Kamis, 30 Juli 2015

( NOT SO ) DIFFERENT

Setelah kepergian Alvin yang kembali ke kantornya untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan, aku kembali melangkah perlahan keluar dari dalam lobi rumah sakit yang mulai sepi. Hanya ada 1 resepsionis jaga dan seorang satpam yang sepertinya memilih ngobrol dengan si resepsionis untuk mengusir kesepian yang mulai melanda rumah sakit kecil ini bila sudah malam.
Tak terasa hampir 6 bulan aku menghabiskan waktu di rumah sakit ini. Dan selama itu, sejak kejadian di kantin 2 bulan setelah aku dipindahkan disini itu, Alvin-lah yang setia menemaniku. Meski awalnya aku selalu mengelak dan menolak kehadiran Alvin, tapi ternyata ada benarnya juga omongannya waktu itu yang mengatakan bahwa setiap orang paling tidak memerlukan seseorang untuk menemaninya melewati masalah yang sedang dihadapinya, daripada berusaha keras mengandalkan kekuatan sendiri.
Aku sadar, Alvin ingin memulai lagi lembar baru denganku. Dan aku tau, aku mulai luluh dengan semua perjuangannya.
Saat kakiku mulai melangkah ke tempat parkir ke arah mobil Alvin, langkahku mendadak berhenti menyadari seseorang yang berdiri disamping sebuah mobil mewah.
Seketika kenangan menyakitkan setengah tahun lalu menyeruak tak terbendung karena mataku menikmati wajah tampan di depan sana itu. Kris. Dadaku benar-benar langsung pengap. Aku mendesah jengkel.
" Lama tak jumpa, Laras."  Sapanya melangkah mendekatiku.
Aku tergelak.
" Aku tak pernah berharap bertemu denganmu lagi. Mau apa kesini? Apa belum cukup melemparku ke tempat kecil begini? Apa kau belum puas mengambil semua yang berharga bagiku? Apa kau mau mengambil sisanya lagi?" Geramku dengan amarah di ubun-ubun kepala.
Kris menunduk sebentar, seperti sengaja menghindari tatapan sinisku.
" Maaf." Katanya lirih.
Aku tergelak lagi.
" Apa kau bilang? Maaf? Setelah semua yang kau lakukan padaku, setelah kau menusukku dari belakang hingga aku sampai terlempar kesini, bahkan menghanguskan impianku meraih gelar Spkj, kau dengan mudahnya bilang maaf?" Tanyaku penuh amarah.
" Sekalipun kau meminta maaf dengan berlinang air mata darah, aku tak akan pernah bisa memaafkanmu, Kris!!"
" Laras..." Desis Kris mencoba lebih mendekat lagi.
" Jangan sebut namaku, dan jangan menyentuhku!"
Mata Kris menatapku sedih. Tapi aku tak mungkin tergugah dengan semua itu. Kenyataan bahwa dia pernah menusukku dari belakang hingga aku dilempar dari rumah sakit pusat ke rumah sakit daerah di kota kecil ini, adalah sangat sulit untuk kumaafkan.
" Aku datang untuk menjemputmu. Ayo kita kembali, kembalilah menjadi partnerku. Tak ada yang bisa menjadi partnerku sebaik yang kau lakukan. "
" Apa?" Aku tertawa apatis.
" Ya. Aku bisa membawamu ke rumah sakit pusat lagi. Aku bahkan akan mengurus studi lanjutanmu ke luar negeri untuk bisa meraih gelar Spkj."
Aku masih tertawa tak percaya.
Setelah dulu dia dengan tak manusiawinya merampas semua dariku, sekarang dia malah datang seperti orang tak berdosa memberikan kembali padaku. Apa ini normal?
" Kita akan menjadi psikiater handal bersama-sama, Ras. Kita bahkan bisa menjadi yang terbaik dari yang terbaik, Ras." Ucapnya penuh semangat.
Kutatap Kris lekat. Rasanya baru kemarin aku begitu mencintai pemilik wajah tampan itu dan bersama-sama meraih mimpi kami sebagai seorang ahli psikiatri. Dan hanya dengan menatapnya, seakan menjadi semangat tersendiri untuk melangkah. Tapi kini, aku begitu jengah. Bahkan aku begitu kewalahan menghadapi rasa benci yang menyerangku.
" Awalnya aku merasa diperlakukan tak adil sampai ada ditempat seperti ini. Tapi apa kau tau, Kris? Disini, aku mendapat banyak cinta dan ketulusan yang dulu kau campakkan. Dan aku jadi sangat menyukai tempat ini." Kataku lebih terkontrol.
" Kau ini bicara apa, Ras. Bukankah cita-citamu menjadi ahli psikiatri yang terkenal diseluruh jagad? Mendapatkan banyak lisensi, menguasai semua...."
'' Tidak." Sergahku cepat, memotong ucapannya. Kris menatapku tak mengerti.
" Disini aku tau arti seorang ahli psikiatri. Disini aku tau untuk apa sebenarnya seorang psikolog."
" Laras..." Keluhnya seperti kecewa mengetahui sekarang aku tak lagi punya ambisi menjadi ahli psikiatri yang hebat dan diakui oleh seluruh dunia.
" Kau tak bisa seperti ini, melepas semua impian yang pernah kita bangun bersama. Kita akan berdiri di puncak tertinggi hingga semua orang bisa melihat kita."
Aku mendesah.
Tak dapat kupungkiri, dulu aku memang berambisi seperti yang dikatakan Kris tadi. Sama-sama berangkat dari strata rendah yang sering dicemooh dan dikucilkan orang lain, aku dan Kris selalu bertekad dan berjuang semaksimal mungkin agar kami berdua bisa diakui oleh semua orang. Dan disini aku justru mendapat arti hidup yang sebenarnya dari Alvin, yang berangkat dari strata sosial tertinggi.
" Tidak, aku tak ingin berdiri ditempat yang tinggi lagi, apalagi bersamamu. Kau yang akan terus mencoba mendaki ke tempat tertinggi seumur hidupmu tapi pada akhirnya kau akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatmu yang mengasihimu dengan tulus. Dan yang ada disekitarmu itu, hanya orang-orang palsu yang akan menggerogotimu kemudian menunggumu terkapar. Kau hanya akan mejadi orang yang malang pada akhirnya." Kataku dengan intonasi yang kubuat sedatar mungkin.
" Apa kau melepas semuanya karena kau begitu membenciku?" Tanya Kris sedih.
Benci? Aku bahkan menganggap ini jauh lebih pekat dari warna kebencian. Tapi, jika aku terus membiarkan kebencian ini menggerogotiku, aku pasti tak akan bisa melangkah lagi.
" Dimatamu sekarang aku mungkin bukan orang yang baik, tapi apa orang yang buruk tak berhak untuk dicintai? Sekalipun aku pernah melakukan semua hal buruk padamu, tapi hanya kau yang selamanya aku cintai, Ras. Kau yang pantas dan mampu mendampingiku."
Aku tergelak.
" Lelucon apa ini, Kris? Kau pikir aku malaikat? Dan justru makin hari aku makin sadar, bahwa aku tak menyesali telah kau campakkan. Dan kau, kau tak akan pernah melupakanku dan akan selalu hidup dalam penyesalan yang tak pernah kau bayangkan."
Terlihat sekali mata Kris nanar menatapku.
" Pergilah, pulanglah ke tempat tertinggimu itu. Dan jangan pernah berfikir menemuiku lagi, karena aku bukanlah Laras yang dulu."
" Apa kau sudah mencintai orang lain? Apa semudah itu kau memindahkan cintamu pada orang lain." Desis Kris putus asa.
Mungkin. Mungkin memang aku sudah mengubah haluan cintaku pada orang lain. Tapi bukankah itu yang disebut move on? Aku hanya ingin lepas dari rasa sakit itu dan mencoba lagi untuk bahagia. Bukankah semua orang pantas bahagia?
" Itu bukan urusanmu lagi, pergilah."
" Laras...."
" Kubilang pergi...!!! Apa aku perlu memanggil satpam?" Geramku akhirnya.
Kris menunduk sebentar.
" Maafkan aku, Laras."
" Jika semua luka hati bisa sembuh hanya dengan maaf, maka tak akan ada lagi yang mempelajari psikiatri, Kris."
Kris mundur perlahan. Kugenggam tanganku kuat-kuat menahan sakit yang menyerang ulu hatiku. Dan ketika Kris masuk ke dalam mobilnya, tak sadar air mataku mengalir. Aku bahkan tak bisa mengartikan untuk apa air mata ini. Mobil mewah itu melesat meninggalkanku pergi. Mataku terpejam seiring air mataku terjatuh lagi, dan saat aku mendongak sudah kutemukan seraut wajah tampan Alvin. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain agar Alvin tak melihat air mataku.
" Kalo hatimu berat melupakannya, maka jangan mencoba melupakannya." Ucap Alvin.
" Tidak, Al. Kami sudah terlalu jauh, dan aku merasa kami sudah tak bisa bersama."
" Jika jarak diantara kalian terlalu jauh, maka larilah mendekat. Jika kau tak bisa merasakannya ada disampingmu, maka peluklah. Meskipun itu terasa sakit, tapi tetap saja kau tak bisa mengacuhkannya kan?"
Kuusap air mataku kasar.
" Apa perlu aku mencintainya lagi? Hal semacam ini apa bisa disebut cinta? Saat yang kita sebut cinta melukai sebanyak ini, hingga aku merasa seperti akan gila membencinya, apa masih bisa disebut cinta?" Ceracauku kembali meneteskan air mata, tubuhku gemetar menahan sesak dadaku.
Tapi Alvin malah mendekatiku dengan senyum tipis.
" Ya,itu adalah cinta. Saat kau memikirkan seseorang dan terasa sangat menyakitkan, membuatmu menderita karena harus bertarung dengan kebencian yang kau tak mengerti dari mana asalnya, itu juga cinta, Laras."
Aku termangu mendengar penuturan Alvin. Ingin aku membantahnya, tapi aku bahkan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Dan dalam hati, aku bertanya benarkah ini masih bisa disebut cinta? Bahkan hatiku begitu sakit melihat kedatangannya, sampai kesulitan bernafas, lalu dari sisi mana itu bisa disebut cinta?
" Aku tak bisa memintamu melupakan masa lalumu. Aku juga tak bisa bilang kau jangan lagi terikat dengan masa lalumu. Kau jauh lebih mengerti apa itu trauma dan cara mengobatinya. Tapi tak peduli seberapa keras aku mencoba, jika kau masih terikat masa lalu itu, aku bisa apa?" Kali ini seperti keluhan.
" Maaf, tapi aku juga sedang berusaha. Tak bisakah kau melihat kalo aku juga berusaha mengalahkan semua itu dan kembali melanjutkan hidup? Aku menyayangimu juga, apa kau tau betapa sakitnya hatiku? Meskipun aku menyayangimu, tapi aku memiliki banyak kekurangan. Aku sadar kalo kita...."
" Berbeda?" Geram Alvin menyela.
Aku menunduk.
" Setiap kali kau mengungkit itu, aku merasa kau sendiri yang membentengi dirimu agar tak tersentuh olehku, Ras. Sekeras apapun usahaku, tapi benteng itu sangat kuat dan tinggi. Dan kekuatanku juga terbatas. Aku takut suatu waktu aku akan menyerah." Lanjutnya sedih, membuatku merasakan sakit lagi.
" Sudahlah, kuantar kau pulang, ini sudah malam." Katanya lagi, dengan nada dipaksa sedatar mungkin, lalu melangkah lebih dulu.
" Al...!" Seruku segera, meraih lengannya yang baru saja melewatiku. Langkah Alvin terhenti, dan tersenyum melihatku.
" Kau benar, paling tidak kita membutuhkan seseorang disamping kita untuk menghadapi masalah yang datang kan?'' Tanyaku
" Itu hanya bila kau membuka hatimu." Jawab Alvin.
'' Bisakah kau bersabar sedikit lebih lama? Aku sedang dalam perjalanan kesana."
Alvin tersenyum, lalu menghadap penuh padaku. Meraih jemariku.
" Bukankah aku orang paling sabar yang kau kenal? Berapa lama aku menunggu? Apa kau pikir aku bisa dikalahkan dalam hal menunggu? Hah?!" Dengusnya dibuat-buat. Aku menunduk menyembunyikan senyum. Tiba-tiba tangan Alvin menyentuh pipiku menghapus sisa air mataku tadi.
" Tak perlu berfikir, kisah kita berjalan seperti cinderella little mermaid atau apalah. Kisah kita adalah milik kita sendiri, jadi kita jalani saja tanpa perlu membandingkan dengan kisah lain."
Aku mendongak sedikit dengan sisa senyumku.
" Apa kau sadar, bahwa sebenarnya jalan cinta itu seperti sebuah putaran? Sejauh apapun kau meninggalkannya, suatu saat kau akan kembali ke tempat semula, cinta pertamamu." Lanjutnya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Aku ikut mencondong menjauhi.
" Sudah kubilang jangan bersikap terlalu mencolok, ditempat seperti ini gosip gampang sekali tersebar." Protesku.
" Biar saja semua menggosipkan kita. " Tanggapnya enteng.
Aku tergelak dan tanpa menunggu ijin dariku lagi, Alvin menarik tanganku kembali berjalan menuju mobilnya. Dan aku merasa bahagia.





>Sebenarnya ini lanjutan "DIFFERENT" yang ada di blog satunya, hehehe

Senin, 27 Juli 2015

LOVE CYCLE; PUTARAN CINTA

Usai meletakkan mangkok bakso pesanan pelanggan, aku menoleh refleks menyadari ada yang datang lagi memasuki ruangan. Lalu senyumku mengembang. Seorang pria tampan dengan ditopang tubuh tinggi atletisnya juga tersenyum ke arahku. Lalu dia duduk di salah satu tempat duduk di meja yang masih kosong. Aku mendekatinya.
" Tumben mampir, apa ini sudah jam makan siang?" Tanyaku.
" Apa ada peraturan orang kesini harus jam makan siang? Aku hanya ingin mampir melihatmu." Katanya meraih sebotol softdrink di depannya.
" Oh... aku sangat terharu...!" Kataku mendramatisir seraya menyentuh dadaku. Lalu kami tertawa bersama.
Namanya San, menurut penjelasannya dia adalah salah satu prajurit di sebuah kesatuan AD. Aku tak begitu mengerti hal seperti itu jadi kuabaikan. Lagipula aku berteman dengannya bukan karena dia seorang prajurit, tapi karena persahabatanku dengan Cassy. Lebih spesifik lagi, aku merasa iba dengan apa yang terjadi pada San. Awalnya San dan Cassy berpacaran, tapi karena suatu tugas negara, San meninggalkan Cassy selama 6 bulan. Tapi saat kembali, San malah mendapati Cassy sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Pandu, teman San saat pendidikan militer tapi kini berbeda kesatuan. Dan aku sebagai sahabat Cassy hanya bisa diam menatap cinta segitiga mereka.
" Kudengar kau akan segera kembali bertugas." Tanyaku akhirnya ikut duduk di depannya.
" Hmm...begitulah." Jawabnya sambil menikmati minuman sodanya.
" Maaf ya." 
San mendelik mendengar permintaan maafku, menatapku heran.
" Apa kau punya salah padaku?" Tanyanya
" Salahku karena aku tak memberitahukannya padamu lebih awal."
San tergelak, membuatku menatapnya tak mengerti.
" Dalam hal ini, semuanya adalah salahku. Aku yang mengajak Pandu bertemu dan mengenal Cassy, dan aku pula yang tak bisa memberi kepastian pada Cassy akan hubungan kami hingga akhirnya dia lebih memilih Pandu yang bisa memberinya kepastian." Paparnya dengan intonasi datar.
Apa ini? Kenapa sedikitpun tak kudengar rasa sakit itu? Bukankah sewajarnya San paling tidak terluka mendapati gadis yang selama ini dicintainya akhirnya malah akan menikah dengan temannya yang dikenalkannya?
" Benarkah kau baik-baik saja? " Tanyaku penuh selidik, karena aku yakin apa yang kulihat tidaklah benar.
San menatapku sejenak dengan senyum kecil.
" Kalo aku bilang ya, kau tak akan mengataiku pembohong kan?" Tanyanya balik.

" Kau yakin dengan keputusanmu?" Tanyaku pada Cassy waktu aku baru saja mendengar kabar Pandu akan bertandang kerumah bersama keluarganya.
" Kurasa ya. "
" Apa maksudmu dengan 'kurasa ya' ? Ini soal pernikahan Cas," Geramku.
" Itulah..." Cassy ikut menggertakkan giginya. Menatapku sedikit protes. 
" Karena San tak pernah bisa memberiku kepastian tentang sebuah pernikahan, makanya aku...."
" Bahkan kalian baru setahun pacaran." Keluhku menyayangkan akhir cinta mereka.
" Diusia kita yang seperti ini, memang mau berapa lama kita pacaran? Kita bukan ABG lagi? Kita mencari pasangan untuk membangun sebuah keluarga, bukan hanya pacaran jalan kesana kemari mengumbar cinta yang tak halal." Paparnya berapi-api. Aku menunduk menyembunyikan senyum pahitku.
" Cinta itu memang aneh, awalnya mencintai siapa, tapi akhirnya malah hidup bersama siapa." Kataku lebih seperti menggumam.
" Apa kau sedang menyindirku?" Selidik San tanpa ada unsur tersinggung, bahkan dengan tatapan lucu.
Aku tergelak. San mendesah panjang.
" Tapi Cassy benar, percintaan yang tak berakhir pernikahan apakah membahagiakan? Tentu saja tidak. Aku memang mencintainya, tapi untuk 4-5 tahun ke depan aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang diinginkannya. Jadi wajar kalo dia..." San tak melanjutkan ucapannya, aku menatapnya iba.
" Dari dulu aku selalu menganggap Cassy itu adalah sesuatu yang indah, sangat indah hingga begitu sayang jika aku sampai melukainya. Makanya saat dia bilang dia membutuhkan kebahagiaan yang tak bisa kuberikan, aku tak bisa berbuat apa-apa saat Pandu datang menawarkan padanya. Sekarang asal dia bisa bahagia mendapatkan kebahagiaan itu, aku juga harus bisa bahagia."
Aku hanya tersenyum samar mendengar jabaran San kali ini.
" Banyak sesuatu yang terlalu indah akhirnya akan lenyap suatu hari nanti. Karena kita telah berfikir dia terlalu indah, secara tak sadar kita telah merentangkan jarak yang lebar dengannya. Kita pun akan mengalami kesulitan menggapainya. Meski kita telah lari sekuat tenaga mengejarnya, jarak itu masih saja tak bisa kita jangkau." Kataku seperti tak sadar.
San menatapku aneh. Aku menyadari itu dan tergelak sembari menghindari tatapannya.
" Apa ini semacam ungkapan hati?" Selidiknya mendekatkan wajahnya.
" Kau ini bicara apa."
" Aku sedang bicara tentang yang kau katakan tadi. Jujur, sejak mengenalmu aku bahkan tak pernah sekalipun mendengar kisah cintamu."
Aku tertawa cukup nyaring.
" Orang sepertiku bisa punya kisah cinta seperti apa?" Desisku merendah.
" Hei.... apa maksudmu dengan 'orang sepertiku'?" Gusarnya dan hanya kutanggapi dengan senyum getir.
" Kau gadis yang hebat. Siang bekerja di warung makan, malamnya jadi Dj di sebuah radio, dengan rubrik special." Lanjutnya membuatku tertawa.
" Apa hal semacam itu patut dibanggakan?" Tanyaku dengan sisa tawa.
" Kenapa tidak? Apa kau juga seperti kebanyakan orang, membanggakan seseorang dari segi pendidikan dan strata pekerjaan?"
Bukannya memang begitu aturannya? Dengungku sedih. 
Pada jaman ini, banyak yang mencibir seorang yang hanya lulusan SMU, bahkan kalo hanya bekerja sebagai pelayan disebuah depot mie ayam-bakso. Lalu apa yang pantas dibanggakan? Dj radio? orang bahkan hanya mendengar suaranya saja, apa yang bisa dibanggakan?
" Aku terlalu sibuk mencari uang untuk bertahan hidup. Aku tak punya waktu untuk memikirkan apa itu cinta." 
'' Bukankah kata orang cinta itu perasaan bukan pemikiran?"
Aku tergelak.
" I wanted to be that quirky girl who writes silly stories taht still have meaning. If you want the world and the world beyond it, date a girl who reads, or better yet, date a girl who writes."
Aku bungkam mendengar ucapan San kali ini. 
" Rosemarie urquico."
Aku tergelak lagi.
" Pantas, aku tak asing dengan kata-kata itu." Kataku akhirnya mengerti yang diucapkannya.
" Kau kaget aku bisa tau kata-kata itu? Kau pasti berfikir seorang seperti aku pasti taunya soal perang dan senjata kan? Sebagai DJ radio acara love line kau pasti jauh ada diatasku kalo soal seperti ini."
Aku tergelak lagi, dan San menatapku tanpa kedip. Perlahan aku diam lalu menunduk.
" Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanyaku rikuh.

" Apa salahnya? Kalo akhirnya Cassy meninggalkannya, kau bisa menggantikan posisi Cassy dihatinya. Lagipula kalian sudah cukup saling mengenal kan?" Desis mbak Mitha sore itu saat tau aku baru saja keluar dengan San, usai San mendapati kenyataan Cassy telah berpindah haluan ke arah Pandu.
" Mbak Mitha apaan sih? Kami itu cuma berteman." Geramku pada kakakku yang kupikir terlalu naif menafsirkan kehadiran San.
" Teman? Diusia seperti kalian mana ada laki-laki dan perempuan murni berteman? Lagipula kalo dia kelak menikahimu kau sendiri kan yang untung, punya suami seorang dokter militer."
" Mbak Mitha...!!!!!" Teriakku kesal.

" Maukah kau menungguku?" Tanya San memecah lamunanku. Aku mendongak sedikit.
" Cassy itu, cinta pertamamu kan?" Tanyaku lirih.
" Bisa dibilang begitu. Dan kata orang cinta pertama itu biasanya tak pernah berhasil." Jawab San dengan sedikit tersenyum " Aku sudah menegaskan aku tak mempercayainya, tapi ternyata itu malah terjadi padaku juga." Lanjutnya mengubah senyumnya tadi menjadi rentetan tawa miris.
" Dengan berlalunya waktu, cinta pertama itu akan menjadi kenangan yang indah. Sekarang mungkin memang menyakitkan, tapi saat kau mengenangnya nanti itu tak akan menyakitkan lagi." Gumamku.
" Itulah kenapa, aku ingin melanjutkan semua ini. Dan aku harap kau mau menemaniku." Sergahnya menatapku serius.
Aku termangu. Pikirku, apa San benar-benar serius? Atau hanya menganggapku pelarian dan menjadikanku bayang-bayang cintanya dengan Cassy yang telah kandas? Dan aku, aku sering bertanya-tanya dan berfikir dengan keras, jika yang mengalir diantara aku dan San adalah cinta, seberapa kerasnya aku memikirkannya dan mencari jawabannya, ini bukanlah cinta. Karena antara aku dan San tidak berada dalam situasi dimana kami bisa saling jatuh cinta. Ini bukan cinta. Aku hanya iba padanya, itulah kenapa aku selalu mengkhawatirkannya.
" Apa kau pikir kita berada dalam situasi yang bisa jatuh cinta pada seseorang?" Tanyaku
" Apa maksudmu?" Tanya San balik, tak mengerti.
" Kau terlalu cepat mengubah haluan hatimu, dan yang kau rasakan itu bukan cinta, tapi pelarian."
" Aku hanya merasa aku tak perlu bersedih untuk kebahagiaan mereka, itulah mengapa aku juga berusaha mencari kebahagiaan di tempat lain." Sanggahnya sedih.
" Dan semua yang kulakukan padamu hanya karena iba. Iba karena aku tau beratnya ada diposisi seperti itu."
" Dan apa salahnya kalo kemudian kita bersama?" Desisnya meninggi
" Tapi itu bukan cinta San. Cinta bukan simpati atau malah balas budi. Cinta bukan sesuatu yang bisa kau arahkan. Sebab cinta, bila dia menilaimu memang pantas, dia akan mengarahkan jalanmu."
San menatapku sedih.
Mungkin aku bisa saja mengabaikan apapun. Tapi, bukankah di dunia ini ada hal-hal yang tak dapat dipaksakan? Hal-hal seperti cinta salah satunya. Terlepas dari seberapa keras kita mencoba meraihnya, kita tak mungkin bisa merengkuhnya. Dan bahkan jika kita berhasil mendapatkannya, cinta itu tak akan bertahan lama. Kenyataannya San terlalu mencintai Cassy meskipun kini kenyataannya begini. Dan andai aku dengan tak tau malunya menggantikan posisi Cassy di hati San? Akan bertahan berapa lama? Hubungan yang hanya karena iba dan simpati, bukankah sangat rentan? Bahkan yang saling mengerti, saling memahami, saling menjaga pun bisa goyah.
" Kau tadi bertanya soal kisah cintaku. Orang sepertiku menganggap cinta itu adalah sesuatu yang menakutkan. Dan aku belum punya cukup keberanian untuk mencarinya." Kataku kemudian.
" Apa kau juga menganggapku terlalu indah?"
Aku menunduk mendapati sinar matanya sedikit terlihat goresan luka.
" Mungkin. Kau terlalu indah, kau juga terlalu jauh. Dan aku takut, suatu hari nanti kau juga akan hilang dari pandanganku, seperti yang dilakukan orang-orang ketika mereka terlalu indah." Aku mendongak sedikit " Tak bisakah kita seperti ini saja, San? Menghibur saat yang lain sedih, dan ikut bahagia ketika salah satunya tertawa gembira." Lanjutku penuh harap.
Cukup lama San menatapku minim ekspresi, tapi kemudian senyumnya mengembang menghiasi bibirnya.
" Aku mengerti." Sahutnya sedikit malas.
Aku tersenyum, lalu menoleh ke arah pintu masuk.
" Ada yang datang, aku tinggal sebentar ya." Ujarku sembari bangkit menyapa pelanggan yang baru datang. 
Setelah menuliskan pesanan pelanggan, saat menoleh ke tempat duduk San, terlihat dia bangkit seraya mengacungkan selembar uang sepuluh ribuan lalu meletakkannya di atas meja. Aku tersenyum. San pun berlalu dari tempatnya. Lalu aku berjalan hendak mengambil uang peninggalan San. Dan kutemukan secarik kertas pula dibawahnya.

Temukan cinta, jatuhlah sedalam-dalamnya di dalam segala tahapan cinta. Kemudian, ambilah segala makna yang tersimpan dan lanjutkan perjalananmu. Karena cinta, tak akan membiarkanmu jatuh hanya sekali. Namun, cinta, selalu tau jalan yang ia tuju. Ia akan selalu ada di jalan yang sedang kau susuri. Kau akan menemukannya, asalkan kau tak berhenti untuknya.
Aku kutip ini di acara bedah buku yang kau siarkan tadi malam.

Aku tergelak tanpa suara. Kutatap sosok San yang baru saja melesat pergi bersama motor besarnya. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, jika cinta seperti sebuah putaran, ada di tahap manakah sekarang ini?




We found love. We fall. We're alive
L.O.V.E CYCLE

Sabtu, 25 Juli 2015

Malam Ke 40

Perlahan aku mendongak dan menoleh menatap ke arah seorang gadis yang berdiri sekitar 3 meter dari tempatku duduk. Rok span hijau lumut dipadu dengan kemeja lengan pendek warna hitam menandakan bahwa dia baru pulang kantor, apalagi pundaknya masih menyandang tas kerja. 

Namanya Malika, aku mengenalnya sekitar sebulan lalu saat malam sudah cukup larut dan dia masih menunggu bus di halte bus ini sendirian. Dia satu-satunya orang yang memandangku lain, setelah kejadian terbongkarnya konspirasi kasus korupsi di kantor tempatku bekerja. Yang ternyata mengkambinghitamkan aku. Dan sebagai 'kambing hitam' tentu semua hal buruk melekat padaku. Dan meski akhirnya aku terbukti hanya dijebak dan bisa terlepas dari segala tuduhan, entah kenapa semua orang masih menganggapku begitu. Dan aku nyaris frustasi.
" Kau baru pulang?" Tanyaku menegakkan posisi dudukku.
Malika hanya mengangguk pelan seraya melebarkan sudut bibirnya. Lalu duduk disebelahku.
" Kenapa kau suka sekali naik bus? Kalo malam begini, bukankah lebih aman naik taksi? Lagipula halte bus disini tak begitu ramai." Tanyaku yang selama ini memang penasaran, karena sejak pertemuan kami malam itu, dia seperti memang sengaja mengakrabkan diri denganku. Padahal dari awal dia tau aku seperti gelandangan yang sudah kehilangan pekerjaan dan bahkan keluarga dan kekasihku.
" Apa kau menyukaiku?" Todongku membuatnya langsung menatapku, tapi kemudian Malika tertawa lirih.
" Tiba-tiba aku ingin jalan kaki menikmati segarnya udara malam ini. Kau mau menemaniku?" Tanyanya seraya bangkit.
" Apa tak terlalu jauh?" Tanyaku tak yakin.
" Tak apa, biasanya kalo sambil ngobrol, jarak jadi terasa lebih dekat." Kilahnya lebih dulu jalan menyusuri trotoar yang lenggang. 
Sejenak kupandangi punggung ramping Malika yang mulai menjauh itu. Apa mungkin gadis secerdas Malika yang punya masa depan cemerlang di bidang desain grafis itu menaruh hati padaku? Kalo tidak, kenapa coba dia selalu bela-belain menemaniku ? Mendengar hampir semua keluh kesahku akan sikap keluarga, teman-teman, bahkan Lira, kekasihku. Dan bahkan....
Aku tersadar saat Malika membalikkan tubuhnya menatapku yang masih bengong ditempat semula. Akhirnya aku melangkah menyusul Malika. Kami berjalan beriringan dengan langkah santai. Untuk beberapa belas menit diantara kami tak ada yang memulai pembicaraan. Sesekali Malika mendongak menatap langit yang malam ini memang kelihatan lebih indah dengan taburan bintang.
" Aku tiba-tiba teringat sebuah film yang dibintangi Bruce willis, salah satu aktor hollywood favoriteku. The sixth sense." Ucap Malika akhirnya
" Kalo tak salah itu film lama, kalo kau mau lihat harusnya buka youtube atau pinjam kaset di tempat rental." Kataku yang sedikit ingat dengan film yang dimaksud Malika.
Malika hanya tersenyum, tanpa kutau arti senyumnya itu. 
" Ternyata kau itu memang gadis pemberani. Sukanya juga film-film horor "
" Kebetulan saja aku teringat masalah yang diangkat dalam cerita film itu."
Mataku memicing menatapnya.
" Apa maksudmu? Kau tak bermaksud mau bilang kalo kau seperti anak kecil yang diceritakan di film itu kan? Kau bukan orang yang bisa melihat hantu kan?" Selidikku sedikit bergidik.
Malika malah makin membuatku penasaran karena pertanyaanku hanya dijawabnya dengan senyum tipis.
" Kau serius? Kau tak takut?"
" Masalahnya bukan soal takut atau tak takut, tapi percaya atau tak percaya dengan semua itu."
Kuhentikan langkahku. Malika juga menghentikan langkahnya, menatapku minim ekspresi.
" Bukankah makhluk gaib didunia ini memang ada? Masalahnya banyak diantara kita yang tak mempercayainya karena tak pernah tau keberadaan mereka." Sanggahnya ringan.
" Kau benar-benar membuatku merinding, pantas kau tak pernah takut menunggu bus di halte sendirian meski sudah malam." Desisku melangkah lagi.
" Bukannya selalu ada kau?" Sergahnya menyusul langkahku, membuatku sedkit tergelak.
" Tapi sebenarnya yang ingin kubahas bukan soal si anak kecil yang bisa melihat hantu."
" Lalu?"
" Soal si psikiater yang mendekati anak kecil itu."
" Si Bruce willis-nya?"
Malika menggangguk.
" Memang kenapa? Ada apa?" Aku benar-benar tak mengerti maksud Malika.
Yang kuingat, di film itu Bruce Willis memerankan tokoh psikiater yang mati tertembak mantan pasiennya yang mengamuk. Dan setahun setelah kejadian itu Bruce Willis menemui anak kecil yang bisa melihat hantu itu. Mendekatinya meski awalnya selalu dhindari akhirnya mereka berteman. Dan dengan Bruce Willis-lah anak itu mengaku kalo bisa melihat orang yang sudah mati.
" Kau tau kenapa kita selalu bertemu di halte bus?"
" Hah?" Aku kaget dengan pertanyaannya
" Kau tau kenapa teman-teman, keluargamu, bahkan kekasih tercintamu mengacuhkanmu?"
Aku kesulitan menanggapi pertanyaan Malika sambil mengimbangi langkahnya pula.
" Kau tau kenapa selama ini hanya aku temanmu bicara? Kau ingat sudah berapa lama sejak pertama kali kita bertemu?"
" Ini apa-apaan sih Ka?" Geramku akhirnya, lalu baru tersadar ternyata sejak tadi kami berjalan menuju ke kompleks rumahku.
" Apa lagi ini, kenapa kau malah mengajakku pergi kerumahku."
Malika menghentikan langkahnya. 
" Selama ini kau selalu bertanya tentang kenapa semua orang mengacuhkanmu kan? Kau selalu berfikir mereka masih menganggapmu pelaku kejahatan itu kan? Kau selalu menduga mereka masih menganggapmu orang yang tak tau malu hingga mengacuhkan keberadaanmu kan?" Pertanyaan Malika makin memberondong.
Meski baru sekitar sebulan aku dekat dengan Malika, tapi karena hampir setiap hari kami bertemu dan ngobrol bersama, wajar Malika mengetahui semua keluh kesahku. Meski aku tak tau dengan jelas apa alasannya, tapi bersamanya aku begitu nyaman hingga semua masalah yang memberatkan itu bisa kuceritakan tanpa hambatan padanya.
Dan, ya, aku memang selalu bertanya 'kenapa semua orang seperti tak bisa memaafkanku atas kesalahan yang jelas-jelas bukan kesalahanku?'. Bukankah sudah jelas itu bukan kesalahanku? Kenapa mereka tetap menganggapku salah? 
" Jika kau melihat film The Sixth Sense, kau akan tau maksudku."
" Tidak, jelaskan dengan kata-kata yang sederhana saja Ka, aku tak suka menduga-duga sesuatu." Sanggahku.
Malika menatapku lekat, lalu kemudian menunduk seraya mendesah berat.
" Kenyataan kadang memang menyakitkan, tapi bukan berarti hidup dalam kebohongan itu menyenangkan. Dan selama lebih dari sebulan ini aku..."
" Bicara langsung ke pokok masalahnya, Ka!!" Geramku tak tahan dibuatnya penasaran terus.
Malika menatapku lagi, seperti menata hati untuk melanjutkan penjelasan yang kuminta.
" Aku memang seperti anak kecil di film itu, bisa melihat arwah orang yang sudah mati." Akunya dengan intonasi datar, tapi cukup mencengangkanku. Aku mundur selangkah.
" Dan itulah kenapa saat semua orang tak ada yang mau kau ajak bicara, bahkan saat keluarga dan kekasihmu mengacuhkanmu, aku menjadi satu-satunya pengecualiannya."
Aku masih belum mengerti maksud semua penjelasan Malika. Karena menurutku omongan Malika seperti sebuah jalan yang bercabang.
" Terimalah kenyataan ini, kau...sudah meninggal." Lanjut Malika membuatku terpaku beberapa detik, tapi kemudian tergelak.
" Lucu sekali ini Ka, tapi ini bukan waktunya bercanda."
" Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Sergah Malika.
Aku terpaku, tapi ini untuk waktu yang cukup lama.
" 39 hari yang lalu, di depan halte bus itu, mobilmu ringsek dihantam truk besar saat kau mencoba menyalip bus yang sedang berhenti di halte. Bus yang akan kutumpangi. Dan aku yang pertama kali melihat rohmu keluar dari tubuhmu. Itulah jawaban untuk kenapa kita selalu bertemu di halte bus." Papar Malika, tapi aku seperti mengambang mendengarnya.
" Dan mereka mengacuhkanmu bukan karena masih menganggapmu bersalah, tapi..." Kali ini Malika tak melanjutkan penjelasannya.
Aku tersenyum sedikit bersuara,
" Tidak, ini tidak mungkin... aku tidak mungkin..."
" Tak peduli bagaimana kau mencoba menghindarinya, kenyataan tak akan bisa dihindari selamanya. Apa kau mau terus-terusan seperti Bruce Willis di film The Sixth Sense? Inilah hidup, banyak hal yang terjadi diluar keinginan kita."
Aku menatap Malika penuh harap, berharap semua yang dikatakannya bukanlah hal yang sebenarnya. Bagaimana aku bisa dibilang kalo aku sudah mati sementara aku merasa masih hidup?
" Kalo kau masih menganggapku berbohong, pulanglah, hari ini adalah peringatan malam 40 hari meninggalmu. Dan maaf, aku terpaksa harus mengatakan semua ini, karena aku tak mungkin menyembunyikannya lebih lama." Ucap Malika  menatapku lembut.
Aku bungkam tak bereaksi. Bahkan ketika Malika perlahan undur diri meninggalkanku sendirian di pinggiran komplek rumahku.
Apakah ini hanya mimpi? Aku terus memastikan apakah ini benar-benar nyata atau hanya mimpi? Dan setelah itu aku berfikir lagi, aku tak biasa bermimpi seperti ini. Tapi aku tak mengerti, jika ini hanya mimpi, kenapa berlangsung sangat lama?
Kemudian aku teringat omongan Malika tadi, bahwa kenyataan tak akan bisa dihindari selamanya. Tapi... bahkan jika aku menyembunyikannya karena takut, atau jika aku harus menutup mata karena aku sangat tak bisa menerimanya, melupakan kenyataan tidak akan membuat kenyataan itu pergi dan menghilang. Jadi, tak peduli seberapa menyakitkan dan menakutkan kenyataan ini, aku tetap harus menghadapinya. Bahwa ternyata selama ini aku sudah meninggal. Kenyataan yang kututupi rapat-rapat, tentang kecelakaan di depan halte bus malam itu, benar-benar telah mengubahku menjadi sosok lain. Yang membuatku bertemu dan dekat dengan Malika.

Dengan gontai aku berjalan ke arah rumahku, rumah orang tuaku. Belum genap langkahku sampai di depan pintu gerbang rumah aku termangu mendapati penegasan penjelasan Malika tadi. Ada puluhan laki-laki berpakaian rapi dan kebanyakan memakai kain sarung, keluar dari dalam rumah menenteng kotak persegi cukup besar. Dan tanpa kucari tau lagi, aku sudah tau mereka adalah orang-orang yang baru selesai kenduri. Dan aku teringat lagi omongan Malika tadi, bahwa malam ini adalah peringatan  malam 40 hari meninggalku.

Rabu, 15 Juli 2015

Last Cinderella

        Kuhentikan mobilku ditepi jalan tak jauh dari sebuah warung tenda di pinggir jalan. Kumatikan mesin mobilku dan mataku mulai celingukan mencari seseorang yang menurut khabar yang kuterima dari Agatha, sepupu sekaligus sahabatku, yang mngatakan bahwa gadis bernama Minoru bekerja di warung tenda ini yang buka pada petang sampai tengah malam hari.
          Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan dengan balutan kaos panjang biru yang dipadu dengan celana jeans, keluar dari warung tenda itu ke arah belakang warung dengan beberapa buah piring kotor ditangannya. Kuperhatikan sosok yang kemudian berjongkok mencuci piring bawaannya tadi. Belum juga selesai, tiba-tiba Minoru menoleh ke arah dalam warung, sepertinya dipanggil oleh pembeli. Lalu langkah Minoru bergegas masuk meninggalkan cucian piringnya. Meskipun sepertinya gurat kelelahan menghiasi wajahnya yang sebenarnya sangat manis itu, tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Aku mendesah memegangi kemudi mobilku erat-erat.
        Minoru, sebenarnya bagiku dia gadis yang sangat hebat. Meski tak secantik gadis-gadis yang kukenal selama ini, tapi Minoru-lah yang pernah memenangkan hatiku dengan sikap-sikapnya yang begitu menghangatkan hidupku yang sebelumnya sangat dingin dan hampir tak berwarna. Tapi itu  setahun yang lalu, dan hanya bertahan beberapa bulan saja. Minoru yang waktu itu hanya karyawan biasa di perusahaan besar milik ayahku, tak mampu melewati rintangan perbedaan yang ada. Bahkan juga tak mampu menerima kehidupanku.
" Inilah kehidupanku, jika akhirnya kau menerimaku untuk mendampingimu, mulailah untuk terbiasa dengan pola hidupku." Kataku dingin, juga sedikit kesal saat Minoru protes dengan kemeriahan pesta yang waktu itu kuadakan bersama teman-temanku. Pesta yang sudah biasa kuadakan hampir setiap bulannya, sekedar untuk menghilangkan kepenatan bekerja. Tapi Minoru yang tak terbiasa ada di pesta semacam ini langsung protes. Bagi Minoru hal-hal semacam ini hanya menghambur-hamburkan uang. Dan itu membuatku sedikit malu pada teman-temanku yang notabene adalah para pengusaha dan anak konglomerat.
" Masih banyak orang-orang diluar sana yang kelaparan karena tak punya uang untuk membeli makanan."
" Bukankah fakir miskin dan anak terlantar adalah tanggung jawab pemerintah? Lalu kenapa aku harus ambil pusing? Kami bukan badan amal, kami kumpulan para pengusaha." Desisku menyombong.
Minoru tersenyum kecut.
" Orang seperti kalian yang terlahir dari keluarga yang sudah bergelimang harta yang tak akan habis meski setiap hari dihambur-hamburkan, memang tak akan mengerti apa itu kelaparan."
" Apa terlahir di keluarga kaya adalah kesalahan? Tak ada yang bisa memilih kita terlahir di keluarga apa, lalu jika mereka kelaparan karena mereka sangat miskin, apa jadi kesalahanku? Kesalahan teman-temanku itu?"
Minoru mundur perlahan.
" Tidak, kau ataupun teman-temanmu itu tidak salah. Yang salah adalah aku yang ada disini dengan label kekasihmu. Karena untuk alasan apapun aku tidak pantas ada ditempat seperti ini." Ucap Minoru dengan menatapku lekat, dengan mata sedikit berkaca-kaca.
" Aku mencintaimu, apa itu tak cukup untuk alasan kau ada disini? Kita terlahir tidak hanya sebagai makhluk sosial, kita juga makhluk individu, yang bersifat egosentris. Jadi apa salahnya kita bersenang-senang?"
          Mataku terpejam mengingat pertengkaran kami yang pertama hari itu. Hari yang seharusnya membuatku bahagia dan bangga karena pertama kalinya aku memperkenalkan pada teman-teman seorang gadis yang kucintai, berubah menjadi hari yang mempermalukanku karena pendapat Minoru yang bukan pada tempatnya. 
" Dari awal kita memang dua orang yang berbeda. Dan mungkin selamanya kita  akan jadi dua orang yang berbeda yang tak mungkin bisa bersama." Katanya sedikit menunduk saat beberapa hari kemudian aku menariknya ke tangga darurat, tempat kami pertama bertemu.
" Apa selama ini memang hanya aku yang mencintaimu? Apa memang sebenarnya kau tak pernah mencintaiku?" Sergahku dingin membuatnya mendongak kaget.
" Bu....bukan begitu maksudku."
" Aku baru sadar kalo selama ini akulah yang selalu berusaha. Aku yang mengejarmu, aku yang mencintaimu, aku yang harus menerimamu. Iya kan?" Lanjutku membabi-buta.
Tatapan mata Minoru terlihat sangat ingin protes, tapi entah mengapa tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
" Benar, kita memang dua orang yang berbeda. Sangat berbeda dari segi apapun. Sejak kita terlahir ke dunia ini, kita sudah ditakdirkan berbeda. Terlepas dari bagaimana aku sangat mencintaimu, ternyata itu bukan hal yang bisa dipaksakan untuk jadi alasan. Karena diantara kita berdua, ternyata tak cukup hanya cinta saja. Seberapa kerasnya aku menarikmu ke dalam duniaku, tetap tak akan berhasil." Lalu aku melangkah pergi dengan kekesalan yang menguasaiku. Dan meski aku menyadari waktu itu Minoru menangis, aku tetap tak berbalik.
" Kau ini manusia atau bukan?" Teriak Agatha sambil membanting pintu kantorku yang baru saja dibukanya. Aku mendongak mendapati mata Agatha yang begitu menyala-nyala.
" Kenapa kau datang dengan kemarahan yang begitu hebat? Apa saham perusahaanmu anjlok karena kalah bersaing dengan saham dari perusahaanku?" Tanyaku enteng, karena meskipun kami bersahabat dan saudara sepupu, tapi dalam bisnis kami tetaplah rival yang bersaing
" Kau anggap apa Minoru itu? Kenapa cintamu tiba-tiba berubah menjadi menakutkan?" Desisnya mencengkeram pinggiran meja kerjaku.
" Oh...soal itu." Aku masih berintonasi enteng, sembari meneruskan pekerjaanku memeriksa beberapa file dihadapanku.
Agatha tergelak.
" Apa? 'Oh...soal itu'? Kau memecat Minoru tanpa alasan jelas dan menghubungi semua perusahaan untuk menolak lamarannya, tapi kau masih bisa bilang 'oh..soal itu'? Apa dia melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga kau menghukumnya begitu kejam?"
Kututup map file dihadapanku dan menyandarkan punggungku ke kursi.
" Dia yang memutuskan bahwa kami berbeda dan tak mungkin bisa bersama. Itulah sebabnya aku mengeluarkannya dari duniaku. Apa itu kejam?"
Agatha tetap menatapku dengan kemarahan.
" Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau begitu marah? Atau kau jangan-jangan sebenarnya menaruh hati padanya?" Selidikku mengamati setiap sudut raut muka Agatha.
" Ya, aku memang menyukai Minoru." Tegasnya.
        Sejenak aku terhenyak, tapi cepat-cepat kutepis perasaan konyol itu. Aku sudah memutuskan untuk tak lagi berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan gadis yang masih punya darah jepang dari kakeknya itu.
" Kau tau kenapa? Karena Minoru pernah membuatmu menjadi seperti manusia yang punya perasaan, meski itu hanya 2 bulan."
      Aku terpaku mendengar penjelasan Agatha. Manusia? Apa selama ini aku tidak terlihat seperti manusia? Apa karena aku penganut egosentris, yang lebih mengutamakan kepentingan sendiri lalu tidak pantas disebut manusia? Lalu apa aku harus menjadi seperti Minoru yang selalu memikirkan orang lain? Bahkan menurutku Minoru juga punya sisi egosentris, karena dia tak pernah memikirkan posisiku. 
" Apa kau puas telah membuatnya seperti gelandangan? Kesana kemari membawa map lamaran pekerjaan tapi tak satupun yang menerimanya? Kau puas? Hah?!"
          Aku masih tak mengerti kenapa Agatha begitu emosi dengan apa yang sudah kulakukan pada Minoru; menutup semua akses pekerjaannya. Mereka memang cukup dekat karena aku dan Agatha memang sering bersama saat ada Minoru. Tapi yang kutau, Agatha bukan orang yang gampang terpikat dengan gadis macam Minoru. Lagipula dia juga sudah bertunangan dengan Jane, dan tak diragukan lagi cinta mereka.
          Dan melihatnya saat ini, bekerja sebagai pelayan di sebuah warung tenda pinggir jalan, cukup membuat dadaku sangat sesak dipenuhi perasaan yang aku bahkan tak bisa mendeteksi apa namanya. Rasa bersalahkah, atau hanya sekedar tak terima melihat mantan arsitek handal sekarang malah mengantar makanan ke meja pembeli dan mencuci piring-piring kotor? 
         Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari mobil setelah lelah bertarung dengan berbagai perasaan yang sejak tadi berkecamuk di dadaku layaknya perang peruntuhan tembok Berlin. Tapi kakiku masih cukup berat melangkah memasuki warung tenda yang sangat sederhana itu.
" Selamat da...." Sapaan ceria Minoru mengambang saat matanya menemukanku diambang pintu masuk warung. Wajahnya berubah sedikit... Ah, aku bahkan tak berani mengejanya meski hanya mengucapkannya dalam hati. Aku duduk disalah satu tempat duduk yang masih kosong. Lalu menunggunya datang mendekatiku. Tapi Minoru mendekat dengan seulas senyum tak percaya.
" Tanganmu itu terlahir untuk menggambar sketsa rancangan sebuah bangunan, kenapa kau malah menggunakannya untuk mencuci piring-piring kotor?" Desisku lirih.
Minoru malah tergelak.
" Apa ini akan menjadi salah satu tanda-tanda kiamat? Seorang PresDir sebuah perusahaan besar masuk ke warung tenda kumuh dipinggir jalan hanya untuk bicara dengan tukang cuci piring?" Gumamnya sinis.
       Kulirik dia sekilas. Keadaan yang terjadi saat ini begitu tak nyaman bagiku. Tapi andai aku pergi dari sini sebelum aku melegakan rasa sesak didadaku ini, dapat dipastikan malam ini, atau mungkin berlanjut malam-malam selanjutnya, aku tak akan bisa tidur.
" Apa kau perlu menjelaskannya serinci itu tentang status sosial kita? Kenapa? Apa itu bisa membuatmu jauh lebih nyaman?" Gusarku.
" Maaf." Katanya menunduk.
" Hanya rasanya terlalu menggelikan seorang seperti anda datang kesini."
Sepi untuk beberapa menit.
" Maaf." Kataku akhirnya, meski terlalu lirih. Tapi, untuk mengatakan satu kata itu bagiku jauh lebih berat daripada saat harus melakukan presentasi tahunan di rapat dewan direksi. 
" Kenapa anda meminta maaf? Untuk kesalahan apa?"
" Apa saat seseorang meminta maaf harus menjelaskan secara rinci kesalahan yang diperbuatnya?" Gusarku lagi, kali ini dengan menatapnya penuh.
        Mungkin, aku memang diciptakan dengan ego yang sangat tinggi. Bahkan meski dengan rasa cinta yang sangat menyiksaku ini tak mampu sepenuhnya mengalahkan egoku. Tapi andai Minoru bisa sedikit menghargai yang selama ini kuperjuangkan untuk bisa sampai ditempatnya...
" Aku...." Ucapan Minoru menyadarkanku dari pemikiranku.
" Sampai kapanpun tak akan menjadi cinderella yang saat ini sedang kau mainkan. Sekalipun itu harus menjadi cinderella yang terakhir." Lanjutnya tanpa menatapku.
Kini aku yang tergelak tak sadar, karena menyadari satu hal dari kesimpulan yang bisa kutarik dari pernyataan Minoru tadi.
" Sejak pertengkaran pertama kita, sering aku berfikir keras. Sangat keras hingga kepalaku menjadi sakit. Kenapa kita begitu sulit berjalan bersama sebagai dua orang berbeda yang saling mencintai. Dan akhirnya sekarang aku tau yang sebenarnya." Kataku seperti menggumam.
" Bukan karena kau yang merasa tak pantas berjalan bersamaku. Tapi karena kau tak percaya bahwa aku bisa mencintaimu." Lanjutku menatapnya lekat. Perlahan matanya juga menatapku sedikit ragu.
" Aku tak pernah menyuruhmu menjadi cinderella, sekalipun itu cinderella terakhir di dunia ini. Aku hanya ingin kau menjadi seorang wanita yang bisa kucintai. Dan percaya bahwa aku bisa mencintaimu."
Lagi-lagi Minoru menghindari tatapanku, seperti dirinya yang selalu menghindari kenyataan bahwa aku bisa menerimanya ke dalam duniaku.
" Apa kau sudah mempertimbangkan hasil dari merger dan akuisisi yang akan kau terima jika kau bersikeras mencintaiku dan membawaku ke duniamu? Kau harus turun ke bawah, ke dasar yang sangat rendah untuk menjemputku. Karena disanalah tempat asalku." Tanyanya
" Ya." Jawabku pasti.
Sebongkah beban berat yang sejak entah kapan pastinya selalu menghimpit dadaku serasa terlepas.
" Sekalipun itu sangat riskan?"
" Asal kau tak menolak apalagi berusaha melarikan diri saat aku datang menjemputmu, aku akan melakukannya." Paparku lagi.
Minoru tertawa lirih.
" Ini sangat menggelikan. Jelas-jelas kita dua orang yang berbeda, tapi kenapa selalu bertemu disatu titik seperti ini?" Gumamnya seperti tak mempercayai keadaan yang sedang terjadi saat ini. Atau mungkin akhirnya menyerah dan merelakan aku 'menjemputnya' untuk kubawa ke duniaku.
"Mungkin itulah yang disebut kisah dongeng yang menjadi nyata." Jawabku seiring tatapannya yang bertemu dengan mataku yang sudah sejak tadi menikmati kilauan sinar matanya.


Jumat, 05 Juni 2015

Sebuah Nama Sebuah Masa

                Aku masih terpaku di balik pintu gerbang papan rumah Meisya. Mendengar semua percakapan mesra dari dua insan yang sedang dimabuk cinta diluar pintu gerbang ini. Tanganku yang keduanya kusembunyikan ke dalam saku jaket jemperku kukepalkan menahan beratnya himpitan di dalam dadaku yang bergolak.
            Lalu kudengar sebuah deru mobil diiringi seruan selamat malam Meisya yang terkesan manja dan centil. Setelah suara mobil itu cukup jauh, barulah kudengar langkah sepatu berhak tinggi itu mendekat. Pintu gerbang terbuka perlahan, dan saat menyadari kehadiranku Meisya nyaris terlonjak dengan pekikan kecil.
" Sejak kapan kau punya bakat mengagetkanku?" Gerutunya ringan seraya mengelus dadanya yang mungkin sempat berdebar-debar karena menyangka aku bukan manusia. Wajar saja karena aku berdiri ditempat yang minim pencahayaan lampu terasnya.
" Aku menunggumu pulang. Sejak bertemu lagi dengannya kau jadi seperti artis booming yang sulit kutemui." Kataku lebih seperti mengeluh dengan kebiasaannya akhir-akhir ini yang suka sekali pulang malam. Dan Meisya menanggapinya dengan tawa renyah, lalu melangkah memasuki rumahnya.
         Meisya, aku sampai lupa kapan kami kenal dan akhirnya bersama seperti benda dan bayangan meski hanya dengan label ikatan persahabatan. Bahkan bisa dibilang kami sudah mirip saudara. Sejak masuk kuliah kami kost bersebelahan, sampai kemudian kami bekerja dibidang keahlian masing-masing dan mampu membeli rumah, kamipun tetap bersebelahan. Tapi takdir kami mungkin memang hanya sebatas bersebelahan. Karena saat dia terpuruk sangat hancur berantakan 5 tahun lalu, saat Khan meninggalkannya yang terlanjur dimabuk cinta pada pandangan pertama, aku hanya mampu duduk disebelahnya meminjamkan bahu untuknya bersandar tanpa berani merengkuh bahunya dengan tanganku. Aku tetap hanya sebagai sahabat yang membantunya memunguti kepingan hatinya yang hancur berantakan sepeninggal Khan yang begitu sempurna dimatanya.
       Kalo boleh jujur, aku memang cemburu dengan pria bernama Khan itu. Bukan hanya karena kalah dalam dalam penampilan dan kharismatik yang mampu membuat Meisya tergila-gila, aku juga nyata-nyata kalah telak saat Khan tiba-tiba muncul lagi dihadapan Meisya setelah 5 tahun menghilang seperti ditelan bumi. Merebut kembali kesempatan yang kubangun sedikit demi sedikit.

        " Siapa? Khan?" Desisku waktu itu, menanggapi semburat kebahagiaan yang begitu berkilauan menyinari wajah manisnya menceritakan bahwa tadi siang dikantor dia kedatangan tamu perusahaan dari luar negeri yang ternyata Khan.
" Yuupps.... Khan. Love of my life. Kau tau, dia sekarang sudah menjadi eksekutif muda yang sangat sangat sukses. Dia mewakili perusahaan dari Singapura, Ron...." Ceritanya sangat antusias.
" Lalu? Bukankah yang kau dengar dia sudah menikah?" Tanyaku sedikit hati-hati mengucap beberapa kata terakhirku.
Seketika semburat kekecewaan menyiram raut wajahnya.
" Ya, aku tau." Jawabnya seperti setengah kesal.

       Tapi beberapa minggu kemudian Meisya menemuiku di depan kantor kerjaku dengan wajah yang sangat kentara bahagia. Bahkan saat melihatku dia langsung berhambur meraih tanganku dengan lompatan-lompatan kecil, seperti seorang anak kecil menanggapi kedatangan ibunya yang baru pulang membawa sebuah hadiah besar. 
" Khan ingin kembali padaku, Ron.... Khan ingin kembali padaku!" Serunya mempererat genggaman tanganku dengan masih tetap melompat-lompat.
" Apa?" Aku tak mengerti maksud ucapan Meisya.
         Apa maksudnya Khan ingin kembali pada Meisya? Dia laki-laki yang sudah beristri.  Jadi sangat aneh jika seorang yang sudah menyandang predikat 'suami' mengatakan pada seorang mantan pacarnya kalo berniat ingin kembali.
" Kau tak senang ya?" Tanyanya cemberut melihat reaksiku yang mungkin jauh dari dugaaannya.
" Bukan begitu, Mei, tapi Khan itu sudah beristri."
" Kau pikir aku lupa itu?"
" Lalu kenapa kau begitu bahagia mendengar itu?"
" Karena dia akan menceraikan istrinya. Dia sudah lama tak mencintai istrinya. Dia ingin bercerai, dan akan menikahiku."
Deg!!
           Waktu itu aku benar-benar merasakan duniaku sempat gelap tak bercahaya meski sore masih belum separuh jalan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya seorang sahabat bagi Meisya, tak pernah lebih.

        " Memang ada apa?" Tanya Meisya setelah membuka pintu rumahnya, menatapku sebentar lalu melangkah masuk.
Kuikuti langkahnya memasuki rumah bergaya minimalis yang begitu sederhana itu.
" Memang ada apa? Waah...hanya karena kau sudah bertemu lagi dengan Khan, kau langsung mencampakkan sahabat yang menemanimu selama ini?" Gerutuku dengan sedikit mendramatisir.
Meisya tergelak. Dilepas sepatunya sembarangan, sembari melempar tas kerjanya ke sofa. Lalu langkahnya menuju dapur yang tak bersekat bersebelahan dengan ruang tamu. Meisya membuka kulkas dan mengambil sebotol air minum. Kupungut sepatunya yang tercecer sembarangan dan menempatkannya ke rak sepatu di sudut ruangan dekat pintu masuk kamarnya.
" Apa dia benar-benar serius mau menikahimu?" Tanyaku menunggunya ikut duduk di sofa tamu.
" Dia sudah mengurus kepindahanya dari kantor di singapura. Apa itu masih kurang untuk menunjukkan keseriusannya?"
" Lalu bagaimana dengan masalah pernikahannya?"
Meisya termangu tak jadi meneguk lagi air dalam botol yang dipegangnya.

         Kemarin sore di depan pintu pagar rumah ini aku sedikit terganggu dengan keberadaan seorang wanita sederhana yang seperti gelisah menunggu kedatangan seseorang. Karena sesekali juga melonggok ke dalam pintu pagar rumah Meisya, akhirnya aku memutuskan menyapanya. Dan aku sempat syok saat wanita itu mengaku bernama Rizsaya, istrinya Khan.
" Jadi anda Rizsaya, istrinya Khan?"
" Panggil saja Aya, dan tak perlu bicara seformal itu." Katanya dengan mengulum senyum tipis.
" Kedatanganku bukan untuk menyalahkan apalagi memarahi Meisya." Ungkapnya datar,
Akhirnya aku mengajaknya ke rumahku, mempersilahkannya duduk di teras rumahku dan menyuguhinya secangkir teh.
" Antara aku dan Khan, memang sudah tak mungkin diperbaiki. Sudah tak ada rasa cinta yang perlu dipertahankan. Karena kami sadar, pernikahan kami berawal dari sesuatu yang tak baik." Lanjutnya tetap datar dan tenang. Aku juga heran, kenapa wanita yang sudah tau dikhianati suaminya, tapi bermaksud menemui wanita perebut suaminya masih bisa berbicara dengan nada bicara yang begitu tenang tanpa terasa amarah sedikitpun.
" Yang kudengar, mereka sudah kenal lebih dari 5 tahun yang lalu, benarkah begitu?" Tanyanya sembari menatapku.
Aku mengangguk pelan, lalu menunduk, terlalu malu menatap wajah wanita yang rumah tangganya diujung tanduk karena gadis yang sangat kusayangi.
" Jadi itu benar, jadi sebelum akhirnya menikahiku, mereka sudah kenal. Apa mungkin malah mereka dulu adalah sepasang kekasih?" Tebak Rizsaya.
Aku  memilih diam tak menjawab pertanyaan Ny. Khan itu.
" Kenapa anda kesini? Kenapa anda ingin bertemu Meisya?" Tanyaku, mungkin terdengar sangat kasar dan tak berperikemanusiaan. Tapi entah kenapa wajah sederhana itu tetap tenang, tak sedikitpun menyemburatkan kekesalan.
Rizsaya meneguk teh dihadapanya. Mungkin semacam penataan kembali gejolak hatinya yang sejak tadi dikendalikannya dengan sangat baik. Lalu senyumnya mengembang sempurna. Membuatku makin merasa bersalah. Kenapa wanita sebaik ini harus menjadi korban kebahagiaan cinta Meisya?
" Entahlah, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang bisa mencintai Khan meski telah lama berpisah, meski saat bertemu sudah berstatus tidak lajang. Aku ingin belajar darinya tentang arti cinta yang menerima. Karena meski sudah 5 tahun bersama Khan, aku belum bisa mengerti bagaimana caranya menjalankan cinta yang menerima itu." Paparnya menatap lembayung senja ufuk barat sana.
" Maafkan Meisya."
Rizsaya menatapku dengan sisa senyumnya, dengan sinar yang sulit kueja namanya. Aku menunduk menghindari tatapan itu. Dan lamunanku berakhir saat kusadari Meisya menghempaskan tubuhnya disampingku.
" Kau benar-benar akan menikah dengannya?" Tanyaku 
Meisya menatapku dengan marah sembari melipat tangannya ke dada.
" Pertanyaan itu sudah kau tanyakan 127 kali sejak aku bilang Khan mau menikahiku. Dan meskipun kau menanyakannya 127 kali lagi, jawabanku tetap sama. Ya, aku akan menikah dengannya!" Tegas Meisya.
Kuacuhkan kemarahannya dan malah menyambar remote TV dan menyalakan TV di depan kami.
" Apa kau tak terlihat terlalu berharap padanya? Dia pernah meninggalkanmu tanpa alasan 5 tahun lalu. Dan ternyata dia meninggalkanmu untuk menikah dengan wanita lain."
" Tidak." Jawab Meisya singkat, padat, dan menjelaskan bahwa dia benar-benar yakin keputusannya ini benar. Tapi entah kenapa aku malah yang merasa makin tak tenang.
" Apa tak sebaiknya kau menemui Rizsaya?" Tanyaku lagi, dan kali ini Meisya tak langsung menjawab. Hanya matanya langsung membulat menatapku.
" Darimana kau tau nama Rizsaya?"
" Tadi sore dia kesini."
" Mau apa dia kesini?" Sungutnya.
" Meisya!"
" Benar-benar tak tau malu."
" Meisya!!" Hardikanku kian meninggi.
" Kenapa? Dia sudah dicerai oleh Khan, hanya menunggu sidangnya saja." Suara Meisya kian angkuh.
" Kau harusnya menemuinya dan minta maaf padanya."
Meisya bangkit dari duduknya lalu disusul tawanya yang begitu tak enak kudengar.
" Apa? Minta maaf? Aku minta maaf pada wanita itu? Untuk apa?"
Aku ikut bangkit.
" Karena kau sudah merebut suaminya."
" 5 tahun lalu dia yang membuat Khan meninggalkanku!"
" Jangan hanya karena 5 tahun lalu kau dicampakkan Khan, lalu sekarang kau bisa merebutnya. Pelaku tak akan berubah posisi menjadi korban hanya karena kejadian masa lalu." Kataku mencoba menjelaskan kalo Meisya tak seharusnya melanjutkan semua ini.
Meisya mundur perlahan dengan tatapan yang membuatku merasa bersalah. Karena aku paling tak ingin mata Meisya berkaca-kaca seperti itu.
" Ada apa ini, Ron, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau malah membela wanita itu? Bukankah biasanya kau selalu membelaku?"
" Ini aku juga sedang membelamu, Mei, kau akan menyadarinya saat nanti Khan akan kembali meninggalkanmu."
" Apa kau menyumpahiku kalo kelak Khan akan meninggalkanku lagi? Kau suka itu?"
      Sesaat aku kelu melihat wajah dan tatapan Meisya. Sungguh, aku tak pernah berharap itu terjadi. Aku tak ingin keadaan 5 tahun lalu terjadi lagi pada gadis kesayanganku ini. Tapi jika dulu Khan pernah meninggalkan Meisya tanpa alasan jelas, bukankah kemungkinan kelak hal itu bisa terjadi lagi? Meski Khan adalah orang yang tak pernah lepas dari kehidupan Meisya selama hampir 6 tahun terakhir ini, tapi aku tak cukup mengenal Khan secara pribadi. Jadi aku tak mengerti dengan jelas maksud dan tujuannya yang saat bertemu lagi dengan Meisya yang telah dicampakkannya, kemudian malah memutuskan mengajaknya menikah dengan mengorbankan pernikahannya yang sebelumnya. Orang seperti apa itu Khan?
" Meskipun kau selalu curiga dengan niat Khan yang mau menikahiku, aku tak akan terpengaruh, Ron. Aku mencintai Khan, dulu dan sekarang. Jadi biarpun dia pernah meninggalkanku dan menikahi wanita itu, toh akhirnya Khan kembali lagi padaku. Bukankah itu semacam jodoh?"
        Aku masih termangu menanggapi ucapan Meisya. Jodoh? Kalo ini seperti jodoh yang agung, kenapa aku merasa ini sangat menggelikan? Dulu dan sekarang, firasatku tak pernah baik setiap kali Meisya bahagia bersama Khan. Dulu kuanggap sebagai rasa cemburu dan tak rela dari hatiku karena jauh sebelum Khan, aku sudah bersama, menjaga juga mencintai Meisya. Tapi sekarang, aku merasa ini bukan hanya rasa cemburu dan tak rela. Entah apa namanya, yang pasti sangat membuatku tak nyaman.
" Jangan berharap terlalu tinggi, karena semakin tinggi harapan akan semakin besar pula jika nanti kau mendapatkan kekecewaan." Kataku mencoba seringan mungkin, lalu menekan tombol remote, memindah chanel TV. 
Kudengar Meisya mendesah jengkel, tiba-tiba merebut remote ditanganku dan mematikan TVnya dengan wajah kesal.
" Apa kau berusaha menghalangi rencana pernikahan kami?" Dengusnya menatapku geram.
" Aku hanya tak ingin akhirnya kau terpuruk lagi seperti 5 tahun lalu." Jawabku datar
" Siapa yang bilang aku akan terpuruk lagi? Aku akan bahagia dengan Khan."
" Siapa yang bisa menjamin Khan kelak tak akan meninggalkanmu lagi?  Apa kau yakin tetap akan sekuat dulu jika kelak kau ditinggalkanya lagi?" Balasku tetap berusaha datar.
" Siapa kau? Aku tak butuh kau cemaskan!" Geram Meisya dengan suara meninggi.
         Sungguh, rasanya sangat sakit saat gadis yang kusayangi selama ini bersikap begini. Bukan hanya karena dia 'mencampakkanku' setelah bertemu Khan, tapi Meisya benar-benar telah 'mengusirku' dari sisinya.
" Jangan hanya karena kau bertemu dan berbicara dengan wanita itu, prasangka burukmu pada Khan makin besar. Akan kubuktikan kalo keputusanku benar. Aku tak pernah merebut Khan dari sisi wanita itu. Mereka sudah saling menjauh sebelum aku dan Khan bertemu lagi. Jadi, aku tak perlu bertemu apalagi minta maaf padanya." Ucap Meisya yakin.
Aku menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadaku. Aku buru-buru bangkit agar rasa sakitku tak makin membelengguku.
" Ini hidupku, Ron, aku bebas bersama siapa. Aku berhak bahagia dengan siapa. Terimakasih karena selama ini kau sudah menjagaku dan menyayangiku. Tapi maaf, jika aku tak bisa membalas semua itu. Karena sejak dulu hatiku benar-benar hanya untuk Khan." Kali ini suara Meisya terkesan berat.
Kutekan sisa rasa sakitku sebelum kumunculkan seulas senyum dibibirku. Lalu perlahan langkahku beringsut ke arah gadis yang berdiri dengan sedikit gelisah itu.
" Maaf, atas semua prasangka burukku." Kataku meraih jemarinya. Meisya menatapku perlahan.
" Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Tapi jika ini sudah keputusanmu, berjanjilah kau benar-benar akan bahagia dengannya."
       Meisya menatapku sedikit menyipitkan matanya. Aku tersenyum membelai rambutnya, layaknya seorang kakak yang mencoba meyakinkan pada adik kecilnya yang sedang galau. Padahal, kenyataannya akulah yang butuh untuk diyakinkan bahwa Meisya benar-benar akan bahagia dan tak akan ditinggalkan lagi.
" Apa kau benar-benar tak percaya kalo Khan bisa membahagiakanku?" Tanya Meisya sedikit merajuk.
" Masalahnya sekarang bukan aku percaya atau tidak, tapi dia harus membuktikan kalo dia benar-benar bisa membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun alasannya." Kataku menghempaskan rasa sakitku tadi ke dasar hatiku.
" Apa sekarang kau berperan sebagai kakak laki-lakiku?" Selidik Meisya.
" Ya, jadi katakan pada pacar tercintamu itu, jangan pernah sekali-kali meninggalkanmu lagi, kalo tidak aku akan mendatanginya dan memberinya pelajaran." Jawabku tegas.
Meisya tersenyum, wajah yang tadi sempat memerah karena dipenuhi amarah kini kembali ceria. Wajah yang sangat kusukai.
" Jadi kau bermaksud memberinya pelajaran?"
" Tentu saja. Meski aku kalah dalam pendapatan dan tampang, tapi aku yakin bisa menjatuhkannya hanya dengan satu pukulanku."
" Apa itu tak terlalu anarkis?"
Aku tersenyum menjawab pertanyaannya kali ini.
        Untuk gadis kesayanganku hal anarkis pun akan kulakukan jika sampai kejadian 5 tahun lalu itu terjadi lagi. Tapi bukan berarti aku berharap itu terjadi lagi. Aku juga ingin Meisya bahagia, meski bukan denganku. Karena aku tau aku sudah cukup bahagia saat melihat wajah ceria itu tersenyum dihadapanku. Dan jika sesekali aku teringat wajah wanita sederhana yang mengaku bernama Rizsaya itu, aku mungkin akan sedikit merasa sesak menyerang dadaku. Semoga saja wanita itu juga berfikir bahwa Meisya juga berhak bahagia dengan pilihan cintanya. Karena benar kata Meisya, ini adalah sebuah jodoh. Meski 5 tahun lalu Khan sudah meninggalkan Meisya dan menikah dengan Rizsaya, 5 tahun kemudian mereka bertemu dan melanjutkan cinta lama itu. Itulah jodoh, serumit apapun lika-likunya, jodoh tetaplah indah.
        Dan untuk perasaanku sendiri, aku tak tau seperti apa akhirnya.  Sepanjang bersama gadis ini, sering aku bertanya-tanya, jika ini cinta tak peduli seberapa kerasnya aku berfikir ingin seutuhnya memikinya, aku tetap kalah oleh senyum bahagianya yang tak pernah ditujukan padaku. Entah cinta apa ini namanya, yang hanya mengutamakan kebahagiaannya tanpa peduli diam-diam aku terbunuh oleh kebahagiaan itu. Dan meskipun aku bisa terbunuh oleh kebahagiaan itu, tetap saja aku masih mengkhawatirkannya. Seperti aku yang tak bisa mengerti kenapa Rizsaya tak memendam kebencian pada Meisya yang telah 'menghancurkan' pernikahannya, seperti itu pula aku yang tak bisa menterjemaahkan cintaku pada Meisya.

Meisya, seperti aku yang tak bisa menarikmu menjauh dari cinta masa lalumu yang kembali menjeratmu, seperti itu pula aku yang tak bisa lepas dari keinginanku yang selalu ingin bersamamu. Kau boleh saja menjadi wanita jahat yang tersenyum bahagia diatas kehancuran pernikahan wanita lain, daripada aku harus melihatmu menjadi wanita yang lemah dan menyedihkan. Dan seperti jodohmu, takdir bersebelahan antara kau dan aku, juga sangat indah meski hanya ditakdirkan bersebelahan.


Selasa, 02 Juni 2015

Penghargaan Cinta

          Gemerisik dedaunan pohon tanjung diterpa angin bulan Februari menghadirkan alunan musik surgawi yang begitu indah sore ini. Paling tidak cukup menentramkan hatiku yang sedang dilanda kegelisahan karena kedatangan pemuda tampan yang duduk dibangku kayu dihadapanku. Sesekali mata beningnya yang 'bak tetesan embun pagi menatapku dengan sinar yang membuatku tak sanggup menikmatinya lama-lama.
         Aku cukup kaget dan bisa dibilang benar-benar tak siap dengan kedatangan pemuda tampan yang memiliki nama Aji itu. Bukan karena kedatangannya disertai raut muka memendam amarah dan kekecewaan. Bukan pula kedatangannya sempat menghebohkan seisi para penghuni rumah sore ini. Aku hanya takut tak bisa menahan perasaanku saat berhadapan dengannya, saat menatap mata beningnya.
           Aji, dia sebenarnya satu-satunya pemilik hatiku. Dia orang pertama yang mengajariku tentang arti mencintai dengan sepenuh hati. Dia pula yang mengajariku tentang indahnya bertahan dalam badai gelombang kehidupan demi keyakinan sebuah akhir yang membahagiakan. Dan dia juga yang akhirnya menyadarkanku bahwa selain diperjuangkan, cinta juga sangat butuh dengan yang namanya penghargaan. Karena tanpa penghargaan, cinta bukanlah cinta, hanya sederet beban kehidupan yang merantai langkah kaki pemiliknya.
Terdengar Aji mendesah berat. Kuangkat pandanganku sejenak lalu bersembunyi lagi dibalik kesibukanku menyulam.
       Sebenarnya berat rasanya detik-detik kulalui saat ini, tapi aku tak mungkin tega menyuruhnya pulang atau kutinggalkan dia sendirian disini.
" Pergilah, selesaikan apa yang belum selesai." Ujar mbak Dilla saat mengetahui tempat persembunyianku dari kehebohan Aji yang datang-datang mencariku ke seluruh penjuru rumah meski dengan sikap penolakan beberapa anggota keluargaku.
Aku terpaku menatap mbak Dilla.
" Melarikan diri seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Lagipula semua orang sudah tau, Aji pun juga tau, tapi kedatangannya pasti ingin sebuah penjelasan langsung darimu. Hargai sedikit perjuangannya yang kesini, karena pasti dia mempertaruhkan harga dirinya saat memutuskan datang kesini." Lanjut mbak Dilla seperti memojokkanku mesti tau saat ini posisiku sudah cukup sulit.
Kutatap wajah mbakku itu dengan tatapan memelas.
" Kenapa? Apa kau takut pendirianmu akan goyah jika bertemu dengannya? Lebih baik mengetahuinya saat ini daripada nanti. Jika setelah bertemu dengannya pertahananmu goyah, kau bisa menghentikan keputusan konyolmu ini sebelum semua terlambat."
" Mbak Dilla...." Rengekku 

         Tapi akhirnya aku menuruti saran kakak tertuaku itu. Meski harus mengumpulkan sisa-sisa keberanianku aku menemui Aji.
" Aku tanya sekali lagi, benarkah ini benar-benar keputusanmu sendiri?" Tanya Aji tetap dengan nada suara beberapa menit lalu, saat pertama kali melontarkan pertanyaan itu.
" Hmm....Ya!" Jawabku lirih tetap sibuk menyulam.
" Jawab dengan menatapku, Ai....!!!" Nada suara Aji meninggi. Sedetik sempat membuatku terkejut dan menggetarkan dadaku.
Aji hampir tidak pernah membentakku seperti itu. Dia memang termasuk pribadi yang keras, tapi selama ini selalu bersikap lembut padaku. Dan inilah pertama kalinya dia bicara denganku dengan nada suara setinggi itu setelah kami bersama belasan tahun.
" Maaf..." Pintanya kemudian, dengan mendesah panjang.
Aku menunduk lebih dalam.

          Prahara ini akhirnya terjadi pula. Prahara yang sering aku khawatirkan tapi juga sering kami diskusikan. Aku dan Aji menjalin kisah yang cukup sederhana tapi juga penuh resiko. Melalui kisah Devdas & Paro, kami sering membandingkan dengan lika-liku kisah kami. Dimana perasaan yang nyaman ini terjalin begitu saja lewat kebersamaan yang sederhana kami. Aji berasal dari keluarga yang cukup terpandang di daerah sini. Keluarganya begitu menjunjung aturan bibit, bobot, dan bebet untuk masalah perkawinannya. Berbeda dengan keluargaku yang begitu demokratis.
           Dan hari itu adalah hari dimana aku sadar, bahwa selama ini perasaanku yang kujaga selama Aji melaksanakan tugas kantor ke luar kota, ternyata bukanlah sesuatu yang berharga di mata keluarga besar Aji.
" Tapi kenapa?" Tanya Aji gemetar.
Aku memejamkan mataku sejenak, mencari kekuatan melihat mata bening itu. Lalu kutaruh hasil sulamanku seraya menatapnya.
" Kenapa? Harusnya sebelum bertanya itu, tanyakan dulu pada keluargamu. Bukankah mereka yang memaksaku memulai semua ini?" Jawabku juga sedikit gemetar menahan  sesak dadaku mengingat kembali prahara hari itu. Dimana aku dan keluargaku dipermalukan dirumah kami sendiri. 
 Orang tua Aji mendatangi rumahku dan mengataiku sebagai gadis yang tak tau diri karena selama ini selalu menempel pada Aji.
" Aku selama ini bertahan dengan semua badai gelombang yang selalu kau yakinkan akan berakhir indah, tapi jika kemudian orang tuamu mengataiku gadis tak tau diri dan membandingkan dengan masa lalu ibuku, aku tak akan diam." Geramku teringat lagi derai air mata perempuan kesayanganku yang atas segala ucapan pedas orang tua Aji.
Aji menatapku dengan tatapan nanar. Hingga aku begitu sakit untuk melihatnya terlalu lama. Aku menunduk.
" Kita, dari awal juga sudah tau bahwa akan sulit dan  mungkin kita tak akan berakhir bersama kan?" Tanyaku lirih, mengingatkan tentang hal yang sering kami khawatirkan.
" Tapi kita saling mencintai, Ai." Sanggahnya seperti memelas.
Aku tergelak lirih,
" Dan aku baru sadar, cinta ini sedikitpun tak dihargai oleh keluargamu, lalu apa masih perlu dipertahankan?"
Dan, terngiang kembali kata-kata pedas menyakitkan dari ibunya Aji kala itu. Membuat dadaku sakit.
" Sejak kapan kau mempedulikan omongan ibuku? Kita bersama bukan setahun dua tahun, tapi belasan tahun. Dan selama itu kau sudah sering mendengar segala bentuk omongan ibuku kan? Kenapa sekarang kau mempermasalahkannya?" Tanya Aji lagi.
" Karena kita semakin dewasa, karena aku juga perlu menata masa depanku, karena aku juga ingin membahagiakan orang tuaku." Berondongku menjawab pertanyaannya dengan nafas tersenggal-senggal. Lalu perlahan aku menatapnya yang ternyata sudah menatapku lekat.
" Ada banyak jawaban untuk satu pertanyaanmu itu, apa aku perlu menyebutkan semuanya?" 
Aji terdiam seperti tak percaya dengan yang dilihat dan didengarnya. Mungkin tak percaya bahwa aku juga punya sisi pemberontak seperti ini. Jauh dari semua yang kutunjukkan selama ini, bahwa aku orang yang penurut dan tak banyak bicara.
" Dan aku, mulai lelah karena kau ternyata terlalu penurut pada orang tuamu. Aku tak mungkin menggantungkan sisa hidupku pada orang yang tak bisa melindungiku dihadapan orang-orang yang tak menghargaiku."
" Kau juga mulai mempedulikan harga diri? Apa aku selama ini pernah mempedulikan harga diriku?" Tanya Aji makin terheran-heran.
Aku mendesah.
            Namanya Karel, dia adalah putra tunggal pemilik perusahaan tempat kakakku Andi bekerja. Dia juga menjadi kepala bagian, boss di divisi mas Andi. Sebulan lalu kami bertemu saat aku mengantar berkas mas Andi ke kantor, dan beberapa hari lalu Karel mengutarakan maksudnya untuk melamarku dihadapan orang tuaku. Dan karena semua kata-kata pedas yang masih sering berdatangan di otakku itulah aku menyetujuinya. Awalnya semua terkejut dengan persetujuanku. Bahkan ibu juga tak percaya, terlebih mbak Dilla yang begitu tau semua kisahku dengan Aji.
" Kau serius menerima tawaran pak Karel tadi?" Tanya mbak Dilla waktu itu, tergopoh-gopoh menyusulku ke dapur.
" Ya. " Jawabku pendek sambil meletakkan nampan berisi cangkir kosong bekas menjamu Karel tadi.
Mbak Dilla menarik lenganku, memaksaku menghadapnya.
" Apa karena kedatangan orang tua Aji waktu itu?" 
" Ya."
" Kau tau yang sudah kau perbuat?"
" Ya."
" Aira!!!" Desis mbak Dilla sembari menampar pipiku. Terlihat sekali perempuan yang juga seperti ibu keduaku itu menatapku penuh amarah.
" Kenapa mbak? Apa aku salah? Aku hanya tak ingin menyesal lagi nantinya, aku hanya ingin membahagiakan kalian, aku hanya ingin menunjukkan pada mereka yang telah menghina kita bahwa kita juga patut dihargai! Apa itu juga salah dimata mbk Dilla?" Emosiku mencuat begitu saja.
" Kau yakin ini bukan hal yang akan kau sesali? Kau yakin ini akan membuat kami bahagia? Hah?!"
Aku mendesah panjang, kusadari kehadiran ibu diambang pintu dapur menatap kedua putrinya dengan genangan air mata dikelopak matanya yang mulai keriput.
" Paling tidak aku tak akan mempermalukan kalian lagi, dan kita akan lebih dihargai di masyarakat. Itu sudah cukup bagiku." Ucapku sedikit serak karena menahan tangis. 
" Apa kau pikir menikah dengan orang yang tak kau cintai itu kau sebut mempedulikan harga diri?" Ucapan meninggi Aji menyadarkanku dari lamunan. 
" Anggap saja aku menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak."
" Kau picik sekali, Ai." Sungut Aji sinis." Pernikahan tanpa cinta tak akan berakhir bahagia."
" Percintaan tanpa pernikahan apa bisa berakhir bahagia?"
" Kita bahkan belum mencoba, Ai!" Suara Aji meninggi lagi.

         Ternyata hubunganku dengan Aji selama ini tak sesederhana yang aku kira. Bahkan sangat rumit bagai kumpulan benang sulaman ini. Kami saling mencintai dan menjaga cinta itu, tapi semua terlihat percuma karena kenyataannya cinta kami tak pantas untuk dijaga keberadaannya. Bahkan aku pun tak mampu membayangkan sebuah pernikahan dengan Aji. Bukankah itu sangat menyedihkan? Dibelahan bumi manapun semua gadis ingin kisah percintaannya berakhir pernikahan. Lalu kenapa akhir itu seperti hal yang sangat mewah dan begitu mustahil hingga harus kulupakan saat menjalin kisah dengan Aji?
" Apa jika aku meninggalkan keluargaku kau akan kembali padaku?" Tanya Aji membuatku kaget.
" Apa itu cukup, Ai?"Lanjutnya mencoba meraih jemariku.
" Tidak." Sergahku cepat seraya menjauhkan jemariku dari jangkauan tangannya. Aji tercekat.
" Aku akan tetap memilih keluargaku daripada orang yang kucintai. Karena keluarga, meski kadang seperti beban, kita akan kesepian jika tak ada mereka. Karena keluarga adalah pemberian Tuhan yang paling berharga. Jadi kau juga jangan mencampakkan pemberian untuk sebuah pilihan. Belum tentu pilihan itu benar."
Aji tertawa sinis mendengar jabaranku, entah bagian mana yang dirasanya lucu.
" Jika kau menganggap keluarga adalah pemberian, cinta adalah pilihan, lalu apa nama untuk pernikahan? Takdir?"
" Anggap saja begitu."
" Kali ini kau salah, Ai."
Aku termangu dengan penyalahannya.
" Mencintai itu yang takdir, sedang menikah adalah nasib. Seperti sekarang ini, kau bisa memutuskan menikah dengan siapa. Tapi kau tak bisa memutuskan mencintai siapa. Kau hanya akan selalu mencintaiku, bukan orang yang akan menikahimu. Kau tau kenapa? Karena mencintai bukanlah sebuah pilihan seperti yang kau katakan tadi. Mencintai juga adalah pemberian Tuhan. Apa kita sebelumnya pernah memilih akan saling mencintai? Tidak kan? Itu karena cinta kita sudah ditentukan oleh Tuhan, seperti juga kita yang tak bisa memilih kita terlahir di keluarga apa." Paparnya

         Aku memang hanya mencintai pemuda tampan dihadapanku ini. Tapi agar semua yang kutakutkan selama ini lenyap, aku harus menempuh jalan ini. Jalan yang dibukakan oleh seorang pemuda matang bernama Karel. Bagiku inilah pilihan yang harus aku jalani. Siapa yang kunikahi dan siapa yang akhirnya kudampingi, adalah dua orang yang berbeda. Karena aku tak mungkin membangun masa depan dengan orang yang selama ini kucintai. Sebaliknya aku harus rela membangun cinta dari awal lagi dengan orang yang akan menikahiku. Benar kata mbak Dilla tadi, dengan bertemu Aji aku akan bisa menegaskan tentang keputusanku. Dan sepertinya sejauh ini hal itu tak menggoyahkanku.
" Apa ini semacam balas dendam, Ai?" Tanya Aji berat.
Kutatap wajah sedih itu sekilas.
       Mungkin, ya mungkin memang ini bentuk balas dendamku akan perlakuan buruk orang tua Aji waktu itu. Hanya dengan ini derajat keluargaku yang selama ini sering dipandang sebelah mata akan menjadi berbeda. Dan benar kataku tadi, aku telah menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak. Memang sedikit berlawanan dengan hati, tapi....
" Mungkin kita awalnya memang ditakdirkan untuk saling mencintai, tapi pada akhirnya kita juga harus terima jika kita ditakdirkan begini." Ucapku menahan sesak dadaku yang tiba-tiba saja menyerang.
" Atau mungkin kita sendiri yang menentukan takdir ini. "
" Percuma kalo kita tetap berjuang...."
" Aku tau, aku terlalu lemah pada orang tuaku yang tak pernah menghargai cinta kita."
      Dan entah kenapa dadaku makin sakit mendengar ucapan Aji kali ini. Kenapa aku seperti tak rela Aji menyalahkan dirinya sendiri untuk semua prahara ini? Bukan, bukan Aji yang harusnya merasa bersalah. Mungkin lebih baik aku yang mengambil kesalahan itu. Aku yang tak bisa memilih terlahir dari pasangan yang lebih memilih memperjuangkan cinta dan meninggalkan keluarga mereka. Aku yang meski terlahir dan tumbuh tanpa kekurangan cinta kasih, tetap saja membawa sekilas tatapan sinis dan cibiran pedas dari beberapa pihak. Termasuk dari keluarga Aji yang cukup terpandang disini.
        Bukan aku membenci orang tuaku, karena tanpa tindakan mereka yang mempertahankan cinta sampai meninggalkan semuanya, tak akan ada aku terlahir ke dunia. Tapi, bukan berarti aku harus mengikuti jejak mereka kan?
" Setelah belasan tahun melewati semuanya bersama aku baru tau satu hal." Ucapan Aji memecah lamunanku.
" Aku memang tak punya keberanian melawan orang tuaku, Ai, tapi selama ini aku selalu berusaha mencari cara agar mereka merestui cinta kita."
        Rasanya tulang-tulangku seperti terlepas dari sendi-sendinya. Menatap mata bening penuh harapan itu, ditambah mendengar penuturannya itu, aku hampir tak bisa berkutik. Ternyata, aku tak setegar yang kukira. Pertahananku mulai goyah. Ibu....mbak Dilla....tolong aku!!!
" Alasanmu sampai memutuskan menerima pinangan orang itu bukan agar mendapat harga diri yang lebih banyak, tapi karena kau tak pernah sepenuhnya percaya padaku, bahwa aku bisa membuat cinta kita lebih berharga dari apapun. Iya kan, Ai?" Berondong Aji melucuti semua harga diriku yang sejak tadi kusombongkan padanya.
" Kupikir selama ini kau tetap bertahan karena kau percaya padaku, tapi ternyata...." Aji tak melanjutkan ucapannya dan malah tergelak. Aku menggeleng pelan sebagai tanda protes bahwa yang semua yang dikatakannya tadi tidaklah benar.
           Tidak, bukan karena aku tak pernah sepenuhnya percaya, akhirnya aku menyerah begini, Ji. Justru kepercayaan penuh padamulah yang membuatku tetap bertahan selama belasan tahun ini. Karena aku terlalu percaya, terlalu berharap bahwa kisah kita akan berakhir seindah angan-angan kita, aku menjadi begitu terpuruk begini. Kepercayaan penuh itulah yang membuatku sangat terluka saat menyadari bahwa orang tuamu sangat menghina cinta yang selama ini kujaga. Ceracauku dalam hati.
" Kisah Devdas dan Paro yang sering kita bicarakan, akhirnya kita alami juga."
" Aji...."
Aji tersenyum, tapi terlihat sekali senyum itu sangat dipaksakan.
" Dengarkan ini baik-baik Aira, seperti halnya Devdas, yang selama hidupnya hanya ada Paro sebagai cintanya, kau juga akan jadi satu-satunya yang menjadi cintaku. "
Hatiku serasa runtuh mendengar pengakuan itu. Tapi tetap kucoba untuk bertahan agar air mataku tak menggenangi mataku.
" Kuharap, ah...tidak, semoga...semoga ini adalah keputusan yang tak akan berujung penyesalan. Dan kalaupun ini akan menimbulkan penyesalan, jadikan penyesalan itu sebagai alasan untuk terus melangkah. Berbahagialah dengan keputusan yang telah kau buat. Berbahagialah seperti tekadmu yang ingin membahagiakan orang-orang terkasihmu."
Aku gagal, aku tak cukup kuat menahan air mata itu. Kutundukkan wajahku seiring air mataku terjatuh. Kuseka dulu air mataku sebelum mendongak menatap Aji lagi.
" Benar, tak ada yang bisa melawan takdir. Seperti kita yang tak bisa menghentikan perasaan kita untuk saling mencintai, seperti itu pula kita tak mungkin bisa mengubah akhir kisah kita. Karena ini adalah takdir." Suara terakhir Aji terasa begitu bergetar. Makin menggoyahkan hatiku. Kuhela nafas pendek, menata hatiku lagi.
" Ji, suatu saat nanti kau pasti juga akan menemukan takdir terbaikmu. Suatu saat nanti kau pasti juga akan berbahagia. Aku percaya, suatu saat nanti kau pasti juga bisa."
Aji tersenyum mendengar ucapanku kali ini.
" Tidak, Ai, jangan menyuruhku percaya hal itu terjadi, karena aku sudah tak mampu berharap apapun lagi. Aku tak tau lagi apa tujuanku ke depan. Aku sudah tak peduli apapun lagi. Inilah keputusan yang kubuat untuk mengimbangi keputusanmu."
Kugigit bibirku menahan sesak dadaku untuk kedatangan isakku yang mulai bergemuruh. Kudengar Aji mendesah panjang.
" Aku pergi...." Katanya seperti orang linglung, bangkit dan beringsut pergi. Melangkah dengan gontai.
           Aku masih bertahan menahan isakku dengan menggigit bibirku. Dengan tangan gemetar kuraih benang dan hasil sulamanku, tapi baru dua detik kupegang benang sulamku terjatuh, menggelinding disusul isakku yang akhirnya tak terbendung. 
            Tiba-tiba sebuah tangan mengambil benang sulam itu dan meletakkannya ke tanganku yang masih mengambang di udara. Aku mendongak dan menemukan sosok mbak Dilla yang menatapku penuh prihatin. Isakku makin menjadi.
" Aku harus bagaimana mbk? Aku harus bagaimana...??" Ceracauku disela isak tangisku.
" Kami selalu takut kisah kami berakhir seperti kisah Devdas dan Paro, tapi aku sendiri yang telah membuatnya berakhir seperti kisah itu. Aku membuatnya menjadi Devdas, mbak..." Lanjutku penuh hiba.
Mbak Dilla yang masih berdiri disampingku memelukku lembut, membelai punggungku yang bergetar hebat.
" Maafkan mbak, Ai, harusnya tadi mbak tak menyuruhmu menemuinya. Mbak tak tau kalo akhirnya kau malah terguncang sehebat ini. Mbak yang salah, Ai. Harusnya mbak ingat bahwa cinta Aji juga tak kalah besarnya dengan cintamu." Ucap mbak Dilla lama-lama terdengar ikut menangis. Kudekap benang dan hasil sulaman ditanganku. 
           Pada akhirnya aku menyadari bahwa memang benar mencintai adalah bukan hal yang bisa ditentukan apalagi dipilih seperti keputusanku yang akhirnya memutuskan menikah dengan siapa. Dan untuk keputusan yang sangat fatal itu aku mungkin memang harus menukarnya dengan seumur hidupku terbelenggu oleh cinta lain. Cinta yang begitu berharga sepanjang hidupku. Cinta yang begitu diperjuangkan olehnya agar menjadi sesuatu yang paling berharga nantinya. Tapi pada akhirnya cinta itu harus menyerah pada harga diri terakhirku. Harga diri yang terpaksa kujual untuk mendapat lebih banyak harga diri lain.
         Mungkin bagi sebagian orang akan berkata, lebih baik kehilangan harga diri untuk orang yang paling dicintai. Daripada kehilangan orang yang dicintai untuk sebuah harga diri. Tapi bagiku, jika tanpa harga diri, apakah cinta kita masih dihargai? Sedang cinta yang tak dihargai adalah hal yang sia-sia untuk dipertahankan lagi.