Aku mendesah saat menemukan seorang pria tampan lagi berpakaian necis duduk di sebuah bangku, sibuk dengan laptopnya. Disebelahnya juga ada beberapa tumpuk kertas. Kudekati pria itu.
" Kapan datangnya?" Tanyaku mengamati tumpukan kertas kerjanya berserakan memenuhi meja.
Pria tampan itu bernama Candra. Sangat pantas bernama Candra, karena dia sangat menawan. Kalo bukan teman sejak kecilku, aku mungkin bisa terpikat olehnya.
" Belum ada sejam." Jawabnya enteng.
Aku terbelalak.
" Apa? Kau disini hampir sejam hanya untuk menyelesaikan pekerjaanmu? Kau pikir ini coffeeshop-nya kakekmu?" Dengusku.
Candra malah menyeringai lucu.
" Jangan marah begitu, lagipula bossmu juga tak marah kan? Tenang saja, nanti aku pesan setelah Yuan datang." Katanya enteng dan bermaksud meneruskan pekerjaan mengetiknya.
Aku tergelak.
" Kau ini, sudah berlama-lama disini tanpa pesan apapun, pesannya pun menunggu pacar datang pula. Memang begitu ya aturannya orang pacaran? Ribet banget!"
Candra tak jadi mengetik dan mendesah berat sambil menatapku.
" Makanya cobalah pacaran, biar tau bagaimana itu dunia orang pacaran." Kali ini Candra seperti terang-terangan mengejekku.
Siap-siap kulempar lap yang sejak tadi kupegang, kalo Candra tak segera menutupi wajahnya dengan map disebelahnya. Aku mendesah dan ikut duduk.
Candra menatapku seperti menyelidik.
" Apa kau mau menghabiskan seluruh masa mudamu hanya dengan bekerja? Coba pikir, berapa pekerjaan part-time yang kau kerjakan setiap harinya?" Kali ini Candra seperti menceramahi.
" Setiap jamku sangat berharga, jadi untuk apa kuhabiskan hanya untuk mendengar kalimat-kalimat gombal dari seorang laki-laki? Lagipula, gajiku sangat jauh berbeda dengan gaji papamu. Gaji papamu sebulan bisa untuk hidup setahun, sedang gajiku sebulan akan habis dalam seminggu."
" Kalo gaji sebulan habis seminggu, lalu bagaimana kau membiayai 3 minggu lainnya?" Tanya Candra malah membuatku makin keki. Candra menanggapi muka masamku dengan tawa renyah.
Sejenak aku terdiam, dan Candra langsung menyadari itu. Aku mendesah.
" Aku selalu bertanya, kapan kemiskinanku berakhir. Sejak kecil ibu sudah bekerja sangat keras, bahkan aku pun juga memutuskan ikut melakukannya. Tapi kenapa tak juga berubah. Sementara kau, sejak kecil sudah hidup nyaman."
" Hei..." Gusar Candra seperti tak suka cara bicaraku.
Aku tersenyum.
" Bagaimana kuliahmu?"
" Lumayan. Kadang menyenangkan, kadang juga buat kepalaku pusing. Kadang aku ingin menyerah saja, dan bekerja begini saja." Keluhku
" Kau bilang ingin jadi seseorang yang lebih baik?"
Aku tersenyum lagi.
" Benar. Aku ingin jadi lebih baik. Saat aku menyelesaikan studyku aku akan melamar menjadi pegawai kantoran. Biar ibuku tak lagi menjadi OB."
Kali ini Candra yang tersenyum.
" Beritahu aku jika ada kesulitan." Katanya seperti meminta.
" Pasti. Aku punya siapa lagi yang bisa membantuku selain kau. Mahasiwa cerdas sekaligus manager sebuah perusahaan. Bukankah itu hebat?"
Kami tertawa bersama. Sejenak aku seperti terlupa akan kepenatan hidupku. Hanya saat bersama Candra aku bisa merasakan bernafas dan tertawa lepas begini.
" Kelak kalo sudah lulus, antar lamaran kerjamu ke kantorku."
Aku terdiam menatap Candra.
" Aku selalu merepotkanmu, Dra."
" Apanya yang merepotkan? Kan cuma merekomendasikanmu saja. Aku tak berwenang dalam perekrutan pegawai, jadi aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi seandainya akhirnya diterima, kan bagus?"
Aku mendesah berat dengan sedikit senyum.
" Dulu saat kita masih kecil, aku tahu kenapa tiap kali ibu mau diajak kumpul-kumpul bersama mama papamu, juga teman-temannya yang lain. Dia hanya berusaha mencari nafas dengan keluar sebentar dari kehidupannya yang keras. Seperti seekor lumba-lumba yang naik ke permukaan laut untuk mencari oksigen. Tapi akhirnya juga masuk lagi ke dalam laut. Meski lumba-lumba itu iri dengan makhluk mamalia lainnya yang bisa menghirup oksigen dengan bebas, tapi lumba-lumba itu tetap menyadari, lautan luas yang penuh dengan sesuatu yang berbeda jauh darinya, adalah dunianya."
Aku mendesah lagi, menatap Candra yang tanpa kata menatapku lekat.
" Begitu juga aku, Ndra." Lanjutku membuat matanya sedikit menyipit.
Candra, dia laki-laki terbaik yang pernah kukenal dan paling kupercaya dekat denganku. Meski hubungan kami tak lebih dari teman yang sudah saling mengenal sejak kecil, tapi aku tak pernah bisa menyangkal kalo aku merasa sangat nyaman saat dekat dengannya. Serasa semua keruwetan hidupku yang selalu mengekangku bisa terlepas saat bersamanya. Tapi aku akan selalu sadar, bahwa takdirku hanya akan menjadi teman Candra, tidak lebih.
" Setiap kali bersamamu, seperti sekarang ini, aku begitu nyaman. Terasa sangat bebas. Ya itu, seperti seekor lumba-lumba yang melompat muncul ke permukaan laut menghirup oksigen."
Candra tersenyum lebar.
" Jadi apa aku harus memanggilmu lumba-lumba manis yang tangguh?" Tanya Candra membuatku ikut tertawa.
Aku bangkit.
" Oke, lumba-lumba harus masuk lagi ke laut." Kataku melucu. Candra tergelak.
" Kenapa kalian kelihatan bahagia sekali? Apa kalian bermain dibelakangku?" Sungut Yuan yang tiba-tiba sudah menjulang tak jauh dari kami.
Candra tersenyum menanggapi sikap sengit Yuan.
" Bukan apa-apa..."
" Apa kau pikir sekarang aku sangat cantik?" Tanyaku tiba-tiba. Membuat Candra ataupun Yuan kaget.
" Aku tak pernah menganggapmu cantik, apalagi sangat cantik." Jawab Yuan masih tetap sengit.
" Lalu kenapa kau berfikir aku dan pacarmu bermain dibelakangmu?"
" Hei, kenapa kau mencoba menyulut api dengan bensin?" Sergah Candra merengut, membuatku menahan senyum.
" Kau pikir tempat ini apa? Ini bukan pom bensin tapi coffeeshop, kalo mau pesan ya pesan minuman, bukan bensin."
Candra memelototiku, aku hampir tak bisa menahan tawaku.
" Kau benar-benar menyebalkan. Aku benar-benar tak rela kau mengetahui semua tentang Candra, terlebih masa kecilnya." Sungut Yuan, makin geram.
Aku mengangkat kedua bahuku.
" Apa hebatnya tau masa kecil pacarmu itu? Dia itu super usil dan super ngeyel."
Candra mendesah berat.
" Sudah cukup, jangan mengatai pacarku seperti itu."
" Stop, kenapa sih kalian selalu bertengkar tiap kali bertemu?" Desis Candra menengahi.
" Karena aku tidak suka dia!"
" Aku juga tidak menyukaimu, sayangnya temanku yang tampan ini sangat menyukaimu, huufttt..." Timpalku mendramatisir.
Aku memang paling suka menggoda Yuan, yang memang terkenal anak manja itu. Tiba-tiba aku mendengar seruan boss dari belakang.
" Oh, boss memanggilku." Aku buru-buru beringsut.
" Kalo kalian tak juga memesan, sebaiknya pergi saja. Ini bukan tempat pacaran gratis seperti di taman, oke?" Kataku sebelum benar-benar beringsut.
" Hei...." Sergah Candra mengambang.
Aku tak lagi mempedulikan tatapan geram Candra, apalagi ocehan manja Yuan. Aku tersenyum kecil. Tapi kemudian mendesah.
Seperti lumba-lumba yang kuceritakan pada Candra tadi, sekarang lumba-lumba itu kembali ke dunia yang sebenarnya tak begitu disukainya. Aku menatap sayu dapur coffeeshop yang belum genap kumasuki itu. Tapi sudah kudengar perintah boss untuk mencuci cangkir dan piring yang menumpuk di wastafel. Kupandangi wastafel tak jauh dari tempatku berdiri. Kuletakkan lap ditanganku, dan menyisingkan lengan kemejaku.
Meski lumba-lumba tak menyukai dunia yang selama ini ditinggalinya, tapi lumba-lumba sadar, disinilah dia tinggal dan menjalani takdirnya. Jika lelah, sesekali mungkin keluar ke permukaan laut mencari oksigen. Hanya sesekali, dan sebentar.
Begitupun aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar