Kupandangi punggung kecil didepanku itu, berjalan tanpa suara dan seperti juga tanpa ekspresi. Untuk ukuran orang yang baru dua jam lalu pingsan, dia terlihat sudah bugar.
Huuuhh... aku bahkan belum bisa melupakan kejadian tadi, saat tiba-tiba dia pingsan saat aku ada didekatnya, dan itu bukan sebuah kesengajaan seperti saat ini. Tapi aku sadar, tanpa pernyataannya tadi , mungkin aku akan kena masalah
" Apa? Ibu bilang aku mau menjahati Sisy? Apa aku punya tampang seperti itu?" Desisku pada Bu Aida, dosen konseling kampus.
" Bukankah itu ciri khasmu?" Sanggah Bu Aida telak,
Aku tersenyum kecut,
Sebejat-bejatnya aku, tak mungkin aku berbuat tidak baik pada Sisy, dia salah satu dari segelintir teman kampusku yang memandangku lain. Lagipula Sisy sering meminjamiku catatan makul kalo aku lagi bolos kuliah. Paling tidak, aku cukup menghormati gadis ini, diluar dia adalah anak salah satu pemilik saham kampus ini, dan kakaknya juga seorang pengacara.
Sisy adalah salah satu bintang dikampus ini, memang untuk ukuran wajah dia tetap satndart, tapi soal IQ dan partisipasinya dalam berbagai kegiatan membuatnya seperti artis kampus. Mungkin semua orang dikampus ini mengenalnya dengan baik. Mulai dari tukang sapu kampus, satpam kampus,dosen dan rektor, mahasiswa mulai tingkat paling awal sampai yang mau lulus, bahkan penjual asongan di depan kampus pun pasti mengenal Sisy.Dan tentu saja dengan pribadinya yang baik, tidak sombong, suka menolong, dan selalu bersahaja. Dia andalan di setiap program amal dan kegiatan kampus lainnya. Entah darimana energi yang membuatnya aktif seperti itu, yang pasti Sisy memang pantas diacungi jempol dalam segala hal. Dan satu lagi, dirumahnya pasti ada lebih dari 1-2 mobil, tapi Sisy lebih sering naik bus, kadang kala saja terlihat diantar kakak laki-lakinya yang pengacara itu.
" Ini tak ada kaitannya dengan Bram." Sela Sisy tiba-tiba, entah kapan dia tersadar dari pingsannya karena beberapa menit sebelumnya aku masih melihat matanya tertutup.
" Owwhh... Ya sudah kalo begitu. Aku percaya yang kau katakan." Ujar Bu Aida kemudian berlalu.
Aku tergelak tak percaya.
" Hah? Sisy hanya bilang begitu anda langsung percaya? Apa ini tidak keterlaluan? Anda percaya aku tak melakukan kejahatan kalo orang lain yang bilang?" Protesku diiringi gelak pahit. Tapi siapa yang mau mendengarku? Aku terkenal mahasiswa badung, bahkan dicap playboy kelas kakap yang selalu mempermainkan cewek-cewek. Huuuffttt....
Dan untuk rasa terimakasihku karena Sisy sudah 'membawaku' keluar dari jebakan dosen konseling, aku menawarkan diri mengantarnya pulang ke rumahnya. Tapi lorong gang sempit ini bukan jalan menuju rumahnya. Karena setahuku, Sisy tinggal di real estate mewah.
" Sisy..." Panggilku tetap berjalan mengikutinya.
Sisy hanya berdehem pendek, tak berhenti atau sekedar menoleh ke belakang.
Sebenarnya aku malas sekali berjalan dibelakang orang yang kuajak bicara, tapi mau bagaimana lagi, lorong gang ini terlalu sempit, tak cukup untuk berjalan 2 orang beriringan.
" Kita sebenarnya mau kemana? Tadi aku kan menawarimu pulang." Tanyaku akhirnya, karena lama-lama aku tak bisa menahan rasa ingin tauku, kenapa Sisy malah ke tempat lumayan kumuh begini.
Belum juga Sisy menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada sebuah seruan dari seseorang di sebuah loteng,
" Sisy, makin cantik saja kau!"
Seruan itu seperti sebuah sapaan familiar untuk orang semewah Sisy, bahkan aku pun belum cukup berani menyapa begitu. Tapi pemuda di loteng itu berani, dan Sisy hanya menanggapi dengan senyum lebar dan melambai. Lalu melangkah lagi. Tak hanya itu, beberapa orang, paruh baya atau seumuran kami pun banyak yang menyapa Sisy, dan anehnya Sisy menanggapinya dengan sangat gembira. Kontras sekali dengan mimik wajahnya saat berhadapan dengan kakaknya tadi.
" Jangan terlalu banyak berfikir, nanti kau juga akan tau, dan kuharap setelah tau kau jangan terlalu kaget. Dan..." Sisy spontan membalikkan tubuhnya, terang saja aku kaget dan berhenti mendadak.
" Tak perlu katakan pada yang lain tentang kunjunganku ke tempat ini." Lanjutnya serius
Alisku terangkat.
" Bukan soal aku malu, tapi aku hanya malas kalo terdengar keluargaku."
" Hah?" Tak sadar aku menganga.
Sisy kembali melangkah, menuju sebuah rumah kecil lagi sangat sederhana. Tangannya hendak membuka handle pintu tapi sepertinya terkunci. Sisy lalu duduk di kursi kayu yang usang disebelah pintu.
" Rumah siapa ini?"Tanyaku ikut duduk.
" Ibuku"
Mataku memicing. Jujur, aku benar-benar kaget.
" Ibu? Bukannya mamamu pemilik salon yang cukup terkenal itu?"
" Tidak. Wanita itu bukan siapa-siapa, selain orang yang aku benci." Kata terakhirnya cukup membuat suasana hati Sisy makin berbeda dari biasanya yang kukenal, wajahnya tertunduk.
Aku tak menyangka saja, ternyata Sisy sang malaikat kampus itu, yang selalu terlihat serba bisa, enerjik, dan seperti matahari ceria itu punya sisi lain dalam raut wajahnya. Wajah yang sendu, penuh kesedihan.
Aiiiiiiiissshh...... apa pula ini? Kenapa aku jadi lebay begini? Rutukku
" Sisy..."
Kami berdua kaget dengan sapaan itu. Kami mendongak, sekitar 2 meter dari tempat kami duduk ada seorang ibu paruh baya berjilbab lebar dan gamis murahan menenteng sebuah box makanan.
" Ibu." Seru Sisy bangkit mendekat.
Aku melongo lagi.
Ibu?!
Sisy mengambil alih box makanan itu dari tangan wanita bernama "ibu" itu, lalu Sisy mencium tangannya dengan lembut.
" Sudah kesini lagi, nanti ayahmu mencari." Kata wanita paruh baya itu seperti khawatir
" Makin hari dia makin sayang dengan uangnya, bukan dengan anaknya" Sungut Sisy manyun, aku sampai tersenyum kecil melihat ekspresi childish itu.
" Eehh... tak boleh begitu."
" Apanya yang tak boleh? Ibu tau dimana dia seminggu ini? Ke malaysia, dan dia tak pernh sekalipun menelponku. Apa itu namanya?" Kali ini ekspresinya berubah marah
" Ya itu kan karena sibuk."
" Ibu... kenapa sih selalu membelanya? Dia itu jahat!" Sergah Sisy, makin geram.
Wanita paruh baya itu kemudian menyadari keberadaanku, menatapku sekilas, aku tersenyum kecil.
" Dia teman kuliahmu?"
Sisy mengangguk,
" Tadi aku kurang enak badan, dan dia menawariku mengantarku, jadi ya kusuruh dia mengantarku kesini"
" Kurang enak badan?" Ulang sang Ibu.
" Tak apa, paling cuma kecapekan kemarin habis koordinir kegiatan amal" Timpal Sisy berbohong. Padahal aku tau pasti kemarin tak ada jadwal apapun di kampus.
Sang Ibu melangkah masuk rumah setelah membuka kunci pintunya.
" Masuklah, tapi rumahnya sangat sederhana" Ucapnya padaku, aku hanya mengangguk
Dan rumah ini memang sangat sederhana. Ruang tamu hanya berisi 2 buah kursi sedang mengapit meja kecil disudut ruangan. Lalu ada ruang lain tersekat, mungkin kamar tidur. Dan disisi ruang itu seperti dapur. Tapi meskipun sederhana dan sempit, tetap rapi dan bersih. Tapi yang terlihat janggal, meskipun orang tua Sisy tidak bersama lagi, bukankah seharusnya Sisy bisa membantu agar kehidupan ibunya lebih baik?
" Sy,..." Panggilku berbisik,
Lagi-lagi Sisy hanya berdehem, dia lebih sibuk memberesi bawaan ibunya tadi
" Itu benar ibumu?"
" Hmmm.. ibu yang melahirkanku."
" Lalu..."
" Bu... kenapa dagangan ibu masih banyak?" Seru Sisy pada ibunya, memotong rasa penasaranku.
Kupandangi wajah enerjik itu, sungguh diluar dugaanku bahwa Sisy yang sehari-hari kulihat ternyata dulu berasal dari rumah kecil ini. Dan meski sudah belasan tahun dia meninggalkan rumah ini dan pindah ke istana besar tapi tetap saja dia mendatangi rumah ini. Pasti Sisy sangat mencintai tempat ini. Dan yang tinggal disini tentunya.
Intinya, tak ada yang akan menyangka tentang yang kuketahui hari ini tentang sisi lain kehidupan Sisy. Andai ada yang tau mungkin banyak yang tak peduli. Dan kalo ada yang peduli, mungkin karena ingin memcemoohnya.
" Kenapa kau percaya kalo aku tak akan mengatakan semua ini pada yang lain?" Tanyaku serius. Paling tidak, aku memang harus tau alasan Sisy mengajakku kesini, karena ini pertama kalinya Sisy mengajak orang lain dari dunianya sekarang berkunjung ke dunianya yang ini.
Sisy yang asyik menikmati kue pastel menatapku sekilas, tapi seperti masih ingin menghabiskan sisa pastelnya sebelum menjawab pertanyaanku tadi.
" Kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan. Jadi jangan terlalu memikirkan kenapa aku mengajakmu kesini." Jawabnya dengan seulas senyum.
" Bu, aku antar ini ke tempat Ayla ya..." Pamitnya sembari berdiri.
Terdengar sahutan mengiyakan dari dalam kamar.
" Aku pergi ke depan sebentar ya."
Aku mengangguk pelan.
Mungkin bagi Sisy masih banyak hal yang lebih besar dan lebih rumit untuk dia pikirkan daripada memikirkan alasan mengajakku ke dunia asalnya. Dan memang benar, kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan, karena kadang alasan itulah yang justru mengubah sesuatu dari sifat hakikinya.
Sekarang aku mengerti kenapa Sisy begitu giat dalam segala kegiatan amal dan kegiatan lain di kampus. Kenapa dia tetap hidup bersahaja, lebih suka naik bis ke kampus dan bersikap seadanya, meski kenyataannya dia bisa hidup mewah dan semaunya. Karena dia punya sisi lain dalam hidupnya yang bertentangan dengan dunianya yang sekarang.
love, life, and the reason
Tidak ada komentar:
Posting Komentar