Gemerisik dedaunan pohon tanjung diterpa angin bulan Februari menghadirkan alunan musik surgawi yang begitu indah sore ini. Paling tidak cukup menentramkan hatiku yang sedang dilanda kegelisahan karena kedatangan pemuda tampan yang duduk dibangku kayu dihadapanku. Sesekali mata beningnya yang 'bak tetesan embun pagi menatapku dengan sinar yang membuatku tak sanggup menikmatinya lama-lama.
Aku cukup kaget dan bisa dibilang benar-benar tak siap dengan kedatangan pemuda tampan yang memiliki nama Aji itu. Bukan karena kedatangannya disertai raut muka memendam amarah dan kekecewaan. Bukan pula kedatangannya sempat menghebohkan seisi para penghuni rumah sore ini. Aku hanya takut tak bisa menahan perasaanku saat berhadapan dengannya, saat menatap mata beningnya.
Aji, dia sebenarnya satu-satunya pemilik hatiku. Dia orang pertama yang mengajariku tentang arti mencintai dengan sepenuh hati. Dia pula yang mengajariku tentang indahnya bertahan dalam badai gelombang kehidupan demi keyakinan sebuah akhir yang membahagiakan. Dan dia juga yang akhirnya menyadarkanku bahwa selain diperjuangkan, cinta juga sangat butuh dengan yang namanya penghargaan. Karena tanpa penghargaan, cinta bukanlah cinta, hanya sederet beban kehidupan yang merantai langkah kaki pemiliknya.
Terdengar Aji mendesah berat. Kuangkat pandanganku sejenak lalu bersembunyi lagi dibalik kesibukanku menyulam.
Sebenarnya berat rasanya detik-detik kulalui saat ini, tapi aku tak mungkin tega menyuruhnya pulang atau kutinggalkan dia sendirian disini.
" Pergilah, selesaikan apa yang belum selesai." Ujar mbak Dilla saat mengetahui tempat persembunyianku dari kehebohan Aji yang datang-datang mencariku ke seluruh penjuru rumah meski dengan sikap penolakan beberapa anggota keluargaku.
Aku terpaku menatap mbak Dilla.
" Melarikan diri seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Lagipula semua orang sudah tau, Aji pun juga tau, tapi kedatangannya pasti ingin sebuah penjelasan langsung darimu. Hargai sedikit perjuangannya yang kesini, karena pasti dia mempertaruhkan harga dirinya saat memutuskan datang kesini." Lanjut mbak Dilla seperti memojokkanku mesti tau saat ini posisiku sudah cukup sulit.
Kutatap wajah mbakku itu dengan tatapan memelas.
" Kenapa? Apa kau takut pendirianmu akan goyah jika bertemu dengannya? Lebih baik mengetahuinya saat ini daripada nanti. Jika setelah bertemu dengannya pertahananmu goyah, kau bisa menghentikan keputusan konyolmu ini sebelum semua terlambat."
" Mbak Dilla...." Rengekku
Tapi akhirnya aku menuruti saran kakak tertuaku itu. Meski harus mengumpulkan sisa-sisa keberanianku aku menemui Aji.
" Aku tanya sekali lagi, benarkah ini benar-benar keputusanmu sendiri?" Tanya Aji tetap dengan nada suara beberapa menit lalu, saat pertama kali melontarkan pertanyaan itu.
" Hmm....Ya!" Jawabku lirih tetap sibuk menyulam.
" Jawab dengan menatapku, Ai....!!!" Nada suara Aji meninggi. Sedetik sempat membuatku terkejut dan menggetarkan dadaku.
Aji hampir tidak pernah membentakku seperti itu. Dia memang termasuk pribadi yang keras, tapi selama ini selalu bersikap lembut padaku. Dan inilah pertama kalinya dia bicara denganku dengan nada suara setinggi itu setelah kami bersama belasan tahun.
" Maaf..." Pintanya kemudian, dengan mendesah panjang.
Aku menunduk lebih dalam.
Prahara ini akhirnya terjadi pula. Prahara yang sering aku khawatirkan tapi juga sering kami diskusikan. Aku dan Aji menjalin kisah yang cukup sederhana tapi juga penuh resiko. Melalui kisah Devdas & Paro, kami sering membandingkan dengan lika-liku kisah kami. Dimana perasaan yang nyaman ini terjalin begitu saja lewat kebersamaan yang sederhana kami. Aji berasal dari keluarga yang cukup terpandang di daerah sini. Keluarganya begitu menjunjung aturan bibit, bobot, dan bebet untuk masalah perkawinannya. Berbeda dengan keluargaku yang begitu demokratis.
Dan hari itu adalah hari dimana aku sadar, bahwa selama ini perasaanku yang kujaga selama Aji melaksanakan tugas kantor ke luar kota, ternyata bukanlah sesuatu yang berharga di mata keluarga besar Aji.
" Tapi kenapa?" Tanya Aji gemetar.
Aku memejamkan mataku sejenak, mencari kekuatan melihat mata bening itu. Lalu kutaruh hasil sulamanku seraya menatapnya.
" Kenapa? Harusnya sebelum bertanya itu, tanyakan dulu pada keluargamu. Bukankah mereka yang memaksaku memulai semua ini?" Jawabku juga sedikit gemetar menahan sesak dadaku mengingat kembali prahara hari itu. Dimana aku dan keluargaku dipermalukan dirumah kami sendiri.
Orang tua Aji mendatangi rumahku dan mengataiku sebagai gadis yang tak tau diri karena selama ini selalu menempel pada Aji.
" Aku selama ini bertahan dengan semua badai gelombang yang selalu kau yakinkan akan berakhir indah, tapi jika kemudian orang tuamu mengataiku gadis tak tau diri dan membandingkan dengan masa lalu ibuku, aku tak akan diam." Geramku teringat lagi derai air mata perempuan kesayanganku yang atas segala ucapan pedas orang tua Aji.
Aji menatapku dengan tatapan nanar. Hingga aku begitu sakit untuk melihatnya terlalu lama. Aku menunduk.
" Kita, dari awal juga sudah tau bahwa akan sulit dan mungkin kita tak akan berakhir bersama kan?" Tanyaku lirih, mengingatkan tentang hal yang sering kami khawatirkan.
" Tapi kita saling mencintai, Ai." Sanggahnya seperti memelas.
Aku tergelak lirih,
" Dan aku baru sadar, cinta ini sedikitpun tak dihargai oleh keluargamu, lalu apa masih perlu dipertahankan?"
Dan, terngiang kembali kata-kata pedas menyakitkan dari ibunya Aji kala itu. Membuat dadaku sakit.
" Sejak kapan kau mempedulikan omongan ibuku? Kita bersama bukan setahun dua tahun, tapi belasan tahun. Dan selama itu kau sudah sering mendengar segala bentuk omongan ibuku kan? Kenapa sekarang kau mempermasalahkannya?" Tanya Aji lagi.
" Karena kita semakin dewasa, karena aku juga perlu menata masa depanku, karena aku juga ingin membahagiakan orang tuaku." Berondongku menjawab pertanyaannya dengan nafas tersenggal-senggal. Lalu perlahan aku menatapnya yang ternyata sudah menatapku lekat.
" Ada banyak jawaban untuk satu pertanyaanmu itu, apa aku perlu menyebutkan semuanya?"
Aji terdiam seperti tak percaya dengan yang dilihat dan didengarnya. Mungkin tak percaya bahwa aku juga punya sisi pemberontak seperti ini. Jauh dari semua yang kutunjukkan selama ini, bahwa aku orang yang penurut dan tak banyak bicara.
" Dan aku, mulai lelah karena kau ternyata terlalu penurut pada orang tuamu. Aku tak mungkin menggantungkan sisa hidupku pada orang yang tak bisa melindungiku dihadapan orang-orang yang tak menghargaiku."
" Kau juga mulai mempedulikan harga diri? Apa aku selama ini pernah mempedulikan harga diriku?" Tanya Aji makin terheran-heran.
Aku mendesah.
Namanya Karel, dia adalah putra tunggal pemilik perusahaan tempat kakakku Andi bekerja. Dia juga menjadi kepala bagian, boss di divisi mas Andi. Sebulan lalu kami bertemu saat aku mengantar berkas mas Andi ke kantor, dan beberapa hari lalu Karel mengutarakan maksudnya untuk melamarku dihadapan orang tuaku. Dan karena semua kata-kata pedas yang masih sering berdatangan di otakku itulah aku menyetujuinya. Awalnya semua terkejut dengan persetujuanku. Bahkan ibu juga tak percaya, terlebih mbak Dilla yang begitu tau semua kisahku dengan Aji.
" Kau serius menerima tawaran pak Karel tadi?" Tanya mbak Dilla waktu itu, tergopoh-gopoh menyusulku ke dapur.
" Ya. " Jawabku pendek sambil meletakkan nampan berisi cangkir kosong bekas menjamu Karel tadi.
Mbak Dilla menarik lenganku, memaksaku menghadapnya.
" Apa karena kedatangan orang tua Aji waktu itu?"
" Ya."
" Kau tau yang sudah kau perbuat?"
" Ya."
" Aira!!!" Desis mbak Dilla sembari menampar pipiku. Terlihat sekali perempuan yang juga seperti ibu keduaku itu menatapku penuh amarah.
" Kenapa mbak? Apa aku salah? Aku hanya tak ingin menyesal lagi nantinya, aku hanya ingin membahagiakan kalian, aku hanya ingin menunjukkan pada mereka yang telah menghina kita bahwa kita juga patut dihargai! Apa itu juga salah dimata mbk Dilla?" Emosiku mencuat begitu saja.
" Kau yakin ini bukan hal yang akan kau sesali? Kau yakin ini akan membuat kami bahagia? Hah?!"
Aku mendesah panjang, kusadari kehadiran ibu diambang pintu dapur menatap kedua putrinya dengan genangan air mata dikelopak matanya yang mulai keriput.
" Paling tidak aku tak akan mempermalukan kalian lagi, dan kita akan lebih dihargai di masyarakat. Itu sudah cukup bagiku." Ucapku sedikit serak karena menahan tangis.
" Apa kau pikir menikah dengan orang yang tak kau cintai itu kau sebut mempedulikan harga diri?" Ucapan meninggi Aji menyadarkanku dari lamunan.
" Anggap saja aku menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak."
" Kau picik sekali, Ai." Sungut Aji sinis." Pernikahan tanpa cinta tak akan berakhir bahagia."
" Percintaan tanpa pernikahan apa bisa berakhir bahagia?"
" Kita bahkan belum mencoba, Ai!" Suara Aji meninggi lagi.
Ternyata hubunganku dengan Aji selama ini tak sesederhana yang aku kira. Bahkan sangat rumit bagai kumpulan benang sulaman ini. Kami saling mencintai dan menjaga cinta itu, tapi semua terlihat percuma karena kenyataannya cinta kami tak pantas untuk dijaga keberadaannya. Bahkan aku pun tak mampu membayangkan sebuah pernikahan dengan Aji. Bukankah itu sangat menyedihkan? Dibelahan bumi manapun semua gadis ingin kisah percintaannya berakhir pernikahan. Lalu kenapa akhir itu seperti hal yang sangat mewah dan begitu mustahil hingga harus kulupakan saat menjalin kisah dengan Aji?
" Apa jika aku meninggalkan keluargaku kau akan kembali padaku?" Tanya Aji membuatku kaget.
" Apa itu cukup, Ai?"Lanjutnya mencoba meraih jemariku.
" Tidak." Sergahku cepat seraya menjauhkan jemariku dari jangkauan tangannya. Aji tercekat.
" Aku akan tetap memilih keluargaku daripada orang yang kucintai. Karena keluarga, meski kadang seperti beban, kita akan kesepian jika tak ada mereka. Karena keluarga adalah pemberian Tuhan yang paling berharga. Jadi kau juga jangan mencampakkan pemberian untuk sebuah pilihan. Belum tentu pilihan itu benar."
Aji tertawa sinis mendengar jabaranku, entah bagian mana yang dirasanya lucu.
" Jika kau menganggap keluarga adalah pemberian, cinta adalah pilihan, lalu apa nama untuk pernikahan? Takdir?"
" Anggap saja begitu."
" Kali ini kau salah, Ai."
Aku termangu dengan penyalahannya.
" Mencintai itu yang takdir, sedang menikah adalah nasib. Seperti sekarang ini, kau bisa memutuskan menikah dengan siapa. Tapi kau tak bisa memutuskan mencintai siapa. Kau hanya akan selalu mencintaiku, bukan orang yang akan menikahimu. Kau tau kenapa? Karena mencintai bukanlah sebuah pilihan seperti yang kau katakan tadi. Mencintai juga adalah pemberian Tuhan. Apa kita sebelumnya pernah memilih akan saling mencintai? Tidak kan? Itu karena cinta kita sudah ditentukan oleh Tuhan, seperti juga kita yang tak bisa memilih kita terlahir di keluarga apa." Paparnya
Aku memang hanya mencintai pemuda tampan dihadapanku ini. Tapi agar semua yang kutakutkan selama ini lenyap, aku harus menempuh jalan ini. Jalan yang dibukakan oleh seorang pemuda matang bernama Karel. Bagiku inilah pilihan yang harus aku jalani. Siapa yang kunikahi dan siapa yang akhirnya kudampingi, adalah dua orang yang berbeda. Karena aku tak mungkin membangun masa depan dengan orang yang selama ini kucintai. Sebaliknya aku harus rela membangun cinta dari awal lagi dengan orang yang akan menikahiku. Benar kata mbak Dilla tadi, dengan bertemu Aji aku akan bisa menegaskan tentang keputusanku. Dan sepertinya sejauh ini hal itu tak menggoyahkanku.
" Apa ini semacam balas dendam, Ai?" Tanya Aji berat.
Kutatap wajah sedih itu sekilas.
Mungkin, ya mungkin memang ini bentuk balas dendamku akan perlakuan buruk orang tua Aji waktu itu. Hanya dengan ini derajat keluargaku yang selama ini sering dipandang sebelah mata akan menjadi berbeda. Dan benar kataku tadi, aku telah menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak. Memang sedikit berlawanan dengan hati, tapi....
" Mungkin kita awalnya memang ditakdirkan untuk saling mencintai, tapi pada akhirnya kita juga harus terima jika kita ditakdirkan begini." Ucapku menahan sesak dadaku yang tiba-tiba saja menyerang.
" Atau mungkin kita sendiri yang menentukan takdir ini. "
" Percuma kalo kita tetap berjuang...."
" Aku tau, aku terlalu lemah pada orang tuaku yang tak pernah menghargai cinta kita."
Dan entah kenapa dadaku makin sakit mendengar ucapan Aji kali ini. Kenapa aku seperti tak rela Aji menyalahkan dirinya sendiri untuk semua prahara ini? Bukan, bukan Aji yang harusnya merasa bersalah. Mungkin lebih baik aku yang mengambil kesalahan itu. Aku yang tak bisa memilih terlahir dari pasangan yang lebih memilih memperjuangkan cinta dan meninggalkan keluarga mereka. Aku yang meski terlahir dan tumbuh tanpa kekurangan cinta kasih, tetap saja membawa sekilas tatapan sinis dan cibiran pedas dari beberapa pihak. Termasuk dari keluarga Aji yang cukup terpandang disini.
Bukan aku membenci orang tuaku, karena tanpa tindakan mereka yang mempertahankan cinta sampai meninggalkan semuanya, tak akan ada aku terlahir ke dunia. Tapi, bukan berarti aku harus mengikuti jejak mereka kan?
" Setelah belasan tahun melewati semuanya bersama aku baru tau satu hal." Ucapan Aji memecah lamunanku.
" Aku memang tak punya keberanian melawan orang tuaku, Ai, tapi selama ini aku selalu berusaha mencari cara agar mereka merestui cinta kita."
Rasanya tulang-tulangku seperti terlepas dari sendi-sendinya. Menatap mata bening penuh harapan itu, ditambah mendengar penuturannya itu, aku hampir tak bisa berkutik. Ternyata, aku tak setegar yang kukira. Pertahananku mulai goyah. Ibu....mbak Dilla....tolong aku!!!
" Alasanmu sampai memutuskan menerima pinangan orang itu bukan agar mendapat harga diri yang lebih banyak, tapi karena kau tak pernah sepenuhnya percaya padaku, bahwa aku bisa membuat cinta kita lebih berharga dari apapun. Iya kan, Ai?" Berondong Aji melucuti semua harga diriku yang sejak tadi kusombongkan padanya.
" Kupikir selama ini kau tetap bertahan karena kau percaya padaku, tapi ternyata...." Aji tak melanjutkan ucapannya dan malah tergelak. Aku menggeleng pelan sebagai tanda protes bahwa yang semua yang dikatakannya tadi tidaklah benar.
Tidak, bukan karena aku tak pernah sepenuhnya percaya, akhirnya aku menyerah begini, Ji. Justru kepercayaan penuh padamulah yang membuatku tetap bertahan selama belasan tahun ini. Karena aku terlalu percaya, terlalu berharap bahwa kisah kita akan berakhir seindah angan-angan kita, aku menjadi begitu terpuruk begini. Kepercayaan penuh itulah yang membuatku sangat terluka saat menyadari bahwa orang tuamu sangat menghina cinta yang selama ini kujaga. Ceracauku dalam hati.
" Kisah Devdas dan Paro yang sering kita bicarakan, akhirnya kita alami juga."
" Aji...."
Aji tersenyum, tapi terlihat sekali senyum itu sangat dipaksakan.
" Dengarkan ini baik-baik Aira, seperti halnya Devdas, yang selama hidupnya hanya ada Paro sebagai cintanya, kau juga akan jadi satu-satunya yang menjadi cintaku. "
Hatiku serasa runtuh mendengar pengakuan itu. Tapi tetap kucoba untuk bertahan agar air mataku tak menggenangi mataku.
" Kuharap, ah...tidak, semoga...semoga ini adalah keputusan yang tak akan berujung penyesalan. Dan kalaupun ini akan menimbulkan penyesalan, jadikan penyesalan itu sebagai alasan untuk terus melangkah. Berbahagialah dengan keputusan yang telah kau buat. Berbahagialah seperti tekadmu yang ingin membahagiakan orang-orang terkasihmu."
Aku gagal, aku tak cukup kuat menahan air mata itu. Kutundukkan wajahku seiring air mataku terjatuh. Kuseka dulu air mataku sebelum mendongak menatap Aji lagi.
" Benar, tak ada yang bisa melawan takdir. Seperti kita yang tak bisa menghentikan perasaan kita untuk saling mencintai, seperti itu pula kita tak mungkin bisa mengubah akhir kisah kita. Karena ini adalah takdir." Suara terakhir Aji terasa begitu bergetar. Makin menggoyahkan hatiku. Kuhela nafas pendek, menata hatiku lagi.
" Ji, suatu saat nanti kau pasti juga akan menemukan takdir terbaikmu. Suatu saat nanti kau pasti juga akan berbahagia. Aku percaya, suatu saat nanti kau pasti juga bisa."
Aji tersenyum mendengar ucapanku kali ini.
" Tidak, Ai, jangan menyuruhku percaya hal itu terjadi, karena aku sudah tak mampu berharap apapun lagi. Aku tak tau lagi apa tujuanku ke depan. Aku sudah tak peduli apapun lagi. Inilah keputusan yang kubuat untuk mengimbangi keputusanmu."
Kugigit bibirku menahan sesak dadaku untuk kedatangan isakku yang mulai bergemuruh. Kudengar Aji mendesah panjang.
" Aku pergi...." Katanya seperti orang linglung, bangkit dan beringsut pergi. Melangkah dengan gontai.
Aku masih bertahan menahan isakku dengan menggigit bibirku. Dengan tangan gemetar kuraih benang dan hasil sulamanku, tapi baru dua detik kupegang benang sulamku terjatuh, menggelinding disusul isakku yang akhirnya tak terbendung.
Tiba-tiba sebuah tangan mengambil benang sulam itu dan meletakkannya ke tanganku yang masih mengambang di udara. Aku mendongak dan menemukan sosok mbak Dilla yang menatapku penuh prihatin. Isakku makin menjadi.
" Aku harus bagaimana mbk? Aku harus bagaimana...??" Ceracauku disela isak tangisku.
" Kami selalu takut kisah kami berakhir seperti kisah Devdas dan Paro, tapi aku sendiri yang telah membuatnya berakhir seperti kisah itu. Aku membuatnya menjadi Devdas, mbak..." Lanjutku penuh hiba.
Mbak Dilla yang masih berdiri disampingku memelukku lembut, membelai punggungku yang bergetar hebat.
" Maafkan mbak, Ai, harusnya tadi mbak tak menyuruhmu menemuinya. Mbak tak tau kalo akhirnya kau malah terguncang sehebat ini. Mbak yang salah, Ai. Harusnya mbak ingat bahwa cinta Aji juga tak kalah besarnya dengan cintamu." Ucap mbak Dilla lama-lama terdengar ikut menangis. Kudekap benang dan hasil sulaman ditanganku.
Pada akhirnya aku menyadari bahwa memang benar mencintai adalah bukan hal yang bisa ditentukan apalagi dipilih seperti keputusanku yang akhirnya memutuskan menikah dengan siapa. Dan untuk keputusan yang sangat fatal itu aku mungkin memang harus menukarnya dengan seumur hidupku terbelenggu oleh cinta lain. Cinta yang begitu berharga sepanjang hidupku. Cinta yang begitu diperjuangkan olehnya agar menjadi sesuatu yang paling berharga nantinya. Tapi pada akhirnya cinta itu harus menyerah pada harga diri terakhirku. Harga diri yang terpaksa kujual untuk mendapat lebih banyak harga diri lain.
Mungkin bagi sebagian orang akan berkata, lebih baik kehilangan harga diri untuk orang yang paling dicintai. Daripada kehilangan orang yang dicintai untuk sebuah harga diri. Tapi bagiku, jika tanpa harga diri, apakah cinta kita masih dihargai? Sedang cinta yang tak dihargai adalah hal yang sia-sia untuk dipertahankan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar