Sabtu, 28 Maret 2015

AKHIR SEBUAH PENANTIAN

           Mobil mewah yang kutumpangi bersama pria parlente tampan dan berwibawa itu terhenti disebuah halaman luas sebuah rumah besar. Ah... ini bukan rumah. Ini lebih mirip sebuah istana. Halaman luas yang pepohonan tinggi dan semaknya terawat dengan baik. Bunga-bunga bermacam warna juga menghiasi dengan cantiknya.
" Ayo turun!" Ajaknya membuka pintu mobilnya. 
Aku mendesah berat sebelum membuka pintu mobil dan menurunkan kakiku dengan malas.

       Sejam lalu, pria parlente itu, Pramudya namanya, menemuiku didepan rumahku di perkampungan kumuh. Aku juga sempat kaget, karena orang sewibawa itu mampu menginjakkan kakinya di tempat tak layak begitu.
" 1 jam saja, aku ingin mengajakmu dan menunjukkan sesuatu padamu. Please!" Pintanya sedikit memelas.
Aku tak sadar tergelak.
" Maaf, tapi sepertinya tak ada yang harus kita bicarakan. Bagaimana mungkin jutawan seperti anda punya urusan dengan orang rendahan seperti saya?"
" Astuti...!!" Hardiknya dengan suara tertahan.
Aku melengos menghindari tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu, dulu sekali, selalu meredam amarahku. Tatapan mata yang selalu bisa membuatku kembali berdiri kala hampir terpuruk.
" Apa ini semua karena aku?" Tanyanya
Aku diam.
" Apa aku yang menyebabkan Astuti yang dulu sangat hangat seperti matahari pagi, kini berubah sangat keras dan dingin?" Lanjutnya meracau sedih.
Aku tak mau terlarut dalam kenangan masa lalu itu lebih lama lagi. Kutatap Pramudya.
" Kau tadi mau mengajakku kemana? Ayo kita mulai secepatnya. Aku juga harus bekerja." Ucapku dingin.
Dan disinilah ternyata Pramudya mengajakku. Perlu waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kesini.
" Dulu aku pernah berjanji padamu akan membuatkanmu sebuah istana."
Kutatap Pramudya yang penuh senyum bangga menatap bangunan megah nan mewah dihadapan kami.
" Inilah istana yang kujanjikan itu, As. Sekarang, kau tinggal masuk kedalamnya bersamaku." Lanjutnya menatapku.
Aku tergelak lagi, tapi bukan tak sengaja. Karena aku merasa yang dikatakan Pramudya terlalu lucu.
" Kenapa? Kau tak percaya aku telah berhasil menepati janjiku membuatkanmu sebuah istana?"
Kuperhatikan lebih detail bangunan dihadapanku. Benar-benar indah.
" Sangat indah, sayangnya untuk menunggu istana ini terlalu banyak luka dan air mata yang harus kulalui. Apa itu sepadan?" Tanyaku cetus, kembali menatap Pramudya.
" Astuti..."

Ya, terlalu banyak luka dan air mata untuk menunggu bisa melihat pemberian Pramudya yang disebutnya 'istana' ini. Dan selama masa menunggu itu, kehidupanku begitu keras hingga tak terhitung kudapati hancur berkeping. Butuh banyak kekuatan dan tekad untuk memunguti dan merekatkannya lagi. Apakah ini bisa disebut akhir yang sepadan jika dibandingkan dengan kekerasan hidupku selama ini?
"Maaf jika selama ini aku meninggalkanmu disitu. Aku pergi keatas untuk menggapai apa yang dulu kita impikan. Dan sekarang aku menjemputmu, As. Mulai sekarang aku akan membayar semua air mata dan luka yang selama ini kau rasakan, aku..."
" Berapa?" Selaku cepat, menatapnya lekat.
" Apa?" Pramudya kaget.
" 100 milyar? 200 milyar? Kau punya berapa? Bahkan sekalipun kau berikan semua hartamu, juga istanamu ini, belum cukup untuk membayar air mata dan luka yang kau sebabkan."
" As..."
Kualihkan pandanganku lalu mendesah jengkel.
" Katakanlah semua apa yang kau ingin asal aku bisa membayar semua penderitaanmu. Sekalipun itu dengan nyawaku."
Aku tergelak.
" Astuti, aku harus bagaimana lagi agar kau mau kembali padaku!" Geram Pramudya dengan suara cukup tinggi.

Pengkhianatan. Itulah yang tak pernah bisa kumaafkan. Itulah yang setiap hari menciptakan luka dan air mata. 7 tahun lalu, aku membantu Pramudya dengan segala cara agar dia bisa masuk seleksi perekrutan karyawan baru disebuh perusahaan raksasa itu. Bahkan aku sampai tak memperdulikan hidupku. Tapi saat dia sudah berhasil masuk, dia melepas tanganku. Demi meraih tangan yang lain. Dan itu sangat menyakitkan.
" Kau tak perlu melakukan apapun, kau sudah ada diatas dengan semua impian digenggaman tanganmu. Dan istana ini, bahkan namaku pun tak pantas masuk ke dalam. Apalagi jika ditambah dengan latar belakangku? Hanya akan mengotori lantai marmernya."
" Astuti, apa bahasamu perlu sekasar itu?"
" Inilah realita, Pram. Kau dan aku sudah terlalu lama ada di dunia yang sangat berbeda. Duniaku adalah perkampungan kumuh dengan sampah dimana-mana, setiap hari harus membanting tulang bekerja agar tetap bisa bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan duniamu?" Kupandangi wajah tampan itu " Dunia yang aku pun bahkan tak cukup mampu membayangkannya. Yang terlalu mewah dan megah dengan segala kemudahan."
Wajah tampan itu menunduk sedih.
" Tenanglah, kau baik-baiklah di duniamu. Aku juga akan baik-baik saja di duniaku. Aku tak akan mampu merangkak naik ke dunia mewah itu, dan kau juga tak perlu turun menjemputku."
" Kenapa aku tak pernah bisa mengalahkan kepala batumu?!" Desisnya seperti putus asa.
" Aku tau aku salah telah meninggalkanmu dulu, tapi sekarang aku ingin menepati janjiku. Istana itu, aku buat untukmu. Kita akan tinggal didalamnya. Menikmati sisa hidup dengan semua keindahannya, kemewahannya."
" Sudah kubilang, semua hartamu juga istanamu ini tak mampu untuk membayar luka dan air mataku."
Pramudya menatapku lain, lebih mirip sebuah amarah. Kualihkan pandanganku dengan sedikit senyum.
" Setelah kuperhatikan, dunia itu, dunia yang dulu kau impikan akan pergi bersamaku itu, sepertinya sangat membosankan."
'' Kau salah. Dunia itu sangat indah, sangat mewah. Bahkan dulu, dalam mimpiku pun tak kubayangkan seindah itu. Awalnya kukira itu sebuah mimpi, hingga puluhan kali aku sering menampar pipiku sendiri. Tapi dunia itu tetap ada dihadapanku. Sekarang, aku ingin terus dalam mimpi indah itu, aku tak ingin bangun. Aku ingin selalu dalam dunia impian itu. " Katanya datar.
Aku mengangguk mengerti.
" Begitukah? Kalau begitu kau tak perlu menjemputku. Karena untuk menjemputku kau perlu turun ke bawah, meski hanya sebentar, kau tetap harus turun dititik terendah, meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kau rasakan. Apa kau sanggup melakukannya?"
Pramudya diam tak menjawab pertanyaanku. Aku tergelak sinis.
" Kau tak sanggup melakukannya kan? Itulah sebabnya aku melarangmu menjemputku." Lanjutku lebih seperti mencemoohnya.
Pramudya mendesah panjang.
" Kau bersikap begini, apa benar-benar kuat atau hanya pura-pura?" 
Mataku hampir membulat mendengar pertanyaannya kali ini. Kualihkan pandanganku untuk menghindari tatapan menyelidiknya.
" Kau kuat berapa lama untuk bisa bersikap sok tegar begini? Sehari? Dua hari?" Lanjutnya masih memberondongku.
" 7 tahun." Jawabku kemudian. Kutatap mata indah itu dengan sisa ketegaranku yang ingin kupamerkan pada pria dihadapanku ini.
" Aku sudah bisa bertahan selama 7 tahun. Dan aku yakin untuk 7 tahun kedepan aku juga akan tetap bisa bertahan, bahkan juga akan bertahan untuk 7 tahun selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya." Lanjutku yakin.
'' Kau tak percaya? Kau harus percaya, karena kau juga tau, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras begini. Jadi meskipun masa-masa itu adalah sangat sulit, aku pasti bisa melaluinya."

           7 tahun lalu saat masa-masa sulit itu baru dimulai, aku sering berharap penantianku diujung jalan menuju rumahku itu aku akan melihatnya datang menemuiku. Aku selalu yakin dia akan datang seperti yang dia janjikan. Aku menunggu dan menunggu. Aku kira penantianku itu tak akan jauh beda dengan yang terjadi di drama-drama romantis kesukaanku. Yang meski terlambat, tapi dia akan datang dengan senyum dan memelukku menghapus gundahku. Tapi mungkin aku memang hanya gadis kampung yang polos, bodoh, dan naif. Yang terlalu berharap seorang pangeran yang telah menemukan sebuah istana akan menjemput cinderelanya. Karena setiap hari, sampai ribuan hari yang datang bukan pangeranku, tapi luka yang selalu menciptakan air mata.
" Apa kau membenciku? Sangat membenciku?" Tanya Pramudya sedih.
" Tidak. Bukan itu. Mungkin karena aku terlalu banyak mendapati luka itu, terlalu sering meratapi luka itu, aku bahkan lama-lama kehilangan rasa. Mati rasa. Hatiku tak bisa lagi merasakan semuanya." Ralatku.
'' Maaf."
Aku tersenyum.
" Aku tak butuh maafmu. Kau juga tak perlu lakukan itu. Daripada kau repot-repot minta maaf, lebih baik kau rajinlah berdoa agar kau tetap aman diduniamu diatas sana. Baik-baiklah diduniamu yang penuh kemewahan itu. Karena jika, dan jika suatu saat Tuhan ingin memutar roda hidupmu hingga kau kembali ke bawah kau tak bisa mencariku lagi." Kataku membuat wajah tampannya sayu.
" Jika saat itu tiba, apapun alasanmu jangan mencariku lagi. Karena aku sudah tak ada didunia itu lagi. Jadi aku berharap, berdoalah selalu agar kau selalu didunia impianmu itu. Dunia yang aku bahkan tak bisa membayangkannya."
Mata Pramudya kian sayu. Aku hampir tak kuasa melihatnya.
" Baiklah, aku harus pergi. Aku harus bekerja." Pamitku hendak beringsut.
" Apa mengantarmu pun sudah tak kau ijinkan?"
Kulirik mobil mewah mengkilap disampingku.
" Kau tau kan aku paling tak bisa terlalu lama dengan AC? Aku tadi sebenarnya mulai merasa flu, jadi kalau harus merasakan AC setengah jam lagi, aku bisa benar-benar flu." Kilahku ringan.
" Tak apa, aku lebih nyaman naik angkot atau metromini. Karena itulah duniaku." Lanjutku buru-buru melangkah.

        Mungkin ini memang cukup menyakitkan untuk menjadi sebuah akhir. Akhir dari penantianku yang naif. Tak apalah, karena memang beginilah kerasnya duniaku. Dunia yang sederhana yang untuk bertahan hidup harus mengerahkan semua tenaganya. Dan untuk istana dibelakangku itu, itu terlalu mustahil untuk berada diduniaku. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Istanaku adalah rumah kecil diperkampungan kumuh itu. Istana yang penuh dengan cinta dan tanpa pengkhianatan, apalagi luka dan air mata penantian.






terinspirasi nonton drakor THE INNOCENT MAN






Tidak ada komentar:

Posting Komentar