamparan keras mendarat manis di pipiku. Dan untuk kedua kalinya mata pengunjung kafe mengarah pada kami.
Tamparan itu pula yang menyadarkanku akan kenangan masa laluku dengan Karin. Dan saat aku tersadar, yang kulihat hanya Mika.
" Kau memang berhak marah, tapi hanya padaku. Jika tamparan ini membuatmu cukup lega, tak apa." Kataku datar,
Bulir-bulir air mata perlahan membasahi pipinya yang lembut seperti pualam.
" Percayalah Rin, kau pasti juga akan menemukan orang yang bisa mengajarkanmu tentang arti hidup yang sesungguhnya. Entah cepat atau lambat, kau pasti akan menemukannya. Karena aku sudah menemukannya."
Aku beranjak dari dudukku,
" Belajarlah untuk tegar, karena sesungguhnya hidup ini tak mudah, bahkan ada beberapa yang tak bisa dimudahkan sekalipun. Aku ingin kelak kau jadi Karin yang tak hanya manis, tapi juga kuat." Ucapku ringan,
Dan saat aku mulai melangkah, Karin tetap termangu seperti itu.
Senja mulai merambat memayungi cakrawala. Lampu-lampu disepanjang jalan dan toko mulai menyala. Aku berdiri bersandar dibawah tiang listrik, sekitar 10 meter dari sebuah kios bunga kecil dipinggir jalan. Seorang gadis sederhana sedang sibuk melayani seorang pembeli, sepertinya pembelinya butuh sedikit penjelasan tentang bunga apa yang cocok untuk akhirnya dipesan. Sampai akhirnya beberapa tangkai bunga prisan yang dipilihnya. Terlihat senyum lebar menghiasi wajah gadis itu.
Dialah Mika. Gadis yang begitu berarti dalam hidupku kini. Gadis yang sebenarnya rapuh, sering sakit-sakitan. Tapi entah kenapa, justru dialah yang mengajarkanku menjadi tegar. Tegar yang sebenarnya. Yang membuatku memiliki sekaligus takut kehilangan dalam waktu yang bersamaan.
" Hei..."
Aku tersadar oleh panggilannya, selepas pembelinya pergi.
" Kau mau tetap disitu?" Tanyanya
Aku tersenyum kecil, lalu melangkah mendekatinya.Dia pun menyambutku dengan senyum.
" Duduklah, kubuatkan minum" Katanya kemudian.
Dan belum 5 menit berlalu Mika sudah kembali dengan 2 cangkir teh hangat.
" Dari mana tadi?" Tanyanya seraya duduk disebelahku.
Aku tak langsung menjawab, kuseruput dulu teh hangat itu, terasa sekali kehangatannya merasuk sampai ke relung-relung.
" Mik, jika aku teringat masa laluku, apa kau akan marah?"
Sepi beberapa detik, Mika ikut menikmati hangatnya teh ditangannya.
" Masa lalu. Bukankah semua orang punya masa lalu Ga? Aku juga punya masa lalu. Jadi kenapa aku harus marah?" Tegas Mika dengan kata-kata datar
Kuamati wajah itu berekspresi. Begitu dewasa, bahkan seperti seorang ibu sedang menanggapi curhatan anaknya.
" Teringat masa lalu itu manusiawi. Tapi untuk kembali adalah mustahil. Karena kita bukan doraemon." Kali ini sambil melucu. Akupun refleks tergelak.
" Ga, kau tau..."
Kuamati sinar mata Mika, ada semburat lain didalam sana, entahlah, aku tak cukup pintar menerkanya.
" Mencintai seseorang itu ibarat mengenggam pasir. Semakin kita menggenggamnya erat-erat, maka makin banyak pula pasir yang terlepas dari genggaman kita. Dan mungkin lama-lama akan habis tak tersisa. Tapi jika kita menggenggamnya seadanya saja, bahkan dengan tangan terbuka, kita mungkin malah bisa menambahnya." Ungkap Mika.
Cukup masuk akal.
Mungkin itu alasan Mika tak pernah mengekangku, apapun yang kuungkapkan ditanggapinya dengan senyum. Dan semua itu malah membuatku makin takut kehilangannya.
Dan soal masa lalu bersama Karin, biarlah... Toh aku sudah memutuskan semuanya, bahwa aku lebih nyaman dengan semua yang ada sekarang.
" Selamat dataaangg..." Seru Mika tiba-tiba seraya buru-buru bangkit.
Aku ikut bangkit dan semua menjadi sepi.
Karin berdiri tanpa ekspresi menatap kami.
" Kau..." Desisku tak percaya
Tapi Mika malah tersenyum.
" Apa istimewanya dia Ga, kenapa kau tetap pilih dia?" Ucapnya dingin.
" Sekali lagi, ini bukan soal pilihan Rin."
Karin tersenyum apatis,
" Aku masih ingat, dulu kau selalu bilang apapun akan kau lakukan asal aku tak menangis." Kenang Karin
" Kenapa sekarang kau malah buat aku begini Ga?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca
Mika menyentuh lenganku
" Ga, kau tak boleh..."
" Diam kau! Aku tak butuh kau bicara!" Sergah Karin kasar
" Karin!!!" Hardikku membuat tangisnya langsung pecah.
Mika menunduk, saat kakinya hendak beringsut, segera kesambar tangannya.
" Rin, apa kau pernah peduli apa yang kuinginkan?" Tanyaku
Karin menatapku dengan mata sembab.
" Apa dulu kau pernah sekali saja berfikir bahwa aku juga bisa tak berdaya? Aku bisa sedih? Bisa takut?"
Mika dan karin sama-sama menatapku, tapi dengan pandangan yang berbeda.
" Kau tak mungkin memikirkan itu semua, karena kau sudah disibukkan dengan yang kau pikirkan sendiri. Kau mau ini, mau itu. Dan tak pernah mau tau semua itu menyusahkan orang lain atau tidak, menyakiti orang lain atau tidak. Kau manis Rin, tapi kau terlalu egois. Kau menggenggamku terlalu kuat. Dan kau tak pernah peduli aku kesakitan atau tidak."
" Ga..." Karin ternganga.
" Maaf Rin, bukannya aku tak peduli perasaanmu, aku tau ini tak adil. Tapi aku sudah tak punya sisa cinta itu. Semua mulai terkikis sejak kita masih bersama dulu, dan makin terkikis saat kau dengan egoisnya meninggalkanku ke Perancis untuk cita-cita modelmu itu."
Satu persatu bulir-bulir air mata itu kembali membasahi pipi Karin lagi.
" Aku juga manusia biasa Rin, butuh cinta yang hangat, yang juga mau mengerti inginku. Ini bukan soal pilihan, ini soal hati."
Karin masih terisak saat tubuhnya berbalik dan berlari meninggalkan kami. Kualihkan pandanganku ke Mika yang sejak tadi memang sedang menatapku dengan pandangan yang tak pernah kumengerti.
" Apa aku terlalu jahat padanya?" Tanyaku.
Mika meraih tanganku dan menggenggam jemariku.
" Cinta itu lebih mirip bunga mawar. Menarik, indah. Tapi kalau kita tak mengenal mawar itu bagaimana, dan kita tak hati-hati saat memegangnya, kita sendiri yang akan terluka karena durinya." Paparnya lembut.
" Ajari aku mengenal mawar itu Mik, agar aku tak ceroboh dan terluka olehnya." Pintaku.
Mika tersenyum.
Sekali lagi ini bukan soal pilihan, karena aku tau aku tak memilih Mika, aku hanya tak melepaskannya demi masa lalu yang tak pernah memahamiku. Jika mungkin ini tak adil, bukankah apapun adil jika menyangkut cinta? Karena cinta itu sendiri egois. Tak peduli perasaanmu, tak peduli kau siap atau tidak menerima kedatangannya. Tapi percayalah, cinta tak pernah salah mendatangimu. Mungkin kita saja yang salah mengenalkan cinta itu dan tak hati-hati saat memegangnya, hingga kita bisa terluka olehnya.
Randublatung,10/08/2014
Sabtu, 04 Oktober 2014
All About KEN
Deru motor masih terdengar jelas sebelum akhirnya perlahan menghilang seiring motor yang ditumpangi Ken berbelok ditikungan depan, barulah aku membalikkan badan. Tapi belum sempat aku melangkah beberapa temanku di OSIS seperti sengaja menungguku. Aku tersenyum
" Kalian tak perlu menyambutku begini, aku kan cuma telat beberapa menit" Kataku ringan, sekedar mencoba mencairkan suasana yang sepertinya sedikit dingin.
Pasti gara-gara aku datang diantar oleh Ken.
" Kenapa kau bisa akrab dengan Ken? Dia itu raja trouble maker." Desis Gissel, sekretaris OSIS, sekaligus teman baikku.
Tuh kan? Tapi.... memang kenapa? Trouble maker? Julukan itu terlalu kasar untuk Ken yang beberapa hari ini memang terbilang dekat denganku.
" Dia juga teman kita kan?" Sanggahku
" Iya tapi dia tak seperti kita. Dia itu tukang rusuh Fa, kalo kamu dekat-dekat dia, bisa-bisa kamu juga kena masalah" Imbuh Kaka, seksi humas kami
Aku tergelak,
" Kalian ini apa-apaan sih?" Kataku seadanya, lalu melangkah masuk ruang OSIS. Tak kuhiraukan pendapat negatif mereka yang terus berlanjut tentang Ken.
Bagiku Ken juga berhak dekat denganku. Ya, aku tau sebagai ketua OSIS bisa dibilang aku orang nomor satu di sekolah ini, tapi apa aku perlu menjauhi Ken karena dia punya predikat negatif? Toh dia adalah 'warga'ku juga.
Mungkin aku juga yang terlalu bandel tetap mendekati Ken meski jelas-jelas akan banyak yang memprotes itu. Tapi apa hanya karena aku ketua OSIS lalu pergaulanku harus dibatasi? Hanya sebatas orang-orang penting dan baik saja? Aku juga punya hak dekat dengan siapapun, termasuk Ken yang mereka anggap orang tak penting lagin tak baik.
Awalnya aku mendekati Ken hanya penasaran, kenapa anak yang sebenarnya tak bodoh itu malah terjebak dalam predikat buruk disekolah ini. Mangkir, berpakaian tak rapi, merokok disekolah, sering membuat ribut dengan siswa lain, bahkan tak jarang melawan guru. Tak banyak, tapi aku bisa melihat sisi lembut dan lugu anak itu justru ketika memergokinya bersama anak-anak jalanan di perempatan jalan sana.
" Kau kenal mereka?" Tanyaku waktu itu, saat pulang sekolah tanpa teman-teman gank-ku dan malah menemukan Ken bergurau dengan polosnya bersama 4 anak jalanan yang sering kutemui di lampu rambu lalu lintas diperempatan jalan sana. Terlihat pula masing-masing tangan mereka memegang ice cream, yang kalo dilihat dari segi ekonomi mereka makanan itu terlalu mewah untuk terbeli.
" Mereka teman-temanku."Jawab Ken mengelus kepala salah satu anak yang kalo kutaksir umurnya baru 8 tahunan.
Hampir dua tahun mengenal Ken sebagai siswa terbandel disekolah, baru kutau kalo dia punya sinar mata yang lembut itu. Penuh kasih, berlawanan sekali ketika aku sempat melihatnya saat bergelut dengan salah satu kakak kelas kami beberapa bulan lalu.
" Bagi kita mungkin ice cream bukan apa-apa, tapi bagi mereka itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri"
Aku selalu tersenyum tiap kali mengingat kata-kata itu. Memberi arti lain pada sosok pemberontak Ken.
Sayang, tak banyak yang tau tentang ini. Kalo pun aku ceritakan mereka pasti malah mengangapku mengada-ada. Jadi biarlah mereka dengan pendapat mereka sendiri, dan aku tetap beranggapan Ken pun layak untuk disayangi, seperti dia yang sangat menyayangi anak-anak jalanan itu.
Sore ini suasananya begitu lain. Ken tak banyak bicara, hanya diam menatap hamparan rumput liar dihadapan kami, sambil sesekali meneguk softdrink-nya yang tadi sengaja kubawakan dari perjalanan menuju kerumahnya.
Ingat kata rumahnya, teringat pula kejadian tadi. Kejadian yang cukup membuatku syok karena seumur-umur aku tak pernah melihat hal itu dalam keluargaku. Pertengkaran hebat antara orang tua Ken. Kalo dilihat dari segi materi, keluarga Ken cukup kaya, tapi aku tak menyangka kehidupan didalamnya sangat miskin kasih sayang. Apa karena ini Ken sering keluar dari sisi baiknya?
" Maaf soal tadi" Akhirnya Ken bicara.
Sebenarnya yang pantas minta maaf adalah aku. Aku yang tanpa undangan datang ke rumah Ken. Bahkan Ken tak tau kalo aku akan datang. Aku tau alamat Ken juga dari membuka arsip biodata siswa. Alpha-nya hari ini membuatku tak tenang, apalagi saat kucari diperempatan jalan tempat anak-anak jalanan itu, pun tak ada dia. Makanya aku berbalik arah kembali ke sekolah mencari arsip biodatanya di file kesiswaan.
" Apa orang tuamu sering begitu?" Tanyaku hati-hati
" Hampir tiap hari, tiap mereka bertemu" Jawab Ken datar, seraya meneguk lagi softdrink-nya " Dan aku hanya bisa jadi penontonnya." Lanjutnya sepeti menahan sebuah kesakitan
Jadi inikah alasan Ken menjadi sosok antagonis dalam setiap hal?
Kuamati wajah sendu yang sedikitpun seperti tak peduli dengan keberadaanku disampingnya.
Kasihan dia, dirumah sudah minim kasih sayang, diluar pun tak ada yang peduli padanya. Mungkin itulah yang membuatnya bahagia diantara anak-anak jalanan itu. Yang tak peduli dengan semua hal kecuali tau kalo Ken orang yang peduli pada mereka. Yang selalu dengan senang hati membelikan mereka ice cream.
" Kenapa melihatku begitu?" Tanya Ken spontan saat menyadari sejak tadi dia kuperhatikan.
Aku mengalihkan pandanganku sembari tersenyum.
" Tak perlu kasihan padaku, karena masih banyak yang pantas dikasihani. Aku cuma seorang anak yang tak cukup beruntung punya orang tua yang hanya mementingkan egonya bukan anaknya."
" Tapi tak harus membuatmu melakukan semua kebadungan itu kan?"
Ken tertawa pendek
" Itu hanya malah membuatmu jauh dari kata bahagia. Makin dijauhi semua orang."
" Orang-orang yang penuh kepalsuan, cuma mememntingkan ego dan gengsi, apa untungnya? Lebih baik biarkan mereka dengan opini mereka sendiri. Toh kita hidup bukan dari mereka. Iya kan?" Paparnya membuatku termangu sejenak
" Lalu kenapa kau membiarkan aku?" Tanyaku kemudian.
" Apa predikat ketua OSIS membuatmu bahagia?" Ken malah bertanya padaku. Pertanyaan yang mudah tapi cukup sulit kudapat jawabannya.
Terkenang lagi masa setaun lalu saat dengan semangatnya aku mencalonkan diri menjadi ketua OSIS atas saran orang tuaku dan teman-temanku. Karena aku pantas menyandang predikat itu.
" Dulu kukira itu kebanggaan tersendiri, tapi aku sadar kalo bukan seperti itu yang kuinginkan. Saat ingin pergi dan melepaskan itu semua sudah terlambat. Apa mau dikata, ya sudah jalani saja semua meski dengan sedikit terpaksa. Yakin saja pasti ada akhir untuk semua itu, dan aku bisa jadi diriku sendiri lagi."
Ken tersenyum penuh arti. Lalu meneguk lagi sisa softdrink-nya.
" tetap menjalaninya meski sedikit terpaksa karena yakin pasti ada akhir untuk semua itu kan?"
Beberapa detik aku mencoba menelaah kata-kata Ken,
Ya, karena hidup ini tak pernah berjalan seperti yang kita impikan. Lebih sering berjalan diluar keinginan kita. Kadang kita mampu berontak dari keadaan kontra itu, tapi pada titik tertentu pemberontakan kita pun ada batasnya, dan itulah saatnya kita harus merelakan semua terjadi diluar kendali kita. Menjalaninya meski sedikit terpaksa.
" Mungkin orang tuaku duu juga berfikir begitu. Dengan menikah dan hidup bersama adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi seiring berjalannya waktu mereka mungkin sadar, pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan, termasuk kehadirannku." Kalimat terakhir Ken terasa sangat berat.
Ken mendesah panjang
" Itukah yang membuatmu menjadi aktor perusuh?"
Ken tertawa sinis.
" Dulu kupikir dengan berbuat sesukaku aku bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini kucari. Tapi ternyata tidak. Saat aku menyadari itu, dan aku ingin keluar dari semua itu, semua orang terlanjur menjulukiku begitu. Ya sudah, mau gimana lagi"
Aku tak bisa menanggapi jabaran itu. Hanya diam menatap Ken.
Karena Ken aku belajar banyak tentang beberapa hal yang kupikir sudah kukuasai.
Andai tak hanya aku yang bisa mengerti jalan pikiran Ken, pasti tak ada yang menganggapnya trouble maker lagi. Dia hanya menjalani apa yang sudah terlanjur terjadi pada dirinya. Seperti halnya aku.
Ternyata kami memang sama-sama terjebak sebuah keadaan. Bedanya dia terjebak dalam peran antagonis, dan aku di peran protagonis. Meski itu sebenarnya bukan pilihan kami.
" Kalian tak perlu menyambutku begini, aku kan cuma telat beberapa menit" Kataku ringan, sekedar mencoba mencairkan suasana yang sepertinya sedikit dingin.
Pasti gara-gara aku datang diantar oleh Ken.
" Kenapa kau bisa akrab dengan Ken? Dia itu raja trouble maker." Desis Gissel, sekretaris OSIS, sekaligus teman baikku.
Tuh kan? Tapi.... memang kenapa? Trouble maker? Julukan itu terlalu kasar untuk Ken yang beberapa hari ini memang terbilang dekat denganku.
" Dia juga teman kita kan?" Sanggahku
" Iya tapi dia tak seperti kita. Dia itu tukang rusuh Fa, kalo kamu dekat-dekat dia, bisa-bisa kamu juga kena masalah" Imbuh Kaka, seksi humas kami
Aku tergelak,
" Kalian ini apa-apaan sih?" Kataku seadanya, lalu melangkah masuk ruang OSIS. Tak kuhiraukan pendapat negatif mereka yang terus berlanjut tentang Ken.
Bagiku Ken juga berhak dekat denganku. Ya, aku tau sebagai ketua OSIS bisa dibilang aku orang nomor satu di sekolah ini, tapi apa aku perlu menjauhi Ken karena dia punya predikat negatif? Toh dia adalah 'warga'ku juga.
Mungkin aku juga yang terlalu bandel tetap mendekati Ken meski jelas-jelas akan banyak yang memprotes itu. Tapi apa hanya karena aku ketua OSIS lalu pergaulanku harus dibatasi? Hanya sebatas orang-orang penting dan baik saja? Aku juga punya hak dekat dengan siapapun, termasuk Ken yang mereka anggap orang tak penting lagin tak baik.
Awalnya aku mendekati Ken hanya penasaran, kenapa anak yang sebenarnya tak bodoh itu malah terjebak dalam predikat buruk disekolah ini. Mangkir, berpakaian tak rapi, merokok disekolah, sering membuat ribut dengan siswa lain, bahkan tak jarang melawan guru. Tak banyak, tapi aku bisa melihat sisi lembut dan lugu anak itu justru ketika memergokinya bersama anak-anak jalanan di perempatan jalan sana.
" Kau kenal mereka?" Tanyaku waktu itu, saat pulang sekolah tanpa teman-teman gank-ku dan malah menemukan Ken bergurau dengan polosnya bersama 4 anak jalanan yang sering kutemui di lampu rambu lalu lintas diperempatan jalan sana. Terlihat pula masing-masing tangan mereka memegang ice cream, yang kalo dilihat dari segi ekonomi mereka makanan itu terlalu mewah untuk terbeli.
" Mereka teman-temanku."Jawab Ken mengelus kepala salah satu anak yang kalo kutaksir umurnya baru 8 tahunan.
Hampir dua tahun mengenal Ken sebagai siswa terbandel disekolah, baru kutau kalo dia punya sinar mata yang lembut itu. Penuh kasih, berlawanan sekali ketika aku sempat melihatnya saat bergelut dengan salah satu kakak kelas kami beberapa bulan lalu.
" Bagi kita mungkin ice cream bukan apa-apa, tapi bagi mereka itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri"
Aku selalu tersenyum tiap kali mengingat kata-kata itu. Memberi arti lain pada sosok pemberontak Ken.
Sayang, tak banyak yang tau tentang ini. Kalo pun aku ceritakan mereka pasti malah mengangapku mengada-ada. Jadi biarlah mereka dengan pendapat mereka sendiri, dan aku tetap beranggapan Ken pun layak untuk disayangi, seperti dia yang sangat menyayangi anak-anak jalanan itu.
Sore ini suasananya begitu lain. Ken tak banyak bicara, hanya diam menatap hamparan rumput liar dihadapan kami, sambil sesekali meneguk softdrink-nya yang tadi sengaja kubawakan dari perjalanan menuju kerumahnya.
Ingat kata rumahnya, teringat pula kejadian tadi. Kejadian yang cukup membuatku syok karena seumur-umur aku tak pernah melihat hal itu dalam keluargaku. Pertengkaran hebat antara orang tua Ken. Kalo dilihat dari segi materi, keluarga Ken cukup kaya, tapi aku tak menyangka kehidupan didalamnya sangat miskin kasih sayang. Apa karena ini Ken sering keluar dari sisi baiknya?
" Maaf soal tadi" Akhirnya Ken bicara.
Sebenarnya yang pantas minta maaf adalah aku. Aku yang tanpa undangan datang ke rumah Ken. Bahkan Ken tak tau kalo aku akan datang. Aku tau alamat Ken juga dari membuka arsip biodata siswa. Alpha-nya hari ini membuatku tak tenang, apalagi saat kucari diperempatan jalan tempat anak-anak jalanan itu, pun tak ada dia. Makanya aku berbalik arah kembali ke sekolah mencari arsip biodatanya di file kesiswaan.
" Apa orang tuamu sering begitu?" Tanyaku hati-hati
" Hampir tiap hari, tiap mereka bertemu" Jawab Ken datar, seraya meneguk lagi softdrink-nya " Dan aku hanya bisa jadi penontonnya." Lanjutnya sepeti menahan sebuah kesakitan
Jadi inikah alasan Ken menjadi sosok antagonis dalam setiap hal?
Kuamati wajah sendu yang sedikitpun seperti tak peduli dengan keberadaanku disampingnya.
Kasihan dia, dirumah sudah minim kasih sayang, diluar pun tak ada yang peduli padanya. Mungkin itulah yang membuatnya bahagia diantara anak-anak jalanan itu. Yang tak peduli dengan semua hal kecuali tau kalo Ken orang yang peduli pada mereka. Yang selalu dengan senang hati membelikan mereka ice cream.
" Kenapa melihatku begitu?" Tanya Ken spontan saat menyadari sejak tadi dia kuperhatikan.
Aku mengalihkan pandanganku sembari tersenyum.
" Tak perlu kasihan padaku, karena masih banyak yang pantas dikasihani. Aku cuma seorang anak yang tak cukup beruntung punya orang tua yang hanya mementingkan egonya bukan anaknya."
" Tapi tak harus membuatmu melakukan semua kebadungan itu kan?"
Ken tertawa pendek
" Itu hanya malah membuatmu jauh dari kata bahagia. Makin dijauhi semua orang."
" Orang-orang yang penuh kepalsuan, cuma mememntingkan ego dan gengsi, apa untungnya? Lebih baik biarkan mereka dengan opini mereka sendiri. Toh kita hidup bukan dari mereka. Iya kan?" Paparnya membuatku termangu sejenak
" Lalu kenapa kau membiarkan aku?" Tanyaku kemudian.
" Apa predikat ketua OSIS membuatmu bahagia?" Ken malah bertanya padaku. Pertanyaan yang mudah tapi cukup sulit kudapat jawabannya.
Terkenang lagi masa setaun lalu saat dengan semangatnya aku mencalonkan diri menjadi ketua OSIS atas saran orang tuaku dan teman-temanku. Karena aku pantas menyandang predikat itu.
" Dulu kukira itu kebanggaan tersendiri, tapi aku sadar kalo bukan seperti itu yang kuinginkan. Saat ingin pergi dan melepaskan itu semua sudah terlambat. Apa mau dikata, ya sudah jalani saja semua meski dengan sedikit terpaksa. Yakin saja pasti ada akhir untuk semua itu, dan aku bisa jadi diriku sendiri lagi."
Ken tersenyum penuh arti. Lalu meneguk lagi sisa softdrink-nya.
" tetap menjalaninya meski sedikit terpaksa karena yakin pasti ada akhir untuk semua itu kan?"
Beberapa detik aku mencoba menelaah kata-kata Ken,
Ya, karena hidup ini tak pernah berjalan seperti yang kita impikan. Lebih sering berjalan diluar keinginan kita. Kadang kita mampu berontak dari keadaan kontra itu, tapi pada titik tertentu pemberontakan kita pun ada batasnya, dan itulah saatnya kita harus merelakan semua terjadi diluar kendali kita. Menjalaninya meski sedikit terpaksa.
" Mungkin orang tuaku duu juga berfikir begitu. Dengan menikah dan hidup bersama adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi seiring berjalannya waktu mereka mungkin sadar, pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan, termasuk kehadirannku." Kalimat terakhir Ken terasa sangat berat.
Ken mendesah panjang
" Itukah yang membuatmu menjadi aktor perusuh?"
Ken tertawa sinis.
" Dulu kupikir dengan berbuat sesukaku aku bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini kucari. Tapi ternyata tidak. Saat aku menyadari itu, dan aku ingin keluar dari semua itu, semua orang terlanjur menjulukiku begitu. Ya sudah, mau gimana lagi"
Aku tak bisa menanggapi jabaran itu. Hanya diam menatap Ken.
Karena Ken aku belajar banyak tentang beberapa hal yang kupikir sudah kukuasai.
Andai tak hanya aku yang bisa mengerti jalan pikiran Ken, pasti tak ada yang menganggapnya trouble maker lagi. Dia hanya menjalani apa yang sudah terlanjur terjadi pada dirinya. Seperti halnya aku.
Ternyata kami memang sama-sama terjebak sebuah keadaan. Bedanya dia terjebak dalam peran antagonis, dan aku di peran protagonis. Meski itu sebenarnya bukan pilihan kami.
Banyak hal yang kudapat dari Mars
hehehehee....
10/5/2014
Jumat, 03 Oktober 2014
Menanti akhir
Aku baru saja menjajakkan kakiku ke tanah, mesin motor balapku pun belum juga kumatikan saat kusadari ada seraut wajah teduh dengan mata pandanya dan tubuh sedang dibalut pakaian bernama hijab seperti sedang sengaja menungguku. Seulas senyum tipis, menguatkan perkiraanku itu.
Buru-buru kumatikan mesin motorku dan kubuka helmku. Tiap melihat makhluk itu aku serasa dikejar-kejar waktu, berlomba dengan roda detik-detik jam, yang mengajakku untuk tak mennyia-nyiakan waktu yang berjalan.
" Kapan kau datang? Kenapa tak bilang kalo mau kesini? Tau begitu kan bisa aku jemput." Berondongku dengan pertanyaan seraya mendekatinya
Sungguh, bagiku dia sangat anggun dengan rok lebar, atasan longgar, dan kerudung menutupi hampir seluruh badan atasnya itu. Naida namanya, gadis anggun itu.
Naida tersenyum lembut
" Kalo aku bilang-bilang dan akhirnya kau menjemput kesana, itu namanya bukan aku yang main kesini, tapi malah merepotkanmu."
Aku pun tersenyum.
Sungguh, pagi ini terasa begitu indah kurasa, dan tak kupungkiri karena mentari diatas sana sedang membagi cerianya padaku lewat kehadiran Naida.
Entah mulai kapan aku digerogoti perasaan ini. Yang jelas, tiap melihat Naida, aku seperti mendapat doping untuk lebih memacu detak jantungku.
" Kubawakan kau sarapan, aku yakin kau belum sarapan kan?" ucapan Naida membuyarkan lamunanku.
Naida mengeluarkan sebuah kotak makanan dari tas tenteng kecil yang dibawanya.
" Untukku?" Tanyaku tak percaya
" Ya iyalah, tadi dirumah kebetulan buat sarapan cukup banyak untuk anak-anak, dan masih lebih, daripada mubazir gak kemakan karena nanti pasti pulangnya udah sore, ya aku bawa sekalian aja kesini."
" Kau kesini gak mungkin cuma mau anter ini kan?" Tanyaku tak percaya, karena Naida juga wanita karier, jarak rumah kontrakannya dengan tempat kerjaku ini hampir sejam naik angkot.
" Enggak, aku punya sedikit urusan disekitar sini. Jadi sekalian saja aku mampir. Emang gak suka ya aku kesini?" Selidik Naida
" Oh..tidak, suka kok" Sanggahku gelagapan.
Bahkan kalo boleh aku ingin berharap kau setiap pagi kesini menyisakan sisa sarapan ditempatmu untukku. Bukan sarapannya yang penting, tapi melihatmu dengan balutan hijabmu itu yang membuatku seperti batere yang dichas full.
" Ini dimakan gak?? Kalo gak mau..."
" E...e...enak aja, ini kan punyaku" Serobotku mengambil kotak nasi itu dari tangan Naida.
Naida tergelak lucu.
Kubuka kotak nasi sederhana itu perlahan, dan entah kenapa senyumku mengembang mendapati nasi, capcay sayur, telor ceplok tertata dengan apik. Garnisnya pun menggoda sekali. Bahkan sekarang aku begitu sayang untuk merusaknya.
" Aku simpan aja ya.."
" Kenapa? Gak suka ya??" Naida sedikit kecewa
" Bukan gak suka, tapi ini sayang kalo dimakan, kau menatanya terlalu bagus sih.."
Spontan Naida terbahak,
" Kau ini ada-ada saja sih Ken. Kau mau simpan sampai kapan? Itu ntar malam juga udah basi. Ada-ada saja kau ini"
Mataku melirik ekspresi wajahnya.
Apa aku salah mengagumi wanita ini? Dia begitu indah dimataku, hingga rasanya hampir tak bisa kujamah. Apa aku salah mencintai wanita ini dan kujadikan penggenap tulang rusukku? Dia yang 3 tahun lebih tua dariku. Tapi apa peduliku? Aku tak pernah menganggapnya seperti 'kakak' seperti cece-ku yang sekarang entah ada dimana dengan pria yang dicintainya. Aku selalu menganggap dia wanita yang dewasa, santun, dan penuh perhatian. Dan pantas untuk kukagumi dengan segenap cintaku.
Sayang, dia selalu menganggapku seperti adik lelakinya. Dan itulah satu-satunya hal dari dirinya yang kubenci.
" Kau baik-baik saja? Kau sakit?" Tanyanya sdikit cemas
" Kau mencemaskanku?!' Aku malah balik bertanya
" Ya cemaslah, kau disini sendirian, tak ada keluarga, kalo sakit siapa yang mengurus coba?"
" Bukan karena kau sayang aku?"
" Siapa bilang aku tak menyayangimu? Kalo tak menyayangimu, buat apa aku repot-repot sampai kesini?"
" Apa itu juga cinta?"
Hening. Sepi. Kali ini Naida tak menyahut. Bungkam menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangannya ketempat lain.
" Na..." Panggilku penuh harap dia menjawab pertanyaan terakhirku tadi.
Selama ini Naida selalu mengekangku dengan rasa sayang kakak kepada adik yang dia terapkan pada kami. Dan kalo pun pada kesempatan ini aku bisa merubah rasa itu, sungguh....
" Ken, jangan terlalu berharap yang tidak-tidak" Ucap Naida
" Berharap yang tidak-tidak, maksudnya?"
Naida malah beranjak dari duduknya.
" Sudahlah kita sambung lagi lain waktu, aku harus pergi"
" Apa aku salah Na?" Desisku sedikit marah.
Tapi.... memang aku harus marah pada siapa?
Ya Tuhan....kenapa cinta ini begitu rumit? Kenapa tidak bisa berjalan bersama lalu berakhir sederhana? Aku tak pernah meminta akhir yang indah, seindah cerita-cerita dongeng itu. Aku hanya ingin memiliki hatinya.
" Masalahnya..." Naida tak melanjutkan kata-katanya. Seperti dibiarkan terbang entah kemana.
Naida menatapku, baru kali ini aku bisa dengan jelas menikmati gemerlap kilau mata itu
" Kenapa harus aku Ken?"
Aku tak sadar tergelak
" Kenapa harus kau? Kenapa tak boleh? Apa ada yang melarang? Apa ini dosa? Bukankah rasa ini juga anugerah dariNya? Kau yang bilang kalo semua yang terjadi didunia ini adalah kehendakNya, jadi semua yang terjadi ini adalah juga kehendakNya kan? Lalu kenapa sekarang kau malah menghindarinya?"
Perlahan kilau mata itu menyurut padam, lalu akhirnya menunduk.
Lalu aku harus bagaimana? Membunuh rasa ini kah? Adakah yang bisa membunuh rasa cinta? Jangankan membunuh, untuk menghindarinya pun sangat sulit.
Tanpa kusadari kapan, tubuh Naida beringsut dari tempatnya berdiri tadi. Tanpa kata terakhir terucap.
Kupandangi punggung itu yang semakin menjauh. Sampai akhirnya mnghilang berbelok diujung jalan sana. Lalu pandanganku beralih ke kotak nasi ditanganku.
Mungkin aku harus lebih banyak bersabar menunggu tangan-tangan Tuhan ikut campur dalam hubungan ini. Hingga yang kuanggap terlalu jauh kugapai akhirnya bisa sampai dalam dekapanku.
Buru-buru kumatikan mesin motorku dan kubuka helmku. Tiap melihat makhluk itu aku serasa dikejar-kejar waktu, berlomba dengan roda detik-detik jam, yang mengajakku untuk tak mennyia-nyiakan waktu yang berjalan.
" Kapan kau datang? Kenapa tak bilang kalo mau kesini? Tau begitu kan bisa aku jemput." Berondongku dengan pertanyaan seraya mendekatinya
Sungguh, bagiku dia sangat anggun dengan rok lebar, atasan longgar, dan kerudung menutupi hampir seluruh badan atasnya itu. Naida namanya, gadis anggun itu.
Naida tersenyum lembut
" Kalo aku bilang-bilang dan akhirnya kau menjemput kesana, itu namanya bukan aku yang main kesini, tapi malah merepotkanmu."
Aku pun tersenyum.
Sungguh, pagi ini terasa begitu indah kurasa, dan tak kupungkiri karena mentari diatas sana sedang membagi cerianya padaku lewat kehadiran Naida.
Entah mulai kapan aku digerogoti perasaan ini. Yang jelas, tiap melihat Naida, aku seperti mendapat doping untuk lebih memacu detak jantungku.
" Kubawakan kau sarapan, aku yakin kau belum sarapan kan?" ucapan Naida membuyarkan lamunanku.
Naida mengeluarkan sebuah kotak makanan dari tas tenteng kecil yang dibawanya.
" Untukku?" Tanyaku tak percaya
" Ya iyalah, tadi dirumah kebetulan buat sarapan cukup banyak untuk anak-anak, dan masih lebih, daripada mubazir gak kemakan karena nanti pasti pulangnya udah sore, ya aku bawa sekalian aja kesini."
" Kau kesini gak mungkin cuma mau anter ini kan?" Tanyaku tak percaya, karena Naida juga wanita karier, jarak rumah kontrakannya dengan tempat kerjaku ini hampir sejam naik angkot.
" Enggak, aku punya sedikit urusan disekitar sini. Jadi sekalian saja aku mampir. Emang gak suka ya aku kesini?" Selidik Naida
" Oh..tidak, suka kok" Sanggahku gelagapan.
Bahkan kalo boleh aku ingin berharap kau setiap pagi kesini menyisakan sisa sarapan ditempatmu untukku. Bukan sarapannya yang penting, tapi melihatmu dengan balutan hijabmu itu yang membuatku seperti batere yang dichas full.
" Ini dimakan gak?? Kalo gak mau..."
" E...e...enak aja, ini kan punyaku" Serobotku mengambil kotak nasi itu dari tangan Naida.
Naida tergelak lucu.
Kubuka kotak nasi sederhana itu perlahan, dan entah kenapa senyumku mengembang mendapati nasi, capcay sayur, telor ceplok tertata dengan apik. Garnisnya pun menggoda sekali. Bahkan sekarang aku begitu sayang untuk merusaknya.
" Aku simpan aja ya.."
" Kenapa? Gak suka ya??" Naida sedikit kecewa
" Bukan gak suka, tapi ini sayang kalo dimakan, kau menatanya terlalu bagus sih.."
Spontan Naida terbahak,
" Kau ini ada-ada saja sih Ken. Kau mau simpan sampai kapan? Itu ntar malam juga udah basi. Ada-ada saja kau ini"
Mataku melirik ekspresi wajahnya.
Apa aku salah mengagumi wanita ini? Dia begitu indah dimataku, hingga rasanya hampir tak bisa kujamah. Apa aku salah mencintai wanita ini dan kujadikan penggenap tulang rusukku? Dia yang 3 tahun lebih tua dariku. Tapi apa peduliku? Aku tak pernah menganggapnya seperti 'kakak' seperti cece-ku yang sekarang entah ada dimana dengan pria yang dicintainya. Aku selalu menganggap dia wanita yang dewasa, santun, dan penuh perhatian. Dan pantas untuk kukagumi dengan segenap cintaku.
Sayang, dia selalu menganggapku seperti adik lelakinya. Dan itulah satu-satunya hal dari dirinya yang kubenci.
" Kau baik-baik saja? Kau sakit?" Tanyanya sdikit cemas
" Kau mencemaskanku?!' Aku malah balik bertanya
" Ya cemaslah, kau disini sendirian, tak ada keluarga, kalo sakit siapa yang mengurus coba?"
" Bukan karena kau sayang aku?"
" Siapa bilang aku tak menyayangimu? Kalo tak menyayangimu, buat apa aku repot-repot sampai kesini?"
" Apa itu juga cinta?"
Hening. Sepi. Kali ini Naida tak menyahut. Bungkam menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangannya ketempat lain.
" Na..." Panggilku penuh harap dia menjawab pertanyaan terakhirku tadi.
Selama ini Naida selalu mengekangku dengan rasa sayang kakak kepada adik yang dia terapkan pada kami. Dan kalo pun pada kesempatan ini aku bisa merubah rasa itu, sungguh....
" Ken, jangan terlalu berharap yang tidak-tidak" Ucap Naida
" Berharap yang tidak-tidak, maksudnya?"
Naida malah beranjak dari duduknya.
" Sudahlah kita sambung lagi lain waktu, aku harus pergi"
" Apa aku salah Na?" Desisku sedikit marah.
Tapi.... memang aku harus marah pada siapa?
Ya Tuhan....kenapa cinta ini begitu rumit? Kenapa tidak bisa berjalan bersama lalu berakhir sederhana? Aku tak pernah meminta akhir yang indah, seindah cerita-cerita dongeng itu. Aku hanya ingin memiliki hatinya.
" Masalahnya..." Naida tak melanjutkan kata-katanya. Seperti dibiarkan terbang entah kemana.
Naida menatapku, baru kali ini aku bisa dengan jelas menikmati gemerlap kilau mata itu
" Kenapa harus aku Ken?"
Aku tak sadar tergelak
" Kenapa harus kau? Kenapa tak boleh? Apa ada yang melarang? Apa ini dosa? Bukankah rasa ini juga anugerah dariNya? Kau yang bilang kalo semua yang terjadi didunia ini adalah kehendakNya, jadi semua yang terjadi ini adalah juga kehendakNya kan? Lalu kenapa sekarang kau malah menghindarinya?"
Perlahan kilau mata itu menyurut padam, lalu akhirnya menunduk.
Lalu aku harus bagaimana? Membunuh rasa ini kah? Adakah yang bisa membunuh rasa cinta? Jangankan membunuh, untuk menghindarinya pun sangat sulit.
Tanpa kusadari kapan, tubuh Naida beringsut dari tempatnya berdiri tadi. Tanpa kata terakhir terucap.
Kupandangi punggung itu yang semakin menjauh. Sampai akhirnya mnghilang berbelok diujung jalan sana. Lalu pandanganku beralih ke kotak nasi ditanganku.
Mungkin aku harus lebih banyak bersabar menunggu tangan-tangan Tuhan ikut campur dalam hubungan ini. Hingga yang kuanggap terlalu jauh kugapai akhirnya bisa sampai dalam dekapanku.
Langganan:
Komentar (Atom)