Jumat, 27 Maret 2015

A NAME OF STORY

        Aku masih memegangi kaca bedakku dengan tangan sedikit gemetar. Mengamati wajahku yang sedikit lebam pada pipiku yang tadi baru saja terkena tamparan keras dari Camay. Rasa panas masih terasa menjalari seluruh wajahku, tapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit dihatiku. Mataku terpejam.


Plaaakkkkk!
Semua mata saat itu langsung mengarah pada kami. Sempat kulihat dengan jelas mata sipit Camay membelalak marah.
" Kuharap tamparan itu bisa menyadarkan kau ini siapa." Geramnya.
" Ada apa ini May, kok datang-datang menamparku?" Aku mencoba membela diri.
Camay tergelak sinis.
" Apa aku perlu jelaskan ke semua orang kenapa aku sampai menamparmu? Hah?!" Camay makin geram.
Aku menunduk. Kupegangi pipiku yang masih terasa panas. Lalu kusadari ada sebuah langkah mendekati tempatku bersembunyi ini. Aku buru-buru mendongak mencari tau. Seraut wajah milik Luna menatapku seperti tanpa ekspresi. Aku menunduk lagi.
" Kau pasti datang juga untuk menyalahkanku kan Lun? Sama seperti mereka tadi. Kau pasti juga tak menyangka kan kalo aku ternyata yang selama ini dibicarakan Camay? Cewek yang selalu menjadi teror dalam hubungannya dengan Linggar?" Ucapku parau.
Luna malah mendekatiku dan duduk disebelahku.
" Meski dalam 1 departemen tapi aku tak begitu akrab dengan Camay, jadi aku tak begitu tau tentang masalah ini." Sanggahnya.
" Pakailah ini, biar bekas lebam dipipimu bisa cepat hilang." Lanjut Luna menyodorkan kain berisi kompres es. 
Kutatap Luna yang tersenyum, kami memang cukup dekat tapi Luna tak pernah tau rahasia hubunganku dengan Linggar, tunangan Camay. Kuterima kompres itu dan menempelkannya ke pipiku perlahan.
" Kami saling mencintai sejak masih SMU, Lun. Bahkan sampai sekarang." Ucapku membuka cerita.
" Kau juga punya cincin dijarimu kan?" Tanya Luna seperti mengingatkanku bahwa dijari manisku juga melingkar cincin pemberian Audriq yang dipasangkannya setahun lalu sebelum dia berangkat mengarungi samudra dalam tugasnya.
" Aku tau, Lun. Bahkan saat Linggar memutuskan akan menikahi Camay, kami tetap tak bisa menghentikan perasaan ini, Lun. Aku benar-benar mencintainya, Lun, sangat mencintainya." Ceracauku.
" Apa kau bahagia?"
" Apa?!" Aku tak mengerti arah pertanyaannya
" Kalo itu cinta, sesulit apapun jalannya tetap akan membuat kita bahagia. Tapi kalo perasaanmu pada Linggar malah membuatmu menderita dan selalu merasa bersalah pada Camay dan juga tunanganmu, itu bukan cinta. Hanya perasaan yang seharusnya sudah tak ada."
" Apa aku yang salah, Lun? Aku tak bisa berhenti mencintainya, bahkan setelah aku bertunangan dan dia pun memutuskan akan menikahi Camay. Aku tak bisa mengendalikan perasaan ini, Lun. Dan setiap kali dia datang dengan wajahnya yang penuh cinta aku makin tak bisa membendung perasaan ini. " Ceracauku seadanya.
Luna meraih jemariku dan saat aku menatap wajahnya, dia tersenyum lembut.
" Cinta tak pernah salah, hanya, kita mungkin yang telah salah menyerahkannya pada orang yang kita kira benar."

       Dan ucapan Luna itu membuat sebuah bayangan hadir dalam pikiranku. Linggar. Tak ada yang salah dalam hubungan kami. Paling tidak pada awalnya. Sekitar  7 tahun lalu. Kami 2 orang yang saling mencintai dan berharap bisa hidup bahagia. Dan menurutku saat itu tak ada yang salah. Hingga kemudian datang Camay diantara kami. Mungkin memang inilah yang disebut, awalnya mencintai siapa tapi akhirnya malah bersama siapa. Begitupun Linggar yang kemudian malah melabuhkan hatinya pada Camay, akupun menambatkan hatiku pada Audriq. Tapi kenyataan itu tak mampu menenggelamkan cintaku pada Linggar. 
" Bukan aku yang mulai Lun, tapi Linggar. Dia yang datang berwajah penuh cinta. Dia memanfaatkan perasaanku yang belum bisa melupakannya..."
" Tak akan timbul asap jika tak ada api."
Aku tergelak mendengar ucapan Luna. Amarahku tersulut. Kukira dengan menemuiku serta membawakanku kompres es Luna datang sebagai orang yang mengerti posisiku. Ternyata tak jauh beda dengan mereka tadi.
" Benar kan? Jika dari awal kau bisa menolak Linggar kau tak mungkin terjebak lebih dalam."
" Siapa kau?" Desisku dingin.
" Apa?"
" Aku kira kedatanganmu tadi karena kau tak seperti mereka yang hanya bisa menyalahkanku tanpa peduli apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ternyata aku salah." Lanjutku kian geram melempar kompres es ditanganku dan berlalu.
Tapi belum genap 3 langkah Luna angkat bicara.
" Aku tau."
Aku berhenti melangkah.
" Aku tau rasanya ada diposisimu sekarang. Aku tau rasanya dipersalahkan saat justru sebenarnya kita adalah korban. "
Kubalikkan badanku menatap Luna lagi. Wajahnya hampir tak berekspresi saat ini. Seakan semua hal yang seharusnya terlihat, ditekannya kuat-kuat ke dasar hatinya.
" Aku tau bagaimana rasanya saat tak bisa membela diri karena terlalu banyak yang menyalahkan, bahkan tak satupun yang memihak kita. Aku tau."
Lama-lama aku teringat tentang kisah hidup Luna yang sempat kudengar dari beberapa teman kerja. Bahwa Luna pernah ditinggal tunangannya seminggu sebelum pernikahan mereka. Tapi aku tak tau penyebabnya. Hanya banyak yang mengakui bahwa usai kejadian itu Luna menjadi sosok berhati keras. Hingga akhirnya kini dia bisa menjadi salah satu manager di perusahaan sebesar ini.
" Tapi apapun alasannya, sebuah perselingkuhan sedikit banyak akan merugikan. Apa kau pikir bisa bersikap seolah-olah tak terjadi apapun? Bahkan jika mungkin tunanganmu akhirnya meninggalkanmu, siapa yang bisa kau salahkan kecuali dirimu sendiri?"
" Apa?"
Luna mengalihkan pandangannya seakan sengaja menyembunyikan kelemahannya yang sempat terpancar dikedua matanya.

Aku memang tak cukup mengenal Luna, meski aku sudah bekerja disini lebih dari 3 tahun. Saat aku masuk ke perusahaan ini Luna sudah ada disini, dan dia sudah seperti ini. Meski beda departemen, dan meski sebagai senior, tapi tiap kali bertemu dia selalu menyempatkan diri menyapaku. Aku hanya tak pernah peduli dan mengurusi tentang latar belakang apalagi masa lalunya.
" 4 tahun lalu, seminggu sebelum pernikahan tunanganku meninggalkanku." Katanya mulai membuka cerita. Langkahnya mendekati jendela kaca besar yang menghubungkan dengan jalan raya. Matanya menerawang.
" Menggelikan sekaligus menyakitkan. pernikahan yang sudah didepan mata malah hancur gara-gara cinta tak berarti dengannya."
" Dengannya?" Ulangku tak mengerti dengan yang dimaksud Luna 'dengannya'.
Luna menatapku lagi. 
" 4 tahun lalu, awal hubungan Linggar dengan Camay kan?"
Aku kaget.
" Bagaimana kau tau?"
Luna mendesah berat.
" Itulah akhir kisahku dengan tunanganku, dan semua itu karena dia tau aku diam-diam terjerat cinta seorang pria, yang ternyata tak mengerti apa itu cinta." Lanjut Luna dengan sederet tawa sinis.
" Lalu apa hubungannya dengan Linggar dan Camay."
" Karena pria yang menjeratku dengan cinta palsunya hingga pernikahanku berantakan adalah Linggar."
Deg!
Aku berharap yag kudengar tadi salah. Bukan, mungkin Luna tak menyebut Linggar. Mungkin Anggar, atau Damar, atau....
" Bodohnya aku yang dengan mudahnya tertipu semua omongan manisnya. Dan saat aku tersadar, rencana pernikahanku berantakan, dan dia...dia malah pergi ke pelukan gadis lain."
Aku hampir limbung mendengar semua cerita Luna.
" Aku terpaksa mengatakan ini padamu, karena aku tak mau pertunanganmu juga berakhir seperti aku. Linggar, dia tak pantas dicintai."
Kutatap Luna.
Sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia sedang tak bercanda.
" Jadi kau...."
" Aku pernah ada diposisimu seperti sekarang ini. Tapi cukup sampai disini saja. Jangan sampai kau juga merasakan ada diposisiku seperti sekarang ini." 
" Jadi selama ini kau baik padaku karena punya maksud lain?" Tudingku merasa selama ini dibohongi oleh Luna tentang jati dirinya.
Luna tersenyum dingin.
" Tentu saja aku punya maksud lain. Karena aku tak ingin lagi ada wanita yang hancur karena pria itu. Anggap saja tamparan dari Camay hari ini adalah pintu keluarmu, jadi saat pintu itu terbuka maka keluarlah, sebelum pintu itu tertutup lagi dan kau akan terjebak lagi lebih dalam didalamnya." Ucapnya memperingatkan, lalu melangkah pergi meninggalkanku yang masih belum sepenuhnya mempercayai semua yang dikatakan Luna.

Kupandangi punggung ramping Luna yang makin menjauh. Luna, gadis yang pernah juga singgah dicerita cinta Linggar, yang bahkan tak pernah kuketahui.
Ternyata dunia ini memang sangat sempit. Bahkan 3 orang sekaligus yang pernah menjalin cinta dengan Linggar, berkumpul disatu perusahaan.  Benar-benar menggelikan sekaligus menyakitkan.





Buat yang pada terjebak 'cinta terlarang'
gak akan ada untungnya deehhh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar