Untuk beberapa detik aku merasa dunia disekitarku terhenti. Kupandangi dengan takjub sebuah komedi putar tak jauh dari tempatku berdiri. Mungkin untuk ukuran umurku aku memang sudah tak pantas untuk terkagum-kagum dengan pemandangan komedi putar berbagai macam bentuk di sebuah wahana bermain ini. Tapi setelah 25 tahun, inilah pertama kalinya akhirnya aku benar-benar bisa melihat sendiri komedi putar yang seperti ini, seperti yang ada di dalam foto kenangan itu.
" Ini kau waktu masih kecil?" Tanyaku pada Kian yang baru masuk kamar, seraya kusodorkan selembar foto cukup usang.
Kian menatapku kaget. Aku tau apa yang hendak ditunjukkan lewat tatapan mata itu.
" Aku tadi bosan kelamaan menunggumu pulang, jadi aku bermaksud beres-beres rak itu, dan tak sengaja menemukan foto ini. Kau marah?"
Kian tak menyahut dan sepertinya malah terlarut menatap foto yang sudah dipegangnya.
" Masa kecilmu sepertinya sangat bahagia. Tak seperti aku, naik komedi putar pun tak pernah." Lanjutku seperti mengeluh.
Kian masih sibuk menatap foto usang itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya kini, mungkin mengenang masa-masa indah waktu itu.
" Kalau ada waktu, maukah kau menemaniku ke tempat itu? Biarpun sudah bukan anak kecil lagi, aku ingin merasakan bahagianya naik komedi putar seperti kau yang difoto itu. Bisa kan?" Tanyaku, lebih seperti memohon.
Perlahan Kian menatapku. Lalu ada senyum tipis tergelar dibibir manisnya.
" Kasihan sekali gadis ini, bahkan naik komedi putar pun belum pernah." Katanya seperti menggumam, membuatku tersenyum lebar.
Kian membenarkan posisi poniku yang menjuntai menghalangi pandangan.
" Ya, lain kali kita pergi ke sana, kau bisa naik komedi putar sepuasnya. Bersamaku." Lanjutnya berjanji.
Dan senyumku kian lebar saja.
Tapi kini, disini, saat ini, aku malah hampir menangis memandangi komedi putar itu. Mereka terus berputar tak peduli apa yang sedang terjadi disekitarnya. Seperti bayang-bayang Kian yang terus saja berputar-putar dikepalaku, yang tak mempedulikan bahwa itu menyebabkan sakit yang sangat hebat dikepalaku.
2 jam lalu, saat aku berencana memberi surprise pada Kian bahwa hari ini novelet-ku yang bulan lalu kuikutkan lomba di sebuah redaksi yang sangat terkenal lulus seleksi dan menjadi salah satu pemenangnya. Aku ingin menunjukkan pada Kian bahwa usahanya yang mensupportku selama ini dalam hal menulis tak pernah sia-sia. Dan aku berencana mengajaknya ke wahana bermain ini. Tapi....
Mataku terpejam mengingat lagi kejadian 2 jam tadi, di area taman sebelah tempat kerja Kian.
Tiba-tiba aku menyadari seseorang sudah berdiri disebelahku. Aku menoleh. Sosok tampan ditopang tubuh tinggi tegap Kian sudah menjulang dihadapanku dengan wajah yang terkesan tanpa ekspresi.
" Hei, Evelyn, hari itu bukannya kau berharap kita bisa kesini bersama? Kenapa malah kesini sendirian tanpa memberitahuku dulu? Aku telfon pun tak diangkat, untung ada GPS, jadi aku tau kau disini." Cerocosnya seperti mengomeli.
" Tadi sebelum kesini aku ketemu pimpinan redaksi, jadi ponsel aku silent. Lupa menormalkannya lagi karena saat lewat depan sana tiba-tiba saja aku membelokkan kakiku." Dalihku.
Kian tersenyum lalu menatap komedi putar didepan kami.
" Akhirnya kau bisa kesini."
" Hmm.... lebih indah dari yang ada digambar-gambar. Sederhana tapi benar-benar membuatku takjub."
Kian tersenyum lebar menatapku.
" Ayo kita naik!" Ajaknya siap-siap menarik tanganku.
Tapi aku menolak. Aku tak bergeming. Membuat Kian menoleh, menatapku heran.
" Kian, aku...aku mencintaimu." Akuku seadanya, membuat Kian mngerutkan alisnya. Lalu tangannya terjulur ke dahiku.
Aku tersenyum.
" Aku memang sudah gila, Kian. Gila karena mencintaimu."
Kian mendesah menghadap penuh ke arahku.
" Aku tau dihatimu masih ada masa lalu itu. Dan aku tau, posisi dia dihatimu jauh lebih istimewa daripada posisiku. Seseorang itu..." Aku berhenti bicara, menata ulang hatiku yang mulai berantakan.
" Apa kau tau sesuatu?" Selidik Kian cemas.
Aku mengangguk.
" Ya, tentang seseorang itu. Masa lalumu yang tak pernah pergi."
" Eve..." Kian terperangah.
Kueratkan genggaman tangannya pada tanganku.
" Kian, aku tak peduli semua itu. Kau tau kan aku sudah gila. Aku benar-benar tak peduli masa lalu dihatimu itu. Asal kau masih bisa tersenyum bahagia saat bersamaku, itu artinya aku masih punya kesempatan memenangkan hatimu. Aku akan selalu berusaha mendapatkan kesempatan itu."
Kian menatapku tak percaya.
" Karena pria inilah yang pertama kalinya membuatku merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakn sebelum bertemu dengannya. Pria inilah yang mengajariku untuk selalu percaya bahwa mimpi menjadi seorang penulis cerita itu tak mustahil diwujudkan. Pria ini juga yang akhirnya menemaniku untuk pertama kalinya pergi ke komedi putar, meski sebenarnya tak kuajak." Pengakuanku terus berlanjut tanpa hambatan.
" Dan untuk itu, aku sangat berharap. Benar-benar sangat berharap, pria itu... bersedia membiarkanku selalu ada disisinya. Karena aku yakin, akan banyak lagi 'pertama kalinya' yang akan kudapat nanti. Pria itu, kau Kian."
Lagi-lagi Kian mendesah berat. Sebelah tanganku pun kini digandengnya.
" Kau ini orang baik atau orang bodoh? Kenapa kau mencintai pria yang akan sangat mudah membuatmu sakit hati? Pria itu tak pantas kau cintai seperti itu, Eve." Katanya datar.
Aku tersenyum.
" Aku sudah bilang kan kalau aku tak peduli itu? Dalam hidup, untuk pertama kalinya aku merasakan semacam semangat hidup. Untuk terus hidup, melakukan yang lebih baik. Untuk esok, dan esoknya lagi. Untuk pertama kalinya aku ingin melakukan yang lebih baik setiap harinya. kalau aku mendapat semua itu, mengapa aku harus peduli hal-hal tak penting itu?"
Kian hanya diam. Mungkin akhirnya Kian menyerah untuk membiarkanku berusaha menjadi pemenang itu.
" Eve, aku mungkin juga harus jujur padamu." Kata Kian akhirnya. Matanya begitu lekat menatapku.
" Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa gadis dihadapanku ini seperti ombak dipantai. Punya semangat yang bahkan aku sendiri tak memilikinya meskipun hanya setengahnya. Gadis yang kukira gadis baik yang terlalu bodoh yang selalu berusaha mencari posisi dihatiku ini ternyata sangat sulit untuk kuhalangi memasuki duniaku. Dia mencoba dan terus mencoba. 10 kali aku mendorongnya menjauh, 100 kali dia mencoba mendekat lagi. Aku sepertinya mulai menyerah dan kan membiarkan dia masuk, menguasai semuanya." Akunya.
Aku tersenyum merasakan genggaman tangannya kian erat.
" Gadis itu pula yang membuatku untuk merasakan ingin menemaninya selama yang kubisa." Lanjut Kian
Aku berhambur memeluk tubuh tinggi tegap itu. Kian memelukku lembut.
" Tapi maaf, kalau aku belum sepenuhnya lepas dari masa lalu itu. Percayalah, aku sedang dan slalu berusaha melepasnya. Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama."
Tuhan, jika ini terlalu naif, maafkanlah aku. Dan bantu aku yakinkan diri bahwa pria ini akan selalu menjadi alasan yang pertama aku punya semangat hidup. Tuhan, untuk pertama kalinya rasanya dunia ini benar-benar kuingin berhenti berputar. Agar masa lalu itu tetap tertinggal dibelakang sana. Pintaku dalam hati.
" Tenanglah, jika semua itu benar-benar bisa berakhir, kau pasti tau kan cara menemukanku meski kau tak bisa menghubungiku?" Kataku kemudian.
Dan, dari balik tubuh pria itu aku masih menikmati komedi putar itu. Dan, untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hidup itu tak ubahnya seperti komedi putar yang sedang berputar. Akan terus berputar apapun yang terjadi. Tak peduli ada yang menanti untuk terus melaju atau mengharapnya berhenti. Tak akan berhenti meski tak seorangpun mempedulikannya. Tapi pada masa-masa tertentu, ada kalanya sebuah titik itu terlihat lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sebuah masa dimana sebelum ada Evelyn dalam kehidupan Kian. Masa dimana masa lalu itu bertahta kuat dalam kehidupan Kian. Tapi, bukankah hidup itu tak jauh beda dengan komedi putar yang tak akan berhenti berputar selama belum dihentikan pemiliknya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar