Kamis, 30 Juli 2015

( NOT SO ) DIFFERENT

Setelah kepergian Alvin yang kembali ke kantornya untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan, aku kembali melangkah perlahan keluar dari dalam lobi rumah sakit yang mulai sepi. Hanya ada 1 resepsionis jaga dan seorang satpam yang sepertinya memilih ngobrol dengan si resepsionis untuk mengusir kesepian yang mulai melanda rumah sakit kecil ini bila sudah malam.
Tak terasa hampir 6 bulan aku menghabiskan waktu di rumah sakit ini. Dan selama itu, sejak kejadian di kantin 2 bulan setelah aku dipindahkan disini itu, Alvin-lah yang setia menemaniku. Meski awalnya aku selalu mengelak dan menolak kehadiran Alvin, tapi ternyata ada benarnya juga omongannya waktu itu yang mengatakan bahwa setiap orang paling tidak memerlukan seseorang untuk menemaninya melewati masalah yang sedang dihadapinya, daripada berusaha keras mengandalkan kekuatan sendiri.
Aku sadar, Alvin ingin memulai lagi lembar baru denganku. Dan aku tau, aku mulai luluh dengan semua perjuangannya.
Saat kakiku mulai melangkah ke tempat parkir ke arah mobil Alvin, langkahku mendadak berhenti menyadari seseorang yang berdiri disamping sebuah mobil mewah.
Seketika kenangan menyakitkan setengah tahun lalu menyeruak tak terbendung karena mataku menikmati wajah tampan di depan sana itu. Kris. Dadaku benar-benar langsung pengap. Aku mendesah jengkel.
" Lama tak jumpa, Laras."  Sapanya melangkah mendekatiku.
Aku tergelak.
" Aku tak pernah berharap bertemu denganmu lagi. Mau apa kesini? Apa belum cukup melemparku ke tempat kecil begini? Apa kau belum puas mengambil semua yang berharga bagiku? Apa kau mau mengambil sisanya lagi?" Geramku dengan amarah di ubun-ubun kepala.
Kris menunduk sebentar, seperti sengaja menghindari tatapan sinisku.
" Maaf." Katanya lirih.
Aku tergelak lagi.
" Apa kau bilang? Maaf? Setelah semua yang kau lakukan padaku, setelah kau menusukku dari belakang hingga aku sampai terlempar kesini, bahkan menghanguskan impianku meraih gelar Spkj, kau dengan mudahnya bilang maaf?" Tanyaku penuh amarah.
" Sekalipun kau meminta maaf dengan berlinang air mata darah, aku tak akan pernah bisa memaafkanmu, Kris!!"
" Laras..." Desis Kris mencoba lebih mendekat lagi.
" Jangan sebut namaku, dan jangan menyentuhku!"
Mata Kris menatapku sedih. Tapi aku tak mungkin tergugah dengan semua itu. Kenyataan bahwa dia pernah menusukku dari belakang hingga aku dilempar dari rumah sakit pusat ke rumah sakit daerah di kota kecil ini, adalah sangat sulit untuk kumaafkan.
" Aku datang untuk menjemputmu. Ayo kita kembali, kembalilah menjadi partnerku. Tak ada yang bisa menjadi partnerku sebaik yang kau lakukan. "
" Apa?" Aku tertawa apatis.
" Ya. Aku bisa membawamu ke rumah sakit pusat lagi. Aku bahkan akan mengurus studi lanjutanmu ke luar negeri untuk bisa meraih gelar Spkj."
Aku masih tertawa tak percaya.
Setelah dulu dia dengan tak manusiawinya merampas semua dariku, sekarang dia malah datang seperti orang tak berdosa memberikan kembali padaku. Apa ini normal?
" Kita akan menjadi psikiater handal bersama-sama, Ras. Kita bahkan bisa menjadi yang terbaik dari yang terbaik, Ras." Ucapnya penuh semangat.
Kutatap Kris lekat. Rasanya baru kemarin aku begitu mencintai pemilik wajah tampan itu dan bersama-sama meraih mimpi kami sebagai seorang ahli psikiatri. Dan hanya dengan menatapnya, seakan menjadi semangat tersendiri untuk melangkah. Tapi kini, aku begitu jengah. Bahkan aku begitu kewalahan menghadapi rasa benci yang menyerangku.
" Awalnya aku merasa diperlakukan tak adil sampai ada ditempat seperti ini. Tapi apa kau tau, Kris? Disini, aku mendapat banyak cinta dan ketulusan yang dulu kau campakkan. Dan aku jadi sangat menyukai tempat ini." Kataku lebih terkontrol.
" Kau ini bicara apa, Ras. Bukankah cita-citamu menjadi ahli psikiatri yang terkenal diseluruh jagad? Mendapatkan banyak lisensi, menguasai semua...."
'' Tidak." Sergahku cepat, memotong ucapannya. Kris menatapku tak mengerti.
" Disini aku tau arti seorang ahli psikiatri. Disini aku tau untuk apa sebenarnya seorang psikolog."
" Laras..." Keluhnya seperti kecewa mengetahui sekarang aku tak lagi punya ambisi menjadi ahli psikiatri yang hebat dan diakui oleh seluruh dunia.
" Kau tak bisa seperti ini, melepas semua impian yang pernah kita bangun bersama. Kita akan berdiri di puncak tertinggi hingga semua orang bisa melihat kita."
Aku mendesah.
Tak dapat kupungkiri, dulu aku memang berambisi seperti yang dikatakan Kris tadi. Sama-sama berangkat dari strata rendah yang sering dicemooh dan dikucilkan orang lain, aku dan Kris selalu bertekad dan berjuang semaksimal mungkin agar kami berdua bisa diakui oleh semua orang. Dan disini aku justru mendapat arti hidup yang sebenarnya dari Alvin, yang berangkat dari strata sosial tertinggi.
" Tidak, aku tak ingin berdiri ditempat yang tinggi lagi, apalagi bersamamu. Kau yang akan terus mencoba mendaki ke tempat tertinggi seumur hidupmu tapi pada akhirnya kau akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatmu yang mengasihimu dengan tulus. Dan yang ada disekitarmu itu, hanya orang-orang palsu yang akan menggerogotimu kemudian menunggumu terkapar. Kau hanya akan mejadi orang yang malang pada akhirnya." Kataku dengan intonasi yang kubuat sedatar mungkin.
" Apa kau melepas semuanya karena kau begitu membenciku?" Tanya Kris sedih.
Benci? Aku bahkan menganggap ini jauh lebih pekat dari warna kebencian. Tapi, jika aku terus membiarkan kebencian ini menggerogotiku, aku pasti tak akan bisa melangkah lagi.
" Dimatamu sekarang aku mungkin bukan orang yang baik, tapi apa orang yang buruk tak berhak untuk dicintai? Sekalipun aku pernah melakukan semua hal buruk padamu, tapi hanya kau yang selamanya aku cintai, Ras. Kau yang pantas dan mampu mendampingiku."
Aku tergelak.
" Lelucon apa ini, Kris? Kau pikir aku malaikat? Dan justru makin hari aku makin sadar, bahwa aku tak menyesali telah kau campakkan. Dan kau, kau tak akan pernah melupakanku dan akan selalu hidup dalam penyesalan yang tak pernah kau bayangkan."
Terlihat sekali mata Kris nanar menatapku.
" Pergilah, pulanglah ke tempat tertinggimu itu. Dan jangan pernah berfikir menemuiku lagi, karena aku bukanlah Laras yang dulu."
" Apa kau sudah mencintai orang lain? Apa semudah itu kau memindahkan cintamu pada orang lain." Desis Kris putus asa.
Mungkin. Mungkin memang aku sudah mengubah haluan cintaku pada orang lain. Tapi bukankah itu yang disebut move on? Aku hanya ingin lepas dari rasa sakit itu dan mencoba lagi untuk bahagia. Bukankah semua orang pantas bahagia?
" Itu bukan urusanmu lagi, pergilah."
" Laras...."
" Kubilang pergi...!!! Apa aku perlu memanggil satpam?" Geramku akhirnya.
Kris menunduk sebentar.
" Maafkan aku, Laras."
" Jika semua luka hati bisa sembuh hanya dengan maaf, maka tak akan ada lagi yang mempelajari psikiatri, Kris."
Kris mundur perlahan. Kugenggam tanganku kuat-kuat menahan sakit yang menyerang ulu hatiku. Dan ketika Kris masuk ke dalam mobilnya, tak sadar air mataku mengalir. Aku bahkan tak bisa mengartikan untuk apa air mata ini. Mobil mewah itu melesat meninggalkanku pergi. Mataku terpejam seiring air mataku terjatuh lagi, dan saat aku mendongak sudah kutemukan seraut wajah tampan Alvin. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain agar Alvin tak melihat air mataku.
" Kalo hatimu berat melupakannya, maka jangan mencoba melupakannya." Ucap Alvin.
" Tidak, Al. Kami sudah terlalu jauh, dan aku merasa kami sudah tak bisa bersama."
" Jika jarak diantara kalian terlalu jauh, maka larilah mendekat. Jika kau tak bisa merasakannya ada disampingmu, maka peluklah. Meskipun itu terasa sakit, tapi tetap saja kau tak bisa mengacuhkannya kan?"
Kuusap air mataku kasar.
" Apa perlu aku mencintainya lagi? Hal semacam ini apa bisa disebut cinta? Saat yang kita sebut cinta melukai sebanyak ini, hingga aku merasa seperti akan gila membencinya, apa masih bisa disebut cinta?" Ceracauku kembali meneteskan air mata, tubuhku gemetar menahan sesak dadaku.
Tapi Alvin malah mendekatiku dengan senyum tipis.
" Ya,itu adalah cinta. Saat kau memikirkan seseorang dan terasa sangat menyakitkan, membuatmu menderita karena harus bertarung dengan kebencian yang kau tak mengerti dari mana asalnya, itu juga cinta, Laras."
Aku termangu mendengar penuturan Alvin. Ingin aku membantahnya, tapi aku bahkan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Dan dalam hati, aku bertanya benarkah ini masih bisa disebut cinta? Bahkan hatiku begitu sakit melihat kedatangannya, sampai kesulitan bernafas, lalu dari sisi mana itu bisa disebut cinta?
" Aku tak bisa memintamu melupakan masa lalumu. Aku juga tak bisa bilang kau jangan lagi terikat dengan masa lalumu. Kau jauh lebih mengerti apa itu trauma dan cara mengobatinya. Tapi tak peduli seberapa keras aku mencoba, jika kau masih terikat masa lalu itu, aku bisa apa?" Kali ini seperti keluhan.
" Maaf, tapi aku juga sedang berusaha. Tak bisakah kau melihat kalo aku juga berusaha mengalahkan semua itu dan kembali melanjutkan hidup? Aku menyayangimu juga, apa kau tau betapa sakitnya hatiku? Meskipun aku menyayangimu, tapi aku memiliki banyak kekurangan. Aku sadar kalo kita...."
" Berbeda?" Geram Alvin menyela.
Aku menunduk.
" Setiap kali kau mengungkit itu, aku merasa kau sendiri yang membentengi dirimu agar tak tersentuh olehku, Ras. Sekeras apapun usahaku, tapi benteng itu sangat kuat dan tinggi. Dan kekuatanku juga terbatas. Aku takut suatu waktu aku akan menyerah." Lanjutnya sedih, membuatku merasakan sakit lagi.
" Sudahlah, kuantar kau pulang, ini sudah malam." Katanya lagi, dengan nada dipaksa sedatar mungkin, lalu melangkah lebih dulu.
" Al...!" Seruku segera, meraih lengannya yang baru saja melewatiku. Langkah Alvin terhenti, dan tersenyum melihatku.
" Kau benar, paling tidak kita membutuhkan seseorang disamping kita untuk menghadapi masalah yang datang kan?'' Tanyaku
" Itu hanya bila kau membuka hatimu." Jawab Alvin.
'' Bisakah kau bersabar sedikit lebih lama? Aku sedang dalam perjalanan kesana."
Alvin tersenyum, lalu menghadap penuh padaku. Meraih jemariku.
" Bukankah aku orang paling sabar yang kau kenal? Berapa lama aku menunggu? Apa kau pikir aku bisa dikalahkan dalam hal menunggu? Hah?!" Dengusnya dibuat-buat. Aku menunduk menyembunyikan senyum. Tiba-tiba tangan Alvin menyentuh pipiku menghapus sisa air mataku tadi.
" Tak perlu berfikir, kisah kita berjalan seperti cinderella little mermaid atau apalah. Kisah kita adalah milik kita sendiri, jadi kita jalani saja tanpa perlu membandingkan dengan kisah lain."
Aku mendongak sedikit dengan sisa senyumku.
" Apa kau sadar, bahwa sebenarnya jalan cinta itu seperti sebuah putaran? Sejauh apapun kau meninggalkannya, suatu saat kau akan kembali ke tempat semula, cinta pertamamu." Lanjutnya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Aku ikut mencondong menjauhi.
" Sudah kubilang jangan bersikap terlalu mencolok, ditempat seperti ini gosip gampang sekali tersebar." Protesku.
" Biar saja semua menggosipkan kita. " Tanggapnya enteng.
Aku tergelak dan tanpa menunggu ijin dariku lagi, Alvin menarik tanganku kembali berjalan menuju mobilnya. Dan aku merasa bahagia.





>Sebenarnya ini lanjutan "DIFFERENT" yang ada di blog satunya, hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar