Sabtu, 18 April 2015

TENTANG SEBUAH AKHIR

         Kusodorkan sebuah bungkusan cukup besar ke arah Frans. Seketika wajah kharismatik itu menunjukkan ekspresi kaget. Matanya memicing.
" Apa ini?" 
" Aku gak bisa terima pemberianmu ini, Frans, maaf." Kataku lirih, lagi menunduk.
Frans tergelak.
" Kenapa?"
Aku sedikit gelisah menanggapi tatapan selidiknya.
" Aku... baju itu terlalu mahal, Frans. Dan aku tak biasa memakai wedges tinggi seperti itu." 
Frans mendesah berat.
" Itu karena kau tak pernah mencoba membuka hatimu, meski cuma sedikit."
Aku menunduk.
" Aku pernah lihat kau memandangi baju ini lama sekali, makanya aku membelikannya. Aku hanya mencoba membuatmu bahagia, apa itu juga salah?"
" Frans, bukan seperti itu, aku hanya..."
" Menganggap semua orang yang mencintaimu sama seperti pacarmu yang telah mencampakkanmu itu, iya kan?" Sergah Frans sedikit meninggi.
       Kutatap Frans dengan sisa keberanianku. Bagiku Frans memang penyangga ketika aku lelah meniti jalan ini sendirian. Tapi aku masih terlalu takut jika harus benar-benar bergantung padanya. Aku takut suatu saat penyangga itu akhirnya patah dan malah membuatku jatuh terpuruk. Seperti yang terjadi dengan Ariel dulu.
       Kedatangan Frans, sekitar setahun setelah kepergian Ariel. Awalnya kami hanya teman nge-blog. Aku berbagi cerita-cerita fiksi dan puisiku, dan dia membantuku merealisasi hasil karyaku ke tangan redaksi penerbit.
" Cerpen-cerpenmu cukup bagus. Sangat sayang kalo hanya menumpuk di blogger, kenapa tak coba kirimkan ke redaksi majalah atau koran?" Kata Frans waktu itu, saat pertama kali kami akhirnya bertemu darat.
Aku tertawa.
" Itu cuma hobi. Aku sering menjadi pendengar cerita teman-teman, kadang juga karena liat film. Daripada menumpuk di otak malah bikin gak bisa tidur ya aku tulis saja di blog."
" Kalo hobi bisa menghasilkan uang, bukannya akan lebih bagus?" Timpal Frans.
           Akhirnya aku 'membongkar' berkas-berkas cerpenku dan mulai mengirimkan ke beberapa redaksi rujukan dari Frans. Dan sekarang, aku bahkan sedang dalam proses pembuatan novel untuk sebuah penerbit. Dan aku tau, semua itu adalah berkat Frans. Dia yang dengan telaten menyemangati untuk terus maju. Bahwa melakukan pekerjaan yang kita sukai itu jauh lebih menyenangkan dari apapun.
" Kau selalu melakukan semuanya sesuai apa yang kau pikirkan. Sekali saja, pernahkah kau memikirkan apa yang diharapkan orang? Kau orang paling egois yang pernah kutemui." 
Aku terpaku menerima penghakiman Frans. 
           Frans orangnya memang begitu, bahasa jawanya 'tanpo tedeng aling-aling'. Apapun yang ada dihati langsung diungkapkan. Aku memang suka keterbukaannya. Meski awalnya menyakitkan, tapi itu memang patut untuk dipikirkan. Aku memang terlalu egois. Tapi apakah sepenuhnya salah? Aku melakukan yang kuanggap seharusnya kulakukan. Aku lebih memikirkan orang lain, meski dengan caraku sendiri. Dan jika ini masih dianggap salah, lalu aku harus bersikap bagaimana?
Aku menunduk.
" Aku tau, lukamu dari pacarmu dulu terlalu menyakitkan. Bahkan bisa dibilang menjadi trauma tersendiri. Tapi apa harus begini? Kau jadi menutup diri pada semua orang. Mencurigai semua orang yang mendekatimu. Berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan konyolmu itu."
" Sudah, cukup!" Desisku tak tahan lagi dengan semua penghakiman itu.
" Kau terlalu berlebihan, Frans. Kau bahkan tak tau seperti apa sakit itu, jadi jangan merasa tau segalanya hingga seenaknya menghakimiku seperti itu." Lanjutku sedikit geram.
" Aku sudah melakukan yang aku pikir terbaik yang bisa kulakukan. Jika itu masih dianggap hal yang egois, oke, aku lebih baik diam saja. Biarkan saja semua terjadi tanpa campur tanganku. Beres kan?!"
Frans menatapku tanpa kedip.
" Sekarang aku tau kenapa pacarmu mencampakkanmu, padahal kau sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kalian." Katanya sinis.
Detik itu juga aku kaget, tapi detik berikutnya aku akhirnya tergelak. 
" Kau memang lakukan yang terbaik untuk semua hal, tapi saat itu terjadi tak sesuai yang kau inginkan, kau mengacuhkannya. Kau mencampakkannya dengan sangat kejam. Seperti yang terjadi sekarang."
Aku benar-benar bingung dengan maksud Frans. Apa semua ini karena dia tersinggung aku menolaknya?
" Kau tau kenapa Tuhan meletakkan mata itu didepan? Karena kita harus menatap ke depan dan melanjutkan perjalanan hidup. Masa lalu bukan hal yang harus kita masalahkan terus, karena itu hanya akan mengikat langkah kita saat ingin melanjutkan perjalanan." Kenangku akan ucapannya beberapa waktu lalu, saat tanpa sengaja aku bertemu mantan pacarku itu dengan 'gadis barunya'.
" Kau mau bilang aku belum bisa move on kan? Gak usah muter-muter ngomongnya, langsung aja bilang begitu." Ucapku membuatnya tersenyum.
" Oke, aku memang masih belum bisa melupakan semua masa lalu menyakitkan itu. Aku hanya perlu waktu lebih lama untuk melupakan semua." Lanjutku mencoba membela diri.
Frans tersenyum lagi.
" Tak perlu melupakan semuanya. Kadangkala mengingat masa lalu itu juga tak mengapa, karena itu manusiawi. Tak perlu menguras semua tenagamu untuk melupakan masa lalu, takutnya tenagamu akan habis dan malah tak bisa melanjutkan hidupmu. Permudahlah yang bisa dipermudah, karena hidup ini tak ada yang mudah. Jadi jangan dipersulit lagi."
Aku tergelak lirih mengingat semua hal yang diucapkan Frans waktu itu.
          Aku memang pernah pada suatu masa dimana aku begitu berusaha keras keluar dari masa laluku. Begitu berusaha hingga aku letih sendiri. Tapi aku akhirnya menyerah dan membiarkan masa lalu itu merantaiku, merajaiku. Dan inilah akhirnya, aku terlalu takut mempercayai sebuah hal bisa berakhir bahagia.  Karena aku pernah merasakan yang awalnya sangat sempurna dan sangat bahagiapun, akhirnya berujung sangat menyakitkan. Apa itu kemudian bisa dicap tak normal? Aku hanya berusaha melindungi diriku yang pernah terluka untuk tak terluka lagi. Bukankah itu juga manusiawi?
" Sangat tidak adil jika kau berfikir semua orang yang mencintaimu, pada akhirnya akan menyakitimu. Sangat tidak adil jika kau memvonis semua kisah akhirnya tetap akan berakhir menyakitkan. Sebuah kisah berakhir bukan berarti akhir segalanya. Itu hanya sebuah kisah. Dan akhir sebuah kisah adalah awal untuk kisah yang baru. Begitu seterusnya." Papar Frans menjelaskan, tapi menurutku lagi-lagi berunsur menghakimiku.
Kugigit bibirku.
" Jadi berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan yang justru akan membuatmu makin terpuruk. Lihatlah kedepan, dan berjalanlah. Tak perlu memikirkan apa hasilnya nanti, karena semuanya sudah ditetapkanNya. Dan percayalah, itu akan terasa lebih mudah."
Aku mendesah panjang.
" Aku tak cukup paham dengan semua yang kau katakan, Frans." Kataku sembari bangkit.
" Aku pergi dulu."
" Itulah kau yang perlu kau ubah jika ingin hidup ini lebih mudah." Susul Frans sebelum aku berhasil mengangkat kakiku.
Kupicingkan mataku. Apalagi ini? Bathinku.
" Berhentilah melarikan diri, hadapilah apa yang sudah terjadi didepan mata. Lari tak akan menyelesaikan masalah, hanya menundanya selesai dengan menambah kadar akibat yang akan ditimbulkan. Apa begitu menakutkan mengakui bahwa aku mencintaimu? Aku bukan Ariel mantan pacarmu yang pernah sangat mencintaimu tapi kemudian mencampakkanmu. Aku adalah Frans, yang berharap bisa membantumu lepas dari ikatan masa lalumu dan menemanimu meneruskan perjalanan. Aku memang tak bisa menjanjikan ini pasti berakhir bahagia. Tapi aku akan berusaha agar tak berakhir menyakitkan. Dan aku perlu bantuanmu agar itu bisa terjadi." Ungkap Frans panjang lebar dan sangat tertata rapi.
" Mulailah dengan membuka hatimu, dan kau akan menyadari bahwa dalam hidup banyak kisah yang harus kita jalani dan menunggu untuk kita selesaikan. Bukan sendiri, tapi dengan orang lain. Karena itu lebih manusiawi. Dan berhentilah berfikir bahwa semua kisah yang meski awalnya indah akan berakhir sama saja, menyakitkan. Akhir bukan hak kita, itu mutlak hak Tuhan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan sebuah akhir. Jalani saja sebaik mungkin, dan jika itu tetap berakhir tak menyenangkan, percayalah, itu yang terbaik menurutNya."
Aku tak mampu bereaksi untuk semua omongan Frans, meskipun itu hanya senyuman kecil.
" Aku tak pernah mengambil kembali apa yang sudah kuberikan pada orang lain, jadi jika kau tak mau menerima pemberianku itu, tinggalkan saja disini atau buang saja ditempat sampah. Beres kan?" Lalu Frans bangkit dan beringsut pergi tanpa mempedulikan apapun lagi.
        Aku termangu tak bisa berpikir secepat langkah Frans yang meninggalkanku. Tapi, selepas kepergian pria yang mengaku mencintaiku dan berharap bisa membantuku lepas dari bayang-bayang Ariel itu aku kemudian berfikir, benarkah memang harus begitu? Hasil bukan yang utama, karena itu mutlak hak Sang Pencipta. Kita hanya perlu jalani prosesnya. Karena dengan begitu kita akan tau makna yang terkandung didalamnya. Benar kata Frans, hidup memang tak mudah, jadi tak perlu menambahinya dengan mempersulitnya. 
Kutatap bungkusan diatas meja itu. Lalu aku tergelak.
Frans, orang itu ternyata memang benar-benar tau cara menghadapiku. Rutukku dalam hati
Tapi kemudian tak sadar aku tersenyum.





Menyemangati diri,
#mesem_sithik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar