Minggu, 01 Februari 2015

MEMILIKI KEHILANGAN

             Ninda turun dari mobil dengan setumpuk kertas foto ditangannya. Sebuah langkah menyusul turun dari pintu mobil sebelah.
" Kau harusnya tak perlu ikut turun, nanti kau terlambat seminar." Ujar Ninda pada laki-laki yang malah berdiri dihadapannya, dengan senyum lebar. Arga.
" Tak apa, aku cukup menambah kecepatan mobil ini. " Jawabnya, lalu menoleh " Jadi ini studiomu?" Lanjutnya bertanya seraya mengamati bangunan mungil tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ninda tersenyum tipis.
" iya, inilah hasil kerjaku selama ini. Tidak begitu besar, tapi aku sangat bangga dan menikmatinya."
" Ibumu pasti sangat bangga denganmu. Kau sudah jadi fotografer tetap disebuah rumah produksi dan juga sudah punya studio foto sendiri. Kau sudah jadi orang sukses, Ninda." Ucap Arga sedikit berbisik pada kalimat terakhirnya.
" Hei... kau sedang menyindir ya bilang aku sukses? Bukannya kau yang lebih pantas disebut sukses? Lihat, penampilan berjas dan berdasi, mobil keren,..." Pujian Ninda terpotong oleh dehem pendek Arga. Ninda tersenyum.
" Tanpa bantuan papaku, aku tak mungkin sejauh ini. Berbeda denganmu, kau berjalan sendiri dan bisa setinggi ini."
Ninda tersenyum lagi.
" Kalo ada waktu, mampirlah ke rumah, mamaku pasti senang melihatmu." Lanjut Arga
Ninda mau tak mau tersenyum lagi
" Hei... waktu masih kecil kau pelit sekali soal tersenyum, kenapa sekarang senyummu itu begitu gampang muncul?" Gusar Arga seperti memprotes.
" Sudahlah, cepat berangkat, kau benar-benar bisa terlambat. Terimakasih sudah mengantarku dan sampaikan salamku untuk mamamu, kapan-kapan aku pasti mampir dengan ibuku."
Arga tersenyum dan pamit. Setelah mobil yang ditumpangi Arga menghilang ditikungan, barulah Ninda menggeser tubuhnya. Tapi baru kakinya akan diangkat melangkah, sebuah sosok tinggi tegap sedang menatapnya dengan pandangan tajam.
Ninda tersenyum getir menemukan sosok itu. Sosok tinggi tegap yang dulu sering menyisakan bahunya untuk bersandar kala Ninda lelah. Sosok rupawan yang dulu selalu mendekap tubuhnya ketika Nindamerasa mencemaskan sesuatu. Nesta.
" Aku perhatikan kau begitu bahagia saat ngobrol dengannya tadi. Apa dia yang membahagiakanmu setelah putus denganku?" Tuding Nesta
Ninda tergelak,
" Apa hari ini kau tidak punya kerjaan sampai repot-repot mengurusi mantan pacarmu dekat dengan siapa?"
" Aku hanya tak menyangka ternyata kau juga punya selera orang2 berdasi, padahal dulu kau selalu bilang kalo orang2 berdasi itu tak punya nurani."
" Ingatanmu sangat bagus, sampai masih bisa mengingat ucapanku yang aku sendiri sudah lupa kapan itu kuucapkan."
Nesta mendekat. Dan Ninda bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang begitu keras berdegup.
Ya Tuhan..... kenapa ini masih terjadi tiap kali dia mendekat sedekat ini? Aku bahkan tak yakin dia masih peduli perasaan itu atau tidak, lalu kenapa aku masih menjaga semua ini?
" Lalu?" Tanya Nesta seperti memojokkan Ninda kesudut tersempit. Bahkan sampai Ninda merasa kesulitan bernafas.
" Aku sudah mengenalnya sejak kecil, dia anak teman ibuku. Kami dulu selalu bertemu tiap kali ibu kami berkumpul. Tapi apa pedulinya kau dengan semua ini? Bodohnya aku, kenapa repot-repot menjelaskan padamu siapa itu Arga."
Nesta menatap Ninda lekat, dan bagi Ninda itu benar-benar membuatnya makin sulit bernafas dengan detak jantung yang kian bergemuruh. Tatapan yang seakan memaksa Ninda untuk mengatakan yang sejujurnya.
" Apa kau benar-benar sudah berubah selera, menyukai pria berdasi yang dulu kau cap sebagai penjilat dan tak punya hati nurani?" Selidik Nesta
" Aku tak pernah mendefinisikan seleraku. "
" Tapi saat aku berjas dan berdasi, dan menjadi pengawal orang-orang berdasi, kau mengatakan bahwa aku sudah berubah menjadi golongan mereka."
Ninda menatap pria bermata tajam itu. Teringat lagi masa-masa indah saat mereka begitu menikmati hidup yang sederhana. Saat Nesta belum ada diposisi seperti sekarang ini. 
" Aku hanya.... lebih suka kau yang dulu. Saat kau masih menjadi pelatih taekwondo. Mengajari orang-orang agar bisa menjaga dirinya sendiri. Bekerja untuk semua orang tanpa batasan apapun. Bukan menjadi budak orang berdasi yang tak punya hati nurani."
Nesta mendesah jengkel.
" Apa kau tak merasa kalimat terakhirmu itu sedikit kasar? Budak?"
Ninda mengacuhkan kejengkelan Nesta dan bermaksud melangkah pergi.
" Kubawakan barangmu." Desis Nesta merebut tumpukan kertas foto ditangan Ninda.
Sedetik Ninda terkejut barang bawaannya berpindah tangan tanpa dia sadari, tapi detik berikutnya Ninda malah tergelak. Membuat Nesta mendesah lagi.
" Kau tak perlu repot-repot membantuku, toh akhirnya juga akan kau tinggalkan sebelum bantuan itu selesai setengahnya."
" Bisakah kau tak bersikap sinis padaku?"
" Bukankah ini kenyataannya? Kau seorang bodyguard, tapi aku merasa kau seperti dokter UGD, harus selalu siap sedia saat ada panggilan. Bahkan dokter UGD pun punya jam kerja, Nes. Tapi kau.... kapan jam kerjamu? 24 jam. 7hari full. Kenapa? Karena bagi mereka kau bukan bodyguard, tapi budak!" Desis Ninda marah.
Nesta menunduk.

Benar, hubungan mereka tiba-tiba menghilang setelah Nesta resmi masuk agen bodyguard untuk orang-orang penting. Semua waktu tersita. Semua, tak ada yang tersisa untuk Ninda sedikitpun. Dan itu sangat menyesakkan.
" Maaf. Aku tau aku terlalu menelantarkanmu."
" Kenapa pakai bahasa menelantarkan? Itu seperti mengibaratkan aku ini sebuah mainan."
" Hei...." Sergah Nesta gusar, menatap Ninda lekat.
Kali ini Ninda yang menyembunyikan pandangannya.
" Kita tak mungkin bersama lagi selama keadaannya masih seperti ini." Aku Ninda lirih.
Ya Tuhan... kenapa rasanya sakit sekali mengatakan itu? Nesta, dulu aku sendiri yang mengatakan padamu kalo mencintai orang itu sangat menyenangkan. Tapi kenapa aku merasa yang kukatakan itu sangat lucu? Jangankan merasa senang, aku justru begitu kesakitan tiap kali aku ingat aku mencintaimu?
" Aku mungkin memang orang yang terlalu acuh dalam hal perasaan, tapi kau adalah orang yang kejam pada perasaanmu sendiri Nin."
" Aku tak merugikan siapapun, ini perasaanku sendiri, apa pedulimu?"
Nesta tergelak,
" Kau kejam, juga egois. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri Nin. Kau bahkan tak peduli aku sudah bekerja sangat keras untuk tetap mempertahankan perasaan ini."
Apa aku tidak? Apa kau pikir aku juga tak bekerja sangat keras menghadapi perasaan ini, Nes? Betapa menyedihkan aku ini, hanya mampu jujur dalam hati.
Ninda menggeser posisi tubuhnya untuk menghindari tatapan marah Nesta.
" Nin, beri aku...." Ucapan Nesta terpotong oleh dering ponselnya.
Ninda tersenyum kecut, lalu menghadap penuh ke sosok dihadapannya.
" Angkatlah, itu panggilan yang penting. Aku bisa urus sendiri pekerjaanku." Gusar Ninda mengambil kembali tumpukan kertas foto ditangan Nesta.
" Lagipula aku sudah terbiasa mendapat perlakuan begini. Ditawari bantuan, tapi kemudian ditinggalkan." Lanjut Ninda dingin.
Meski terlihat begitu kecewa dengan semua ucapan Ninda, Nesta hanya mampu mendesah berat sebelum kemudian menjawab panggilan di ponselnya. Ninda memilih melangkah pergi menuju pintu studionya. Baru akan memasukkan kunci pintu, Nesta sudah menyusul dengan langkah lebar.
" Jangan!" Cegah Ninda segera, sebelum Nesta sempat mengambil alih kunci yang dipegang Ninda. Dan tindakan itu seperti berhasil mengurungkan niat Nesta.
" Pergilah melakukan tugasmu, kau sudah tak punya kewajiban membantuku." Lanjut Ninda, tetap pada pandangannya.
Ya Tuhan... kuatkan aku, jangan sampai aku menangis dalam keadaan begini. Aku harus kuat dihadapannya. Agar dia tak lagi berbuat begini. 
" Bisakah kita tak begini terus ?"
Ninda memejamkan matanya sebentar. Sekedar untuk menguatkan hatinya
"Bisakah kau tidak terus-terusan bersikap keras begini? Bisakah kau berhenti membuat semua jadi lebih rumit? Aku hanya butuh sedikit pengertianmu tentang pekerjaanku. Masalahnya bukan pada pekerjaanku, tapi karena kau yang tak bisa menerima pekerjaanku. Didunia ini tak hanya aku yang bekerja sebagai pengawal. Bahkan presiden pun butuh pengawal. Kenapa pikiranmu terlalu buruk pada profesi pengawal?" Geram Nesta 
Karena aku terlalu mencintaimu. Tak bisakah kau mengerti itu, Nes? Dengung Ninda dalam hati, hanya dalam hati.
" Pergilah." 
" Percuma kalo kau mengusirku terus, tapi pada kenyataannya kau sendiri tak mau pergi."
" Apa maksudmu?" Tanya Ninda diiringi tawa lirih.
" Kalo kau memang tak mau memberiku kesempatan mendampingimu lagi, kenapa kau malah membiarkan hidupmu begitu menyedihkan begini? Kalo kau memang sudah tak menyukaiku harusnya kau mencari penggantiku, cari yang jauh lebih baik dari aku. Bukan malah bersembunyi dibilik gelap dengan alasan mencetak foto."
Ninda tersenyum getir, padahal dadanya bergemuruh, sampai kesulitan bernafas. Dieratkan rengkuhan kertas fotonya agar gemetar yang tiba-tiba menyerangnya itu tak semakin kuat.
" Aku...." Ninda mencoba bicara, meski sedikit kesulitan. Ninda menarik nafas panjang dulu, lalu menatap Nesta yang berjarak tak lebih 30 centi.
" Aku pernah mencoba menjadi kekuatan untukmu,  mendukungmu. Tapi tiap kali kau mendapat kekuatan itu kau malah meluapkannya pada pekerjaanmu, kau meninggalkanku dalam kecemasan. Apa kau pernah mengalami bagaimana rasanya menunggu dalam kecemasan? Aku bukan orang hebat , Nes, aku tak bisa hidup dalam kecemasan."
" Jadi itu alasanmu lepas dariku?"Tuding Nesta
Ninda menunduk tak menjawab, dan malah membuka pintu studio foto dihadapannya. Tapi sebelum tubuh Ninda sepenuhnya memasuki pintu, Nesta berujar lagi
" Jika kau berubah pikiran, aku masih disini. Tanganku masih akan mengenggammu agar kecemasanmu berkurang." Kali ini ucapan Nesta seperti sebuah harapan yang dalam.
Maafkan aku , Nes. Bathin Ninda menggigit bibirnya, mencoba menahan agar tangisnya tak pecah. Ninda pun buru-buru masuk ke dalam studionya. Dan Ninda benar-benr merasakan dentuman yang sangat keras di salah satu dinding hatinya. Dan itu sangat menyakitkan.
Aku hanya tak ingin menambah bebanmu , Nes. Aku terlalu mencintaimu dan aku tak mau jadi batu sandungan dalam langkahmu. Maafkan aku , Nes, jangan menungguku. 
Tiba didalam studionya tangis Ninda pecah. Air matanya mengalir tak terbendung. Tumpukan kertas foto dipelukannya perlahan terlepas dan berhamburan jatuh.

Dalam sebuah jabaran perasaan kadang memang ada sudut yang sulit dipahami, bahkan untuk pemilik perasaan itu sendiri. Dan bagi Ninda, mencintai Nesta adalah keharusan untuk menjaga jarak sejauh mungkin. Agar perasaan itu tetap terjaga. Meski untuk menjalankan itu harus bertahan hidup dalam kepedihan. Karena pada dasarnya, rasa kehilangan hanya akan ada jika kita merasa memilikinya. Semakin besar rasa memiliki itu, maka semakin menyesakkan membayangkan rasanya kehilangan. 
Dan tiba-tiba Ninda seperti tersadar dalam tidur panjangnya, seluruh ingatannya terpaku pada kenangan bersama Nesta. Ninda melepas begitu saja kunci pintu dan tas yang sejak tadi disandangnya. Dan langkahnya bergegas keluar. Masih dengan isak dan derai air matanya, Ninda menyapu semua pandangannya ke segala penjuru. Kecemasan begitu kentara.
Nes, maafkan aku... Aku bukan egois atau kejam, aku hanya penakut. Aku terlalu takut mengakui kalo aku sangat mencintaimu dan tak pernah berani membayangkan rasanya kehilanganmu. Dengung Ninda dalam hati.

Aku mencintaimu Nes, sangat. Dan aku tak tau kenapa rasa ini begitu menyesakkan dadaku.




Mencintai orang itu,
menyenangkan atau menyakitkan?
01 feb '15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar