Giok menatap nanar Hanum yang duduk terpekur dilantai memegangi lututnya disudut rooftop kedai kopi miliknya. Setengah jam lalu, Bimo menelepon Giok karena sejak datang ke kedai sore tadi, Hanum ada di rooftop dan tak bicara apapun.
Giok belum melangkahkan kakinya, masih terpaku di anak tangga terakhir menuju rooftop.
Siang tadi, sekitar 6 jam lalu, di toko gaun pengantin.
" Kau masih kuat berapa lama?" Tanya Giok.
Hanum berdehem tak mengerti seraya menatap Giok, sahabat sekaligus 'kakak' kesayangannya.
" Kau masih kuat berapa lama melalui semua ini? Setiap waktu kesakitan ini akan terus bertambah, makin menyakitkan. Apa kau benar-benar sanggup?"Lanjut Giok tak mengedipkan matanya sedikitpun.
Sementara Hanum nampak mulai gelisah. Tapi, seperti biasa, diacuhkan itu dan tersenyum lagi.
" Apa kau kurang kerjaan hingga menawarkan diri mengurusi persiapan pernikahan kami? Bukankah lebih baik kau di sanggar baletmu, mempersiapkan pertunjukan bulan depan? Apa kau sudah tak punya ide membuat sketsa manga untuk kau kirim ke redaksi penerbit? Apa kau tak bisa membantu Bimo di kedai..."
" Apa aku juga tak boleh membantu persiapan pernikahanmu? Kita sahabat, Mawar juga sahabatku, jadi..." Hanum menunduk tak jadi melanjutkan sanggahannya.
" Sampai kapan kau terus-terusan menyiksaku begini? Apa memang ini tujuanmu? Membuatku selalu merasa bersalah karena menyetujui pernikahan ini? Jawab, Num!!" Desis Giok tertahan.
" Gi, pelankan suaramu, nanti ada yang dengar." Pinta Hanum cemas.
Giok tergelak sinis.
" Kenapa? Kau takut orang-orang tau bahwa sebenarnya aku tak menyukai pernikahan ini? Kau takut kalau sebenarnya diantara kita ada yang seharusnya terjadi? Kenapa takut? Toh, kalau ketahuan, pihak yang paling dirugikan adalah aku, bukan kau, Num."
" Giok....!!!"
Giok mendesah. Dalam hatinya berkecamuk penyesalan yang sangat hebat.
" Datang-datang wajahnya terlihat sangat sedih, bahkan matanya sembab. Waktu aku tanya, diam saja, malah jalan ke atas seperti orang linglung." Lapor Bimo saat Giok sampai setelah ditelponnya. Karena kedai sudah akan ditutup, tapi Hanum tetap tak mau beranjak dari sudut rooftop.
Giok membuka pintu rooftop bebarengan Hanum yang akhirnya bangkit dari duduknya. Sekilas Hanum kaget mendapati kedatangan Giok.
Sembari melangkah mendekat, Giok melepas jaketnya.
" Kau pikir badanmu terbuat dari baja, berjam-jam di rooftop di cuaca berangin begini." Omel Giok sambil memakaikan jaketnya.
" Gi, aku tadi baru mau masuk, beneran." Ucap Hanum mencoba membela diri.
Usai memakaikan jaket ke Hanum, Giok pun menggandeng tangan Hanum untuk masuk.
" Gi, aku tadi benar-benar sudah mau masuk." Ulang Hanum masih mencoba meredam amarah diwajah Giok. Tapi Giok tetap menggandeng Hanum masuk dengan ekspresi yang belum berubah.
" Giok....!" Geram Hanum meninggi.
Dan langkah mereka terhenti tepat dibalik pintu, Hanum di tangga pertama, dan Giok ditangga dibawahnya.
Hening beberapa detik. Hanum menunduk mendapati tatapan mata tajam Giok.
" Maaf." Desah Giok kemudian.
" Aku sudah tau kalo semua ini cukup berat untuk kau pikul sendiri, tapi tadi aku malah menambahi dengan memarahimu."
Hanum tersenyum, sangat tahu yang dimaksud Giok pasti adalah kejadian tadi saat di toko gaun pengantin.
" Tak perlu minta maaf, Gi. Bukan kau yang salah. Aku yang salah."
Giok mendesah
" Bahkan kau pun menyalahkan dirimu sendiri, apa itu adil untukmu?" Keluh Giok melepas genggaman tangannya lalu melangkah menuruni anak tangga.
" Gi, ini semua memang salahku. Coba kalo dulu aku tak bersikap sok tau memperkenalkan kalian. Tak bersikap sok baik dengan mendukung kalian, tak memperkenalkan Mawar sama Ibu Andin." Sanggah Hanum menyusul langkah Giok.
Giok berhenti mendadak dan hendak membalikkan tubuhnya, tapi karena Hanum mengikuti Giok tanpa perhitungan akhirnya tubuh mungil Hanum menubruk Giok. Tapi tak sampai 2 detik, Hanum buru-buru mundur 2 langkah. Giok tergelak tertahan.
" Kau ini manusia apa sih?"
" Hah?!" Kernyit Hanum.
" Tubuh dan mentalmu itu berbanding terbalik. Didepanku kau bersikap begini, tapi dibelakangku kau bersikap lain. "
Hanum menggaruk-garuk lehernya yang mungkin tak gatal.
