Sabtu, 07 Februari 2015

ELEGI HATI

    Aku menunduk menghindari tatapan lekat dari mata indah Elang. Kesunyian diantara kami begitu membuatku tersiksa. Membuatku ingin berlari sejauh mungkin dari tempat ini. Tatapan itu seharusnya bisa membuatku bahagia, tapi entah kenapa justru membuatku tak tenang dan juga membuatku merasakan sederet rasa bersalah.
" Kau suka coklat kan? Makanlah!" Katanya kemudian dengan menyodorkan sebatang coklat yang memang kesukaanku.
Kulirik sebentar coklat yang menunggu untuk kuambil itu.
" Kenapa?" Aku malah bertanya, dan tetap menunduk.
Elang tersenyum dengan tangannya meraih tanganku lalu meletakkan coklat itu.
" Karena aku tau sekarang suasana hatimu sedang tak baik. Dan sudah menjadi kebiasaanmu kalo suasana hati sedang tak baik kau selalu makan coklat. Katamu rasa manisnya bisa mencairkan suasana hati yang terasa pahit." Papar Elang
Kata-kata itu.... Bahkan Elang mengingatnya dengan baik. Dan entah kenapa justru itu membuatku makin tak tenang.
" Maksudku.... Kenapa kau selalu baik padaku? Kenapa selalu peduli dengan keadaanku?" Tanyaku menatapnya dengan sinar protes. Tapi Elang malah membalasnya dengan senyum tipis. Aku menunduk lagi.
" Aku juga tak tau. Selama mengenalmu setahun terakhir ini aku juga tak berhenti mencari tau kenapa aku selalu ingin mencintaimu. Sekeras apapun kau menolak perasaanku, aku bahkan tak peduli itu. Aku hanya berfikir aku ingin mencintaimu. Aku ingin bersamamu. Karena dengan bersamamu, dengan mencintaimu aku merasa aku bahagia. Aku merasa hidupku sudah sempurna." Ungkap Elang.
Menatapnya saat berbicara semua kalimat itu, aku merasa tak satupun kata yang dibuat-buat. Semaunya seperti sudah tertata dengan sangat apik, seperti sebuah sajak dari pengarang puisi dunia. Dan itu membuatku makin merasa bersalah.
" Lang, aku...." 
Kata-kataku terpotong oleh desahan Elang. Kugigit bibirku menahan rasa sesak dadaku yang menyeruak tiba-tiba.
" Apa kau masih berfikir aku mencintaimu karena aku merasa bersalah pada apa yang sudah dilakukan Genta padamu?" Cetus Elang.
Aku menunduk makin dalam. Sumpah, aku benar-benar ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini. Kemanapun asal tidak disini, dihadapan Elang.

Prahara setahun lalu itu masih jelas teringat diotakku. Bahkan aku yakin akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Saat itu aku masih bahagia menjadi kekasih Genta. Genta yang manis, pintar membuat suasana hatiku bahagia, dan Genta yang selalu membuatku bangga dengan segala apa yang dimilikinya. Sukses di dunia kedokterannya yang belum lama digeluti, juga akan keberaniannya menerjang batas kecepatan di hobi racingnya. 
Tapi semua jadi ironis saat semua impian yang kami bangun bersama akhirnya malah hancur tergilas ban motor balapnya. Sore itu, Genta menjemputku di sanggar balet usai aku mengajar les balet dengan motor balap kesayangannya. Akupun sudah terbiasa menitipkan nyawaku padanya yang begitu percaya diri menerjang kecepatan. Tapi sore itu...
" Aku tak menyuruhmu melupakannya sekarang Ai. Aku tau Genta terlalu lekat menempel diseluruh sisi hatimu. Aku...."
Aku mendongak menatap pria tampan dihadapanku. Dia seorang pengacara yang cukup punya nama. Tak susah mencari pendamping hidup untuknya. Tapi dia tetap meluangkan waktunya untuk menemaniku disini, setiap hari.
" Aku tak tau cinta apa ini, Ai, aku hanya merasa harus mempertahankannya karena aku bahagia merasakan cinta ini. Bersamamu seperti ini, meski hanya ngobrol dan menatap lautan itu, aku merasa bahagia Ai."
Elang bangkit, berdiri membelakangiku. Menantang laut dan cakrawala disana. Seperti menentang semua ketidaksetujuan keluarga besarnya yang terus mempertahankanku dengan segala hal yang kumiliki
" Bohong kalo aku bilang aku tak merasa kehilangan Genta. Meski kami sangat jarang bertemu tapi dia tetap adikku. Waktu kecil kami tumbuh bersama. Dan juga bohong kalo aku awalnya memang hanya merasa bersalah padamu, yang karena adikku seluruh impianmu hancur berantakan."
Aku menunduk menatap kedua kakiku. Elang berbalik menghadapku lagi.
" Aku mungkin tak bisa menggantikan posisi Genta dihatimu, aku juga tak bermaksud menggeser tempat Genta dihatimu. Aku hanya berharap kau memberiku kesempatan aku membahagiakanmu seperti yang dilakukan Genta dulu. Aku ingin membantumu mengumpulkan lagi serpihan impianmu yang masih tersisa usai kecelakaan itu Ai. "
Dan akhirnya aku menangis. Tangis yang selama ini mampu kusembunyikan dari Elang akhirnya ketahuan juga. Elang duduk berjongkok dihadapanku.
" Aku hanya merasa tak pantas untukmu Lang.."
" Hei... " Desis Elang merengkuh jemariku.
" Tak ada yang berhak memutuskan kepantasan itu selain aku sendiri Ai. Aku menemukan arti ketegaran darimu. Aku mengerti apa itu cinta yang tulus darimu. Dari bagaimana kau menyingkapi kepergian Genta dan menerima dengan sangat ikhlas apa yang ditinggalkan Genta. Aku hanya ingin merasakan juga bagaimana hangatnya hidup dalam cinta seperti itu." Lanjut Elang pasti.
" Tapi aku cacat Lang, aku bahkan tak bisa berjalan bersamamu bergandengan tangan seperti mereka." Keluhku masih dengan air mata mengalir.
Elang tersenyum seraya mengusap air mataku.
" Yang kubutuhkan hanya kau menggegam tanganku seperti ini dan tak akan melepasnya apapun yang terjadi. Selebihnya serahkan saja padaku." Kali ini Elang begitu percaya diri mengatakan itu.
Kutatap jemariku yang tergenggam erat jemari kekar itu. Lalu beralih menatapnya. Tersungging senyum lebar yang manis menunggu kepastianku.
" Asal kita punya keberanian, kita pasti bisa bahagia Ai. Aku mohon percaya padaku."
"Tapi aku akan selalu merepotkanmu Lang, aku juga akan selalu membuat kau capek." Keluhku.
" Kelihatanya memang akan jadi hari-hari yang melelahkan." Tanggap Elang " Tapi aku akan bahagia." Lanjutnya dengan senyum lebar.
Sebelah tangannya lalu mengusap sisa air mataku. Sebelah lagi mengenggam erat jemariku.

Aku juga belum tau tentang keberanianku memutuskan ini. Aku hanya mencoba memberi kesempatan sebuah hati yang dengan berani ingin mengajakku membangun impian yang setahun lalu sudah hancur berkeping-keping. Aku hanya ingin kembali berjalan tegak melanjutkan hidupku setelah sempat terhenti oleh kepergian Genta.
Mungkin tak akan seindah yang kami bayangkan, tapi paling tidak aku ataupun Elang akan sama-sama mencoba berjalan bersama meski dari titik awal yang berbeda.


cinta yang menyembuhkan
08 feb' 14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar