" Lain kali harus lebih hati-hati. Dan jangan macam-macam mencoba pakai high heels segala. Kakimu itu aset penting, jauh lebih berharga dari apapun." Omel Giok membantu Hanum memakai flatshoes yang sudah sedikit lusuh.
" Nanti pulang pakai sepatu ini saja, dan simpan rapat-rapat high heels itu atau aku akan membuangnya." Lanjut Giok tetap dengan nada memerintah, membuat Hanum bermuka masam. Tapi beberapa karyawan di coffee shop yang saat itu ada disekitar mereka justru tersenyum penuh arti.
" Sepatu ini baru aku beli minggu lalu, tadi aku malah sengaja mau memakainya karena mau menunjukkan padamu." Hanum angkat bicara seperti mencoba membela diri.
Giok menatap kearah Hanum dengan tatapan lekat.
" Apa kau pikir aku akan menyukainya? Dasar bodoh!"
" Tapi Mawar juga selalu memakai high heels, dan aku lihat kau tak pernah sekalipun protes. "
" Apa? Kau ini...." Suara geram Giok mengambang saat melihat wajah Hanum yang menunduk dalam. Lalu Giok mendesah berat.
Bagi Hanum, Giok tak hanya sahabat sejak kecilnya. Tak hanya tetangga sebelah rumahnya. Tak hanya abang yang selalu menyayangi tapi juga mengomeli kalau Hanum berbuat tak benar seperti saat ini. Jauh dilubuk hati Hanum, juga tersimpan perasaan terindah yang selalu Hanum jaga.
" Maaf, kalau sudah membuatmu khawatir..." Rajuk Hanum lirih.
" Dari dulu kau kan memang suka sekali membuatku jantungan. Tapi kau bukan anak kecil lagi Num.."
" Bukankah dihadapanmu aku selalu anak kecil?" Sanggah Hanum polos, membuat Giok melotot, tapi tidak ekspresi seorang pegawai yang kebetulan lewat, tertawa tertahan. Sampai Giok spontan menatap pegawainya tadi.
" Kau ini...benar-benar masih seperti anak kecil!" Dengus Giok memukul kepala Hanum pelan.
" Aku hanya tak mau terjadi apa-apa pada kakimu, kau itu balerina. Apa jadinya jika seorang balerina kakinya sampai cidera?" Lanjut Giok
" Terima kasih selama ini selalu mengkhawatirkanku. Meski aku selalu merepotkanmu kau juga tak pernah jera menjagaku. Kau memang sahabat sekaligus kakak yang sangat baik untukku." Ucap Hanum perlahan menatap Giok, yang ternyata lebih dulu sudah menatap Hanum lekat.
" Itulah kesalahan terfatal yang kau buat, Hanum. Kau selalu bisa melihatku sebagai seorang sahabat dan kakak yang baik. Tapi kau tak pernah berani melihatku sebagai seorang laki-laki yang mungkin juga bisa mencintaimu dengan sangat baik."
Hanum menunduk sedih mendengar pernyataan Giok. Hal yang sangat disesali Hanum. Tapi, sehebat apapun penyesalan yang Hanum rasakan tak akan ada gunanya karena Giok sebentar lagi akan bertunangan dengan Mawar. Dan jika kelanjutan kisah Hanum akan jadi sebuah elegi, tak ada yang pantas dipersalahkan selain Hanum sendiri. Hanum dan Mawar adalah sahabat di sanggar balet. Mawar adalah senior yang sangat baik dan begitu telaten membimbing Hanum sampai sejauh ini. Dan hari itu, entah niat dari mana Hanum memperkenalkan Mawar pada Giok, laki-laki yang hampir sepanjang umurnya telah menemani Hanum. Laki-laki yang hampir separuh umurnya selalu membuatnya begitu nyaman menikmati cinta dilubuk hatinya.
" Aku tau, sebesar apapun penyesalanku tak akan merubah apapun." Desis Hanum berat.
" Jangan membiarkan penyesalan itu menguasaimu, dia akan menjadi duri dalam daging. Aku tak mau kau merasakan kesakitan saat melihat kami." Pinta Giok meraih jemari Hanum dan membelainya.
Hanum tersenyum.
" Tenanglah, aku tak akan pernah khawatir jika yang bersanding denganmu adalah Mawar. Aku sudah lama mengenalnya, dan aku bisa pastikan dia gadis yang baik dan sangat pantas mendapatkan coffee prince sepertimu." Ucap Hanum optimis. Entah jujur atau hanya dibuat-buat.
" Kau ini pintar, tapi kenapa bersikap sebodoh ini?!" Protes Giok memukul jidat Hanum. Hanum meringis memegangi jidatnya.
" Jelas-jelas aku sangat menyayangimu. Jelas-jelas pula kau sangat berharap aku bisa disisimu selamanya, tapi kenapa malah membawa orang asing diantara kita? Kau ini sangat kepala batu tapi aku tak menyangka hatimu juga bisa kau ubah sekeras batu."
Hanum menunduk lagi, menatap kakinya yang terbalut sepatu kets lusuh yang entah kapan ditinggalkannya di coffee shop milik Giok ini.
" Paling tidak aku tetap akan masih bisa merasakan kasih sayang seorang kakak dan sahabat. Itu sudah lebih dari cukup untukku." Ungkap Hanum.
" Lalu?"
" Apa?"Hanum mendelik heran.
" Iya, lalu? Lalu bagaimana denganku? Apa kau tak pernah memikirkan bagiamana aku?" Tanya Giok
Hanum terdiam. Entah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Giok, atau hanya memang ingin diam tak menjawabnya.
" Aku begitu peduli padamu, tapi kenapa kau begitu egois padaku? Kau tiba-tiba mengenalkanku dengan gadis yang kau pikir baik hati dan paling pantas bersanding denganku. Tapi tanpa minta pendapatku dulu. Dan saat aku bisa menerimanya kau bersikap begini. Terluka dan memaksakan diri. Apa kau pikir aku tak sedih melihatnya?"
" Gi..." Rajuk Hanum mengguncang lengan Giok, dengan tatapan memelas pula, seperti meminta pengampunan.
Giok mendesah berat.
" Kau harus cepat-cepat mendapatkan pasangan agar aku percaya kau baik-baik saja."
" Kau pikir mendapatkan pasangan seperti mencari seekor kucing di pasar?" Rutuk Hanum
" Kau ini...." Giok hendak memukul kepala Hanum lagi tapi ponselnya berbunyi. Giok pun urung dan memilih mengangkat panggilan di ponselnya.
" Iya, Mawar...?" Sahut Giok membuat mata Hanum membulat sebentar, tapi cepat-cepat diredupkannya.
" Iya, aku akan segera kesana, secepat mungkin. Maaf, tadi masih ada sedikit pekerjaan di kedai."
Hanum mengucek-ucek ujung kaosnya.
" Aku akan sampai sebelum acara dimulai. oke." Lalu Giok menutup ponselnya. Memperhatikan Hanum yang seperti sibuk sendiri menata hatinya.
" Disini, meski hanya seperti ini, rasanya sudah sakit kan?" Tanya Giok menepuk dadanya pelan.
" Aku..." Hanum bingung harus menjawab apa.
" Tak usah mencoba berbohong Num, aku tau itu, karena aku juga merasakannya."
" Gi, kau membuatku merasa bersalah."
" Siapa suruh membuatku jadi serba salah. Kau tau aku paling tak bisa membantah permintaan ibuku, tapi kau malah sengaja membuat ibu juga jatuh hati pada Mawar. Kau yang menutup semua jalan untuk aku bisa melarikan diri dari situasi ini. Kau, Num!" Cetus Giok lirih dan berat.
Hanum menatap Giok tepat dimata indahnya. Pancaran kasih sayang itu jelas sekali terlihat oleh Hanum, dan Hanum sudah sangat bahagia masih bisa melihat itu.
" Selalu menyalahkanku juga tak mengapa, asal dengan begitu kau bisa lebih mudah menjalani semua ini. Soal aku, tak usah khawatir. Meski aku seorang balerina tapi hatiku seperti petarung, tangguh. Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang tak perlu." Ucap Hanum dengan wajah dan mata berbinar.
" Cepatlah berangkat, kau ada janji menemui Mawar di panti asuhan kan?acaranya sejam lagi, jangan sampai terlambat." Lanjut Hanum menyerahkan jaketnya Giok yang ada dipunggung sofa yang diduduki Hanum.
" Kau mau ikut?" Tanya Giok tak yakin.
Hanum menggeleng,
" Dengan kakiku yang begini, nanti malah merepotkan semua orang. Aku mau pulang saja. Istirahat biar besok sudah bisa pulih." Tolak Hanum ringan.
" Kuantar kau pulang dulu ya?!" Tawar Giok.
Hanum tergelak,
" Kau ini, arah ke panti dan rumah kan berlawanan. Bisa benar-benar telat nanti. Sudah, sana cepat berangkat. Aku nanti kan bisa pulang sendiri."
Giok bangkit dengan malas, seperti enggan meninggalkan Hanum.
" Biar nanti pulangnya diantar saja"
" Iya...sudah gak usah mikir gimana pulangku, aku bisa atur sendiri. Sana cepat berangkat, kau kan janji setengah jam lagi sampai sana." Desis Hanum mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Giok untuk segera pergi.
Giok memakai jaketnya
" Setelah sampai rumah nanti aku akan langsung menemuimu, biar kau tak sendirian."
Hanum melebarkan bibirnya dan kembali mengibaskan tangannya, menyuruh Giok segera berangkat.
Giok pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, dan ketika tubuh itu menghilang dari ruangan staff bibir Hanum pun menciut, wajahnya tertunduk lesu.
Tuhan, apa hatiku benar-benar bisa tangguh seperti petarung? Bathin Hanum sedih.
Hanum yakin ini memang benar-benar akan menjadi perjalanan yang berat dan melelahkan. Yang paling Hanum khawatirkan adalah saat Hanum akan kehilangan seluruh tenanganya kalau terlalu sering memaksakan diri begini. Hanum memegang dadanya yang masih terasa sakit karena kepergian Giok yang akan menemui Mawar.
" Mau kubuatkan kopi dulu sebelum pulang?"
Hanum terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba dari belakangnya. Hanum menoleh dan menemukan Bimo, salah satu pegawai kepercayaan Giok.
" Iiihh...kau hampir membuatku jantungan, Bim!" Rutuk Hanum kesal.
Bimo hanya tersenyum. Dan bermaksud masuk lagi ke dapur. Tapi Hanum memanggil.
" Kau bawa pulang saja sepatuku itu. Masih baru kok, juga baru kupakai sekali ini. Bisa kau berikan pada adikmu, atau kalau kau sedang punya pacar, kau bisa berikan pacarmu." Ucap Hanum menatap sepatunya yang tergeletak dibawah tak jauh dari tempatnya duduk.
" Sepertinya benar juga yang dikatakan Giok tadi."
Hanum mengernyitkan dahinya.
" Yang mana?"
" Bahwa kau ini pintar, tapi kenapa bersikap bodoh?"
" Hei..."
" Tapi itu benar."
" Hei...!!" Intonasi suara Hanum makin meninggi. Tapi Bimo malah tersenyum
" Aku bekerja untuk Giok tak hanya sebulan dua bulan. Aku bersamanya sudah 3 tahun lebih. Dan selama itu aku melihat hubungan kalian yang unik."
" Hari ini kau belum minum kopi ya? Ngomongmu ngaco." Sungut Hanum dan malah membuat Bimo tergelak.
" Kalian itu tak hanya saling mencintai tapi juga saling membutuhkan. Dan kau benar-benar sudah berbuat bodoh karena malah menyerahkan Giok pada gadis lain."
" Tapi Mawar itu baik, kau belum mengenalnya saja."
Bimo malah tertawa sinis.
"Kau selalu bilang dia itu baik, bahkan sebagai teman pun dia sudah kuanggap tak baik, paling tidak tak bisa mengerti keadaan temannya sendiri. Kalau dia memang temanmu yang baik dia pasti bisa mengerti posisi Giok dalam kehidupanmu dan pasti akan menolak saat kau mencoba menjodohkan mereka. Tapi apa kenyataannya? Dia pasti merasa beruntung mendapatkan pasangan seorang Giok yang sangat baik, perhatian, dan sukses. Iya kan?" Papar Bimo panjang lebar.
" Kau jangan sok tau dengan apa yang kau pikir sudah tau." Sanggah Hanum seperti benar-benar tak suka.
" Aku bukannya sok tau, tapi aku cukup tau dengan apa yang kalian tunjukkan saat kalian bersama. Kau begitu menyayangi Giok, dan Giok juga selalu ingin menyayangimu. Cinta kalian benar-benar tulus, sangat tidak adil jika berakhir begini."
Hanum termenung meresapi setiap kata yang diucapkan Bimo. Mungkin memang benar, sangat tidak adil rasanya kalau Hanum dan Giok yang begitu saling menyayangi akhirnya malah tak bersama. Tapi mungkin begitulah cinta, kadang awalnya mencintai siapa tapi akhirnya malah bersama siapa. Seperti sebuah permainan yang membingungkan. Untuk kebanyakan orang mungkin memang hal bodoh saat kita sangat mencintai seseorang tapi malah melepaskannya karena kita berfikir ada yang lebih bisa membuatnya bahagia. Tapi bagi Hanum, asal tetap bisa menjaga perasaan itu tetap abadi dilubuk hatinya, itu sudah lebih dari cukup.
" Aaahh... sudahlah, nglantur terus ngomongmu, aku antar pulang dulu ya, mumpung kedai gak banyak pelanggan." Kilah Hanum mengalihkan pembicaraan. Lalu menatap sepatu yang dipakainya.
" Aneh, sepatu ini kapan kutinggal disini ya? Aku bahkan sampai lupa." Lanjut Hanum seperti bicara sendiri.
" Sepatu itu seperti penunggu di kedai ini."
" Apa?"
" Kalau tak salah ingat, setelah pembukaan kedai ini. Mungkin karena kau kelelahan membantu pembukaan kedai ini. Kau sampai pingsan disini. Saat itu aku benar-benar yakin Giok sangat menyayangimu. Dia begitu cemas. Membopongmu ke dalam mobil sampai tak mempedulikan saat sepatumu tercecer jatuh."
Hanum berfikir sejenak,
" Ooh...waktu itu." Hanum seperti sudah ingat. " Tapi yang kutau dia seharian malah ngomel-ngomel terus padaku, memaksaku makan yang banyak. Dan sampai mengancamku seharian tak boleh turun dari tempat tidur." Lanjut Hanum menggerutu. Bimo hanya menanggapi dengan seulas senyum.
" Kuambilkan kunci motor dulu." Pamit Bimo
Hanum menatap flatshoes yang dipakainya, bergantian dengan high heels yang tergeletak sembarangan.
Mungkin tak jauh beda dengan pengaturan Tuhan, yang tak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi selalu mencukupi apa yang kita butuhkan. Karena kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan. Mungkin begini juga pengaturan Tuhan, bersama selamanya saling menyayangi tanpa harus memiliki. Kebahagiaan itu tak harus memiliki, karena tanpa memiliki, kita juga akan terhindar dari kehilangan. Justru rasa itu bisa bersemayam abadi tanpa terusik yang lain.
Hanum tersenyum penuh arti.
28 feb' 2014
teringat sumber inspirasiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar