Jumat, 26 Desember 2014

KAU & HUJAN-KU

Musim hujan telah datang lagi. Hatiku bersorak menyambutnya. Hari-hari kedepan aku pasti akan lebih terhibur oleh mereka. Duniaku akan jadi sedikit berirama, akan sedikit punya teman dalam kesunyian. 
Entah sejak kapan awalnya, tiba-tiba aku suka sekali dengan yang namanya hujan. Dan setelah kejadian itu, aku makin tergila-gila pada hujan. Aku akan bersorak kegirangan meski hanya dalam hati, saat tiba waktunya musim hujan.

Sore itu, setahun yang lalu pada awal musim hujan seperti ini. Saat aku baru keluar dari tempat kerjaku di perpustakaan daerah menuju tempat kostku. Bus yang kutunggu tak juga datang-datang akhirnya aku memutuskan berjalan sambil menunggu, dan tiba-tiba gerimis turun dengan cukup deras diiringi desir angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. Aku mendongak ke atas, dan langsung saja titik-titik anak air hujan langsung menyapaku. Aku tersenyum kecil. Saat tanganku perlahan hendak terangkat, tiba-tiba sebuah benda menghalangi pandanganku akan indahnya air hujan. Payung.
Aku menoleh, saraut wajah seorang pria menatapku dengan payung ditangannya sedang memayungiku.
" Kata orang, air hujan awal musim penghujan tidak baik untuk kesehatan, pakailah payung ini" Katanya kemudian, sambil menyodorkan payung yang dipegangnya.
" Kenapa?ah... benar, kau pasti tak ingat siapa aku, kau kan melihat orang tak pernah lebih dari sedetik, jauh lebih lama dari saat kau menatap air hujan yang turun dari langit" Lanjutnya membuatku sedikit tersinggung.
" Coba kau menatap orang didepanmu selama kau menatap air hujan, kau pasti mengenalku." Kali ini dia meraih tanganku dan membuatku memegang payung yang tadi ditangannya.
" Aku berkunjung 2-3 kali dalam seminggu di perpustakaan tempat kerjamu, dan itu sudah hampir setahun lamanya. Jadi tak usah khawatir, 3-4 hari lagi kau bisa mengembalikan payung ini saat aku berkunjung nanti." 
Aku masih terbengong saat itu, dan hanya menatap kepergiannya menerobos gerimis hujan yang kian deras dan besar dengan berlari cukup kencang.
Besoknya, di tempat kerjaku, perpustakaan daerah, kucari daftar nama pengunjung dan alhasil kutemukan sebuah nama Damar. 
Mungkin memang tak salah tuduhannya waktu itu, aku memang tak akan mengenali orang meski 2-3 kali seminggu bertemu, karena aku menatap wajah mereka tak lebih dari sedetik.

Sejak hari itu aku seperti menanti kedatangannya yang dapat dipastikan hari selasa, kamis, dan sabtu. Meski sudah 2 minggu tetap tak kukembalikan payungnya dengan berbagai alasan. Aku takut saat payung itu kukembalikan aku tak punya alasan pulang bersamanya bila hujan turun.
" Kau sepertinya suka sekali dengan hujan, kenapa?" Tanyanya sore itu, saat kami berjalan bersama dalam satu payungnya menuju halte bus.
" Mereka irama alami yang indah. Aku merasa bila musim penghujan datang, duniaku makin berirama. Karena akan sering kudengar nyanyian langit, titik-titik bermelodi yang jatuh lewat dedaunan dan ranting. Melihat hujan yang deras di tanah yang lapang seperti melihat langkah2 kecil yang begitu banyak berlarian gembira."
Damar tersenyum mendengar penjelasanku.
" Kau pasti juga menyangka kalau hujan itu hanya tetesan air dari langit kan?" Tanyaku
" Apa lagi? Hujan kan memang tetesan air dari langit." Jawabnya membenarkan.
Aku tersenyum, kami duduk di bangku halte yang sepi, hanya 2 orang yang di sebelah kami yang juga sedang menunggu bus.
" Tapi menurutku hujan adalah tetesan air mata langit"
Damar mengerutkan dahinya , lalu tersenyum lebar
" Kau ini..." Katanya mengambang
Lalu ada seorang pemuda berlari menutupi kepalanya dengan tas ranselnya, buru-buru sampai di halte, dan bergabung dengan kami.
" Kau lihat orang itu." Tanyaku sedikit berbisik.
Damar melirik sebentar ke pemuda yang kumaksud.
" Dia tadi berlari menghindari hujan kan? Dulu waktu kau memberikan payungmu padaku, kau juga berlari menghindari hujan."
Damar tergelak.
" Kau ini, ya iyalah, kan hujan."
" Ya itu..."
Damar mendelik.
" Semua orang menghindari hujan, padahal mereka datang untuk membasahi tanah yang kering, daun-daun yang layu, bunga-bunga yang hampir mati...Langit kan jadi sedih."
" Tapi kalau kita hujan-hujan akhirnya kita bisa sakit. Jadi selama ada aku kau tak akan punya alasan berjalan dibawah hujan. Karena aku akan selalu membagi payungku denganmu. Dan kalau aku tak datang, kau harus pakai payung yang kau simpan di tasmu itu, ok?!"
Aku terhenyak kaget campur malu karena ternyata Damar tau aku berbohong soal payungnya yang selalu lupa kubawa.
Damar hanya tersenyum.
Dan setelah hari itu, tiap selasa-kamis-sabtu kami bertemu. Aku tak tau sampai kapan kami akan terus begini, tapi aku merasa nyaman saat ada disisi Damar, meski aku harus mengorbankan hujan-ku. Damar selalu melarangku berjalan dalam hujan, bahkan untuk sekedar mengulurkan tangan pada mereka pun aku tak boleh lama-lama.

Tapi saat musim hujan mulai berakhir, saat pelangi mulai sering menghiasi langit usai hujan turun, Damar jadi makin jarang mengunjungi perpustakaan. Sempat kuhubungi ponselnya, tapi tak aktif. Bahkan aku mencoba mengunjungi apartemen kecilnya, tapi juga sepi tak berpenghuni. Menurut tetangganya, Damar memang jarang pulang, tapi akhir-akhir ini dia makin hampir tak terlihat.
Aku terngungu dibangku taman dekat perpustakaan tempat kerjaku. Ditanganku payung Damar setahun lalu itu masih terlihat tak banyak berubah, karena aku memang hampir tak pernah membukanya. Aku tak pernah menuruti pesannya yang menyuruhku memakai payung ini jika dia tidak ada. Aku menunggunya mendatangiku dan memayungiku dengan payungnya. Tapi sampai musim hujan datang lagi tak juga kudapati itu.

Bagi beberapa orang, mungkin hujan hanya sebuah titik-titik air yang jatuh dari langit. Tapi bagiku, mereka adalah kawan dalam duniaku yang sepi. Mereka sempat kujauhi saat seorang pemuda baik itu datang menhiasi hidupku dengan gemerlap lampu-lampu cinta. Sayang gemerlap itu tak bertahan lama. Untunglah hujan masih bersedia menerimaku kembali. Dan aku makin menyukai mereka
Aku tak peduli jika esok akan datang lagi 'Damar' yang lain, yang mencoba menawariku gemerlap lampu-lampu cinta, aku tak akan meninggalkan hujan-ku lagi. Mereka lah yang setia menemaniku sepanjang musim penghujan dan akan selalu berjanji kembali pada waktunya tiba. Mereka yang paling mengerti mengapa aku suka berjalan penuh bahagia bersama mereka saat orang lain berlarian menghindari curahan itu.
Kudongakkan wajahku menyambut sapaan lembut mereka, lalu tiba-tiba....
" Bukankah ditanganmu ada payung? Kenapa tak memakainya?" Tanya sebuah suara
Aku menoleh ke sumber suara itu, derai hujan kian deras.
" Karena aku menyukainya." Jawabku pasti.
" Karena mereka tak pernah membohongiku. Tak pernah meninggalkanku saat semua orang tak bisa berlama-lama denganku. Dan tak pernah berjanji apapun padaku." Lanjutku sedih
" Maaf." Ucapnya. Damar.
" Hujan tak pernah menyalahkan orang-orang yang menghindari kedatangan mereka. Hujan juga tak berharap orang-orang mendatangi mereka karena alasan merasa bersalah."
Damar menunduk, dan untuk pertama kalinya aku dan Damar berada ditengah-tengah hujan-ku.
" Jujur, sebenarnya aku iri pada hujan-mu. Mereka begitu kau sayangi bahkan tanpa peduli sayangmu itu mungkin bisa menyakitimu. Aku iri karena cintamu pada hujan jauh lebih besar dibanding dengan aku yang begitu menyayangimu. "
Aku membisu. 
Aku tak pernah berfikir sampai kesitu untuk alasan Damar yang tiba-tiba menghilang.
"  Aku memang menyayangi mereka, tapi aku tak pernah merasa kehilangan saat mereka tak lagi datang. Perasaan itu berbeda saat kau tiba-tiba tidak lagi menemuiku." Ucapku akhirnya.
Damar mengambil payung ditanganku dan membukanya. Memayungkannya padaku.
" Aku mungkin tak bisa seperti hujan-mu yang tak pernah membohongimu, tak pernah meninggalkanmu, ataupun berjanji apapun padamu. Tapi beri aku kesempatan memayungimu seperti ini. Karena aku selalu takut hujan merebutmu dari aku."
Sekarang aku sadar, Damar memang tak setulus hujan yang datang menemaniku. Mungkin ada kalanya dia pun meninggalkanku dalam kesepian yang tak tentu, tapi aku tak bisa pungkiri, aku merasa sangat kehilangan saat dia tak lagi menyapaku. Dan itu tak pernah kurasakan pada hujan-ku.
Aku bangkit dan mendekat pada Damar, tanganku ikut memegang payung itu.
" Bukankah kau yang bilang akan selalu berbagi payung denganku? Kenapa sekarang hanya memayungiku dan membiarkanmu kehujanan? Kau juga kan yang bilang air hujan tak baik untuk kesehatan." 
Damar hanya tersenyum menanggapi omelanku.
Hujan, aku tak pernah menduakanmu, aku tetap menyukaimu, tapi memang adakalanya kita perlu seseorang yang menemani kita berjalan dibawah derasnya air hujan.


rhythm of the rain
26/12/2014



Sabtu, 20 Desember 2014

Sisi Lain Sisy


           Kupandangi punggung kecil didepanku itu, berjalan tanpa suara dan seperti juga tanpa ekspresi. Untuk ukuran orang yang baru dua jam lalu pingsan, dia terlihat sudah bugar. 
Huuuhh... aku bahkan belum bisa melupakan kejadian tadi, saat tiba-tiba dia pingsan saat aku ada didekatnya, dan itu bukan sebuah kesengajaan seperti saat ini. Tapi aku sadar, tanpa pernyataannya tadi , mungkin aku akan kena masalah
" Apa? Ibu bilang aku mau menjahati Sisy? Apa aku punya tampang seperti itu?" Desisku pada Bu Aida, dosen konseling kampus.
" Bukankah itu ciri khasmu?" Sanggah Bu Aida telak,
Aku tersenyum kecut, 
Sebejat-bejatnya aku, tak mungkin aku berbuat tidak baik pada Sisy, dia salah satu dari segelintir teman kampusku yang memandangku lain. Lagipula Sisy sering meminjamiku catatan makul kalo aku lagi bolos kuliah. Paling tidak, aku cukup menghormati gadis ini, diluar dia adalah anak salah satu pemilik saham kampus ini, dan kakaknya juga seorang pengacara. 
Sisy adalah salah satu bintang dikampus ini, memang untuk ukuran wajah dia tetap satndart, tapi soal IQ dan partisipasinya dalam berbagai kegiatan membuatnya seperti artis kampus. Mungkin semua orang dikampus ini mengenalnya dengan baik. Mulai dari tukang sapu kampus, satpam kampus,dosen dan rektor, mahasiswa mulai tingkat paling awal sampai yang mau lulus, bahkan penjual asongan di depan kampus pun pasti mengenal Sisy.Dan tentu saja dengan pribadinya yang baik, tidak sombong, suka menolong, dan selalu bersahaja. Dia andalan di setiap program amal dan kegiatan kampus lainnya. Entah darimana energi yang membuatnya aktif seperti itu, yang pasti Sisy memang pantas diacungi jempol dalam segala hal. Dan satu lagi, dirumahnya pasti ada lebih dari 1-2 mobil, tapi Sisy lebih sering naik bus, kadang kala saja terlihat diantar kakak laki-lakinya yang pengacara itu.
" Ini tak ada kaitannya dengan Bram." Sela Sisy tiba-tiba, entah kapan dia tersadar dari pingsannya karena beberapa menit sebelumnya aku masih melihat matanya tertutup.
" Owwhh... Ya sudah kalo begitu. Aku percaya yang kau katakan." Ujar Bu Aida kemudian berlalu.
Aku tergelak tak percaya.
" Hah? Sisy hanya bilang begitu anda langsung percaya? Apa ini tidak keterlaluan? Anda percaya aku tak melakukan kejahatan kalo orang lain yang bilang?" Protesku diiringi gelak pahit. Tapi siapa yang mau mendengarku? Aku terkenal mahasiswa badung, bahkan dicap playboy kelas kakap yang selalu mempermainkan cewek-cewek. Huuuffttt....
Dan untuk rasa terimakasihku karena Sisy sudah 'membawaku' keluar dari jebakan dosen konseling, aku menawarkan diri mengantarnya pulang ke rumahnya. Tapi lorong gang sempit ini bukan jalan menuju rumahnya. Karena setahuku, Sisy tinggal di real estate mewah.
" Sisy..." Panggilku tetap berjalan mengikutinya.
Sisy hanya berdehem pendek, tak berhenti atau sekedar menoleh ke belakang. 
Sebenarnya aku malas sekali berjalan dibelakang orang yang kuajak bicara, tapi mau bagaimana lagi, lorong gang ini terlalu sempit, tak cukup untuk berjalan 2 orang beriringan.
" Kita sebenarnya mau kemana? Tadi aku kan menawarimu pulang." Tanyaku akhirnya, karena lama-lama aku tak bisa menahan rasa ingin tauku, kenapa Sisy malah ke tempat lumayan kumuh begini.
Belum juga Sisy menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada sebuah seruan dari seseorang di sebuah loteng,
" Sisy, makin cantik saja kau!" 
Seruan itu seperti sebuah sapaan familiar untuk orang semewah Sisy, bahkan aku pun belum cukup berani menyapa begitu. Tapi pemuda di loteng itu berani, dan Sisy hanya menanggapi dengan senyum lebar dan melambai. Lalu melangkah lagi. Tak hanya itu, beberapa orang, paruh baya atau seumuran kami pun banyak yang menyapa Sisy, dan anehnya Sisy menanggapinya dengan sangat gembira. Kontras sekali dengan mimik wajahnya saat berhadapan dengan kakaknya tadi.
" Jangan terlalu banyak berfikir, nanti kau juga akan tau, dan kuharap setelah tau kau jangan terlalu kaget. Dan..." Sisy spontan membalikkan tubuhnya, terang saja aku kaget dan berhenti mendadak.
" Tak perlu katakan pada yang lain tentang kunjunganku ke tempat ini." Lanjutnya serius
Alisku terangkat.
" Bukan soal aku malu, tapi aku hanya malas kalo terdengar keluargaku."
" Hah?" Tak sadar aku menganga.
Sisy kembali melangkah, menuju sebuah rumah kecil lagi sangat sederhana. Tangannya hendak membuka handle pintu tapi sepertinya terkunci. Sisy lalu duduk di kursi kayu yang usang disebelah pintu.
" Rumah siapa ini?"Tanyaku ikut duduk.
" Ibuku"
Mataku memicing. Jujur, aku benar-benar kaget.
" Ibu? Bukannya mamamu pemilik salon yang cukup terkenal itu?"
" Tidak. Wanita itu bukan siapa-siapa, selain orang yang aku benci." Kata terakhirnya cukup membuat suasana hati Sisy makin berbeda dari biasanya yang kukenal, wajahnya tertunduk.
Aku tak menyangka saja, ternyata Sisy sang malaikat kampus itu, yang selalu terlihat serba bisa, enerjik, dan seperti matahari ceria itu punya sisi lain dalam raut wajahnya. Wajah yang sendu, penuh kesedihan.
Aiiiiiiiissshh...... apa pula ini? Kenapa aku jadi lebay begini? Rutukku
" Sisy..."
Kami berdua kaget dengan sapaan itu. Kami mendongak, sekitar 2 meter dari tempat kami duduk ada seorang ibu paruh baya berjilbab lebar dan gamis murahan menenteng sebuah box makanan.
" Ibu." Seru Sisy bangkit mendekat.
Aku melongo lagi.
Ibu?!
Sisy mengambil alih box makanan itu dari tangan wanita bernama "ibu" itu, lalu Sisy mencium tangannya dengan lembut.
" Sudah kesini lagi, nanti ayahmu mencari." Kata wanita paruh baya itu seperti khawatir
" Makin hari dia makin sayang dengan uangnya, bukan dengan anaknya" Sungut Sisy manyun, aku sampai tersenyum kecil melihat ekspresi childish itu.
" Eehh... tak boleh begitu."
" Apanya yang tak boleh? Ibu tau dimana dia seminggu ini? Ke malaysia, dan dia tak pernh sekalipun menelponku. Apa itu namanya?" Kali ini ekspresinya berubah marah
" Ya itu kan karena sibuk."
" Ibu... kenapa sih selalu membelanya? Dia itu jahat!" Sergah Sisy, makin geram.
Wanita paruh baya itu kemudian menyadari keberadaanku, menatapku sekilas, aku tersenyum kecil.
" Dia teman kuliahmu?"
Sisy mengangguk, 
" Tadi aku kurang enak badan, dan dia menawariku mengantarku, jadi ya kusuruh dia mengantarku kesini"
" Kurang enak badan?" Ulang sang Ibu.
" Tak apa, paling cuma kecapekan kemarin habis koordinir kegiatan amal" Timpal Sisy berbohong. Padahal aku tau pasti kemarin tak ada jadwal apapun di kampus.
Sang Ibu melangkah masuk rumah setelah membuka kunci pintunya.
" Masuklah, tapi rumahnya sangat sederhana" Ucapnya padaku, aku hanya mengangguk

Dan rumah ini memang sangat sederhana. Ruang tamu hanya berisi 2 buah kursi sedang mengapit meja kecil disudut ruangan. Lalu ada ruang lain tersekat, mungkin kamar tidur. Dan disisi ruang itu seperti dapur. Tapi meskipun sederhana dan sempit, tetap rapi dan bersih. Tapi yang terlihat janggal, meskipun orang tua Sisy tidak bersama lagi, bukankah seharusnya Sisy bisa membantu agar kehidupan ibunya lebih baik? 
" Sy,..." Panggilku berbisik,
Lagi-lagi Sisy hanya berdehem, dia lebih sibuk memberesi bawaan ibunya tadi
" Itu benar ibumu?"
" Hmmm.. ibu yang melahirkanku."
" Lalu..."
" Bu... kenapa dagangan ibu masih banyak?" Seru Sisy pada ibunya, memotong rasa penasaranku.

Kupandangi wajah enerjik itu, sungguh diluar dugaanku bahwa Sisy yang sehari-hari kulihat ternyata dulu berasal dari rumah kecil ini. Dan meski sudah belasan tahun dia meninggalkan rumah ini dan pindah ke istana besar tapi tetap saja dia mendatangi rumah ini. Pasti Sisy sangat mencintai tempat ini. Dan yang tinggal disini tentunya.
Intinya, tak ada yang akan menyangka tentang yang kuketahui hari ini tentang sisi lain kehidupan Sisy. Andai ada yang tau mungkin banyak yang tak peduli. Dan kalo ada yang peduli, mungkin karena ingin memcemoohnya.
" Kenapa kau percaya kalo aku tak akan mengatakan semua ini pada yang lain?" Tanyaku serius. Paling tidak, aku memang harus tau alasan Sisy mengajakku kesini, karena ini pertama kalinya Sisy mengajak orang lain dari dunianya sekarang berkunjung ke dunianya yang ini.
Sisy yang asyik menikmati kue pastel menatapku sekilas, tapi seperti masih ingin menghabiskan sisa pastelnya sebelum menjawab pertanyaanku tadi.
" Kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan. Jadi jangan terlalu memikirkan kenapa aku mengajakmu kesini." Jawabnya dengan seulas senyum.
" Bu, aku antar ini ke tempat Ayla ya..." Pamitnya sembari berdiri.
Terdengar sahutan mengiyakan dari dalam kamar.
" Aku pergi ke depan sebentar ya." 
Aku mengangguk pelan.

Mungkin bagi Sisy masih banyak hal yang lebih besar dan lebih rumit untuk dia pikirkan daripada memikirkan alasan mengajakku ke dunia asalnya. Dan memang benar, kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan, karena kadang alasan itulah yang justru mengubah sesuatu dari sifat hakikinya.
Sekarang aku mengerti kenapa Sisy begitu giat dalam segala kegiatan amal dan kegiatan lain di kampus. Kenapa dia tetap hidup bersahaja, lebih suka naik bis ke kampus dan bersikap seadanya, meski kenyataannya dia bisa hidup mewah dan semaunya. Karena dia punya sisi lain dalam hidupnya yang bertentangan dengan dunianya yang sekarang.




love, life, and the reason



Senin, 01 Desember 2014

TENTANG AKU, KAU, DIA & HATI KITA

     Kumatikan mesin motorku ditepi jalan taman kota ini. Mataku dengan mudah menemukan sosok yang memang sedang kucari. Dia ada disebuah kursi taman di dekat jajaran pohon akasia sana. Duduk terpekur sendirian. Seperti menunggu seseorang dengan setianya meski senja mulai merayapi cakrawala. Seperti yakin, orang yang ditunggunya pasti akan datang meski terlambat cukup lama dan sangat menyita semua ketenangannya.
   
      Namanya Lira, rumah kami hanya berjarak beberapa rumah tetangga. Sejak kecil sudah menjadi teman bermainku, masuk bangku sekolah pun selalu sekelas.  Hanya kemudian masuk bangku kuliah kami beda jalur fakultas. Aku mengikuti bakatku di arsitektur dan dia menekuni kegemarannya di dunia teater. Tapi kami masih sering bersama. Berangkat kuliah bersama, ke kantin saat istirahat, dan kadang pulang pun bersama. Semua tetap tak ada perubahan meski usia kami sudah berjalan begitu jauh, sampai kemudian sosok Hanung menyelinap diantara kami.
Memang selama belasan tahun mengenal Lira, aku tak pernah sedikitpun berhasil menjamah salah satu sisi hidupnya, yang sangat penting. Kehilangan figur ayah diusia yang baru 3 tahun membuat Lira tak pernah mau membuka hatinya untuk pria manapun. bahkan untukku yang selalu setia menjadi bayang-bayangnya. Tapi saat bertemu Hanung, teman sekelasku dikampus, aku tau ada seberkas cahaya indah yang ingin Lira raih bersama Hanung. Dan ternyata melihat orang yang paling kita sayangi tersenyum bahagia, meski bukan dengan kita, adalah sesuatu yang sangat istimewa.

       Aku turun dari motorku dan melangkah mendekati Lira yang masih belum menyadari kedatanganku. Semakin dekat aku semakin merasakan dadaku sesak. Apalagi saat teringat yang kulihat tadi diperempatan lampu merah sana. Hanung satu mobil dengan gadis lain.
Langkahku terhenti seketika saat tiba-tiba Lira menoleh dan mendapatiku.
" Endru..." 
Aku cukup salah tingkah mendapati sinar matanya yang semula sedih dan gelisah dipaksakan berubah lain.
" Aku kebetulan lewat tadi dan melihatmu sendirian disini. Sudah hampir petang, siapa tau kau mau membonceng pulang." Kataku berbohong.
Tergelar senyumnya yang sejak kecil sampai sekarang selalu sama, dipaksakan terlihat manis.
" Kau pulang saja dulu, aku masih menunggu Hanung."
" Kemana memangnya Hanung?" Tanyaku, pura-pura tak tau kemana Hanung.
Sesak dadaku kian menghebat menahan rasa amarah.
" Dia pergi sebentar."
" Kemana?"
Lira diam sebentar, menggigit bibir bawahnya sedikit. Seperti mengumpulkan sebuah tenaga untuk melanjutkan penjelasannya.
" Mengantar Angel pulang."
Aku tergelak tak percaya, Lira menatapku protes.
" Apa-apaan ini Lir, kau tau siapa Angel?"
Lira menunduk sembari mengangguk.
" Kalau tau kenapa membiarkan Angel dekat-dekat dengan Hanung? Jangan-jangan kau juga akan diam saja kalau Angel meminta Hanung darimu." Geramku kesal
" Kalau itu juga kemauan Hanung dan membuat Hanung jauh lebih bahagia, kenapa tidak Ndru?"
Aku tertawa tak percaya. Lira menatapku sejenak.
" Apa-apaan ini Lir? Kau bukan malaikat, kenapa harus jadi sangat mengalah begini? Hanung itu pacarmu, kau berhak melarangnya pergi dengan siapa, sekalipun itu mantan pacarnya saat SMA yang masih punya perasaan padanya." Dan aku merasa makin geram.
" Tapi siapa yang bisa mengikat hati orang Ndru? Meskipun Hanung pacarku tetap saja hatinya tetap miliknya sendiri, dia tetap berhak penuh mengikatkan hatinya pada siapa. Paksaan tak kan menghasilkan sesuatu yang baik selain rasa sakit." Sanggahnya.
Aku terpaku mendengar ucapannya.

        Mungkin secara pribadi Lira memang punya masalah serius tentang hati. Tapi aku tak menyangka akan sedalam ini efek yang ditimbulkan dari semua itu, hingga membuat Lira menjadi sosok yang begitu pasrah pada kemauan hati.
Dan ini makin membuat hatiku sakit.
" Lir..." Panggilku lirih,. perlahan mendekatinya dan berjongkok dihadapannya.
" Dibanding Hanung, aku jauh lebih mengerti dirimu. Dan mungkin perasaanku pun jauh lebih besar daripada yang dimiliki Hanung. Tapi, saat melihatmu bersama Hanung aku merasa kebahagiaan dimatamu jauh lebih jelas kulihat. Aku baru sadar kalau aku juga tak jauh beda denganmu, Sama-sama tak punya keberanian memaksa hati orang lain terikat pada kita, sekalipun dia yang paling kita sayangi."
" Ndru, jangan bicara begitu" Kilah Lira tak suka.
Aku tersenyum kecil.
" Kita ini orang-orang yang bodoh, jelas-jelas mencintainya tapi kenapa begitu rela dia bersama orang lain, hanya beralasan karena mungkin dia bisa lebih bahagia dengan yang lain. Apa ada yang salah dengan hati kita?" Lanjutku apatis
" Ndru...." Desis Lira meraih tanganku,
Dan kulihat, cahaya dari bola mata bening itu kian mengikatku lebih erat, membuat dadaku kian sesak rasanya.
" Sejak kecil aku paling tak suka melihatmu berwajah murung bahkan sampai menangis. Rasanya dadaku begitu sulit bernafas melihatmu begitu. Sampai sekarangpun tetap begitu. Aku tak tau kenapa."
" Ndru, aku..."
" Dan aku sebenarnya tak pernah suka kepura-puraanmu. ekspresi wajahmu yang kadang kau ubah dengan tiba-tiba. Senyummu yang sering memaksakan diri. Juga ketegaranmu yang terlalu kamuflase. Aku tau semua itu, dan aku sangat tidak suka itu. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, karena selebihnya adalah hakmu begitu."
Lira mengenggam jemariku lembut dengan seulas senyum kecil.
" Seperti saat ini.." Lanjutku berhasil membuat senyum kecilnya mengabur
" Kau terlalu memaksakan diri untuk tegar menghadapi ini. Kau terlalu menyiksa dirimu sendiri untuk kebahagiaan orang lain."
Lira menunduk menghindari tatapan penghakimanku.
" Jangan bersikap begini Lir. Aku juga ada diposisi seperti ini, dan aku tak ingin kau juga merasakan kesakitan ini. Aku tau kau tak setegar itu. "
Lira mendesah berat.
" Andai kita bisa memilih kepada siapa hati kita terikat, pasti tak kan serumit ini. Kita akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Tak perlu ada penderitaan diatas kebahagiaan orang yang kita sayangi. Tapi nyatanya memang begitu rumus kebahagiaan, berdiri diatas penderitaan yang lain."
" Kadang aku berharap bisa mencintaimu seperti cintaku pada Hanung" Ucap Lira seperti berkhayal.
Aku tertawa lirih. Sekilas memang ada semburat bahagia mendengar pernyataan semu itu, tapi secepatnya aku tersadar.
" Aku serius Ndru. Kau satu-satunya orang yang paling mengenalku. Tapi..." Suara Lira menghilang
" Tapi kita bahkan seperti tak punya hak mengatur pada siapa hati kita terikat kan?" Ungkapku melanjutkan jabarannya.
Lira bungkam, hanya sinar matanya yang berusaha mengungkapkan sebuah kalimat yang lain.
Aku bangkit,
" Tenanglah Lir, aku tak masalah kau mengikat hatimu pada siapa, yang penting kau bahagia. Karena bagiku, melihatmu bahagia jauh lebih membuatku tenang daripada kau bersamaku dengan wajah muram."
" Kau sama saja sengaja meletakkan kebahagiaanku diatas penderitaanmu  Ndru," Keluh Lira.
Aku tersenyum seyakin mungkin.
" Mau bagaimana lagi, aku tak punya mengatur hatiku sendiri."
Lira meraih jemariku, meremasnya lembut. Dan senyumnya lagi-lagi terlihat memaksakan diri untuk menyetujui ini.

Senja sudah menutup sempurna, lampu-lampu taman disekeliling kami sudah menyala. Dan ternyata, Hanung belum datang juga. Mungkin Lira tak setegar yang terlihat, tapi pasti dia lebih tegar dri yang kukira. Karena menghadapi hati yang rumit begini tak semudah yang dibayangkan.






semoga ini jadi desember ceria
1 desember 2014





Jumat, 28 November 2014

BUKAN TENTANG DIA

             Kuseruput lemon tea didepanku sedikit. Rasa asamnya yang berbalut manis langsung menyeruak memenuhi rongga kerongkonganku. Hampir serupa dengan semua ulasan Tarinda tadi pagi, yang langsung meracuni seluruh relung hatiku.
" Kau benar tak mau pesan spagetti disini? Spagettinya mantap lho, spagetti ditempat mas Fajar kalah jauh. " Cerocos Ersan.
Aku menggeleng pelan sambil menyeruput lagi lemon tea ku, dengan perasaan yang masih campur aduk. Wajah Tarinda masih berlalu lalang di otakku.
" 2 tahun lebih kami pacaran. Ersan tau semua kesukaanku, lemon tea, spagetti, Padi,.."
Selebihnya kata-kata Tarinda seperti mengambang tak jelas kudengar. 
Yang buat aku heran kenapa semua kesukaan Tarinda sama persis dengan kesukaanku. Siapa itu Tarinda, bahkan aku baru kenal namanya 10 menit yang lalu saat dia mendatangi tempatku duduk dibangku taman ini. Yang mengaku mantan pacar Ersan.
Aku tergelak mengingat kejadian itu. Ternyata selama ini aku memang terlalu naif pada Ersan, blesteran jawa-sunda itu yang 2 bulan ini memang terlalu dekat denganku. Padahal kami bersama hanya karena pekerjaan yang harus kami selesaikan.
" Kau kenapa sih Di?" Tanya Ersan mulai risi dengan sikapku yang lebih banyak diam.
Kutatap Ersan sebentar, lalu pura-pura lebih sibuk mengaduk-aduk lemon tea.
" Aneh tau, biasanya cerewet banget, tapi ini malah.."
" Tadi pagi aku ketemu Tarinda." Selaku dingin, menghentikan ucapan Ersan. Aku mendongak dan menemukan Ersan menatapku lekat dengan sinar yang menurutku begitu aneh.
" Kenapa gak balikan lagi dengan dia?" Tanyaku sedikit menahan nafas.
" Gak." Jawab Ersan acuh,
" Kenapa?"
" Penting ya untuk aku jawab?" Intonasi Ersan jadi sedikit naik,
" Gak juga sih, cuma Tarinda kan cantik, putih, baik, sopan, dan yang pasti dia sudah mengenalmu dengan baik." Lanjutku, kali ini sedikit menahan sesak dadaku.
" Trus kenapa?" Sungut Ersan.
" Dulu, saking ngefansnya aku sama band Padi, Tiap Padi konser Ersan sampai bela-belain mengajukan diri meliput. Biar dapat foto eksklusif untuk aku." Kenang Tarinda
Trus, apa kaitannya denganku coba? Itu kan masa lalu kalian. Dengusku membathin jengkel.
" Ohya?" Tanggapku sedikit malas,
" Bahkan kalo bisa Ersan selalu mencari kesempatan emas agar mereka mau foto denganku." Tarinda tetap antusias bercerita. " Ersan memang yang peling mengerti aku"
Kulirik sedikit ke arah raut muka Tarinda yang cukup berubah drastis.
" Kenapa kalian berpisah?" Tanyaku datar,
Dan ekspresi yang ditunjukkkan Ersan sangat berbeda dengan raut muka Tarinda tadi pagi.
" Apa itu penting untuk kau tau?" Desis Ersan ketus.
Kuhindari tatapan geram yang tak kusukai  itu
" Tidak juga, aku hanya heran saja. Kalau kalian putus karena kau tak mencintainya lagi. Tak mungkin kau meratapinya setahun lebih."
" Hei..." Sergah Ersan
" Dan..." Kuangkat tanganku mencegahnya bicara " Kalo Tarinda yang tak mencintaimu lagi, kenapa juga dia masih mengingat semua kenangan kalian."
Ersan menatap lekat ke arahku, membuatku tiba-tiba rikuh.
" Percintaan tak segampang itu Di. Kau tak akan mengerti."
Aku tergelak.
" Aku ingin kembali pada Ersan."
Statemen lugas tadi pagi itu benar-benar seperti asamnya rasa lemon tanpa campuran gula.
" Aku sadar aku pernah mengecewakannya karena meninggalkannya disini demi karierku, tapi kemudian aku sadar bahwa aku salah, karena tak ada yang bisa mengerti aku sebaik Ersan."
Dan curahan hati Tarinda tadi pagi menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku terlalu naif pada semua sikap Ersan. Mungkin saja dia melihat sosok tarinda dalam kesukaanku. Bodohnya aku.
Tapi.....Kenapa Ersan seperti tak suka dengan kepulangan Tarinda? Apa karena aku?
Heiii.....???! Hardikku, dan itu membuatku spontan tergelak bodoh.
Aku siap-siap beranjak.
" Kau mau kemana? Kau marah dengan sikapku tadi?" Berondong Ersan seperti usaha mencegahku pergi.
Aku diam sebentar, lalu mendesah meletakkan tasku lagi.
" Dengar Er, aku masih tak  mengerti alasan Tarinda menemuiku. Dia cerita semua kenangan kalian, dan dia juga katakan padaku tentang niat dia yang ingin kembali padamu. Dan aku tak peduli itu semua." Geramku, 
Ersan menatapku lekat, dengan sinar yang tak bisa kuterka mengartikan apa.
" Aku hanya tak suka aku dilibatkan dalam masalah kalian. Aku malah sadar satu hal, kalo aku ini hanya kau jadikan bayang-bayang Tarinda karena kesukaan kami yang sama" Lanjutku makin geram.
" Dian, aku...." Susul Ersan, tapi kemudian suaranya menghilang begitu saja.
Aku merasa ada perasaan aneh yang ingin diungkapkan Ersan, sangat aneh. Bahkan aku tak mengenali namanya.
" Aku tak mungkin lagi bersama Tarinda." Lanjut Ersan sedikit lirih sedikit menunduk.
2 bulan dekat dengan Ersan ternyata tak cukup membuatku mengerti jalan pikirannya, meski  hanya sedikit saja. Ersan memang pribadi yang misterius, tak banyak bicara. Tapi aku tak menyangka banyak sisi hatinya yang tak terjamah oleh orang lain.
" Er, aku tak pernah ingin jadi orang ketiga diantara kalian. Aku hanya orang baru yang tak sengaja lewat dalam kehidupanmu. Aku tak pernah sengaja punya kesukaan yang sama persis dengan Tarinda. Aku..."
" Dian, ini bukan tentang dia." Sergah Ersan dengan intonasi yang tinggi.
Mataku pun lekat menghujam pandangannya yang juga menatapku lekat. Menyiratkan ketidaksukaannya, entah pada apa.
" Aku juga tak pernah berharap kau punya kesukaan yang sama dengan dia. Awalnya aku juga tak bisa terima itu. Tapi percayalah, semua ini bukan tentang dia. Aku merasa nyaman dekat denganmu juga bukan karena kau juga menyukai lemon tea. spagetti, bahkan juga bukan karena kau fans Padi. Bukan, Di." Aku Ersan dengan suara tertahan.
Aku tergelak sedikit tak percaya, karena selama ini seperti dipermainkan kehidupan.
" Di...Kau tau kan makna dari namamu?"
Aku mengerutkan dahi.
" Dian artinya cahaya, lentera, dan kau, kehadiranmu seperti cahaya untuk duniaku. Aku memang terpuruk dengan kepergian Tarinda dulu. Dan memang terlalu lama meratapi semuanya di sudut duniaku yang gelap. Tapi sapaanmu 2 bulan lalu itu menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tidak hanya pada Tarinda. Apa aku salah?" Lanjut Ersan membuatku terbengong tak bisa berfikir.
" Apa ini tidak terlalu naif?" Tanyaku akhirnya
Ersan tak menjawab, hanya mendesah panjang.
" Tarinda meninggalkanku karena ingin menjadi model terkenal di ibu kota. Dia bahkan tak peduli perasaanku waktu itu. Dia hanya peduli kebahagiaannya saat mendapat kesempatan itu. Baginya cinta hanya selingan, tak begitu penting. Apa aku harus menerima lagi orang yang  sudah meninggalkanku? Yang menganggapku tak begitu penting?" 
" Lalu kenapa aku? Apa karena kami punya banyak kesamaan?"
" Tidak."
" Lalu?"
" Apa itu penting?"
" Cukup penting, paling tidak bagiku. Karena aku tak mau dianggap seperti bayang-bayang Tarinda."
" Harus berapa kali lagi kubilang, ini bukan tentang dia, Di!"
Aku diam. Menikmati sisa kemarahan Ersan yang tadi sempat membuyar.
" Kenapa begitu banyak hal yang kau sembunyikan dalam hidupmu, Er? Kenapa banyak sudut dalam kehidupanmu yang begitu tak terjamah orang lain? Aku bahkan lebih bisa memahami Tarinda yang baru kukenal tadi pagi daripada kau yang sudah 2 bulan akrab." Keluhku kesal
" Kadang ada beberapa hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata yang jelas. Karena semua bisa diperjelas seiring berjalannya waktu. Untuk saat ini kau hanya cukup tau, kau jauh lebih berarti untuk hidupku daripada Tarinda. Dia hanya masa lalu, dan kau, aku ingin kau jadi masa depanku."
Tak sadar aku tersenyum mendengar penuturan Ersan barusan.
'' Tak apa kan kalo masa depan yang akan kita tuju belum begitu jelas?'' Tanyanya seperti takut sebuah keraguan.
Aku nyaris tersenyum setuju, sebelum kemudian wajah cantik Tarinda melintas.
" Lalu Tarinda?" Tanyaku membuat raut muka Ersan sedikit memburam.
" Dia yang memutuskan meninggalkanku , aku tak punya kewajiban memikirkan bagaimana dia selanjutnya."
" Kau kejam sekali."
" Apanya yang kejam?" Ersan tak mengerti dengan tuduhanku.
" Tak peduli Tarinda."
Ersan tergelak, 
" Aku bukan Tuhan yang harus selalu peduli perasaan semua orang. Aku juga punya kehidupan yang tak mungkin dipikirkan orang lain. Hidup itu memang penuh keegoisan Di."
Aku termangu lagi. Tapi kali ini lebih lama. Banyak hal yang tak kumengerti dari Ersan.
" Er, aku..." Kutata hatiku sejenak " Aku tak bisa." Lanjutku bangkit.
Ersan sontak kaget.
" Maaf, tapi kau sendiri kan yang bilang, percintaan tak segampang itu. Aku tak mempermasalahkan masa depan yang akan kita tuju belum jelas, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi aku justru takut tak bisa memahamimu sampai kapanpun.''
Sepi beberapa detik, mungkin Ersan sedang menggerutu dalam hati.
" Tarinda yang merasa sangat memahami dirimu pun akhirnya menyerah, meski dengan jalan yang terpilih. Yang tak bisa kau terima. Sedang aku, sedikitpun aku tak bisa memahamimu Er. Aku tak mau memaksakan diriku mencoba memahami banyak sisi hidupmu yang kau rahasiakan, karena aku tau pada akhirnya aku pun pasti menyerah seperti Tarinda. Aku ataupun Tarinda, bukan orang yang kau percaya boleh memasuki duniamu yang sangat istimewa itu Er."
Ersan tergelak sinis
" Ini tidak adil Di. "
" Maksudmu aku kejam?" Ralatku,
" Bukan maksudku membuat karma untukmu Er. Tidak, itu bukan hakku, karena aku hanya manusia bukan Tuhan. Aku hanya tak punya kewajiban memikirkan perasaan orang lain sememntara aku mengorbankan perasaanku. Bukankah hidup itu penuh dengan keegoisan?"
Bungkam, Ersan tak menanggapi semua 'ceramahku'.
Aku perlahan beringsut meninggalkan tempat itu tanpa berkata lagi pada Ersan yang seperti sibuk menelaah semua kata-kataku.
Mungkin aku memang terlalu kejam, tapi kadang memang ada beberapa hal yang tak perlu penjelasan karena seiring waktu berjalan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Tapi yang pasti aku menolak Ersan bukan karena kedatangan Tarinda. Kedatangan cewek cantik itu hanya sesuatu yang memperjelas alasanku. Seperti halnya lemon tea, asam yang bercampur manis, manis yang terbalut asam. Mungkin begitulah sebenarnya jabaran dari percintaan.





Kamis, 30 Oktober 2014

LOVE IS YOU

             Sepuluh menit sudah berlalu tapi suasana di tepi lapangan futsal itu masih hening juga. Sesekali terdengar suara bola futsal menggelinding dari tangan Niko. Mungkin untuk mengusir kegalauan karena Erin yang sejak tadi duduk didepannya tak juga bicara. Hanya terpekur diam menatap lantai lapangan. Niko pun tak berani bertanya.
Erin mendesah berat, membuat Niko langsung mengarahkan pandangannya ke Erin. Tapi tetap tak langsung ada suara. 
" Aku..." Suara Erin menghilang lagi. Niko masih sangat sabar menunggu. Sangat.
" Ini sangat tidak adil Nik, aku benci ini" Kali ini kalimatnya sempurna, menyatakan kekecewaan yang dalam.

Sekilas mata Niko melintasi jemari tangan Erin yang sejak tadi gelisah. Seminggu lalu, saat Niko menemuinya di depan rumahnya, Niko masih melihat sebuah cincin mahal yang indah menghiasi jari manis tangan kiri itu. Kini jari manis itu sudah kembali polos. Dan jujur, ada sisi bathin Niko yang bersorak gembira. Meski sisi lainnya sangat tersiksa melihat gadis yang paling dicintainya ini begitu sedih karena ini.
" Aku tak mau kehilangan dia, Nik. Aku tak rela Fatan meninggalkanku demi gadis yang baru sebulan dikenalnya." Ungkapnya egois.
Egois dalam kesakitan. Begitu tepatnya.
" Apa itu yang kau sebut cinta, Rin?" Tanya Niko tak lepas menatapnya.
 Erin menatap Niko perlahan,
" Mungkin bukan, mungkin itu posesif. Tapi itulah kenyataannya." Akunya polos.

Sebenarnya aku pun bisa bersifat posesif begitu, bathin Niko.
Aku pun sebenarnya tak rela saat Fatan memilikimu, bahkan sampai melamarmu. Aku lebih tak rela melihat kau begitu berbinar kala menceritakan kisahmu dengan Fatan. Siapa Fatan? Dia hanya mantan kolega kerjamu. Sementara aku adalah orang yang telah lama menemanimu. Ungkap Niko tetap dalam hati.
Dan sekarang, kau menerima karma itu. Kau mau tak mau harus menerima kenyataan saat Fatan jatuh cinta dengan cinta lain yang baru sebulan dikenalnya. Maaf, Rin, bukannya aku senang kau merasakan pula apa yang kurasakan selama ini, tapi....
Niko mendesah panjang, lalu bangkit dan duduk disebelah Erin.
Niko menepuk bahunya sendiri membuat Erin menoleh.
" Ini bahuku, siap kapanpun untuk kau pinjam kalau kau butuh tempat bersandar." Tegas Niko tanpa menoleh ke arah Erin.
Erin tersenyum bahagia. Lalu perlahan kepalanya bersandar ke bahu Niko.
" Terimakasih ya Nik, kau selalu ada saat kubutuhkan. Kau selalu punya cara untuk menghibur kalau aku sedih begini."

Sayang, kau tak pernah menyadari  bahwa akulah selama ini yang seharusnya kau cintai. Atau mungkin kau memang tak peduli dengan rasa cinta tulusku, karena kau sedikit lebih tua.
Beda 1 tahun saja selalu jadi alasanmu kalau kau tak pantas untuk kucintai. Memang apa salahnya? Aku juga bisa bersikap jauh lebih dewasa dari Fatan yang umurnya 4 tahun lebih tua darimu. Dengus Niko, tetap dalam hati.
Niko mendesah lagi. Membuat Erin bangkit dari sandarannya, dan menatap Niko.
" Ada apa?" Tanya Erin
Niko ikut menatap Erin. Sinar matanya seperti memancarkan ketidak senangannya atas pertanyaan Erin barusan.
" Ada apa? Harusnya aku yang tanya ada apa? Kau tiba-tiba datang mencariku ditempat begini, dengan keadaan seperti anak kecil kehilangan boneka kesayangannya. Tapi setelah ketemu aku, diam saja seperti patung." 
Erin menatap Niko minim ekspresi menanggapi semua ocehan yang mirip ocehan seorang ibu kepada anak gadisnya.
" Waktu jari manismu tiba-tiba melingkar sebuah cincin, kau tak beritahu aku kapan itu terpakai, tau-tau kau sudah memamerkannya padaku, bilang kalau Fatan melamarmu. Dan sekarang, cincin itu sudah tak ada kau pun tak beritahu aku kapan itu terjadi. Tau-tau kau kesini dengan wajah sangat sedih. Kau pikir aku suka semua ini? Sekarang siapa coba yang masih seperti anak kecil?" Berondong Niko dengan emosi.
Erin melonggo.
" Dengar Rin," Desis Niko memegang kedua bahu Erin.
" Jika aku tak pernah diijinkan membahagiakanmu, jangan selalu buat aku melihatmu sedih karena orang lain. Itu namanya menyiksaku dua kali!" Aku Niko tegas.
Erin tetap tak bereaksi. Tetap bungkam.
" Sudahlah, ayo kita cari makan, laper nih.." Sergah Niko tak mau lama-lama melihat Erin seperti itu,
Niko mendahului bangkit , memberesi tas olahraganya dan mengambil bola futsalnya. Tapi mendadak Erin berhambur memeluk Niko dari belakang. Niko diam tak bereaksi, hanya kemudian bola futsal ditangannya terlepas,menggelinding ke sisi tepi lapangan yang lain.
Sepi untuk beberapa detik.
" Aku tak mau egois Rin. Aku juga tak mau posesif. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, terserah dengan siapa. Memang tak mudah, tapi buktinya selama ini aku bisa dan aku yakin aku masih bisa." 
Erin mempererat pelukannya.
" Cukup Nik, jangan buat aku seperti orang paling jahat sedunia. Aku memang egois, aku juga posesif, aku tak pernah mencoba mengerti apa yang kau rasakan." Keluh Erin.
Niko tergelak lirih
" Siapa yang peduli? Aku tak pernah memperdulikan semua itu. "
Erin melepas pelukannya, Niko membalikkan tubuhnya dan menatap Erin dengan senyum.
" Nik, aku,...."
" Ssssttt...." Cegah Niko mengangkat tangannya, isyarat agar Erin tak melanjutkan kata-katanya.
" Hari ini terlalu banyak yang diungkapkan. Aku takut kita tak cukup banyak waktu untuk merasakannya."
Erin perlahan tersenyum. Senyum yang sangat disukai Niko.



Sabtu, 25 Oktober 2014

PELAJARAN DALAM PERJALANAN

               Sedikit sayu kupandangi kertas ditanganku, sebuah surat teguran dari atasan tempat kerjaku karena seminggu ini hampir tiap hari aku telat masuk kerja, juga banyak pekerjaan yang kocar-kacir. Jika minggu ini aku tak segera memperbaiki semuanya maka dapat dipastikan minggu selanjutnya aku akan dipindahkan dari ruang kerja ber-AC menjadi di gudang yang pengap, panas, dan tentu saja bising. Aku mendesah berat, seberat beban hidup yang kupikul saat ini. 
" Maaf, sepertinya diantara kita sudah tak ada kecocokan, kupaksa seperti apapun tetap tak kan berhasil." 
Terngiang lagi kata-kata Adis minggu lalu, gadis cantik yang sudah hampir 3 tahun ini kupacari. Dan ironisnya saat aku punya rencana ingin memutuskan membawanya dalam perahu kehidupanku, dia malah membalikkan langkahnya meninggalkanku. Tentu saja aku down, aku terpuruk sangat dalam. Dan itulah yang membuatku limbung, hilang arah, tak bisa berfikr jernih apalagi konsentrasi dalam pekerjaan. Tiap malam aku terpekur sampai hampir pagi di atas gedung rumah susun tempat tinggalku.

Kulihat kebawah, aliran sungai yang cukup deras yang melewati jembatan ini membuat pikiranku makin tak tenang. Terbesit ingin untuk pergi ke tempat yang jauh dan damai hingga tak perlu lagi merasakan semua masalah-masalah ini. Ya, mungkin itu lebih baik daripada keadaan sekarang.
Tanganku perlahan memegang balok besi pagar pembatas jembatan ini, kakiku perlahan menaiki balok besi terbawah. Semilir angin sore menerpa relung-relung jiwaku yang mulai pekat kehilangan cahaya kebenaran. Serpihan-serpihan kejadian dan orang-orang seminggu ini berlalu lalang dengan cepatnya melebihi semua laju kendaraan dibelakangku. Mataku kupejam agar semua terhenti, sampai kemudian...
" Bunda, Om itu ngapain ya?!" Suara lembut nan polos tak jauh dari belakangku seakan membuat semua yang tadinya mengepungku tiba-tiba buyar,
Kubuka mataku lagi, dan menoleh perlahan. Seorang gadis kecil berjilbab ungu menatapku penuh tanya, 
" Joe?!" Susul sebuah suara disampingnya. Mataku menatap pemilik suara itu,
" Mbak Gendhis?!" Aku hampir tak percaya menemukan wajah itu,
" Ngapain disitu?"
Aku salah tingkah dan buru-buru menurunkan kakiku, " Oh, itu...air dibawah kelihatan segar sekali, ikannya kelihatannya juga banyak," Jawabku berbohong.
Kedua wanita dihadapanku sama-sama tergelak,
" Iya tapi kan gak harus naik begitu, ntar kalo kepeleset apa gak malah bahaya?"
Tiba-tiba tekad bulat yang tadi sempat menguasaiku hilang seketika saat melihat mereka. Kamipun akhirnya mampir ke taman bermain di ujung jalan jembatan tadi. Kami duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang panjang. Kuamati perlahan wanita disampingku itu, dandanannya sangat sederhana dengan gamis dari katun dengan paduan jilbab besar menutupi seluruh tubuh atasnya. Sempat kulirik bawaannya, sebuah buket tertutup dari bahan plastik, entah berisi apa. Matanya tak lepas mengawasi bocah kecil didepan sana yang asyik bermain.
" Itu Syaffa ya mbak?" Tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku sejak tadi.
" He-em"
" Sekarang kalo gak salah umurnya 4 tahun ya?"
" Iya, 4 tahun 3 bulan lagi." Ralatnya. 
" Cepatnya waktu berlalu, perasaan baru kapan dia masih belum bisa tengkurap, waktu aku main dulu." Kataku mengingat kejadian beberapa tahun lalu. 
Perlahan wajah Mbak Gendhis menunduk, 
Ya Tuhan...bodohnya aku!! Rutukku dalam hati menyesal.

Sudah menjadi rahasia umum tentang apa yang terjadi pada rumah tangga Mbak Gendhis dan suaminya, Ardan. Sebenarnya aku tak cukup dekat dengan Mbak Gendhis, aku lebih banyak mengenalnya lewat Ardan. 
5 tahun lalu aku, Ardan, Ling, dan Danny sama-sama bekerja disebuah perusahaan art. Ardan kami anggap panutan kami, karena memang dia yang paling tua dan sudah berkeluarga. Karena begitu akrabnya kami, sering kami adakan kumpul-kumpul sekedar ngopi dan ngobrol di loteng rumahnya. Dan mau tak mau kami pun akhirnya mengenal Mbak Gendhis. Dia wanita yang sederhana, memang terlalu kontras dengan pribadi Ardan yang karismatik dan penuh magnet bagi kebanyakan wanita. Tapi menurut Ardan, banyak gadis yang menarik untuk dipilih, tapi hanya sedikit yang pantas dijadikan istri. Dan Mbak Gendhis adalah salah satu dari wanita yang pantas dijadikan istri. Awalnya aku benar-benar mengagumi semua pribadi Ardan, tapi beberapa tahun ini entah kenapa aku mulai kehilangan figur teladan itu. Saat Ardan dipindah tugaskan ke luar negeri 3 tahun lalu kami pikir itu sesuatu yang sangat istimewa bagi kami. Tapi kemudian kami memang benar-benar cukup kacau tanpa Ardan sebagai pemersatu kami. Alhasil Ling dan Danny keluar dari pekerjaan, karena prestasi yang makin menurun, dan aku sendiri, sangat tertatih melanjutkan perjalanan sendirian. Dan aku cukup terkejut saat setahun lalu mendapat kabar dari Ling kalau Ardan dan Mbak Gendhis telah bercerai.
" Apa? Mereka bercerai? Bagaimana mungkin?" Ingatku akan ekspresi keterjutanku saat aku dan Ling menyempatkan diri berkumpul disebuah kafe.
" Apanya yang tak mungkin Joe? wanita-wanita disana 10 kali lipat lebih menarik daripada Mbak Gendhis." Jawab Ling gusar,
Dari kami bertiga, Ling memang yang paling dekat dengan Mbak Gendhis. Mungkin karena lebih seringnya mereka bertemu dan lebih banyak kecocokan. Ling dan Mbak Gendhis sama-sama suka memasak, terlebih membuat kue.
Dan aku mungkin terlalu sibuk untuk mengikuti perkembangan selanjutnya. Tapi yang kudengar usai perceraian Mbak Gendhis hanya mendapat rumah sederhana penuh kenangan itu, dan tunjangan untuk biaya hidup Syaffa, hanya Syaffa.
" Bagaimana khabarmu Joe? Masih bekerja disitu kan?" Tanya Mbak Gendhis membuyarkan lamunan panjangku.
" Begitulah. Mbak sendiri? Baik-baik saja kan tinggal sendiri dengan Syaffa?" Tanyaku sedikit takut.
Yang kutau, lagi-lagi dari Ling, Mbak Gendhis sekarang berjualan kue untuk menyambung hidup. Beberapa pesanan dan sebagian dititipkan dikantin sekolah dan warung-warung. 
Tiba-tiba aku trenyuh mencermati kehidupan wanita muda ini. Seharusnya dia adalah nyonya besar dari seorang manager perusahan art terkenal. Harusnya hidupnya jauh dari kata susah. Tapi kenyataannya dia malah harus banting tulang menyisihkan gengsinya dengan menjajakan dagangannya demi menyambung hidupnya. Tak ada kata yang pantas untuk mewakili kisahnya selain kata tragis.
" Ya, beginilah Joe, cukup menghasilkan jualan kue, daripada nganggur, bisa buat beli lauk sehari-hari dan jajannya Syaffa. Kalau ada pesanan cukup banyak bisalah ditabung sedikit-sedikit.." Ungkapnya dengan sedikit senyum lebar.
Sedikitpun tak kulihat gurat lelah dan tak berdaya diwajah wanita itu. Bagaimana bisa? Hidupnya sudah begitu keras menjadi single parent untuk anak seusia Syaffa? Mungkin, itulah dulu yang membuat Ardan jatuh cinta.
" Kenapa Mbak begitu tegar menghadapi semua ini?" Tanyaku sedikit tak sadar
" Apa?" Herannya tapi kemudian seulas senyum menyusul.
" Maaf" Lanjutku.
Mbak Gendhis tak langsung menjawab. Matanya menerawang ke depan, mengamati gadis kecilnya yang bermain ayunan.
" Bagaimana aku bisa sedih kalau setiap hari aku bisa melihat malaikat kecil itu? Dia penyemangatku, dia yang membuatku terus berusaha hidup jauh lebih lama dibanding siapapun. Agar bisa menemaninya selama mungkin."
Aku terpekur mendengar semua ungkapannya. Semangat besarnya menghadapi lika-liku hidupnya yang begitu keras dan kejam hanyalah seorang gadis kecil itu? Kenapa gadis kecil itu begitu punya arti besar bagi Mbak Gendhis? Bukankah dia warisan pria yang selama ini telah memporak-porandakan sisa hidupnya? 
Tiba-tiba Syaffa berlari mendekati kami, kuamati dengan cermat malaikat kecil itu. Sungguh, hampir semua sama dengan Ardan. Matanya, bentuk alisnya, bentuk bibirnya. Secara keseluruhan bentuk setiap inci wajah Syaffa benar-benar mirip sekali dengan Ardan.
" Bunda.... kapan pulang???" Bisiknya lebih mendekat ke Mbak Gendhis, tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya.
Mbak Gendhis tersenyum " Bentar lagi , Syaffa main dulu lagi aja ya..." Balas Mbk Gendhis juga berbisik, dengan senyum kecil. Syaffa pun kembali berlari ke arah ayunan tadi.
" Mirip sekali ya Mbak," Kataku seperti bergumam, tak lepas memperhatikan Syaffa didepan sana.
" Hmmm...hampir semuanya Joe. Wajahnya, watak kerasnya, apa yang disukai dan tak disukai, mulai dari sifat, makanan, kegiatan...semuanya."
Mataku beralih ke wajah Mbak Gendhis. Matanya seperti menerawang, bukan ke pandangan depan sana tapi ke tempat yang lebih jauh.
" Kau tak membenci wajah itu mbk? Wajah yang tertinggal di wajah syaffa?"
Mbak Gendhis menatapku cepat, dahinya berkerut samar.
" Ardan sudah meninggalkan masa lalu yang kelam, bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan wajahnya yang tertinggal diwajah Syaffa?"
Mbak Gendhis tertawa kecil. Gantian dahiku yang berkerut.
" Masalahnya bukan siapa yang membuat masa lalu kita buruk, karena kita semua punya masa lalu. Perpisahan dengan seseorang bukan berarti itu buruk, karena Dia maha tahu itu apa yang tak baik untuk masa depan kita. Makanya kita dipisahkan. Bukankah sebuah hadiah tak selalu dibungkus indah? Kadang kan memang diberikan dalam bentuk yang berbeda. Tapi apapun bungkusnya tetaplah sebuah hadiah, hadiah dari Tuhan."
Aku terngungu mencermati ucapan Mbak Gendhis
" Dan kalau aku harus membenci Syaffa hanya karena semua tentangnya mengingatkanku pada Ardan, itu sangat bodoh. Justru wajah itulah satu-satunya alasan, untuk apapun. Agar aku lebih semangat menjalani hidup." Lanjutnya tandas, menatapku lekat.
Aku menunduk.
Bodohnya aku, kenapa hanya karena Adis aku harus menghancurkan hidup dan masa depanku? Bukankah seharusnya aku harus lebih baik? Menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa lebih baik meski tanpa Adis?
" Saat Dia mengambil apa yang kita anggap berharga, Dia juga sudah menyiapkan gantinya, yang jauh lebih istimewa. Saat 1 pintu tertutup, saat itu juga pintu lain terbuka. Hanya kadang, kita terlalu lama menatap pintu yang tertutup itu, meratapi kenapa pintu itu sampai tertutup. Hingga kita butuh waktu cukup lama menyadari bahwa ada pintu lain yang menunggu untuk kita datangi. "
Satu lagi tamparan kesadaran dari statement Mbak Gendhis.
" Ada banyak hal selain rasa pahit itu, Joe...."
Kutatap Mbak Gendhis,
" Kepahitan hidup itu seperti rasa obat. Memang pahit tapi bersifat menyembuhkan. Kalo bisa menelannya maka niscaya kita akan sembuh dari sakit itu."
Aku tergelak lirih, 
" Pendapatku tak salah kan?"
" Bukan pendapatmu yang salah mbk, tapi aku yang selama sudah berfikir salah tentang semua ini" Sanggahku membuat dahi Mbak Gendhis mengkerut lagi.

       Sekarang aku tau kenapa Ling bisa betah berlama-lama ngobrol dengan Mbak Gendhis. Dan bisa rela hati menolak tawaran kerja diluar jawa dan memilih hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil disini. Karena Mbak Gendhis. 
" Bunda ayo kita pulang, sudah mau magrib nih..." Rajuk Syaffa
" Iya..." Mbak Gendhis bangkit dari duduknya
" Kami pulang dulu ya, sudah mulai petang ini" Pamitnya.
Aku tersenyum mengangguk.
" Syaffa, salim dulu sama om ya. Om ini temennya om Ling juga lho."
Syaffa mengamatiku dengan seksama. Pun begitu aku bisa grogi juga diperhatikan gadis 4 tahun itu.
Lalu tiba-tiba senyumnya yang manis tersungging. Senyum terindah yang dulu juga sering kulihat  menghiasi sosok Ardan. 
Belum selesai akan pemandangan itu, tangan mungilnya terulur. Kusambut dan dengan santun dikecupnya tanganku sepintas.
" Om bisa main ke rumah seperti Om Ling,"
Aku tak sadar tersenyum.
" Syaffa pasti senang sekali kalo yang mengunjunginya bertambah satu lagi." Timpal Mbak Gendhis.
" Ok, kapan-kapan om akan main bareng om Ling" Kataku akhirnya membuat gadis kecil itu bersorak gembira.
" Kami pergi dulu ya. Assalamuallaikum..."
" Waalaikum salam" 
Kuantar kepergian dua wanita hebat itu. Hebat karena telah berhasil membuatku tersadar bahwa selama seminggu ini aku telah menyia-nyiakan hidupku yang sangat berharga, untuk sesuatu yang sudah tak menghargaiku. 
Dan sekarang, aku tau alasan kenapa hari ini aku dipertemukan dengan wanita itu. Wanita yang begitu banyak memaklumi apapun yang menimpanya. Yang menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tak hanya ada pada Adis,
Tuhan menegurku untuk tak lagi meratapi pintu yang sudah tertutup itu, menyadarkanku bahwa Adis bukan yang terbaik untuk hidupku kelak. Dan bahwa ada pintu lain yang terbuka, dan aku akan mencarinya.
Aku tersenyum sambil menghela napas lega, menatap penuh semangat lembayung senja diufuk barat sana. 

Selasa, 21 Oktober 2014

IBU

          Kusambar tasku dan bergegas meninggalkan ruangan itu, dan tatapan sinis itu. Kubuka pintu didepanku dan kubanting sedikit kasar, sekedar menunjukkan pada dunia bahwa aku sedang marah dan muak dengan semua penghakiman ini. Masih sempat kudengar lengkingan suaranya, tapi cuma sebentar karena langkahku terlalu cepat menjauh.
Lagi-lagi perdebatan itu terjadi, hal yang tak seharusnya terjadi, dan sebenarnya aku tak pernah ingin itu terjadi. Pada kami.
Sampai di taman komplek rumahku aku berhenti, duduk disalah satu bangku kayu disitu. Kuhempaskan tubuhku berat. seberat beban yang menggelayut di pundakku. Pandanganku menerawang jauh kesana, mencari jawab untuk semua tanya belasan tahun ini.

Kenapa orang yang seharusnya menyayangiku malah seperti memusuhiku? Kenapa mata yang seharusnya menatapku lembut penuh cinta justru melihatku dengan sinis dan benci? Kenapa tangan yang seharusnya membelaiku dengan sayang malah sering mengasariku dan menyakiti hatiku?
" Sudahlah...jangan dimasukkan hati omongan itu, dia memang begitu. Yang penting kan ayah sayang kamu" Hibur ayah, setiap kali menemukan aku menangis usai insiden itu.
Tapi bohong kalo semua itu tak meninggalkan rasa sakit hati. 
" Ibu..." Desisku lirih...
Mataku terpejam sesaat menghindari agar tak berlanjut meneteskan air mata itu lagi. Tapi tetap saja gagal, air mata itu tetap keluar. Kuseka dengan sedikit jengkel tapi kemudian aku termangu melihat adegan sekitar 10 meter dari tempatku duduk. Dunia serasa berhenti berotasi saat aku menikmati adegan itu.
Seorang ibu muda dengan gadis kecil, mungkin sekitar umur 4 tahun. Berdua sedang asyik menikmati mie ayam yang mangkal tak jauh dari tempat mereka. Sesekali si ibu menyuapi anaknya, tapi kadang si anak tak mau dan malah menyendok sendiri mie itu hingga belepotan. Dengan sabar si ibu itu menunggui anaknya makan. Sungguh romantis.
Aku tergelak sedih. Untuk kesekian kalinya menyadari betapa malangnya aku terlahir sebagai gadis kecil, yang jauh sekali nasibnya dengan gadis kecil itu.
" Hei.." 
Aku menoleh mencari arah suara itu. Seraut wajah Luki tersenyum hambar menatapku. Aku tak bereaksi untuk senyum basa-basi itu. 
Kudengar Luki mendesah panjang, lalu ikut duduk disampingku.
" Eh, ada mie ayam, makan yuukk!" Ajaknya 
Aku menggeleng.
" Kenapa? Tenang aja, aku yang traktir kok" Bujuknya lagi
" Diet." Jawabku singkat
" Ya ampun,diet kok terus sih" Dengusnya seperti kaget campur jengkel.
Kulirik cowok yang lebih dari separuh umurku itu menemaniku. Dia memang sedikit menyebalkan, tapi dia penyelamatku saat aku sedang begini, tentunya setelah ayahku.
Luki tersenyum menyebalkan, seakan bangga bisa membuatku akhirnya memperhatikannya.
" Puas ya?!" Geramku
" Belum, senyum dong biar aku benar-benar puas!"
Aku spontan tergelak, Luki dari dulu memang selalu punya cara mengusir kesedihan diwajahku, meski dengan cara yang menyebalkan.
" Tak manis, tapi itu lebih baik daripada nangis." Gumamnya
Tak kugubris candaannya itu, seperti biasanya. Aku masih terlalu ingat kejadian tadi dirumah.
Perlahan kudengar Luki sibuk mengupas bungkus coklat batangan, kulirik sedikit ke arah tangannya. Dicuilnya sedikit lalu dilahapnya.
" Sejak kapan kau pelit, tak mau berbagi makanan denganku?" Gerutuku.
Luki menatapku kaget, melonggo sedetik, detik berikutnya tertawa.
" Oh.. kirain kamu gak mau, tadi kan bilangnya kamu diet," Ledeknya
Aku merampas coklat ditangannya sambil manyun, kulahap langsung potongan yang sudah terbuka bungkusnya. Aku tau Luki sedang tersenyum memperhatikanku, tapi aku lebih suka pura-pura tak tau. Aku mulai riskan kalo Luki mulia bersikap begitu.

Luki, aku mengenalnya saat kami masih sama-sama kelas 1 SD. Dia tetangga jarak 2 rumah dariku. Pindahan dari Surabaya kala itu. Dia sering menemukanku menangis dibelakang rumah, hingga kemudian dia mulai meluangkan bahunya untuk kusandari saat lelah. 
" Makanlah coklat ini."
Kenangku akan ucapannya kala itu, pertama kali aku dikenalkan dengan coklat batangan yang memang sering kulihat tapi belum pernah aku membelinya apalagi merasakan bagaimana manisnya. Kala itu kami masih kelas 3 SD. Luki mendapatiku diujung jalan menuju ke sekolah dalam keadaan usai menangis.
" Kata orang rasa manis coklat bisa menghilangkan kesedihan." Terang Luki waktu itu
Aku tersenyum tiap mengenang hari itu, dan sejak hari itu tiap Luki menemukanku murung selalu disodorkan sebatang coklat padaku. Mungkin tiap hari sakunya selalu ada sebatang coklat sebagai pertolongan pertama untukku.
" Sudah baikan kan?" Tanyanya 
Kujawab dengan senyum kecil.
" Tapi aku takut kalo suatu hari nanti persediaan coklatku habis."
Aku tak jadi melahap potongan kecil coklat ditanganku.
Kutatap Luki sedikit tak mengerti. Luki menggeser duduknya hingga lebih menghadapku.
" Maaf kalo selama ini aku selalu merepotkanmu."
" Bukan masalah merepotkannya, aku cuma berharap kamu jangan sedih lagi"
Aku terpekur untuk sekian detik.
Aku... jujur juga sudah lelah dengan semua ini. Andai ibuku bisa sebaik mamanya Luki...
Ahh...ngimpi!
" Sudah hampir 20 tahun, aku juga heran kenapa ini masih belum berakhir." Gumamku
" Mungkin kamu hanya harus sedikit mengalah"
Kutatap Luki
" Apa aku masih kurang mengalah? Aku harus mengalah seperti apa lagi Luk?" Keluhku dengan intonasi cukup tinggi.
" Kukira kamu sudah sangat tau posisiku, tapi ternyata selama ini aku salah" Lanjutku bangkit dan berlalu.
" Hei...hei..." Kejar Luki, tapi tak kuindahkan. 
Sungguh, aku cukup kecewa dengan ucapannya tadi.
" Kepala batumu itu yang membuat ini terus berlanjut" Sergahnya segera, dan itu berhasil membuat langkahku terhenti. 
Langkah Luki juga terhenti 2 langkah dibelakangku. Sepi untuk beberapa detik.
" Kamu gak akan tau susahnya jadi aku Luk. Hidup dengan orang yang ingin aku sayangi tapi seperti mengelak. Sepanjang hidupku aku seperti orang yang tak pernah diharapkannya, tanpa kutau apa alasannya. Itu sesuatu yang sangat berat. Kalo ada yang ingin ini segera berakhir, orang pertama adalah aku, karena aku sudah sangat capek." Paparku tanpa kami bersitatap. 
Kulanjutkan langkahku karena sebentar lagi air mataku pasti akan meleleh lagi jika terus-terusan ditempat. Luki tak mengejarku lagi. Dan aku lebih suka begitu. Kadang aku memang ingin menikmati kesedihan ini sendiri, tanpa Luki, tanpa coklat batangannya yang dipercayanya bisa menghilangkan kesedihan itu.
Aku terus melangkah menjauhi taman kompleks ini. Entah kemana yang penting menghindari Luki meski hanya untuk saat ini.
Lalu perlahan wajah itu mengganggu langkahku.
Ibu.... aku ini putrimu, yang selama hampir 20 tahun ini sangat merindukan pelukanmu. Bahkan aku tak pernah tau rasanya pelukan hangat seorang ibu. 
Ibu... aku tak pernah meminta apapun, aku hanya ingin keadaan yang selama ini terjadi bisa berubah. Aku ingin tatapan matamu itu hangat menyapaku sambil memelukku.
Ibu...aku ingin ibu tau, tangis ini untukmu.
Ibu.....







Untukmu,
percayalah, ada akhir indah menantimu
keep calm 'n smile.....

Minggu, 12 Oktober 2014

KULDESAK III

    Aku terpekur dibangku panjang di teras depan rumah, tempat favorite-ku, karena disini  aku bisa dengan bebas melihat hamparan laut disana,juga debur ombak dipantai itu. Sebulan lebih telah berlalu, dan tak satupun ada yang berubah dari tempat kecil nan sederhana ini. Hanya suasana hatiku yang tak seperti biasanya.
Aku mendesah lagi. Dadaku terasa sesak tiap kali mengingat itu,
" Apa? New york?" Desisku tak percaya
Billy tersenyum lebar seraya mengangguk pasti, lalu diraihnya jemariku.
" Iya Nda, kita pindah saja ke New york, lalu kita menikah disana."
Spontan mataku membulat, nafasku tercekat dan aliran darahku serasa terhenti disatu titik nadi. Perlahan kutarik jemariku dari genggaman tangan Billy. Dan itu terlihat sekali membuat Billy heran, alisnya mengkerut.
" Kenapa Nda? Kau tak suka? Kau tak mau menikah denganku?' Berondongnya sedih.
Aku tergelak dalam hati.
Sedih? Benarkah Billy sedih aku bersikap begini? Kenapa aku harus memikirkannya? Apa ada yang memikirkan perasaanku saat ini?
Setiap kali teringat kata MENIKAH, ingatan tragedi setahun lalu itu seperti menusuk-nusuk hatiku, mencabik-cabik seluruh ketenanganku. Terserah orang mau bilang aku mengalami trauma akut dengan yang namanya menikah, yang pasti aku perlu waktu cukup banyak untuk melupakan kesakitan dari kata itu.
" Aku perlu waktu untuk melangkah ke jenjang itu Bil."
" Tapi bukankah kita sudah bersama cukup lama? sudah banyak hal yang kita lalui? Kau masih belum percaya aku?"
" Bukan begitu, aku....."
Lamunanku terbuyar saat Hanif ikut duduk disebelahku, dengan segelas lemon tea dingin ditangannya.
" Aku rindu sekali suasana disini. Rindu sekali." Gumamku sedih.
Hanif hanya menanggapi dengan desahan panjang.
" Minumlah, kau pasti haus." Katanya menyodorkan gelas lemon tea itu, kuterima dengan sudut bibir sedikit melebar 
" Terimakasih." Lalu kuteguk sedikit lemon tea itu, perjalanan sejam lebih dengan KRL memang membuatku sedikit haus.
Lalu sepi beberapa detik. Mungkin kami lebih sibuk dengan kegalauan kami masing-masing. Aku masih bingung harus mulai darimana untuk bicara dengan Hanif mengenai keputusan Billy kemarin pagi.
" Han, aku..."
" Aku tau." Sergah Hanif dengan senyum kecil, tapi cukup besar menimbulkan rasa sakit didadaku.
" Kau sudah tau?" 
Hanif menarik nafas pendek,
" Aku kan sahabat baiknya Din, jadi sebelum dia memutuskan itu dia sudah berunding dulu denganku. Katanya dia ingin membuka lembaran baru denganmu, biar tak ada gadis-gadis bodoh lagi yang menganggu kalian."
Aku tergelak mendengar semua omongan Hanif. 
" Apa-apaan ini? Jadi sebelum bicara denganku, Billy sudah berunding dulu denganmu?" Desisku tak percaya.
Hanif mengangguk pelan.
" Dan kau menyetujuinya Han?"
" Aku bisa apa Din?" Keluh Hanif
Aku beranjak marah,
" Ya Tuhan...Apa kalian anggap aku ini cuma seonggok daging yang tak punya perasaan sedikitpun? Kenapa aku harus menuruti semua permainan ini? Kenapa??!" Geramku,
" Din..." Hanif bangkit dan mendekat, mencoba menenangkanku.
Aku mundur menghindar.
" Aku tak suka ini Han, aku juga ingin bahagia. Denganmu, bukan dengan Billy." Ceracauku mulai menangis.
" Aku tak mau ke New York, aku mau disini."
" Benarkah sebulan ini tak membuatmu kembali seperti dulu?" Tanya Hanif.
Aku terperanjat. Lalu tergelak, menertawakan keadaanku yang begitu menyedihkan.
" Apa kau juga amnesia seperti Billy, Han? Apa kau sudah lupa dengan yang dia lakukan pada kita setaun lalu itu? Dia menghancurkan kehidupan kita begitu hebat, Han? Sampai kita harus rela hidup ditempat seperti ini."
" Benarkah sudah tak ada sisa cinta dihatimu Din? Sedikitpun?!" Tanya Hanif seperti butuh kepastian, seperti meragukan kesetiaanku pada laut ini, pada pantai ini, pada semua yang ada disini.
" Awalnya aku juga berfikir begitu Han, aku juga takut jatuh cinta lagi dengan Billy yang sangat memuja dan mencintaiku. Aku takut. Tapi anehnya, semakin hari aku semakin sadar, dia bukan Billy yang dulu sangat mencintaiku sampai kemudian berubah sangat membenciku. Dia hanya Billy yang amnesia, Billy yang sebagian ingatannya berkelana entah kemana. Dan aku, aku juga bukan Dinda yang dulu Han. Aku adalah Dinda yang sekarang, Dinda yang begitu dekat dengan laut dan pantai. Dinda yang belajar banyak tentang ketegaran dari seorang Hanif." Akuku sungguh-sungguh.
Siang ini aku hanya ingin Hanif tau perasaanku selama ini bukan terlahir dari keadaan kami selama ini. Tapi karena aku memang benar-benar membutuhkan dia, jauh melebihi apapun apalagi Billy.
" Kita telah lalui banyak hal sulit bersama Han, dan aku tak pernah memilihmu apalagi bersamamu karena keterpaksaan. Aku merasa ini semua karena sudah digariskanNya. Dan aku bisa apa? Meskipun sekali lagi ada kesempatan bersama Billy yang dulu, ternyata tak bisa membuat hatiku kembali. Mungkin karena aku telah pergi terlalu jauh. Dan ditempat yang jauh itu aku menemukanmu. Kau menyuruhku untuk selalu percaya padamu, jadi kau juga harus percaya padaku. Aku mau disini, bersamamu."
Hanif perlahan tersenyum, lalu mendekat dan memelukku.
" Kita akhiri saja semua ini Han, aku sudah tak kuat lagi. Aku tak mau meninggalkanmu." Rengekku dalam pelukannya.
Tapi Hanif tak menyahut, akupun bangkit dari pelukannya. Menatap Hanif.
" Kau tak mau lihat strawberry-mu?" Tanyanya malah mengalihkan topik.
Benarkah Hanif takut melawan keadaan ini? Atau dia hanya berusaha mengalah untuk Billy?



           Aku duduk terpaku menatap lalu lalang orang-orang di bandara ini. Ternyata sampai hari H tiba, aku tetap seonggok daging yang tak pernah punya pilihan. Aku tak jauh beda dengan Hanif yang pasrah dengan keadaan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, cinta ini, juga kebahagiaan yang sempat kumiliki bersama Hanif. Semuanya.
Ya Tuhan... kenapa semua ini begitu sulit kuhentikan?
" Kukira kau tak kan datang mengantar kami." Ucapan Billy menyadarkanku, aku menoleh. Seraut wajah Hanif tersenyum pada Billy, lalu padaku. Tapi, lagi-lagi senyum itu membuat dadaku sangat sesak.
" Ini boarding pass-nya kak," susul Benny dari belakang Hanif, menyerahkan lembaran kertas pada Billy.
Billy menerima dengan suka cita.
" Oke, kalau begitu kami masuk dulu ya.."
Nafasku terasa terhenti. Sungguh, haruskah secepat ini? Keluhku dalam hati.
Hanif menunduk saat melihat pandanganku.
" Ayo, Nda!" Ajak Billy mengulurkan tangannya.
Saat ini aku ingin teriak tak mau. Saat ini aku ingin berlari menjauh dari tempat ini. Saat ini aku ingin berontak dari semua ini. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku hanya bisa diam.
Terdengar Billy menghela nafas panjang, lalu duduk disebelahku. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa. Tapi kemudian Billy tergelak.
" Sudahlah..." Katanya, lalu tiba-tiba tangannya menyobek tiket dan boarding pass. Punyaku.
Tentu saja kami semua kaget, 
" Bil..." Desisku menatapnya lekat
" Sudah aku sobek, sekarang buang jauh-jauh wajah sedihmu itu." Katanya menyerahkan sobekan tiket dan boarding pass itu ke tanganku.
" Apa maksudnya ini Bil?"
Billy seperti menahan nafasnya sejenak, lalu menatapku dan Hanif bergantian.
" Aku sudah ingat semuanya."
Lagi-lagi kami terhenyak. Kutatap Hanif.
" Saat aku pingsan minggu lalu itu, dalam tidurku, aku mengingat semua kejadian, sebelum dan sesudah kecelakaan. Dan aku sempat tak percaya dengan yang kalian lakukan. Aku malu pada kalian. Aku..." Billy seperti butuh kekuatan untuk melanjutkan ucapannya.
" Saat terbangun dan menemukan kalian diteras waktu itu, aku baru sadar kalau aku orang paling menyedihkan. Kau tau, Nda, sebenarnya aku menyesali semua yang terjadi pada kita setahun lalu itu. Tapi ternyata egoku lebih besar dari sisa cintaku hingga aku memilih terbelenggu dalam keadaan itu. Dan kecelakaan itu, amnesia itu, mungkin kesempatan kedua dari Tuhan agar aku memperbaiki kesalahanku padamu. Andai aku yang ada diposisimu, aku pun tak sanggup melakukan ini semua Nda,.." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dihadapanku sekarang bukan seperti Billy sebelum setahun lalu, juga bukan Billy sebulan lalu. Dia Billy yang lain, yang belum pernah kupahami sifatnya.
" Dan kau Han, aku tak percaya kau lebih bodoh dari yang kukira. Kenapa kau menyuruh wanita yang kau cintai kembali kepada orang yang pernah menghancurkan hidupmu?!" Desis Billy geram, menatap Hanif.
" Kalian malah menjadikanku orang paling kejam sedunia. Menghancurkan hidup dua orang yang saling mencintai. Untung aku cepat sadar, kalau tidak, aku akan menanggung kesedihan kalian berdua sepanjang hidupku."
" Bil..." Keluhku menyentuh tangannya.
Billy menatapku dengan senyum
" Tenanglah Nda, aku sudah memikirkannya. Aku tak akan egois lagi. Aku tak akan menghancurkan hidup kalian untuk kedua kalinya. Tuhan memang memberiku kesempatan kedua, tapi bukan untuk memilikimu lagi. Tuhan menunjukkan padaku bahwa aku harus lebih mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan sinar matamu tak pernah bisa bohong, bahwa sekarang, atau mungkin sejak dulu, aku tak pernah bisa memberimu kebahagiaan yang sesungguhnya."
Aku tak bisa menahan tangisku, Billy tersenyum.
" Dulu, melihatmu sedih membuat hatiku sangat sakit. Tapi sekarang, saat merasakan kau tersiksa bersamaku malah membuatku ingin mati saja. Aku memang sempat ingin tak peduli, hingga aku berencana membawamu menjauh dari Hanif, tapi makin hari aku makin merasa sakit melihatmu tersenyum dalam kepura-puraan. Aku menunggu kalian berontak tapi ternyata sampai disini pun kalian tetap bungkam. Kalian benar-benar bodoh, pantas kalian cocok.
Aku tergelak dalam tangisku.
" Rasanya sungguh aneh saat pertama kali teringat semuanya. Aku bahkan sampai benci diriku sendiri, kenapa sampai menjadi orang yang sangat tidak berguna begini. Dulu aku sendiri yang mencampakkanmu karena alasan yang tak masuk akal, sungguh aneh kalau kemudian Tuhan malah sejenak membuat aku menjadi orang yang sebelum membencimu. Tapi lama-lama aku sadar, menemukan sinar matamu yang begitu sedih, mendapati sikap Hanif yang begitu tegar. Kebahagiaan itu tidak berasal dari cinta yang berlebihan seperti yang kumiliki, tapi dari pengertian dan pengorbanan yang tulus." Ungkap Billy.
Kami semua membisu, tak satupun yang menanggapi semua ucapan Billy. Mungkin kami terlalu sibuk dengan ketidakpercayaan kami.
"  Ya sudahlah, aku masuk dulu ya.." Katanya bangkit.
" Bil.." Susulmu memeluknya.
" Sudahlah Nda, mungkin ini hukum karma yang harus kuterima." Katanya menepuk bahuku.
" Berjanjilah kau akan baik-baik disana" Pesanku
" Tentu saja, aku janji" Ucapnya melepas pelukan.
" Kalian juga harus berjanji akan selalu bersama. Dan kau Han, berjanjilah untuk tidak pernah melepaskan Dinda untuk siapapun. Apapun alasannya."
Hanif tersenyum, seraya mendekat dan memeluk Billy.
Dua orang sahabat baik benar-benar sudah kembali, Bathinku.
" Tenanglah, aku hanya mengalah sekali, dan itupun hanya denganmu."Aku Hanif.
" Sekali lagi kau beri kesempatan aku merebut Dinda, aku akan membawanya kabur sejauh mungkin sampai kau tak bisa menemukannya."
Lalu mereka tertawa bersama, dan melepas pelukan. Billy kemudian menatapku.
" Sejak dulu aku ingin katakan ini pada kalian, aku..." Billy menunduk sebentar.
" Maaf, Maaf untuk semua kesalahanku dulu, terlebih padamu Nda, aku begitu banyak menyakitimu. Wajar saja kalau seperti apapun aku berubah kau tak bisa mencintaiku lagi."
" Bil...." 
Billy tersenyum,
" Pulanglah bersama Hanif yang lebih mengerti arti kebahagiaan yang kau maksud sejak dulu, bukankah strawberry kalian perlu dipanen?" 
Aku tersenyum haru, air mataku kembali jatuh.
Billy menggigit bibirnya kuat-kuat, seperti menahan tangisnya.
" Aku harus pergi." Katanya berat. Dengan mata mengembun.
" Terimakasih Bil,"
Billy hanya tersenyum dan buru-buru membalikkan badan, aku tau dia begitu untuk menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.
Billy langsung melangkah masuk ke ruang boarding pass, diikuti Benny. Aku menatapnya dengan perasaan yang aneh, tak bisa kumengerti, hanya saja ini bukan perasaan kehilangan.
" Aku tak percaya akhirnya begini." 
Hanif juga menatap kepergian punggung Billy.
" Ini bukan akhir cerita Han," Sanggahku.
Hanif menatapku, kamipun saling tersenyum.
" Ini adalah awal kita, tanpa kebencian, tanpa penyesalan masa lalu."
Hanif merangkul pundakku.
Dipintu terakhir masih sempat kami lihat Billy menoleh ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan senyum. Kamipun  membalasnya dengan senyum.
" Ternyata jalan takdir itu unik ya" Gumamku,
" Lebih unik dari yang kita bayangkan." Imbuh Hanif. Aku mengangguk setuju.
Sungguh, hari ini begitu indah. Semua kesedihan yang kuratapi selama ini terbayar sudah.
" Din..." Panggil Hanif  " Kau mau menikah denganku?" Lanjutnya membuatku mau tak mau tersentak.
" Apa?" 
Hanif menggeser tubuhku, menghadapnya penuh. Memegang pundakku lembut.
" Aku tau ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya takut. Takut takdir menyeret kita ke keadaan menyulitkan seperti kemarin. Aku tak mau kehilanganmu lagi seperti kemarin. Aku yakin jika harus ada diposisi itu lagi aku tak mungkin sanggup."
Aku hanya bisa tersenyum, padahal aku ingin ungkapkan banyak hal. Tapi kurasa Hanif sudah tau meski hanya lewat senyumku.
" Aku bisa membantumu memanen strawberry." Lanjutnya membuatku tergelak dan aku sangat bahagia sekali saat memeluknya.
       
           Memang benar, takdir itu penuh liku, tapi percayalah jalannya tetap menuju ke kebahagiaan yang kita cari. Ibarat strawberry, rasanya memang asam dan kasar, tapi tetap saja begitu indah dan menarik hati untuk dinikmati. Dan apapun yang telah kami lalui, ternyata tetap menegaskan satu hal pada kami, bahwa kita ini hanya pemeran sebuah sandiwara kehidupan. Asal kita menikmatinya, pasti ada kebahagiaan yang akan kita terima sebagai imbalannya.




"akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain"
-Mario Teguh-                                                                    

randublatung,10/12/2014
      

Jumat, 10 Oktober 2014

KULDESAK II

     Siang ini begitu sunyi, hingga suara burung berkicau di taman seberang jalan sana pun bisa terdengar. Bahkan suara dengkur halus Billy juga bisa kudengar, menjadi irama nyaring di kamarnya yang nyaman ini.
Aku masih terpekur ditepi ranjang menatapnya dengan perasaan kacau balau. Wajah tampan nan penuh kharisma itu terlihat begitu damai dalam tidurnya dibawah pengaruh obat dari dokter yang ikut disuntikkan usai pemeriksaan tadi. Jujur, degup jantungku masih terasa meski insiden tadi sudah berlalu hampir sejam.
" Mungkin Billy cuma kecapekan, karena seharusnya dia masih harus banyak istirahat, tapi dia sudah memaksakan diri bekerja." tutur Dokter Frans mencoba menenangkanku yang masih gemetar, karena aku tak pernah melihat hal itu sebelumnya terjadi pada Billy.
" Anda yakin Dok?" Ternyata aku masih belum yakin.
" Dia tadi kelihatan sangat kesakitan memegangi kepalanya, sampai tak bisa bicara apapun selain merintih kesakitan, sampai kemudian dia pingsan." Lanjutku menjelaskan kronologi kejadian yang dialami Billy. Entah untuk keberapa kalinya.
Dokter Frans tersenyum.
" Insya Allah tidak ada masalah apa-apa. Semua sudah saya cek, semua normal, hanya kecapekan saja."
Aku mendesah. Pasrah dengan yang diputuskan Dokter Frans. Tiba-tiba terlintas suatu kemungkinan.
" Dok, apa mungkin tadi otaknya sedang mengalami proses mengingat kembali memorinya yang hilang?" Tebakku
Dokter Frans termangu sejenak.
" Bisa jadi, tapi semua itu tergantung reaksi Billy nanti kalau sudah sadar."
Kali ini aku yang termangu. Pandanganku nanar ke arah Billy.
" Saya pemisi dulu. Kalau ada perkembangan, hubungi saya lagi." Pamit Dokter Frans, hanya kutanggapi dengan senyum, karena pikiranku sedang sibuk menduga-duga tebakanku tadi.

Sebulan ini, begitu banyak cerita yang telah tercipta bersama Billly. Billy yang lama telah kembali lagi. Billy yang menatapku dengan lembut dan senyum hangat. Billy yang selalu memperhatikan detail tiap kondisiku. Billy yang begitu punya banyak cinta untukku.
" Kenapa aku merasa kau sedikit berbeda?" Katanya seperti curiga, malam itu saat kami usai makan malam.
Aku sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum tipis.
" Kau ini ada-ada saja." Kilahku
Billy meraih jemariku yang sejak tadi sibuk mencuci piring alat makan malam kami tadi.
" Matamu tak bisa bohong Nda, aku...seperti melihat sayatan luka disana. Luka yang dalam, luka yang sangat menyakitkan."
Aku menunduk, mencoba menata hatiku.
Jujur, meski sudah puluhan hari aku kembali menjadi kesayangan Billy, sebenarnya aku masih belum bisa memainkan peran itu sepenuhnya. Dan itu karena Hanif. Pria yang paling mengerti keadaanku dan posisiku. Pria malang yang secara tak sengaja ikut kuseret dalam dilema ini.
" Bil,..." Suaraku tercekat, senyum Hanif seperti menahanku bicara.
Berulang kali aku ingin menceritakan semua yang terjadi, semua, agar aku bisa cepat-cepat keluar dari peran konyol ini. Tapi lagi-lagi senyum Hanif seperti mengambil semua suaraku.
" Aku mungkin cuma sedikit capek." Lanjutku akhirnya. Ya, akhirnya, dan membuatku akan lebih lama terjebak disini.
Billy tersenyum, seraya membelai rambutku lembut.
" Ya sudah kau istirahat saja, biar piringnya aku yang cuci." Katanya kemudian seperti lega.
" Gak usah, lagian ini juga tinggal 2 piring."
" Eiitts...gak boleh bandel ya, apa mau dijewer?" Sergah Billy siap-siap mengangkat tangannya menuju kupingku.
" Billy...."
" Nda," Billy merengkuh tanganku yang sudah siap-siap mencebur ke wastafel lagi, ditariknya menjauh, didekapnya ke dalam dadanya hingga bajunya sedikit basah.
" Kau satu-satunya yang kuharapkan selalu baik-baik saja. Aku tak ingin apapun terjadi padamu, apalagi itu adalah yang membuatmu sakit atau terluka." Akunya
Kunikmati pancaran sinar terhangat dari matanya. Sungguh, aku seperti kembali ke masa-masa indah itu. Dan rasanya jika hari ini sinar mata hangat itu ada, seperti tak pernah ada hari dimana Billy begitu membenciku. Sampai-sampai pernah terucap sumpah serapah yang tak pernah memberiku kesempatan kembali dalam bagian hidupnya, kapanpun itu.
Dan kalau yang kusangka tadi benar terjadi, aku harus bagaimana? Keadaan yang sebelumnya hangat dan romantis, tiba-tiba harus kembali berubah 180 derajat. Apa aku akan menerima makian, tatapan sinis penuh kebencian, pengusiran yang kasar? Lagi?
Aku menunduk, entah ketakutan atau malah endapan kegembiraan karena semua sandiwara ini akan segera usai. 

Tiba-tiba pintu kamar terdengar terbuka perlahan. Aku menoleh sedikit. Seraut wajah kalem milik Hanif berdiri diambang pintu, seulas senyum menyusul terlihat.
" Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya kemudian.
" Hmm...kuharap, kata dokter tadi juga begitu, cuma terlalu capek." Jawabku, lalu kembali menatap Billy yang masih tertidur pulas. Detik berikutnya kudengar langkah Hanif menjauh, kuikuti segera.
" Han.." Panggilku setelah sampai diteras samping kamar Billy.
" Kau mengkhawatirkannya kan Din?"
" Aku..."
" Kau tak pandai berbohong Din, apalagi tatapan matamu itu. Mungkin sebulan ini kembalinya Billy yang dulu sudah bisa membalut lukamu waktu itu."
" Aku seperti orang paling kejam sedunia." Keluhku menunduk
" Kenapa bicara seperti itu?"
" Kata-katamu tadi..."
" Dinda aku tadi..."
" Maaf." Sesalku menunduk lebih dalam.
" Din..."
" Maafkan aku Han, aku terlalu banyak menyakitimu dalam masalah ini, sejak dulu. Aku menyeretmu dalam tragedi tak terselesaikan. Dulu aku sudah sangat fatal melibatkanmu, hingga kau terdepak dari pekerjaanmu. Tak sampai disitu, kau bahkan kemudian ikut menanggung deritaku. Dan sekarang, kau pun harus rela hati hidup begini..."
" Heii..sstt..." Desis Hanif mendekat, seraya mencoba menenangkanku.
" Kau ini bicara apa sih Din."
" Padahal setahun ini aku sudah cukup bahagia. Aku sudah mencoba ikhlaskan semua dan memulai lembaran baru denganmu, tapi..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.
" Sudahlah.." 
Hanya itu yang diucapkan Hanif lalu hanya memelukku lembut. Isakku pun makin menjadi.

Sungguh, aku rindu pelukan lembut Hanif, aku begitu rindu meski sebulan ini Billy tak bosan memanjakanku. Ternyata goresan luka tetaplah goresan luka. Ditutupi seperti apapun tetap membekas. Dan aku ingin segera kembali bersama Hanif yang mencintaiku sewajarnya saja. Cinta yang terbina dengan manisnya oleh keadaan yang begitu pelik.
" Han..kita sudahi saja semua ini ya, aku sudah tak sanggup lagi brsandiwara." Pintaku
Hanif menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
"Kau ini bicara apa, Din? Kitakah yang tentukan kita main disini? Tidak! Jadi kita juga tak punya hak keluar dari permainan ini"
" Kenapa tidak bisa, Han?! Ini hidup kita, kenapa kita tak boleh bahagia? Kenapa kita harus memikirkan Billy sementara tak satupun memikirkan perasaan kita? Kenapa harus kita yang mengalah?" Ceracauku geram.
Hanif tak menjawab, malah beringsut dan duduk ditembok pembatas teras yang memang hanya setinggi 1 meter.
" Aku tak tau Din, sejak awal aku hanya pasrah. Aku terlalu lemah untuk berani melawan takdir. Bahkan kalau kupikir-pikir lagi, kau jauh lebih tegar. Lebih mampu menghadapi semua ini." 
Aku ikut duduk disamping Hanif, mataku pun ikut menerawang ke angkasa sana.
" Asal kau tau Han, aku bisa setegar ini juga karena kau percaya padaku. Aku bisa sejauh ini juga karena kau tak pernah bosan menyemangatiku." Akuku datar.
Hanif menatapku , akupun mengarahkan pandanganku ke wajah lembutnya. Kamipun tersenyum bersama.
" Terimakasih sudah percaya, menitipkan semua sisa milikmu padaku." Ucap Hanif
" Aku juga, terimakasih mau menerima semua ini. Semuanya." Lalu aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Tangan Hanif kemudian merengkuh pundakku.
" Aku mohon, jangan tanya lagi kapan ini berakhir ya. karena aku juga bingung mau jawab apa. Kita jalani saja semua yang ada. Kita percaya saja, Tuhan telah menyiapkan sebuah akhir. Meski masih kapan dan entah seperti apa akhirnya."
Aku tak menyahut, lebih suka menikmati letihnya jiwa ragaku yang tersambut rengkuhan Hanif.
" Aku rindu tanaman strawberry-ku."
Terdengar Hnaif tergelak pendek.
" Kelihatannya sebentar lagi akan berbuah, sudah mulai kelihatan kuncupnya."
" Oya?!" Aku terlonjak gembira,
Hanif mengangguk dengan senyum.
" Kapan-kapan kalau ada waktu lihatlah." Sarannnya.
Aku tersenyum bahagia, sejenak lupa beban yang selama ini melilit. 
Inilah indahnya hubunganku dengan Hanif, meski sewajarnya saja tapi begitu menentramkan perasaanku. Sementara keromantisan Billy sejak dulu memang membuatku tak tenang.





10/10/2014



Rabu, 08 Oktober 2014

KULDESAK

      Langkahku terhenti diujung koridor rumah sakit. Rasanya kaki ini begitu berat untuk melangkah lagi. Hanif yang selangkah didepanku menyadari aku berhenti dan menoleh. Matanya memancarkan sinar spirit yang begitu buat aku risih. Harusnya dia tak menyemangatiku.
" Din..., aku tau ini berat, tapi ada baiknya kau tetap berusaha." Katanya lebih mirip seperti memohon
" Aku tak sanggup Han, kau juga tau itu." Rengekku.
Hanif membalikkan tubuhnya mengahadapku, diraihnya jemariku.
" Aku tau, tapi cobalah lakukan ini demi.."
" Demi siapa Han?"
" Demi Billy." Lanjut Hanif menunduk
Aku tergelak bercampur isak.

Sejam lalu, tiba-tiba Benny, adik Billy menemuiku dengan wajah murung.
" Aku mohon, ikutlah ke rumah sakit. Kak Billy sangat membutuhkanmu." Pintanya memelas.
Dan aku bisa apa jika Hanif juga ikut memohon?
Billy, 
Sebenarnya mendengar nama itu pun aku sudah tak ingin. Begitu inginnya aku mengubur dalam-dalam nama itu, bahkan kalau perlu aku ingin tak ingat lagi.
Terlalu banyak luka yang tercipta bersama nama itu. Terlalu banyak dan semuanya menyakitkan.
Tapi kenapa takdir malah mengantar aku kesini?
Menurut cerita Benny, kemarin Billy mengalami kecelakaan, sempat koma sampai kemudian tadi pagi tersadar. Dan saat itulah dilema ini dimulai.
Billy mengalami gegar otak yang cukup aneh. Sebagian memori di otaknya hilang tak bisa diingatnya. Otaknya hanya mampu mengingat kejadian sebelum 2 tahun lalu. Dan masa itu adalah awal-awal kami berpacaran. 
Dulu, 2 tahun lalu adalah masa-masa indah bersama Billy. Pria kharismatik nan ceria itu begitu mencintaiku. Bahkan bisa dibilang sangat memujaku. Dia seperti ingin menunjukkan dunia bahwa akulah pemenang hatinya yang sebelumnya selalu berkelana dari berbagai cinta.
Sebenarnya aku tak begitu setuju Billy bersikap terlalu berlebihan begitu. Karena aku malah merasa aneh dipuja seperti itu. Aku pun takut akan kebenaran sebuah peribahasa, diujung cinta yang sangat, ada kebncian yang sangat pula. Dan ketakutanku pun menjadi nyata, justru ketika aku memutuskan menyetujui ajakannya menikah.
Tiap teringat kejadian memalukan sekaligus menyakitkan itu, sebenarnya aku ingin limbung. Dadaku begitu sesak mengingat tiap ucapan menyakitkan Billy.

    Sebagai pria kharismatik bertalenta tinggi, tentu saja banyak wanita yang ingin merebutnya dariku yang sebenarnya tak cukup pantas bersanding dengannya, hingga tak sedikit wanita yang cemburu. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba beberapa lembar foto rekayasa antara aku dan Hanif ada ditangan Billy. Dan Billy yang sangat menjunjung kesetiaan akhirnya kalap dan menghancurkan semuanya. Termasuk hatiku dan persahabatnya dengan Hanif.
" Aku tak bisa Han.." Desisku berbalik arah.
" Dinda..." Buru Hanif mencegahku.
" Tolong Han, jangan berpura-pura lagi, aku tau kita tak bisa lakukan ini.." Hibaku.
Hanif termangu menggenggam erat jemariku. Aku tau dia juga dalam dilema ini
Sejak kejadian hancurnya rencana pernikahanku dengan Billy di H-1 itu, Hanif lah yang selalu disampingku. Menangkal semua cacian dan cemoohan semua orang yang tak tau pokok permasalahannya. Bahkan dia juga yang tetap menemaniku saat aku memutuskan menjauh sejauh mungkin dari keluargaku. Karena tak ingin makin mempermalukan mereka.
" Siapa yang bisa melawan takdir Din? Kita ini hanya pion-pion kecil dihadapanNya. Kurang jauhkah kita menjauh? Kurang dalamkah kau membenci Billy? Kurang berlapang dadakah kita terima semua akibat yang seharusnya tak perlu kita pikul? Tapi apa daya kita  Din? Kita akhirnya kembali ke sini. Kita akhirnya harus menghadapi semua ini. Kau pacar kesayangan Billy, dan aku sahabat terbaiknya."
Aku makin sakit mendengar semua jabaran Hanif.
" Kau yang saat ini dibutuhkan Billy. Tegakah kau membiarkan orang yang sangat mencintaimu itu menunggumu? Tegakah kau membiarkan orang yang sangat memujamu itu kebingungan mencarimu?"
Aku menunduk dalam-dalam menyembunyikan isakku.
" Bagaimana kalau ingatannya pulih lagi? Dia kembali membenciku, mencampakkanku. Aku juga kau Han. Dihadapannya kita ini seperti penghianat."
Hanif tersenyum tipis, megusap lembut air mata dipipiku.
" Ada aku Din. Aku tetap disini."

    Dan akhirnya aku kembali meneruskan perjalanan beratku menemui Billy. Sampai di depan pintu kamar Billy aku kembali termangu.
" Tenanglah, aku diluar, 10 menit lagi aku menyusul." Ucap Hanif seperti menghibur.
Tapi kalau boleh jujur, yang kubutuhkan saat ini adalah kabur dari sini.
" Masuklah, jadilah Dinda kesayangan Billy."
" Kalau boleh memilih, aku lebih suka menjadi Dinda-mu."
Hanif tersenyum.
" Tuhan punya rencana sendiri kenapa ini terjadi."
" Kenapa tak diceritakan saja yang sebenarnya? Kalau sekarang dia sangat membenciku, bahkan dia tak kan pernah memaafkanku. Bukankah itu lebih baik baginya saat  kelak kesadarannya pulih?" Desisku
" kenyataan yang berlawanan dengan yang diingatnya akan membuat kerusakan otaknya makin parah. Dan bisa berakibat fatal." Sahut Benny tiba-tiba.
Aku menatap Benny.
" Maaf, mungkin dulu dia terlalu dalam menyakitimu, akupun tak kan sanggup memaafkan hal itu jika jadi dirimu, tapi...aku mohon!" Ucapan Benny kali ini sangat memelas.
hampir 4 tahun aku pacaran dengan Billy, hingga aku cukup mengenal Benny. Benny sangat menyayangi kakaknya, melebihi orang tua mereka menyayangi mereka. 
Pandanganku beralih ke Hanif, laki-laki yang lebih mirip tongkat penyanggaku. Pengorbanannya sangat tak adil jika harus dihanguskan dengan kenyataan ini. Awal kisah kami memang bukan bernama cinta. Tapi seiring waktu berjalan kami menjadi dua orang yang saling membutuhkan. Dan itu lebih dalam dari percintaan manapun.
" Masuklah, aku tau kau bukan orang yang tak bisa memaafkan kesalahan orang lain."
" Ini tak adil Han," Aku terus mencoba 'berontak'.
" Kau masih percaya Tuhan kan? Dia maha adil, Dia tak kan meninggalkanmu, percayalah" Ucap Hanif meyakinkan.
Tapi aku tetap tak bisa meyakinkan hati ini. Kenapa aku harus kembali ketempat yang sudah sangat jauh kutinggalkan? Kenapa aku harus kembali ke tempat yang sebenarnya sudah tak menginginkanku lagi?
Kupandangi pintu dihadapanku dengan perasaan tak menentu. Tanganku gemetar mendekati handle pintu itu.
Sungguh, yang paling kuharapkan saat ini adalah ingatan Billy cepat pulih. Hingga aku tak perlu lagi memainkan peran tak kusukai ini. Hingga aku tak perlu lagi ada ditempat tak seharusnya ini. Hingga aku bisa hidup wajar dengan Hanif yang mengerti semua ini.
Untuk terakhir kalinya mataku kembali menatap Hanif, dan hanya senyum yang terasa hambar yang diperlihatkannya. Ya Tuhan, tolong aku.




10/09/2014