" Kalo bukan Bimo yang cemas melihatmu datang kesini seperti zombi aku mungkin menganggap hatimu benar-benar sudah membatu. Kenapa sekarang kau berakting didepanku, Num?! Dulu kau selalu jujur padaku." Kali ini ucapan Giok lebih mirip sebuah protes.
Hanum manyun sambil menunduk sedikit menghindari tatapan Giok.
" Apa sebaiknya aku batalkan pernikahan ini?"
Hanum mendongak kaget.
" Kau gila ya, Gi...!"
" Aku memang sudah gila, Num. Tiap hari melihatmu berpura-pura tak terjadi apa-apa, berpura-pura tetap tersenyum. Jika aku bukan orang yang sudah menyayangimu sejak kita masih belum masuk SD, aku mungkin bisa bersikap masa bodoh. Tapi aku ini Giok, Num!!" Intonasi suara Giok makin meninggi.
Hanum menunduk lagi. Hening beberapa detik.
" Tenang saja Gi, ini akan segera berakhir kok, tak sampai bulan depan aku akan ke Jepang, menyusul papa." Lapor Hanum pelan dan hati-hati.
Giok menjulurkan tangannya ke dahi Hanum, membuat Hanum mendongak lagi.
" Kau sakit ya?!" Tanya Giok ketus.
" Tidak." Hanum menggeleng.
" Lalu kenapa kau bilang mau menyusul papamu ke Jepang? Apa kau pikir aku sudah lupa bagaimana kau membenci papamu? Hah?!
Hanum manyun lagi, seraya melangkah mendekati dispenser air, mengambil sebuah gelas dan menekan tombol dispenser.
" Mau benci seperti apa dia tetap papaku." Sanggah Hanum seraya meneguk setengah gelas air ditangannya
" Lama-lama aku juga mempertimbangkan rayuan papa soal manga yang akan bisa kupelajari lebih baik lagi disana. Aku ingin jadi mangaka yang sesungguhnya."
Giok tergelak mendengar angan-angan Hanum yang terlalu klise itu.
" Jadi dari balet kau ingin berpindah ke manga? Apa ini tidak terlalu terkesan klise?"
Hanum meletakkan gelas ditangannya, sekarang dia beringsut ke arah dapur.
" Apanya yang klise, Gi? Sejak kecil aku kan memang sudah suka dengan anime jepang, justru balet adalah hal yang kemudian baru dikenalkan mama." Hanum tetap dengan entengnya menyanggah.
" Jadi itu alasanmu ngotot ikut membantu persiapan pernikahan kami? Karena kau merasa tak enak hati?"
Hanum diam. Digigit pelan bibirnya.
" Aku akan berusaha cari penerbangan setelah acara pernikahanmu. Jadi aku akan tetap bisa menghadiri pernikahan kalian." Ucap Hanum akhirnya, dengan senyum.
Giok merasa benar-benar ingin marah. Bahkan rencana sebesar inipun Hanum sudah tak merundingkan dengannya. Giok mendesah berat.
" Tidak perlu. Kalo mau pergi, pergilah secepatnya. Tak perlu menunggu pernikahan atau apapun." Ketus Giok dingin.
Hanum tertunduk sedih. Hatinya benar-benar sedih telah mengatakan rencana kepergiannya ke Jepang. Tapi tiba-tiba terdengar suara lucu memecah kebekuan mereka. Giok kaget. Hanum memegangi perutnya sambil meringgis.
" Aku lapar..."
Mau tak mau Giok pun tergelak. Membuat bibir Hanum kian lebar meringgis. Giok mendekat,
" Kalo kau pergi ke Jepang, aku takut tak ada yang mengurusmu dengan baik disana, Num."
Hanum tertawa
" Aku bukan anak kecil lagi, Gi. " Sergah Hnaum cepat, membuat mata Giok memicing.
"Oke, didepanmu aku tetap anak kecil, tapi kalo di Jepang aku sudah bukan anak kecil lagi kan?" Lanjut Hanum enteng, membuat Giok gemas dan memukul dahinya. Hanum tertawa lagi.
" Ayo kita makan."
" Sudah tak ada apa-apa disini."
" Aku traktir makan diluar, anggap saja sebagai bayaran menemaniku hari ini." Ajak Giok membenarkan jaketnya yang menutupi tubuh Hanum.
Hanum tertawa girang. Giok tersenyum.
Mungkin, kalo akhirnya memang harus seperti ini, Giok mau tak mau merelakan semuanya. Meski memang tak sesulit masa-masa yang dilalui Hanum, tapi masa-masa yang dilalui Giok pun tak akan mudah. Kadang Giok ingin pergi saja dengan Hanum. Kemana saja asal bersama Hanum. Tapi apa itu sebuah penyelesaian yang benar-benar baik? Jika akhirnya tetap seperti ini pihak yang terluka paling tidak hanya Giok dan Hanum. Tapi jika saat ini harus memaksakan diri berakhir lebih adil bagi jalinan kasih yang sudah mendarah daging ini, pasti akan banyak sekali yang terluka. Dan apakah berbahagia diatas rasa kecewa dan kesakitan banyak orang bisa disebut cinta yang sebenarnya? Dan mungkin tak hanya bagi Hanum, bagi Giok pun, menjaga cinta itu tetap abadi di sudut hati yang tak tersentuh oleh apapun, adalah sudah lebih dari cukup. Cinta itu tak hanya memiliki; melepaskan kadang juga nama lain dari cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar