" Kau ini, harusnya ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan kepala bagian." Gerutunya masih dengan sedikit kikuk.
" Oh, iya.. maaf." Aku pun buru-buru membalikkan tubuhku untuk keluar lagi.
" Hei..!" Desisnya membuatku berhenti diambang pintu.
" Kau sudah didalam, buat apa mau keluar lagi? Dasar aneh." Lanjutnya malah kesal.
Aku menghela nafas pendek, lalu kembali masuk. Menatap sedikit menyelidik pada Adam yang duduk tak tenang, sibuk menata posisi laci mejanya yang tak sempurna tertutup karena tersangkut benda tadi. Aku melongok sedikit.
" Apa itu? Dasi ya?"
" Bukan urusanmu!" Ketusnya
" Aku kan cuma bertanya, sewot amat. Lagian tampangmu itu lucu sekali seperti seorang siswa yang ketahuan menyontak saat ulangan. Padahal aku kan cuma melihatmu sedang mncoba sebuah dasi. Atau.. jangan-jangan dasi itu hadiah dari Mika ya?" Cerocosku menggodanya.
Dan lagi-lagi wajah tampan itu memias, aku tertawa ringan.
Inilah kami, aku dan Adam. Entah harus kusebut apa kisah kami. 5 tahun lalu kami sempat menjalin kisah cinta yang penuh gelora. Tapi ternyata cinta yang bergelora tak menjamin kami bisa bertahan lama. Apalagi bertahan dalam ujian cinta. Setahun kemudian semua memudar seiring jarak yang memisahkan. Lalu kami seperti orang asing lagi. Tapi 4 bulan lalu takdir seperti menempatkan kami pada satu jalan lagi. Kegembiraanku dimutasi ke kantor pusat harus kubayar dengan pertemuan kembali dengan Adam yang sudah menjelma menjadi seorang kepala divisi di perusahaan jurnalis yang cukup terkenal di negara ini.
" Hanya sebuah dasi juga." Ucap Adam seperti meremehkan.
" Tapi meskipun hanya, itu adalah sebuah perhatian. Aku rasa Mika benar-benar mencintaimu. Dia gadis yang baik, cantik, cerdas dan benar-benar tulus padamu."
" Hei... apa kau kesini hanya untuk menceramahiku seperti ini? Harusnya sebelum menceramahiku lihat dulu dirimu. Kau sendiri bagaimana?" Tuding Adam menohok ulu hatiku.
" Bagaimana apanya? Aku baik-baik saja." Gerutuku sedikit memanyunkan bibirku.
Kali ini Adam yang tertawa ringan.
" Benarkah? Kalo kau baik-baik saja harusnya kau sudah menikah diusia seperti ini, atau paling tidak punya pacar-lah. Tapi mana, mana, mana....?" Lanjut Adam mendramatisir dalam mengolok-olokku.
" Memang apa salahnya aku belum menikah? Tak punya pacar? Aku mau sukses dulu jadi editor, baru memikirkan menikah." Sangkalku membuat tawa Adam kian lebar.
" Bilang saja kau belum bisa melupakanku." Desis Adam lirih seraya bangkit mencondongkan tubuhnya ke arahku. Meski terhalang meja kerja tapi wajahnya dan wajahku hanya berjarak beberapa inci saja. Bahkan hembusan nafasnya pun mampu kurasakan menerpa wajahku.
Getaran itu....
Ahhh.... Cepat-cepat kutepis perasaan konyol itu. Kupukul pelan wajah Adam dengan map ditanganku.
" Hei.... Jangan terlalu GR jadi orang. Kau pikir paling ganteng sedunia apa? Kalo laki-laki didunia ini sudah mati semua, baru aku memikirkan mau denganmu lagi." Desisku berkacak pinggang.
" Sombong sekali kau sekarang, apa karena sekarang kau sudah cantik dan seksi?" Adam mengusap wajahnya yang baru saja tertampar map ditanganku.
" Makanya yang sudah berlalu biarkan berlalu jangan coba-coba mengungkitnya. Lebih baik lihat yang ada didepanmu sekarang."
" Sekarang yang ada didepanku adalah kau." Sahut Adam enteng.
Aku siap-siap melayangkan map ditanganku lagi, tapi keburu Adam mengacungkan jari telunjuknya.
" Ingat, posisiku disini lebih tinggi, kau bisa kena masalah kalo kulaporkan berbuat tidak sopan padaku."
Aku geregetan jadinya. Kugenggam jemariku erat-erat.
" Kau benar-benar tak berubah, masih sangat menyebalkan."
" Dan kau masih saja gampang emosi."
Aku mendesah panjang.
" Sebaiknya terima saja Mika."
" Kenapa aku harus?"
" Karena dia baik."
" Dilihat dari siapa?
Aku diam.
" Tak semudah itu menerima seseorang Mut. Apa kau pikir membuka hati untuk seseorang itu seperti membuka pintu dan mempersilahkan orang masuk? Kalo kau pikir mudah, kenapa kau memilih sendiri sampai sekarang? Hah?"
Aku tetap diam. Aku memang tak bisa mengelak. Sampai saat ini aku masih sendiri juga karena aku belum berani membuka pintu hatiku untuk cinta yang lain.
" Apa kita ini terlalu bodoh ya, Mut?"
" Apa?!"
Adam bangkit dan berjalan ke arahku.
" Kita sudah berpisah 4 tahun lebih, kita dulu berpisah juga dengan kesadaran penuh bahwa kita tak bisa saling mencintai lagi. Tapi kenapa sampai sekarang kita masih sama-sama tak bisa melupakan?" Gumam Adam berhenti tepat didepanku, bersandar di tepian meja kerjanya.
Aku tak menyahut dan malah mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
" Kenapa kita tak mencoba lagi dari awal, Muthia..."
" Dam...!" Desisku menyusul ucapannya secepat mungkin. Dan kali ini tatapan kami beradu dengan sinar yang berbeda.
" Kau juga tau kita tak mungkin bersama lagi, apapun alasannya." Lanjutku dengan suara tertahan.
Adam terlihat menahan emosinya. Tangannya mencengkeram pinggiran meja.
" Kau yang bilang, cinta yang sederhana itu lebih sederhana pemahamannya. Dan yang terjadi kita yang mempersulit pemahaman itu."
" Bukan pemahamannya yang sulit, Dam, tapi keadaanlah yang membuat kita mustahil bersama lagi. Tetaplah mengingat hal itu." Sergahku dingin.
Adam menunduk.
Mungkin cinta yang pernah terjadi pada kami tak pernah sesederhana yang pernah aku jabarkan. Cinta itu begitu rumit, sangat rumit hingga kami tak mampu memahaminya sedikitpun. Yang akhirnya membuat kami menyerah pada keadaan. Tapi lagi-lagi perpisahan tak membuat kami bisa melupakan satu sama lain. Aku bahkan sering bertanya, kenapa cinta yang kukenal tak pernah berjalan sederhana?
" Kalo aku tak bisa membahagiakanmu, harusnya kau menunjukkan padaku kau bisa bahagia dengan orang lain. Biar aku tak menyesal pernah melepaskanmu."
Aku tersenyum.
" Kau tak punya kewajiban untuk menyesal, dan aku tak mau jadi penghalang untuk perasaanmu pada Mika."
" Bisakah tak perlu menyebut namanya? Atau kau memang sengaja menyodorkan dia agar perasanmu bisa dengan mudah kau tutupi? Kau naif sekali, Mut."
" Kau yang naif, Dam." Sergahku dingin.
Adam menatapku lekat.
" Aku benar-benar tak pernah lagi berharap kita bersama lagi. Cinta kita terlalu rumit, saking rumitnya selalu membuatku sakit saat merasakannya. Aku tak menyukai cinta seperti itu, Dam. Yang untuk memilikinya harus menahan sakit. Aku ingin cinta yang sederhana, yang bisa berjalan bersama dan berakhir sederhana. Itu saja."
Adam tak bergeming, bahkan seperti mematung.
" Ini berkas yang kau minta tadi." Lanjutku menyodorkan map ditanganku. Adam menerima map itu perlahan.
" Aku permisi dulu, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Aku beringsut pergi menuju pintu.
" Benarkah..." Suara Adam menghentikan langkahku diambang pintu.
" Benarkah sudah benar-benar berakhir? Semuanya?" Lanjut Adam lirih.
" Aku bahkan merasa kita dulu belum memulainya. Kita dulu baru akan memulai perjalanan itu, tapi mungkin kita terlalu banyak pertimbangan hingga kita tak bisa menemukan kesepakatan. Jika 2 orang memutuskan berjalan bersama, harus menyamakan langkah dulu. Tapi selamanya kita tak bisa berjalan bersama, karena langkah dan jalan yang kita tempuh tak pernah sama." Lalu aku melangkah lagi sambil menutup pintu dihadapanku.
Mungkin aku memang bukan pecinta yang baik, tak mau mengalah untuk agar bisa menyamakan langkah dengan orang yang kucintai. Tapi ribuan kali aku berfikir, jika cinta itu untuk membuat kita bahagia kenapa kita perlu mengorbankan kebahagiaan kita untuk mereka? Apakah itu pantas?
Apakah cintamu benar-benar sudah membahagiakanmu?
13/02/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar