Namanya Lira, rumah kami hanya berjarak beberapa rumah tetangga. Sejak kecil sudah menjadi teman bermainku, masuk bangku sekolah pun selalu sekelas. Hanya kemudian masuk bangku kuliah kami beda jalur fakultas. Aku mengikuti bakatku di arsitektur dan dia menekuni kegemarannya di dunia teater. Tapi kami masih sering bersama. Berangkat kuliah bersama, ke kantin saat istirahat, dan kadang pulang pun bersama. Semua tetap tak ada perubahan meski usia kami sudah berjalan begitu jauh, sampai kemudian sosok Hanung menyelinap diantara kami.
Memang selama belasan tahun mengenal Lira, aku tak pernah sedikitpun berhasil menjamah salah satu sisi hidupnya, yang sangat penting. Kehilangan figur ayah diusia yang baru 3 tahun membuat Lira tak pernah mau membuka hatinya untuk pria manapun. bahkan untukku yang selalu setia menjadi bayang-bayangnya. Tapi saat bertemu Hanung, teman sekelasku dikampus, aku tau ada seberkas cahaya indah yang ingin Lira raih bersama Hanung. Dan ternyata melihat orang yang paling kita sayangi tersenyum bahagia, meski bukan dengan kita, adalah sesuatu yang sangat istimewa.
Aku turun dari motorku dan melangkah mendekati Lira yang masih belum menyadari kedatanganku. Semakin dekat aku semakin merasakan dadaku sesak. Apalagi saat teringat yang kulihat tadi diperempatan lampu merah sana. Hanung satu mobil dengan gadis lain.
Langkahku terhenti seketika saat tiba-tiba Lira menoleh dan mendapatiku.
" Endru..."
Aku cukup salah tingkah mendapati sinar matanya yang semula sedih dan gelisah dipaksakan berubah lain.
" Aku kebetulan lewat tadi dan melihatmu sendirian disini. Sudah hampir petang, siapa tau kau mau membonceng pulang." Kataku berbohong.
Tergelar senyumnya yang sejak kecil sampai sekarang selalu sama, dipaksakan terlihat manis.
" Kau pulang saja dulu, aku masih menunggu Hanung."
" Kemana memangnya Hanung?" Tanyaku, pura-pura tak tau kemana Hanung.
Sesak dadaku kian menghebat menahan rasa amarah.
" Dia pergi sebentar."
" Kemana?"
Lira diam sebentar, menggigit bibir bawahnya sedikit. Seperti mengumpulkan sebuah tenaga untuk melanjutkan penjelasannya.
" Mengantar Angel pulang."
Aku tergelak tak percaya, Lira menatapku protes.
" Apa-apaan ini Lir, kau tau siapa Angel?"
Lira menunduk sembari mengangguk.
" Kalau tau kenapa membiarkan Angel dekat-dekat dengan Hanung? Jangan-jangan kau juga akan diam saja kalau Angel meminta Hanung darimu." Geramku kesal
" Kalau itu juga kemauan Hanung dan membuat Hanung jauh lebih bahagia, kenapa tidak Ndru?"
Aku tertawa tak percaya. Lira menatapku sejenak.
" Apa-apaan ini Lir? Kau bukan malaikat, kenapa harus jadi sangat mengalah begini? Hanung itu pacarmu, kau berhak melarangnya pergi dengan siapa, sekalipun itu mantan pacarnya saat SMA yang masih punya perasaan padanya." Dan aku merasa makin geram.
" Tapi siapa yang bisa mengikat hati orang Ndru? Meskipun Hanung pacarku tetap saja hatinya tetap miliknya sendiri, dia tetap berhak penuh mengikatkan hatinya pada siapa. Paksaan tak kan menghasilkan sesuatu yang baik selain rasa sakit." Sanggahnya.
Aku terpaku mendengar ucapannya.
Mungkin secara pribadi Lira memang punya masalah serius tentang hati. Tapi aku tak menyangka akan sedalam ini efek yang ditimbulkan dari semua itu, hingga membuat Lira menjadi sosok yang begitu pasrah pada kemauan hati.
Dan ini makin membuat hatiku sakit.
" Lir..." Panggilku lirih,. perlahan mendekatinya dan berjongkok dihadapannya.
" Dibanding Hanung, aku jauh lebih mengerti dirimu. Dan mungkin perasaanku pun jauh lebih besar daripada yang dimiliki Hanung. Tapi, saat melihatmu bersama Hanung aku merasa kebahagiaan dimatamu jauh lebih jelas kulihat. Aku baru sadar kalau aku juga tak jauh beda denganmu, Sama-sama tak punya keberanian memaksa hati orang lain terikat pada kita, sekalipun dia yang paling kita sayangi."
" Ndru, jangan bicara begitu" Kilah Lira tak suka.
Aku tersenyum kecil.
" Kita ini orang-orang yang bodoh, jelas-jelas mencintainya tapi kenapa begitu rela dia bersama orang lain, hanya beralasan karena mungkin dia bisa lebih bahagia dengan yang lain. Apa ada yang salah dengan hati kita?" Lanjutku apatis
" Ndru...." Desis Lira meraih tanganku,
Dan kulihat, cahaya dari bola mata bening itu kian mengikatku lebih erat, membuat dadaku kian sesak rasanya.
" Sejak kecil aku paling tak suka melihatmu berwajah murung bahkan sampai menangis. Rasanya dadaku begitu sulit bernafas melihatmu begitu. Sampai sekarangpun tetap begitu. Aku tak tau kenapa."
" Ndru, aku..."
" Dan aku sebenarnya tak pernah suka kepura-puraanmu. ekspresi wajahmu yang kadang kau ubah dengan tiba-tiba. Senyummu yang sering memaksakan diri. Juga ketegaranmu yang terlalu kamuflase. Aku tau semua itu, dan aku sangat tidak suka itu. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, karena selebihnya adalah hakmu begitu."
Lira mengenggam jemariku lembut dengan seulas senyum kecil.
" Seperti saat ini.." Lanjutku berhasil membuat senyum kecilnya mengabur
" Kau terlalu memaksakan diri untuk tegar menghadapi ini. Kau terlalu menyiksa dirimu sendiri untuk kebahagiaan orang lain."
Lira menunduk menghindari tatapan penghakimanku.
" Jangan bersikap begini Lir. Aku juga ada diposisi seperti ini, dan aku tak ingin kau juga merasakan kesakitan ini. Aku tau kau tak setegar itu. "
Lira mendesah berat.
" Andai kita bisa memilih kepada siapa hati kita terikat, pasti tak kan serumit ini. Kita akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Tak perlu ada penderitaan diatas kebahagiaan orang yang kita sayangi. Tapi nyatanya memang begitu rumus kebahagiaan, berdiri diatas penderitaan yang lain."
" Kadang aku berharap bisa mencintaimu seperti cintaku pada Hanung" Ucap Lira seperti berkhayal.
Aku tertawa lirih. Sekilas memang ada semburat bahagia mendengar pernyataan semu itu, tapi secepatnya aku tersadar.
" Aku serius Ndru. Kau satu-satunya orang yang paling mengenalku. Tapi..." Suara Lira menghilang
" Tapi kita bahkan seperti tak punya hak mengatur pada siapa hati kita terikat kan?" Ungkapku melanjutkan jabarannya.
Lira bungkam, hanya sinar matanya yang berusaha mengungkapkan sebuah kalimat yang lain.
Aku bangkit,
" Tenanglah Lir, aku tak masalah kau mengikat hatimu pada siapa, yang penting kau bahagia. Karena bagiku, melihatmu bahagia jauh lebih membuatku tenang daripada kau bersamaku dengan wajah muram."
" Kau sama saja sengaja meletakkan kebahagiaanku diatas penderitaanmu Ndru," Keluh Lira.
Aku tersenyum seyakin mungkin.
" Mau bagaimana lagi, aku tak punya mengatur hatiku sendiri."
Lira meraih jemariku, meremasnya lembut. Dan senyumnya lagi-lagi terlihat memaksakan diri untuk menyetujui ini.
Senja sudah menutup sempurna, lampu-lampu taman disekeliling kami sudah menyala. Dan ternyata, Hanung belum datang juga. Mungkin Lira tak setegar yang terlihat, tapi pasti dia lebih tegar dri yang kukira. Karena menghadapi hati yang rumit begini tak semudah yang dibayangkan.
semoga ini jadi desember ceria
1 desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar