Selasa, 14 April 2015

ELEGI

            Setelah Airin dan Luna bisa terusir oleh Hanif, sudut ruangan yang sejak tadi dipakai untuk 'tempat persembunyian' Gladys itu kembali sunyi. Hanif malah lebih sibuk memperhatikan sahabatnya yang seperti sibuk juga menata hatinya.
" Aku tadi sempat memperhatikannya." Ucap Gladys tiba-tiba, memecah kesunyian.
Hanif tersenyum masam.
" Akhirnya, hari yang selama ini tak pernah kau tunggu, datang juga." Tanggap Hanif datar. Tapi cukup membuat suasana hati Gladys kembali memanas. 
Tapi bukan Hanif namanya kalo tak bisa meredam amarah Gladys. Hanya dengan senyum jailnya yang seakan tak mempedulikan apa yang dialami Gladys, pasti akan menghentikan semuanya. Gladys mendesah.
" Kukira dia sangat cantik dan anggun, ternyata...."
" Memang kau berharap dia seperti apa? Cantik seperti artis? Glamour?"
Gladys tergelak lirih.
" Tidak, dia memang sangat sesuai dengan selera Leon."
Hanif mengernyitkan dahinya.
        Jujur, kalo soal selera Leon, Hanif memang tak cukup tau. Hanif hanya sebatas tau tentang perasaan Gladys pada laki-laki bermasa depan cerah bernama Leon itu. Hanif memang sahabat Gladys sejak 5 tahun terakhir ini, tapi tidak untuk Leon yang menurut cerita Gladys telah memiliki hatinya sejak mereka masih belum cukup mengerti apa itu cinta. Dan hari ini, diacara anniversary pertama pasangan romantis Lucky dan Kirana, teman mereka, akhirnya Gladys bertemu dengan gadis pilihan Leon. Gadis yang telah 'merampas' kesempatan Gladys untuk bersama Leon.
" Kalian sedang apa disini?"
Hanif dan Gladys sama-sama terkejut mendengar sapaan itu. Sontak Gladys berdiri dengan gugup.
" Oh, hai, Leon, apa kabar?" Sapa Gladys canggung.
Hanif ikut bangkit, berdiri sedikit lebih didepan Gladys, mengulurkan tangannya pada Leon.
" Leon kan? Kita beberapa kali sudah pernah bertemu."
Leon menyambut uluran tangan itu dengan senyum lebar.
" Ya, aku ingat, kau yang sering bersama Gladys kan?" Ucap Leon seperti basa-basi, lalu matanya tertuju pada Gladys
" Ohya, Dys, ini Citra, tunanganku." Kali ini Leon memperkenalkan sosok disebelahnya.
Entah perasaan apa saja yang kini berkecamuk didalam hati Gladys, yang pasti sangat membuat Gladys sesak nafas sampai tak mampu mengulurkan tangannya. Dan untuk hal-hal seperti ini Hanif cukup tau apa yang harus dilakukan. Buru-buru Hanif menyambut uluran tangan gadis yang terbilang terlalu 'sederhana' untuk pria semewah Leon. Usai berjabatan, tangan Hanif lalu kebelakang meraih tangan Gladys yang gemetaran. Menggenggamnya erat-erat.
" Hei, kau tak lihat ada yang mau berkenalan denganmu." Bisik Hanif sedikit menyenggol tubuh Gladys.
Dan genggaman tangan Hanif dibelakang punggungnya ternyata cukup bisa memberi kekuatan pada Gladys untuk menyambut uluran tangan itu. Dan meski sedikit kaku, sebuah senyum akhirnya juga bisa tersungging di bibir Gladys.
" Kita bisa lanjutkan ngobrolnya sambil makan, bagaimana?" Ajak Leon.
" Oh, tentu, kalian duluan saja, kami pasti menyusul." Sahut Hanif cepat.
Dan sebelum Leon berlalu sambil menggandeng tangan Citra, sempat tersungging senyum manis untuk anak manusia yang hampir roboh disebelah Hanif ini. Setelah langkah mereka sedikit menjauh Gladys dan Hanif hampir bersamaan menghela nafas lega. 
" Kau baik-baik saja?" Tanya Hanif melirik pada Gladys yang seperti belum sepenuhnya kembali.
" Apa aku harus menjawabnya?" Tanya Gladys, serak.

" Apa pria itu yang kau bilang 'cinta sejati' mu?" Tanya Hanif setelah Leon pamit pergi, awal pertemuan Hanif dengan Leon, suatu siang saat Hanif dan Gladys istirahat makan.
Dan Gladys hanya tersenyum malu, tapi terlihat sekali hatinya seringan kapas. Dan tatapan matanya begitu indah hingga membuat Hanif takjub. Itukah tatapan penuh cinta?
" Apa dia tau?" Tanya Hanif lagi.
Gladys masih memamerkan senyumnya, seraya menggeleng malu.
" Lalu kau kira dia akan tau kalo kau tak memberitahukannya? Kau pikir dia peramal? Bisa membaca pikiran orang lain?" Sungut Hanif kesal, tapi Gladys tetap senyum-senyum.
" Katanya, kalo itu cinta sejati, maka akan tertarik sendiri."
" Yang benar, kalo dia tak tau kau mencintainya, dia akan mencintai orang lain."
Gladys manyun.
Dan ternyata, omongan Hanif waktu itu benar. Hanif tergelak sedih.
Dan saat Hanif hendak melepas genggaman tangannya pada tangan Gladys, buru-buru Gladys mencegah.
" Jangan, Han, aku mohon!" Sergah Gladys lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Dan lagi-lagi Gladys juga melarang saat Hanif hendak menghadap ke arahnya.
" Bolehkan aku pinjam punggungmu? Sebentar saja! Juga jangan melihatku!" Lanjut Gladys menunduk menyembunyikan pandangannya.
Hanif menurut.
" Kenapa tak pinjam dada dan tanganku sekalian?" Tawar Hanif seperti mencoba mencairkan suasana hati Gladys.
Gladys tak menggubris candaan Hanif. Disandarkan kepalanya ke punggung Hanif, dengan tangan masih tergenggam erat jemari Hanif.
        Dan saat-saat semacam ini yang paling membuat Hanif tak bisa mengacuhkan Gladys, meski dihati Gladys hanya ada nama Leon. Padahal sebenarnya jauh didalam hati Hanif sangat menantikan saat-saat semacam ini. Saat-saat dimana Gladys terpuruk oleh Leon. Dan untuk itu, harusnya Hanif saat ini bahagia. Tapi kenyataannya Hanif malah merasakan juga kesakitan itu.
         Entah harus disebut apa perasaan yang Hanif alami selama ini. Dulu, awal-awalnya Hanif kira hanya sebatas perasaan simpati dan belas kasihan karena terlalu sering dan kebetulannya Hanif mendapati Gladys yang perlu bantuan setelah berhadapan dengan Leon, pria yang telah 'dinobatkan' Gladys sebagai cinta sejatinya. Tapi seiring berjalannya waktu, Hanif malah terjebak dalam perasaan yang tak bernama ini. Perasaan yang begitu menyenangkan ketika melihat senyum lebar itu. Perasaan yang begitu membuat Hanif ketagihan saat bisa tertawa bersamanya. Perasaan yang bahkan bisa membuat dada Hanif sesak dan sakit ketika menemukannya seperti ini.
" Apa kau percaya takdir, Han?" Tanya Gladys masih dengan kepala bersandar di punggung Hanif.
Hanif hanya berdehem singkat. Tetap tak merubah posisinya seperti permintaan Gladys tadi.
" Dulu kukira takdir itu erat hubungannya dengan jodoh. Jika dia sudah ditakdirkan menjadi jodoh kita, maka pasti akhirnya akan bersama kita. Tapi sepertinya aku salah." Lanjut Gladys lirih.
Hanif menarik nafas berat.
" Jodoh dan takdir memang ada dijalan yang sama, tapi mereka punya langkah yang berbeda. Kita tak bisa memaksakan sebuah jodoh, tapi kita bisa menentukan takdir. Apa yang kita lakukan dulu dan sekarang, adalah takdir untuk kita esok." Tanya Hanif.
Diam, Gladys hanya mempererat genggaman tangannya.
" Sudahlah, ayo kita gabung dengan yang lainnya." Ajak Hnaif akhirnya.
" Selama belasan tahun mengenalnya..." Tiba-tiba Gladys bicara, membuat Hanif urung bergerak. Menanti ungkapan hatinya lagi.
" Ini pertama kalinya dia memperkenalkan seseorang padaku." Lanjutnya, akhirnya.
" Rasanya aku tak sanggup lagi jika harus bersikap seperti tak ada apa-apa."
Hanif mendesah.
" Aku pernah dengar sebuah kalimat, mencintai adalah nama lain dari menahan derita. Saat kita mencintai seseorang maka kita juga akan merasakan penderitaan yang sebanding. Dengan kata lain, jika kau mencintai dia kau juga harus bersiap suatu saat menderita karena dia. Semakin kau mencintainya, maka semakin menderita kau nantinya."
Gladys menjauhkan kepalanya dari punggung Hanif. Lalu terdengar Gladys tergelak lirih. Hanif perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Gladys, dengan tangan yang masih saling menggenggam.
" Jadi maksudmu, aku memang harus menderita begini karena mencintai dia?"
" Cinta adalah anugerah, jika keduanya saling menyambut, saling memiliki. Tapi jika itu hanya cinta sepihak, maka itu akan menjadi mata pisau yang akan melukai pemiliknya. Sakit."
Diam. Gladys tak menyahut.
           Dan dalam hati Hanif kesakitan itu kian meraja. Semua yang dikatakan pada Gladys, sebenarnya adalah lebih pantas untuk dirinya sendiri. Bagaimana cinta yang dimilikinya 5 tahun terakhir ini memang telah menjadi mata pisau yang melukai hatinya. Mencintai itu memang menyakitkan, tapi sayangnya, tak ada yang bisa menghentikan lajunya. Bagi Gladys, mendapati penderitaan cintanya pada Leon masih bisa tertolong oleh Hanif. Lalu bagaimana dengan Hanif sendiri? Siapa yang akan menolongnya? Sementara Gladys tak pernah tau atau mungkin tak pernah peduli dengan cinta yang dimilikinya selama ini. Bukankah ini lebih tragis?!
           Hanif tertawa pelan. Menertawakan keadaannya selama ini yang ternyata begitu tragis, dan baru disadarinya sekarang. Dulu Hanif yang memarahi Gladys karena tak pernah mau mengatakan perasaannya pada Leon yang sangat dicintainya. Tapi Hanif malah membiarkan dirinya yang juga membiarkan cintanya tak diketahui Gladys.
Hanif menatap kedua tangan mereka yang masih bergandengan.
" Jangan lepaskan tanganku, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu." 
Gladys menatap Hanif.
" Dan jangan menatapku begitu. Atau aku akan marah." Lanjut Hanif membuat Gladys tergelak.
Hanif tersenyum.
Biarlah berjalan seperti ini dulu, Bathin Hanif pada dirinya sendiri.
         Lalu mereka keluar dari 'tempat persembunyian' mereka. Tetap bergandengan tangan. Dan Hanif sudah bahagia dengan semua itu. Cinta memang menahan derita, tapi bagi sebagian 'orang bodoh', melihat orang yang dicintai bahagia, adalah sudah cukup membahagiakan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar