Aku masih terpaku di balik pintu gerbang papan rumah Meisya. Mendengar semua percakapan mesra dari dua insan yang sedang dimabuk cinta diluar pintu gerbang ini. Tanganku yang keduanya kusembunyikan ke dalam saku jaket jemperku kukepalkan menahan beratnya himpitan di dalam dadaku yang bergolak.
Lalu kudengar sebuah deru mobil diiringi seruan selamat malam Meisya yang terkesan manja dan centil. Setelah suara mobil itu cukup jauh, barulah kudengar langkah sepatu berhak tinggi itu mendekat. Pintu gerbang terbuka perlahan, dan saat menyadari kehadiranku Meisya nyaris terlonjak dengan pekikan kecil.
" Sejak kapan kau punya bakat mengagetkanku?" Gerutunya ringan seraya mengelus dadanya yang mungkin sempat berdebar-debar karena menyangka aku bukan manusia. Wajar saja karena aku berdiri ditempat yang minim pencahayaan lampu terasnya.
" Aku menunggumu pulang. Sejak bertemu lagi dengannya kau jadi seperti artis booming yang sulit kutemui." Kataku lebih seperti mengeluh dengan kebiasaannya akhir-akhir ini yang suka sekali pulang malam. Dan Meisya menanggapinya dengan tawa renyah, lalu melangkah memasuki rumahnya.
Meisya, aku sampai lupa kapan kami kenal dan akhirnya bersama seperti benda dan bayangan meski hanya dengan label ikatan persahabatan. Bahkan bisa dibilang kami sudah mirip saudara. Sejak masuk kuliah kami kost bersebelahan, sampai kemudian kami bekerja dibidang keahlian masing-masing dan mampu membeli rumah, kamipun tetap bersebelahan. Tapi takdir kami mungkin memang hanya sebatas bersebelahan. Karena saat dia terpuruk sangat hancur berantakan 5 tahun lalu, saat Khan meninggalkannya yang terlanjur dimabuk cinta pada pandangan pertama, aku hanya mampu duduk disebelahnya meminjamkan bahu untuknya bersandar tanpa berani merengkuh bahunya dengan tanganku. Aku tetap hanya sebagai sahabat yang membantunya memunguti kepingan hatinya yang hancur berantakan sepeninggal Khan yang begitu sempurna dimatanya.
Kalo boleh jujur, aku memang cemburu dengan pria bernama Khan itu. Bukan hanya karena kalah dalam dalam penampilan dan kharismatik yang mampu membuat Meisya tergila-gila, aku juga nyata-nyata kalah telak saat Khan tiba-tiba muncul lagi dihadapan Meisya setelah 5 tahun menghilang seperti ditelan bumi. Merebut kembali kesempatan yang kubangun sedikit demi sedikit.
" Siapa? Khan?" Desisku waktu itu, menanggapi semburat kebahagiaan yang begitu berkilauan menyinari wajah manisnya menceritakan bahwa tadi siang dikantor dia kedatangan tamu perusahaan dari luar negeri yang ternyata Khan.
" Yuupps.... Khan. Love of my life. Kau tau, dia sekarang sudah menjadi eksekutif muda yang sangat sangat sukses. Dia mewakili perusahaan dari Singapura, Ron...." Ceritanya sangat antusias.
" Lalu? Bukankah yang kau dengar dia sudah menikah?" Tanyaku sedikit hati-hati mengucap beberapa kata terakhirku.
Seketika semburat kekecewaan menyiram raut wajahnya.
" Ya, aku tau." Jawabnya seperti setengah kesal.
Tapi beberapa minggu kemudian Meisya menemuiku di depan kantor kerjaku dengan wajah yang sangat kentara bahagia. Bahkan saat melihatku dia langsung berhambur meraih tanganku dengan lompatan-lompatan kecil, seperti seorang anak kecil menanggapi kedatangan ibunya yang baru pulang membawa sebuah hadiah besar.
" Khan ingin kembali padaku, Ron.... Khan ingin kembali padaku!" Serunya mempererat genggaman tanganku dengan masih tetap melompat-lompat.
" Apa?" Aku tak mengerti maksud ucapan Meisya.
Apa maksudnya Khan ingin kembali pada Meisya? Dia laki-laki yang sudah beristri. Jadi sangat aneh jika seorang yang sudah menyandang predikat 'suami' mengatakan pada seorang mantan pacarnya kalo berniat ingin kembali.
" Kau tak senang ya?" Tanyanya cemberut melihat reaksiku yang mungkin jauh dari dugaaannya.
" Bukan begitu, Mei, tapi Khan itu sudah beristri."
" Kau pikir aku lupa itu?"
" Lalu kenapa kau begitu bahagia mendengar itu?"
" Karena dia akan menceraikan istrinya. Dia sudah lama tak mencintai istrinya. Dia ingin bercerai, dan akan menikahiku."
Deg!!
Waktu itu aku benar-benar merasakan duniaku sempat gelap tak bercahaya meski sore masih belum separuh jalan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya seorang sahabat bagi Meisya, tak pernah lebih.
" Memang ada apa?" Tanya Meisya setelah membuka pintu rumahnya, menatapku sebentar lalu melangkah masuk.
Kuikuti langkahnya memasuki rumah bergaya minimalis yang begitu sederhana itu.
" Memang ada apa? Waah...hanya karena kau sudah bertemu lagi dengan Khan, kau langsung mencampakkan sahabat yang menemanimu selama ini?" Gerutuku dengan sedikit mendramatisir.
Meisya tergelak. Dilepas sepatunya sembarangan, sembari melempar tas kerjanya ke sofa. Lalu langkahnya menuju dapur yang tak bersekat bersebelahan dengan ruang tamu. Meisya membuka kulkas dan mengambil sebotol air minum. Kupungut sepatunya yang tercecer sembarangan dan menempatkannya ke rak sepatu di sudut ruangan dekat pintu masuk kamarnya.
" Apa dia benar-benar serius mau menikahimu?" Tanyaku menunggunya ikut duduk di sofa tamu.
" Dia sudah mengurus kepindahanya dari kantor di singapura. Apa itu masih kurang untuk menunjukkan keseriusannya?"
" Lalu bagaimana dengan masalah pernikahannya?"
Meisya termangu tak jadi meneguk lagi air dalam botol yang dipegangnya.
Kemarin sore di depan pintu pagar rumah ini aku sedikit terganggu dengan keberadaan seorang wanita sederhana yang seperti gelisah menunggu kedatangan seseorang. Karena sesekali juga melonggok ke dalam pintu pagar rumah Meisya, akhirnya aku memutuskan menyapanya. Dan aku sempat syok saat wanita itu mengaku bernama Rizsaya, istrinya Khan.
" Jadi anda Rizsaya, istrinya Khan?"
" Panggil saja Aya, dan tak perlu bicara seformal itu." Katanya dengan mengulum senyum tipis.
" Kedatanganku bukan untuk menyalahkan apalagi memarahi Meisya." Ungkapnya datar,
Akhirnya aku mengajaknya ke rumahku, mempersilahkannya duduk di teras rumahku dan menyuguhinya secangkir teh.
" Antara aku dan Khan, memang sudah tak mungkin diperbaiki. Sudah tak ada rasa cinta yang perlu dipertahankan. Karena kami sadar, pernikahan kami berawal dari sesuatu yang tak baik." Lanjutnya tetap datar dan tenang. Aku juga heran, kenapa wanita yang sudah tau dikhianati suaminya, tapi bermaksud menemui wanita perebut suaminya masih bisa berbicara dengan nada bicara yang begitu tenang tanpa terasa amarah sedikitpun.
" Yang kudengar, mereka sudah kenal lebih dari 5 tahun yang lalu, benarkah begitu?" Tanyanya sembari menatapku.
Aku mengangguk pelan, lalu menunduk, terlalu malu menatap wajah wanita yang rumah tangganya diujung tanduk karena gadis yang sangat kusayangi.
" Jadi itu benar, jadi sebelum akhirnya menikahiku, mereka sudah kenal. Apa mungkin malah mereka dulu adalah sepasang kekasih?" Tebak Rizsaya.
Aku memilih diam tak menjawab pertanyaan Ny. Khan itu.
" Kenapa anda kesini? Kenapa anda ingin bertemu Meisya?" Tanyaku, mungkin terdengar sangat kasar dan tak berperikemanusiaan. Tapi entah kenapa wajah sederhana itu tetap tenang, tak sedikitpun menyemburatkan kekesalan.
Rizsaya meneguk teh dihadapanya. Mungkin semacam penataan kembali gejolak hatinya yang sejak tadi dikendalikannya dengan sangat baik. Lalu senyumnya mengembang sempurna. Membuatku makin merasa bersalah. Kenapa wanita sebaik ini harus menjadi korban kebahagiaan cinta Meisya?
" Entahlah, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang bisa mencintai Khan meski telah lama berpisah, meski saat bertemu sudah berstatus tidak lajang. Aku ingin belajar darinya tentang arti cinta yang menerima. Karena meski sudah 5 tahun bersama Khan, aku belum bisa mengerti bagaimana caranya menjalankan cinta yang menerima itu." Paparnya menatap lembayung senja ufuk barat sana.
" Maafkan Meisya."
Rizsaya menatapku dengan sisa senyumnya, dengan sinar yang sulit kueja namanya. Aku menunduk menghindari tatapan itu. Dan lamunanku berakhir saat kusadari Meisya menghempaskan tubuhnya disampingku.
" Kau benar-benar akan menikah dengannya?" Tanyaku
Meisya menatapku dengan marah sembari melipat tangannya ke dada.
" Pertanyaan itu sudah kau tanyakan 127 kali sejak aku bilang Khan mau menikahiku. Dan meskipun kau menanyakannya 127 kali lagi, jawabanku tetap sama. Ya, aku akan menikah dengannya!" Tegas Meisya.
Kuacuhkan kemarahannya dan malah menyambar remote TV dan menyalakan TV di depan kami.
" Apa kau tak terlihat terlalu berharap padanya? Dia pernah meninggalkanmu tanpa alasan 5 tahun lalu. Dan ternyata dia meninggalkanmu untuk menikah dengan wanita lain."
" Tidak." Jawab Meisya singkat, padat, dan menjelaskan bahwa dia benar-benar yakin keputusannya ini benar. Tapi entah kenapa aku malah yang merasa makin tak tenang.
" Apa tak sebaiknya kau menemui Rizsaya?" Tanyaku lagi, dan kali ini Meisya tak langsung menjawab. Hanya matanya langsung membulat menatapku.
" Darimana kau tau nama Rizsaya?"
" Tadi sore dia kesini."
" Mau apa dia kesini?" Sungutnya.
" Meisya!"
" Benar-benar tak tau malu."
" Meisya!!" Hardikanku kian meninggi.
" Kenapa? Dia sudah dicerai oleh Khan, hanya menunggu sidangnya saja." Suara Meisya kian angkuh.
" Kau harusnya menemuinya dan minta maaf padanya."
Meisya bangkit dari duduknya lalu disusul tawanya yang begitu tak enak kudengar.
" Apa? Minta maaf? Aku minta maaf pada wanita itu? Untuk apa?"
Aku ikut bangkit.
" Karena kau sudah merebut suaminya."
" 5 tahun lalu dia yang membuat Khan meninggalkanku!"
" Jangan hanya karena 5 tahun lalu kau dicampakkan Khan, lalu sekarang kau bisa merebutnya. Pelaku tak akan berubah posisi menjadi korban hanya karena kejadian masa lalu." Kataku mencoba menjelaskan kalo Meisya tak seharusnya melanjutkan semua ini.
Meisya mundur perlahan dengan tatapan yang membuatku merasa bersalah. Karena aku paling tak ingin mata Meisya berkaca-kaca seperti itu.
" Ada apa ini, Ron, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau malah membela wanita itu? Bukankah biasanya kau selalu membelaku?"
" Ini aku juga sedang membelamu, Mei, kau akan menyadarinya saat nanti Khan akan kembali meninggalkanmu."
" Apa kau menyumpahiku kalo kelak Khan akan meninggalkanku lagi? Kau suka itu?"
Sesaat aku kelu melihat wajah dan tatapan Meisya. Sungguh, aku tak pernah berharap itu terjadi. Aku tak ingin keadaan 5 tahun lalu terjadi lagi pada gadis kesayanganku ini. Tapi jika dulu Khan pernah meninggalkan Meisya tanpa alasan jelas, bukankah kemungkinan kelak hal itu bisa terjadi lagi? Meski Khan adalah orang yang tak pernah lepas dari kehidupan Meisya selama hampir 6 tahun terakhir ini, tapi aku tak cukup mengenal Khan secara pribadi. Jadi aku tak mengerti dengan jelas maksud dan tujuannya yang saat bertemu lagi dengan Meisya yang telah dicampakkannya, kemudian malah memutuskan mengajaknya menikah dengan mengorbankan pernikahannya yang sebelumnya. Orang seperti apa itu Khan?
" Meskipun kau selalu curiga dengan niat Khan yang mau menikahiku, aku tak akan terpengaruh, Ron. Aku mencintai Khan, dulu dan sekarang. Jadi biarpun dia pernah meninggalkanku dan menikahi wanita itu, toh akhirnya Khan kembali lagi padaku. Bukankah itu semacam jodoh?"
Aku masih termangu menanggapi ucapan Meisya. Jodoh? Kalo ini seperti jodoh yang agung, kenapa aku merasa ini sangat menggelikan? Dulu dan sekarang, firasatku tak pernah baik setiap kali Meisya bahagia bersama Khan. Dulu kuanggap sebagai rasa cemburu dan tak rela dari hatiku karena jauh sebelum Khan, aku sudah bersama, menjaga juga mencintai Meisya. Tapi sekarang, aku merasa ini bukan hanya rasa cemburu dan tak rela. Entah apa namanya, yang pasti sangat membuatku tak nyaman.
" Jangan berharap terlalu tinggi, karena semakin tinggi harapan akan semakin besar pula jika nanti kau mendapatkan kekecewaan." Kataku mencoba seringan mungkin, lalu menekan tombol remote, memindah chanel TV.
Kudengar Meisya mendesah jengkel, tiba-tiba merebut remote ditanganku dan mematikan TVnya dengan wajah kesal.
" Apa kau berusaha menghalangi rencana pernikahan kami?" Dengusnya menatapku geram.
" Aku hanya tak ingin akhirnya kau terpuruk lagi seperti 5 tahun lalu." Jawabku datar
" Siapa yang bilang aku akan terpuruk lagi? Aku akan bahagia dengan Khan."
" Siapa yang bisa menjamin Khan kelak tak akan meninggalkanmu lagi? Apa kau yakin tetap akan sekuat dulu jika kelak kau ditinggalkanya lagi?" Balasku tetap berusaha datar.
" Siapa kau? Aku tak butuh kau cemaskan!" Geram Meisya dengan suara meninggi.
Sungguh, rasanya sangat sakit saat gadis yang kusayangi selama ini bersikap begini. Bukan hanya karena dia 'mencampakkanku' setelah bertemu Khan, tapi Meisya benar-benar telah 'mengusirku' dari sisinya.
" Jangan hanya karena kau bertemu dan berbicara dengan wanita itu, prasangka burukmu pada Khan makin besar. Akan kubuktikan kalo keputusanku benar. Aku tak pernah merebut Khan dari sisi wanita itu. Mereka sudah saling menjauh sebelum aku dan Khan bertemu lagi. Jadi, aku tak perlu bertemu apalagi minta maaf padanya." Ucap Meisya yakin.
Aku menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadaku. Aku buru-buru bangkit agar rasa sakitku tak makin membelengguku.
" Ini hidupku, Ron, aku bebas bersama siapa. Aku berhak bahagia dengan siapa. Terimakasih karena selama ini kau sudah menjagaku dan menyayangiku. Tapi maaf, jika aku tak bisa membalas semua itu. Karena sejak dulu hatiku benar-benar hanya untuk Khan." Kali ini suara Meisya terkesan berat.
Kutekan sisa rasa sakitku sebelum kumunculkan seulas senyum dibibirku. Lalu perlahan langkahku beringsut ke arah gadis yang berdiri dengan sedikit gelisah itu.
" Maaf, atas semua prasangka burukku." Kataku meraih jemarinya. Meisya menatapku perlahan.
" Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Tapi jika ini sudah keputusanmu, berjanjilah kau benar-benar akan bahagia dengannya."
Meisya menatapku sedikit menyipitkan matanya. Aku tersenyum membelai rambutnya, layaknya seorang kakak yang mencoba meyakinkan pada adik kecilnya yang sedang galau. Padahal, kenyataannya akulah yang butuh untuk diyakinkan bahwa Meisya benar-benar akan bahagia dan tak akan ditinggalkan lagi.
" Apa kau benar-benar tak percaya kalo Khan bisa membahagiakanku?" Tanya Meisya sedikit merajuk.
" Masalahnya sekarang bukan aku percaya atau tidak, tapi dia harus membuktikan kalo dia benar-benar bisa membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun alasannya." Kataku menghempaskan rasa sakitku tadi ke dasar hatiku.
" Apa sekarang kau berperan sebagai kakak laki-lakiku?" Selidik Meisya.
" Ya, jadi katakan pada pacar tercintamu itu, jangan pernah sekali-kali meninggalkanmu lagi, kalo tidak aku akan mendatanginya dan memberinya pelajaran." Jawabku tegas.
Meisya tersenyum, wajah yang tadi sempat memerah karena dipenuhi amarah kini kembali ceria. Wajah yang sangat kusukai.
" Jadi kau bermaksud memberinya pelajaran?"
" Tentu saja. Meski aku kalah dalam pendapatan dan tampang, tapi aku yakin bisa menjatuhkannya hanya dengan satu pukulanku."
" Apa itu tak terlalu anarkis?"
Aku tersenyum menjawab pertanyaannya kali ini.
Untuk gadis kesayanganku hal anarkis pun akan kulakukan jika sampai kejadian 5 tahun lalu itu terjadi lagi. Tapi bukan berarti aku berharap itu terjadi lagi. Aku juga ingin Meisya bahagia, meski bukan denganku. Karena aku tau aku sudah cukup bahagia saat melihat wajah ceria itu tersenyum dihadapanku. Dan jika sesekali aku teringat wajah wanita sederhana yang mengaku bernama Rizsaya itu, aku mungkin akan sedikit merasa sesak menyerang dadaku. Semoga saja wanita itu juga berfikir bahwa Meisya juga berhak bahagia dengan pilihan cintanya. Karena benar kata Meisya, ini adalah sebuah jodoh. Meski 5 tahun lalu Khan sudah meninggalkan Meisya dan menikah dengan Rizsaya, 5 tahun kemudian mereka bertemu dan melanjutkan cinta lama itu. Itulah jodoh, serumit apapun lika-likunya, jodoh tetaplah indah.
Dan untuk perasaanku sendiri, aku tak tau seperti apa akhirnya. Sepanjang bersama gadis ini, sering aku bertanya-tanya, jika ini cinta tak peduli seberapa kerasnya aku berfikir ingin seutuhnya memikinya, aku tetap kalah oleh senyum bahagianya yang tak pernah ditujukan padaku. Entah cinta apa ini namanya, yang hanya mengutamakan kebahagiaannya tanpa peduli diam-diam aku terbunuh oleh kebahagiaan itu. Dan meskipun aku bisa terbunuh oleh kebahagiaan itu, tetap saja aku masih mengkhawatirkannya. Seperti aku yang tak bisa mengerti kenapa Rizsaya tak memendam kebencian pada Meisya yang telah 'menghancurkan' pernikahannya, seperti itu pula aku yang tak bisa menterjemaahkan cintaku pada Meisya.
Meisya, seperti aku yang tak bisa menarikmu menjauh dari cinta masa lalumu yang kembali menjeratmu, seperti itu pula aku yang tak bisa lepas dari keinginanku yang selalu ingin bersamamu. Kau boleh saja menjadi wanita jahat yang tersenyum bahagia diatas kehancuran pernikahan wanita lain, daripada aku harus melihatmu menjadi wanita yang lemah dan menyedihkan. Dan seperti jodohmu, takdir bersebelahan antara kau dan aku, juga sangat indah meski hanya ditakdirkan bersebelahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar