Aku berjongkok ikut memunguti pecahan kaca meja dan vas bunga yang berserakan di ruang tamu rumah Ainun seperti yang dilakukan Ainun.
" Tidak usah, akan aku bersihkan sendiri." Ucap Ainun mencegahku mengikuti apa yang dilakukannya.
" Tidak apa-apa, aku tak bisa membiarkanmu membersihkan ini sendirian." Jawabku datar, tetap memunguti pecahan kaca dihadapanku.
Ainun mendesah.
" Maaf ya, baru pertama kesini, kau sudah melihat kekacauan keluargaku."
Kali ini aku mendongak menatap Ainun yang tertunduk lesu. Mungkin meratapi kejadian memilukan tadi. Atau mungkin merasa malu karena hal seperti itu juga aku saksikan. Atau mungkin... Entahlah, aku memang tak pandai menerka apa yang diekspresikan wajah seseorang. Tapi paling tidak sekarang aku tau mengapa Ainun selalu bilang benci pada semua laki-laki.
" Aku benci laki-laki." Katanya waktu itu, saat merias wajahku untuk acara syuting sebuah iklan.
" Semua laki-laki?" Tanyaku mengerutkan dahi.
" Ya."
" Termasuk aku?" Tanyaku lagi.
Sedetik Ainun menghentikan polesan blush on dipipiku,
" Ya."
" Kalo kau membenciku kenapa kau mau menjadi penata riasku?" Protesku menepis tangannya.
Ainun mendesah
" Aku tak pernah membawa perasaanku pada pekerjaan. Kerja ya kerja." Katanya enteng, bermaksud meneruskan pekerjaannya. Tapi gelak tawaku yang angkuh membuatnya urung.
" Jadi setiap hari sedekat ini denganku hatimu tak pernah merasakan hal aneh?"
Ainun malah tersenyum sinis.
" Kau memang artis, tampan, kaya, dan pasti banyak yang mengelu-elukanmu. Tapi maaf, aku tidak akan ikut masuk dalam daftar penggemarmu."
Aku tergelak, sedikit tersinggung. Baru kali ini ada gadis begini sombong padaku.
" Periksakan dirimu ke psikiater, sepertinya kau punya masalah serius. Anti pria, mungkin itu semacam kanker. Jadi kau harus cepat-cepat mengobatinya."
Ainun menyelesaikan pekerjaannya pada wajahku dan mulai memberesi peralatan make-upnya.
" Kalo ada yang harus berkunjung ke psikiater itu bukan aku, tapi kau. Kau merasa matahari mengitarimu ya? Kau memang artis booming dan tampan, tapi kau bukan anak dewa, kau tetap manusia. Ingat itu." Ungkapnya benar-benar berani.
" Tapi aku bukan manusia biasa." Tegasku juga cetus tapi terkesan mengejeknya.
Aku sangat heran dengan penata riasku kali ini, apa manajerku mendapatkannya dari dalam gua di atas gunung pedalaman sana?
Ainun malah tersenyum.
" Manusia tetaplah manusia, dia tak akan jadi malaikat ataupun dewa."
Kalo saat itu aku tau alasan Ainun sangat membenci laki-laki, aku tak akan memelototinya marah. Hal yang kulihat tadi, saat ibunya dihajar oleh ayahnya dan Ainun begitu berapi-api menghentikannya, cukup memberiku jawaban bahwa dimata Ainun laki-laki pantas untuk dibenci.
" Bagaimana ibumu? Apa benar tak perlu dibawa ke rumah sakit?" Tanyaku seraya ikut bangkit setelah memungut pecahan kaca terakhir.
" Tidak apa-apa. Ibuku orang yang kuat, paling tidak selama 20 tahun terakhir ini." Katanya, tapi terdengar sinis.
" Tapi aku membenci itu." Lanjutnya apatis seraya berlalu membawa pecahan kaca itu keluar.
Aku mendesah mengamati seluruh ruangan ini. Tak banyak yang menarik. Hanya kursi dan meja sederhana, bahkan sekarang kaca mejanya juga sudah pecah. Dan di atas buffet dipojok ruangan ada sebuah bingkai foto usang tergantung. Kusebut usang karena aku mengenali 2 orang didalamnya. Ayah dan ibu Ainun jauh lebih muda dari yang terlihat tadi. Dan gadis kecil itu pasti Ainun. Dan mereka terlihat bahagia. Jauh berbeda dengan yang terlihat sekarang.
Ainun duduk dikursi didepanku dengan pandangan letih.
" Sekali saja, aku kadang ingin berteriak pada ibuku, bahwa ibu bodoh. Bodoh karena selalu diam saja saat orang yang dicintainya menyakitinya lahir bathin. Bodoh karena tetap bertahan meski semuanya sangat menyakitkan. Tapi tiap kali melihat wajah menyedihkan itu aku tak pernah tega. Aku pasti akan membuatnya makin menyedihkan jika aku mengatakan itu." Ungkap Ainun lirih.
Perlahan aku ikut duduk disebelahnya.
" Akhirnya aku hanya bisa membenci ayahku. Membencinya tiap kali memukuli ibu. Dan tanpa sadar, kebencian itu sudah menutupi seluruh hatiku. Saat aku tersadar, aku membenci semua orang bernama 'laki-laki'." Lanjut Ainun.
" Kurasa aku jatuh cinta padamu." Ungkapku waktu itu, usai Ainun menyelesaikan pekerjaannya di kamar gantiku.
Plaakkk!!!
Tamparan cukup keras langsung mendarat dipipiku yang baru beberapa menit lalu dimake-upnya. Ainun tersenyum sinis.
" Selama ini kau pasti sangat mudah sekali mengatakan cinta pada semua gadis, karena kau juga bisa dengan mudah meninggalkan mereka kan?"
" Aku tak pernah meninggalkan mereka. Mereka yang menyatakan cinta padaku, aku menerimanya, dan setelah mereka bosan, mereka yang meninggalkanku."
Kali ini Ainun tertawa sinis.
" Kau tahu ada peribahasa 'lempar batu sembunyi tangan'?"
" Aku tau, tapi aku tak pernah melempar batu, apalagi menyembunyikan tangan."
" Ouw.... sepertinya kau pantas mendapat julukan 'innocent man'"
Aku tersenyum kecil.
" Kenapa tersenyum?" Tanya Ainun.
" Tidak, aku hanya teringat saat kau mengataiku innocent man. Pasti saat itu kebencianmu padaku makin besar."
Ainun melirikku sebentar, lalu tersenyum.
" Sangat, sangat besar." Akunya.
" Dan sampai sekarang apa belum berubah?"
Ainun kini menatapku lekat. Tapi mulutnya bungkam tak menjawab.
" Dulu aku menganggap kau gadis biasa yang sangat sombong. Tak hanya kepala batu, tapi juga berhati batu. Aku awalnya juga kesal padamu, tapi lama-lama penasaran."
Tatapan Ainun menyipit. Dahinya berkerut. Aku tersenyum.
" Bukan menyombong, aku adalah artis muda yang cukup tenar, sangat tampan, macho, dan didukung latar belakang orang tua yang sudah terkenal. Jadi aku pikir tak akan ada yang membenciku. dari anak balita sampai ibu-ibu yang sudah paruh baya pasti masuk daftar penggemarku."
Ainun tergelak mendengar penjelasanku.
" Tapi kau, penata riasku, yang setiap hari menatap wajahku yang hanyaberjarak beberapa inchi, malah bilang sangat membenciku. Itu benar-benar membuatku penasaran."
" Jadi saat kau bilang 'kurasa aku jatuh cinta padamu' waktu itu, sama artinya ' aku penasaran padamu'?" Tuding Ainun dengan tatapan berbeda.
" Apa tidak lebih baik kau mengartikan rasa penasaranku menumbuhkan rasa cinta padamu?"
Ainun melengos dengan tawa mengejek.
" Aku juga akan tertawa. Tapi menertawakan latar belakang kita yang kebetulan hampir sama." Lanjutku membuatnya terdiam.
Mungkin hampir semua orang di negeri ini tau latar belakang keluargaku seperti apa. Papaku yang 'mencampakkan' mamaku tanpa menceraikannya sampai hampir sepuluh tahun. Dan mamaku yang terlihat begitu tegar meneruskan hidupnya meski kehilangan semua 'hartanya'. Bahkan aku dan adik-adikku pun terlihat tumbuh dengan sangat mewah dan baik. Dan luka didalamnya, semua dengan rapi tersembunyi. Luka mama, lukaku, juga luka adik-adikku. Semua dengan sangat sempurna ditutupi oleh sang diktator itu. Dan aku merasa, ayahnya Ainun tak jauh beda dengan orang yang paling kubenci itu. Melukai orang-orang yang mencintainya dengan cinta itu sendiri.
" Apa kau masih tak percaya kalo aku benar-benar jatuh cinta padamu?" Tanyaku lebih seperti merajuk.
" Tidak. Kau terlalu berbahaya untuk dicintai. Lebih kasarnya, kau tak pantas dicintai."
" Kata-kata itu kejam sekali. Aku sudah bilang, mereka yang datang padaku, menyatakan cinta padaku..."
" Dan kau tak tega menolaknya, dan menerimanya?"
" Mau bagaimana lagi, aku laki-laki gentle."
Ainun tergelak lagi, lalu bangkit.
" Hei, laki-laki gentle, ini sudah malam, pulanglah, dilingkungan sini pasti juga banyak penggemarmu, aku tak mau nanti mereka berbondong-bondong kesini. Aku tak suka kehebohan semacam itu."
Aku mendesah berat seraya bangkit.
" Nun, kita tumbuh dengan luka dari orang-orang yang kita cintai. Dan aku yakin, kau dan juga aku, jauh lebih mengerti arti dari mencintai daripada mereka yang selalu hidup baik-baik saja." Kataku menatap Ainun, berharap mampu mengalahkan tatapan matanya yang tajam itu.
" Seiring aku dewasa dan melalui cinta-cinta itu, aku pun mulai mengerti, kenapa mamaku hanya diam diperlakukan tak adil oleh papaku. Dengan itulah akhirnya aku mengerti apa itu mencintai, seperti sekarang aku mencintaimu. Dan kau, lama-lama juga akan mengerti kenapa ibumu diam saja diperlakukan tak adil oleh ayahmu. Kenapa tetap bertahan dalam cinta yang selalu menyakitinya. Dan saat kau mengerti, kau juga akan menemukan bagaimana caranya untuk mencintai. Dan aku akan menunggunya." Lanjutku beringsut pergi.
Dan Ainun masih terpaku ditempat menatap kepergianku. Aku begitu mengharapkan hati yang hampir membatu oleh kebencian itu bisa perlahan mencair oleh semua kata-kata yang kuungkapkan tadi. Aku sangat yakin, hidup yang dilalui Ainun jauh lebih berat dari yang kulalui. Dia tak hanya berjalan tanpa cinta yang utuh, tapi juga menyeret sebongkah kebencian yang terus bertambah setiap harinya. Dan aku tau, itu sangat menyakitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar