Sesekali aku melirik ke arah Alung yang sibuk mengedit naskah cerpen yang tadi pagi baru disetorkan oleh salah satu siswa. Usai pulang sekolah nanti mading sudah harus di pasang jadi hari ini semua pengurus mading lembur sedikit. Makanya kumanfaatkan Alung untuk membantu mengedit EYD bagian cerpen. Sekalian agar dia makin tau tentang dunia sastra yang katanya ingin dipelajarinya.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku, sebenarnya lebih ke arti menyeret. Aku sedikit gelagapan mengikuti langkah penyeretku itu; Kenzo.
" Ini apaan sih? Kaya scene film mafia aja." Rutukku sedikit kudramatisir.
Tapi wajah serius Kenzo membuatku urung melanjutkan skenario drama lainnya.
" Ada apa?" Tanyaku heran.
" Ada apa? Kau bawa berandal itu masuk kesini, masih bisa tanya 'ada apa'?" Geram Kenzo dengan suara tertahan, seperti takut didengar orang lain.
" Berandal? Siapa maksudmu?"
Kenzo menggerakkan kepalanya sedikit ke arah tempat Alung.
" Alung?"
Kenzo mengangguk.
" Kenapa kau menyebutnya berandal? Dia datang bersamaku, dia sengaja kusuruh membantu mengedit EYD cerpen."
" Kenapa mempercayakan hal itu padanya? Harusnya kau tak percayakan edit EYD padanya. Bahkan jika itu hanya memasang di papan mading, kau tak perlu mempercayakan padanya." Cerocos Kenzo dengan kekesalan yang masih tak kupahami.
" Memang apa salahnya kalo Alung tertarik sastra? Apa mading ini sudah mulai memberlakukan diskriminasi dalam penerimaan anggotanya?" Aku juga mulai ikut kesal dengan sikap Kenzo yang mulai arogan.
Kenzo mendesah berat.
" Bukan begitu, Yung... Tapi Alung itu trouble maker. Apa aku perlu bawakan catatan dari ruang BP sebagai buktinya?"
" Kenapa kau malah seperti tukang vonis? Alung memang bukan siswa teladan, tapi di dunia sastra yang dibutuhkan adalah bakat dan minat." Geramku tak terbendung
" Kenapa kau selalu membela berandal itu?"
" Dan kenapa selalu menyebutnya berandal? Namanya Alung, apa aku perlu tunjukkan kartu pelajarnya?" Suaraku makin meninggi, penuh emosi menatap lekat mata sipit Kenzo yang sebenarnya pesona yang paling kusukai dari rekan setiaku menggurus mading selama ini.
" Hei."
Kemarahan antara aku dan Kenzo terpenggal oleh teguran singkat itu. Kami sama-sama menoleh ke arah Alung.
" Kalian sedang membicarakanku, tapi kenapa begitu keras sekali? Aku mendengarnya sangat jelas tiap katanya, bukankah itu sangat tidak sopan?" Ujar Alung melipat tangannya ke dada, menatap kami.
Aku menunduk malu, sementara Kenzo berlalu masih dengan wajah kesal.
Dua jam setelah kejadian di ruang mading tadi,
Aku duduk berselonjor seraya mengamati papan mading minggu ini yang baru selesai kupasang bersama Alung. Biasanya, setiap minggu Kenzo-lah yang memasangnya. Tapi karena kejadian tadi, dia enggan kembali ke ruang mading. Pun kutelpon, tak ada respon darinya.
" Kenapa? Apa ada yang salah pada penempatannya?" Tanya Alung yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Aku menoleh seiring tersodor sebotol teh dan senyum manisnya.
'' Tidak, ini sudah sempurna kok." Jawabku sambil menerima teh botol itu. Kusedot sedikit isinya.
" Kalian pacaran ya?"
Aku tersedak dengan pertanyaan Alung selanjutnya.
" Siapa?" Tanyaku balik, menatapnya dengan dahi berkerut.
" Kau dan Kenzo." Jawabnya enteng, meneguk teh botolnya.
" Dari sikapnya yang tak suka melihatku dekat denganmu, kelihatan sekali dia cemburu."
Aku langsung tergelak.
" Kami berteman sejak SMP, dan itu karena kami sama-sama pecinta sastra. Dan itulah yang membuat kami selalu bekerja sama mengelola mading sekolah." Paparku.
" Benarkah?"
Kukerutkan lagi dahiku untuk pertanyaan Alung kali ini. Mata itu... Buru-buru aku menghindari mata indah itu.
Apa kau tak pernah tau bahwa aku ini mencintaimu, Lung?
Duh...Gusti, benarkah ini cinta? Meski semua orang memvonis sekalipun hanya sebagai teman kau tak baik untukku, tapi kenapa aku begitu nyaman disisimu? Apa aku tak bisa memilih bersama orang yang membuatku bahagia?
" Maaf kalo aku datang tiba-tiba di antara kalian."
Aku tergelak.
" Kau ini bicara apa sih, Lung."
Alung, dia memang baru-baru ini hadir di hari-hariku. Dia setingkat lebih senior dariku. Tapi meski sebagai senoir di sekolah ini, Alung memang terkenal sebagai trouble maker. Hampir semua pelanggaran tercatat atas namanya di buku BP. Beberapa kali tak sengaja bertemu di pintu gerbang sekolah saat pulang sekolah, membuatku jatuh cinta padanya. Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi, bukankah cinta itu sendiri memang aneh?
" Antara aku dan Kenzo tidak ada hubungan special, kami hanya teman dan rekan kerja di mading. Selain hubungan itu, tidak ada." Perjelasku, berharap Alung menyadari bahwa Kenzo bukan halangan untuk perasaan yang sedang terjadi saat ini.
Alung tersenyum meneguk lagi teh botolnya.
" Andai itu benar."
Aku bangkit dengan kesal.
" Kau ini apa-apaan sih ? Kenapa kau tak percaya kalo aku dan Kenzo tak pacaran?"
" Tapi Kenzo mencintaimu. Kau pura-pura tak mengetahuinya atau benar-benar tak menyadarinya?"
" Iya, tapi aku tak pernah punya perasaan pada Kenzo, karena yng aku cintai itu kau...." Suara memburuku langsug lenyap dalam bungkaman tanganku sendiri. Aku keceplosan. Aku menunduk malu. Aku lalu pura-pura sibuk menyedot teh botolku.
Alung bangkit seraya mendesah berat. Hatiku jadi berdebar, berbagai dugaan bermunculan mengotori pikiranku. Kedua kakiku gemetar merasakan langkah Alung yang mendekat.
" Lembayung, mungkin memang salahku jika akhirnya kau sampai mencintaiku, tapi..."
" Tapi apa?" Tanyaku spontan, menatapnya cepat. Tapi sedetik kemudian aku menunduk lagi. Malu.
" Sori, aku tak bisa, Yung."
Deg.
Kalo Alung tak mencintaiku, kenapa dia selama ini mendekatiku bahkan samapai mengusulkan ikut dalam kegiatan mading yang kukelola? Lalu apa artinya dia suka berlama-lama denganku bahkan saat aku sibuk sendiri dengan dengan Kenzo, dia sering mencariku? Apa arti dari semua itu, jika pada akhirnya dia tak bisa menerima cintaku?
" Oh, jadi kau sudah punya pacar ya?" Tebakku sedikit serak.
" Tidak, bukan begitu, aku..."
Tiba-tiba saja Alung menjadi serba salah.
" Sori, Yung...''
Aku tersenyum kecut.
" Tidak, jangan minta maaf lagi Lung, kalo pun akhirnya aku jatuh cinta padamu itu pasti karena aku terlalu GR dengan semua sikap-sikapmu." Ucapku menahan sesak dadaku.
"Harusnya aku tidak sembarangan menyimpulkan yang belum pasti." Lanjutku berbau sesal.
" Aku mencintai orang lain, sori."
Sakit.
Cinta yang kukira akan bersambut bahagia ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Dan keindahan yang diperlihatkannya selama ini, ternyata semua semu.
" Aku tak bisa bilang apa-apa, hanya, semoga dia juga mencintaimu. Karena ternyata cinta tak bersambut itu sangat tidak nyaman." Ujarku, kali ini dengan sederet gelak tawa kamuflase.
Alung tertunduk, seperti tak suka dengan semburat warna wajahku.
" Sori, tak seharusnya aku memanfaatkanmu untuk mendekati dia." Sesal Alung terasa berat sekali diucapkan.
Dia? Jadi selama ini Alung hanya memanfaatkanku agar bisa dekat dengan dia? Dia, dia siapa? Gisell, Aiko, apa malah Jessica? Bathinku.
Tapi, dia bahkan tak pernah menunjukkan sikap apapun pada salah satu dari mereka. Lanjutku bingung.
" Dia?" Akhirnya aku meluapkan rasa penasaranku itu pada satu kata tertahan barusan.
Alung menunduk lagi. Seperti sedang bersiap-siap membacakan sebuah keputusan pengadilan cintaku. Kugenggam erat-erat botol teh ditanganku.
Tenang, Lembayung, kau pasti kuat menghadapi semua ini. Kataku menyemangati diri sendiri.
" Aku sebenarnya mencintai Kenzo."
Pyaaarrr....
Botol teh ditanganku terlepas, pecah berserakan bersama air teh yang tersisa di antara kakiku. Mulutku mengatup saking tak percayanya.
" Apa?" Desisku lirih lagi berat, berharap Alung mau menjelaskan agar lebih mudah kupahami.
" Ya, aku mendekatimu hanya karena aku ingin bersama Kenzo. Yang kusukai adalah Kenzo, bukan kau, Lembayung."
Dan kali ini, sepertinya aku sudah cukup paham dengan pernyataan pemuda tampan dan macho yang telah menjeratku itu. Pernyataan bahwa dia mencintai Kenzo, rekan madingku selama ini.
Aku tergelak tak sadar, seiring beberapa bulir air mata menyapa pipiku. Dan rasanya jauh lebih sakit dari yang kuduga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar