Rabu, 25 Maret 2015

Kesayangan & Impian

            Hujan siang ini belum sepenuhnya reda, titik-titik kecil masih menerpa dedaunan diluar sana. Hawa dinginnya langsung menyapaku yang baru saja membuka jendela balkon kamarku. Lumayan segar untuk me-refresh otakku yang sejak kemarin sangat berpusing ria dengan tingkah Rei yang terkesan sangat kekanak-kanakan. Dan sudah melampau batas.

" Bang Milo, Bang Milo, Bang Milo terus! Kenapa semua hal tentangmu selalu menyangkut abangmu? Apa hidupmu benar-benar tak bisa berjalan kalau sekali saja tak menyebut namanya? Kenapa pula harus pacaran denganku? Hidup bersama abangmu saja seumur hidupmu!" Gusar Rei
Aku melongo.
Apa ini tak salah? Kenapa Rei tiba-tiba marah soal Bang Milo, kakak semata wayangku yang sangat kusayangi dan sangat pula menyayangiku itu.
Dan lagi, Rei juga sudah cukup kenal dengan Bang Milo, meski tak terlalu akrab karena umur mereka memang beda beberapa tahun, juga bidang kerja mereka yang beda jauh. Rei dan aku bergelut di dunia hukum, sementara Bang Milo sudah sejak kecil menyukai dunia konstruksi.
Aku mendesah mendapati tatapan mata Rei yang begitu sengit.
" Kenapa? Itu benar kan?"
" Kau cemburu pada Bang Milo?" Tanyaku masih tak percaya.
" Wajar kan kalo aku cemburu karena apa-apa kau selalu membawa nama Bang Milo."
" Dia itu abangku, Rei...!"
" Ya, abang tiri!"
Aku tercekat. Rei benar-benar sudah keterlaluan. Akupun bangkit, meninggalkan makan siangku yang bahkan belum sempat kunikmati.
" Dia memang hanya abang tiriku." Ucapku sebelum melangkah lagi.
" Semua orang juga sudah tau, jadi kau tak perlu mengucapkannya dengan setegas itu." Aku memejam sebentar
" Tapi apa salah kalau aku terlalu menyayangi dan sangat tergantung pada abang tiriku?"
Sepi. Hanya samar-samar sempat kudengar desahan nafas panjang Rei sebelum aku melangkah pergi.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka perlahan, aku menoleh seiring muncul sosok kesayanganku dibalik daun pintu. Aku tersenyum menyambutnya. Bang Milo.
" Ijin libur hanya untuk mengurung diri dikamar seharian, apa kau sedang sibuk buat novel?" Tanya Bang Milo melangkah masuk, bajunya masih lengkap berdasi dan berjas, menunjukkan bahwa dia baru pulang kerja.
" Mengejek ya?" Sungutku melipat tanganku sembari bersandar dibingkai jendela.
Bang Milo tersenyum. Menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidurku.
" Kemarilah!" Pintanya mengisyaratkanku untuk mendekat ke sampingnya.
Tanpa disuruh dua kali akupun langsung mendekati Bang Milo, duduk disebelahnya, bahkan menyandarkan kepalaku pada pundaknya, dengan manja.
" Aku kira seorang pegacara yang tugasnya menyelesaikan masalah orang lain, tidak akan mungkin kesulitan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Ternyata tidak juga."

Aku tak cukup kaget kalau Bang Milo sudah tau alasanku sampai libur kerja dan mengurung diri dikamar seharian. Karena memang salah satu keahlian Bang Milo adalah mencari tau masalah yang terjadi padaku, apapun itu.
Aku mendesah berat.
" Tapi kali ini Rei benar-benar sudah sangat keterlaluan Bang."
Bang Milo menepuk pelan tanganku yang bergelayut manja dilengannya.
" Abang..." Panggilku seraya bangkit dari sandaran pundaknya. Bang Milo menatapku dengan senyum.
" Apa aku memang terlalu bergantung padamu?" Lanjutku bertanya.
" Sebelum kujawab, apa kau bisa mengingat, sejak kecil sampai sudah jadi pengacara begini, siapa saja yang pernah jadi teman terdekatmu?"
Kupicingkan mataku menatap laki-laki kesayanganku selain ayah dan Rei. Aku mulai berfikir, mengingat-ingat seperti yang diperintahkannya tadi.
" Tidak ingat?" Tanya Bang Milo
Akupun memilih menyerah dini, mengeleng pelan.
" Kau tak akan bisa mengingatnya, karena kau tak pernah punya teman dekat selain abangmu ini." Lanjut Bang Milo enteng.
" Masa?!" Kagetku, tapi kemudian tersenyum.
" Lalu apa tidak boleh? Sejak kecil Abang sudah menemaniku. Menjadi kakak sekaligus sahabat, bahkan juga bisa merawatku seperti yang dilakukan mama. Abang selalu menjadi pendengar yang baik saat aku punya masalah, tak hanya itu, juga selalu bisa membantuku menyelesaikan masalah. Lalu kenapa aku harus perlu sahabat lagi. Bagiku, Bang Milo pun sudah cukup." Lanjutku seadanya.
" Lalu Rei?!" Buru Bang Milo
Aku diam menatap Bang Milo yang juga menatapku lekat.
" Sejak masih kuliah kau sudah menyukainya kan? Kau bahkan pernah pulang-pulang dengan mata hampir menangis hanya karena kau melihat Rei pulang dengan gadis lain. Lalu kenapa setelah sekarang kau bisa memiliknya..."
" Bukan aku Bang, tapi dia seperti anak kecil." Sergahku tak mau disalahkan.
Bang Milo mengerutkan dahinya.
" Masa dia cemburu sama Abang, aneh kan?" Lanjutku manyun.
Bang Milo tersenyum sambil membelai rambutku yang memang sedikit berantakan.
" Saat kita mencintai orang lain, siapapun itu pasti ingin jadi yang pertama dalam hidupnya. Ingin jadi yang pertama diingatnya, diandalkannya, semuanya."
" Jadi Abang menyalahkanku?" Kernyitku.
" Bukan soal salah atau tidak, tapi mungkin sudah saatnya kau belajar mengandalkan orang lain. Karena tak mungkin kan seumur hidup kau hanya selalu mengandalkanku?"
Ada sedikit rasa sesak menyapa dadaku. 
" Apa Abang sudah lelah kuandalkan?" Tanyaku takut.
Tapi Bang Milo malah tersenyum lebar.
" Dasar bodoh, kenapa malah berpikir begitu? Kau tau kenapa aku sangat menyayangi dan menghormati mama, meski mama bukan mama yang melahirkanku? Itu karena kau Mika."
" Aku?"
Bang Milo tersenyum lagi.
" Ya, kau. Karena mama sudah memberiku adik yang begitu manis dan membuat hidupku tak kesepian lagi."
Pengakuan Bang Milo benar-benar membuatku terharu, aku tersenyum dan berhambur memeluknya.
" Apa Abang tau, meski kita bukan terlahir dari ibu yang sama aku tetap berterimakasih pada Tuhan karena memberiku kakak sebaik Bang Milo? Aku tak akan minta lebih, karena apa yang kudapat sudah lebih dari cukup."
Bang Milo menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
" Tapi ada saatnya kau harus mempercayakan seseorang untuk menjagamu. Rei, dia begitu hanya karena merasa kecil hati, karena selama ini kau lebih mengandalkanku daripada dia. Itu wajar, Mik."
Aku manyun, berharap Bang Milo tau kalau aku tak begitu suka ucapannya barusan.
" Tenanglah, kapanpun Abang akan selalu ada jika kau butuhkan."
" Sekalipun kelak Abang sudah menikah?"
Bang Milo tersenyum, lalu mengangguk.
" Ya, sekalipun Abang sudah menikah, Abang tidak akan pernah mengacuhkanmu. Abang tetap bisa kau andalkan. Tapi...kau juga jangan mengacuhkan Rei, karena dia selalu berharap kau mau mengandalkannya."
Aku manyun lagi, 
" Tapi dia yang seperti anak kecil Bang..." Rajukku
" Pria dewasa tak pernah malu datang minta maaf, dan aku tau Rei sudah termasuk pria dewasa."
" Maksudnya?"
" Temuilah, dia menunggu dibawah."
Aku sedetik kaget, tapi detik berikutnya mencoba menepis kekagetan itu. Meski aku akui aku kagum dengan usahanya kali ini. Dan itu mengingatkanku akan usahaku mendapatkan perhatiannya selama masa kuliah dulu. Meski masih dalam batas wajar, tapi aku tak pernah berhenti berharap aku bisa memiliki sosok bertalenta Rei.
" Biarin aja, masih males. Siapa suruh kemarin ngomongnya sembarangan." Sungutku.
Bang Milo tergelak, aku manyun protes.
" Baru juga semenit lalu bilang Rei seperti anak kecil, tapi sekarang kau sendiri kan yang kaya anak kecil?"
Aku melotot,
" Abang....." Rajukku
" Sudah, sudah, ayo turun. Temui dia, kasihan dia kesini meninggalkan keegoisannya, jadi jangan sia-siakan itu." Ajak Bang Milo bangkit sambil menarik tanganku.

Kuikuti dengan sedikit malas. Dan tanganku tetap terbalut erat dalam jemari Bang Milo bahkan sampai tiba ditangga terakhir. Kutemukan Rei sedang duduk terpekur di sofa ruang tamu. Saat menyadari kedatangan kami, dia pun buru-buru bangkit meski pancaran raut mukanya sedikit....Entahlah, aku tak cukup mengerti arti pancaran raut mukanya. Kami mendekat.
" Mik..." Sapanya kikuk.
Senyum Bang Milo mencairkan suasana. Tanganku yang sejak tadi tergenggam jemarinya, ditariknya maju.
" Rei, kuharap kau bisa memaklumi sikap Mika. Mungkin memang salahku yang terlalu memanjakannya sejak kecil, jadi...."
" Abang...." Selaku memprotes.
Bang Milo tersenyum dan membelai rambutku.
" Sudahlah kalian sudah cukup dewasa, masalah begini harusnya tak perlu dipermasalahkan."
" Sebenarnya ini semua memang salahku, Bang." Susul Rei.
" Syukurlah kalau ngaku." Sungut Mika
" Mika...!" Sergah Bang Milo " Bukankah orang yang mengaku bersalah sudah tak pantas dianggap bersalah lagi?"
Sepi. Aku memilih tak menjawab.
" Oke, aku tinggal dulu ya." Lalu Bang Milo melepas tanganku dan beringsut pergi.
Sepeninggal Bang Milo, Rei duduk kembali, tapi tak kusangka tangannya sambil menarik tanganku hingga aku terpaksa ikut terduduk.
" Kau masih tak mau memaafkanku?" Tanya Rei mencondongkan wajahnya ke arahku.
" Aku hanya masih tak habis pikir kenapa kau bisa cemburu pada Bang Milo. Dia itu abangku, meski hanya tiri, tapi dia itu abangku, Rei!" 
" Mungkin karena aku terlalu takut."
" Takut?" Desisku tak mengerti.
" Aku takut tak cukup baik menggantikan posisi Bang Milo, karena selama ini aku merasa kau tetap menomor satukan Bang Milo daripada aku."
" Rei..."
" Aku tak perlu semua, hanya sedikit saja, beri aku kepercayaan bahwa aku juga bisa kau andalkan. Sama seperti Bang Milo."
Kupandangi tangan kami yang terengkuh bersama. Dulu, masa-masa masih kuliah, tiap hari aku selalu berharap tangan itu menggandengku erat penuh cinta.
Aku mendesah, menarik tangan kami ke dalam pangkuanku.
" Sepertinya sekarang masalahnya bukan pada aku yang tak memberi kepercayaan, tapi kau sendiri yang tak percaya diri." Keluhku.
" Apa?!"
Kutatap Rei yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa centi dariku.
"  Kau tau kenapa Bang Milo tadi sampai menggandengku turun menemuimu? Kau tau kenapa Bang Milo tadi lebih membelamu daripada aku? Karena dia sangat tau perasaanku padamu."
Rei bahkan menatapku tanpa kedip.
" Aku selalu mengandalkan Bang Milo karena dia Abangku, Rei. Tapi harusnya kau tau, meski tiri, tapi dia tetap abangku. Saudara sedarahku. Tapi kau, kau ada disini Rei, didadaku, dijantung hatiku." Akuku lirih, seraya menepuk dadaku pelan.
Pelan-pelan ada seulas senyum dibibir Rei, dan tanpa kusangka Rei menarik tubuhku dalam pelukannya.
" Maafkan aku Mik. mungkin aku memang terlalu sibuk mengurusi kau yang selalu mengandalkan Bang Milo, hingga aku malah mengabaikan cinta yang ingin kau beri."
Aku tersenyum dalam pelukan pria impianku. Dan diujung tangga sana, Bang Milo tersenyum menatap kearahku. Kubalas senyuman pria kesayanganku itu seiring membalas pelukan Rei.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar