Sabtu, 25 Juli 2015

Malam Ke 40

Perlahan aku mendongak dan menoleh menatap ke arah seorang gadis yang berdiri sekitar 3 meter dari tempatku duduk. Rok span hijau lumut dipadu dengan kemeja lengan pendek warna hitam menandakan bahwa dia baru pulang kantor, apalagi pundaknya masih menyandang tas kerja. 

Namanya Malika, aku mengenalnya sekitar sebulan lalu saat malam sudah cukup larut dan dia masih menunggu bus di halte bus ini sendirian. Dia satu-satunya orang yang memandangku lain, setelah kejadian terbongkarnya konspirasi kasus korupsi di kantor tempatku bekerja. Yang ternyata mengkambinghitamkan aku. Dan sebagai 'kambing hitam' tentu semua hal buruk melekat padaku. Dan meski akhirnya aku terbukti hanya dijebak dan bisa terlepas dari segala tuduhan, entah kenapa semua orang masih menganggapku begitu. Dan aku nyaris frustasi.
" Kau baru pulang?" Tanyaku menegakkan posisi dudukku.
Malika hanya mengangguk pelan seraya melebarkan sudut bibirnya. Lalu duduk disebelahku.
" Kenapa kau suka sekali naik bus? Kalo malam begini, bukankah lebih aman naik taksi? Lagipula halte bus disini tak begitu ramai." Tanyaku yang selama ini memang penasaran, karena sejak pertemuan kami malam itu, dia seperti memang sengaja mengakrabkan diri denganku. Padahal dari awal dia tau aku seperti gelandangan yang sudah kehilangan pekerjaan dan bahkan keluarga dan kekasihku.
" Apa kau menyukaiku?" Todongku membuatnya langsung menatapku, tapi kemudian Malika tertawa lirih.
" Tiba-tiba aku ingin jalan kaki menikmati segarnya udara malam ini. Kau mau menemaniku?" Tanyanya seraya bangkit.
" Apa tak terlalu jauh?" Tanyaku tak yakin.
" Tak apa, biasanya kalo sambil ngobrol, jarak jadi terasa lebih dekat." Kilahnya lebih dulu jalan menyusuri trotoar yang lenggang. 
Sejenak kupandangi punggung ramping Malika yang mulai menjauh itu. Apa mungkin gadis secerdas Malika yang punya masa depan cemerlang di bidang desain grafis itu menaruh hati padaku? Kalo tidak, kenapa coba dia selalu bela-belain menemaniku ? Mendengar hampir semua keluh kesahku akan sikap keluarga, teman-teman, bahkan Lira, kekasihku. Dan bahkan....
Aku tersadar saat Malika membalikkan tubuhnya menatapku yang masih bengong ditempat semula. Akhirnya aku melangkah menyusul Malika. Kami berjalan beriringan dengan langkah santai. Untuk beberapa belas menit diantara kami tak ada yang memulai pembicaraan. Sesekali Malika mendongak menatap langit yang malam ini memang kelihatan lebih indah dengan taburan bintang.
" Aku tiba-tiba teringat sebuah film yang dibintangi Bruce willis, salah satu aktor hollywood favoriteku. The sixth sense." Ucap Malika akhirnya
" Kalo tak salah itu film lama, kalo kau mau lihat harusnya buka youtube atau pinjam kaset di tempat rental." Kataku yang sedikit ingat dengan film yang dimaksud Malika.
Malika hanya tersenyum, tanpa kutau arti senyumnya itu. 
" Ternyata kau itu memang gadis pemberani. Sukanya juga film-film horor "
" Kebetulan saja aku teringat masalah yang diangkat dalam cerita film itu."
Mataku memicing menatapnya.
" Apa maksudmu? Kau tak bermaksud mau bilang kalo kau seperti anak kecil yang diceritakan di film itu kan? Kau bukan orang yang bisa melihat hantu kan?" Selidikku sedikit bergidik.
Malika malah makin membuatku penasaran karena pertanyaanku hanya dijawabnya dengan senyum tipis.
" Kau serius? Kau tak takut?"
" Masalahnya bukan soal takut atau tak takut, tapi percaya atau tak percaya dengan semua itu."
Kuhentikan langkahku. Malika juga menghentikan langkahnya, menatapku minim ekspresi.
" Bukankah makhluk gaib didunia ini memang ada? Masalahnya banyak diantara kita yang tak mempercayainya karena tak pernah tau keberadaan mereka." Sanggahnya ringan.
" Kau benar-benar membuatku merinding, pantas kau tak pernah takut menunggu bus di halte sendirian meski sudah malam." Desisku melangkah lagi.
" Bukannya selalu ada kau?" Sergahnya menyusul langkahku, membuatku sedkit tergelak.
" Tapi sebenarnya yang ingin kubahas bukan soal si anak kecil yang bisa melihat hantu."
" Lalu?"
" Soal si psikiater yang mendekati anak kecil itu."
" Si Bruce willis-nya?"
Malika menggangguk.
" Memang kenapa? Ada apa?" Aku benar-benar tak mengerti maksud Malika.
Yang kuingat, di film itu Bruce Willis memerankan tokoh psikiater yang mati tertembak mantan pasiennya yang mengamuk. Dan setahun setelah kejadian itu Bruce Willis menemui anak kecil yang bisa melihat hantu itu. Mendekatinya meski awalnya selalu dhindari akhirnya mereka berteman. Dan dengan Bruce Willis-lah anak itu mengaku kalo bisa melihat orang yang sudah mati.
" Kau tau kenapa kita selalu bertemu di halte bus?"
" Hah?" Aku kaget dengan pertanyaannya
" Kau tau kenapa teman-teman, keluargamu, bahkan kekasih tercintamu mengacuhkanmu?"
Aku kesulitan menanggapi pertanyaan Malika sambil mengimbangi langkahnya pula.
" Kau tau kenapa selama ini hanya aku temanmu bicara? Kau ingat sudah berapa lama sejak pertama kali kita bertemu?"
" Ini apa-apaan sih Ka?" Geramku akhirnya, lalu baru tersadar ternyata sejak tadi kami berjalan menuju ke kompleks rumahku.
" Apa lagi ini, kenapa kau malah mengajakku pergi kerumahku."
Malika menghentikan langkahnya. 
" Selama ini kau selalu bertanya tentang kenapa semua orang mengacuhkanmu kan? Kau selalu berfikir mereka masih menganggapmu pelaku kejahatan itu kan? Kau selalu menduga mereka masih menganggapmu orang yang tak tau malu hingga mengacuhkan keberadaanmu kan?" Pertanyaan Malika makin memberondong.
Meski baru sekitar sebulan aku dekat dengan Malika, tapi karena hampir setiap hari kami bertemu dan ngobrol bersama, wajar Malika mengetahui semua keluh kesahku. Meski aku tak tau dengan jelas apa alasannya, tapi bersamanya aku begitu nyaman hingga semua masalah yang memberatkan itu bisa kuceritakan tanpa hambatan padanya.
Dan, ya, aku memang selalu bertanya 'kenapa semua orang seperti tak bisa memaafkanku atas kesalahan yang jelas-jelas bukan kesalahanku?'. Bukankah sudah jelas itu bukan kesalahanku? Kenapa mereka tetap menganggapku salah? 
" Jika kau melihat film The Sixth Sense, kau akan tau maksudku."
" Tidak, jelaskan dengan kata-kata yang sederhana saja Ka, aku tak suka menduga-duga sesuatu." Sanggahku.
Malika menatapku lekat, lalu kemudian menunduk seraya mendesah berat.
" Kenyataan kadang memang menyakitkan, tapi bukan berarti hidup dalam kebohongan itu menyenangkan. Dan selama lebih dari sebulan ini aku..."
" Bicara langsung ke pokok masalahnya, Ka!!" Geramku tak tahan dibuatnya penasaran terus.
Malika menatapku lagi, seperti menata hati untuk melanjutkan penjelasan yang kuminta.
" Aku memang seperti anak kecil di film itu, bisa melihat arwah orang yang sudah mati." Akunya dengan intonasi datar, tapi cukup mencengangkanku. Aku mundur selangkah.
" Dan itulah kenapa saat semua orang tak ada yang mau kau ajak bicara, bahkan saat keluarga dan kekasihmu mengacuhkanmu, aku menjadi satu-satunya pengecualiannya."
Aku masih belum mengerti maksud semua penjelasan Malika. Karena menurutku omongan Malika seperti sebuah jalan yang bercabang.
" Terimalah kenyataan ini, kau...sudah meninggal." Lanjut Malika membuatku terpaku beberapa detik, tapi kemudian tergelak.
" Lucu sekali ini Ka, tapi ini bukan waktunya bercanda."
" Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Sergah Malika.
Aku terpaku, tapi ini untuk waktu yang cukup lama.
" 39 hari yang lalu, di depan halte bus itu, mobilmu ringsek dihantam truk besar saat kau mencoba menyalip bus yang sedang berhenti di halte. Bus yang akan kutumpangi. Dan aku yang pertama kali melihat rohmu keluar dari tubuhmu. Itulah jawaban untuk kenapa kita selalu bertemu di halte bus." Papar Malika, tapi aku seperti mengambang mendengarnya.
" Dan mereka mengacuhkanmu bukan karena masih menganggapmu bersalah, tapi..." Kali ini Malika tak melanjutkan penjelasannya.
Aku tersenyum sedikit bersuara,
" Tidak, ini tidak mungkin... aku tidak mungkin..."
" Tak peduli bagaimana kau mencoba menghindarinya, kenyataan tak akan bisa dihindari selamanya. Apa kau mau terus-terusan seperti Bruce Willis di film The Sixth Sense? Inilah hidup, banyak hal yang terjadi diluar keinginan kita."
Aku menatap Malika penuh harap, berharap semua yang dikatakannya bukanlah hal yang sebenarnya. Bagaimana aku bisa dibilang kalo aku sudah mati sementara aku merasa masih hidup?
" Kalo kau masih menganggapku berbohong, pulanglah, hari ini adalah peringatan malam 40 hari meninggalmu. Dan maaf, aku terpaksa harus mengatakan semua ini, karena aku tak mungkin menyembunyikannya lebih lama." Ucap Malika  menatapku lembut.
Aku bungkam tak bereaksi. Bahkan ketika Malika perlahan undur diri meninggalkanku sendirian di pinggiran komplek rumahku.
Apakah ini hanya mimpi? Aku terus memastikan apakah ini benar-benar nyata atau hanya mimpi? Dan setelah itu aku berfikir lagi, aku tak biasa bermimpi seperti ini. Tapi aku tak mengerti, jika ini hanya mimpi, kenapa berlangsung sangat lama?
Kemudian aku teringat omongan Malika tadi, bahwa kenyataan tak akan bisa dihindari selamanya. Tapi... bahkan jika aku menyembunyikannya karena takut, atau jika aku harus menutup mata karena aku sangat tak bisa menerimanya, melupakan kenyataan tidak akan membuat kenyataan itu pergi dan menghilang. Jadi, tak peduli seberapa menyakitkan dan menakutkan kenyataan ini, aku tetap harus menghadapinya. Bahwa ternyata selama ini aku sudah meninggal. Kenyataan yang kututupi rapat-rapat, tentang kecelakaan di depan halte bus malam itu, benar-benar telah mengubahku menjadi sosok lain. Yang membuatku bertemu dan dekat dengan Malika.

Dengan gontai aku berjalan ke arah rumahku, rumah orang tuaku. Belum genap langkahku sampai di depan pintu gerbang rumah aku termangu mendapati penegasan penjelasan Malika tadi. Ada puluhan laki-laki berpakaian rapi dan kebanyakan memakai kain sarung, keluar dari dalam rumah menenteng kotak persegi cukup besar. Dan tanpa kucari tau lagi, aku sudah tau mereka adalah orang-orang yang baru selesai kenduri. Dan aku teringat lagi omongan Malika tadi, bahwa malam ini adalah peringatan  malam 40 hari meninggalku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar