Lebih kurapatkan lagi sweater rajutku seraya menyilangkan kedua tanganku ke dada. Musim pancaroba benar-benar mengubah kota metropolitan ini menjadi seperti di tepi pantai. Sangat berangin. Dan cuaca seperti ini yang paling kubenci. Aku tak suka cuaca dingin, bahkan itu yang membuatku sangat bersyukur lahir dan tinggal di negara tropis ini. Tapi tiap kali negara tropis ini melewati musim pancaroba yang begitu berangin campur dingin. Aku berharap seharian bisa bekerja di dalam ruangan.
Aku mendesah lagi. Taksi yang sejak tadi kunanti, tak satupun ada yang lewat. Jam-jam seperti ini memang sudah jarang sopir taksi mencari penumpang. Aku mendesah lagi. Menyesal rasanya tadi sudah menolak tawaran Pay yang akan menjemput. Aku cuma bisa menggerutu dalam hati. Kuambil ponselku, mencari nomor telpon Pay, tapi.... aku urung. Kumasukkan lagi ponselku ke dalam tas.
" Kau bukan gadis manja, Anggun!" Desisku untuk diriku sendiri.
Akhirnya kuputuskan untuk berjalan sambil menunggu taksi lewat. Lagipula jadwal siaran radioku masih sejam lagi. Bahkan jika harus berjalan kaki sampai ke kantor radio tempatku kerja part-time itu masih akan belum telat.
Tiba-tiba langkahku terhalang oleh pejalan kaki. Aku ke kanan, dia juga ikut ke kanan. Aku ke kiri, dia juga ikut kekiri.
" Hei....!" Geramku akhirnya, sambil mendongak mencari tahu tampang pejalan kaki yang menjengkelkan ini.
Tapi aku terpaku menemukan pelaku penghadang jalanku ini. Dan senyum manisnya yang tergelar makin membuatku speechless.
" Apa kabar Anggun, lama tak jumpa." Sapa pria tampan yang ditopang tubuh tinggi tegapnya, juga dengan penampilan parlente-nya.
" Alan?" Desisku
" Kurasa begitu." Sahutnya enteng.
Aku tergelak, masih tak percaya.
" Kau benar-benar Alan? Temanku yang manis itu?"
" Apa kau bahagia? Kau terpesona melihatku?" Selorohnya percaya diri, tak pernah berubah masih seperti masa-masa SMA dulu.
Aku tertawa. Alan merentangkan tangannya, entah memamerkan penampilan atau berharap aku berhambur memeluknya. Tapi aku makin mempererat silangan tanganku didada, membuatnya berwajah masam. Aku tergelak.
" Kau masih saja temanku yang manis."Pujiku sambil mengulurkan tangan
" Dan kau makin cantik . " Sambutnya.
Tak bisa kusembunyikan pias merah jambu pipiku menerpaku meski tangannya yang menggenggam tanganku dingin. Sedingin es. Kuperhatikan wajahnya sekilas, sedikit pucat. Atau mungkin memang cuaca di Inggris membuat rona wajahnya terlihat lebih putih.
Alan, kami dulu sahabat semasa SMA. 3 tahun berturut-turut dia selalu sekelas bersamaku. Bahkan nomor absen kami pun bersebelahan. Dan dia selalu bersikeras duduk sebangku denganku. Tak ayal, seluruh warga sekolah menyangka kami pacaran. Alan tak pernah menyangkal itu. Tapi tidak bagiku. Karena bagiku, Alan adalah sahabat yang kusayangi, dan tak akan pernah berganti status menjadi pacar.
" Kita pacaran saja." Ungkapnya kala itu.
Aku langsung tergelak.
" Apanya yang lucu, Nggun? Kita sudah 2 tahun lebih bersahabat. Aku mencintaimu, dan aku juga tau kau juga begitu. Lalu apa salahnya kita pacaran?"
Kugeser posisi dudukku hingga berhadapan penuh dengan Alan.
" Alan, apa kau tau hubungan paling indah dan hangat didunia ini?" Tanyaku menatapnya lembut. Alan hanya mendesah.
" Persahabatan antara pria dan wanita yang tanpa dicampuri dengan perasaan untuk saling mengikat, apalagi memiliki. Jika kita saling mengikat, kita pasti akan kehilangan kebebasan kita. Dan jika kita saling memiliki, maka suatu saat juga akan berganti menjadi kehilangan. Aku tak menyukai semua itu, Al."
" Benarkah karena itu? Bukan karena aku beberapa bulan lebih muda darimu?" Tanyanya dingin.
Aku tercekat.
" Hei..." Kejut Alan melongok ke wajahku. Aku langsung tersadar dari lamunan usangku.
" Masih ada sedikit waktu. Bagaimana kalo minum kopi dulu dicoffee shop itu? Aku penasaran sekali dengan kabarmu 5 tahun ini" Ajakku menunjuk sebuah coffe shop tak jauh dari tempat kami berdiri.
" Kau punya janji?" Selidiknya.
" Bukan janji, tapi kerjaan. Jam 9 aku ada siaran disebuah station radio."
Alan tersenyum.
" Kau selalu membuatku kagum, Nggun. Disela-sela kesibukanmu di Gardener, kau juga masih juga menyempatkan diri menyalurkan hobi."
Aku tersenyum seraya meninju lengannya pelan. Kami beriringan memasuki coffe shop yang cukup sepi itu.
Baru sesaat duduk, seorang waiters mendekati kami, lalu menyodorkan buku pesanan padaku. Hanya padaku. Aku mendongak menatap Alan yang sepertinya tak menggubris telah diacuhkan pelayan coffee shop ini.
" Kau saja yang pesan, kan kau yang traktir." Selorohnya enteng.
Akupun tersenyum dan memesan 2 cangkir cappuccino.
" Dua?" Kernyit sang Waiters.
Aku mendongak menatapnya tak mengerti.
" Iya, dua, masa iya cuma pesen satu sih mbk?" Desisku sedikit jengkel.
Alan malah tertawa lirih.
Akhirnya waiters itu pun berlalu, meski dengan sedikit pandangan aneh memperhatikanku.
Aku mendesah.
" Sudah gak usah dipikirkan, mungkin saja dikiranya aku ini incredible man." Canda Alan.
Aku pun menyeringai palsu.
" Lucu sekali ya? Sudahlah." Leraiku.
" Kapan kau kembali dari Inggris? Bagaimana, gadis-gadis disana cantik-cantik kan?" Godaku.
Alan tergelak.
" Cantik. Tapi tak ada yang mengalahkan Anggunku." Bisiknya mencondongkan tubuhnya padaku.
Aku terdiam sejenak. Mataku terarah pada jemari tangan kananku. Disana tersemat sebuah cincin, yang baru resmi kupakai 2 bulan lalu, sebagai simbol bahwa aku resmi tunangan Pay.
" Aku tak bisa memikirkan gadis lain, selain kau, Nggun. Aku tau, meski kita berumur berapa tahun pun, aku tak akan bisa mengubah bahwa aku 3 bulan lebih muda darimu. Seperti perasaan itu yang juga tak bisa kuubah sampai kapanpun."
" Al..." Sergahku. " Aku sudah tunangan, dan... dua bulan lagi kami akan menikah." Lanjutku berat.
Alan terdiam tanpa kata. Tapi sinar matanya sudah cukup untuk mengatakan semua kekecewaannya.
" Maafkan aku Al,..."
Harusnya aku tak perlu mengatakan itu dihari pertemuan kami yang telah terpisah 5 tahun. Harusnya hari ini kubiarkan Alan bahagia bertemu denganku. Bathinku menyalahkan diriku sendiri.
Ahh... apa memang itu lebih baik? Bukankah sama saja aku sengaja akan membuat hatinya makin terluka kemudian hari? Bathinku lagi, bingung.
Alan tergelak menanggapi permintaan maafku tadi.
" Kau benar-benar orang yang berkomitmen tinggi, Nggun. Siapa pria beruntung itu?" Dikte Alan.
" Al..."
" Ah... siapapun dia, pasti umurnya lebih tua darimu, iya kan?"
Aku terhenyak mendengar pertanyaannya kali ini, yang lebih mirip tudingan. Aku menunduk.
" Al, dari dulu aku sudah bilang bahwa..."
" Hubungan terindah dan terhangat di dunia ini adalah persahabatan antara pria dan wanita. Aku masih menginggatnya, Nggun." Sela Alan
Cappuccino pesenanku akhirnya datang, Kugeser cangkir satunya ke tempat Alan tanpa mempedulikan pandangan aneh waiters.
" Sejak dulu aku selalu iri padamu, Nggun." Katanya lagi.
Kuaduk cappuccino dihadapanku dengan perasaan tak nyaman.
" Kenapa kau bisa selalu menganggapku hanya sahabat, sementara aku tak bisa. Kenapa kau bisa mencintai orang lain, sementara aku tak bisa. Kenapa..." Suara Alan hilang mengambang.
Kuletakkan sendok pengadukku, lalu mengangkat cangkirku. Menyeruputnya sedikit. Sekilas sempat kulihat 2 orang dibangku seberang sana sedang menatapku dengan tatapan yang membuatku sedikit risih. Lalu aku lebih mendongak, menoleh ke bangku dibelakangku yang dihuni 2 orang juga. Keduanya juga sesekali menatapku aneh, sambil berbisik-bisik tak mengerti. Aku tergelak heran.
" Aku pernah lewat akun Mario Teguh dan menemukan sebuah kalimat 'Duduk disebelahmu membuatku berbahagia dan sedih secara bersamaan, karena aku tau aku tak akan pernah memilikimu'."
Mataku tak lepas menatap wajah tampan tapi terlihat sangat sendu itu.
" Kau selalu membuatku merasa seperti orang jahat, Al." Keluhku.
Alan tersenyum.
" Ah... lagu ini...!!" Pekiknya lirih saat musik yang sejak tadi mewarnai suasana coffeeshop ini berganti mengalunkan sebuah lagu.
" Kae Sun - ship and the globe." Susulku menyebut nama dan judul lagu yang sedang mengalun manis.
Alan seperti terhanyut mendengar lagu itu.
" Aku sering memutar lagu ini sebagai lagu penutup acaraku."
Alan tersenyum.
" Aku suka lagu ini. .... i'm happy you know..." Katanya ikut berdendang.
Aku tersenyum melihatnya berubah begitu cepat. Selanjutnya kunikmati Alan yang seakan ingin menjadi Kae Sun. Begitu lincahnya menirukan setiap kata dalam lagu itu. Tak kupedulikan tatapan orang-orang di coffee shop yang menatapku sambil bisik-bisik tak jelas. Mungkin saja mereka iri melihatku dengan seorang pria tampan lagi manis.
" Kau bahagia kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyum lebar.
" I'm lost your smile...." Tirunya sambil melirik genit.
Aku tergelak.
" Cukup, Al, cukup...!" Pintaku menahan tawa " Aku tak mau orang-orang mengiramu gila." Lanjutku menyeruput lagi cappuccino-ku. Kulirik jam tanganku.
" Kau sudah mau pergi?" Tanyanya sedih, kentara sekali raut mukanya kembali sendu seperti tadi.
" Hmmm...setengah jam lagi acaraku dimulai." Kataku seraya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan meletakkannya di dekat cangkirku.
" Oh ya, ini kartu namaku. Kalo siang aku ada di Gardener, kalo malam aku ada stasiun radio itu." Kusodorkan sebuah kartu nama pada Alan. Tapi Alan hanya tersenyum menatapku, tanpa berniat menerimanya. Aku mendesah meletakkan kartu nama itu didepannya.
" Ingatlah aku selalu kalo mendengar lagu ini, Nggun. Karena hanya kau yang tau kalo aku bahagia karenamu." Ucap Alan sebelum lagu Ship and the Globe itu benar-benar berakhir.
" Kau tau kenapa bahagia itu sederhana? Karena aku tak pernah memperumitnya. Kau juga harus berbahagia, Nggun. Selamat atas pertunanganmu, lain waktu semoga kau bisa memperkenalkan laki-laki beruntung itu padaku."
Aku tersenyum getir.
" Baiklah, telpon aku ya!"
Alan mengangguk.
" Aku pergi dulu. Habiskan minumanmu sebelum dingin."
" Tentu."
" Bye..."
" Bye, senang bisa bertemu denganmu Anggun."
Aku menarik nafas berat, lalu membalikkan tubuhku meninggalkan sahabat termanisku itu.
Aku memang sedikit risih dengan tatapan semua pengunjung coffee shop juga beberapa waiters itu, tapi aku tak punya banyak waktu. Aku bergegas keluar. Aku harus segera mencari taksi. Sangat tidak memungkinkan untuk sekarang berjalan kaki sampai di sana. Aku akan telat siaran.
Kurapatkan sweater-ku dan berjalan sedikit lebar, sambil sesekali melongok ke jalan, siapa tau ada taksi lewat. Tiba-tiba selembar kertas menyangkut di kakiku.
" Aduuhh....angin pancaroba ini benar-benar membuatku jengkel." Gerutuku memungut kertas yang menyangkut langkahku. Selembar koran harian.
Aku mendesah. Mataku tertuju pada tong sampah ditepi jalan. Kulipat asal koran itu sambil mendekati tong sampah. Tapi saat tanganku hendak memasukkan kertas koran itu, mataku menangkap sesuatu. Sepertinya ada satu kata yang menarik hatiku. Kuamati lagi sebuah kolom berita.
"TABRAKAN BERUNTUN TEWASKAN PENGUSAHA MUDA"
JAKARTA- Kecelakaan beruntun di daerah bilangan slipi kemarin malam (13/04/2015) sekitar pukul 20.10WIB cukup membuat kemacetan lalu lintas. Kecelakaan ini mengakibatkan pengemudi mobil marcedes benz, Alan prambudi (24th), seorang pengusaha muda, tewas ditempat dengan luka.....
Aku tak mampu meneruskan membaca berita itu, entah apa saja yang beputar-putar di kepalaku. Puluhan fragmen kejadian bersama Alan tadi berhamburan menyeruak. Saat menjabat tangan Alan yang sedingin es, wajah pucat Alan, sikap aneh waiters coffeeshop, tatapan-tatapan aneh dan bisik-bisik para pengunjung coffeeshop, senyum manis Alan....
Aku limbung, kakiku serasa lemas, nafasku begitu berat. Tanganku berpegangan erat pada tiang tong sampah. Beberapa orang yang kebetulan lewat mendekat. Menanyakan keadaanku. Dan itu makin membuatku limbung. Dan sebelum semua terlihat makin pekat, masih sempat kulihat sosok dengan senyum manis tadi. Alan.
Yang terjadi, Alan meninggal dalam kecelakaan didepan Coffeeshop tempat tadi kami berbincang, kemarin malam. Dan entah apa maksudnya dia menemuiku lagi. Tapi mungkin, selamanya aku tak akan bisa melupakan Alan, sahabat manisku itu. Aku ingat betul ucapan terakhirnya, bahwa kebahagiaan itu sederhana, kalo kita tak memperumitnya. Aku mungkin hanya perlu mengenang sosok sahabat yang sangat kusayangi itu dalam hati. Selalu dan selalu. Dan benar saja, aku akan langsung teringat dia tiap kali mendengar lagu Kae Sun - Ship and The Globe,
Oceans apart and it's heavy on my heart
Roll and row but my rolling game to slow
I'm happy you know....
I'm spending my time watching the ship and the globe
Why beauty's in the simple things
Your sweetness and your elegance
I'm happy you know.....
Aku, juga akan bahagia, Al. Dan kau tahu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar