" Tumben mampir, apa ini sudah jam makan siang?" Tanyaku.
" Apa ada peraturan orang kesini harus jam makan siang? Aku hanya ingin mampir melihatmu." Katanya meraih sebotol softdrink di depannya.
" Oh... aku sangat terharu...!" Kataku mendramatisir seraya menyentuh dadaku. Lalu kami tertawa bersama.
Namanya San, menurut penjelasannya dia adalah salah satu prajurit di sebuah kesatuan AD. Aku tak begitu mengerti hal seperti itu jadi kuabaikan. Lagipula aku berteman dengannya bukan karena dia seorang prajurit, tapi karena persahabatanku dengan Cassy. Lebih spesifik lagi, aku merasa iba dengan apa yang terjadi pada San. Awalnya San dan Cassy berpacaran, tapi karena suatu tugas negara, San meninggalkan Cassy selama 6 bulan. Tapi saat kembali, San malah mendapati Cassy sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Pandu, teman San saat pendidikan militer tapi kini berbeda kesatuan. Dan aku sebagai sahabat Cassy hanya bisa diam menatap cinta segitiga mereka.
" Kudengar kau akan segera kembali bertugas." Tanyaku akhirnya ikut duduk di depannya.
" Hmm...begitulah." Jawabnya sambil menikmati minuman sodanya.
" Maaf ya."
San mendelik mendengar permintaan maafku, menatapku heran.
" Apa kau punya salah padaku?" Tanyanya
" Salahku karena aku tak memberitahukannya padamu lebih awal."
San tergelak, membuatku menatapnya tak mengerti.
" Dalam hal ini, semuanya adalah salahku. Aku yang mengajak Pandu bertemu dan mengenal Cassy, dan aku pula yang tak bisa memberi kepastian pada Cassy akan hubungan kami hingga akhirnya dia lebih memilih Pandu yang bisa memberinya kepastian." Paparnya dengan intonasi datar.
Apa ini? Kenapa sedikitpun tak kudengar rasa sakit itu? Bukankah sewajarnya San paling tidak terluka mendapati gadis yang selama ini dicintainya akhirnya malah akan menikah dengan temannya yang dikenalkannya?
" Benarkah kau baik-baik saja? " Tanyaku penuh selidik, karena aku yakin apa yang kulihat tidaklah benar.
San menatapku sejenak dengan senyum kecil.
" Kalo aku bilang ya, kau tak akan mengataiku pembohong kan?" Tanyanya balik.
" Kau yakin dengan keputusanmu?" Tanyaku pada Cassy waktu aku baru saja mendengar kabar Pandu akan bertandang kerumah bersama keluarganya.
" Kurasa ya. "
" Apa maksudmu dengan 'kurasa ya' ? Ini soal pernikahan Cas," Geramku.
" Itulah..." Cassy ikut menggertakkan giginya. Menatapku sedikit protes.
" Karena San tak pernah bisa memberiku kepastian tentang sebuah pernikahan, makanya aku...."
" Bahkan kalian baru setahun pacaran." Keluhku menyayangkan akhir cinta mereka.
" Diusia kita yang seperti ini, memang mau berapa lama kita pacaran? Kita bukan ABG lagi? Kita mencari pasangan untuk membangun sebuah keluarga, bukan hanya pacaran jalan kesana kemari mengumbar cinta yang tak halal." Paparnya berapi-api. Aku menunduk menyembunyikan senyum pahitku.
" Cinta itu memang aneh, awalnya mencintai siapa, tapi akhirnya malah hidup bersama siapa." Kataku lebih seperti menggumam.
" Apa kau sedang menyindirku?" Selidik San tanpa ada unsur tersinggung, bahkan dengan tatapan lucu.
Aku tergelak. San mendesah panjang.
" Tapi Cassy benar, percintaan yang tak berakhir pernikahan apakah membahagiakan? Tentu saja tidak. Aku memang mencintainya, tapi untuk 4-5 tahun ke depan aku tak bisa memberikan kebahagiaan yang diinginkannya. Jadi wajar kalo dia..." San tak melanjutkan ucapannya, aku menatapnya iba.
" Dari dulu aku selalu menganggap Cassy itu adalah sesuatu yang indah, sangat indah hingga begitu sayang jika aku sampai melukainya. Makanya saat dia bilang dia membutuhkan kebahagiaan yang tak bisa kuberikan, aku tak bisa berbuat apa-apa saat Pandu datang menawarkan padanya. Sekarang asal dia bisa bahagia mendapatkan kebahagiaan itu, aku juga harus bisa bahagia."
Aku hanya tersenyum samar mendengar jabaran San kali ini.
" Banyak sesuatu yang terlalu indah akhirnya akan lenyap suatu hari nanti. Karena kita telah berfikir dia terlalu indah, secara tak sadar kita telah merentangkan jarak yang lebar dengannya. Kita pun akan mengalami kesulitan menggapainya. Meski kita telah lari sekuat tenaga mengejarnya, jarak itu masih saja tak bisa kita jangkau." Kataku seperti tak sadar.
San menatapku aneh. Aku menyadari itu dan tergelak sembari menghindari tatapannya.
" Apa ini semacam ungkapan hati?" Selidiknya mendekatkan wajahnya.
" Kau ini bicara apa."
" Aku sedang bicara tentang yang kau katakan tadi. Jujur, sejak mengenalmu aku bahkan tak pernah sekalipun mendengar kisah cintamu."
Aku tertawa cukup nyaring.
" Orang sepertiku bisa punya kisah cinta seperti apa?" Desisku merendah.
" Hei.... apa maksudmu dengan 'orang sepertiku'?" Gusarnya dan hanya kutanggapi dengan senyum getir.
" Kau gadis yang hebat. Siang bekerja di warung makan, malamnya jadi Dj di sebuah radio, dengan rubrik special." Lanjutnya membuatku tertawa.
" Apa hal semacam itu patut dibanggakan?" Tanyaku dengan sisa tawa.
" Kenapa tidak? Apa kau juga seperti kebanyakan orang, membanggakan seseorang dari segi pendidikan dan strata pekerjaan?"
Bukannya memang begitu aturannya? Dengungku sedih.
Pada jaman ini, banyak yang mencibir seorang yang hanya lulusan SMU, bahkan kalo hanya bekerja sebagai pelayan disebuah depot mie ayam-bakso. Lalu apa yang pantas dibanggakan? Dj radio? orang bahkan hanya mendengar suaranya saja, apa yang bisa dibanggakan?
" Aku terlalu sibuk mencari uang untuk bertahan hidup. Aku tak punya waktu untuk memikirkan apa itu cinta."
'' Bukankah kata orang cinta itu perasaan bukan pemikiran?"
Aku tergelak.
" I wanted to be that quirky girl who writes silly stories taht still have meaning. If you want the world and the world beyond it, date a girl who reads, or better yet, date a girl who writes."
Aku bungkam mendengar ucapan San kali ini.
" Rosemarie urquico."
Aku tergelak lagi.
" Pantas, aku tak asing dengan kata-kata itu." Kataku akhirnya mengerti yang diucapkannya.
" Kau kaget aku bisa tau kata-kata itu? Kau pasti berfikir seorang seperti aku pasti taunya soal perang dan senjata kan? Sebagai DJ radio acara love line kau pasti jauh ada diatasku kalo soal seperti ini."
Aku tergelak lagi, dan San menatapku tanpa kedip. Perlahan aku diam lalu menunduk.
" Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanyaku rikuh.
" Apa salahnya? Kalo akhirnya Cassy meninggalkannya, kau bisa menggantikan posisi Cassy dihatinya. Lagipula kalian sudah cukup saling mengenal kan?" Desis mbak Mitha sore itu saat tau aku baru saja keluar dengan San, usai San mendapati kenyataan Cassy telah berpindah haluan ke arah Pandu.
" Mbak Mitha apaan sih? Kami itu cuma berteman." Geramku pada kakakku yang kupikir terlalu naif menafsirkan kehadiran San.
" Teman? Diusia seperti kalian mana ada laki-laki dan perempuan murni berteman? Lagipula kalo dia kelak menikahimu kau sendiri kan yang untung, punya suami seorang dokter militer."
" Mbak Mitha...!!!!!" Teriakku kesal.
" Maukah kau menungguku?" Tanya San memecah lamunanku. Aku mendongak sedikit.
" Cassy itu, cinta pertamamu kan?" Tanyaku lirih.
" Bisa dibilang begitu. Dan kata orang cinta pertama itu biasanya tak pernah berhasil." Jawab San dengan sedikit tersenyum " Aku sudah menegaskan aku tak mempercayainya, tapi ternyata itu malah terjadi padaku juga." Lanjutnya mengubah senyumnya tadi menjadi rentetan tawa miris.
" Dengan berlalunya waktu, cinta pertama itu akan menjadi kenangan yang indah. Sekarang mungkin memang menyakitkan, tapi saat kau mengenangnya nanti itu tak akan menyakitkan lagi." Gumamku.
" Itulah kenapa, aku ingin melanjutkan semua ini. Dan aku harap kau mau menemaniku." Sergahnya menatapku serius.
Aku termangu. Pikirku, apa San benar-benar serius? Atau hanya menganggapku pelarian dan menjadikanku bayang-bayang cintanya dengan Cassy yang telah kandas? Dan aku, aku sering bertanya-tanya dan berfikir dengan keras, jika yang mengalir diantara aku dan San adalah cinta, seberapa kerasnya aku memikirkannya dan mencari jawabannya, ini bukanlah cinta. Karena antara aku dan San tidak berada dalam situasi dimana kami bisa saling jatuh cinta. Ini bukan cinta. Aku hanya iba padanya, itulah kenapa aku selalu mengkhawatirkannya.
" Apa kau pikir kita berada dalam situasi yang bisa jatuh cinta pada seseorang?" Tanyaku
" Apa maksudmu?" Tanya San balik, tak mengerti.
" Kau terlalu cepat mengubah haluan hatimu, dan yang kau rasakan itu bukan cinta, tapi pelarian."
" Aku hanya merasa aku tak perlu bersedih untuk kebahagiaan mereka, itulah mengapa aku juga berusaha mencari kebahagiaan di tempat lain." Sanggahnya sedih.
" Dan semua yang kulakukan padamu hanya karena iba. Iba karena aku tau beratnya ada diposisi seperti itu."
" Dan apa salahnya kalo kemudian kita bersama?" Desisnya meninggi
" Tapi itu bukan cinta San. Cinta bukan simpati atau malah balas budi. Cinta bukan sesuatu yang bisa kau arahkan. Sebab cinta, bila dia menilaimu memang pantas, dia akan mengarahkan jalanmu."
San menatapku sedih.
Mungkin aku bisa saja mengabaikan apapun. Tapi, bukankah di dunia ini ada hal-hal yang tak dapat dipaksakan? Hal-hal seperti cinta salah satunya. Terlepas dari seberapa keras kita mencoba meraihnya, kita tak mungkin bisa merengkuhnya. Dan bahkan jika kita berhasil mendapatkannya, cinta itu tak akan bertahan lama. Kenyataannya San terlalu mencintai Cassy meskipun kini kenyataannya begini. Dan andai aku dengan tak tau malunya menggantikan posisi Cassy di hati San? Akan bertahan berapa lama? Hubungan yang hanya karena iba dan simpati, bukankah sangat rentan? Bahkan yang saling mengerti, saling memahami, saling menjaga pun bisa goyah.
" Kau tadi bertanya soal kisah cintaku. Orang sepertiku menganggap cinta itu adalah sesuatu yang menakutkan. Dan aku belum punya cukup keberanian untuk mencarinya." Kataku kemudian.
" Apa kau juga menganggapku terlalu indah?"
Aku menunduk mendapati sinar matanya sedikit terlihat goresan luka.
" Mungkin. Kau terlalu indah, kau juga terlalu jauh. Dan aku takut, suatu hari nanti kau juga akan hilang dari pandanganku, seperti yang dilakukan orang-orang ketika mereka terlalu indah." Aku mendongak sedikit " Tak bisakah kita seperti ini saja, San? Menghibur saat yang lain sedih, dan ikut bahagia ketika salah satunya tertawa gembira." Lanjutku penuh harap.
Cukup lama San menatapku minim ekspresi, tapi kemudian senyumnya mengembang menghiasi bibirnya.
" Aku mengerti." Sahutnya sedikit malas.
Aku tersenyum, lalu menoleh ke arah pintu masuk.
" Ada yang datang, aku tinggal sebentar ya." Ujarku sembari bangkit menyapa pelanggan yang baru datang.
Setelah menuliskan pesanan pelanggan, saat menoleh ke tempat duduk San, terlihat dia bangkit seraya mengacungkan selembar uang sepuluh ribuan lalu meletakkannya di atas meja. Aku tersenyum. San pun berlalu dari tempatnya. Lalu aku berjalan hendak mengambil uang peninggalan San. Dan kutemukan secarik kertas pula dibawahnya.
Temukan cinta, jatuhlah sedalam-dalamnya di dalam segala tahapan cinta. Kemudian, ambilah segala makna yang tersimpan dan lanjutkan perjalananmu. Karena cinta, tak akan membiarkanmu jatuh hanya sekali. Namun, cinta, selalu tau jalan yang ia tuju. Ia akan selalu ada di jalan yang sedang kau susuri. Kau akan menemukannya, asalkan kau tak berhenti untuknya.
Aku kutip ini di acara bedah buku yang kau siarkan tadi malam.
Aku tergelak tanpa suara. Kutatap sosok San yang baru saja melesat pergi bersama motor besarnya. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, jika cinta seperti sebuah putaran, ada di tahap manakah sekarang ini?
We found love. We fall. We're alive
L.O.V.E CYCLE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar