Selasa, 14 April 2015

EVERLASTING LOVE III

        Malam belum lama merangkak, bahkan lembayung senja diufuk barat masih tersisa sedikit. Hanum masih terpaku ditempatnya berdiri, begitupun sosok tak jauh dihadapannya itu. Dunia sejenak seperti berhenti berotasi. Menunggu mereka berdua bergerak dulu.
Setengah jam lalu,
           Hanum berjalan gontai tanpa semangat. Sedikit asa yang masih tersisa selama 5 tahun terakhir ini, telah ikut tergilas kenyataan yang 15 menit lalu lewat apa yang disaksikannya. Hanum memejamkan matanya menahan sesak dadanya yang seakan mau meledak.
         Selama 5 tahun meninggalkan kota ini, akhirnya Hanum punya sedikit keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup; bertemu Giok lagi. Meski Hanum tau tak banyak yang akan dia dapat, bahkan mungkin tak ada yang akan dia dapat selain kenyataan bahwa Giok tak seperti dulu lagi. Tapi ternyata kepedihan yang dibayangkannya selama ini jauh lebih menyesakkan saat benar-benar terjadi. Melihat Giok dengan bahagianya bercanda dengan seorang gadis kecil berusia 2 tahunan, sudah cukup sukses membuat nyali Hanum untuk bertemu Giok lagi, hancur berantakan tak bersisa.
Kau kelihatan bahagia sekali, Gi. Pasti hidupmu sekarang sudah sangat sempurna dengan adanya malaikat kecil tadi. Dengung Hanum pesimis.
Tuhan, jika memang kenyataannya begini, kenapa Kau biarkan aku sampai disini? Jika Giok bisa bahagia, kenapa Kau biarkan aku tetap terlarut dalam cinta tak bermakna itu? Jika ini tak baik untukku kenapa...
Ceracauan hati Hanum terputus saat tak sengaja dia hampir bertabrakan dengan pejalan kaki lainnya. Hanum bahkan sedikit terhuyung
" Oh..maaf, maaf...anda tidak apa-apa..."
" Oh...gak apa-apa kok, maaf tadi saya juga yang...." Ucapan Hanum mengambang saat menemukan wajah lawan bicaranya. Seorang laki-laki yang menenteng tas dan kresek. Laki-laki itupun terperangah untuk beberapa detik.
" Bi....Bim...Bimoo...??" Suara Hanum hampir tak jelas.
" Hanum? Ini benar Hanum kan?" Laki-laki yang dipanggil Bimo oleh Hanum juga tak cukup jelas mengeja nama Hanum.
Beberapa detik mereka tergelak tak percaya.
" Kau banyak berubah Num, sudah pantas menjadi Mangaka dari Jepang." Puji Bimo.
Hanum tergelak sambil melirik kesamping Bimo.
" Oh ya, kenalkan, ini istri dan anakku."
Hanum mendramatisir kekagetannya.
" Istri dan anakmu? Kapan menikahnya?"
Bimo tertawa.
" Kau pikir kau meninggalkan kami baru 2-3 bulan?"
Hanum tersenyum. Lalu diulurkan tangannya menyapa wanita cantik keibuan yang diperkenalkan Bimo sebagai istrinya.
" Jadi ini to mas yang namanya Hanum?" Seloroh wanita yang memperkenalkan diri bernama Esti.
Bimo hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum kecil. Lalu kuperhatikan gadis kecil dalam gendongan Esti. Dan tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian tadi.
" Bim...ini bukannya anak yang bersama Giok tadi?"
Bimo terhenyak, saling pandang sebentar dengan Esti.
" Kau sudah bertemu Giok? Dimana?"
Hanum sedikit salah tingkah,
" Itu... tadi aku...aku mau ke kedai, tapi tak jadi. Aku lihat dia sudah bahagia dengan anaknya..."
" Anak? Siapa yang kau maksud?" Bimo heran.
Hanum menatap Bimo tak kalah heran.
" Tadi aku lihat dia menggendong anak kecil, seumuran anakmu ini."
Bimo tertawa, disusul Esti. Hanum melonggo tak mengerti.
" Sejak kapan Giok punya anak? Kalaupun dia menggendong anak kecil, ya anakku ini yang sering digendongnya" Ucap Bimo menjelaskan.
" Oh...jadi dia belum punya anak."
" Bagaimana mau punya anak."
" Kenapa? Dia tidak bercerai dengan Mawar kan?"
" Tidak."
Hanum mendesah lega. 
" Bagaimana mau bercerai dengan Mawar, menikah saja tidak." Lanjut Bimo datar. Tapi sudah sangat sukses membuat Hanum terhenyak.
" Apa?"
" Ya."
" Kau bercanda kan, Bim?"
" Apa aku mirip orang bercanda?" Desis Bimo seperti geram.
Hanum tak mengerti dengan yang barusan didengarnya.
" Kalo mereka tak jadi menikah karena kau tak datang dan malah sudah lebih dulu terbang ke Jepang, ya memang itu alasannya. Sahabat yang kau anggap baik itu akhirnya benar-benar pantas disebut baik setelah menyadari bahwa sebenarnya dia tak seharusnya hadir diantara kau dan Giok." Lanjut Bimo. Hanum menatap Bimo dengan nanar.
" Mawar menolak menikah dengan Giok hari itu. Dan 5 tahun ini adalah masa-masa yang sangat sulit untuk Giok, Num. Tapi aku tau, dia berusaha tetap bertahan dan selalu berharap suatu saat kau kembali."
Mendengar penjelasan itu, Hanum tak punya pikiran lain selain ingin segera bertemu Giok. Detik-detik yang dilaluinya untuk sampai lagi ke kedai kopi milik Giok terasa jauh lebih lama dari 5 tahun yang telah dilaluinya di jepang selama ini.
" Akhirnya kau datang juga, Num." Ucap Giok memecah kesunyian dan menggembalikan Hanum ke alam sadarnya.
" Maaf, apa aku terlalu lama membuatmu menunggu?"
Giok tersenyum tipis.
" Yang penting kau sudah datang, tak masalah kapan itu. ''
" Maaf." Ucap Hanum lagi, dengan mata sedikit memburam mengamati sosok kesayangannya yang hanya berjarak 2 meter itu.
" Semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa, Num. 5 tahun lalu kita memang sudah salah telah berfikir itulah akhir yang harus kita jalani. Tapi ternyata Tuhan tak berfikir begitu. Karena ternyata itu adalah awal dari kita yang lain."
 Dan akhirnya Hanum tak mampu lagi membendung air matanya.
" Akulah yang bodoh, Gi. andai dulu aku tak pernah mengajak Mawar diantara kita , semua ini tak akan begini."
" Tidak, Num, semua sudah diatur oleh Tuhan. Justru Mawar-lah yang membuat kita sadar, bahwa kita memang saling mencintai." Aku Giok dengan langkah mendekati Hanum. Perlahan diusapnya air mata yang mewarnai pipi Hanum.
" Selama 5 tahun ini, apa kau baik-baik saja di Jepang?" Lanjut Giok bertanya.
Hanum meraih tangan Giok yang mengusap air matanya.
" Tak akan beda jauh dengan keadaanmu. Ada kalanya terpuruk karena menahan rasa ingin bertemu, ada kalanya begitu tegar karena harus bertahan untuk sebuah cinta yang perlu dijaga selamanya." Jawab Hanum dengn senyum.
" Apa kau sudah bisa memakai high heels?" Tanya Giok lagi sambil melirik kebawah, memperhatikan sepatu kets yang dikenakan Hanum.
" Kau melarangku memakainya, jadi kenapa aku harus belajar agar bisa memakainya? Lagipula setiap hal yang kau larang pasti alasannya untuk kebaikanku"
" Apa kau masih menekuni balerina? Bukankah kau ke Jepang karena tertarik Manga?" 
Hanum tersenyum memperhatikan wajah dihadapannya dengan sinar bahagia.
" Aku bahkan bisa tetap menekuni keduanya dengan sangat baik. Sama seperti aku bisa berteman sekaligus mencintaimu." Aku Hanum dan langsung tersambut pelukan Giok.

 Dan setelah 5 tahun akhirnya Hanum bisa meyakinkan dirinya, bahwa cinta yang dijaganya dalam hatinya selama ini tak pernah sia-sia. 
" Sekarang, jangan harap aku akan melepaskanmu. Aku tak akan pernah mengijinkanmu pergi kemanapun, untuk alasan apapun." Ucap Giok, lebih seperti mengancam.
" Ternyata, setelah 5 tahun Giok tak pernah berubah, masih suka mengancamku seenaknya." Gerutu Hanum.
" Karena anak kecil sepertimu perlu juga diancam biar tidak bandel."
Hanum tergelak sambil mempererat pelukannya.
" Aku selalu merindukan aroma kopi buatanmu, Gi."
Perlahan Giok menjauhkan tubuh Hanum dari pelukannya.
" Sayang kedainya sudah tutup." Lanjut Hanum seperti mengeluh, menatap kedai kopi milik Giok yang sudah gelap dan terkunci.
Tiba-tiba Giok memukul dahi Hanum pelan. Spontan Hanum memekik sambil memegangi dahinya.
" Apanya yang sayang? Kedai ini milikku, kuncinya pun ada padaku. Aku tinggal membukanya dan mengajakmu masuk." Omel Giok.
Hanum melirik kearah Giok, lalu tersenyum meski dengan masih mengelus-elus dahinya.
" Kalo begitu kau harus membuatkanku kopi latte yang paling enak untukku."
Giok tersenyum.
'' Ok, tapi itu tidak gratis."
Hanum kaget.
" Kau harus membayarnya dengan seumur hidupmu. Bagaimana?" Tanya Giok mengulurkan tangannya.
Hanum tersenyum bahagia.

        Kita, kadang berfikir tentang keputusan Tuhan dengan cara kita sendiri. Padahal seringkali sebenarnya yang kita jalankan itu bukanlah keputusan Tuhan, tapi apa yang kita harapkan terjadi. Rencana Tuhan lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan, bahkan jika itu adalah kejadian yang tak pernah kita bayangkan. Selama itu cinta sejati, dia akan bersemayam dengan aman dalam hati. Karena cinta adalah sesuatu yang suci, dan hanya Yang Maha Suci lah yang mampu memasuki. Serumit apapun lika-likunya, jika Tuhan sudah memutuskan dengan siapa akhirnya, itulah yang akan jadi akhirnya. Kita hanya perlu meyakini, bahwa dalam cinta memang akan ada  kekecewaaan, penderitaan hidup, pengkhianatan, keputusasaan, juga ketidakbahagiaan. Tapi dalam cinta juga ada kekuatan yang membuat kita melewati itu semua. Karena dengan begitulah baru bisa disebut cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar