Rabu, 15 Juli 2015

Last Cinderella

        Kuhentikan mobilku ditepi jalan tak jauh dari sebuah warung tenda di pinggir jalan. Kumatikan mesin mobilku dan mataku mulai celingukan mencari seseorang yang menurut khabar yang kuterima dari Agatha, sepupu sekaligus sahabatku, yang mngatakan bahwa gadis bernama Minoru bekerja di warung tenda ini yang buka pada petang sampai tengah malam hari.
          Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan dengan balutan kaos panjang biru yang dipadu dengan celana jeans, keluar dari warung tenda itu ke arah belakang warung dengan beberapa buah piring kotor ditangannya. Kuperhatikan sosok yang kemudian berjongkok mencuci piring bawaannya tadi. Belum juga selesai, tiba-tiba Minoru menoleh ke arah dalam warung, sepertinya dipanggil oleh pembeli. Lalu langkah Minoru bergegas masuk meninggalkan cucian piringnya. Meskipun sepertinya gurat kelelahan menghiasi wajahnya yang sebenarnya sangat manis itu, tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Aku mendesah memegangi kemudi mobilku erat-erat.
        Minoru, sebenarnya bagiku dia gadis yang sangat hebat. Meski tak secantik gadis-gadis yang kukenal selama ini, tapi Minoru-lah yang pernah memenangkan hatiku dengan sikap-sikapnya yang begitu menghangatkan hidupku yang sebelumnya sangat dingin dan hampir tak berwarna. Tapi itu  setahun yang lalu, dan hanya bertahan beberapa bulan saja. Minoru yang waktu itu hanya karyawan biasa di perusahaan besar milik ayahku, tak mampu melewati rintangan perbedaan yang ada. Bahkan juga tak mampu menerima kehidupanku.
" Inilah kehidupanku, jika akhirnya kau menerimaku untuk mendampingimu, mulailah untuk terbiasa dengan pola hidupku." Kataku dingin, juga sedikit kesal saat Minoru protes dengan kemeriahan pesta yang waktu itu kuadakan bersama teman-temanku. Pesta yang sudah biasa kuadakan hampir setiap bulannya, sekedar untuk menghilangkan kepenatan bekerja. Tapi Minoru yang tak terbiasa ada di pesta semacam ini langsung protes. Bagi Minoru hal-hal semacam ini hanya menghambur-hamburkan uang. Dan itu membuatku sedikit malu pada teman-temanku yang notabene adalah para pengusaha dan anak konglomerat.
" Masih banyak orang-orang diluar sana yang kelaparan karena tak punya uang untuk membeli makanan."
" Bukankah fakir miskin dan anak terlantar adalah tanggung jawab pemerintah? Lalu kenapa aku harus ambil pusing? Kami bukan badan amal, kami kumpulan para pengusaha." Desisku menyombong.
Minoru tersenyum kecut.
" Orang seperti kalian yang terlahir dari keluarga yang sudah bergelimang harta yang tak akan habis meski setiap hari dihambur-hamburkan, memang tak akan mengerti apa itu kelaparan."
" Apa terlahir di keluarga kaya adalah kesalahan? Tak ada yang bisa memilih kita terlahir di keluarga apa, lalu jika mereka kelaparan karena mereka sangat miskin, apa jadi kesalahanku? Kesalahan teman-temanku itu?"
Minoru mundur perlahan.
" Tidak, kau ataupun teman-temanmu itu tidak salah. Yang salah adalah aku yang ada disini dengan label kekasihmu. Karena untuk alasan apapun aku tidak pantas ada ditempat seperti ini." Ucap Minoru dengan menatapku lekat, dengan mata sedikit berkaca-kaca.
" Aku mencintaimu, apa itu tak cukup untuk alasan kau ada disini? Kita terlahir tidak hanya sebagai makhluk sosial, kita juga makhluk individu, yang bersifat egosentris. Jadi apa salahnya kita bersenang-senang?"
          Mataku terpejam mengingat pertengkaran kami yang pertama hari itu. Hari yang seharusnya membuatku bahagia dan bangga karena pertama kalinya aku memperkenalkan pada teman-teman seorang gadis yang kucintai, berubah menjadi hari yang mempermalukanku karena pendapat Minoru yang bukan pada tempatnya. 
" Dari awal kita memang dua orang yang berbeda. Dan mungkin selamanya kita  akan jadi dua orang yang berbeda yang tak mungkin bisa bersama." Katanya sedikit menunduk saat beberapa hari kemudian aku menariknya ke tangga darurat, tempat kami pertama bertemu.
" Apa selama ini memang hanya aku yang mencintaimu? Apa memang sebenarnya kau tak pernah mencintaiku?" Sergahku dingin membuatnya mendongak kaget.
" Bu....bukan begitu maksudku."
" Aku baru sadar kalo selama ini akulah yang selalu berusaha. Aku yang mengejarmu, aku yang mencintaimu, aku yang harus menerimamu. Iya kan?" Lanjutku membabi-buta.
Tatapan mata Minoru terlihat sangat ingin protes, tapi entah mengapa tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
" Benar, kita memang dua orang yang berbeda. Sangat berbeda dari segi apapun. Sejak kita terlahir ke dunia ini, kita sudah ditakdirkan berbeda. Terlepas dari bagaimana aku sangat mencintaimu, ternyata itu bukan hal yang bisa dipaksakan untuk jadi alasan. Karena diantara kita berdua, ternyata tak cukup hanya cinta saja. Seberapa kerasnya aku menarikmu ke dalam duniaku, tetap tak akan berhasil." Lalu aku melangkah pergi dengan kekesalan yang menguasaiku. Dan meski aku menyadari waktu itu Minoru menangis, aku tetap tak berbalik.
" Kau ini manusia atau bukan?" Teriak Agatha sambil membanting pintu kantorku yang baru saja dibukanya. Aku mendongak mendapati mata Agatha yang begitu menyala-nyala.
" Kenapa kau datang dengan kemarahan yang begitu hebat? Apa saham perusahaanmu anjlok karena kalah bersaing dengan saham dari perusahaanku?" Tanyaku enteng, karena meskipun kami bersahabat dan saudara sepupu, tapi dalam bisnis kami tetaplah rival yang bersaing
" Kau anggap apa Minoru itu? Kenapa cintamu tiba-tiba berubah menjadi menakutkan?" Desisnya mencengkeram pinggiran meja kerjaku.
" Oh...soal itu." Aku masih berintonasi enteng, sembari meneruskan pekerjaanku memeriksa beberapa file dihadapanku.
Agatha tergelak.
" Apa? 'Oh...soal itu'? Kau memecat Minoru tanpa alasan jelas dan menghubungi semua perusahaan untuk menolak lamarannya, tapi kau masih bisa bilang 'oh..soal itu'? Apa dia melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga kau menghukumnya begitu kejam?"
Kututup map file dihadapanku dan menyandarkan punggungku ke kursi.
" Dia yang memutuskan bahwa kami berbeda dan tak mungkin bisa bersama. Itulah sebabnya aku mengeluarkannya dari duniaku. Apa itu kejam?"
Agatha tetap menatapku dengan kemarahan.
" Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau begitu marah? Atau kau jangan-jangan sebenarnya menaruh hati padanya?" Selidikku mengamati setiap sudut raut muka Agatha.
" Ya, aku memang menyukai Minoru." Tegasnya.
        Sejenak aku terhenyak, tapi cepat-cepat kutepis perasaan konyol itu. Aku sudah memutuskan untuk tak lagi berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan gadis yang masih punya darah jepang dari kakeknya itu.
" Kau tau kenapa? Karena Minoru pernah membuatmu menjadi seperti manusia yang punya perasaan, meski itu hanya 2 bulan."
      Aku terpaku mendengar penjelasan Agatha. Manusia? Apa selama ini aku tidak terlihat seperti manusia? Apa karena aku penganut egosentris, yang lebih mengutamakan kepentingan sendiri lalu tidak pantas disebut manusia? Lalu apa aku harus menjadi seperti Minoru yang selalu memikirkan orang lain? Bahkan menurutku Minoru juga punya sisi egosentris, karena dia tak pernah memikirkan posisiku. 
" Apa kau puas telah membuatnya seperti gelandangan? Kesana kemari membawa map lamaran pekerjaan tapi tak satupun yang menerimanya? Kau puas? Hah?!"
          Aku masih tak mengerti kenapa Agatha begitu emosi dengan apa yang sudah kulakukan pada Minoru; menutup semua akses pekerjaannya. Mereka memang cukup dekat karena aku dan Agatha memang sering bersama saat ada Minoru. Tapi yang kutau, Agatha bukan orang yang gampang terpikat dengan gadis macam Minoru. Lagipula dia juga sudah bertunangan dengan Jane, dan tak diragukan lagi cinta mereka.
          Dan melihatnya saat ini, bekerja sebagai pelayan di sebuah warung tenda pinggir jalan, cukup membuat dadaku sangat sesak dipenuhi perasaan yang aku bahkan tak bisa mendeteksi apa namanya. Rasa bersalahkah, atau hanya sekedar tak terima melihat mantan arsitek handal sekarang malah mengantar makanan ke meja pembeli dan mencuci piring-piring kotor? 
         Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari mobil setelah lelah bertarung dengan berbagai perasaan yang sejak tadi berkecamuk di dadaku layaknya perang peruntuhan tembok Berlin. Tapi kakiku masih cukup berat melangkah memasuki warung tenda yang sangat sederhana itu.
" Selamat da...." Sapaan ceria Minoru mengambang saat matanya menemukanku diambang pintu masuk warung. Wajahnya berubah sedikit... Ah, aku bahkan tak berani mengejanya meski hanya mengucapkannya dalam hati. Aku duduk disalah satu tempat duduk yang masih kosong. Lalu menunggunya datang mendekatiku. Tapi Minoru mendekat dengan seulas senyum tak percaya.
" Tanganmu itu terlahir untuk menggambar sketsa rancangan sebuah bangunan, kenapa kau malah menggunakannya untuk mencuci piring-piring kotor?" Desisku lirih.
Minoru malah tergelak.
" Apa ini akan menjadi salah satu tanda-tanda kiamat? Seorang PresDir sebuah perusahaan besar masuk ke warung tenda kumuh dipinggir jalan hanya untuk bicara dengan tukang cuci piring?" Gumamnya sinis.
       Kulirik dia sekilas. Keadaan yang terjadi saat ini begitu tak nyaman bagiku. Tapi andai aku pergi dari sini sebelum aku melegakan rasa sesak didadaku ini, dapat dipastikan malam ini, atau mungkin berlanjut malam-malam selanjutnya, aku tak akan bisa tidur.
" Apa kau perlu menjelaskannya serinci itu tentang status sosial kita? Kenapa? Apa itu bisa membuatmu jauh lebih nyaman?" Gusarku.
" Maaf." Katanya menunduk.
" Hanya rasanya terlalu menggelikan seorang seperti anda datang kesini."
Sepi untuk beberapa menit.
" Maaf." Kataku akhirnya, meski terlalu lirih. Tapi, untuk mengatakan satu kata itu bagiku jauh lebih berat daripada saat harus melakukan presentasi tahunan di rapat dewan direksi. 
" Kenapa anda meminta maaf? Untuk kesalahan apa?"
" Apa saat seseorang meminta maaf harus menjelaskan secara rinci kesalahan yang diperbuatnya?" Gusarku lagi, kali ini dengan menatapnya penuh.
        Mungkin, aku memang diciptakan dengan ego yang sangat tinggi. Bahkan meski dengan rasa cinta yang sangat menyiksaku ini tak mampu sepenuhnya mengalahkan egoku. Tapi andai Minoru bisa sedikit menghargai yang selama ini kuperjuangkan untuk bisa sampai ditempatnya...
" Aku...." Ucapan Minoru menyadarkanku dari pemikiranku.
" Sampai kapanpun tak akan menjadi cinderella yang saat ini sedang kau mainkan. Sekalipun itu harus menjadi cinderella yang terakhir." Lanjutnya tanpa menatapku.
Kini aku yang tergelak tak sadar, karena menyadari satu hal dari kesimpulan yang bisa kutarik dari pernyataan Minoru tadi.
" Sejak pertengkaran pertama kita, sering aku berfikir keras. Sangat keras hingga kepalaku menjadi sakit. Kenapa kita begitu sulit berjalan bersama sebagai dua orang berbeda yang saling mencintai. Dan akhirnya sekarang aku tau yang sebenarnya." Kataku seperti menggumam.
" Bukan karena kau yang merasa tak pantas berjalan bersamaku. Tapi karena kau tak percaya bahwa aku bisa mencintaimu." Lanjutku menatapnya lekat. Perlahan matanya juga menatapku sedikit ragu.
" Aku tak pernah menyuruhmu menjadi cinderella, sekalipun itu cinderella terakhir di dunia ini. Aku hanya ingin kau menjadi seorang wanita yang bisa kucintai. Dan percaya bahwa aku bisa mencintaimu."
Lagi-lagi Minoru menghindari tatapanku, seperti dirinya yang selalu menghindari kenyataan bahwa aku bisa menerimanya ke dalam duniaku.
" Apa kau sudah mempertimbangkan hasil dari merger dan akuisisi yang akan kau terima jika kau bersikeras mencintaiku dan membawaku ke duniamu? Kau harus turun ke bawah, ke dasar yang sangat rendah untuk menjemputku. Karena disanalah tempat asalku." Tanyanya
" Ya." Jawabku pasti.
Sebongkah beban berat yang sejak entah kapan pastinya selalu menghimpit dadaku serasa terlepas.
" Sekalipun itu sangat riskan?"
" Asal kau tak menolak apalagi berusaha melarikan diri saat aku datang menjemputmu, aku akan melakukannya." Paparku lagi.
Minoru tertawa lirih.
" Ini sangat menggelikan. Jelas-jelas kita dua orang yang berbeda, tapi kenapa selalu bertemu disatu titik seperti ini?" Gumamnya seperti tak mempercayai keadaan yang sedang terjadi saat ini. Atau mungkin akhirnya menyerah dan merelakan aku 'menjemputnya' untuk kubawa ke duniaku.
"Mungkin itulah yang disebut kisah dongeng yang menjadi nyata." Jawabku seiring tatapannya yang bertemu dengan mataku yang sudah sejak tadi menikmati kilauan sinar matanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar